Senin, 14 November 2016

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar


Berhasil atau tidaknya belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat bersumber pada dirinya maupun di luar dirinya. Dengan mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi belajar maka akan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan prestasi belajar.
Menurut WS. Winkel (1991: 142), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah: Unsur dari luar, meliputi lingkungan alami, sosial, budaya, kurikulum, program, sarana dan fasilitas serta guru. Unsur dari dalam, meliputi aspek fisiologi, dan psikologis antara lain; kondisi panca indra, minat, kecerdasan, motivasi, bakat dan kemampuan kognitif.
Menurut Nana syaodih Sukmadinata (2005:162) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain: faktor dari dalam individu yang meliputi aspek jasmaniah, aspek rohaniah dan kondisi intelektual. Faktor lingkungan yang meliputi faktor fisik maupun sosial psikologis yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Menurut Roestiyah NK (1989: 151) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah: Faktor internal, ialah faktor yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri. Seperti kesehatan, rasa aman, kemampuan dan sebagainya. Faktor eksternal ialah faktor yang datang dari luar diri si anak. Seperti kebersihan rumah, udara yang panas, lingkungan metode mengajar dan sebagainya.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat digolongkan atas dua bagian antara lain 1) Faktor internal; (a) kondisi fisik, kesehatan, kelelahan; (b) Kondisi psikologis, minat, bakat, motivasi, intelegensi; 2) Faktor eksternal; (a) faktor lingkungan, faktor alami, lingkungan sosial budaya; (b) faktor instrumental; kurikulum, sarana dan fasilitas, metode pengajaran, dan guru. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)      Faktor internal
a)      Kondisi fisik
(1)   Faktor kesehatan
Kondisi organ-organ khusus siswa seperti kesehatan indra pendengar dan indra penglihatan, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas (Muhibbin Syah, 2000: 133).
Proses belajar siswa akan terganggu jika kesehatan terganggu, anak akan cepat lelah, mengantuk karena badannya lelah, mudah pusing, kurang bersemangat, kurang darah, ataupun terdapat gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat tubuh yang lain.
(2)   Kelelahan
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari pada orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kurang gizi, mereka cepat lelah, mudah mengantuk dan sukar menerima pelajaran (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 155)
b)      Kondisi Psikologis
(1)   Minat
Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai suatu hal dari pada lainnya. Anak didik memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 157)
Minat besar pengaruhnya pada belajar, ketertarikan anak pada pelajaran membuat anak belajar dengan baik pula.
(2)   Bakat
Banyak sebenarnya bakat bawaan yang dapat ditumbuhkan asal diberikan kesempatan dengan sebaik-baiknya (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 163). Untuk itulah guru harus dapat memahami bakat apa yang dimiliki anak didik. Bakat yang dimiliki anak memungkinkan untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman dan dorongan atau motivasi agar bakat dapat terwujud.
(3)   Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Penemuan-penemuan penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 167)
Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan dan tujuan, sangat mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. Motivasi penting bagi proses belajar, karena dengan motivasi mengarahkan tindakan, serta memilih tujuan belajar yang dirasa penting dan berguna bagi kehidupan siswa.
(4)   Intelegensi
Intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk mereaksi ransangan untuk menyesuaikan diri dengan cara yang tepat. Tingkat kecerdasan atau intelegensi sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa (Muhibbin Syah, 2000: 134)
Karena intelegensi diakui ikut menentukan keberhasilan seseorang, maka seseorang yang memiliki intelegensi baik umumnya mudah belajar dan hasilnyapun cenderung baik. Sebaliknya, orang yang intelegensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar.
2)      Faktor eksternal
a)      Faktor lingkungan
(1)   Lingkungan alami
Lingkungan alami adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha didalamnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 144)
Jadi lingkungan alami menyangkut kondisi tempat tinggal anak didik, dapat berupa suhu udara, kesejukan udara, ketenangan suasana kelas yang kondusif untuk terlaksanannya kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.
(2)   Lingkungan sosial budaya
Manusia adalah makhluk homo social adalah makhluk yang cenderung untuk hidup bersama satu sama lainnya. Hidup dalam kebersamaan dan saling membutuhkan akan melahirkan interaksi sosial. Saling memberi dan menerima merupakan kegiatan sosial. (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 145)
Sebagai anggota masyarakat, anak didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Anak didik tunduk pada norma-norma sosial dan hukum yang berlaku di masyarakat. Demikian halnya dengan sekolah, peraturan dan tata tertib sekolah harus anak didik taati. Lahirnya peraturan sekolah bertujuan untuk mengatur dan membentuk perilaku anak didik yang menunjang berhasilan belajar di sekolah.

b)      Faktor instrumen
(1)   Kurikulum
Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur yang penting dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung dengan baik, sebab ini berkaitan dengan materi apa yang harus disampaikan guru dalam suatu pertemuan kelas, sebelum guru programkan sebelumnya. Setiap guru harus mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum kedalam program yang lebih rinci dan jelas sasarannya, sehingga dapat diketahui dan di ukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 146)
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan pelajaran diberikan kepada siswa, kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran, menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran. Jadi bahan pelajaran mempengaruhi belajar siswa, sehingga kurikulum yang kurang baik berpengaruh terhadap belajar siswa.
(2)   Sarana dan fasilitas
Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Semua bertujuan memberikan kemudahan pelayanan kepada anak didik. Fasilitas mengajar merupakan kelengkapan mengajar guru yang harus dimiliki oleh sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas sekolah membuka peluang bagi guru untuk lebih kreatif mengajar. (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 150).
Sarana dan fasilitas mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak tentu dapat belajar lebih baik dan menyenangkan bila suatu sekolah dapat memenuhi segala kebutuhan belanja anak didik. Masalah yang dihadapi anak didik dalam belajar relatif kecil. Hasil belajar anak didik tentu akan lebih meningkat.
(3)   Metode pengajaran
Metode mengajar sangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai oleh pengajar. Dengan metode yang dipakai oleh guru menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses belajar (Wasty Soemanto, 1990: 115)
Metode mengajar adalah cara atau jalan yang harus dilalui dengan mengajar, ketepatan atau kesesuaian antara metode yang diterapkan dengan bahan ajar didalam pelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Metode mengajar guru yang kurang tepat akan mempengaruhi belajar siswa pula.
(4)   Guru
Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan. Kehadiran mutlak diperlukan didalamnya. Kalau hanya ada anak didik tetapi guru tidak ada maka tidak akan terjadi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tidak mudah untuk menuntut guru untuk lebih professional karena semuanya kembalidari sifat guru yang lebih mengedepankan kualitas pengajaran dari pada gaji yang diperoleh (Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 151).
Guru sebagai tenaga profesional menentukan prestasi yang diperoleh siswa, guru seharusnya menyadari bahwa tugas mereka sangat berat, bukan hanya menerima gaji.
Untuk mendapatkan prestasi belajar yang diinginkan harus melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagaimana telah diuraikan di atas. Guru harus benar-benar memperhatikan segala hal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar termasuk dalam memilih metode mengajar yang tepat.

Tidak ada komentar: