Minggu, 27 Juni 2021
Perubahan Struktur Ekonomi dan Ketimpangan Ekonomi Indikator (skripsi dan tesis)
Perubahan Struktur Ekonomi dan Ketimpangan Ekonomi
Indikator yang biasanya digunakan untuk mengukur adanya
perubahan sektor ekonomi adalah sumbangan atau peran (share) yang
diberikan oleh masing-masing sektor. Indikator ini dapat juga digunakan untuk
menganalisa sektor mana yang paling besar kontribusinya terhadap PDRB
(Widodo 1996:36).
Perubahan struktur ekonomi biasanya ditunjukan dengan
perkembangan kontribusi antar sektor pertanian dibandingkan sektor industri.
Ditegaskan bahwa pembangunan jangka panjang harus mampu membawa
perubahan yang fundamental dalam struktur ekonomi. Pembangunan ekonomi
yang maju dicirikan dengan peralihan dari sektor pertanian ke sektor industri
dan sektor jasa-jasa.
Setiap daerah memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam
menarik investor untuk berinvestasi di daerahnya, hal ini jelas akan
berpengaruh pada kemampuan daerah untuk bertumbuh sekaligus menciptakan
perbedaan kemampuan dalam menghasilkan pendapatan. Investasi akan lebih
menguntungkan bila dialokasikan pada daerah yang dinilai dapat menghasilkan
“return” yang besar dalam jangka waktu yang relatif singkat. Mekanisme pasar
yang demikian justru akan menyebabkan ketidakmerataan, daerah yang relatif
maju akan bertumbuh dengan cepat meninggalkan daerah yang
pertumbuhannya relatif lambat. Hal tersebut dapat menyebabkan timbulnya
ketimpangan pendapatan sehingga diperlukan suatu perencanaan kebijakan yang matang dari pemerintah dalam rangka mengarahkan alokasi investasi
menuju kemjuan ekonomi yang berimbang di seluruh wilayah dalam negara.
Menurut Wie (1981), pertumbuhan ekonomi yang pesat pada
umumnya disertai pembagian pendapatan yang semakin timpang. Negara yang
semata-mata hanya menekankan pada pertumbuhan ekonomi, tanpa
memperhitungkan pendistribusian pendapatan negaranya akan memunculkan
ketimpangan-ketimpangan diantaranya:
1. Ketimpangan pendapatan antar golongan atau ketimpangan relatif,
ketimpangan pendapatan antar golongan ini biasanya diukur dengan
menggunakan koefisien gini. Kendati koefisien gini bukan merupakan
koefisien yang ideal untuk mengukur ketimpangan pendapatan antar
berbagai golongan, namun sedikitnya angka ini dapat memberikan
gambaran mengenai kecenderungan umum dalam pola distribusi
pendapatan.
2. Ketimpangan antar masyarakat kota dengan masyarakat pedesaan,
ketimpangan dalam distribusi pendapatan dapat juga ditinjau dari segi
perbedaan perolehan pendapatan antar masyarakat desa dengan masyarakat
kota (urban-rural income disparieties). Untuk membedakan hal ini,
digunakan dua indikator pertama dibandingkan antara tingkat pendapatan
didaerah pedesaan dan perkotaan. Kedua, disparitas pendapatan daerah
pedesaan dan perkotaan.
3. Ketimpangan distribusi pendapatan antar daerah, satu kajian sisi lain dalam
melihat ketimpangan-ketimpangan pendapatan nasional adalah ketimpangan dalam pertumbuhan ekonomi antar daerah di berbagai daerah
di Indonesia, yang mengakibatkan pola terjadinya ketimpangan pendapatan
antar daerah (region income disparieties). Ketimpangan pendapatan ini
disebabkan oleh penyebaran sumberdaya alam yang tidak merata serta
dalam laju pertumbuhan daerah dan belum berhasilnya usaha-usaha
perubahan yang merata antar daerah di Indonesia.
Todaro (2003: 99) mengatakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan
ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap
selanjutnya distribusi pendapatan akan membaik. Observasi inilah yang dikenal
dengan “U Hypothesis” atau kurva Kuznets “U-terbalik”, karena perubahan
longitudinal (time-series) dalam distribusi pendapatan. Hipotesa ini dihasilkan
oleh kajian empiris yang diambil dari pola pertumbuhan sejumlah negara di
dunia, bahwa pada tahap-tahap awal pertumbuhan ekonomi terjadi trade-off
antara pertumbuhan dan pemerataan. Lambat laun sejalan dengan pertumbuhan
pembangunan ekonomi setelah mencapai tahap tertentu ketimpangan tersebut
akan menghilang digantikan dengan hubungan korelasi positif antara
pemerataan dan pertumbuhan. Pola tersebut timbul karena pada tahap awal
pembangunan cenderung lebih dipusatkan pada sektor modern yang sedikit
menyerap tenaga kerja. Sektor modern bertumbuh dengan cepat meninggalkan
sektor tradisional (sektor pertanian). Kesenjangan antar sektor modern dan
sektor tradisional ini menyebabkan adanya ketimpangan. Ketimpangan
pendapatan cenderung tinggi karena sebahagian besar penduduk masih
berpendapatan rendah, dan sektor modern telah berkembang tanpa perubahan struktur produksi dan alokasi tenaga kerja yang sesuai untuk suatu
pertumbuhan ekonomi modern secara menyeluruh.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar