Hipertensi terjadi karena adanya perubahan pada struktur dan fungsi
sistem pembuluh darah perifer yang bertanggung jawab atas perubahan
tekanan darah. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, yaitu suatu
keadaan dimana hilangnya elastisitas jaringan ikat dan menurunnya
relaksasi otot polos pembuluh darah sehingga mengakibatkan penurunan
kemampuan daya regang dan distensi pembuluh darah. Hal ini
menyebabkan aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi sistema darah yang dipompa jantung sehingga tekanan
darah dan nadi istirahat menjadi tinggi (Smeltzer & Bare, 2002 dalam
Dwi, 2015).
Mekanisme pengaturan konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor pada sistem otak. Pusat vasomotor bermula pada saraf simpatis yang berlanjut ke arah bawah menuju korda spinalis
dan keluar melalui kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis yang
berada di toraks dan abdomen. Rangsangan dari pusat vasomotor bergerak
ke bawah ganglia simpatis dalam bentuk impuls yang bergerak melalui
saraf simpatis. Pada titik ini posisi neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh
darah, dengan dilepaskannya norepinefrin bermanifestasi pada
berkonstriksinya pembuluh darah. Respon pembuluh darah terhadap
rangsangan vasokonstriktor dapat dipengaruhi oleh berbagai macam sistem
seperti rasa cemas dan takut. Pada waktu yang bersamaan, respon
rangsangan emosi menstimulasi sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah dan kelenjar adrenal yang mengakibatkan tambahan
aktivitas vasokonstriksi. Medula adrenal mensekresi epinefrin kemudian
menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, begitu juga dengan korteks
adrenal yang mensekresi kortisol dan steroid yang memperkuat efek
vasokonstriksi pada pembuluh darah (Handayani, 2014).
Vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan penurunan aliran darah
ke ginjal yang menyebabkan pelepasan renin. Renin kemudian
merangsang pembentukan angiotensin I lalu diubah menjadi angiotensin
II. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat yang merangsang
sistem sekresi oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi
natrium dan air oleh tubulus ginjal menyebabkan peningkatan volume
intravaskular. Keadaan diatas itulah yang cenderung mencetuskan keadaan
hipertensi (Handayani, 2014). Jika ditinjau dari pertimbangan gerontologis, hipertensi dapat
dihubungkan dengan perubahan struktur dan fungsional sistem pembuluh
darah perifer yang bertanggung jawab atas perubahan tekanan darah pada
lanjut usia. Perubahan tekanan darah pada lanjut usia dapat disebabkan
karena aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan
relaksasi otot polos pada pembuluh darah, keadaan ini menurunkan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Hal tersebut
menyebabkan berkurangnya kemampuan arteri dan aorta dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung yang
mengakibatkan terjadinya penurunan curah jantung dan peningkatan
tahanan perifer (Smeltzer & Bare, 2002 dalam Handayani, 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar