Theory of Reasoned Action bertujuan untuk memprediksi dan
memahami perilaku individual. Teori ini memandang pelanggan sebagai
seorang yang rasional dan menggunakan informasi yang memungkinkan
sebelum mereka memutuskan berperilaku atau berpindah. Niat seseorang
untuk mewujudkan perilaku sebagai perilaku sebagai faktor penengah yang
menetukan tindakan. Dalam penelitian ini aplikasi Theory of Reasoned Action
dimodifikasi dengan dua hal yaitu:
1. Penelitian ini fokus pada keyakinan nasabah untuk berpindah bank
sebagai prediktor attitude toward switching. Untuk memprediksi Attitude
toward switching digunakan belief sesuai Theory of Planned Behavior.
Faktor-faktor harga, reputasi, service quality, promosi, keterpaksaan
berpindah dan rekomendasi pihak lain merupakan faktor-faktor yang
menyebabkan nasabah berkeyakinan untuk berpindah bank (Keaveney
1995; Gerrald dan Cunningham 2004).
2. Menurut penelitian Fieshbein dan Ajzen (2005) attitude toward switching
(kecenderungan berpindah bank) merupakan prediksi yang sangat kuat
terhadap perilaku (behavior). Teori ini menyebutkan bahwa niat
seseorang adalah fungsi dari tiga determinan dasar, yaitu :
a) Sikap berperilaku (attitude) adalah merupakan dasar bagi pembentukan
intensi. Di dalam sikap terhadap perilaku terdapat dua aspek pokok,
yaitu: keyakinan individu bahwa menampilkan atau tidak menampilkan
perilaku tertentu akan menghasilkan akibat-akibat atau hasil-hasil
tertentu, dan merupakan aspek pengetahuan individu tentang obyek
sikap dapat pula berupa opini individu hal yang belum tentu sesuai
dengan kenyataan. Semakin positif keyakinan individu akan akibat dari
suatu obyek sikap, maka akan semakin positif pula sikap individu
terhadap obyek sikap tersebut, demikian pula sebaliknya.
b) Norma subjektif (subjective norm), yaitu keyakinan individu akan
norma, orang sekitarnya dan motivasi individu untuk mengikuti norma
tersebut. Di dalam norma subjektif terdapat dua aspek pokok yaitu:
keyakinan akan harapan, harapan norma referensi, merupakan
pandangan pihak lain yang dianggap penting oleh individu yang
menyarankan individu untuk menampilkan atau tidak menampilkan
perilaku tertentu serta motivasi kesediaan individu untuk melaksanakan
atau tidak melaksanakan pendapat atau pikiran pihak lain yang
dianggap penting bahwa individu harus atau tidak harus berperilaku.
Berdasar penelitian Mitchell and Olson (1981) dalam Leong and Wang
(2007), karena masalah pada definisi operasional dan konseptual yang
berhubungan dengan subjective norm dan munculnya pertanyaan kapan
subjective norm dapat berdiri sebagai variabel tersendiri (bukan bagian
dari attitude).
c) Kontrol perilaku (perceived feasiable), yang merupakan dasar bagi
pembentukan kontrol perilaku yang dipersepsikan. Kontrol perilaku
yang dipersepsi merupakan persepi terhadap kekuatan faktor-faktor
yang mempermudah atau mempersulit suatu perilaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar