Jumat, 01 Desember 2023

Aspek Perceived Organizational Support (POS)

 


Rhoades dan Eisenberger (2002) menejelaskan bahwa terdapat tiga aspek
yang mempengaruhi perceieved organizational support (POS) yang dijabarkan
sebagai berikut:
a. Fairness
Keadilan structural yang dipandang oleh karyawan dapat dilihat dari
aturan formal yang berfokus pada pengambilan keputusan yang
mempengaruhi karyawan, termasuk didalamnya pemberitahuan yang cukup
sebelum keputusan diambil, penerimaan informasi yang akurat, serta
karyawan dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Selain itu terdapat aspek sosial atau keadilan interaksionisme, dimana
karyawan merasa diperlakukan dengan penuh martabat dan respek/rasa
hormat serta menyediakan informasi kepada karyawan mengenai bagaimana
hasil ditentukan.
b. Supervisor Support
Karyawan membentuk pandangan umum terhadap bagaimana
supervisor mereka menilai/menghargai kontribusi mereka dan peduli
terhadap well-beingnya. Karena supervisor bertindak sebagai agen dari
organisasi, memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengevaluasi
kinerja bawahannya, karyawan melihat adanya orientasi dukungan/tidak
yang diberikan terhadap mereka sebagai indikator dari dukungan organisasi.
c. Organizational Rewards and Conditions
Jenis penghargaan dan kondisi kerja yang dihubungkan dengan
perceived organizational support (POS) misalnya pengakuan, pembayaran
atau upah, promosi, keamanan kerja, otonomi, peran yang dapat memicu
stress (role stressors).
 Rekognisi, gaji, dan promosi.
Tersedianya kesempatan yang tepat untuk mendapatkan reward bagi
para karyawan brfungsi untuk mengkomunikasikan penilaian positif
dari kontribusi karyawan dan memberikan kontribusi untuk perceived
organizational support (POS).
 Job security.
Terdapat jaminan yang diberikan oleh organisasi kepada karyawannya
yaitu adanya keinginan organisasi untuk mempertahankan
keanggotaan di masa depan karyawannya , diharapkan dapat
memberikan indkasi yang kuat terhadap perceived organizational
support (POS) terutama dalam beberapa tahun terakhir ketika
downsizing telah menjadi hal yang umum untuk dilakukan oleh
organisasi.
 Autonomy
Perusahaan memberikan kepercayaan kepada karyawan sehingga
Karyawan merasa dapat mengatur sendiri pekerjaannya termasuk
penjadwalan, prosedur kerja dan variasi tugas.
 Training.
Terdapat training untuk meningkatkan kemampuan karyawan.
Dimana, Wayne., et.al (Rhoades & Eisenberger, 2002) berpendapat
bahwa pelatihan kerja merupakan suatu parktik dikresi dalam
berkumnikasi dengan karyawan sehingga mengarah pada peningkatan
perceived organizational support (POS).
 Role stressors.
Organisasi diharapkan untuk mampu mengontrol tingkat stress
pekerjaan yang akan dilakoni oleh karyawannya. Lazarus ( Rhoades &
Eisnberger, 2002) menyatakan bahwa stres mengacu pada tuntutan
lingkungan dimana individu merasa tidak mampu mengatasinya. Pada
tingkat itu, karyawan mengaitkan stress sebagai sesuatu yang
berhubungan dengan pekerjaan can kondisi kerja yang terkontrol oleh
organisasi, berbeda dengan kondisi yang melekat pada pekerjaan atau
yang dihasilkan dari tekanan di luar organisasi, stresor ini dapat
menurunkan perceived organizational support (POS).
 Ukuran Organisasi
Menurut Dekker dan Barling (Rhoades & Eisenberger, 2002)
berpendapat bahwa karyawan merasa kurang dihargai dalam
organisasi besar dimana kebijakan dan prosedur mengurangi
fleksibilitas dalam menangani kebutuhan formal karyawan.
Selain itu, Allen & Brady (1997) menjelaskan bahwa terdapat 3 aspek yang
mempengaruhi Perceived Organizational Support pada karyawan yang dijabarkan
sebagai berikut:
a. Sikap dan ide karyawan
Perceived organizational support (POS) dapat dipengaruhi oleh
bagaimana sikap organisasi terhadap ide-ide yang dikemukakan oleh
karyawannya. Apabila organisasi menganggap positif setiap ide yang
dikemukakan oleh karyawan dan terdapat kemungkinan bahwa ide tersebut
dapat di wujudkan oleh organisasi, maka karyawan akan memiliki persepsi
yang positif mengenai dukungan yang diberikan oleh organisasi terhadap
dirinya. Sebaliknya, POS yang dimiliki oleh karyawan akan menjadi negatif
apabila perusahaan selalu menolak ide dari karyawannya.
b. Respon terhadap karyawan yang menghadapi masalah
Apabila organisasi cenderung tidak memperlihatkan atau
berkontribusi untuk membantu atau memberikan dukungan pada individu
yang sedang menghadapi masalah, maka karyawan akan melihat bahwa
tidak adanya dukungan yang diberikan oleh organisasi terhadap mereka.
c. Respon terhadap kesejahteraan karyawan
Perhatian yang diberikan oleh organisasi terhadap setiap
karyawannya, dapat mempengaruhi perceived organizational support yang
mereka miliki. Karyawan akan menilai organisasi secara positif apabila
organisasi berusaha keras untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang
bekerja didalamnya.
Menurut Worley, Fuqua, dan Hellman (2009) perceived organizational support
(POS) terdiri dari dua aspek, yaitu:
a. Keyakinan umum karyawan tentang sejauh mana organisasi menyadari dan
menghargai kontribusinya.
Karyawan menilai apresiasi organisasi akan kontribusi yang telah
diberikan melalui gaji, jabatan pengahragaan (reward) atau kompensasi dan
keuntungan dalam bentuk lain.
b. Keyakinan seorang karyawan tentang kepedulian organisasi terhadap
kesejahteraan sosioemosional yang diraskaan karyawan.
Berdasarkan uraian para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek
dari perceived organizational support pada karyawan antara lain : adanya rasa
keadilan yang dimiliki oleh karyawan, adanya dukungan yang diberikan oleh
atasan (supervisor support) dan rasa mendapatkan dukungan dari organisasi
ketika menghadapi suatu kesulitan, serta tersedianya berbagai Rewards sebagai
bentuk etrhadap respon kesejahteraan karyawan.

Tidak ada komentar: