Pesatnya kemajuan teknologi, tekanan ekonomi, persaingan bisnis yang
ketat maupun semakin tingginya tuntutan pelanggan memaksa organisasi untuk
melakukan perubahan. Perubahan tersebut menghadirkan sesuatu yang baru atau
dengan kata lain perubahan merupakan upaya pergeseran dari status quo ke
kondisi yang baru (Wibowo, 2005).
Perubahan yang dilakukan organisasi beraneka ragam seperti
restrukturisasi, merger, akuisisi dan program “right-sizing” yang disertai dengan
pengurangan tenaga kerja. Sebagai konsekuensinya, Burchell (2002) menyatakan
bahwa terjadi peningkatan jumlah karyawan yang merasa insecure tentang
eksistensi pekerjaan mereka di masa mendatang (Goksoy, 2012).
Senada dengan hal tersebut, Grennhalgh & Rosenblatt (1984)
mengemukakan bahwa adanya berbagai perubahan yang terjadi di dalam
organisasi membuat karyawan sangat mungkin merasa terancam, gelisah dan tidak aman karena potensi perubahan mempengaruhi kondisi kerja dan kelanjutan
hubungan serta balas jasa yang diterimanya dari organisasi.
Selain itu, Anderson (2010) mengemukakan bahwa sebagian karyawan
atau anggota organisasi, perubahan dapat memberikan pencerahan dan
menggairahkan, namun perubahan juga dapat menyakitkan, stressful dan
membuat frustrasi. Vakola & Nikolaou (2005) menyatakan bahwa perubahan
organisasi merupakan tantangan terhadap cara hal-hal yang dilakukan secara
normal atau biasa dalam organisasi, dan akibatnya individu merasakan
ketidakpastian, stres dan kekhawatiran mengenai peluang mengalami kegagalan
dalam menghadapi situasi baru.
Penelitian yang dilakukan oleh Goksoy (2012) menemukan bahwa job
insecurity memberikan kontribusi negatif terhadap kesiapan untuk berubah.
Ketika karyawan merasa insecure, mereka tidak akan merasa siap untuk berubah,
tidak akan termotivasi, tidak menerima ide perubahan dengan bergairah dan
secara jelas menganggap perubahan sebagai ancaman bagi diri mereka.
Hasil penelitian tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Babalola (2013) bahwa job insecurity memiliki kontribusi negatif terhadap
keterbukaan perubahan. Karyawan yang merasa insecure akan lebih tertutup atau
kurang terbuka terhadap perubahan yang dilakukan organisasi. Selain itu, De
Witte (1999) menyatakan bahwa karyawan sangat dipengaruhi oleh perubahan
organisasi, karena mereka melihat kehilangan pekerjaan tidak hanya dari segi
sosioekonomi saja namun juga keuntungan secara psikologis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar