Pada dasarnya job involvement merupakan hasil dari identifikasi diri
seseorang secara psikologis terhadap pekerjaan yang dilakukan dan terlibat secara
aktif dengan pekerjaan serta menganggap bahwa pekerjaan penting bagi harga diri
mereka (Lodahl dan Kejner 1965; Cohen, 2003). Dengan dasar tersebut, karyawan
yang memiliki tingkat job involvement tinggi adalah mereka yang menganggap
bahwa pekerjaan sangat penting serta berpengaruh kepada harga diri individu
dengan tidak memperhatikan jenis pekerjaan yang dilakukan. Sementara itu
sebaliknya, karyawan dengan job involvement rendah memiliki anggapan bahwa
pekerjaan yang dilakukan tidak terlalu penting bagi harga dirinya.
Karyawan dengan job involvement tinggi juga memiliki partisipasi yang aktif
dalam pekerjaan yang dilakukan dan memiliki pertumbuhan kebutuhan yang kuat
dengan melibatkan diri secara menyeluruh pada pekerjaan yang dilkakukan.
Kaitannya dengan keaktifan karyawan dalam pekerjaan didasari oleh beberapa
faktor yang antara lain, identitas tugas yang jelas, mempunyai keberagaman yang
otonom, adanya feedback atau timbal balik, karakteristik tugas dalam pekerjaan
dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan yang kuat dan kemungkinan untuk
berpartisipasi aktif terhadap pekerjaan. Dengan ciri – ciri karyawan yang memiliki
faktor – faktor diatas maka ada kencenderungan karyawan akan berpartisipasi
secara aktif terhadap pekerjaan yang dilakukan (Ciliana dan Mansoer, 2008;
Wahyuni, 2013).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zangaro (2001) dalam Wahyuni,
(2013), menemukan adanya hubungan yang secara tidak langsung antara, kepuasan
dan job involvement, komitmen organisasi dengan dukungan organisasi serta
kesetiaan dengan kesiapan individu untuk berubah. Dalam penelitian lain yang
dilakukan oleh Weber dan Weber (2001) dalam Wahyuni (2013) menyatakan
bahwa involvement atau keterlibatan karyawan dalam organisasi memiliki
keterkaitan dengan kesiapan karyawan untuk berubah. Penelitian tersebut didukung
penelitian lainnya yang dilakukan oleh Shah (2009), yang menyatakan bahwa ada
hubungan secara positif dan signifikan antara job involvement dengan kesiapan
seseorang untuk berubah. Hal tersebut memberi arti bahwa semakin tinggi tingkat
job involvement yang dimiliki oleh seseorang, maka kesiapan seseorang tersebut
menghadapi perubahan semakin tinggi, pernyataan tersebut berlaku pula
sebaliknya.
Menurut Madsen, Miller dan John (2005) mengemukakan bahwa pada
keterlibatan seseorang dalam organisasi menunjukkan hubungan yang memiliki
makna dengan kesiapan seseorang tersebut untuk berubah. bisa diartikan bahwa
tingginya tingkat kesiapan seseorang terhadap perubahan dipengaruhi oleh job
involvement yang tinggi dari seseorang dalam organisasi. Selain itu, karyawan
dengan keterlibatan atau partisipasi secara aktif dalam pekerjaan akan
menumbuhkan rasa solidaritas pada perusahaan dan memunculkan motivasi yang
tinggi dari dalam diri mereka. Maka dari itu, kesiapan karyawan dalam menghadapi
perubahan yang dilakukan oleh perusahaan sangat dipengaruhi oleh tingkat
keterlibatan karyawan dan partisipasi aktif mereka dalam melakukan pekerjaan.
Kamis, 27 Januari 2022
Hubungan antara Job Involvement dan Kesiapan Individu untuk Berubah (skripsi dan tesis)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar