Saat ini masyarakat merasakan bahwa harga barang dan jasa sebagai
kebutuhan pokok terbilang lebih mahal dibandingkan dengan harga barang dan
jasa pada beberapa tahun lalu. Bahkan bagi sebagian masyarakat kenaikan hargaharga pada kebutuhan pokok sehari-hari telah menjadi beban hidup yang sangat
berat. Kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
maupun tarif dasar listrik (TDL), selalu membawa dampak pada kenaikan hargaharga terutama harga komoditas kebutuhan pokok masyarakat. Kenaikan hargaharga tersebut kemudian mendorong laju inflasi menjadi semakin tinggi.
Inflasi yang tinggi akan menjadi beban bagi semua pihak. Dengan inflasi,
maka daya beli suatu mata uang menjadi lebih rendah atau menurun. Dengan
menurunnya daya beli mata uang, maka kemampuan masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya baik barang maupun jasa akan semakin rendah. Laju inflasi
yang tidak stabil akan menyulitkan perencanaan bagi dunia usaha, tidak
mendorong masyarakat untuk menabung dan melakukan investasi, menghambat
perencanaan pembangunan oleh pemerintah, merubah struktur APBN maupun
APBD dan berbagai dampak negatif lain yang tidak kondusif bagi perekonomian
secara keseluruhan.
Pada awalnya inflasi diartikan sebagai kenaikan jumlah uang beredar atau
kenaikan likuiditas dalam suatu perekonomian. Pengertian tersebut mengacu pada
gejala umum yang ditimbulkan oleh adanya kenaikan jumlah uang beredar yang
diduga telah menyebabkan adanya kenaikan harga-harga. Dalam perkembangan
lebih lanjut, inflasi diartikan sebagai peningkatan harga-harga secara umum dalam
suatu perekonomian yang berlangsung secara terus-menerus.
(Supriyanto,2007:171).
Untuk memahami inflasi, terdapat beberapa teori inflasi, salah satunya
adalah teori strukturalis. Teori ini lebih didasarkan pada pengalaman negaranegara di Amerika Latin. Pendekatan ini menyatakan bahwa inflasi, terutama di
negara berkembang lebih disebabkan oleh faktor-faktor struktural dalam
perekonomian. Menurut teori strukturalis, ada dua masalah struktural di dalam
perekonomian negara berkembang yang dapat mengakibatkan inflasi. Pertama,
penerimaan ekspor tidak elastis, yaitu pertumbuhan nilai ekspor yang lebih lambat
dibandingkan dengan pertumbuhan sektor lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh
Terms of trade yang memburuk dan produksi barang ekspor yang kurang
responsif terhadap kenaikan harga. Kedua, masalah struktural perekonomian
negara berkembang lainnya adalah produksi bahan makanan dalam negeri yang
tidak elastis, yaitu pertumbuhan produksi makanan dalam negeri tidak secepat
pertambahan penduduk dan pendapatan perkapita sehingga harga makanan dalam
negeri cenderung meningkat lebih tinggi daripada kenaikan harga barang-barang
lainnya. Hal ini mendorong timbulnya tuntutan kenaikan upah dari pekerja sektor
industri yang akan menyebabkan kenaikan biaya produksi dan kemudian akan
menimbulkan inflasi. (Kebanksentralan seri inflasi,2009:10-11).
Berhubung inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara
umum, maka untuk mengukur perubahan laju inflasi (inflation rate) dari waktu ke
waktu pada umumnya digunakan suatu angka indeks yang disebut Indeks Harga
Konsumen (IHK). Angka indeks tersebut disusun dengan memperhitungkan
sejumlah barang dan jasa yang akan digunakan untuk menghitung besarnya angka
laju inflasi. Laju inflasi yang paling umum dan dikenal oleh masyarakat adalah
laju inflasi untuk menghitung perubahan harga barang dan jasa yang digunakan
untuk konsumsi masyarakat. Angka indeks tersebut dihitung secara periodik dan
pada umumnya dilakukan secara bulanan, kuartalan dan tahunan.
Selain dihitung berdasarkan IHK, inflasi dapat dihitung berdasarkan
Indeks Biaya Hidup (IBH), yaitu untuk mengukur perubahan harga barang dan
jasa kebutuhan hidup masyarakat. Indeks Harga Produsen (IHP) untuk mengukur
perubahan harga bagi produsen. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) untuk
mengukur perubahan harga barang dan jasa perdagangan. Serta dapat dihitung
dengan Produk Domestik Bruto (PDB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar