Suatu kalimat yang perlu diketahui
oleh orang pemeliharaan dan bagian lainnya bagi suatu pabrik adalah
pemeliharaan (maintenance) murah sedangkan perbaikan (repair) mahal. (Setiawan,
2008). Menurut Daryus (2007), tujuan pemeliharaan yang utama dapat
didefenisikan sebagai berikut:
a. Untuk memperpanjang kegunaan
asset,
b. Untuk menjamin ketersediaan
optimum peralatan yang dipasang untuk produksi dan mendapatkan laba investasi
maksimum yang mungkin,
c. Untuk menjamin kesiapan
operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap
waktu,
d. Untuk menjamin keselamatan orang
yang menggunakan sarana tersebut.
Sedangkan menurut Assauri (2004),
tujuan pemeliharaan yaitu :
a. Kemampuan produksi dapat memenuhi
kebutuhan sesuai dengan rencana produksi,
b. Menjaga kualitas pada tingkat yang
tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan
produksi yang tidak terganggu,
c. Untuk membantu mengurangi
pemakaian dan penyimpangan yang di luar batas dan menjaga modal yang di
investasikan tersebut,
d. Untuk mencapai tingkat biaya
pemeliharaan serendah mungkin, dengan melaksanakan kegiatan pemeliharaan secara
efektif dan efisien,
e. Menghindari kegiatan pemeliharaan
yang dapat membahayakan keselamatan para pekerja,
f.
Mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi-fungsi utama lainnya
dari suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan yaitu
tingkat keuntungan (return on investment) yang sebaik mungkin dan total biaya
yang terendah
secara
garis besar maintenance dapat di klasifikasikan dalam Planned maintenance (pemeliharaa terencana), unplanned
maintenace (tidak terencana) dan
autonomous maintenace (pemeliharaan
mandiri). Planned maintenance adalah
pemeliharaan yang terorganisir yang dilakukan dengan pemikiran ke masa depan,
pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan
sebelumnya. Oleh karena itu program maintenace
yang dilakukan harus dinamis dan memerlukan pengawasan dan pengendalian secara
aktif dari bagian maintenance melalui
informasi di dengan catatan riwayat mesin atau peralatan.
Planned mantenance terbagi menjadi tiga bentuk
pelaksanaan, yaitu: (Wijaya dan Sensuse, 2011)
1)
Preventive
maintenance (pemeliharaan pencegahan)
Prenventive maintenance adalah suatu kegiatan
pemeriksaan secara periodik terhadap mesin dan perelatan dengan tujuan untuk
mengetahui kondisi yang menyebabkan
kerusakan, serta untuk menjaga mesin dan peralatan yang telah rusak dengan cara
memperbaiki dan menyetel ulang sebelum menjadi kerusakan yang lebih parah.
2)
Corrective
maintenance (pemeliharaan perbaikan)
Corrective maintenance adalah suatu kegiatan yang
dilakukan untuk mengatasi kegagalan atau kerusakan yang ditemukan selama masa
waktu preventive maintenance. Pada
umumnya corrective maintenance bukanlah
aktifitas perawatan yang terjadwal, karena dilakukan setelah sebuah komponen
mengalami kerusakan dan bertujuan untuk mengembalikan kehandalan sebuah mesin
atau peralatan.
Corrective maintenance biasanya dikenal sebagai breakdown
atau run to failure maintenance. Pemeliharaan
hanya dilakukan setelah atau mesin rusak. Sehingga apabila strategi ini
digunakan sebagai strategi utama akan menimbulkan dampak yang sangat tinggi
terhadap suatu produksi.
3)
Predictive maintenace
Predictive maintenace adalah kegiatan maintenance yang dilakukan pada tanggal
yang telah ditetapkan berdasarakan hasil prediksi analisa dan evaluasi data
operasi yang diambil untuk melakukan predictive
maintenance itu dapat berupa data getaran, temperature, vibrasi flow rate dan lain-lain. Perencanaan preciktive dapat dilakukan berdasarkan data dari
operator dan lapangan yang diajukan melalui work
order ke departemen maintenance
untuk dilakukan tindakan tepat sehingga tidak akan merugikan perusahaan.
Unplanned maintenance (pemeliharaan tak terencana) biasanya berupa breakdown/emergency maintenance. Breakdown
/emergency maintenance (pemeliharaan
darurat) adalah tindakan maintenance yang tidak dilakukan pada mesin peralatan yang masih
dapat beroperasi, sampai mesin/peralatan tersebut rusak dan tidak dapat berfungsi
lagi. Melalui bentuk pelaksanaan pemeliharaan tak terencana ini, diharapkan penerapan pemeliharaan
tersebut akan dapat memperpanjang
umur dari mesin/peralatan, dan
dapat memperkecil frekuensi
kerusakan.
Autonomous maintenance (pemeliharaan mandiri) adalah suatu kegiatan untuk dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi mesin/peralatan
melalui kegiatan-kegiatan
yang dilaksanakan oleh operator untuk memelihara mesin/peralatan yang mereka tangani sendiri. Prinsip-prinsi yang terdapat
pada lima S, merupakan prinsip yang mendasari
kegiatan autonomous maintenance yaitu : (Vankatesh,2007)
1)
Seiri (clearing
up): Menyingkirkan benda-benda yang tidak diperlukan.
2)
Seiton (organizing): Menempatkan benda-benda yang diperlukan dengan rapi.
3)
Seiso
(cleaning): Membersikan peralatan dan tempat kerja.
4)
Seikatsu(standarizing): Membuat standar
kebersihan, pelumasan dan inspeksi.
5)
Shitsuke (training and dicipline): Meningkatkan skill dan moral.
Autonomous maintenance diimplementasikan melalui
7 langkah yang akan membangun keahlian
yang dibutuhkan operator agar mereka mengetahui
tindakan apa yang harus dilakukan.
Seperti yang diungkapkan Sartono(2001). Tujuh langkah kegiatan yang terdapat dalam autonomous main-tenance adalah Membersihkan dan memeriksa (clean and inspect).
2)
Menghilangkan sumber masalah dan area yang tidak terjangka (eliminete problem and anaccesible area).
3)
Pemeliharaan mandiri (conduct autonomous maintenance).
4)
Pemeliharaan menyeluruh (conduct general inspection).
5)
Pemeliharaan mandiri secara penuh (fully autonomous maintenanc)
Pengorganisasian dan kerapian (organization and tidines).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar