(Ghozali & Chariri, 2014:375) mendefinisikan laba sebagai hasil pengurangan dari pengukuran beban atau biaya dan pendapatan, disisi lain kenaikan aktiva di ukur dari seberapa bagus laba yang diperoleh perusahaan, hal ini sangat tergantung dari tepatnya mengukur biaya dan pendapatan. Dalam keterangan tersebut laba tidak didefinisikan berbeda secara ekonomi melainkan sebuah deretan angka artikulasi seperti hutang atau aktiva. Menurut (Rahmawati, 2016:62) koefisien respon earnings merupakan alat untuk mengukur seberapa kuat saham abnormal merespon komponen laba yang tidak terduga yang dilaporkan perusahaan dari penerbitan saham (dengan kata lain kuat lemahnya hubungan antara laba tidak terdua dengan tingkat pengembalian abnormal. Pendapat lainnya dari (Mulianti & Ginting, 2017) yang menyatakan koefisien respon laba sebagai ukuran untuk menilai respon harga saham atau reaksi investor terhadap informasi keuangan terutama informasi laba yang dihasilkan. Dari beberapa pengertaian tersebut dapat disimpulkan bahwa earnings response coefficient (ERC) merupakan koefisien yang didapatkan dari unexpected earnings dengan abnormal returns. Jadi tinggi rendahnya kualitas informasi laba yang direspon oleh pasar dapat digambarkan oleh earnings response coefficient (ERC), dengan kata lain semakin bagus kandungan informasi maka semakin tinggi pula nilai koefisien respon laba. Seperti yang dijelaskan oleh (Paramita, 2012) “Kualitas laba dapat diindikasikan sebagai kemampuan informasi laba memberikan respon kepada pasar, dengan kata lain laba yang dilaporkan memiliki kekuatan respon (power of response), kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari tingginya earnings response coefficients (ERC), menunjukkan laba yang dilaporkan berkualitas”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar