Job involvement merupakan intensitas dimana seseorang
mengidentifikasikan diri secara psikologis terhadap pekerjaannya, terlibat secara
aktif serta menyeadari bahwa unjuk kerjanya merupakan hal yang penting bagi
harga dirinya (Lodahl & Kejner, 1965; Cohen, 2003). Karyawan yang memiliki
job involvement yang tinggi adalah karyawan yang memandang pekerjaan sebagai
bagian yang sangat penting dalam kehidupannya dan karyawan yang dipengaruhi
secara personal oleh situasi kerjanya. Sedangkan karyawan dengan job
involvement yang rendah tidak memandang pekerjaan sebagai bagian yang
penting dalam kehidupan psikologisnya. Minatnya tidak terletak pada pekerjaan
yang ia miliki dan ia juga tidak terpengaruh oleh jenis pekerjaan apa yang sedang
dilakukannya ataupun seberapa baik ia melakukan pekerjaan tersebut.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi job involvement
diantaranya karakteristik pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan
yang kuat, memiliki otonomi keberagaman, identitas tugas yang jelas, umpan
balik dan memungkinkan pekerja untuk memiliki artisipasi yang tinggi. Hal ini
dapat diartikan bahwa karyawan yang terlibat dalam pekerjaannya memiliki
kebutuhan pertumbuhan yang kuat dan berpartisipasi secara aktif dalam
pekerjaannya. Karyawan tersebut akan lebih siap untuk berubah karena perubahan
dapat memenuhi kebutuhannya untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam
pekerjaannya (Ciliana & Mansoer, 2008).
Job involvement adalah bagaimana individu melihat pekerjaan mereka
berhubungan dengan lingkungan kerja dan pekerjaan itu sendiri, dan bagaimana
pekerjaan dan kehidupan mereka menyatu atau saling terkait. Memiliki job
involvement yang rendah memberikan kontribusi terhadap perasaan karyawan
tentang keterasingan tujuan, keterasingan dalam organisasi atau perasaan terpisah
antara apa yang karyawan lihat sebagai "kehidupan" dan pekerjaan yang mereka
lakukan. Alienasi dan job involvement berkorelasi satu sama lain (Hirschfeld &
Field, 2000; Rabinowitz & Hall, 1981; Hafer & Martin 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh Zangaro (2001) menunjukkan bahwa
terdapat hubungan tidak langsung antara komitmen organisasi dan dukungan
organisasi, kepuasan dan job involvement, dan kesetiaan dengan kesiapan individu
untuk berubah. Selanjutnya Weber & Weber (2001) menemukan bahwa ada
keterkaitan antara involvement atau partisipasi karyawan dalam organisasi dengan
kesiapan karyawan untuk berubah. Penelitian tersebut didukung oleh hasil
penelitian yang dilakukan oleh Shah (2009), bahwa job involvement memiliki
korelasi positif yang signifikan terhadap kesiapan untuk berubah. Hal ini berarti
bahwa semakin tinggi job involvement seorang karyawan maka semakin tinggi
pula kesiapan berubah keryawan tersebut, demikian pula sebaliknya.
Madsen et al (2005) menemukan keterlibatan dalam organisasi memiliki
hubungan yang bermakna dengan kesiapan individu untuk berubah. Hal tersebut
menunjukkan bahwa individu yang terlibat secara aktif dalam organisasi memiliki
kesiapan untuk berubah yang lebih tinggi daripada individu yang terlibat secara
pasif. Individu yang terlibat secara aktif dalam organisasi, akan memiliki keterlibatan yang cukup tinggi pula terhadap pekerjaannya. Selain itu karyawan
yang memiliki keterlibatan kerja yang tinggi akan menunjukkan perasaan
solidaritas yang tinggi terhadap perusahaan dan mempunyai motivasi internal
yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa karyawan yang memiliki
keterlibatan kerja yang tinggi akan lebih siap untuk mengikuti dan terlibat dalam
perubahan yang dilakukan oleh perusahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar