Minggu, 27 Juni 2021
Pembangunan Ekonomi Daerah (skripsi dan tesis)
Sirojuzilam (2008:16) mendefinisikan pembangunan ekonomi adalah
suatu proses yang bersifat multidimensional, yang melibatkan kepada
perubahan besar, baik terhadap perubahan struktur ekonomi, perubahan sosial,
mengurangi atau menghapuskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan
pengangguran dalam konteks pertumbuhan ekonomi.
Adisasmita (2008:13), pembangunan wilayah (regional) merupakan
fungsi dari potensi sumber daya alam, tenaga kerja dan sumber daya manusia,
investasi modal, prasarana dan sarana pembangunan, transportasi dan
komunikasi, komposisi industri, teknologi, situasi ekonomi dan perdagangan
antar wilayah, kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah,
kewirausahaan (kewiraswastaan), kelembagaan daerah dan lingkungan
pembangunan secara luas.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah
daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk
suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan swasta untuk menc iptakan
suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi di
wilayah tersebut. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses yang
mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri
alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu
pengetahuan dan pengembangan perusahaan-perusahaan (Arsyad, 1999:107).
Setiap upaya pembangunan daerah mempunyai tujuan utama untuk
meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Guna
mencapai tujuan tersebut, pemerintah dan masyarakat harus secara
bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah dengan menggunakan
segenap potensi yang dimilikinya baru.
Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bagi corak
pembangunan yang akan diterapkan. Penirunan terhadap pola kebijakan yang
berhasil pada suatu daerah, belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi
daerah lainnya. Dengan demikian pola kebijakan pembangunan yang diambil
oleh suatu daerah harus disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerah yang
bersangkutan. Oleh karena itu penelitian yang mendalam tentang keadaan dan
potensi tiap daerah harus dilaksanakan untuk mendapatkan data dan informasi
yang berguna bagi penentuan arah perencanaan pembanguan daerah yang
bersangkutan.
Masalah pokok pembangunan daerah terletak pada penekanan terhadap
kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah
yang bersangkutan dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia,
kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal. Orientasi ini mengarah pada
pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut untuk
menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan
ekonomi (Arsyad, 1999:109). Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara seimbang
perencanaan yang teliti mengenai penggunaan sumberdaya-sumberdaya yang
ada. Melalui perencanaan pembangunan ekonomi daerah, suatu daerah dapat
dilihat secara keseluruhan sebagai suatu unit ekonomi yang didalamnya
terdapat berbagai unsur yang berinteraksi satu dengan yang lain. Beberapa teori
pembangunan daerah antara lain (Aryad, 1999:116) :
1. Teori Ekonomi Neo Klasik, teori ini memberikan dua konsep pokok dalam
pembangunan daerah yaitu keseimbangan dan mobilitas faktor-faktor
produksi. Artinya sistem perekonomian akan mencapai keseimbangan
alamiah jika modalnya bisa mengalir tanpa restriksi atau pembatasan.
Biasanya modal akan mengalir dari daerah yang mempunyai upah yang
tinggi ke daerah dengan upah yang rendah.
2. Teori Basis Ekonomi, teori ini menyatakan bahwa faktor utama
pertumbuhan ekonomi suatu daerah berhubungan dengan permintaan barang
dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan
sumberdaya lokal dengan orientasi ekspor akan menghasilkan kekayaan
daerah dan menciptakan peluang kerja. Dalam teori ini dijelaskan bahwa
perekonomian daerah dibagi menjadi dua yaitu (a) Sektor basis : sektor
perekonomian yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan daerah
sendiri dan kebutuhan daerah lain maupun ekspor (b) Sektor non basis :
sektor perekonomian yang hanya dapat digunakan untuk memenuhi daerah
sendiri. Kelemahan teori ini adalah perekonomian didasarkan pada permintaan eksternal, yang dapat menyebabkan ketergantungan yang sangat
tinggi terhadap kekuatan-kekuatan pasar secara nasional maupun global.
3. Teori Lokal, lokasi merupakan suatu faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Hal ini sesuai jika dikaitkan dengan
pengembangan kawasan industri. Perusahaan cenderung meminimumkan
biaya dengan cara memilih lokasi yang memaksimumkan peluangnya untuk
mendekati pasar dan bahan baku.
4. Teori Tempat Sentral, teori ini menganggap bahwa ada hirarki tempat.
Setiap tempat sentral didukung oleh sejumlah tempat yang lebih kecil yang
menyediakan sumberdaya. Tempat sentral merupkan suatu pemukiman yang
menyediakan jasa-jasa bagi penduduk daerah yang mendukungnya.
5. Teori Kausasi Kumulatif, kondisi daerah-daerah di sekitar kota yang
semakin buruk merupakan konsep dasar dari teori kausatif kumulatif.
Kekuatan-kekuatan pasar cenderung memperparah kesenjangan antara
daerah-daerah tersebut. Daerah yang maju akan megalami akumulasi
kenggulan kompetitif dibanding daerah-daerah yang terbelakang. Hal ini
oleh Myrdal disebut sebagai backwash effects.
6. Teori Daya Tarik Industri, dalam teori ini dinyatakan bahwa suatu
masyarakat dapat memperbaiki posisi pasarnya terhadap industrialisasi
melalui pemberian subsidi dan insentif.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar