Jumat, 01 Januari 2021

Proses Pencapaian Makna Hidup (skripsi dan tesis)


Menurut Bastaman, ada beberapa tahap dalam proses pencapaian
makna hidup, yang terdiri dari empat kategori sebagai berikut:
1. Tahap derita (peristiwa tragis, penghayatan tanpa makna)
Dalam tahap ini individu berada dalam kondisi hidup yang
tidak bermakna. Bisa jadi ada peristiwa tragis yang terjadi dan
tidak menyenangkan.
2. Tahap penerimaan diri (pemahaman diri, pengubahan sikap)
Pada kondisi ini muncul kesadaran diri untuk menjadi lebih
baik. Kesadaran ini biasanya muncul diakibatkan adanya perenungan, hasil dari konsultasi, mendapat pencerahan dari orang
lain, doa dan ibadah, serta belajar dari pengalaman orang lain atas
kisah tragis dalam hidupnya.
3. Tahap penemuan makna hidup (penemuan makna dan penentuan
tujuan hidup)
Individu sadar akan hal-hal yang sangat penting dalam
kehidupannya yang kemudian ditetapkan sebagai tujuan hidup.
Hal-hal penting tersebut bisa berupa nilai-nilai kreatif seperti
berkarya, nilai-nilai penghayatan seperti keimanan, dan nilai-nilai
serta sikap yang tepat dalam menghadapi kondisi yang tidak
menyenangkan.
4. Tahap kehidupan bermakna (penghayatan bermakna, kebahagiaan)
Pada tahap ini timbul perubahan kondisi hidup yang lebih
baik dan mengembangkan penghayatan hidup bermakna dengan
kebahagiaan sebagai hasilnya.
Bastaman mengatakan bahwa tahapan pencapaian tersebut tidak
harus berurutan tetapi akan disesuaikan dengan kondisi dan
permasalahan yang dialami oleh individu Hal ini dikarekan
kebermaknaan hidup adalah pengalaman subjektif yang akan berbeda
antara satu individu dengan lainnya.
a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebermaknaan Hidup

Baidi Bukhori, Hubungan Kebermaknaan Hidup dan Dukungan Sosial Keluarga
Dengan Kesehatan Mental Narapidana, Jurnal Al Din :vol.4, 2012, hlm.6

Menurut Frankl ada faktor-faktor yang mempengaruhi proses
pencapaian kebermaknaan hidup individu, diantaranya yaitu:
1) Kehidupan keagamaan dan filsafat
Menurut Frankl, makna hidup seringkali ditemukan dalam
realitas kehidupan beragama. Menurutnya, seseorang tidak
mampu menghayati penderitaan yang dialami karena individu
tersebut tidak mengetahui rencana-Nya dibalik penderitaan
yang dirasakannya10. Hal ini menunjukkan bahwa
kematangan dalam spiritualitas akan membawa individu pada
pemaknaan hidup yang berarti.
2) Pekerjaan
Pekerjaan merupakan salah satu aktivitas penting dalam
kehidupan manusia. Aktivitas kerja merupakan salah satu
cara manusia menemukan makna hidupnya aktivitas kerja ini
tidak terbatas pada lingkup dan luasnya pekerjaan akan tetapi
bagaimana individu bekerja sehingga dapat memenuhi
tuntutan hidupnya11. Bekerja merupakan salah satu bentuk
eksistensi individu yang dapat diwujudkan pada sesamanya.
3) Cinta pada sesama
Cinta dapat menjadikan manusia mampu melihat nilai-nilai
kehidupan. Kemampuan melihat nilai ini membuat batin                                          manusia menjadi kaya. Memperkaya batin merupakan satu
unsur yang membentuk makna hidup.
Cinta menjadikan manusia dapat mengahyaati perasaan yang
berarti dalam hidupnya. Ketika mencintai dan dicintai
sesseorang akan merasakan akan merasakan hidupnya penuh
dengan pengalaman yang membahagiakan dan melahirkan
penghayatan hidup.
b. Cara Menemukan Makna Hidup
Ada banyak cara untuk menemukan makna hidup, Bastaman
menjelaskan dalam bukunya ada lima langkah untuk menemukan
makna hidup yakni sebagai berikut13 :
1) Pemahaman pribadi
Pemahaaman pribadi adalah kemampuan seseorang untuk
mengenali dirinya, hidupnya dan perannya. Hal ini secara spesifik
mengarah pada pengenalan terhadap kepribadian diri sendiri untuk
menentukan sikap dan posisi dalam struktur kehidupan.
Pemahaman ini secara rinci berisikan pencapaian atas beberapa hal
berikut, yakni a) mengenali keunggulan dan kelemahan diri, b)
menyadari keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan masa
lalu dan masa sekarang, dan c) merumuskan secara jelas keinginan
dan kebutuhan serta menyusun rencana realisasi atas kehidupan
masa depan.
2) Bertindak positif                                                                                                                      Dalam membangun relasi sosial, tindakan seseorang akan
menjadi pusat penilaian atas kualitas diri. Jika seseorang mampu
menampilkan dirinya dengan tindakan yang positif makna hal ini
akan mendapatkan nilai kualitas diri yang baik dalam pandangan
umum. Disisi lain, bertindak positif akan menjadikan seseorang
merasakan dirinya berharga dan mendapat kepuasan batin.
3) Pengakraban hubungan
Sebagai makhluk sosial manusia tidak akan terlepas dari
orang lain, karena manusia memiliki kebutuhan afiliasi yaitu
kebutuhan untuk selalu memperoleh kasih sayang dan penghargaan
dari orang lain. Dimensi sosial ini merupakan sesuatu yang tidak
dapat dipisahkan dari eksistensi manusia. Hubungan manusia
dengan orang lain adalah sumber nilai dari kebermanaknaan hidup
seseorang, karena perlulah terjalin relasi sosial yang akrab dan
baik.
4) Pendalaman tri-nilai
Dalam pendalaman tri-nilai berisikan usaha-usaha
seseorang dalam merealisasikan dan mengintegrasikan sumber nilai
dari kebermaknaan hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Pendalaman nilai kreatif dapat adalah bahwa dengan seseorang
memberikan sesuatu yang berharga dan berguna pada orang lain
atau kehidupan secara keseluruhan. Hal ini dapat berupa kegiatan
sosial atau peduli lingkungan.
Pendalaman nilai penghayatan berkaitan dengan
penerimaan seseorang terhadap dunia. Caranya adalah dengan
melakukan perenungan atas fenomena alam atau gejala sosial yang
ia temukan dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga akan muncul
nilai positif dan hikmah atas fenomena tersebut.
Pendalaman nilai bersikap seperti yang ditegaskan oleh
Frankl bahwa sikap seseorang dalam menghadapi peristiwa tragis
sangat berperan dalam menemukan makna hidup. Menurutnya,
peristiwa-peristiwa tragis dapat menajdi sumber kekuatan dan
pemenuhan makna dalam kehidupan seseorang.
5) Ibadah
Melalui kegiatan ibadah dan berdoa seseorang berusaha
mendekatkan diri dengan sang maha pencipta. Mencari
keberkahan-Nya, rahmat-Nya dan keridhoan-Nya. Dengan
mendekatkan diri kepada Tuhan seseorang akan merasakan
ketenangan, kedamaian dan kebahagian yang mendalam dalam
dirinya. Perasaan-perasaan bermakna ini muncul sebagai refleksi
atas perenungan terhadap nikmat berupa kehidupan yang
dikaruniakan kepadanya.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi makna hidup
Menurut Frankl, manusia sehat adalah manusia yang mampu
menemukan makna hidupnya melalui realisasi nilai-nilai
manusiawi. Factor-faktor yang mempengaruhi makna hidup
seseorang menurut Frankl adalah :
1) Spiritualitas, merupakan konsep yang sulit untuk dirumuskan.
Spiritualitas memiliki hubungan makna dengan jiwa, hidup
seseorang akan terasa bermakna jika ia mampu mengenali dan
berdamai dengan jiwanya.
2) Kebebasan, dengan adanya kebebasan manusia bebas memilih
hal-hal yang akan mengisi hidupnya.
3) Tanggung jawab, eksistensi keberadaan manusia akan tampak
melalui tugas-tugasnya. Tanggung jawab yang dipikul manusia
menjadi wahana untuk menunjukkan eksistensi dirinya pada
orang lain. Karenanya makna hidup dapat ditemukan pada
tanggung jawab yang dipikul dan dilaksanakan olehnya.
d. Ciri-ciri Hidup Bermakna
Makna hidup harus dicari dan ditemukan sendiri oleh orang yang
bersangkutan, maka apabila hasrat hidup bermakna tersebut
terpenuhi, orang yang bersangkutan akan merasakan kehidupan
bermakna. Menurut Frankl
15 ciri-ciri orang yang merasakan hidup
bermakna, dijelaskan sebagai berikut ini:
1) Menjalani kehidupan sehari-hari dengan semangat dan
penuh gairah serta jauh dari perasaan hampa                                                                        2) Tujuan hidup, baik jangka pendek dan jangka panjang jelas,
sehingga mereka jadi lebih terarah dan merasakan
kemajuan-kemajuan yang telah dicapai
3) Tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari merupakan sumber
kepuasan dan kesenangan tersendiri, sehingga dalam
pengerjaannya semangat dan bertanggung jawab
4) Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, artinya
menyadari pembatasan-pembatasan lingkungan, tetapi
dalam keterbatasan itu tetap dapat menentukan sendiri apa
yang paling baik untuk dilakukan
5) Menyadari makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan
betapapun buruknya keadaan, menghadapinya dengan tabah
dan menyadari bahwa hikmah selalu ada dibalik
penderitaan.
6) Kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi dan
menentukan makna hidup sebagai sesuatu yang sangat
berharga dan tinggi nilainya.
7) Mampu mencintai dan menerima cinta kasih orang lain
serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu
nilai hidup yang menjadikan hidup ini indah.
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dasil penelitian-penelitian
terdahulu sebagai bahan perbandingan. Adapun beberapa penelitian
terdahulu dengan tema kebermaknaan hidup diantaranya :
1. Sebuah penelitian berjudul “Kebermaknaan Hidup bagi Difabel” yang
ditulis oleh M. Nasirin.
Penelitian ini mengkaji hubungan kedifabelan dengan
kebermaknaan hidup. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif
dengan pendekatan fenomenologis. Subjek penelitian ini berjumlah
satu orang dan metode yang digunakan dalam penggalian data adalah
observasi tak berpartisipan dan wawancara langsung.
Adapun hasil dari penelitian ini adalah kedifabelan tidak selalu
menjadikan seseorang lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Melainkan hal ini menjadikan hidup lebih bermakna, kegiatan lebih
terarah dan lebih bertanggung jawab.
2. Penelitian yang berjudul “Makna Hidup Bagi Narapidana LP
Wirogunan Kelas II A Yogyakarta.” Yang ditulis oleh Oleh Siti
Thoriqotul Ula
Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian kuantitatif
dengan pendekatan eksperimen di LP Wirogunan Kelas II A
Yogyakarta. Subjek berjumlah 48 orang, perlakuan yang diberikan
dalam penelitian ini adalah pelatihan dzikir. Pengukuran
menggunakan skala likert, observasi dan wawancara hanya sebagai
data pendukung.
Adapun hasil dari penelitian ini adalah 1) pelatihan dzikir belum
mampu meningkatkan kebermaknaan hidup warga binaan, hal ini
terlihat dari hasil t yang hanya mencapai -0,934 dengan taraf
signifikansi lebih besar dari 0,05 yakni 0,355 2) tidak ada perbedaan
antara kebermaknaan hidup pada warga binaan laki-laki dan warga
binaan perempuan. Hasil post test menunjukkan nilai rata-rata
kebermaknaan hidup warga binaan laki-laki adalah 68,5 sedangkan
pada warga binaan perempuan adalah 66,833. Diketahui bahwa nilai t
dengan asumsi kedua sampel memiliki varian yang sama yakni 0,789
dengan p (sig) = 0,434. Karena p (sig) 0,355>0,05 maka Ha ditolak.
3. “Kebermaknaan Hidup Narapidana yang Mendapat Vonis
Hukuman Seumur Hidup di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I
Madiun” yamg ditulis oleh Dyanita Ainun Fatwa
Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran kebermaknaan
hidup pada narapidana yang mendapatkan vonis hukuman seumur
hidup. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian kualitatif
dengan teknik pengumpulan data berupa riwayat hidup, wawancara
mendalam, observasi dan data dokumen. Penelitian ini dilakukan di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Madiun. Subjek penelitian
berjumlah 2 orang dengan kriteria yaitu penghuni Lembaga
Pemasyarakatan Kelas I Madiun, dijatuhi vonis hukuman seumur
hidup dan minimal telah lima tahun menjalani pidana.
Adapun hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa subjek
pertama sedang berjuang mengupayakan kebebasannya untuk keluar
dari lembaga pemasyarakatan, untuk bertahan dari stress yang
diterimanya karena usahanya belum menunjukkan hasil ia melakukan
image building seperti berlaku santun, ramah, tersenyum meski hal
tersebut tidak sesuai keinginannya. Subjek kedua mengahadapi
masalah hidup dengan tetap beraktivitas yang bisa menyenangkan
dirinya semabari menunggu hasil dari usaha yang dilakukan ibunya.
Karena menurut subjek kedua hidup selayaknya dinikmati dengan
senang tanpa harus bersusah payah.
4. “Hubungan Kebermaknaan Hidup dan Dukungan Sosial Keluarga
dengan Kesehatan Mental Narapidana” yang ditulis oleh Baidi
Bukhori
Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian kuantitatif yang
bertempat di Lembaga Pemasyaraktan Kelas I Kedungpare Semarang.
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 104 orang dengan teknik
random sampling.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara kebermaknaan hidup dan dukungan sosial keluarga
dengan kesehatan mental narapidana.
Setelah mengkaji beberapa penelitian yang telah tersebutkan di
atas, penelitian sebelumnya di atas memiliki beberapa kesamaan
dengan desain penelitian yang dirancang dalam penelitian ini, namun
juga terdapat beberapa perbedaan. Penelitian ini memiliki kesamaan
variable dengan penelitian sebelumnya diatas yaitu variable
kebermaknaan hidup. Pendekatan penelitian memiliki kesamaan
dengan dengan dua penelitian sebelumnya yaitu kualitatif dengan
pendekatan fenomenologis.
Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu diatas
adalah pada subjek penelitian. Subjek penelitian ini bukanlah
narapidana melainkan anak pidana yang tinggal di Lembaga
Pembinaaan Khusus Anak Kelas I Blitar. Metode pengumpulan data
dalam desain penelitian ini lebih kompleks yaitu focus discussion grup
(FGD), in depth interview (wawancara mendalam), dan observasi
partisipan

Tidak ada komentar: