Perilaku berpindah merek merupakan perilaku yang sangat tidak diinginkan
oleh perusahaan karena dapat merugikan perusahaan. Sehingga alasan perusahaan
untuk selalu berorientasi pada pasar adalah dalam rangka menjaga kepuasan
konsumen. Sangat disadari memang ketidakpuasan konsumen merupakan salah satu
faktor penyebab terjadinya perpindahan merek karena pelanggan yang tidak puas
akan mencari informasi pilihan produk lain, dan mungkin akan berhenti membeli
produk atau mempengaruhi orang lain untuk tidak membeli (Kotler, 2003). Indikator
yang dapat digunakan adalah nilai, manfaat dan keinginan. Menurut Dharmmesta dan
Junaidi (2002), karakteristik kategori produk merupakan sifat suatu produk yang
dapat membedakan produk tersebut dengan produk lainnya. Adapun indikatornya
meliputi: keterlibatan, perbedaan persepsi di antara merek, fitur hedonis, dan
kekuatan preferensi.
Perpindahan merek adalah pola pembelian yang dikarakteristikkan dengan
perubahan atau pergantian dari suatu merek ke merek lain (Peter dan Olson 2002
dalam Setyaningrum, 2007).
Perpindahan merek dapat muncul karena adanya
kebutuhan mencari variasi. Menurut Hoyer dan Ridway (1984) dalam Setyaningrum
(2007), keputusan konsumen untuk berpindah merek tidak hanya dipengaruhi oleh
kebutuhan mencari variasi, namun juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
strategi keputusan, faktor situasional dan normatif, ketidakpuasan terhadap merek
sebelumnya, dan strategi pemecahan masalah. Konsumen yang hanya mengaktifkan
tahap kognitifnya dihipotesiskan sebagai konsumen yang paling rentan terhadap
perpindahan merek karena adanya rangsangan pemasaran (Dharmmesta,1999).
Adapun indikatornya meliputi ada/tidaknya uang, switching cost, dan kebiasaan.
Brand Switching Behavior adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan
oleh konsumen karena alasan-alasan tertentu atau dapat diartikan juga sebagai
kerentanan konsumen untuk berpindah ke merek lain (Dharmmesta, 1999). Perilaku
perpindahan merek merupakan fenomena yang kompleks, yang dapat terjadi karena
adanya perilaku mencari keberagaman (variety seeking), terdapatnya penawaran
produk lain atau dapat juga terjadi karena adanya masalah yang ditemukan atas
produk yang sudah dibeli. Selain itu, perilaku perpindahan merek juga dipengaruhi
oleh faktor-faktor seperti perilaku, persaingan dan waktu (Srinivasan, 1991).
Sedangkan Assael (1995) menyatakan bahwa perpindahan merek terjadi pada produkproduk dengan karakteristik keterlibatan yang rendah (low involvement).
Pengalaman konsumen dalam memakai produk memunculkan komitmen terhadap merek
tersebut. Pengalaman yang menimbulkan penilaian yang tidak menyenangkan bagi seorang
konsumen akan menyebabkan mereka melakukan perpindahan merek. Menurut Givon (2001),
brand switching adalah perpindahan merek yang digunakan oleh pelanggan untuk setiap waktu
penggunaan, dimana tingkat brand switching juga menunjukkan sejauh mana mereka memiliki
pelanggan yang loyal. Mazursky et al., (1998) memiliki pendapat bahwa perpindahan merek terjadi
ketika seorang konsumen atau sekelompok konsumen beralih kesetiaan dari satu merek produk
tertentu ke merek lain dan hal tersebut dapat saja terjadi sementara waktu saja. Semakin tinggi
tingkat brand switchingnya, semakin tidak loyal konsumen dari merek tersebut. Dan ketika hal
tersebut terjadi dalam waktu lama dan dilakukan oleh kelompok konsumen dari suatu merek maka
merek tersebut memiliki resiko yang tinggi karena dengan mudah dan cepat kehilangan
konsumennya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar