- Peraturan
Peraturan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam membantu anak menjadi makhluk bermoral. Pertama, peraturan mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan anak perilaku yang disetujui anggota kelompok ersebut. Misalnya, anak belajar dari peraturan tentang memberi dan mendapat bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa mneyerahkan tugas yang dibuatnya sendiri merupakan satu-satunya metode yang dapat diterima di sekolah untuk menilai prestasi siswa. Kedua, peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Bila merupakan peraturan keluarga bahwa tidak seorang anak pun boleh mengambil mainan atau milik saudaranya tanpa pengetahuan dan izin si pemilik, anaka segra belajar bahwa hal ini dianggap perilaku yang tidak diterima karena mereka dimarahi atau dihukum bila melakukan tindakan terlarang ini.
Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi diatas, peraturan itu harus dimengerti, diingat dan diterima oleh si anak. Bila peraturan diberikan dalam kata-kata yang tidak dimengerti atau hanya sebagian dimengerti, peraturan itu tidak berharga sebagai pedoman perilaku yang tidak dinginkan.
- Hukuman
Menurut Hurlock ( 2008 : 87 )” fungsi hukuman mempunayai tiga peranan penting dalam penerapan kedisiplian pada anak yaitu menghalangi, mendidik dan memeberi motivasi “. Fungsi pertama ialah menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindkan yang tidak diinginkan oleh mayarakat, bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, mereka biasanya urung melakukan tindakan tersebut karena tringat akan hukuman yang dirasakan di waktu lampau akibat tindakan tersebut.
Fungsi kedua dari hukuman ialah mendidik. Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan trtentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindkan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakan yang diperbolahkan.Fungsi ketiga, ialah memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat. Pengetahuan akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut. Bila anak mampu mempertimbanglan tindakan alternatif dan akibat masing-masing alternative, mereka harus belajar memutuskan sendiri apakah suatu tindakan yang salah cukup menarik untuk dilakukan.
- Penghargaan
Kedua, penghargaan berfunsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. Karena anak bereaksi dengan positif terhadap persetujuan yang dinyatakan dengan penghargaaan, dimasa mendatang mereka berusaha untuk berperilaku dengan cara yang akan lebih banyak memberinya penghargaan. Ketiga, penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulang perilaku ini. Bila anak harus belajar berperilaku dengan cara yang disetujui secara sosial, ia harus bahwa berbuat demikian cukup menguntungkan baginya. Karenanya penghargaan harus digunakan untuk membentuk asoiasi yang menyenangkan dengan perilaku yang diinginkan.
- Konsistensi
Konsistensi dalam disiplin mempunyai tiga peran yang penting. Pertama, konsistensi memiliki nilai mendidik yang besar. Bila peraturannya konsisten, ia memacu proses belajar. Ini disebabkan karena nilai pendorongnya. Kedua, konsistensi memiliki nilai motivasi yang kuat. Anak yang menyadari bahwa penghargaan selalu mengikuti perilaku yang disetujui dan hukuman selalu mengikuti perilaku yang dilarang, ia akan mempunyai keinginan yang jauh lebih besar untuk menghindari tindakan yang dilarang, ia akan mempunyai keinginan yang jauh lebih besar untuk menghindari tindakan yang dilarang dan melakukan tindakan yang disetujui dripada anak yang merasa ragu mengeanai bagaiman reaksi terhadap tindakan tertentu. Ketiga, konsistensi mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa.
Kedisiplinan diterapkan sebagai usaha untuk membimbing, melatih, mendidik, mengarahkan dan mempengaruhi kepribadian seseorang, sehingga ia dapat mencapai apa yang menjadi dan tujuan, terutama tujuan belajar. Usaha-usaha tersebut dapat tercapai apabiala guru dan orang tua mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kediplinan belajar siswa.
Tulus (2004 : 48 )“menyatakan bahwa ada empat hal yang mempengaruhi kedisiplinan belajar siswa yaitu : kesadaran diri, kepatuhan dan ketatan tetaatan terhadap peraturan, alat pendidikan, dan hukuman”. Keempat faktor ini merupakan faktor dominant yang mempengaruhi kediplinan belajar siswa. Alasannya sebagai berikut :
- Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa diplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain itu, kesadaran diri menjadi motif sangat kuat terwujudnya disiplin. Kedisiplinan belajar dapat terwujud jika masing-masing individu memiliki kesadaran pada diri.
- Kepatuhan dan ketaatan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan – peraturan yang mengatur perilaku individunya. Kepatuhan dan ketaatan merupakan faktor penting untuk terwujudnya kedisiplinan belajar.
- Alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan . yang termasuk dalam alat pendidikan salah satunya adalah kondisi likngkungan belajar disekolah, seperti kondisi guru, gedung sekolah, teman-teman sekolah, tenaga administrative, media belajar, dan sebagainya.
- Hukuman sebagai upaya menyadarkan , mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali kepada perilaku yang sesuai dengan harapan. Penerapan hukuman pada individu yang melanggar aturan harus bersifat mendidik, yaitu hukuman yang dapat menyadarkan individu untuk berperilaku tidak menyimpang dari aturan yang berlaku.
- Faktor internal
- Faktor fisiologis yang bersumber pada jasmani.
- b) Faktor fisiologis yang bersumber pada rohani, meliputi : kecerdasan, daya ingat tinggi, kebutuhan yang terpuaskan, konsentrasi dan perhatian.
- Faktor eksternal.
- Faktor kemanusiaan
- Faktor kebendaan , yaitu : tempat belajar yang telalu dekat dengan kebisingan, alat-alat belajar dan bahan pelajaran yang memadai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar