Branding adalah istilah lain dari kegiatan manajemen kampanye produk dan
layanan. Kesuksesan yang diraih oleh kampanye ini didasarkan pada kemampuan tim
pemasaran dalam menentukan strategi promosi dan distribusi produk secara simultan.
Artinya proses branding merupakan hasil kerjasama yang kompak antara semua
bagian terkait, misalnya dalam industri telekomunikasi ini antara tim marketing
dengan dealer management atau dengan departemen support.
Dengan prakteknya kampanya branding yang terjadi di Indonesia terjadi
dengan begitu frontalnya dan menghabiskan dana dan upaya-upaya exstra.
Setidaknya ada dua sektor yang menjadi lahan basah dalam persaingan branding di
Indonesia ini yaitu Industri rokok dan industri telekomunikasi. Dan ini juga terjadi di
60
banyak negara lain seperti Malaysia dan Thailand. Karena besarnya dana yang
digelontorkan perusahaan-perusahaan itu maka tak jarang perusahaan membutuhkan
capital expenditure yang menempati porsi yang sangat besar dalam anggaran belanja
perusahaan, meskipun besarnya biaya untuk mempertahankan brand tersebut tidak
dapat diukur manfaatnya secara langsung pada masa biaya itu dikeluarkan,
manfaatnya bisa dirasakan tahun depan atau beberapa tahun yang akan datang.
Praktek nyata dapat kita lihat di tingkat operasional, rekan-rekan sales dan
pemasar atau bagian brand harus kerja ekstra hanya untuk mempertahankan spanduk/
layar took/ umbul-umbul atau media promosi lainnya tetap terpasang ditempatnya
keesokan harinya. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa persaingan yang
terjadi sudah seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang, hari ini
terpasang, belum tentu besok masih ada, atau bahkan sejam kemudianpun belum
tentu ada, karena pesaing sudah mengendusnya secara diam-diam. Itulah maksudnya
brand management tidak bisa berjalan dengan baik tanpa strategi yang tepat seperti
yang dikatakan Keller KL (2003) dalam bukunya Strategic Brand Management:
Building, Measuring, and Managing Brand Equity
Tidak ada komentar:
Posting Komentar