Menurut Acemoglu (2005) dalam Arsyad (2010), karakteristik institusi
yang baik adalah sebagai berikut:
1. Menjaga hak kepemilikan (property rights) untuk segenap masyarakat
sehingga setiap individu memiliki insentif untuk melakukan investasi
dan ambil bagian di dalam kegiatan perekonomian.
2. Membatasi tindakan para kelompok elite, politisi dan kelompok –
kelompok kuat lainnya sehingga orang tersebut tidak bisa merampas
sumber pendapatan dan investasi orang lain atau menciptakan
kesempatan yang tidak sama bagi semua orang.
3. Meberikan peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat
sehingga setiap individu dapat melakukan investasi, khususnya dalam
modal insani dan berpartisipasi dalam kegiatan produktif.
Seiring dengan terjadinya proses transformasi ekonomi, sosial dan politik
dalam suatu masyarakat yang menyebabkan berkembangnya kebutuhan dan
keragaman manusia, institusi pun mengalami perubahan. Secara rinci, North
(1990) dalam Arsyad (2010) mengungkapkan lima penyebab perubahan institusi
tersebut, yaitu:
1. Adanya interaksi yang terus menerus antara institusi dengan organisasi
dalam kondisi kelangkaan secara ekonomis sehingga menimbulkan
persaingan merupakan faktor kunci bagi perubahan institusi. Institusi
adalah aturan main baik formal maupun informal, yang secara bersama –
sama menentukan cara bermain. Organisasi adalah pemainnya (players). Organisasi terbentuk dari kelompok individu yang mempunyai tujuan yang
sama. Organisasi – organisasi ekonomi terdiri dari, misalnya: perusahaan –
perusahaan, asosiasi – asosiasi perdagangan dan koperasi. Tujuan antara
dari organisasi bisa saja maksimisasi laba (bagi perusahaan) atau
perbaikan sistem pemilihan umum (untuk partai politik), tetapi tujuan
akhir dari sebuah organisasi adalah bertahan hidup (survival) karena
semua organisasi hidup dalam dunia yang penuh kelangkaan dan
persaingan.
2. Adanya persaingan yang disebutkan dimuka akan mendorong organisasi –
organisasi untuk secara terus menerus berinvestasi di bidang penciptaan
keahlian dan pengetahuan baru agar tetap bisa bertahan hidup. Jenis
keahlian dan pengetahuan individual serta organisasinya akan membentuk
persepsi tentang peluang – peluang dan pilihan – pilihan dan secara
perlahan akan mengubah institusi.
3. Adanya kerangka institusional yang menciptakan sistem insentif yang
mempengaruhi lahirnya keahlian dan pengetahuan yang dianggap
menghasilkan hasil yang optimal. Arah dari investasi untuk
pengembangan keterampilan dan pengetahuan mencerminkan struktur
insentif. Misalnya, jika ada tingkat kembalian hasil yang tinggi untuk
kegiatan produktif tertentu maka dapat diharapkan dapat bahwa organisasi
– organisasi akan menginvestasikan dananya untuk peningkatan
keterampilan dan pengetahuan yang akan meningkatkan produktivitas di
kegiatan produktif tersebut.
4. Adanya persepsi yang dibangun dari sikap mental para pelaku ekonomi.
Faktor utama yang mempengaruhi pilihan seorang individu akan suatu hal
dipengaruhi oleh persepsi individu tentang kemungkinan hasil dari pilihan
tersebut. Persepsi itu sendiri dibentuk oleh cara ataupun sikap dari setiap
individu dalam menginterpretasikan setiap informasi yang mereka peroleh.
Cara atau sikap tersebut tentu saja dibentuk oleh kebiasaan, budaya dan
tata nilai yang dianut oleh individu tersebut.
5. Adanya cakupan ekonomi (economies of scope), komplementaritas, dan
eksternalitas jejaring dari suatu matriks institusional membuat perubahan
institusional cukup besar dan path dependence. Dalam setiap aktivitasnya,
setiap individu selalu berinteraksi dengan individu lainnya dan kemudian
mereka membuat semacam jejaring (networking) di antara mereka.
Adanya perubahan pola perilaku pada satu individu dalam jejaring tersebut
tentu saja akan mempengaruhi perubahan pola perilaku jejaring secara
keseluruhan, karena adanya sifat saling terkait (complement) di antara
mereka. Pada akhirnya perubahan tersebut akan membawa pengaruh yang
cukup besar pada perubahan institusi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar