Enam elemen struktur organisasi yang menunjang keberhasilan organisasi
menurut Robbins dan Judge (2007: 478) dalam Donni Juni Priansa (2013: 65)
terdiri dari:
1. Spesialisasi Pekerjaan
Spesialisasi pekerjaan atau pembagian pekerjaan berkenaan dengan
sejauh mana tugas organisasi diemban oleh pegawai. Hakikat
spesialisasi pekerjaan maksudnya daripada pekerjaan dilakukan oleh
satu orang namun mengenai banyak hal, lebih baik pekerjaan tersebut
dipecah menjadi sejumlah pekerjaan yang spesifik, dimana pekerjaan
spesifik tersebut diemban oleh seorang atau beberapa orang pegawai.
Manajer dapat melakukan efisiensi melalui spesialisasi pekerjaan.
Dengan spesialisasi pekerjaan, keterampilan pegawai akan meningkat,
sebab pegawai melaksanakan pekerjaannya dengan berulang. Dari sisi
biaya pelatihan, maka pelatihan untuk spesialisasi pekerjaan jauh lebih
efektif dan efisien.
2. Rantai Komando
Rantai komando merupakan garis tidak putus dari rangkaian
wewenang yang ada dalam organisasi. Dalam konsep rantai komando,
terdapat dua hal penting yaitu wewenang dan kesatuan komando.
a. Wewenang ,wewenang mengacu pada kemampuan untuk
memberi perintah dan mengharapkan perintah tersebut dipatuhi oleh pegawai. Untuk mempermudah koordinasi, dan tiap manajer
memiliki derajat wewenang.
b. Kesatuan komando, asas kesatuan komando membantu
mengamankan konsep garis wewenang yang tidak terputuskan.
Kesatuan ini menyatakan bahwa seorang pegawai seharusnya
mempunyai satu pemimpin dan hanya kepada satu pemimpin dia
bertanggung jawab langsung. Jika kesatuan komando ini putus,
maka seorang pegawai akan menghadapi pemimpinnya secara
langsung.
3. Rentang Kendali
Rentang kendali merujuk pada jumlah orang yang ada dalam
organisasi dimana ia bekerja dan berdampak pada efektivitas kerja.
Berapa banyak bawahan dapat diarahkan secara efektif dan efisien
oleh seorang manajer? Pertanyaan rentang kendali ini penting, karena
sangat menentukan banyaknya tingkatan manajer yang harus dimiliki
organisasi. Bila disejajarkan, makin luas atau besar rentang organisasi
digunakan,maka semakin efisien organisasi itu.
4. Sentralisasi dan Desentralisasi, berikut ini diuraikan tentang
sentralisasi dan desentralisasi.
a. Sentralisasi, istilah sentralisasi mengacu pada pengambilan
keputusan yang terpusat pada suatu titik tertentu dalam
organisasi. Konsep tersebut hanya mencakup wewenang formal,
yaitu hak-hak yang terkait dengan posisi pekerjaan. Lazimnya
dikatakan bahwa jika manajemen puncak mengambil keputusan
organisasi tanpa melibatkan pegawai dibawahnya, maka
organisasi tersebut menganut sistem sentralisasi.
b. Desentralisasi, organisasi yang terdesentralisasi, lebih cepat untuk
memecahkan masalah, karena lebih banyak pegawai yang
memberikan masukan bagi keputusan organisasi. Sering dengan
tuntutan perubahan, maka akhir-akhir ini manajemen membuat
organisasi menjadi lebih fleksibel dan tanggap, dan cenderung ke
arah desentralisasi dalam pengambilan keputusan. Dalam
organisasi besar, manajer lini pertama (first line manager)
mempunyai pengetahuan yang lebih rinci mengenai masalahmasalah dari pada manajer puncak (top management).
5. Formalisasi
Formalisasi mengacu pada pekerjaan di dalam organisasi itu dilakukan
bagaimana seharusnya. Selain itu juga dinyatakan bahwa formalisasi
adalah derajat dimana organisasi menstandarkan perilaku melalui
aturan, prosedur, pelatihan, dan mekanisme lain yang terkait. Jika
suatu pekerjaan sangat diformalkan, maka pelaksana pekerjaan itu
mempunyai kuantitas keleluasaan yang minium mengenai apa yang
harus dikerjakan, kapan harus dikerjakan, dan bagaimana seharusnya
mengerjakannya. Para pegawai melaksanakan pekerjaan yang sama
dengan cara yang sama persis dan menghasilkan output yang sama. Formalisasi dapat meningkatkan efesiensi dan pemenuhan, tetapi
dapat juga menimbulkan masalah.
6. Departementalisasi, rentang kendali, sentralisasi, dan formalisasi
adalah elemen penting dalam struktur organisasi namun hampir semua
orang berpikir tentang bagan organisasi apabila berdiskusi tentang
struktur organisasi. Bagan organisasi tersebut disebut dengan
departementalisasi. Suatu Departementalisasi merupakan dasar yang
dipakai dalam mengelompokkan pekerjaan, yaitu menspesifikasi
bagaimana suatu pekerja dan aktivitasnya dikelompokan.
Departementalisasi merupakan strategi dasar untuk aktivitas
koordinasi dalam organisasi karena departementalisasi mempengaruhi
perilaku dengan cara:
a. Departementalisasi memunculkan rantai komando, yaitu sistem
supervisi;
b. Departementalisasi memfokuskan orang-orang pada model
mental atau cara berfikir yang umum, seperti melayani klien,
pengembangan produk, atau mendukung keterampilan khusus;
c. Depertementalisasi menciptakan koordinasi melalui komunikasi
informal diantara subunit dan pegawai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar