Jumat, 26 September 2014

Konsultasi Skripsi; Unsur Kedisiplinan

Menurut Sutrisno (1984 :34), unsur-unsur yang terdapat dalam kedisiplinan pada individu dalam kaitannya melakukan aktivitas adalah sebagai berikut :
a.       Pengetahuan tentang pekerjaan yang harus dilaksanakan
b.      Kesadaran bahwa individu adalah sebagai orang yang dipercaya untuk melaksanakan tugas dan kewajiaban sehingga mempunyai rasa tanggung jawab.
c.       Ketaatan atau kepatuhan terhadap segala peraturan atau ketentuan yang berlaku
d.      Ketertiban didalam melaksanakan segala apa yang dikerjakan sehingga dapat dihindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi
e.       Inisiatif yang menunjang apa yang harus dilakukan sehingga dapat dihindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi
f.       Inisiatif yang menunjang kelancaran pelaksananaan tugas sehingga tidak melakukan seperti halnya melakukan dengan pola-pola yang itu-itu saja
g.      Rasa senang hati, tidak dipaksa auatu terpaksa
h.      Dilakukan sanksi dengan sungguh-sungguh
Menurut  Sukardi (2005 : 10) aspek penting yang berkaitan dengan disiplin siswa yaitu : tempat, waktu dan aturan – aturan. Seorang siswa dapat dikatakan disiplin apabila :
a.       Segala perilakunya disesuaikan dengan tempatnya
b.      Segala pekerjaannya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan segala perbuatannya disesuiakan dengan aturan yang berlaku.
Selanjutnya, Gunarsa ( 1992 : 143) mengemukakan aspek-aspek kedisiplinan sebagai berikut : a) pembagian waktu, b) menepati janji, c) pemanfaatan waktu, d) mematuhi peraturan yang berlaku.
a.       Pembagian waktu
Pembagian waktu merupakan suatu cara bagaimana siswa membuat rencana jadwal belajar. Untuk membagian waktu ini harus dipertimbangkan dengan baik, karena ini akan berpengaruh dalam kegiatan siswa. Ketrampilan siswa dalam membagi waktu merupakan suatu hal yang sangat penting dalam masa studi maupun masa seluruh kegiatan siswa. Bagi setiap siswa ketrampilan mengelola waktu harus dikembangkan, dimahirkan, dan diterapkan.
b.      Menepati jadwal
Menepati jawdwal merupakan pelaksanaan dari jadwal kegiatan yang harus di usahakan dan dipatuhi karena akan berhubungan dengan hasil yang akan didapat. Utuk mendapatkan hasil yang lebih baik maka perlu dipatuhi, namun bila jadwal itu telah dibuat tetapi tidak dipenuhi maka efisiensi hasil tidak akn terwujud.
c.       Pemanfaatan waktu
Pemanfaatan waktu merupakan cara bagaimana seorang siswa menggunakan waktunya dengan baik.
d.      Mematuhi aturan yang berlaku
Mematuhi aturan-aturan yang berlaku merupakan wujudkedisiplinan di sekolah, seperti kedisiplinan dalam ujian, dan kedisiplinan tata tertib kelas dan sekolah. 
Bertitik tolak dari delapan unsur pokok disiplin tersebut, dapat ditentukan unsur-unsur disiplin dalam malaksanakan tata tertib disekolah meliputi :
a.       Pengetahuan
b.      Kepatuhan
c.       Keterlibatan dalam melaksanakan tugas
d.      Inisiatif dalam mengerjakan tugas

Konsultasi Skripsi; Tujuan Pembentukan Disiplin

Menurut Hurlock (2000 : 83) ada beberapa fungsi dan tujuan penerapan kedisiplinan pada anak yaitu :
a.       Kedisiplinan memberi rasa aman dengan memberitahukan apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jadi penerapan kedisiplinan pada anak akan mebentuk pribadi yang bertanggung jawab terhadap segala peraturan yang telah diterapkan.
b.      Kedisiplinan memunkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok sosial dan dengan demikian memperoleh persetujuan sosial. Dengan demikian, perilaku anak dapat diterima oleh masyarakat.
c.       Kedisiplinan yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yan diharapkan darinya.
d.      Kedisiplinan membantu anak mengembangkan hati nurani dalam mengambil keputusan dan pengendalian perilaku.
Menurut Rahman ( Tu’u, 2004 : 35-36) tujuan disiplin pada siswa adalah sebagai berikut :
a.       Memberikan dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang.
b.      Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan yang  lingkungan
c.       Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya
d.      Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya.
e.       Menjauhkan siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar.
f.       Peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat baginya dan lingkungannya.
Kebiasaan baik menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya

Konsultasi Skripsi; Pengertian Kedisiplinan

Menurut Arikunto, ( 1993 : 114 ) “ disiplin menunjuk pada kepatuhan siswa untuk mengikuti peraturan atau tata tertib di dorong oleh kesadaran yang ada pada hatinya bukan karena paksaan”. Disiplin merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan. Peraturan dimaksut dapat ditetapkanoleh orang yang bersangkutan maupun yang berasal dari luar.
Selanjutnya, menurut Tulus ( 2004 : 3 ) disiplin kerap kali terkait dan menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Istilah ketertiban mempunyai arti kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorang  atau disebabkan oleh sesuatu yang datang dari  luar dirinys. Sebaliknya istilah  disiplin sebagai kepatuhan dan ketaatan yang muncul karena adanya kesadaran dan dorongan dari dalam diri siswa. Sedangkan menurut Gunarsa ( 1992: 143 ) “disiplin merupakan bimbingan untuk pembentukan kepribadian tertentu, antara lain kejujuran, ketetapan waktu, menjalankan kewajiban secara langsung, mengerti larangan – larangan , serta tingkah laku yang baik dan buruk”.

Konsultasi Skripsi; Tingkat KOnsep Diri

Konsep diri menurut Calhoun dan Acocella (1995) jenisnya ada 2 yaitu konsep diri negatif dan konsep diri positif.
a.    Konsep diri negatif
Muncul karena pandangan seseorang tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur. Dia tidak tahu apa kekuatan dan kelemahannya/ apa yang dia hargai dalam hidupnya dan juga konsep diri yang terlalu teratur dengan kata lain kaku. Hal ini terjadi mungkin karena dididik dengan sangat keras sehingga individu tersebut menciptakan citra diri yang tidak mengijinkan adanya penyimpangan dari hukum yang keras dan kaku yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat. Dalam kaitannya dengan penilaian diri, konsep diri yang negatif merupakan penilaian negatif terhadap diri sendiri. Apapun yang diperoleh tampaknya tidak berharga dibandingkan dengan apa yang diperoleh orang lain. Jadi ciri konsep diri yang negatif adalah pengetahuan yang tidak tepat tentang diri sendiri, harapan yang tidak realistis dan harga diri yang rendah.
Ciri orang yang memiliki konsep diri negatif adalah:
a)    Individu mudah untuk marah dan naik pitam serta tahan terhadap kritikan yang diterimanya.
b)   Individu responsif sekali terhadap pujian yang diberikan oleh orang lain pada dirinya.
c)     Individu tidak pandai dan tidak sanggup untuk mengungkapkan penghargaan/ pengakuan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain.
d)   Individu cenderung merasa tidak disenangi olah orang lain.
e)    Individu bersikap pesimis terhadap kompetisi, keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi (Rahmat. J, 1996).
b.      Konsep diri positif
Orang dengan konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Konsep diri positif cukup luas untuk menampung seluruh pengalaman seseorang, maka penilaian tentang dirinya sendiri secara apa adanya. Hal ini tidak berarti bahwa dia tidak pernah kecewa terhadap dirinya sendiri. Dengan menerima dirinya sendiri, dia juga dapat menerima orang lain. Orang dengan konsep diri positif akan mempunyai harapan dan merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan dirinya dan realistis. Artinya memiliki kemungkinan besar untuk dapat mencapai tujuan tersebut.
Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri positif adalah:
a)   Dapat menerima dan mengenal dirinya dengan baik.
b)   Dapat menyimpan informasi tentang dirinya sendiri baik itu informasi yang positif maupun yang negatif. Jadi mereka dapat memahami dan menerima fakta yang bermacam-macam tentang dirinya.
c)   Dapat menyerap pengalaman masalahnya.
d)  Apabila mereka memiliki pengharapan selalu merancang tujuan-tujuan yang sesuai dan realistis.
e)   Selalu memiliki ide yang diberikannya pada kehidupannya dan bagaimana seharusnya dirinya mendekati dunia.
f)    Individu meyadari bahwa tiap orang memiliki perasaan, keingimana dan perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat (Calhoun, 1995)

Konsultasi Skripsi; Aspek Konsep Diri

Aspek-aspek konsep diri menurut Hurlock (1976) antara lain:
a.   The Perceptual Component
Gambaran dan kesan seseorang tentang penampilan tubuhnya dan kesan yang dibuat pada orang lain atau sering disebut konsep diri fisik. Tercakup didalamnya gambaran yang dipunyai seseorang tentang daya tarik tubuhnya (attractiveness) dan keserasian jenis kelamin (sex approriateness). Komponen ini sering disebut physical self concept.
b.    The Conseptual Component
Pandangan individu mengenai karakteristik yang berbeda dengan orang lain baik tentang kemampuan dan kekurangannya. Hal ini mengarahkan pada penyesuaian hidupnya terhadap keberanian, kegagalan dan kelemahannya.. Komponen ini sering disebut psychological self concept.
c.    The Attitudinal Component
Perasaan atau pandangan indvidu terhadap keyakinan nilai, aspirasi dan komitmen yang membentuk dirinya.
Sedangkan menurut Pudjijogyanti (1988) komponen-komponen konsep diri ada dua yaitu :
a.    Komponen Kognitif
Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu tentang keadaan dirinya, misalnya “saya anak bodoh” atau “saya anak nakal”. Jadi komponen kognitif merupakan penjelasan dari “siapa saya” yang akan memberi gambaran tentang diri saya. Gambaran diri (self-picture) tersebut akan membentuk citra diri (self- image).
b.   Komponen Afektif
Komponen afektif merupakan penilaian individu terhadap diri. Penilaian tersebut akan membentuk penerimaan terhadap diri (self acceptance), serta harga diri (self-esteem) individu.
Konsep diri menurut Calhoun dan Acocella (1995) memiliki 3 dimensi yaitu:
a.    Pengetahuan
Dimensi pertama dari konsep diri adalah apa yang diketahui tentang diri sendiri. Dalam benak seseorang ada satu daftar julukan yang menggambarkan diri seseorang, seperti: usia, jenis kelamin, kebangsaan, suku, pekerjaan dan lain sebagainya. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
b.   Harapan
Pada saat individu mempunyai pandangan tentang siapa dirinya, ia juga mempunyai pandangan lain yaitu tentang kemungkinan menjadi apa dimasa yang akan datang. Apapun harapan/ tujuan seseorang akan membangkitkan kekuatan yang mendorong menuju masa depan.
c.    Penilaian
Individu berkedudukan sebagai penilai tentang dirinya setiap hari untuk mengukur apakah bertentangan dengan harapannya. Hasil pengukuran tersebut disebut rasa harga diri, yang pada dasarnya berarti seberapa besar menyukai diri sendiri.
 

Konsultasi Skripsi; Faktor Perilaku Asertivitas

Menurut Rathus dan Nevid (1983), terdapat enam hal yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif, yaitu:
1.    Jenis kelamin.
 Jenis kelamin mempengaruhi perkembangan perilaku asertif. Wanita pada umumnya lebih sulit bersikap asertif seperti mengungkapkan perasaan dan pikiran dibandingkan dengan laki-laki. Dilihat dari alasan individu berperilaku non asertif, yang dikemukakan (Zulkaida, 2006) tentang kesalahan dalam menganggap perilaku non asertif sebagai suatu bentuk kesopanan, sehingga menganggap perilaku diam sebagai bentuk kesopanan.
2.    Konsep Diri
Individu yang berhasil membentuk perilaku asertif adalah individu yang harus memiliki keyakinan. Dalam hal ini adalah orang yang mampu membentuk pandangan terhadap diri sendiri yang baik. Pandangan terhadap diri sendiri inilah yang disebut sebagai konsep diri. Orang yang memiliki konsep diri yang tinggi memiliki kekuatiran sosial yang rendah sehingga mampu mengungkapkan pendapat dan perasaan tanpa merugikan orang lain dan diri sendiri. (Zulkaida, 2006).
3.    Kebudayaan.
Kebudayaan juga mempengaruhi perilaku yang muncul. Kebudayaan biasanya dibuat sebagai pedoman batas-batas perilaku setiap individu. Dalam berbagai kebudayaan menunjukkan bahwa kesopnan seringkali dikaitkan dengan sikap diam dan pasraha. Pada kenyataannya sikap diam dan pasrah terkadang tidak menunjukkan suatu solusi terhadap permasalahan (Zulkaida, 2006)
4.    Tingkat pendidikan.
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin luas wawasan berpikir sehingga memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih terbuka. Oleh karenanya orang yang memiliki asertivitas rendah, umumnya disebabkan tidak adanya keterampilan untuk berperilaku asertif, mereka merasa tidak memiliki keterampilan untuk berperilaku asertif (Zulkaida, 2006)
5.    Tipe kepribadian.
Factor tersebut mempengaruhi asertivitas karena pada umumnya orang yang memiliki kepribadian yang berbeda akan memiliki perbedaan pula dalam mengungkapkan ekspresi mereka. Dimana seseorang akan bertingkah laku berbeda dengan individu yang memiliki kepribadian lain. (Zulkaida, 2006)

Konsultasi Skripsi; Tiper Perilaku Asertif

Lange & Jakubowski (1978) menyatakan beberapa tipe perilaku asertif. Tipe-tipe perilaku asertif tersebut adalah:
a.    Basic Assertion.
Basic Assertion mengacu pada ekspresi penghargaan secara sederhana terhadap hak, keyakinan, perasaan atau opini individu tanpa melibatkan keterampilan social lain seperti empati, konfrontasi, atau persuasi. Selain itu Basic Assertion juga melibatkan pengekspresian perasaan dan penghargaan terhadap orang lain.
b.   Emphatic Assertion.
Bentuk ini dilakukan jika seseorang ingin untuk melakukansesuatu yang lebih daripada sekedar mengekspresikan perasaan atau kebutuhan mereka secara sederhana. Individu menyampaikan pernyataan yang menunjukkan adanya pemahaman akan situasi atau perasaan orang lain dan diikuti dengan pernyataan lain yang menunjukkan usaha mempertahankan hak pribadi yang bersangkutan.
c.    Escalating Assertion.
Masters (Lange & Jakubowski, 1978) menyatakan bahwa escalating assertion, dimulai dengan respon asertif minimal yang biasanya dapat mencapai tujuan dengan emosi negative dan usaha minimum serta kemungkinan konsekuensi negative yang kecil. Ketika orang lain tidak merespon dan terus melanggar hak pribadi, individu secara bertahap meningkatkan tingkah laku asertifnya tanpa menjadi agresif. Bentuk escalating assertion dapat berupa permintaan sampai tuntutan, mulai dari mencoba memilih sampai langsung menolak, atau mulai dari emphatic assertion sampai basic assertion yang tegas.
d.   Confrontative Assertion.
Bentuk ini digunakan ketika kata-kata seseorang bersifat kontradiktif dengan perbuatannya. Tipe ini meliputi penggambaran secara objektif mengenai apa yang telah dikatakan seseorang, yang sebenarnya telah dilakukan dan apa yang anda diinginkan.
e.    Language Assertion.
Language terutama berguna untuk orang-orang dalam mengekspresikan perasaan-perasaan negatif. Prinsip-prinsip dalam Language Assertion dapat membantu individu mempelajari bagaimana menentukan perasaan individu.
Sedangkan L’Abate & Milan (1985) menjelaskan ada 3 (tiga) tipe perilaku asertif yaitu:
a.    Asertif untuk menolak (Refusal Assertiveness)
Perilaku asertif dalam konteks ketidaksetujuan atau ketika seseorang berusaha untuk menghalangi atau mencampuri pencapaian tujuan orang lain. hal ini membutuhkan keterampilan social untuk menolak atau menghindari campur tangan orang lain.
b.   Asertif untuk memuji (Commendatory Assertiveness)
Ekspresi-ekspresi dari perasaan positif seperti penghargaan, apresiasi dan menyukai dapat dilihat untuk memfasilitasi hubungan interpersonal yang baik. Kemampuan untuk memuji orang lain dalam cara yang hangat, tulus dan bersahabat dapat menjadi kemampuan yang memiliki kekuatan hebat dan berfungsi untuk membuat seseorang menjadi penguat dan partner interaksi yang menyenangkan.
c.    Asertif untuk meminta (Request Assertiveness)
Perilaku asertif jenis ini terjadi ketika seseorang meminta orang lain untuk membantunya mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhannya. Perilaku asertif ini sering dipadukan dengan penolakan, dalam situasi menolak permintaan orang lain dan meminta perubahan tingkah laku peminta. Fungsi dari jenis perilaku asertif ini adalah agar menghindari terjadinya konflik yang sama dikemudian hari.

Konsultasi Skripsi; Ciri-Ciri Perilaku Asertif

Lange dan Jakubowski (1978) mengemukakan lima ciri-ciri individu dengan perilaku asertif. Ciri-ciri yang dimaksud adalah:
a.    Menghormati hak-hak orang lain dan diri sendiri Menghormati orang lain berarti menghormati hak-hak yang mereka miliki, tetapi tidak berarti menyerah atau selalu menyetujui apa yang diinginkan orang lain. Artinya, individu tidak harus menurut dan takut mengungkapkan pendapatnya kepada seseorang karena orang tersebut lebih tua dari dirinya atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
b.   Berani mengemukakan pendapat secara langsung Perilaku asertif memungkinkan individu mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan kebutuhan lainnya secara langsung dan jujur.
c.    Kejujuran bertindak jujur berarti mengekspresikan diri secara tepat agar dapat mengkomunikasikan perasaan, pendapat atau pilihan tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain.
d.   Memperhatikan situasi dan kondisi semua jenis komunikasi melibatkan setidaknya dua orang dan terjadi dalam konteks tertentu. Dalam bertindak asertif, seseorang harus dapat memperhatikan lokasi, waktu, frekuensi, intensitas komunikasi dan kualitas hubungan.
e.    Bahasa tubuh dalam bertindak asertif yang terpenting bukanlah apa yang dikatakan tetapi bagaimana menyatakannya. Bahasa tubuh yang menghambat komunikasi, misalnya: jarang tersenyum, terlihat kaku, mengerutkan muka, berbicara kaku, bibir terkatup rapat, tidak berani melakukan kontak mata dan nada bicara tidak tepat.
Alberti dan Emmons (2002) secara umum orang yang berperilaku asertif, akan memiliki karakteristik sebagai berikut:
a)   Mengekspresikan diri sendiri.
b)   Menghomati hak-hak orang lain.
c)   Jujur.
d)  Langsung dan tegas.
e)   Menyetarakan, menguntungkan kedua pihak dalam sebuah hubungan baik dengan kata-kata (termasuk isi pesan) maupun tanpa kata-kata (termasuk gaya pesannya).
f)    Positif sesekali (mengekspresikan kasih sayang, pujian, penghargaan) dan negatif sesekali (mengekspresikan batasan, amarah, kritik).
g)   Layak bagi orang dan situasi masing – masing, bukan universal.
h)   Bertanggung jawab secara social.
i)     Belajar, bukan pembawaan lahiriah
Karakteristik maupun ciri-ciri di atas turut mendukung seseorang dalam menampilkan perilaku asertif, dan turut menggambarkan bahwa asertivitas tersebut bukan pembawaan lahiriah namun suatu ketrampilan interpersonal yang dapat dipelajari, dikembangkan dan ditingkatkan (Alberti & Emmons, 2002; Dickson & Hargie, 2003).

Konsultasi Skripsi; Aspek Asertivitas

Fansterheim dan Bear (1991) menyatakan bahwa perilaku asertif meliputi  empat aspek, yaitu:
a.    Merasa bebas untuk mengemukakan pendapat tentang apa yang dipikirkan  dan apa yang diinginkan dengan kata-kata dan tindakan, individu mengeluarkan pernyataan “inilah diriku, inilah yang saya rasakan, saya
b.    pikirkan, dan saya inginkan.”
c.    Mampu berkomunikasi dengan orang lain. Orang yang asertif akan dapat  berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah dikenal maupun belum  dikenal sebelumnya. Komunikasi ini selalu terbuka, langsung, jujur dan  sebagaimana mestinya.
d.   Mempunyai pandangan aktif dalam hidupnya, dengan kata lain orang yang  asertif mempunyai usaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
e.    Sebagai kebalikan menyolok dari orang yang pasif yang hanya menunggu  terjadinya sesuatu, orang yang asertif justru berusaha agar sesuatu itu terjadi.
f.     Bertindak dengan cara yang dihormati, artinya menerima keterbatasannya  sehingga kegagalan tidak membuatnya kehilangan harga diri.
Menurut Lazarus (dalam Rakos, 1991), perilaku asertif mengandung  beberapa aspek, yaitu kemampuan untuk berkata tidak, kemampuan untuk  meminta pertolongan, kemampuan untuk menyatakan perasaan-perasaan positif  dan negatif, kemampuan untuk berinisiatif, melangsungkan dan menyelesaikan  suatu pembicaraan.
Christoff dan Kelley (dalam Ardhiana, 2000) menjelaskan bahwa  asertivitas mencakup tiga klasifikasi umum perilaku yaitu tepat  dalam menolak  permintaan orang lain, ekspresi yang tepat dari pikiran dan perasaan, serta  ekspresi yang tepat dari keinginan. Hal yang sama dalam aspek-aspek dari perilaku asertif oleh Alberti dan Emmons (2002) yang  telah diterjemahkan antara lain:
a.    Mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia. Mampu menempatkan  kedua belah pihak secara setara, memulihkan keseimbangan kekuatan dengan  cara memberikan kekuatan pribadi terhadap yang lemah serta menjadikannya mungkin bagi setiap orang untuk menang dan tidak ada seorang pun yang  merugi.
b.    Bertindak menurut kepentingan sendiri. Mengacu kepada kesanggupan untuk  membuat keputusan sendiri tentang karier, hubungan, gaya hidup, dan jadwal, untuk berinisiatif mengawali pembicaraan dan mengorganisir kegiatan, untuk  berinisiatif mengawali pembicaraan dan mengorganisir kegiatan, untuk  mempercayai penilaian sendiri, untuk menetapkan tujuan dan berusaha meraih itu semua, untuk meminta bantuan dari orang lain, untuk berpartisi dalam pergaulan.
c.    Membela diri sendiri. Mencakup perilaku seperti berkata tidak, menentukan batas-batas bagi waktu dan energi, menanggapi kritik atau hinaan atau  amarah, mengekspresikan atau membela sebuah pendapat.
d.   Mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman. Berarti kesanggupan  untuk kurang setuju, menunjukkan amarah, memperlihatkan kasih sayang atau  persahabatan, mengakui rasa takut atau cemas, mengekspresikan persetujuan  atau dukungan, bersikap spontan tanpa adanya rasa cemas yang menyakitkan.
e.    Menerapkan hak-hak pribadi. Berhubungan dengan kesanggupan sebagai  warga negara, sebagai konsumen, sebagai anggota dari sebuah organisasi atau  sekolah atau kelompok kerja, sebagai partisipan dalam peristiwa umum untuk  mengekspresikam opini, untuk bekerja bagi perubahan, untuk menanggapi  pelanggaran dari hak seseorang atau hak orang lain.
f.     Tidak menyangkal hak-hak orang lain. Berarti mencapai ekspresi pribadi  tanpa kritik tidak adil terhadap orang lain, tanpa perilaku yang menyakitkan  terhadap orang lain, tanpa menjuluki, tanpa intimidasi, tanpa manipulasi,  tanpa mengendalikan orang lain.

Kelley (dalam Hapsari, 2007) menyatakan bahwa aspek-aspek perilaku asertif yang dikemukakan adalah:
a.    Permintaan yaitu kemampuan individu dalam mengemukakan haknya sendiri, meminta pertolongan dan tanggung jawab orang lain tentang suatu hal.
b.   Penolakan yaitu kemampuan individu untuk menolak keinginan, ajakan ataupun saran yang tidak sesuai dengan diri sendiri.
c.    Pengekspresian diri yaitu kemampuan individu untuk berani mengekspresikan perasaan dan pikiran secara tepat.
d.   Pujian yaitu kemampuan individu dalam memberikan pujian atau penghargaan secara tulus pada orang lain serta sikap individu yang sewajarnya dalam menerima pujian dari orang lain.
e.    Berperan dalam pembicaraan yaitu kemampuan individu untuk memulai atau berinisiatif dalam pembicaraan