Jumat, 26 September 2014

Konsultasi Skripsi; Jenis Pertemuan Dalam Pembelajaran Andragogi

Jenis-jenis pertemuan yang umum dilakukan dalam pendidikan orang dewasa adalah sebagai berikut (Suprijanto, 2008)
  1. Institusi (institution)
Institusi adalah terjemahan dari institution. Mereka yang ikut dalam insititusi adalah orang yang tertarik dengan bidang khusus. Dalam institusi, materi baru diberikan untuk menambah pengetahuan yang telah dimiliki peserta. Salah satu institusi yang paling umum di Amerika Serikat adalah institusi guru yang diadakan oleh Departemen Pendidikan dengan tujuan untuk memberikan tambahan informasi tentang fase pembelajaran. Kelas institusi ini merupakan serangkaian pertemuan satu hari atau beberapa hari.
Dalam suatu insititusi diharapkan akan berlangsung pemberian informasi dan instruksi serta identifikasi masalah dan pemecahannya. Institusi adalah salah satu bentuk pendidikan orang dewasa yang paling sering digunakan. Dalam institusi, sering dilakukan  upaya untuk mengembangkan informalitas, kesempatan untuk berpartisipasi dan mengembangkan diri. Banyak teknik yang digunakan dalam institusi ini seperti sesi buzz, permainan peran, diskusi terbuka, penyajian formal dan lain-lain.
Suatu institusi memerlukan pengorganisasian dan tindak lanjut supervisi yang baik dengan dipimpin oleh orang yang ahli dalam melaksanakan program dan mendelegasikan tanggung jawab sehingga mampu menggunakan berbagai macam teknik kelompok untuk mendorong partisipasi individu. Suatu institusi harus ada perencanaan, panitia pelaksanan dan evaluasi akhir.
Jika seseorang merencanakan suatu institusi perlu diperhatikan bahwa pengaturan institusi harus sesuai, jadwal waktu yang logis dan harus menyenangkan semua yang terlibat. Selain itu, harus ada sesi pendahuluan untuk menyakinkan kesiapan peserta dan suasana yang kondusif. Salah satu pola institusi adalah ketua membuka pelatihan dengan sambutan pengarahan atau mengundang orang lain untuk membukanya. Sambutan pengarahan sangat penting dalam member batasan isu, mengatur panel dan waktu, memberi pikiran agar peserta lebih cepat mencapai pemecahan masalah yang dihadapi.
Setelah sambutan pembukaan biasanya kelompok dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dipimpin seorang pimpinan kelompok. Diharapkan kelompok-kelompok kecil tersebut menghasilkan kesepakatan tindak lanjut setelah pulang.
Sering setelah selang waktu tertentu, kelompok kecil berkumpul kembali untuk mendengarkan sambutan lanjutan atau kesimpulan ringkasan kemajuan industri. Jika institusi dilaksanakan setengah hari, acara ke dua dilaksanakan pada acara penutupan sebelum selesai.
Keterbatsan institusii yakni tujuan akhirnya sering tidak tercapai. Bahkan walaupun peserta mungkin mempunyai dedikasi pribadi yang tinggi untuk meningkatkan tindak lanjut setelah pulang namun tidaklah selalu dilaksanakan semuanya. Dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengorganisasikan suatu institusi dan melihat perkembangannya, ada beberapa perencana uang tidak mau menyisihkan waktunya untuk keperluan itu. Hal ini harus menjadi tantangan bagi tim kerja untuk menyusun setiap fase institusi dengan baik. Tidak hanya harus ada tim kerja tetapi juga harus ada keahlian kepemimpinan.
  1. Konvensi
Konvensi seperti institusi, adalah kumpulan dari peserta. Budaya adalah peserta datang dari kelompok local yang merupakan organisasi orang tua baik dari tingkat kabupaten, propinsi hingga tingkat nasional. Maksud mendasarnya adalah untuk mendiskusikan dan memikirkan ide-ide yang mungkin dapat memperkuat organisasi orang tua murid (Morgan et al, 1976). Sering peserta datang bersama-sama untuk menetapkan kebijakan, menyetujui calon ketua dan merencanakan strategi dan promosi. Memang benar ada konvensi dari dua partai politik dalam rangka mempersiapkan pemilihan umum. Sejak konvensi bermaksud untuk mempromosikan dan memperkuat organisasi  orang tua murid, sering banyak pembicara dihadirkan guna memberikan inspirasi. Seperti dalam institusi, dalam konvensi ada dua arahan pokok atau sesi pengarah yang dilengkapi dengan sesi kelompok besar dan kelompok kecil.
Salah satu manfaat utama konvensi adalah meberikan peserta secra individual kesempatan melihat organisasi sebagai sutau badan penting dimana ia mengidentifikasikan dirinya. Jika konvensi dilaksanakan dengan baik, loyalitas peserta akan termotivasi, egonya akan berkurang dan dedikasinya akan menguat. Ia kembali ke rumah dengan perasaan bangga menjadi bagian dari suatu gerakan. Keberhasilan pelaksanaan konvensi tergantung pada pengembangan jiwa korp dan moral kelompok. Banyak aktivitas yang dilengkapi dengan moto, pameran klise, pidato pengarahan dan lain sebagainya.
Kelemahan konvensi adalah jika pelaksanaan kurang baik maka tidak dapat memberikan motivasi kepada peserta. Ada kemungkinan manipulasi di belakang layar dan aksi mob akan mengganggu jalannya acara secara normal. Kadang-kadang peserta merasa dirinya kurang terlibat karena hal-hal yang  kurang dimngerti. Kadang-kadang ia kembali ke rumah dibingungkan dengan besarnya program dan politik praktis. Perencana konvensi mempunyai tugas besar, terutama bila konvensi merupakan acara propinsi atau nasional. Makin besar ruang lingkup konvensi menyebabkan masing-masing peserta saling tidak mengenal.
  1. Konferensi
Konferensi adalah pertemuan dalam kelompok besar maupun kelompok kecil. Jumlah peserta  dalam konferensi mungkin hanya dua orang, atau sampai lima puluh orang atau lebih. Biasanya jumlah peserta konferensi yang lain adalah diikuti dengan kata sebutan yang menunjukkan tema konferensi. Sebagai contoh, konferensi supervisor, konferensi pendidikan agama, konferensi tanaman dan lain-lain (Morgan et.al 1976). Pada umumnya peserta berperansebagai kelompok khusu yang mengadakan konsultasi bersama terhadap masalah yang memerlukan pemikiran sangat serius dalam bentuk pertemuan formal. Peserta mempunyai pengalaman di bidang pekerjaannya (Kang dan Song, 1984). Acara konferensi perlu disusun dengan baik. Penyusun pengarahan pokok tergantung  pada keinginan pribadi. Pada umumnya, mereka tidak datang sebagai utusan delegasi yang ditunjuk seperti pada konvensi.
Pertemuan itu mungkin konferensi kerja atau konferensi pendidikan. Pola konferensi kerja biasanya bersifat teknis dan sangat terbatas jumlah pesertanya dan mempunyai tema yang direncanakan untuk mengembangkan sutau ide.
Teknik diskusi yang biasa digunakan, seperti pertemuan meja bundar, diskusi yang diikuti dengan acara makan siang dan/atau bankuet, oenl dan lain-lain. Seperti pada konvensi dan institusi pada konferensi juga terdapat pembuatan daftar masalah, termasuk iuran (jika ada), penjualan karcis akan siang atau bankuet, bahan informasi dan lain-lain yang diatur oleh panitia.
Umpan balik, baik dari kelompok diskusi dalam konferensi maupun dari peserta setelah pulang dari rumah, lebih mudah diperoleh dalam institusi dan konferensi daripada dalam konvensi. Keterbatasan konferenis adalah ketidakpastian kehadiran peserta. Keterbatasan lain adalah sulitnya mengevaluasi apa yang telah dicapai dalam konferensi dan apa yang dikerjakan sebagai tindak lanjut.
  1. Lokakarya (workshop)
Seperti yang tersirat, lokakarya berarti kerja. Lokakarya adalah pertemuan orang yang bekerja sama dengan kelompok kecil, biasanya dibatasi pada masalah yang berasal dari mereka sendiri. Peran peserta diharapkan untuk menghasilkan produk tertentu (Morgan et al, 1976 dan Kang dan Song, 1984). Susunan acara lokakarya meliputi identifikasi masalah, pencarian dan usaha pemecahan masalah, pencarian dan usaha pemecahan masalah dengan menggunakan referensi dan materi latar belakang yang cukup tersedia. Pemandu (narasumber) yang mampu biasanya hadir menceritakan pengalamannya dan latihan yang pernah diikutnya.
Beberapa jenis diskusi kelompok dapat diterapkan dalam lokakarya. Oleh karena itu, informalitas diperlukan dalam mendorong partisipasi peserta. Jumlah peserta terbatas, dalam banyak hal, mereka dipanggil ke lokakarya dengan undangan khusus. Dikarenakan kelompok kecil, maka studi yang intensif dimungkinkan. Pengalaman yang terencana dengan baik dan lokakarya yang terkendali banyak diterapkan ke peserta. Ia dibawa ke serangkaian informalitas, dorongan untuk berpartisipasi, pengenalan sumber-sumber yang bermanfaat, penjelasan metode identifikasi dan pemecahan masalah serta pengalaman tertentu tentang cara penilaian prosedur.
Lamanya lokarya tergantung pada besarnya tugas yang harus diselesaikan. Jangka waktu bervariasi antara tiga hari sampai tiga minggu. Jangka waktu bervariasi antara tiga hari sampai tiga minggu. Jika orang yang disertakan sebagai nara sumber banyak maka dipilih salah satu orang yang bertindak sebagai coordinator, untuk merencakan dan melaksanakan hal yang rinci dan memperlancar jalannya program.
Dalam lokakarya, orang yang diundang terbatas. Efektivitas program lokakakrya akan terbatas, kecuali jika peserta dapat terus hadir mulai dari lokakarya dibuka sampai selesai. Lokakarya memerlukan perencanaan sedemikian rupa sehingga peserta tidak hanya menerima begitu saja apa yang diputuskan tanpa banyak berpikir dan menjadi orang luar tetapi peserta dapat terlibat secara penuh dan dapat mengembangkan diri
  1. Seminar
Seminar secara umum disebut sebagai lembaga belajar. Istilah yang sangat biasa digunakan dalam kampus. Jumlah peserta biasanya sangat sedikit, mungkin tidak lebih dari lima puluh orang. Maksud seminar adalah untuk mempelajari subjek di bawah seorang berhubungan erat dengan riset (Morgan, Barton et al 1976; Kang dan Song, 1984). Mereka yang berperan serta mempunyai latar belakang latihan dan pengalaman dalam bidang yang diseminarkan. Untuk kebanyakan orang, seminar berhubungan dengan materi yang keseluruhannya di luar kemampuannya untuk memahami karena terbatasnya latar belakang bidang yang dimilikinya. Diskusi terbuka dilakukan setelah penyajian formal. Jika minat peserta tinggi maka partisipasi setiap peserta harus diatur dengan sebaik-baiknya.
Jenis pertemuan ini akna membawa anggita untuk dapat belajar di bawah pimpinan yang mampu dan siap membantu setiap anggota mengerti masalah riset dan mendekati orang lain. Salah satu pembatas dalam jenis pertemuan ini adalah pendeknya waktu (biasanya satu atau dua jam) untuk mengembangkan suatu idea atau konsep. Seminar tidak dapat digunakan secara universal karena beragamnya latar belakang orang
  1. Kursus Kilat
Kursus kilat merupakan institusi yang sangat intensif selama satu hari atau lebih tentang beberapa subjek khusus. Institusi ini lebih sederhana dan kurang kosentrasi jika dibandingkan dengan pelajaran yang diambil di universitas. Penyajian formal sering diterapkan dalam kursus kilat ini. Penyajian mimbar formal sering diterapkan dalam kursus kilat ini. Kursus kilat terbatas pada bidang khusus. Istilah tersebut pada dasarnya menunjukkan proses memperoleh  tambahan pelajaran dalam bidang khusus dengan kelompok khusus yang berhubungan dengan bidang tersebut dalam lingkungan hidup sehari-hari mereka. Sebagai contoh, mungkin ada kursus kilat tentang perbankan bagi banker, produksi kumbang bagi penggemar kumbang. Materinya disajikan dalam bentuk modul dan dimaksudkan untuk membantu pserta mengerjakan tugas secara lebih baik sesuai dengan pekerjaannya setelah kembali ke rumah. Peserta mau hadir karena kursus terkait dengan pekerjaan sehari-harinya. Kursus kilat bertindak sebagai kursus penyegar bagi peserta.
Kursus tersebut terbatas bagi kelompok khusus dan temanya jarang sekali mempunyai daya tarik yang universal. Sulit bagi perencana untuk mengembangkan program yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan setiap orang yang terkait. Biasanya anggota kursus memiliki latar belakang yang sangat bervariasi. Beberapa peserta mempunyai kesan bahwa mereka tidak belajar sesuatu di luar yang telah mereka ketahui, sementara peserta yang lain mengeluh bahwa materinya sangat teknis sehingga mereka tidak dapat mengerti apa yang dikatakan oleh pembicara
  1. Kuliah Bersambung
Kuliah bersambung adalah suatu rangkaian penyajian yang diberikan oleh dosen dengan periode satu waktu kali per hari, satu kali per minggu atau satu kali per bulan. Selang waktu antara masing-masing bervariasi. Dipandang dari definisi ketatnya, khotbah setiap Minggu yang diberikan oleh pendeta dapat dikatakan sebagai kuliah bersambung. Hal ini tentu saja hanya berlaku untuk khotbahnya saja dan tidak termasuk musik lengkap, ritual dan partisipasi hadirinnya. Dosen mungkin menggunakan audiovisual dalam penyajiannya. Peranan hadirin adalah mendengarkan, jadi menerima pesan-pesan dan inspirasi dari dosen.
Sangat sederhana untuk mengatur kuliah bersambung karena semua yang diperlukan hanyalah dosen dan hadirin. Jika dosen menggunakan alat visualisasi, beberapa persiapan harus dilakukan untuk menggunakan alat tersebut.
Keterbatasan kuliah bersambung adalah dosen harus bekerja keras  karena pengalaman menurunkan jumlah hadirin. Hadirin dengan mudah dapat tidur dalam ketidaksadaran, yang hanya sedikit dapat mempengaruhi pikirannya. Dikarenakan kuliah bersambung menekankan kontuinitas jalan pikiran, mereka yang sering tidak hadir akan kehilangan kontuinitas  tersebut. Kuliah bersambung ini cukup sulit untuk mendorong peserta melakukan tindak tertentu terbukti penemuan yang sangat alami ini gagal menunjukkan hal tersebut.
  1. Kelas Formal
Kelas formal adalah pendidikan orang dewasa biasanya bergabung dalam program sekolah. Mereka yang hadir telah menyatakan minat mereka dan telah mendaftar, membayar uang pendaftaran dan setuju terikat dengan program institusi.
Beberapa teknik mungkin diterapkan dalam pertemuan ini. Dalam banyak kasus, aktivitas kelas dilaksanakan di proyek dimana peserta mengerjakan sendiri seperti pada pembuatan pembalut kursi, perkayuan, seni dan banyak lagi.
Kelas formal dalam pendidikan orang dewasa biasanya mempunyai peraturan yang ketat. Pelajaran mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga peserta yang sering absen akan kehilangan pelajaran yang berguna. Berhubungn kelas formal ini merupakan serangkaian pertemua, maka instruktur harus mempunyai peraturan yang ketat. Berhubung kelas formal ini merupakan serangkaian pertemuan, maka instruktur harus mempunyai keahlian dalam mempertahankan minat yang tinggi dari para pesertanya. Beberapa kelas formal dalam pendidikan orang dewasa menarik minat hanya kepad amereka yang mempunyai latar belakang yang cukup untuk menguasai materi. Walaupun kita sudah “mulai dari mana dia berada” namun kita sering menemukan latar belakang dan pengalaman yang bervariasi membatasi keberhasilan.
Acara kelas formal pendidikan orang dewasa dan kelas formal di fakultas atau sekolah menengah ada perbedaan. Pada kelas formal di fakultas dan sekolah menengah, motivasinya meningkat dengan adanya keinginan mendapatkan kredit fakultas atau sekolah menengah
  1. Diskusi terbuka
Diskusi terbuka duanggap sebagai salah satu jenis pendidikan orang dewasa yang sangat penting. Tersirat bahwa mereka yang berperan aktif adalah orang yang cukup ahli dalam proses kelompok untuk memanfaatkan teknik secara penuh. Hal yang sering terjadi adalah mereka sangat mungkin tergerak untuk bertindak setelah diskusi terbuka ini
Pentingnya diskusi terbuka adalah terciptanya lingkungan yang sesuai untuk meningkatkan kebebbasan mengeluarkan pendapat. Jika memungkinkan setiap peserta saling berhadapan duduknya. 
 Diskusi terbuka memerlukan seorang pimpinan yang ahli untuk mengatur jalannya diskusi sehingga semua peserta mempunyai kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka. Ia harus seorang pemberi semangat, seorang pemandu yang bermutu dan mempunyai kemampuan menjaga kelancaran diskusi. Ia harus mampu menyimpulkan, mengevaluasi dan menjelaskan pandangan yang berbeda tanpa melukai perasaan orang lain. Sejauh setiap pserra didengar pendapatnya, berbagai kemampuan dan latar belakang peserta sering menghasilkan produktivitas tinggi.

Konsultasi Skripsi; Evaluasi Pendekatan Cascio

Model evaluasi lainnya yang cukup kemprehensif dalam menilai sebuah program pelatihan adalah model Cascio. Marwansyah dan Mukaram (2000) mengemukakan bahwa dengan model Cascio kita dapat mengukur perubahan yang terjadi dalam empat kategori untuk mengetahui efektif tidaknya suatu pelatihan. Kategori-kategori tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Reaksi peserta terhadap pelatihan dalam bentuk pendapat dan sikap tentang pelatih, cara penyajian materi, kegunaan dan perhatian atas materi pelatihan, serta kesungguhan dan keterlibatan selama latihan berlangsung.
b.      Hasil belajar yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap yang terjadi pada peserta atas materi, media, dan metode belajar yang diterapkan dalam pelatihan, baik selama pelatihan berlangsung atau sesudah pelatihan.
c.       Perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil dari kehadiran dalam program pelatihan mencakup rasa tanggung jawabnya terhadap tugas-tugas yang diberikan, memiliki team work atau kerja sama yang kokoh, loyal dan disiplin serta memiliki jiwa kepemimpinan.
d.      Hasil yang terkait dengan peningkatan produktivitas atau kualitas organisasi secara keseluruhan dan motivasi yang tinggi dari para lulusan pelatihan setelah mengikuti pendidikan dan latihan, sebagai wujud tercapainya tujuan dari pelatihan itu sendiri.
Kategori evaluasi reaksi dan belajar, lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan yang terakhir, yaitu perubahan perilaku dan tercapainya hasil yang optimal. Perubahan perilaku sukar untuk diidentifikasi, karena banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar program pelatihan. Akhirnya, dampak pelatihan terhadap hasil yang dicapai merupakan ukuran yang paling signifikan. Hal ini dapat dinilai dengan mengetahui tingkat kepuasan dunia usaha/industri sebagai user dari lulusan.

Konsultasi Skripsi; Evaluasi Pendekatan Continuance

Evaluasi program yang diperkenalkan Stake (1967:72) dalam Tayibnafis (2000:21) yaitu model Countenance. Model ini menekankan dua dasar dalam evaluasi yaitu description dan judgment, serta membedakannya dalam tiga tahap yaitu antecedents/context, transaction/process, dan outcomes/output. Stake menegaskan bahwa peenilaian suatu program pendidikan, dilakukan dengan membandingkan yang relatif antarsatu program dengan yang lain, atau perbandingan yang absolut (satu program dengan standar). Dalam model ini, antecedents (masukan), transaction (proses), dan outcomes (hasil) dibandingkan tidak hanya untuk menentukan apakah ada perbedaan tujuan dengan keadaan yang sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang absolut untuk menilai manfaat program.

Konsultasi Skripsi; Evaluasi Pendekatan CIPP

Salah satu model yang populer adalah model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang diajukan oleh Stufflebeam (1972:73) dalam Tim MKDK Kurikulum dan Pembelajaran (2001). Model ini bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan program pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain sebagai berikut:
a.       Karakterisitk peserta didik dan lingkungan,
b.      tujuan program dan peralatan yang dipakai, dan
c.       prosedur dan mekanisme pelaksanaan program.
Menurut model ini, terdapat empat dimensi yang perlu dievaluasi sebelum, selama, dan sesudah program pendidikan dikembangkan. Dimensi-dimensi tersebut antara lain sebagai berikut.
a.       Konteks (context), merupakan situasi atau latar belakang yang memengaruhi tujuan dan strategi yang dikembangkan, misalnya: kebijakan departemen atau unit kerja yang bersangkutan, sasaran yang ingin dicapai oleh unit kerja, dan masalah ketenagaan yang dihadapi unit kerja.
b.      Masukan (input), mencakup bahan, peralatan, dan fasilitas yang disiapkan untuk keperluan program, misalnya: dokumen kurikulum dan bahan ajar yang dikembangkan, staf pengajar yang bertugas, sarana/prasarana yang tersedia, dan media pendidikan yang digunakan.
c.       Proses (process), merupakan pelaksanaan nyata dari program pendidikan di kelas/lapangan yang meliputi: pelaksanaan proses pembelajaran, pelaksanaan evaluasi, dan pengelolaan program.
d.      Hasil (product), yaitu keseluruhan hasil yang dicapai oleh program. Hasil utama yang diharapkan dari program produktif adalah meningkatnya kompetensi siswa sesuai bidang keahliannya.

Konsultasi Skripsi; Evaluasi Pendekatan Efektifitas Program

 Tayibnafis (2000) menjelaskan berbagai pendekatan evaluasi dengan menggunakan efektifitas program maka dapat diidentifikasi tiga pendekatan, yaitu; 
a.       Pendekatan eksperimental (experimental approach). Pendekatan ini berasal dari kontrol eksperimen yang biasanya dilakukan dalam penelitian akademik. Tujuannya untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum tentang dampak suatu program tertentu dengan mengontrol sabanyak-banyaknya faktor dan mengisolasi pengaruh program.
b.      Pendekaatan yang berorientasi pada tujuan (goal oriented approach). Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Pendekatan ini amat wajar dan prakits untuk desain pengembangan program. Pendekatan ini memberi petunjuk kepada pengembang program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dengan hasil yang akan dicapai.
c.       Pendekatan yang berfokus pada keputusan (the decision focused approach). Pendekatan ini menekankan pada peranan informasi yang sistematik untuk pengelola program dalam menjalankan tugasnya. Sesuai dengan pandangan ini, informasi akan amat berguna apabila dapat membantu para pengelola program membuat keputusan. Oleh sebab itu, evaluasi harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan untuk keputusan program.
d.      Pendekatan yang berorientasi pada pemakai (the user oriented approach). Pendekatan ini memfokuskan pada masalah utilisasi evaluasi dengan penekanan pada perluasan pemakaian informasi. Tujuan utamanya adalah pemakaian informasi yang potensial. Evaluator dalam hal ini menyadari sejumlah elemen yang cenderung akan mempengaruhi kegunaan evaluasi, seperti cara-cara pendekatan dengan klien, kepekaan, faktor kondisi, situasi seperti kondisi yang telah ada (pre-existing condition), keadaan organisasi dengan pengaruh masyarakat, serta situasi dimana evaluasi dilakukan dan dilaporkan. Dalam pendekatan ini, teknik analisis data, atau penjelasan tentang tujuan evaluasi memang penting, tetapi tidak sepenting usaha pemakai dan cara pemakaian informasi.
e.       Pendekatan yang responsif (the responsive approach). Pendekatan responsif menekankan bahwa evaluasi yang berarti adalah evaluasi yang mencari pengertian suatu isu dari berbagai sudut pandang semua orang yang terlibat, berminat, dan berkepentingan dengan program (stakeholder program). Evaluator menghindari satu jawaban untuk suatu evaluasi program yang diperoleh dengan memakai tes, kuesioner, atau analisis statistik, sebab setiap orang yang dipengaruhi oleh program merasakannya secara unik. Evaluator mencoba menjembatani pertanyaan yang berhubungan dengan melukiskan atau menguraikan kenyataan melalui pandangan orang-orang tersebut. Tujuan evaluasi adalah untuk memahami ihwal program melalui berbagai sudut pandang yang berbeda.
         Evaluasi dilakukan dengan pendekatan kualitatif/naturalistik. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara, sedangkan instrumen tes atau kuesioner dilakukan sebagai data pendukung serta interpretasi data dilakukan secara impresionistik. Evaluator mengobservasi, merekam, menyeleksi, mengecek pengetahuan awal (preliminary understanding) peserta program, dan mencoba membuat model yang mencerminkan pandangan berbagai kelompok.  Elemen penting dalam pendekatan ini adalah pengumpulan dan penyintesisan data dengan tidak menghindari pengukuran dan teknik analisis data. Dengan jalan ini, evaluator mencoba responsif terhadap orang-orang yang berkepentingan pada hasil evaluasi, bukan pada permintaan desain penelitian atau teknik pengukuran

Konsultasi Skripsi; Efektifitas Organisasi

Steers (1985) mengemukakan tiga pendekatan dalam memahami efektivitas. Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain pendekatan tujuan (the goal optimization approach), pendekatan sistem (sistem theory approach), dan pendekatan kepuasan partisipasi (participant satisfaction model).
a.       Pendekatan Tujuan. Suatu organisasi berlangsung dalam upaya mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, dalam pendekatan ini efektivitas dipandang sebagai goal attainment/goal optimization atau pencapaian sasaran dari upaya bersama. Derajat pencapaian sasaran menunjukkan derajat efektivitas. Suatu program dikatakan efektif jika tujuan akhir program tercapai. Dengan perkataan lain, pencapaian tujuan merupakan indikator utama dalam menilai efektivitas.
b.      Pendekatan Sistem. Pendekatan ini memandang efektivitas sebagai kemampuan organisasi dalam mendayagunakan segenap potensi lingkungan serta memfungsikan semua unsur yang terlibat. Efektivitas diukur dengan meninjau sejauh mana berfungsinya unsur-unsur dalam sistem untuk mencapai tujuan.
c. Pendekatan Kepuasan Partisipasi. Dalam pendekatan ini, individu partisipan ditempatkan sebagai acuan utama dalam menilai efektivitas. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa keberadaan organisasi ditentukan oleh kualitas partisipasi kerja individu. Selain itu, motif individu dalam suatu organisasi merupakan faktor yang sangat menentukan kualitas partisipasi. Sehingga, kepuasan individu menjadi hal yang penting dalam mengukur efektivitas organisasi

Konsultasi Skripsi; Efektifitas Pembelajaran

Efektivitas merupakan derivasi dari kata efektif yang dalam bahasa Inggris effective didefinisikan “producing a desired or intended result” (Concise Oxford Dictionary, 2001) atau “producing the result that is wanted or intended” dan definisi sederhananya “coming into use” (Oxford Learner’s Pocket Dictionary, 2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) mendefinisikan efektif dengan “ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya)” atau “dapat membawa hasil, berhasil guna (usaha, tindakan)” dan efektivitas diartikan “keadaan berpengaruh; hal berkesan” atau ” keberhasilan (usaha, tindakan)”.
The Liang Gie dalam Ensiklopedi Administrasi (1989) mendefinisikan efektivitas sebagai berikut.
“Suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya efek atau akibat yang dikehendaki. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki, maka orang itu dikatakan efektif kalau memang menimbulkan akibat dari yang dikehendakinya itu.”

Efektivitas merujuk pada kemampuan untuk memiliki tujuan yang tepat atau mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas juga berhubungan dengan masalah bagaimana pencapaian tujuan atau hasil yang diperoleh, kegunaan atau manfaat dari hasil yang diperoleh, tingkat daya fungsi unsur atau komponen, serta masalah tingkat kepuasaan pengguna/client. Selanjutnya, Steers (1985:176) menyatakan
“sebuah organisasi yang betul-betul efektif adalah orang yang mampu menciptakan suasana kerja di mana para pekerja tidak hanya melaksanakan pekerjaan yang telah dibebankan saja tetapi juga membuat suasana supaya para pekerja lebih bertanggung jawab, bertindak secara kreatif demi peningkatan efisiensi dalam usaha mencapai tujuan.”

  Dari pendekatan dalam menilai efektivitas di atas, bisa ditarik kesimpulan berkenaan dengan efektivitas pembelajaran bahwa efektivitas suatu program pembelajaran berkenaan dengan masalah pencapaian tujuan pembelajaran, fungsi dari unsur-unsur pembelajaran, serta tingkat kepuasan dari individu-individu yang terlibat dalam pembelajaran.

Konsultasi Skripsi; Media Pornografi

Pengertian Media menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4), Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”. Dijabarkan juga oleh  Djamarah (1995 : 136), Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.Gerlach dan Ely (1971), menjelaskan bahwa Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.Selain itu, AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.Heinich, dan kawan-kawan menjelaskan bahwa istilah Medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima.
Hamidjojo dalam Latuheru (1993), memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebarkan ide, gagasan, atau pendapat sehingga dapat sampai ke penerima yang dituju.Contoh-contoh Media antara Lain: Televisi, Radio, Film, Gambar yang di proyeksi, OHP, LCD, dan lain-lain.
Pornografi (Kartono, 1981) dapat diartikan sebagai tectur atau bacaan yang ommoril, yang berisikan gambar-gambar dan tulisan yang a-susila yang khusus di buat untuk merangsang nafsu seks.Atau bisa juga pornografi (Tukan, 1993) berarti penyajian secara terisoler dalam tulisan, gambar, foto, ilm, video, kaset, pertunjukan, pementasan dan kata-kata ungkapan yang merangsang nafsu birahi.Pornografi menonjolkan kelamin genital untuk merangsang nafsu yang brutal tanpa memperhitungan kelemahan emosional psikis dan seksualitas. Seolah-olah pria dan wanita adalah obyek yang hatur dinikmati. Dengan kata lain orang lain adalah alat melampiaskan nafsu yang irasional, juga tidak mempertimbangkan bahwa manusia mempunyai akal budi, kehendak dan cita-cita luhur. Meskipun demikian, definisi pornografi sangat subyektif sifatnya. Karya-karya yang umumnya diakui sebagai seni seperti misalnya patung "Daud" karya Michelangelo dianggap porno oleh sebagian pihak. 
Diterangkan dalam Wikipedia (2012) pengertian aslinya, pornografi secara harfiah berarti "tulisan tentang pelacur", dari akar kata Yunani klasik "πορνη" (porne) dan "γραφειν" (graphein). Mulanya adalah sebuah eufemisme dan secara harafiah berarti '(sesuatu yang) dijual.'Kata ini berasal dari dari istilah Yunani untuk orang-orang yang mencatat "pornoai", atau pelacur-pelacur terkenal atau yang mempunyai kecakapan tertentu dariYunani kuno. Pada masa modern, istilah ini diambil oleh para ilmuwan sosial untuk menggambarkan pekerjaan orang-orang sepertiNicholas Restif dan William Acton, yang pada abad ke-18 dan 19 menerbitkan risalat-risalat yang mempelajari pelacuran dan mengajukan usul-usul untuk mengaturnya. Istilah ini tetap digunakan dengan makna ini dalam Oxford English Dictionary hingga 1905.
Berdasarkan dua uraian di atas maka tayangan pornografi adalah segala tanyangan yang memiliki sifat kesengajaan  untuk merangsang birahi orang lain dalam bentuk eksposur bagian-bagian tubuh, terutama bagian sekitar dada dan paha yang mempunyai rangsangan seksual yang tinggi terhadap lawan jenis (Buletin dahwa Islam, 2004). 
Belakangan istilah digunakan untuk publikasi segala sesuatu yang bersifat seksual, khususnya yang dianggap berselera rendah atau tidak bermoral, apabila pembuatan, penyajian atau konsumsi bahan tersebut dimaksudkan hanya untuk membangkitkan rangsangan seksual.Sekarang istilah ini digunakan untuk merujuk secara seksual segala jenis bahan tertulis maupun grafis. Istilah "pornografi" seringkali mengandung konotasi negatif dan bernilai seni yang rendahan, dibandingkan dengan erotika yang sifatnya lebih terhormat.Istilah eufemistis seperti misalnya film dewasa dan video dewasa biasanya lebih disukai oleh kalangan yang memproduksi materi-materi ini.

Kadang-kadang orang juga membedakan antara pornografi ringan dengan pornografi berat. Pornografi ringan umumnya merujuk kepada bahan-bahan yang menampilkan ketelanjangan, adegan-adegan yang secara sugestif bersifat seksual, atau menirukan adegan seks, sementara pornografi berat mengandung gambar-gambar alat kelamin dalam keadaan terangsang dan kegiatan seksual termasukpenetrasi. Di dalam industrinya sendiri dilakukan klasifikasi lebih jauh secara informal. Pembedaan-pembedaan ini mungkin tampaknya tidak berarti bagi banyak orang, namun definisi hukum yang tidak pasti dan standar yang berbeda-beda pada penyalur-penyalur yang berbeda pula menyebabkan produser membuat pengambilan gambar dan penyuntingannya dengan cara yang berbeda-beda pula. Mereka pun terlebih dulu mengkonsultasikan film-film mereka dalam versi yang berbeda-beda kepada tim hukum mereka. Di beberapa wilayah hukum di Amerika penampilan gambar atau film tentang orang yang sedang membuang hajat ikut dimasukkan dalam definisi pornografi (misalnya Undang-Undang Kriminal Arizona).

Konsultasi Skripsi; Seks Pra Nikah

Menurut Sarwono (2003), seks pranikah adalah hubungan seksual yang dilakukan remaja tanpa adanya ikatan pernikahan.Menurut Stuart dan Sundeen (1999), perilaku seksual yang sehat dan adaptif dilakukan ditempat pribadi dalam ikatan yang sah menurut hukum. Sedangkan perilaku seksual pranikah merupakan perilaku seksual yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Mu’tadin, 2002).Menurut Irawati (2002) remaja melakukan berbagai macam perilaku seksual beresiko yang terdiri atas tahapan-tahapan tertentu yaitu dimulai dari berpegangan tangan, cium kering, cium basah, berpelukan, memegang atau meraba bagian sensitif, petting, oral sex, dan bersenggama (sexual intercourse). Perilaku seksual pranikah pada remaja ini pada akhirnya dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan remaja itu sendiri.Dalam beberapa tahun terakhir ini telah disaksikan adanya perubahan yang sangat besar dalam sikap terhadap kegiatan seksual.Pandangan mengenai hubungan seksual pranikah sekarang lebih terbuka dan bebas dibandingkan dengan pandangan masa lalu.Para remaja mendapatkan tontonan seks yang merangsang dalam majalah, televisi, dan bioskop, tanpa ada batasnya.Metode pencegahan kelahiran yang berhasil dan adanya sarana menggugurkan mengurangi perasaan takut hamil.Semua perubahan ini sekarang memberi lebih banyak kebebasan kepada individu yang baru matang. (Atkinson, 2002)

Konsultasi Skripsi; Konsep Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Suharsimi (Muliawan, 2010:1), “penelitian tindakan kelas merupakan salah satu bentuk penelitian yang dilakukan di kelas, umumnya dilakukan oleh guru bekerjasama dengan peneliti atau ia sendiri sebagai guru berperan ganda melakukan penelitian individu di kelas, di sekolah atau di tempat ia mengajar untuk tujuan penyempurnaan atau peningkatan proses pembelajaran”. Tindakan itu dilakukan dengan melakukan kolaborasi antara peneliti dengan kelompok sasaran. Pengertian kelas dalam penelitian tindakan kelas adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Siswa yang belajar tidak hanya terbatas di dalam sebuah ruangan tertutup saja, tetapi dapat juga ketika anak sedang melakukan karya wisata di objek wisata, di laboratorium, di rumah, atau di tempat lain, ketika siswa sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Makna kelas dalam penelitian tindakan kelas adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar.

Konsultasi Skripsi; Tahapan Konseling Kelompok

Winkel dan Hastuti (2007:607-613) mengatakan konseling kelompok terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (a) pembukaan, (b) penjelasan masalah, (c) penggalian latar belakang masalah (d) penyelesaian masalah (e) penutup.
Tahapan-tahapan yang telah disebutkan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.    Pembukaan. Pada tahap ini diletakkan dasar bagi pengembangan hubungan antarpribadi (working relationship) yang baik, yang memungkinkan pembicaraan terbuka dan terarah pada penyelesaian masalah.
b.    Penjelasan masalah. Masing-masing konseli mengutarakan masalah yang dihadapi berkaitan dengan materi diskusi, sambil memngungkapkan pikiran dan perasaannya secara bebas. Selama seseorang konseli mengungkapkan apa yang dipandangnya perlu dikemukakan, konseli lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berusaha ikut menghayati ungkapan pikiran dan persaan temannya. Mereka dapat menanggapi ungkapan teman dengan memberikan komentar singkat, yang menunjukkan ungkapan itu telah ditangkap dengan tepat
c.    Penggalian latar belakang masalah. Pada tahap ini konselor membawa kelompok masuk ke fase analisis kasus, dengan tujuan supaya para konseli lebih memahami latar belakang masalahnya sendiri-sendiri dan masalah teman, serta sekaligus mulai sedikit mengerti tentang asal-usul permasalahan yang dibahas bersama.
d.   Penyelesaian masalah. Berdasarkan apa yang telah digali dalam fase analisis kasus, konselor dan para konseli membahas bagaimana persoalan dapat diatasi. Kelompok konseli selama fase ini harus ikit berpikir, memandang, dan mempertimbangkan.
e.    Penutup. Bilamana kelompok sudah siap untuk melaksanakan apa yang telah diputuskan bersama, proses konseling dapat diakhiri dan kelompok dibubarkan pada pertemuan terakhir. Bilamana proses konseling belum selesai, pertemuan yang sedang berlangsung ditutup untuk dilanjtkan pada lain hari. Dalam fase ini konselor harus membantu kelompok merefleksi atas manfaat yang diperoleh dari pengalaman dalam kelompok ini. Untuk itu konselor meringkas jalannya proses konseling, mempersilahkan masing-masing konseli mengungkapkan pengalamannya dan menyatakan hal-hal apa yang terasa belum tuntas untuk kemudian diperdalam sendiri (evaluasi terhadap kelompok dan diri sendiri). Kemudian, konselor menegaskan kembali apa yang telah disepakati bersama dan mengusulkan beberapa cara menilai kemajuan pada diri sendiri.

Konsultasi Skripsi; Unsur Konseling Kelompok

Prayitno (1995:60) mengatakan sebagai kegiatan kelompok, konseling kelompok secara penuh mengandung empat unsur, yaitu (a) tujuan kelompok, (b) anggota kelompok, (c) pemimpin kelompok, (d) aturan kelompok.
Berdasarkan unsur-unsur layanan konseling kelompok yang telah disebutkan, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Tujuan kelompok, yaitu tujuan bersama yang ingin dicapai oleh kedua kelompok ialah pengembangan pribadi semua peserta dan peralihan-peralihan lainnya melalui perubahan dan pendalaman masalah pribadi peserta
b.      Anggota kelompok, yaitu seluruh peserta kelompok masing-masing melibatkan diri dalam kegiatan itu
c.       Pemimpin kelompok, ialah orang yang bertanggung jawab atas berlangsungnya kegiatan masing-masing kelompok itu
d.      Aturan kelompok, ialah berbagai ketentuan yang hendaknya dijalankan dan dipatuhi oleh semua anggota kelompok dan pemimpin kelompok

Judul Skripsi; Konseling Kelompok

Gazda (dalam Nursalim dan Hariastuti, 2007) menyebutkan bahwa konseling kelompok diartikan sebagai suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada kesadaran berpikir dan tingkah laku, serta melibatkan fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan, serta berorientasi pada kenyataan-kenyataan, membersihkan jiwa, saling percaya dan mempercayai pemeliharaan, pengertian, penerimaan dan bantuan. Fungsi-fungsi dari terapi itu diciptakan dan dipelihara dalam wadah kelompok kecil melalui sumbangan (saling berbagi) dari tiap anggota kelompok dan konselor. Tujuan konseling kelompok dalam seting sekolah adalah untuk membantu individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dalam tujuh bidang yaitu: psikososial, vokasional, kognitif, fisik, seksual, moral dan afektif. (Nursalim dan Hariastuti, 2007)
Menurut Damayanti (2012:21) layanan konseling kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melaui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Lain halnya dengan yang dikatakan oleh Shertzer dan Stones, yaitu dalam konseling kelompok seorang konselor terlibat dalam suatu hubungan dengan sejumlah konseli dalam waktu yang sama. Konseling kelompok merupakan jenis aktivitas kelompok, berciri proses antarpribadi yang dinamis, berfokus pada kesadaran pikiran dan tingkah laku yang melibatkan fungsi-fungsi terapi dalam menyediakan bantuan konseling secara serentak pada empat sampai dua belas orang konseli normal mengelola masalah-masalah penyesuaian dan keprihatinan perkembangan, pemecahan bersama berbagai bidang masalah sosiopsikologis individu dalam kelompok.

Konsultasi Skripsi; Penanaman Kedisiplinan

Menurut Harlock ( 2000 : 93 ), cara-cara menanamkan disiplin pada anak ada tiga yaitu :
a.         Cara mendisiplin otoriter
Disiplin otoriter dapat berkisar antara pengendalian perilaku anak yang wajar hingga yang kaku yang tidak memberi kebebasan bertindak, kecuali yang sesuai denagn standar yang ditentukan. Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan eksternal dalam bentuk hukuman, terutamma hukuman badan. Orang tua yang menamkan disiplin otoriter tidak mendorong anak untuk dengan mandiri mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan tindakan mereka. Mereka hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, dan tidak menjelaskan mengapa hal itu haru dilakukan. Jadi anak – anak kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana mengendalikan perilaku mereka sendiri.
b.        Cara mendisiplin permisif
Disiplin permisif artinya sedikit disiplin atau tidak disiplin. Biasanya disiplin perm isif tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman. Beberapa orang tua dan guru, yang menganggap kebebasan ( permissiveness ) sama denagn ( assezfaire ), membiarkan anak-anak meraba-raba dalam situasi yang terlalu sulit untguk ditanggulangi oleh mereka sendiri tanpa bimbingan atau pengendalian.
c.         Cara mendisiplin demokratis
Metode disiplin demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti megapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukumannya. Disiplin demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan , dengan penekanan yang lebih besar pada penghargaan. Hukuman tidak perlu keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan. Hukuman hanya digunakan bila terdapat buktu bahwa anak-anak secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak sesuai dengan standar yang diharapkan, orang tua yang demokratis akan menghargainya dengan pujian.


Konsultasi Skripsi; Faktor Kedisiplinan

Tulus (2004 : 48 )“menyatakan bahwa ada empat hal yang mempengaruhi kedisiplinan belajar siswa yaitu : kesadaran diri, kepatuhan dan ketatan tetaatan terhadap peraturan, alat pendidikan, dan hukuman”. Keempat faktor ini merupakan faktor dominant yang mempengaruhi kediplinan belajar siswa.  Alasannya sebagai berikut :
a.       Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa diplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain itu, kesadaran diri menjadi motif sangat kuat terwujudnya disiplin. Kedisiplinan belajar dapat terwujud jika masing-masing individu memiliki kesadaran pada diri.
b.      Kepatuhan  dan ketaatan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan – peraturan yang mengatur perilaku individunya. Kepatuhan dan ketaatan merupakan faktor penting untuk terwujudnya kedisiplinan belajar.
c.       Alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan . yang termasuk dalam alat pendidikan salah satunya adalah  kondisi likngkungan belajar disekolah, seperti kondisi guru, gedung sekolah, teman-teman sekolah, tenaga administrative, media belajar, dan sebagainya.
d.      Hukuman sebagai upaya menyadarkan , mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali kepada perilaku yang sesuai dengan harapan. Penerapan hukuman pada individu yang melanggar aturan harus bersifat mendidik, yaitu hukuman yang dapat menyadarkan individu untuk berperilaku tidak menyimpang dari aturan yang berlaku.
Sedangkan menurut Hamalik ( 2008: 105)  “ faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan belajar adalah faktor internal yang terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis ; dan faktor eksternal yang meliputi faktor kemanusiaan dan faktor kebendaan” Berdasarkan pendapat hamalik, peneliti menguraikan faktor – faktor yag mempengaruhi kedisiplinan belajar sebagai berikut :
a.          Faktor internal
Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri si pelajar itu sendiri, yang pada dasarnya individu tersebut terdiri dari jasmani atau fisiologis dan rohani atau psikologis yang keduanya saling mempengaruhi dan tidak dipisahkan. Untuk lebih jelasnya dapat diterangkan sebagai berikut :
a)      Faktor fisiologis yang bersumber pada jasmani.
Faktor jasmani mempunyai hubungan yang erat dengan kedisiplinan belajar siswa. Keadaan jasmani yang kurang sehat akan mengganggu kegiatan belajar yang akhirnya akan mengganggu pelaksanaan kedisiplinan belajar siswa. Untuk menghindari hal tersebut, jika jasmani sakit maka harus segera pergi ke dokter.
b)  Faktor fisiologis yang bersumber pada rohani, meliputi : kecerdasan, daya ingat tinggi, kebutuhan yang terpuaskan, konsentrasi dan perhatian.
2)      Faktor eksternal.
Faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar si pelajar atau siswa, yang berupa kemanusiaan dan kebendaan. Fakto eksternal meliputi :
a)      Faktor kemanusiaan
Faktor kemanusiaan merupakan suatu kancah dimana terjadi hubungan antara orang yang satu dengan yang lain, meliputi cara guru mengajar efektif, sikap guru yang mendidik dan adil sehingga menarik minat belajar.
Faktor kebendaan , yaitu : tempat belajar yang telalu dekat dengan kebisingan, alat-alat belajar dan bahan pelajaran yang memadai

Konsultasi Skripsi; Faktor Kedisiplinan

Tulus (2004 : 48 )“menyatakan bahwa ada empat hal yang mempengaruhi kedisiplinan belajar siswa yaitu : kesadaran diri, kepatuhan dan ketatan tetaatan terhadap peraturan, alat pendidikan, dan hukuman”. Keempat faktor ini merupakan faktor dominant yang mempengaruhi kediplinan belajar siswa.  Alasannya sebagai berikut :
a.       Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa diplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain itu, kesadaran diri menjadi motif sangat kuat terwujudnya disiplin. Kedisiplinan belajar dapat terwujud jika masing-masing individu memiliki kesadaran pada diri.
b.      Kepatuhan  dan ketaatan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan – peraturan yang mengatur perilaku individunya. Kepatuhan dan ketaatan merupakan faktor penting untuk terwujudnya kedisiplinan belajar.
c.       Alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan . yang termasuk dalam alat pendidikan salah satunya adalah  kondisi likngkungan belajar disekolah, seperti kondisi guru, gedung sekolah, teman-teman sekolah, tenaga administrative, media belajar, dan sebagainya.
d.      Hukuman sebagai upaya menyadarkan , mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali kepada perilaku yang sesuai dengan harapan. Penerapan hukuman pada individu yang melanggar aturan harus bersifat mendidik, yaitu hukuman yang dapat menyadarkan individu untuk berperilaku tidak menyimpang dari aturan yang berlaku.
Sedangkan menurut Hamalik ( 2008: 105)  “ faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan belajar adalah faktor internal yang terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis ; dan faktor eksternal yang meliputi faktor kemanusiaan dan faktor kebendaan” Berdasarkan pendapat hamalik, peneliti menguraikan faktor – faktor yag mempengaruhi kedisiplinan belajar sebagai berikut :
a.          Faktor internal
Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri si pelajar itu sendiri, yang pada dasarnya individu tersebut terdiri dari jasmani atau fisiologis dan rohani atau psikologis yang keduanya saling mempengaruhi dan tidak dipisahkan. Untuk lebih jelasnya dapat diterangkan sebagai berikut :
a)      Faktor fisiologis yang bersumber pada jasmani.
Faktor jasmani mempunyai hubungan yang erat dengan kedisiplinan belajar siswa. Keadaan jasmani yang kurang sehat akan mengganggu kegiatan belajar yang akhirnya akan mengganggu pelaksanaan kedisiplinan belajar siswa. Untuk menghindari hal tersebut, jika jasmani sakit maka harus segera pergi ke dokter.
b)  Faktor fisiologis yang bersumber pada rohani, meliputi : kecerdasan, daya ingat tinggi, kebutuhan yang terpuaskan, konsentrasi dan perhatian.
2)      Faktor eksternal.
Faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar si pelajar atau siswa, yang berupa kemanusiaan dan kebendaan. Fakto eksternal meliputi :
a)      Faktor kemanusiaan
Faktor kemanusiaan merupakan suatu kancah dimana terjadi hubungan antara orang yang satu dengan yang lain, meliputi cara guru mengajar efektif, sikap guru yang mendidik dan adil sehingga menarik minat belajar.
Faktor kebendaan , yaitu : tempat belajar yang telalu dekat dengan kebisingan, alat-alat belajar dan bahan pelajaran yang memadai

Konsultasi Skripsi; Fungsi Disiplin

Menurut Hurlock ( 2008 : 87 )” fungsi hukuman mempunayai tiga peranan penting dalam penerapan kedisiplian pada anak yaitu menghalangi, mendidik dan memeberi motivasi “. Fungsi pertama ialah menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindkan yang tidak diinginkan oleh mayarakat, bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, mereka biasanya urung melakukan tindakan tersebut karena tringat akan hukuman yang dirasakan di waktu lampau akibat tindakan tersebut.
Fungsi kedua dari hukuman ialah mendidik. Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan trtentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindkan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakan yang diperbolahkan.Fungsi ketiga, ialah memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat. Pengetahuan akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut. Bila anak mampu mempertimbanglan tindakan alternatif dan akibat masing-masing alternative, mereka harus belajar memutuskan sendiri apakah suatu tindakan yang salah cukup menarik untuk dilakukan.



a.       Penghargaan
Pokok ketiga dari disiplin adalah penggunaan penghargaan. Penghargaan tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau teoukan di punggung. Penghargaan mempunyai tiga peranan yang penting dalam mengajarkan anak berperilaku sesuai dengan cara yang direstui masyarakat  pertama, penghargaan mempunyai nilai mendidik. Bila suatu tindakan disetujui, anak merasa bahwa hal itu baik. Sebagaimana hukuman mengisyarakatkan pada anak bahwa perilaku mereka itu buruk, demikian juga penghargaan mengisyarakan pada mereka bahwa perilaku itu baik.
Kedua, penghargaan berfunsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. Karena anak bereaksi dengan positif terhadap persetujuan yang dinyatakan dengan penghargaaan, dimasa mendatang mereka berusaha untuk berperilaku dengan cara yang akan lebih banyak memberinya penghargaan. Ketiga, penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulang perilaku ini. Bila anak harus belajar berperilaku dengan cara yang disetujui secara sosial, ia harus bahwa berbuat demikian cukup menguntungkan baginya. Karenanya penghargaan harus digunakan untuk membentuk asoiasi yang menyenangkan dengan perilaku yang diinginkan.
b.      Konsistensi
Pokok keempat disiplin adalah konsistensi. Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsistensi memungkinkan orang menghadapi kebutuhan perkembangan yang berubah sambil pada waktu yang bersamaan, cukup mempertahankan ragaman sehingga anak-anak tidak akan kebingungan mengenai apa yang diharapkan dari mereka.