Sabtu, 27 September 2014

Metode Penelitian; RANCANGAN PENELITIAN CROSS SECTIONAL

Penelitian cross sectional merupakan penelitian yang di dasarkan pada pengamatan sesaat atau dalam sutau periode tertentu dan setiap subjek studi hanya dilakukan satu kali selama pengamatan. Pada umumnya, penelitian cross sectional disebut juga studi prevalensi dengan tujuan mengadakan deskripsi subjek studi seperti pada penelitian deskripstif murni atau mengadakan penelusuran seperti pada penelitian eksploratif
Tujuan
1.      Tujuan utama penelitian cross sectional adalah untuk mencari prevalensi tapi pada kondisi tertentu juga dapat digunakan untuk meperkirakan insidensi
2.      Memperkirakan adanya hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit dengan perubahan yang jelas
3.      Penelitian cross sectional dapat digunakan untuk menghitung besarnya resiko tiap kelompok, resiko relative dan resiko atribut
Keuntungan
1.      Penelitian cross sectional dapat digunakan untukmemperkirakan adanya hubungan sebab-akibat dan penghitungan resiko relative dengan cara cepat dan biaya yang relative kecil dibandingkan dengan prospektif
2.      Data yang terdapat di rumah sakit dapat digunakan
3.      Dapat digunakan untuk membandingkan besarnya resiko kelompok yang terpajan oleh factor yangdianggap penyebab terjadinya penyakit dengan kelompok yang tidak terpajan
Kerugian
1.      Penelitian tidak digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu
2.      Sulitv untuk memnetukan komparabilitas kedua kelompok yang dibandingkan
3.      Sulit untuk mengadakan ekstrapolasi pada populasi yang lebih besar
4.      Penelitian cross sectional tidak dirancang untuk penelitian analitik
5.      Penelitian cross sectional tidak dapat digunakan untuk menentukan hubungan sebab akibat pada perubahan biokimia dan fisiologi
Ciri-Ciri
1.      Pengumpulan data dilakukan pada satu periode tertentu dan pengamatan subjek studi hanya dilakukan satu kali selama satu penelitian
2.      Penghitungan perkiraan besarnya sampel tanpa memperhatikan kelompok yang terpajan atau tidak.
3.      Pengumpulan data diarahkan sesuai dengan criteria subjek studi
4.      Tidak terdapat kelompok control dan tidak terdapat hipotesis spesifik
5.      Hubungan sebab akibat hanya berupa perkiraan yang dapat digunakan sebagai hipotesis dalam penelitian analitik atau eksperimental

Protokol Penelitian  
1.      Merumuskan pertanyaan penelitian
2.      Menentukan tujuan penelitian
3.      Populasi studi
4.      Criteria subjek studi
5.      Cara pengambilan dan perkiraan besarnya sampel
6.      Menentukan variabel yang akan diukur
7.      Siapkan daftar pertanyaan atau pemeriksaan yang dibutuhkan
8.      Pengumpulan data
9.      Analisis data
(Budiarto, 2003)

Metode Penelitian; Pengambilan sampel berdasarkan pertimbngan (Purposive Sampling)

Dikatakan pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan bila cara pengambilan sampel dilakukan sedemikian rupa sehingga keterwakilannya ditentukan oleh peneliti berdasarkan pertimbangan orang-orang yang telah berpengalaman. Cara ini lebih baik dari dua pengambilan sampel berjatah dan sampel seadanya karena dilakukan berdasarkan pengalaman berbagai pihak. (Budiarto, 2003)

Metode Penelitian; Pengambilan Sampel Berjatah (Quota Sampling)


Cara pengambilan sampel dengan jatah hamper sama dengan pengambilan sampel seadanya, tetapi dengan control lebih baik untuk mengurangi terjadinya bias. Pelaksanaan pengambilan sampel dengan jatah dengan sangat tergantung pada peneliti tetapi dengan criteria dan jumlah yang telah ditentukan sebelumnya

Metode Penelitian; Pengambilan Sampel Seadanya (Accidental Sampling)

Pengambilan sampel yang dilakukan secara subjektif oleh peneliti ditinjau dari sudut kemudahan, tempat pengambilan sampel dan jumlah sampel yang akan diambil. Cara ini tidak lagi digunakan dalam bidang kedokteran tetapi masih digunakan dalam bidang social ekonomi dan politik untuk mengetahui opini masyarakat terhadap suatu hal.

Metode Penelitian; Probability Proportionate To Size (PPTS)

Pengambilan sampel dengan cara PPS ini merupakan variasi dari pengambilan sampel bertingkat dengan PSU besar yang dilakukan secara proporsional. Pengambilan sampel dengan cara PPS biasanya digunakan bersama dengan cara pengambilan sampel yang lain, seperti sampel acak sederhana, sampel sistematik dan sampel kelompok
Keuntungan
Pengambilan sampel dengan cara PPS sangat bermanfaat bila besarnya sangat bervariasi. Pengambilan sampel dengan cara PPS akan menghasilkan varian yang lebih kecil dibandingkan dengan pengambilan sampel acak sederhana serta mengurangi biaya pengumpulan data
Kerugian
Pengambilan sampel dengan PPS memiliki kewakilan terhadap populasi yang kurang baik bila besarnya PSU kurang bervariasi
Prosedur Pelaksanaan
Secara singkat, prosedur pengambilan sampel dengan PPS adalah sebagai berikut;
1.      Tentukan PSU yang akan digunakan sebagai penimbang
2.      Tentukan kelompok yang akan diambil sebagai sampel
3.      Tuliskan jumlah unit dasar pada tiap kelompok
4.      Tuliskan jumlah unit secara kumulatif
5.      Bagilah jumlah kumulatif dengan banyaknya kelompok yanga kan diambil untuk mendapatkan interval (i)
6.      Susunlah secara berurutan mulai darinol secara sistematik dengan interval (i) lalu tentukan sampel pertama antara nol dengan interval pertama dengan cara acak sederhana secara berurutan sampai jumlah kelompok yang diinginkan
7.      Sesuaikan angka yang diperoleh dengan kelompok yang terpilih
(Budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Pengambilan Sampel Acak Kelompok (Cluster Sampling)

Pengambilan sampek acak kelompok dilakukan bila kita mengadakan suatu penelitian dengan mengambil kelompok unit dasar sebagai sampel.
Keuntungan
Bila pengambilan sampel acak kelompok dilakukan dengan baika kan menghasilkan ketepatan yang lebih baik daripada pengambilan sampel acak sederhana
Kerugian
Cara ini mempunyai kelemahan yangsama dengan pengambilan sampel acak terstratifikasi tetapi mempunyai cirri yang berbeda
Kalau pada sampel acak dengan terstratifikasi, individu dalam kelompok harus sehomogen mungkin dengan antar kelompok yang berbeda sedangkan pada Cluster Sampling sebaliknya, yaitu individu dalam satu kelompok bersifat heterogen tetapi antar kelompok tidak banyak beda
Misalkan penelitian tentang status gizi murid SD maka unit sampel adalah sekolah dasar. Bila seluruh sampel murid SD diteliti status gizinya maka disebut One Stage Simple Cluster Sampling. Bila setelah diperoleh sampel sekolah dilakukan pengambilan sampel lagi maka disebut dengan Two Stage Simple Cluster Sampling

(Budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Pengambilan Sampel Acak Sistematik (Systematic Sampling)

Dikatakan pengambilan acak sistematik bila pengambilan sampel acak dilakukan secara berurutan dengan interval tertentu. Besarnya interval (i) dapat ditentukan dengan membagi populasi (N) dengan jumlah sampel yang diinginkan (n) atau i = N/n
Keuntungan
Pengambilan sampel acak sistematik mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut;
a.       Sampling frame tidak mutlak dibutuhkan karena daftar responden dapat dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel
b.      Cara ini relative mudah dan dapat dilakukan oleh petugas lapangan
c.       Cara ini sangat praktis bila popilasi dalam bentuk kartu
d.      Variasi akan leboh kecil dibandingkan dengan cara lain
e.       Membutuhkan waktu dan biaya yang relative lebih rendah dibandingkan dengan simple random sampling
Kerugian
Di samping keuntungan yang telah disebutkan di atas terdapat pula beberapa kerugian atau kelemahan sebagai berikut;
a.       Setiap unit sampel tidak mempunyai peluang yang sama untuk diambil sebagai sampel. Misalnya kita akan mengambil sampel acak sistematis dengan interval 10 maka untuk unit sampel pertama mempunyai peluang yang sama karena diambil dengan acak sederhana tetapi untuk unit sampel yang sama karena diambil dengan acak sederhana tetapai untuk unit sampel berikutnya tidak semua unit mempunyai peluang yang sama karena telah ditentukan berdasarkan interval
b.      Bila terdapat suatu kecenderungan tertentu maka cara pengambilan sampel acak sistematik menjadi kurang sesuai. Misalnya, setiap interval jatuhpada rumah sudut maka untuk rumah sudut terjadi kewakilan yang berlebih sedangkan untuk rumah yang lain kurang diwakili

(Budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Pengambilan Sampel Acak Bertahap

 Cara ini merupakan salah satu model pengambilan sampel secara acak yang pelaksanaannya dilakukan dengan membagi populasi menjadi beberapa fraksi dan kemudian diambil sampelnya. Sampel fraksi yang dihasilkan dibagi lagi menjadi fraksi-fraksi yang lebih kecil dan kemudian diambil sampelnya. Pembagian menjadi fraksi ini dilakukan terus sampai pada unit sampel yang diinginkan. Unit sampel pertama disebut Primary Sampling Unit (PSU). PUS dapat berupa PSU besar atau PSU kecil. Pengambilan sampel acak bertingkat ini bisanya digunakan bila kita ingin mengambil sampel dengan jumlah yang tidak banyak pada populasi yang besar.
Keuntungan
 Pengambilan sampel acak bertahap dengan PSU besar akan diperoleh keuntungan sebagai berikut;
1.      Varian relative kecil untuk biaya setiap unit
2.      Control terhadap kesalahan tidak sampling menjadi lebih baik
3.      Penelitian ulang membutuhkan biaya yang relatif kecil
4.      Control terhadap liputan penelitian lebih mudah dilakukan
Pengambulan sampel dengan PSU kecil mempunyai ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan PSU besar karena populasi dibagi menjadi fraksi-fraksi kecil yang banyak jumlahnya sehingga pengambilan sampel dapat dilakukan merata pada seluruh populasi
Kerugian
Pada PSU besar, penggambaran terhadap pouplasi kurang baik sedangkan dengan PSU kecil hanya dapat dilakukan bila individu dalam populasi tidak tersebar dan transportasi mudah.
(Budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Pengambilan Sampel Acak Terstratifikasi (Stratified Random Sampling)

Bila pengambilan sampel dilakukan dengan membagi populasi menjadi strata dimana setiap strata adalah homogen, sedangkan antar strata terdapat sifat yang berbeda, kemudian dilakukan pengambilan sampel pada setiap strata. Cara pengambilan sampel demikian disebut pengambilan sampel acak terstratifikasi. Bila pengambilan sampel pada setiap strata dilakukan dengan simple random sampling dan dengan proporsi yang sama disebut Proportionate Stratified Simple Random Sampling. Bila pengambilan sampel pada setiap strata tidak dilakukan secara proporsional disebut dengen Unproportionate Stratified Simple Random Sampling.
Keuntungan
Keuntungan cara pengampilan sampel acak dengan stratifikasi ada;ah cara ini memiliki ketepatan yang tinggi dengan simpangan baku yang lebih kecil dibandingkan dengan pengambilan sampel acak sederhana terutama jika pengambilan sampel dilakukan secara proporsional
Kerugian
Cara ini mempunyai kelemahan yaitu;
a.       Kita harus mengetahui kondisi populasi (yang sering yidak diketahui) agar dapat dilakukan stratifikasi dengan baik
b.      Sulit untuk membuat kelompok yang homogen
Ciri-ciri
Pengambilan sampel dengan stratifikasi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut;
a.       Deviasi standar lebih kecil dibandingkan dengan pengambilan sampel acak sederhana. Hal ini dapat terjadi bila pengelompokan dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu kelompok mempunyai perbedaan yang sekecil mungkin, sedangkan perbedaan antara kelompok yang sebesar mungkin sedangkan perbedaan antar kelompok yang sebesar mungkin dan pengambilan sampel dilakukan secara proporsional
b.      Pengambilan sampel acak dengan stratifikasi akan lebih efektif bila dalam distribusi popilasi terdapat nilai ekstrem yangdapat dikelompokkan tersendiri
c.       Setiap unit mempunyai peluang yang sama untuk diambil sebagai sampel sehingga perkiraan yang dihasilkan tidak bias
(Budiarto, 2003) 

Metode Penelitian; Pengambilan Sampel Acak Sederhana (Simpel Random Sampling)

Pengampilan sampel acak sederhana adalah pengambilan sampel sedemikian rupa sehingga setiap unit dasar (individu) mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel
Keuntungan
 pengampilan sampel acak sederhana mempenyai beberapa keuntungan, antara lain: (1) ketepatan yang tinggi dan setiap unit sampel mempunyai probabilitas yang sama untuk diambil sebagai sampel dan (2) sampling error dapat ditentukan secara kuantitatif
Kerugian
 Bila tidak terdapat daftar unis dasar (sampling frame) dan populasi yang tersebar atau populasi yang luas dengan sarana jalan yang tidak menunjang maka pengambilan sampel acak sederhana sulit dilaksanakan atau membutuhkan tenaga, waktu dan biaya yang sangat besar.
Teknik pelaksanaan
Pelaksanaan pengambilan sampel acak sederhana dapat dilakukan dengan cara tergantung pada besarnya populasi. Pada pengambilan sampel acak sederhana dengan populasi kecil dapat dilakukan secara lotre, yaitu dengan cara (1) dibuat daftar semua unit sampel ditulis pada gulungan kertas atau kepingan dengan bentuk dan ukuran serta warna yang sama kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan diaduk sampai rata (3) gulungan kertas atau kepingan diambil sesuai dengan jumlah sampel yang diinginkan kemudian dicocokan dengan nomor urut daftar unit sampel.
Pengambilan sampel acak sederhana dengan populasi besar dilakukan menggunakan tabel bilangan random sampling dengan cara sebagai berikut;
a.      Tentukan besarnya populasi studi
b.     Buat daftar unit sampling (sampling frame)
c.      Semua sampling unit diberi nomor urut agar mudah dalam mencocokkan
d.   Pengambilan sampe pertama, tentukan sembarang angka yang terdapat pada tabel bilangan random kemudian ambil kolom sebelahnya yangs esuai dengan banyaknya digit populasi, misalnya besarnya populasi 800 diambil tiga kolom lalu urutkan ke bawah sampai jumlah sampel yang diinginkan.
e.       Bila diperoleh angka yang lebih besar dari populasi maka angka tersebut tidak digunakan. Demikian pula bila memperoleh dua angka yang sama maka satu angka tidak digunakan

(Budiarto, 2003) 

Jumat, 26 September 2014

Judul Kedokteran; Upaya Pengobatan Diabetes

Tujuan pengobatan penderita diabetes mellitus adalah untuk mengurangi gejala, menurunkan berat badan bagi yang kegemukan dan mencegah terjadinya komplikasi.
a)      Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari prenatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini :
1.      Memberikan semua unsure makanan esensial (misalnya vitamin, mineral)
2.      Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
3.      Memenuhi kebutuhan energi
4.      Mencegah fluktasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis.
5.      Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.
Penderita diabetes mellitus sangat dianjurkan untuk menjalankan diet sesuai yang dianjurkan, yang mendapat pengobatan anti diuretic atau insulin, harus mentaati diet terus menerus baik dalam jumlah kalori, komposisi, dan waktu makan harus diatur.
Diet diabetes merupakan langkah kedisiplinan bagi penderitanya untuk mengontrol diabetes dengan baik. Diet diabetes yang ideal mencakup karbohidrat 60%, lemak harus tidak lebih dari 30%, serta protein sekitar 15%.
b)      Obat-obatan
Pengobatan diabetes dilakukan dengan cara obat oral dan melalui. Obat oral biasanya diberikan oleh dokter sesuai dengan dosis yang telah di tentukan.
c)      Terapi insulin
Suntikan insulin untuk pengobatan diabetes dinamakan terapi insulin. Tujuan terapi ini terutama untuk mempertahankan gluukosa darah dalam kadar yang normal atau mendekati normal dan menghambat kemungkinan timbulnya komplikasi kroni diabetes. Penyuntikkan insulin ini bias dilakukan sendiri oleh pasien atau dengan bantuan orang lain. Tempat penyuntikkannya bisa dilakukan di lengan, perut atau paha. Bila penyuntikkan dilakukan oleh orang lain, penyuntikkan dilakukan di lengan. Sedangkan penyuntikkan dilakukan diri  sendiri, lakukan di perut atau dipaha. Jarak suntikan dengan suntikan berikutnya haruslah 2 cm. sedangkan pada penyuntikkan di perut harus berjarak sekitar 5 cm dari pusar.
d)     Olahraga
Dengan olahraga teratur, sensitivitas sel terhadap insulin menjadi lebih baik, sehingga insulin yang ada walaupun relatif kurang, dapat dipakai dengan lebih efektif. Lakukan olahraga 1-2 jam sesudah makan terutama pagi hari selama ½ - 1 jam perhari minimal 3 kali/minggu.
Dengan demikian dapat disimpulkan Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis, yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) di dalam darah yang tinggi melebihi kadar gula yang normal. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian tentang Diabetes Mellitus menggunakan pendapat dari Notoatmodjo (2007). 

Judul Kedokteran; Komplikasi Diabetes Mellitus

Penyakit Diabetes Mellitus memiliki komplikasi yang dapat muncul secara akut dan secara kronik, yaitu timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengidap Diabetes Mellitus (Askandar, 2002). Adapun komplikasi Diabetes mellitus menurut Askandar (2002) yaitu sebagai berikut :
a.       Komplikasi Akut Diabetes Mellitus
Dua komplikasi akut Diabetes Mellitus yang paling sering adalah reaksi hipoglikemia dan koma diabetik, yaitu :
1)      Reaksi Hipoglikemia
Reaksi hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat tubuh kekurangan glukosa, dengan tanda-tanda : rasa lapar, gemetar, keringat dingin, pusing, dan sebagainya. Dalam keadaan hipoglikemia, penderita harus segera diberi roti atau pisang. Apabila tidak tertolong, berilah minuman manis dari gula, satu atau dua gelas. Jika keadaan ini tidak segera diobati, penderita tidak akan sadarkan diri, karena koma ini disebabkan oleh kurangnya glukosa dalam darah, koma tersebut disebut “Koma Hipoglikemia” (Askandar, 2002).
2)      Koma Diabetik
Berlawanan dengan koma hipoglikemik, koma diabetik ini timbul karena kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi dan biasanya lebih dari 600 mg/dl. Gejala koma diabetik yang sering timbul adakah nafsu makan menurun (biasanya pasien Diabetes Mellitus mempunyai nafsu makan yang besar), haus, minum banyak, kencing banyak, yang kemudian disusul dengan rasa mual, muntah, nafas pasien menjadi cepat dan dalam, serta berbau aseton, sering disertai panas badan karena biasanya ada infeksi, serta pasien koma diabetik harus segera dibawa ke Rumah Sakit (Askandar, 2002).
b.      Komplikasi kronis Diabetes Mellitus
Pada pasien yang lengah komplikasi Diabetes Mellitus dapat menyerang seluruh alat tubuh, mulai dari rambut sampai ujung kaki termasuk semua alat tubuh di dalamnya. Sebaliknya, komplikasi tersebut tidak akan muncul jika perawatan Diabetes Mellitus dilaksanakan dengan baik, tertib dan teratur serta pasien koma diabetik harus segera dibawa Rumah Sakit (Askandar, 2002).
Komplikasi kronik Diabetes Mellitus disebabkan oleh perubahan dalam dinding pembuluh darah, sehingga terjadi atherosclerosis yang khas yaitu Mikroangiopati. Mikroangiopati ini mengenai pembuluh darah di seluruh tubuh yang terutama menyebabkan retinopati, glamerulosklerosis, neoropati, dan dapat pula timbul infeksi kronik yaitu tuberkolosis yang secara umum terjadi komplikasi tersebut yaitu kardiovaskuler (Infark miokaid, Insufisiensi koroner), mata (Reinopati diabetika, katarak), saraf (Neuropati diabetika), paru-paru (TBC), ginjal (Pielonefritis, glumerulosklerosis), kulit (gangrene, furunkel, karbunkel, ulkus), hati (sirosis hepatitis) (PERKENI, 2002).
"

Judul Kedokteran; Gejala Diabetes

Diabetes Mellitus memiliki gejala dan tanda penyakit itu sendiri. Gejala dan tanda-tanda penyakit Diabetes Mellitus dapat digolongkan menjadi gejala akut dan kronik (Askandar, 2002). Adapun gejalan Diabetes Mellitus sebagai Berikut :
a)      Gejala akut Penyakit Diabetes Mellitus
Gejala penyakit Diabetes Mellitus antara penderita dengan yang lain tidaklah selalu sama. Gejala yang umumnya timbul dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya variasi dengan gejala yang lain. Bahkan ada pasien Diabetes Mellitus yang tidak menunjukkan gejala apapun sampai pada saat tertentu banyak makanan (polifagia), banyak kencing (Polyuria), banyak minum (Poliydipsi). Penderita akan mengalami peningkatan berat badan yang cenderung naik karena pada saat ini jumlah insulin masih mencukupi, bila keadaan tersebut diatas tidak segera diobati, maka akan timbul gejala yang disebabkan oleh kemunduran kerja insulin dan tidak lagi Polyfagia, Polydipsia, Polyuria (3P) lagi melainkan hanya 2P saja yaitu nafsu makan mulai berkurang dan kadang-kadang disusul dengan mual, banyak minum, banyak kencing, mudah dicapai atau lelah, berat badan turun dengan cepat (5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu) (Askandar, 2002).
b)      Gejala kronik Penyakit Diabetes Mellitus
Kadang-kadang pasien Diabetes Mellitus tidak menunjukkan gejala akut (mendadak), tetapi penderita tersebut baru menunjukkan gejala sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit Diabetes Mellitus. Gejala ini disebut gejala kronik atau menahun. Gejala kronik yang sering timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas, rasa tebal dikulit, kram, mudah capai, mata kabur, gatal disekitar kemaluan, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seks menurun atau impoten, para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg (Askandar, 2002).
Selain itu, ada pula sumber lain menyebutkan, gejala diabetes mellitus tergantung pada tipe diabetes yang dideritanya, yaitu :
a)      Penderita Diabetes Mellitus tipe I
Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat kedalam suatu keadaan yang disebut ketoasidosis diabetikum. Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan kencing yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernapasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma. Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stress akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.
b)      Penderita Diabetes Mellitus tipe II
Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbulah gejala yang berupa sering kencing dan sering merasa haus. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1000 mg/dl, biasanya terjadi akibat stress, misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing kejang.
(http://medicastore.com , diakses 13 Maret 2011)\

Judul Psikologi; Aspek Pengetahuan

Menurut Salam (1995), ada dua aspek pengetahuan, yaitu :
a)      Pengertian
Suatu hal yang diketahui oleh individu dan hal tersebut tidak selalu mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari objek yang bersangkutan.
b)      Pemahaman
Suatu hal yang diketahui oleh individu dan hal tersebut mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari objek yang bersangkutan walaupun tanpa melihat objek. Menurut Bloom (Azwar, 2005), dijelaskan bahwa pengetahuan atau knowledge terdiri atas beberapa konsep pokok, antara lain:
i)        Pengetahuan Khusus (Knowledge of Specifics)
Kawasan ini mengukur tingkat pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang pokok. Knowledge ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu knowledge of terms (pengetahuan tentang syarat suatu hal) dan knowledge of specific facts (pengetahuan yang berkaitan dengan keadaan atau fakta-fakta yang berkaitan dengan hal-hal tertentu).
ii)      Pengetahuan tentang cara dan sarana secara khusus (Knowledge of Ways and Means of Dealing with Specifics)
Kawasan ini mengukur tentang pengetahuan yang berhubungan dengan cara dan alat yang menyangkut pencapaian hal-hal yang pokok dan mendasar. Knowledge ini terbagi lagi menjadi empat, yaitu knowledge of conventions (pengetahuan tentang kesesuaian suatu hal), knowledge of trends and sequences (pengetahuan tentang kecenderungan terhadap suatu hal), knowledge of classifications and categories (pengetahuan tentang pengelompokkan dan kategori suatu hal), knowledge of criteria (pengetahuan tentang kriteria suatu hal), knowledge of methodology (pengetahuan yang berkaitan dengan metode atau cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu).
iii)       Pengetahuan secara umum dan abstraksi di lapangan (Knowledge of the Universals and Abstraction in a Field)
Pengetahuan yang berkaitan dengan unsur-unsur suatu hal serta pemisahannya menjadi bagian-bagian yang lebih spesifik. Knowledge ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu knowledge of principles and generalizations (pengetahuan tentang hal-hal yang mendasar dan tinjauannya secara umum) dan knowledge of theories and structures (pengetahuan tentang teori dan struktur yang mendasari suatu hal).


Judul Psikologi; Domain Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Menurut Notoatmodjo (2007),  Pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu :
1)      Tahu (know)
Merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. “tahu” diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalh mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, contohnya menyebutkan makanan apa saja yang harus dihindari oleh penderita Diabetes Mellitus.
2)      Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek yang dipelajari, contohnya dapat menjelaskan mengapa harus meninggalkan makanan yang mengandung karbohidrat.
3)      Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau pengguna hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.

4)      Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5)      Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang ada.
6)      Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada.


Judul Psikologi; Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan dairtikan sebagai sesuatu yang diketahui atau yang tidak diketahui berkenaan dengan sesuatu hal (Poerwadarminta, 1983). Menurut Van Peursen (Adiwitanti, 2006), tingkah laku manusia digerakkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang dimiliki di dalam diri manusia itu sendiri. Jadi dengan kata lain, pengetahuan dapat memberikan informasi atau fakta yang benar mengenai perilaku seseorang. Sedangkan menurut Aristoteles (Adiwitanti, 2006), salah satu cara manusia bertindak adalah dengan mengenal dan mengetahui. Jadi, seseorang dalam bertindak sebaiknya harus memiliki pengetahuan yang cukup, sehingga dapat mempertimbangkan segala sesuatunya dan mengambil keputusan yang tepat. Hal ini didukung oleh Piaget yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia pada dasarnya aktif dan pengetahuan merupakan suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan atau tindakan seseorang. Sehingga dapat dikatakan bahwa mengetahui sesuatu berarti bertindak atas sesuatu itu.
Sesuai yang dikatakan Notoatmodjo (2003), pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan domain diatas. Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain teori Lawrence Green (Notoatmodjo, 2007) mencoba menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan.