Sabtu, 12 November 2016

Pendekatan Berbasis Keterampilan pada Pembelajaran Fisika


Fisika merupakan bagian dari sains tentang dunia fisik seperti kimia,  geologi,  dan astronomi.  Tidak hanya bagian dari sains dunia fisik,  fisika juga merupakan pengetahuan dasar sains yang diperoleh dan dikembangkan dengan berlandaskan pada serangkaian penelitian yang dilakukan oleh para saintis dalam mencari jawaban tentang berbaga gejala alam serta penerapannya dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.  Oleh karena fisika merupakan ilmu yang diperoleh dengan serangkaian penelitian maka seyogyanya dalam proses pembelajaran,  fisika dipandang sebagai proses, bukan produk.
Pembelajaran fisika sebagai suatu proses berarti bahwa siswa tidak hanya diberikan tentang prinsip/ konsep dari suatu materi,  lebih kepada bagaimana proses dalam menemukan prinsip atau konsep itu.  Nah,  salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran fisika yaitu menggunakan pendekatan keterampilan proses.  Mengenai pengertian pendekatan keterampilan proses,  Kurniati (2001: 11) mengungkapkan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan yang memberi kesempatan kepada siswa agar dapat menemukan fakta, membangun konsep-konsep, melalui kegiatan dan atau pengalaman-pengalaman seperti ilmuwan

Selain itu,  Arikunto (2004 :33) memberi penjelasan mengenai pendekatan keterampilan proses, yaitu bahwa:
“Pendekataan berbasis keterampilan proses adalah wawasan atau anutan  pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya  keterampilan-keterampilan intelektual tersebut telah ada pada siswa”.

 Dari kedua pengertian diatas,  dapat disimpulkan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik siswa dengan melakukan kegiatan belajar secara langsung dalam menemukan fakta dan konsep.
Penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran akan dapat mengembangkan kemampuan berpikir anak.  Anak akan aktif dalam menggunakan pikirannya untuk menemukan berbagai konsep atau prinsip dari suatu materi.  Seperti yang dikemukakan oleh Bruner (Hendrik, 2000: 14) bahwa dalam pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses penemuan anak akan menggunakan pikirannya untuk melakukan berbagai konsep atau prinsip.
Keterampilan proses merupakan asimilasi dari berbagai keterampilan intelektual yang dapat diterapkan pada proses pembelajaran. Piaget (Duherti, 2000:13) mengemukakan bahwa kemampuan berpikir anak akan berkembang bila dikomunikasikan secara jelas dan cermat yang dapat disajikan berupa grafik, diagram, tabel, gambar atau bahasa isyarat lainnya.
Menurut Tim Action Research Buletin Pelangi Pendidikan (1999 : 35),  keterampilan proses terbagi menjadi dua macam yaitu keterampilan proses dasar, dan keterampilan proses terpadu.  Masing-masing keterampilan tersebut terdiri dari beberapa aspek.
Keterampilan dalam keterampilan proses dibagi menjadi dua, yaitu :  (1)  Keterampilan proses tingkat dasar (Basic Science Proses Skill) meliputi observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan inferensi.  (2)  Keterampilan proses terpadu (Intergated Science Proses Skill) meliputi menentukan variabel, menyusun tabel data, menyusun grafik, memberikan hubungan antar variabel, menyusun hipotesis, memproses data, dan menganalisis penyelidikan.  Semua keterampilan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa. 
Dengan demikian,  menerapkan pendekatan proses dalam proses pembelajaran di kelas akan mengasah berbagai macam keterampilan siswa yang sangat berguna apabila siswa melakukan penelitian/ penyelidikan secara ilmiah.
Adapun untuk pelaksanaan di dalam kelas,  pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dirancang dengan beberapa tahapan.  Dengan beberapa tahapan-tahapan itu,  diharapkan akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.  Tahapan-tahapan pembelajaran berbasis keterampilan proses menurut Dimyati dan Mudjiono ( 1999 : 49),
Pendekatan pembelajaran ini dirancang dengan tahapan: penampilan fenomena, apersepsi, dan menghubungkan pembelajaran dengan pengetahuan awal yang dimiliki siswa.  Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan demonstrasi atau eksperimen, kemudian siswa mengisi LKS, hal itu dimaksudkan untuk memunculkan dampak siswa lebih aktif dan mengacu pada indikator keberhasilan pembelajaran.  Terakhir, guru memberikan penguatan materi dan penanaman konsep dengan tetap mengacu kepada teori permasalahan.

Sesuai dengan pendapat dari Dimyati di atas,  tahapan-tahapan dalam pendekatan proses bisa dibagi menjadi tiga kegiatan.  kegiatan pendahuluan (pemberian motivasi,  apersepsi,  dan penyajian fenomena),  kegiatan inti (demonstrasi/ eksperimen),  dan kegiatan akhir (penguatan materi dan penanaman konsep).

Tidak ada komentar: