Rabu, 01 Oktober 2014

Konsultasi Skripsi; Aspek Pasar Dalam Studi Kelayakan Bisnis

Pasar merupakan kimpulan seluruh pembeli aktual dan potensial dari suatu produk. Dalam penentuan pasar ada beberapa kriteria pasar yang harus diukur untuk mempermudah penentuan pasar sasaran, yaitu :
a.       Pasar potensial adalah sejumlah konsumen atau pelanggan yang mempunyai sikap dan minat terhadap suatu penawaran pasar.
b.      Pasar tersedia adalah sekumpulan konsumen yang mempunyai minat, penghasilan dan akses penawaran pasar tertentu
c.       Pasar sasaran adalah bagian dari pasar yang memenuhi syarat dan juga bersedia untuk dimasuki perusahaan kita. (Chumaidiyah : 2004)
Aspek pasar merupakan aspek pertama yang harus dievaluasi. Evaluasi terhadap semua aspek lain (teknis dan profitabilitas) tidak akan bermanfaat jika tidak ada permintaan akan produk. Membaca pasar secara akurat merupakan langkah sangat penting sebelum merilis produk secara komersial.
Analisis pemasaran bertujuan mengevaluasi respon lingkungan eksternal terhadap produk dengan menganalisa karakteristik-karakteristik konsumen dan lingkungan kompetisi. Melalui analisis ini akan dapat ditentukan permintaan produk, akan dapat dinilai lingkungan kompetisi atas produk-produk alternatif, dan akan dapat diestimasi pangsa pasar potensial yang dapat diambil. Selain itu informasi demikian membantu perusahaan untuk mendesain strategi perolehan bahan baku dan pemrosesan, serta membuat rencana pemasaran secara menyeluruh.
Aspek pasar adalah inti dari penyusunanan study kelayakan. Kendatipun secara teknis telah menunjukkan hasil yang  feasible untuk dilaksanakan, tapi tidak ada artinya apabila tidak dibarengi dengan adanya pemasaran dari produk yang dihasilkan. Oleh karenanya dalam pembicaraan aspek pasar secara baik dan realistis baik dimasa lalu maupun prospeknya dimasa yang akan datang, serta melihat mermacam-macam peluang dan hambatan yang mungkin akan dihadapi.
Dalam uraian aspek pasar sekurang-kurangya harus melingkupi peluang pasar, perkembangan pasar, penetapan pangsa pasar, dan langkah-langkah yang perlu dilakukan di samping kebijaksanaan yang diperlukan
Analisis aspek pasar bertujuan untuk menguji serta menilai sejauh mana pemasaran dari produk yang dihasilkan dapat mendukung  pengembangan usaha yang direncanakan. Faktor utama yang dinilai dalam aspek pasar, antara lain : (Ibrahim, 2003, 100)
a.       jumlah permintaan dimasa lalu dan masa kini serta kecendrungan permintaan dimasa yang akan datang.
b.      Berdasarkan pada angka proyeksi (perkiraan), berapa besar kemungkinan market space (market potensial) yang tersedia dimasa yang akan datang.
c.       Berapa besar market share yang direncanakan berdasarkan rencana produksi.
d.      Faktor-fakter apa saja yang mempengaruhi permintaan di masa yang akan datang.
e.       Strategi apa saja yang perlu dilakukan dalam meraih market share yang telah direncanakan.
Secara ringkas baik tidaknya aspek pasar dari produk yang dihasilkan dapat dilihat dari segi daya serap pasar, kondisi pasar, dan besarnya pesaing dimasa yang akan datang.
a.       Daya Serap Pasar
Daya serap pasar merupakan peluang pasar yang dapat dimanfaatkan dalam memasarkan hasil produksi dari usaha yang direncanakan. Sebuah gagasan usaha yang direncanakan, kendati telah feasible untuk dikembangkan jika dilihat dari aspek teknis, manajemen, keuangan dan lingkungan, tapi kalau produk yang dihasilkan tidak mempunyai pemasaran tidak ada artinya usaha itu dikembangkan. Demikian pula terhadap suatu produk yang telah mempunyai pasaran yang baik didaerah tertentu, belum tentu baik dikembangkan di daerah lainnya. 
1)  Dari Segi Permintaan
Permintaan baik secara total maupun terperinci menurut daerah, jenis konsumen, perusahaan besar pemakai, juga perlu diperkirakan tentang proyeksi permintaan tersebut. ( Husnan, 2000,17 )
Permintaan dari produk yang dihasilkan dapat diketahui dari daya serap pasar. Untuk menghitung daya serap pasar dari hasil produksi dapat dilakukan berdasarkan kunsumsi perkapita dan perhitungan atas dasar jumlah konsumsi nyata.   
a)  Permintaan Atas Dasar Konsumsi Per Kapita
Perhitungan yang dilakukan atasa dasar konsumsi per kapita perlu memperhatikan bentuk dan sifat usaha yang direncanakan . apabila usaha yang direncanakan bertaraf nasional, maka permintaannya dihitung berdasarkan permintaan bertaraf nasional dan sebaliknya jika gagasan usaha direncanakan bertaraf daerah, maka permintaan yang dihitung juga berdasarkan permintaan daerah. Hal ini perlu mendapat perhatian untuk mnghindari kesalahan-kesalahan dalam penentuan jumlah permintaan serta proyeksi-proyeksi yang dilakukan di masa yang akan datang.
b)  Permintaan Atas Dasar Konsumsi Nyata
Dalam beberapa jenis produk, mungkin bisa diketahui jumlah persedian awal dan persedian akhir terhadap suatu produk yang dihasilkan, bisa ditambah selisih dalam perkiraan dari konsumsi nyata. Namun demikian apabila sulit untuk mengetahui jumlah persedian awal dan persedian akhir sehingga dalam hal ini tidak perlu diperhitungkan, karena adanya kecendrungan bahwa persediaan awal suatu masa merupakan persedian akhir dari masa tersebut.
Konsumsi nyata yang diperhitungkan ini adalah jumlah permintaan dari produk tersebut. Oleh karena itu, dalam melakukan proyeksi terhadap jumlah permintaan dapat dilakukan dengan menggunakan regresi atau trend, maupun menggunakan laju pertumbuhan rata-rata pertahun dari serangkaian data dari waktu kewaktu, baik mengenai jumlah produksi setempat, jumlah barang masuk, dan jumlah barang keluar dari daerah tersebut. Apabila dalam hal ini mengalami kesulitan untuk menentukan permintaan dimasa yang akan dating, perkiraan permintaan dapat dilakukan dengan melakukan korelasi antara konsumsi suatu barang dengan penggunaan barang lainnya.
Berdasarkan hubungan kolerasi dan koefisien determinasi antara variable tersebut, maka lita dapat menafsir dan memperkirakan jumlah konsumsi nyata dari produk yang akan direncanakan dan berdasrkan dari hasil perkiraan tersebut akan ditentukan ada tidaknya peluang usaha yang mungkin dapat dimanfaatkan.
2)           Dari Segi Penawaran
 Penawaran baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, bagaimana perkembangannya dimasa lalu dan bagaimana perkiraan dimasa yang akan datang. Faktor-faktor yang mempengaharui penawaran ini, seperti jenis barang yang bisa menyaingi, perlindungan dari pemerintah, dan sebagainya, perlu pula diperhatikan.               ( Husnan, 2000,18 )
  Apabila konsumsi nyata terhadap produk telah diketahui, pengisian permintaan dan penawaran dapat terjadi, baik dari dalam maupun luar daerah tersebut.
Dengan mengetahui jumlah konsumsi nyata dan jumlah penawaran dari suatu produk, perbedaan antara konsumsi nyata dengan penawaran adalah peluang yang dapat dimanpaatkan oleh usaha baru. Apabila konsumsi nyata lebih kecil dari jumlah produk yang ditawarkan, berarti usaha tersebut tidak mempunyai peluang untuk didirikan.
3)  Perhitungan Market space dan Market Share 
Market space adalah peluang pasar (market potensial) yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan dan market space terjadi apabila permintaan lebih besar dari penawaran. Selisih yang terjadi ini merupakan ruang gerak bagi perusahaan untuk dapat masuk pasar. Sedeangkan marker share merupakan bagian yang dapat diambil oleh gagasan usaha (proyek) yang direncanakan. Dengan demikian, apabila market space tidak tersedia, tidak mungkin terdapat market share. Kesempatan untuk mendapatkan market share tergantung pada masing-masing perusahaan dalam melakukan persaingan diantara perusahaan dalam harga, kualitas, kuantitas, teknis produksi, penggunaan teknologi, dan lain sebagainya.
b.      Kondisi Pasar
Kondisi pasar adalah keadaan pasar yang mendasari proses dan kegiatan pemasaran dari kegiatan usaha yang direncanakan, seperti rantai pemasaran, sistem pembayaran dan biaya pemasaran, serta program pemasaran.
c.  Faktor Pesaing
Dalam mengisi peluang usaha yang ada, perlu diperhatikan faktor pesaingan dari perusahaan sejenis, terutama terhadap usaha yang telah ada dan kemungkinan tentang berdirinya usaha sejenis lainnya dimasa yang akan datang.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persaingan antara lain :  ( Soeharto, 2001,33 )
1)    Monopoli, setengah monopoli, dan persaingan bebas.
2) Identifikasi perusahaan pesaing, berapa besarnya, bagaimana kinerja pesaing, serta strateginya.
3)    Produk yang dihasilkan serta kwalitasnya.
4)    Kemungkinan adanya subsitusi produk.

Konsultasi Skripsi; Aspek Dala Studi Kelayakan Bisnis

Untuk melakukan studi kelayakan, terlebih dahulu harus ditentukan aspek-aspek apa saja yang akan dianalisa. Aspek-aspek tersebut terdiri dari: Aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan operasi, aspek ligkungan aspek legal dan ekonomi finansialnya. (Umar, 2003,11).
Dalam prakteknya, penilaian kelayakan usaha oleh pihak perencana (investor) lebih banyak didasarkan pada analisis finansial setelah analisis sistem informasi manajemen yang direncanakan dirasakan layak. Di sisi lain tim penilai kelayakan usaha (instansi terkait dan atau evaluator lain) relatif mengalami kesulitan untuk menilai kelayakan proyek tanpa adanya prosedur dan sistem penilaian yang relatif baku dan dapat dikuantifikasi. (Soetrisno, 1981)
Prosedur yang banyak dikembangkan adalah prosedur yang terdiri dari tiga kriteria terboboti, yakni kemampuan dipasarkan (40%), kelayakan teknis (30%), dan profitabilitas (30%). Jadi untuk menentukan potensi komersialisasi, maka harus dilakukan tiga tipe evaluasi yakni evaluasi pemasaran untuk menentukan potensi permintaan komersial; evaluasi kelayakan teknis untuk menentukan kinerja teknologis; dan evaluasi profitabilitas untuk menentukan keuntungan finansial dan ekonomis.

Konsultasi Skripsi; Tujuan dan Manfaat Studi Kelayakan Bisnis

Suatu investasi pada  umumnya memerlukan dana yang cukup besar dan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang sehingga perlu dilakukan studi kelayakan agar jangan  sampai setelah terlanjur melakukan investasi ternyata proyek tersebut tidak menguntungkan. Sifat suatu investasi biasanya (Sire:1991, 6):
a.         Melibatkan jumlah modal yang besar, yang bararti harus menanggung biaya modal (bunga) yang besar pula.
b.        Meliputi jangka  waktu yang lama, di mana makin lama jangka waktu investasi, berarti ketidak pastian dan resiko yang melingkupi suatu investasi semakin besar pula.
c.         Keterbatasan sumberdaya yang berarti alokasi sumber daya uuntuk suatu investasi akan menghilangkan kesempatan  untuk melaksanakan investasi yang lain.
Sedangkan manfaat dilakukannya studi kelayakan mencakup tiga aspek (Husnan:2000,4):
1.       Manfaat ekonomis, mempunyai arti apakah proyek tersebut cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan resiko proyek tersebut.
2.       Manfaat ekonomis bagi negara tempat proyek tersebut dilaksanakan (manfaat ekonomi nasional).
3.       Manfaat Sosial bagi masyarakat sekitar proyek tersebut.
Kegiatan investasi dapat melibatkan berbagai pihak. Setiap pihak  memerlukan hasil studi kelayakan, meskipun setiap pihak mempunyai kepentingan yang berbeda. Pihak-pihak yang memerlukan yaitu (Husnan:2000, hal 9-10):
1.      Investor
2.      Kredit/Bank
3.      Pemerintah

Konsultasi Skripsi; Pengertian Studi Kelayakan

Studi kelayakan adalah suatu penelitian tentang dapat tidaknya suatu investasi dilaksanakan secara menguntungkan (Kama: 2004,2), dalam pengertian yang lain bahwa studi kelayakan atau sering disebut sebagai Feasibility Studies merupakan suatu bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, menerima atau menolak dari  sauatu gagasan usaha atau proyek yang direncanakan (Ibra: 1997, 1).

Minggu, 28 September 2014

Metode Penelitian; Penelitian Kasus Kontrol

Penelitian kasus control merupakan salah satu bentuk rancangan penelitian analitik yang mengikuti proses perjalanan penyakit ke arah belakang berdasarkan urutan waktu. Oleh karena itu rancangan penelitian ini disebut dengan retrospekstif. Hal ini merupakan kebalikan dari penelitian kohor. Dalam hal ini yang diukur dibandingkana dalah pengalamn terpajan (exposure) oleh factor yang diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit dan bukan insidens seperti pada penelitian prospektif. Karena penelitian kasus control dilakukan dari akibat ke sebab maka penelitian diawali dengan kelompok penderita sebagai kasus dan kelompok bukan penderita sebagai control. Selanjytnya kedua kelompok ditelusuri ke belakang (retropekstif) berdasarkan urutan waktu untuk mencari perbedaan dalam pengalaman terpajan oleh factor yang diduga sebagai penyebab tumbulnya penyakit kemdian perbedaan pengalaman kedua kelompok dibandingkan untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan sebab akibat.

Ciri-ciri
1.      Penelitian kasus control merupakan penelitian observasional yang retropekstif yang berarti mengikuti perjalanan penyakit kea rah belakang berdasarkan urutan waktu atau dari akibat ke sebab
2.      Penelitian di awali dengan kelompok kasus yaitu penderita penyakit yang akan diteliti dan kelompok bukan penderita sebagai control
3.      Kelompok control digunakan untuk meperkuat ada atau tidaknya hubungan sebab akibat
4.      Pada penelitian kasus control terdapat hipotesis spesifik yangakan diuji secara statistic
5.      Kelompok control mempunyai resiko terpajan yang sama dengan kelompok kasus
6.      Pada penelitian kasus control yang dibandingkana dalah pengalaman terpajan oleh factor resiko antar kelompok kasus dengan kelompok control
7.      Pengukuran besarnya resiko relative hanya didasarkan atas perkiraan melalui perhitungan odds ratio
Manfaat
1.      Sangat efisien untuk penelitian penyakit yang sangat jarang terjadi
2.      Mertode penelitian kasus control sangat bermanfaat untuk mengetahui hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit baru yang sebelumnya belum pernah dijumpai
3.      Penelitian kasus control juga sangat bermanfaat bagi penelitian penyakit dengan fase laten yang panjang.
Keuntungan
1.      Metode penelitian kasus kontrol sangat sesuai untuk penelitian penyakit yang sangat jarang terjadi atau penyakit dengan fase laten yang panjang
2.      Pelaksanaan kasus kontrol relatif lebih cepat dibandingkan dengan penelitian kohor karena penelitian diawali dengan kelompok penderita tanpa harus menunggu insidens seperti pada penelitian kohor
3.      Biaya yangdibutuhkan untuk mengadakan penelitian kasus kontrol relative lebih kecil dibandingkan dengan penelitian kohor
4.      Perkiraan ebsarnya sampel yang dibutuhkan penelitian kasus kontrol relative lebih kecil dibandingkan dengan penelitian kohor
5.      Metode penelitian kasus kontrol tidak dipengaruhi oleh factor etis seperti pada penelitian eksperimental karena pada penelitian kasu kontrol, intervensi tidak dilakukan oleh peneliti
6.      Data yang ada dapat dimanfaatkan, terutama bila penelitian dilakukan dengan basis rumah sakit
7.      Dapat digunakan sebagai penelitian pendahuluan terhadap penyakit yang belum diketahui penyebabnya.
Kerugian
1.      Data tentang pengalaman terpajan oleh factor resiko diperoleh dari hasil wawancara dengan mengingat kejadian masa lalu yang lama sehingga dapat menimbulkan recall bias, sedangkan data yang berasal dari data rekan medis sering tidak lengkap
2.      Validasi terhadap informasi yang diperoleh sangat sulit bahkan tidak mungkin dilakukan
3.      Pengendalian terhadap factor perancu sulit dilakukan dengan lengkap
4.      Kadang-kadang sulituntuk mendapatkan kelompok kontrol yang sesuai dengan tujuan penelitian
5.      Penelitian kasus kontrol tidak dapat digunakan untuk mengukur insidens dan tidak sesuai untuk mengadakan evaluasi hasil pengobatan. 
(Budiarto, 2003) Jogja 

Metode Penelitian; Perancu (Confouding)

Perancu merupakan factor pengaruh variabel eksterna yang seluruhnyataya sebagian dapat mempengaruhi efek hubungan antara pajkana dan penyakit yang sesungguhnya
Ciri-ciri factor perancu
1.      Merupakan factor resiko terhadap timbulnya penyakit yang diteliti
2.      Mempunyai asosiasi non kausal dengan pajanan yang akan diteliti
Untuk mengendalikan factor perancu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut;
1.      Perhitungan secara terpisah
2.      Stratifikasi
Matching
(Budiarto, 2003) Yogya

Konsultasi Skripsi; Sistem Kontrol Pernapasan Spontan

Sistem kontrol pernapasan spontan terdiri dari 4 komponen yaitu: (1) pusat kontrol, (2) saraf penghubung, (3) pompa ventilasi dan otot pernapasan atas, (4) sensor kemoreseptor dan mekanoreseptor. Pusat kontrol terletak di batang otak, dan setelah mengolah informasi oleh sensor dan korteks serebral (yang menyampaikan gerakan sadar yaitu berbicara, menyanyi dan tertawa), mentransmisikan informasi ke ponpa ventilasi, menyebabkan otot respirasi berkontraksi dan menimbulkan tekanan (muscular pressure/Pmus). Pmus mencerminkan output intensitas neural dari pusat kontrol dan Pmus dilakukan untuk melawan sifat recoil elastis sistem respirasi (Pel) dan tekanan resistif (Pres) (MacIntyre et al, 2009).
Selain menimbulkan Pmus,  pusat kontrol juga mengatur frekwensi neural (fn), waktu inspirasi (TIN) dan waktu ekspirasi neural (TeN). Pmus menghasilkan tidal volume (VT) tiap pernapasan dan bila dikalikan dengan frekwensi napas akan menghasilkan ventilasi semenit (VE). Output pusat kontrol ke otot respirasi terkoordinasi dengan output ke saluran napas atas. Sensor ditransmisikan ke pusat kontrol melalui berbagai cara yaitu kemoreseptor yang terletak pada badan karotis dan batang otak, mekanoreseptor yang terletak di paru-paru, dinding dada dan jalan napas bagian atas. Kemoreseptor bekerja akibat perubahan pada pH, PaCO2 dan PaO2. Sedangkan yang mempengaruhi mekanoreseptor adalah perubahan pada inflasi paru, pressure, aliran udara paru, kongesti cairan dalam paru, iritasi jalan napas, perubahan panjangnya otot dan beban otot respirasi (MacIntire et al, 2009). 

Metode Penelitian; Syarat Penentuan Kasus Kontrol

1.      Proses urutan waktu
2.      Pembanding
3.      Konsiten
4.      Odds ratio
5.      Efek spesifik
6.      Penelitian serupa
(budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Jenis Penelitian Kasus Kontrol

1.      Penelitian eksploratif
Penelitian eksploratif dilakukan pada penyakit yang baru diketemukan dan penyebab maupun mekanisme terjadinya penyakit belim diketahui. Penelitian tersebut tidak membutuhkan hipotesis yang spesifik
2.      Penelitian analitik
Penelitian kasus kontrol yang bersifat analitik dapat dilakukan di rumah sakit (hospital based) atau di masyarakat (community based)

Metode Penelitian; Rancangan Penelitian Kasus Kontrol

Penelitian kasus control merupakan salah satu bentuk rancangan penelitian analitik yang mengikuti proses perjalanan penyakit ke arah belakang berdasarkan urutan waktu. Oleh karena itu rancangan penelitian ini disebut dengan retrospekstif. Hal ini merupakan kebalikan dari penelitian kohor. Dalam hal ini yang diukur dibandingkana dalah pengalamn terpajan (exposure) oleh factor yang diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit dan bukan insidens seperti pada penelitian prospektif. Karena penelitian kasus control dilakukan dari akibat ke sebab maka penelitian diawali dengan kelompok penderita sebagai kasus dan kelompok bukan penderita sebagai control. Selanjytnya kedua kelompok ditelusuri ke belakang (retropekstif) berdasarkan urutan waktu untuk mencari perbedaan dalam pengalaman terpajan oleh factor yang diduga sebagai penyebab tumbulnya penyakit kemdian perbedaan pengalaman kedua kelompok dibandingkan untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan sebab akibat.

Ciri-ciri
1.      Penelitian kasus control merupakan penelitian observasional yang retropekstif yang berarti mengikuti perjalanan penyakit kea rah belakang berdasarkan urutan waktu atau dari akibat ke sebab
2.      Penelitian di awali dengan kelompok kasus yaitu penderita penyakit yang akan diteliti dan kelompok bukan penderita sebagai control
3.      Kelompok control digunakan untuk meperkuat ada atau tidaknya hubungan sebab akibat
4.      Pada penelitian kasus control terdapat hipotesis spesifik yangakan diuji secara statistic
5.      Kelompok control mempunyai resiko terpajan yang sama dengan kelompok kasus
6.      Pada penelitian kasus control yang dibandingkana dalah pengalaman terpajan oleh factor resiko antar kelompok kasus dengan kelompok control
7.      Pengukuran besarnya resiko relative hanya didasarkan atas perkiraan melalui perhitungan odds ratio
Manfaat
1.      Sangat efisien untuk penelitian penyakit yang sangat jarang terjadi
2.      Mertode penelitian kasus control sangat bermanfaat untuk mengetahui hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit baru yang sebelumnya belum pernah dijumpai
3.      Penelitian kasus control juga sangat bermanfaat bagi penelitian penyakit dengan fase laten yang panjang.
Keuntungan
1.      Metode penelitian kasus kontrol sangat sesuai untuk penelitian penyakit yang sangat jarang terjadi atau penyakit dengan fase laten yang panjang
2.      Pelaksanaan kasus kontrol relatif lebih cepat dibandingkan dengan penelitian kohor karena penelitian diawali dengan kelompok penderita tanpa harus menunggu insidens seperti pada penelitian kohor
3.      Biaya yangdibutuhkan untuk mengadakan penelitian kasus kontrol relative lebih kecil dibandingkan dengan penelitian kohor
4.      Perkiraan ebsarnya sampel yang dibutuhkan penelitian kasus kontrol relative lebih kecil dibandingkan dengan penelitian kohor
5.      Metode penelitian kasus kontrol tidak dipengaruhi oleh factor etis seperti pada penelitian eksperimental karena pada penelitian kasu kontrol, intervensi tidak dilakukan oleh peneliti
6.      Data yang ada dapat dimanfaatkan, terutama bila penelitian dilakukan dengan basis rumah sakit
7.      Dapat digunakan sebagai penelitian pendahuluan terhadap penyakit yang belum diketahui penyebabnya.
Kerugian
1.      Data tentang pengalaman terpajan oleh factor resiko diperoleh dari hasil wawancara dengan mengingat kejadian masa lalu yang lama sehingga dapat menimbulkan recall bias, sedangkan data yang berasal dari data rekan medis sering tidak lengkap
2.      Validasi terhadap informasi yang diperoleh sangat sulit bahkan tidak mungkin dilakukan
3.      Pengendalian terhadap factor perancu sulit dilakukan dengan lengkap
4.      Kadang-kadang sulituntuk mendapatkan kelompok kontrol yang sesuai dengan tujuan penelitian
5.      Penelitian kasus kontrol tidak dapat digunakan untuk mengukur insidens dan tidak sesuai untuk mengadakan evaluasi hasil pengobatan.
(Budiarto, 2003)  

Metode Penelitian; Protokol Penelitian Kohor

Secara garis besar, protocol penelitian kohor terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut;
1.      Pertanyaan penelitian
2.      Tujuan penelitian
3.      Hipotesis penelitian
4.      Menentukan populasi studi dan kriteria sujek studi
5.      Menentukan kelompok kohor dan kelompok control
6.      Menentukan insidens
7.      Perkiraan besarnya sampel
8.      Mengadakan pengamatan dan pencatatn insidens
9.      Analisis data
(Budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan Dalam Penelitian Kohor

1.      Diagnosis
Diagnosis sangat penting untuk meyakinkan bahwa pada keadaan awal kelompok kohor bebas dari penyakit dan fenomena lain yang berkaitan dengan penyakit yang akan diteliti. secara umum, diagnosis keadaan wal ini tidak sulit tetapi dalam beberapa hal dapat menimbulkan kesulitan bila pajanan telah terjadi dalam waktu yang lama
2.      Kriteria subjek studi
Subjek studi adalah penderita yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti protocol penelitian. Kriteria inklusi dan kritesia eksklusi ini dibutuhkan untuk membatasi pemilihan subjek studi dan untuk mengetahui terhadap siapa keberhasilan atau kegagaglan suatu penelitian diberlakukan. Oleh karena itu, semua subjek studi harus diberi kritera yangjelas. Kriteria tersebut dibutuhkan untuk menentukan validitas interna (komparabilitas) atau mempertimbangkan validitas eksterna (ekstrapolasi).
3.      Antisipasi Prognosis
Antisipasi untuk mengantisipasi prognosis terhadap penyakit yang akan diteliti dibutuhkan pengetahuan tentang penyakit tersebut. Pengetahuan tentang penyakit yang akan diteliti dapat diperoleh dari hasil penelitian yang akan dilakukan atau dari sumber lain. Pada umumnya prognosis ditentukan oleh; beratnya penyakit, lamanya penyakit, umur, jenis kelamin, social ekonomi dan lain-lain.
4.      Periode dan Frekuensi Pengamatan
Periode pengamatan merupakan factor yang harus mendapatkan perhatian karena bila pengamatan dilakukan dalam jangka waktu yang terlalu lama maka kemungkinan insidens telah terjadi dan kita akan kehilangan insiden yangdicari atau telah terjadi perubahan, terutama pada penyakit kronis dan bila waktu pengamatan terlalu cepat maka insidens penyakit atau keadaan yang diteliti masih belum tampak hingga pengamatan akan sia-sia
(Budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Jenis Penelitian Kohor

Macam-Macam Penelitian Kohor
Berdasarkan tujuan yang hendak ingin dicapai maka dapat dibedakan menjadi;
1.      Penelitian dengan satu kohor bertujuan untuk mencari insidens suatu penyakit di masyarakat sebagai suatu sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana program pelayanan kesehatan atau untuk memberikan informasi kepada masyarakat atau mengadakan evaluasi penggunaan obat baru.
2.      Penelitian dengan dua kohor dimaksudkan untuk mengungkap hubungan sebab akibat antar du afaktor resiko yang diperkirakan sebagai penyebab dengan akibat yang ditimbulkan serta menghitung besarnya resiko yang harus ditanggung oleh orang yang terpajan oleh factor resiko dibandingkan dengan kelompok yang tidak terpajan (resiko relative=RR) dan mengetahui pula resiko yang dapat dikurangi dengan menghindarkan factor resiko (resiko atribut atau resiko absolute=RA)
Berdasarkan waktu pengumpulan subjek maka dapat dibagi menjadi;
1.      Current Cohort merupakan penelitian yang mengamati kelompok kohor  yang akan diamati dikumpulkan pada saat akan dilakukan penelitian dan diikuti perkembangannya.
Hystorical Cohort merupakan penelitian yang mengamati kelompok kohor yang akibat pajanannya telah terjadi sebelum penelitian dilakukan. Hal ini berarti pada keadaan awal, intervensi serta akibatnya telah terjadi namun prosesnya diikuti ke depan (prospektif) yaitu dari sebab ke akibat
(Budiarto, 2003) 

Sabtu, 27 September 2014

Metode Penelitian; PENELITIAN KOHOR

Penelitian kohor merupakan salah satu penelitian observasional yang mengikuti proses perjalanan penyakit ke raha depan berdasarkan urutan waktu. Penelitian kohor merupakan penelitian analitik yang dilakukan secara prospektif dan bersifat observasional yang bertujuan untuk mencari adanya hubungan sebab akibat dengan membandingkan insidens penyakakit pada kelompok stiudi yang terpajan oleh factor resiko dengan indisden penyakit pada kelompok yang tidak terpajan oleh factor resiko sebagai control. Hal ini berlawanan dengann penelitian kasus control yang mengikuti perjalanan penyakit ke arah belakang.
Ciri-Ciri
1.      Merupakan penelitian prospektif
2.      Bersifat observasional
3.      Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
4.      Disebut juga dengan studi insidens
5.      Intervensi idlakukan oleh alam atau yang bersangkutan
6.      Terdapat kelompok control
7.      Terdapat hipotesis spesifik
Manfaat
1.      Mengetahui pertumbuhan normal yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu atau yang disebut dengan ontogenik dan dalam hal ini yang bertindak sebagai intervensi adalah waktu
2.      Penelitian kohor bermanfaat untuk mengetahui perjalan penyakit alamiah (patogenetik) dimana intervensi dilakukan oleh orang bersangkutan secara sengaja
3.      Mempelajari perjalanan klinis suatu penyakit (patogresif) yaitu sembuh, menjadi semakin parah atau meninggal
4.      Manfaat lain penelitian kohor adalah menentukan ada atau tidak adanya hubungan sebab akibat antara terpajan oleh factor resiko dengan insiden penyakit yang ditimbulkan
Keuntungan
1.      Penelitian prospektif dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan factor resiko yang diperkirakan sebagai penyebab timbulnya suatu penyakit dengan akibatnya
2.      Dapat digunakan untuk menghitung rate insidens secara langsung
3.      Dapat digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu atau perjalanan penyakit alamiah
4.      Dapat digunakan untuk menghitung besarnya resiko kelompok terpajan dan kelompok tidak terpajan sehingga dapat dihitung resiko atribut dan resiko relative untuk population attributable risk (PAR) secara langsung.
5.      Dapat bersifat deskriptif
6.      Penelitian kohor dapat digunakan untuk mempelajari berbagai efek terhadap suatu pajanan hingga dapat diperoleh informasi yang mendalam
Kerugian
1.      Pada umumnya, penelitian prospektif membutuhkan waktu yang sangat lama\
2.      Membutuhkan biaya dan tenaga yang besar
3.      Lamanya pengamatan dan kemajuan pesat dalam bidang kedokteran mengakibatkan perubahan pada masalah yang dihadapi sehingga kemungkinan hasil penelitian menjadi tidak relevan
4.      Seringkali sulit untuk mempertahankan subjek studi agat tetap dalam penelitian, terutama bila pengamatan dilakukan berulang kali dan membutuhkan waktu yang lama karena penderita menjadi bosan
(Budiarto, 2003)