Selasa, 12 Agustus 2014

Metode penelitian pendidikan

Metode penelitian pendidikan menurut prof .Dr Nana Syaodih
Jenis-jenis Penelitian Berdasarkan Fungsinya
Secara umum penelitian mempunyai dua fungsi utama ,yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktek .Pernyataan sederhana ini banyak mengundang  pertanyaan.apakah penelitian dapat mengembangkan batang ilmu?Bagaimana mungkin pengetahuan ilmiah yang bersifat tidak praktis dapat memperbaiki praktik pendidikan?pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hal baru,selalu muncul terhadap fungsi penelitian.
Pemahaman tentang bagaimana penelitian berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki praktik pendidikan dikaitkan dengan perbedaan jenis-jenis penelitian berkenaan denga fungsinya.Secara umum dan mendasar dapat dibedakan denga fungsinya .Secara umum dan mendasar dapat dibedakantiga macam penelitian,yaitu penelitian dasar atau basic research,penelitian terapan atau applied research dan penelitian evaluative atau evaluative research.
Penelitian dasar mempunyai andil yang sangat besar dalam mengembangkan batang ilmu pengetahuan ” a scientific body of knowledge” .Generalisasi merupakan perluasan temuan satu penelitian sebagai pengetahuan bagi populasi dan situasi lain.Temuan-temuan penelitian dasar dapat memperkaya teori.Penelitian terapan dan evaluative ditujukan untuk meneliti praktik,meneliti penerapan teori atau mengevaluasi pelaksanaan program dan kegiatan .Hasil-hasil penelitian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki praktek pendidikan.
Penelitian Dasar
Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research),diarahkan pada pengujian teori,dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa menghubungkan hasilnya untuk kepentingan praktik,Penelitian ini memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan dan pengujian teori-teori.Bertolak dari suatu teori,prinsip dasar atau generalisasi,penelitian dasar diarahkan untuk mengetahui,menjelaskan dan memprediksi fenomena-.fenomena alam dan social.teori bias didukung atau tidak didukung oleh pengalaman >teori yang  didukung oleh kenyataan-kenyataanempiris disebut hokum ilmiah (scientific law) .Hukum ilmiah merupakan suatu generalisasi yang dapat menjelaskan kasus-kasus individual.Dalam generalisasi terkandung abstraksi yang merupakan salah satu kekuatan dari ilmu ,dan abstraksi ini ditarik dari kenyataan-kenyataan sehari-hari.
Penelitian dasartidak diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah social.Para ilmuwan berpera mengembangkan pengetahuan dan tidak perlu selalu memiliki implikasi praktis.Hasil –hasil penelitian dasar mempengaruhi kehidupan praktis setelah periode waktu tertentu,sebab pengetahuan baru akan memberikan tantangan terhadap nilai dan dogma-dogma yang telah terbentuk.Pengetahuan baru secara tidak langsung akan mempengaruhi pemikiran dan persepsi orang ,yang akibatnya bisa mempengaruhi adalah:pertama menambah pengetahuan kita dengan prinsip-prinsip dasar dan hukum-hukum ilmiah ,dan kedua meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah.
Penelitian Terapan
Penelitian terapan (applied research) berkenaan dengan kenyataan –kenyataan praktis,penerapan dan pengembangan pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dasar dalm kehidupan nyata.penelitian dasar berfungsi menghasilkan pengetahuan untuk mencari solusi tentang masalah-masalah umum,penelitian terapan berfungsi mencari solusi tentang  masalah-masalah dalam bidang tertentu.
Penelitian ini menguji manfaat dari teori-teori ilmiah,mengetahui hubungan empiris dan analisis dalam bidang-bidang tertentu.Implikasi dari penelitian terapan dinyatakan dalam rumusan yang brsifat umum,bukan rekomendasi yang merupakan tindakan langsung.Penelitian terapan seperti halnya penelitian dasar bersifat abstrak dan umum dalam bidang tertentu,menggunakan bahasa yang lazim dalam bidang tersebut.Penelitian difokuskan pada pengetahuan teoretis dan praktis dalam bidang tertentu ,bukan pengetahuan yang bersifat universal.Hasil penelitian terapan menambah oengetahuan yang berbasis penelitian dalam bidang-bidang tertentu.Dampak dari penelitian terapan terasa setelah periode waktu tertentu.Setelah sejumlah  hasil studi dipublikasikan dan dibicarakan dalam periode waktu tertentu ,pengetahuan tersebut akan mempengaruhi cara berfikir dan persepsi para praktisi .Penelitian terapan mendorong penelitian lebih lanjut ,menyarankan teori dan praktek baru serta mendorong pengembangan metodologi.
Penelitian Evaluatif
Penelitian evaluatif (evaluatif research)difokuskan pada suatu kegiatan dalam suatu unit (site) tertentu .Kegiatan tersebut dapat berbentuk program .proses maupun hasil kerja,sedangkan unit dapat berupa tempat,organisasi,maupun lembaga.Penelitian ini dapat menilai manfaat atau kegunaan,sumbangan atau kelayakan dari suatu kegiatan dalam satu unit.Apakah suatu kegiatan ,program atau kegiatan memberikan manfaat,sumbangan atau hasil seperti yang diharapakan?apakah suatun kegiatan,programatau pekerjaan layak dilihat dari segi biaya,biaya pengembangan,implementasi dan penyebaran,biaya untuk bahan-bahan ,tempat pengembangan staf,dukungan masyarakat.
Penelitian evaluatif berbeda dengan evaluasi formal.Evaluasi formal bisa dilakukan oleh para peneliti atau pelaksana dalambidangnya,tidak membutuhkan latihan-latihan khusus.untuk dapat melakukan penelian evaluatif dibutuhkan latihan khusus dalam beberapa disiplin ilmu ,metodologi dan ketrampilan berhubungan dengan komunikasi secara interpersonal.Penelitian evaluatif  yang bersifat  komprehensif membutuhkan data kuantitatif dan kualitatif dari beberapa studi terkait yang dilaksanakan dalam tahapan kegiatan.
Pelaksanaan penelelitian evaluatif membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa praktis sesuai dengan situasi yang diteliti,tetapi juga berfokus pada segi –segi yang berarti bagi para penentu kebijakan .Penelitian evaluatif membantu para pimpinan untuk menentukan kebijakan .Hasil-hasil peneltian evaluatif kurang bersifat generalisasi ,sebab evaluasi lebih terkait dengan kegiatan yang berlangsung dalam uni tertentu.
Penelitian evaluatif dapat menambah pengetahuan tentang kegiatan tertentu dan dapat mendorong penelitian atau pengembangan lebih lanjut.Sejumlah penelitian evaluatif dalam kegiatan sejenis yang dilaksanakan dalam unit-unit berbeda dapat menambah pengetahuan dalam bidang aplikatif.
Ada dua macam penelitian evaluatif yaitu penelitian tindakan (action research) dan penelitian kebijakan (policy study).Penelitian tindakan dilakukan oleh para pelaksana untuk memcahkan masalah yang dihadapi atau memperbaiki suatu pelaksanaan suatu kegiatan. Guru melakukan penelitian tindakan untuk memecahkan masalah atau meningkatkan program pengajarannya.Para petugas pemasaran melakukan penelitian tindakan memecahkan masalh dan memperbaiki layanan pemasaran.Penelitian tindakan yang dewasa ini banyak dilakukan adalah penelitian tindakan kolaboratif (collaborative action research).Dalam penelitian ini para pelaksan bekerja sama denag konsultan atau peneliti dari luar untuk merancang dan melaksanakan penelitiaanya.Penelitian tindakan menekankan baik pada proses maupun hasil perubahan –perubahan strategi dan tehnik yang digunakan.
Analisis  kebijakan mengevaluasi kebijakan pemerintah untuk membantu para penentu kebijakan pemerintah untuk memberikan rekomendasi-rekomendasi yang praktis.penelitian kebijakn memfokuskan kajiannya pada kebijakan yang lalu atau yang berlaku sekarang,dan diarahkan untuk : (1) meneliti formulasi kebijakan ,sasarannya siapa-siap saja ,(2) menguji pelaksanan suatu program terkait dengan sesuatu kebijakan ,(3) menguji keefektivan dan keefisiensi kebijakan.
McMillan dan Schumacher (2001) membedakan penelitian dasar.terapan dan evaluatif berdasarkan bidang penelitian ,tujuan,tingkat generalissi dan penggunaan hasilnya.
Jenis-jenis Penelitian Berdasarkan Tujuannya
Selain berdasarkan pendekatan dan fungsinya ,penelitian juga dapat dibedakan berdasarkan tujuannya .Berdasarkan tujuan dibedakan antara penelitian deskriptif,prediktif,improftif dan eksplanatif.
Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif (descritive research) ditujukan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya.Dalam studi ini para peneliti tidak melakukan manipulas atau memberikan perlakuan-perlakuan tertentu terhadap objek penelitian ,semua kegiatan atau peristiwa berjalan seperti apa adanya.Penelitian deskriptif dapat berkenaan dengan kasus-kasus tertentu atau sesuatu populasi yang cukup luas.Dalam penelitian deskriptif dapat digunakan pendekatan kuantitatif ,pengumpulan dan pengukuran data yang berbentuk angka-angka ,atau pendekatan kualitatif,pengambaran keadaan secara naratif kualitatif.Penelitian deskriptif dapat dilakukan pada saat ini atau dalam kurun waktu yang singkat,tetapi dapat juga dilakukan dalam waktu yang singkat,tetapi dapat jga dilakukan dalm kurun waktu yang cukup panjang.Penelitian yang berlangsung saat ini disebut penelitian deskriptif,sedang penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang disebut penelitian longitudinal.
Penelitian Prediktif
Penelitian prediktif (predictive research) Studi ini ditujukan untuk memprediksi atau memperkirakan apa yang akan terjadi atau berlangsung pada saat yang akan dating berdasarkan hasil analisis keadaan saat ini.Penelitian deskriptif dilakukan melalui penelitian yang bersifat korelasional (correlational studies) dan kecenderungan (trend studies).Melalui penelitian korelasional,selain dapat dicari korelasi antara dua atau lebih dari dua variable juga dapat dihitung regresinya.Melalui perhitungan regresi  ini,baik regresi parsial maupun multiple dapat diprediksi dampak atau konstribusi dari satu atau lebih dari satu variable terhadap variable lainnya.
Penelitian prediktif juga dapat dilakukan melalui studi kecenderungan .Dengan melihat perkembangan selama waktu tertentu,pada saat ini atau saat yang lalu dapat dilihat kecenderunganya pada masa yang akan dating.Prediksi tentang jumlah penduduk lima atau sepuluh tahun yang akan dating bias dihitung berdasarkan perkembangan penduduk selama lima sampai sepuluh tahun yang lalu.
Penelitian Improftif
Penelitian Improftif(Improtive research) ditujukan untuk memperbaiki,meningkatkan atau menyempurnakan suatu keadaan,kegiatanatau pelaksanaan suatu program.Banyak kegiatan atau program dalam pelaksanaan pendidikan,seperti pelaksanaan kurikulum, pembelajaran,evaluasi berbagai mata pelajaran,proram:praktik laboratorium,praktek ketrampilan,bimbingan siswa,ektrakulikuler,pengawasan sekolah,layanan perpustakaan,program pelatihan sekolah,guru,stafadminitrasi,dll.Untuk memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan program atau kegiatan digunakan penelitian tindakan atau action research,sedang program yang standart atau model yang digunakan penelitian dan pengembangan atau research and development.Penelitian eksperimental sebagai bagian dari metode penelitian dan pengembangan atau sebagai metode tersendiri untuk mengetahui pengaruh dari suatu hal terhadap hal lainnya juga dapat dilakukan dalam penelitian improftif.
Penelitian Eksplanatif
Penelitian eksplanatif(eksplanative research )ditujukan untuk memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau variable.Dalam kehidupan kita menghadapi banyak hal ,fakta,kegiatan ,peristiwa,perkembangan,konflik,dsb.yang dalam penelitian kita sebut variable.Variabel dalam pendidikan bias berupa guru mengajar,membimbing,mengevaluasi,murid belajar,mengerjakan tugas,bolos,lulus ujian,buku kurang,kelas sempit dll.Pada saat mungkin kita memandang variable –variabel tersebut tidak punya arti apa-apa,tetap[I pada saat lain kita melihatnya sebagai hal yang membinggungkan ,tidak jelas dan semrawut.
Penelitian eksplanatif mencoba mencari kejelasan hubungan anatar hal tersebut.Hubungan bisa bebenruk hubungan korelasional atau saling hubungan,sumbangan atau kontribusi satu variable terhadap variable lainnya ataupun hubungan sebab akibat.Hubungan –hubungan tersebut dikaji dalam penelitian korelasional ,dan penelitian eksperimental .Hubungan juga dapat dilihat dari perbedaan yang melatarbelakanginya,yang dapat diungkap melalui penelitian kausal komparatif.

Validitas Desain Kualitatif
Validitas desain menunjukkan tingkat kejelasan  fenomena hasil penelitian sesuai dengan kenyataan.Dalam penelitian kuantitatif validitas iniberkenaan dengan validitas internal atau inferensi kausal,validitas eksternal atau generalisasi,objektivitas atau sesuai kenyataan dan realibilitas atau keajegan.Penelitian kualitatif memiliki asumsi,desain dan metode yang berbeda dengan penelitian kuantitatif ,dengan demikian criteria validitasnya juga memiliki perbedaan.
Validitas Desain
 Validitas desain penelittian kualitatif menunjukkan sejauh mana tingkat interpretasi dan konsep-konsep yang diperoleh memiliki makna yang sesuai antara partisipan denag peneliti.Baik peneliti maupun partisipan memiliki kesesuaian dalam mendikriptifkan dan menggambarkan peristiwa terutama dalam menarik makna dan peristiwa.
Strategi Untuk Meningkatkan Validitas
Validitas penelitian kualitatif terletak pada tehnik pengumpulan dan analisis data.Validitas tersebut dapat dicapai melalui kombimasi dari sepuluh strategi peningkatan validitas, yaitu:
1)        Pengumpulan data yang relative lama: memungkinkan analisa dan melengkapi data secara berangsur agar memungkinkan ada kesesuaian antara temuan dan kenyataan.
2)        Strategi multi metode:memungkinkan melakukan paduan beberapa teknik pengumpulan data  seperti: wawancara,observasi,studi documenter,dan sumber (kepala sekolah,guru,siswa,)dalam pengumpulan dan analisis data  (triangulasi).
3)        Bahasa partisipan kata demi kata:mendapatkan rumusan dan kutipan yang rinci.
4)        Descriptor inferensi yang rendah :pencatatn yang lengkap dan detil baik untuk sumber situasi maupun orang.
5)        Peneliti beberapa orang :persetujuan data deskriptif yang dikumpulkan oleh tim peneliti.
6)        Pencatat data mekanik :mengunakan perekam foto,video dan audio.
7)        Partisipan sebagai peneliti:pengunaan catatan-catatan dari partisipan bebentuk diari,catatn anekdot untuk melengkapi.
8)        Pengecekan anggota:pengecekan data oleh sesame anggota selama pengumpulan dan analisis data.
9)        Reviu oleh partisipan:bertanya kepada partisipan untuk mereviu data,melakukan sintesis semua hasil wawancara dan observasi.
10)    Kasus-kasus negative:mencari,mencatat,menganalisis melaporkan data dari kasus-kasus negative atau yang berbeda dengan pola yang ada.
Subjektivitas dan Refleksivitas
Penelitian kualitatif bersifat subjektif dan refleksif.Dalam penelitian kualitatif tidak digunakan instrument standart,tetapi peneliti berperan sebagai instrument .Kadang-kadang disiapkan daftar pertanyaan sebagai pedoman tetapi dalam pelaksanaannya dikembangkan dan disesuaikan dengan kenyataan di lapangan.Data dikumpulkan secara verbal diperkaya dan diperdalam dengan hasil penglihatan,pendengaran,persepsi,penghayatan dari peneliti.Penelitian kualitatif melibatkan segi-segi subjektif,tetapi tidak berarti peneliti bebas menafsirkan apa yang dia lihat,dengar,rasakan semau dia,da harus jujur atau disiplin terhadap dirinya.
Erickson(1973) menyebutkannya sebagai”disciplined subjectivity”,yang dia artika sebagai “the research”s self questioning and useof personal experiental emphaty in data collection”.McMillan dan Schumacher (2001) menegaskan :discipline subjectivity reminds many researcher that the inquirer is part of the setting,context,and social phenomenon that he or she seeks to understand”.dengan demikian dalam penelitian ini,peneliti baur dengan objek yang diteliti.
Penelitian kualitatif juga bersifat refleksif.Refleksivitas (reflexivity)merupakan pangkajian yang cermat dan hati-hati terhadap seluruh proses penelitian.McMillan dan Schumacher terhadap seluruh proses penelitian.McMillan dan Schumacher (2001) ,Attheide&Johnson (1998),dan bebrapa peneliti lain mengartikan “reflexivity is related ,broader concept that includes rigorous examination of one”s personal and theoretical commitment to see how they serve as resources for selecting one of several qualitative approaches,framing the research problem,generating particular dat,ways of relating to participants,and for developing specific interpretations.”
Walaupun penelitian kualitatif bersifat subjektif,tetapi penelitian ini juga memiliki objektivitas,tetapi berbeda dengan objektivitas pada penelitian kuantitatif .Objektivitas dalam penelitian kualitatif berarti jujur ,peneliti mencatat apa yang dilihat,didengar,ditangkap,dirasakan berdasarkan persepsi dan keyakinan dia,tidak dibuat-buat atau direka-reka.Data yang ditemukan dianalisis secara cermat dan teliti,disusun,dikategorikan secara sistematik ,dan ditafsirkan berdasarkan pengalaman ,kerangka pikir dan persepsi peneliti tanpa prasangka dan kecenderungan-kecendurungan tertentu.
Subjektivitas Interpersonal
Dalam penelitian yang bersifat interaktif,ketrampilan membina hubungan interpersonal memegang peranan penting.Ketrampilan ini meliputi kemampuan menumbuhkan kepercayaan,menjaga hubungan baik,tidak menilai ,menghormati norma situasi,memiliki sensitivitas terhadap isu-isu etika.Peneliti berhubungan dengan partisipan sebagai pribadi,buka “penghisap” informasi dari lingkungan.Dalam interaksi yang bersifat tatap muka suausana perasaan anatar kedua pihak memegang peranan penting.Kemajuan penelitian seringkali sangat ditentukan oleh hubungan yang dibina oleh peneliti dengan partisipan.Beberapa ketrampilan dasar dalam berinteraksi dengan orang lain adalah aktif,sabar,pendengar yang nalar,menunjukkan sikap empatik,menghargai kondisi parstisipan.Hubungan tersebut bersifat pribadi,berbeda antara satu partisipan dengan partisipan lainnya.
Data yang diperoleh tetap valid meskipun bersifat khusus dan dipengaruhi oleh kehadiran peneliti.Kemungkinan bias dapat diperkecil dengan waktu penelitaian yang cukup lama,mengunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam .Waktu yang panjang juga membuang data yang tidak tepat .Reaksi partisipan ,keleluasaan dalam melengkapi data dan konfirmasi yang dilakukan pada setiap tahap penelitian akan menimimalkan bias.
 Strategi untuk Meningkatkan Refleksivitas
Untuk meningkatkan refleksivitas dalam pengumpulan data,peneliti dapat menggabungkan beberapa dari cara berikut:1) memilih teman (peer debrifer) yang dapat membantu mempermudah analisis dan interpretasi data,2) membuat catatan harian (field log)yang memuat tanggal ,jam,dan tempat,orang dan kegiatan untuk berhubungan dengan partisipan,3) jurnal lapangan yaitu catatan tentang kegiatan dan perubahn-perubahan yang dibuat selama proses pengumpulan data,alas an perubahan dan perkiraan validitas data,4) catatn tentang pertentangan etika,keputusan dan tindakan dalam jurnal lapangan,5) tehnik pengelolaan pencatatan data,pengkodean,pengelompokan,6) melakukan kegiatan konfirmasi formal seperti survai,kelompok utama,wawancara,7) melakukankritik diri dengan mengajukan pertanyaan tentang peranan dan kegiatan dalam seluruh proses penelitian.
Perluasan Temuan Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif menghasilkan deskripsi analisis tentang fenomena-fenomena secar murni yang bersifat informative dan berguna bagi masyarakat peneliti,pembaca dan juga partisipan .penelitian kualitatif bersifat studi kasus ,kasus tunggal tersebut tidak dimaksudkan mewakili sesuatu populasi .Dengan perkataan lain penelitian kualitatif tidak ditujukan untuk membuat generalisasi ,tetapi untukmemperluas temuan,yang memungkinkan pembaca atau peneliti lain dapat memahami situasi yang sama dan mengunakan hasil penelitian ini dalam praktik.Pengetahuan dihasilkan bukan melalui replikasi tetapi karena adanya evidensi yang mempunyai kekuatan  yang lebih besar (preponderance)yang ditemukan dari kasus-kasus terpisah sepanjang waktu.
Ada sepuluh komponen desain yang mempengaruhi peluasan temuan :
1)        Peranan peneliti dalam menjalin hubungan social dengan partisipan
2)        Pemilihan Informan :criteria ,alas an dan penentuan informan dilakukan dalam kaitan dengan sampel purposive
3)        Konteks social :pengumpulandata dirancang dalam tatanan social,baik fisik,social,hubungan interpersonal,maupun fungsional.
4)        Strategi pengumpulan data:mengunakan macam-macam metode meliputi wawancar mendalam,pengamatan partisipatif,dokumen(triangulasi).
5)        Strategi analisis data: digambarkan prosesnya.
6)        Narasi murni: deskripsi yang padat disajikan secara naratif analitik.
7)        Kekhasan : kelompok atau lokasi yang memiliki karakteristik yang istimewa
8)        Premis-premis analitis :teori –teori dasar dan kerangka pemikiran penelitian
9)        Penjelasan alternative:rencana penjelasan yang dapat diterima dan ditolak
10)    Kriteria lain setelah penelitian selesai:
Langkah-langkah Pengumpulan dan Analisis Data
Pengumpulan dan analisis data penelitian kualitatif bersifat interaktif ,berlangsung dalam lingkaran yang saling tumpang tindih.Langkah-langkahnya biasa disebut strategi pengumpulan dan analisis data ,teknik yang digunakan dan data yang diperoleh.Secara umum langkah-langkahnya ada kesamaan antara satu penelitian dengan penelitian lainya ,tetapi di dalamnya ada variasi.
1)   Perencanaan
Perencanaan meliputi perumusan dan pembatasan masalah serta merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diarahkan pada kegiatan pengumpulan data.Kemudian merumuskan situasi penelitian ,satuan dan lokasi yang dipilih serta informan –informan sebagai sumber data.Deskripsi tersebut merupakan pedoman bagi pemilihan dan penentuan sampel purposive
2)   Memulai pengumpulan data
Sebelum pengumpulan data dimulai,peneliti berusaha menciptakan hubungan baik (rapport),menumbuhkan kepercayaan serta hubungan yang akrab dengan individu-individu dan kelompok yang menjadi sumber data.Peneliti memulai wawancara dengan beberapa informan yang telah dipilih untukkemudian dilanjutkan dengan teknik bola salju atau member check .Pengumpulan data melalui interview dilengkapi dengan data pengamatan dan data dokumen (triangulasi) .Data pada pertemuan pertama belum dicatat ,tetapi data pada pertemuan-pertemuan selanjutnya dicatat,disusun,dikelompokkan secara intensif kemudian diberi kode agar memudahkan dalam analisis data.
3)   Pengumpulan data dasar
Setelah peneliti berpadu dengan situasi yang diteliti,pengumpulan data lebih diintensifkan dengan wawancara yang lebih mendalam,observasi dan pengumpulan dokumen yang lebih besar intensif.Dalam pengumpulan data dasar peneliti benar-benar “melihat,mendengarkan,membaca dan merasakan”apa yang ada dengan penuh perhatian.Sementara pengumpulan data terus berjalan,analisis data mulai dilakukan ,dan keduanya terus dilakukan berdampingan sampai tidak ditemukan data baru lagi.Deskripsi dan konseptualisasi diterjemakan dan dirangkumkan dalam diagram-diagram yang bersifat integrative.Setelah pola-pola dasar terbentuk ,peneliti mengidentifikasi ide-ide dan fakta-fakta yang membutuhkan penguatan dalam fase penutup.
4)   Pengumpulan data penutup
Pengumpulan data berakhir setelah peneliti meninggalkan lokasi penelitian ,dan tidak melakukan pengumpulan data lagi.Batas akhir penelitian tidak bisa ditentukan sebelumnya seperti dalam penelelitian kuantitatif,tetapi dalam proses penelitian sendiri.Akhir masa penelitian terkait dengan masalah,kedalaman dan kelengkapan data yang diteliti.Peneliti mengakhiri pengumpulan data setelah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan atau tidak ditemukan lagi data baru.
5)   Melengkapi
Langkah melengkapi merupakan kegiatan menyempurnakan hasil analisis data san menyusun fakta-fakta hasil temuan lapangan,Kemudian peneliti membuat diagram-diagram,table ,gambar-gambar dan bentuk-bentuk pemaduan fakta lainya,Hasil analisis data,diagram,bagan,table,dan gambar-gambar tersebut diinterpretasikan,dikembangkan menjadi prosisi dan prinsip-prinsip. 

Penulisan Aitem Skala Psikologi

Blue Print
Perbandingan proposional bobot aspek tersebut sedapat mungkin didasari oleh teori atau hasil analisis factor yang telah pernah dilakukan sebelumnya .Apabila tidak diperoleh laporan hasil analisis factor,maka pembobotan aspek keperilakuan dapat dikembalikan pada penilaian para ahli berdasarkan kepatutan akal (common sense) .Dalam banyak kasus ,bila tidak diperoleh alas an untuk menggangap adanya sebagian aspek yang lebih signifikan disbanding aspek lainya,maka perbandingan proposional aitem dibuat mengikuti saja perbandingan banyaknya indicator setiap aspek,atau dapat juga semua aspek diberi bobot sama.
Penyajian muatan atau bobot aspek secara proposiaonal dalam bentuk persentase dengan mudah dapat dieterjemahkan ke dalam bilangan yang menunjukan banyaknya aitem pada masing-masing aspek yang bersangkutan bilamana jumlah aitem secara keseluruhan telah ditetapkan oleh spesifikasi skala.
Bahkan tabel kisi-kisi dapat dibuat lebih mendetail dengan memuat proposi atau persentase aitem yang harus ditulis dalam arah favorable(favorable) dan aitem yang harus ditulis dalam arah unfavorable (tidak favorable) ,kecuali kalu sudah ditentukan lebih dahulu bahwa jumlah aitem favorable dan tidak favprabel dibuat kurang lebih sama banyak pada masing-masing indicator.
Aitem favorable dan Aitem tidak favorable
Aspek keperilakuan harus selalu dirumuskan dalam arah favorable (favorable) yaitu berisi konsep keperilakuan yang sesuai atau mendukung atribut yang diukur.Begitu pula halnya indicator keperilakuan harus selalu dirumuskan dalam kalimat favorable yaitu yang menggambarkan secara operasional perilaku yang mendukung cirri aspek keperilakuanya .Hal tersebut tidak berlaku dalam penulisan aitem.Aitem selain ditulis dalam arah favorable dapat juga ditulis dalam arah tidak favorable ,yaitu yang isinya bertentanggan atau tidak mendukung cirri perilaku yang dikehendaki oleh indicator keperilakuanya.
Aitem-aitem skala yang berupan pernyataan memang dapat ditulis dalam salah-satu dari kedua arah tersebut.Aitem ini disebut berarah favorable apabila isinya menggambarkan dukungan keberfihakan atau menunjukkan kesesuaian dengan deskripsi keperilakuan pada indikatornya(dalam beberapa bentuk skala,favorable berarti emndukung langsung atribut yang diukur).Sebagai contoh,dalam pengukuran Semangat Kerja maka aitem yang berbunyi.

Kaidah Penulisan Aitem
Untuk menghasilkan aitem dengan kualitas baik ,yaitu berfungsi selaras dan signifikan sebagai bagian dari skala serta mendukung validitas konstrak yang dibangun,maka aitem harus ditulis mengikuti indicator keperilakuan yang sudah dirumuskan dalam kisi-kisi dan berpedoman pada kaidah penulisan.
Beberapa diantaranya kaidah penting dalam penulisan yang perlu diperhatikan dan diikuti oleh penulis aitem adalah:
1.      Gunakan kata dan kalimat yang sederhana,jelas dan mudah dimengerti oleh responden namun tetap harus mengikuti tata tulis dan tata bahasa Indonesia yang baku.
Kalimat yang rumit hanya akan menyulitkan subjek dalam memahami maksud aitem.Subjek mudah salah paham dan akibatnya tentu saja jawaban yang ia berikan tidak akan memberikan gambaran yang benar mengenai dirinya.Kalimat yang sulit difahami dapat mengurangi minat dan kesungguhan subjek dalam menjawab.
Penggunaan Bahasa Indonesia baku adalah keharusan kecuali pada skala-skala yang ditunjukan khusus bagi budaya tertentu yang mengunakan bahasa daerah yang dipahami oleh subyek.
2.      Tulis aitem dengan berhati-hati sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda terhadap kata dan istilah yamg digunakan.
Hindari penggunaan istilah-istilah khusu yang dikenal hanya  dalam lingkungan terbatas.istilah yang tidak begitu populer mudah disalahartikan oleh responden.Berikut ini adalah contoh aitem yang berisi istilah yang dapat menimbulkan salah pengertian:
Saya akan menjadi pendengar yang baik,bila ada karyawan yang mengeluh.
Problem pada aitem di atas terletak pada makna istilah “pendengar yang baik” yang dapat bersifat tidak favorabel.Bila yang dimaksudkan sebagai pendengar yng baik adalah seseorang yang dapat menjadi tempat curahan dan memahami orang lain dengan penuh empati,tentu aitem tersebut termasuk aitem yang favorabel.sebaliknya bila yang dimaksud dengan pendengar yang baik adalah seseorang yang hanya mau mendengarkan tanpa perlu memberi komentar atau bersikap kritis ,sebagaiman istilah itu biasanya digunakan dalam pergaulan kelompok tertentu ,maka aitem tersebut menjadi bersifat tidak favorabel .Dengan demikian perbedaan respon akan menjadi tergantung perbedaan individual pada aspek yang diukur.
3.      Ingat bahwa aitem harus selalu mengacu pada indikator keperilakuan ,karena itu janggan menulis aitem yang langsung berkaitan dengan atribut yang diukur.
Berikut ini adalah salah satu aitem yang pernah ditulis oleh seseorang mahasiswa yang dimaksudkan guna mengungapkan atribut Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun:
Saya merasa cemas akan kesepian setelah pensiun       
Aitem seperti di atas ,apabila dijawab oleh subyek dengan respon positif seperti SESUAI atau YA mak harus langsung disimpulkan bahwa subyek merasa cemas ,begitu pula apabila diperoleh jawaban negatif TIDAK harus diartikan bahwa subyek tidak merasa cemas.Lalu apa guna aitem-aitem yang lain?inilah contoh aitem yang ditulis langsung dan tidak tepat untuk digunakan dalam skala.hendaknya dibuat aitem yang berupa suatu pernyataan tidak langsung mengenai kecemasan sebagai atribut yang diukur ,tetapi berupa pernyataan mengenai indikator keperilakuanya seperti:
Saya sulit untuk berkonsentrasi dengan pekerjaan bila mengingat masa pensiun sudah dekat.
Yang mengacu pada gangguan konsentrasi sebagai salah satu indikator kecemasan.Jawaban YA pada aitem ini tentu saja baru merupakan sebagian banyak dari indikasi kecemasan yang masih perlu didukung oleh jawaban terhadap aitem-aitem yang lainnya. Begitu pula jawaban TIDAK baru merupakan salah satu pertanda saja dari banyak indikasi tidak adanya kecemasan.
4.      Selalu perhatikan indikator perilaku apa yang hendak diungkap sehingga stimulus dan pilihan jawaban tepat relevan dengan tujuan pengukuran
Biasanya ketika penulis aitem telah mengahabiskan terlau banyak waktu   mengerahkan segenap kemampuan dan kreativitasnya dalam “menciptakan “aitem ,akan ada semacam kecenderungan untuk kehilangan  arah sehingga secara tidak sadar mulai menulis aitem-aitem yang sebenarnya kurang relevan dengan tujuan pengukuran.Penulisan aiem bukan pekerjaan yang dapat selesai dengan sekali duduk.Oleh karena itu janggan memaksakan diri bila mulai merasa lelah ,dan bila memusatkan pikiran pada aitem janggan pernah melepaskan perhatian pda indikator keperilakuan yang hendak diungkap.
5.      Cobalah menguji pilihan-pilihan jawaban yang yang telah ditulis .Adakah perbedaan arti dan makna antara dua pilihan yang berbeda sesuai dengan indikator keperilakuannya,apabila tidak ada beda makna yang jelas maka aitem yang bersangkutan tidak memiliki daya beda.
Fungsi aitem sebenarnya adalah membedakan individu pada aspek yang diukur berdasarkan responnya terhadap aitem tersebut.Perhatikan contoh aitem yang pernah ditulis untuk mengungapkan Semangat Kerja,berikut ini:
Pekerjaan saya menuntut berbagai macam kemampuan.
Dipandang dari segi tingginya semangat kerja yang hendak diungkap,apkah perbedaan individu yang menjawab YA dan yang menjawab TIDAK terhadap aitem di atas?Tidak ada,karena individu yang memiliki swemangat kerja tinggi dan individu yang tidak memiliki semngat kerja memiliki peluang yang sama besar untuk memiklih jawaban mana saja.Hal ini atau karena terjadi karena isi aitem yang tidak relevan denag tujuan ukur atau karena isi aitem lebih bersifat fakta atau dapat dianggap fakta sehingga jawaban subyek lebih ditentuka n faktor lain,bukan oleh faktor semangat kerjanya.Bandingkan denga aitem berikut:
Saya berangkat kerja dengan hati yang tidak mantap.
Yang jelas akan mampu memancing respon berbeda.Karena aitem ini bersifat tidak –favorabel maka subyek yang memilih jawaban YA berarti memiliki indikasi kurang bersemangat kerja sedangkan individu yang memilih jawaban TIDAK berarti meiliki pertanda semangat  yang tinggi.
6.      Perhatikan bahwa isi aitem tidak boleh mengandung social desirability yang tinggi yaitu aitem yang isinya sesuai dengan keingginan sosialnya umumnya atau tidak dianggap baik oleh norma sosial.Aitem yang bermuatan social desirability tinggicenderung akan disetujui atau didukung oleh semua orang semata-mata karena orang berfikir normatif bukan karena isi aitem iru sesuai dengan perasaan atau keadaan dirinya.
Sebagai contoh ,untuk pengukuran Asertivitas,suatu aitem ditulis sebagai berikut:
Seseorang menyalakan rokok dalam bis ber AC yang sedang anda tumpangi.
a)      Saya tegur dengan sopan dan baik-baik
b)      Saya tunjukkan bahwa saya sangat tergangu dan sanggat jengkel
Aitem di atas nampaknya banyak mengandung muatan  social desirability.pilihan a mencerminkan perilaku yang sanggat sesuai dengan norma sosial yang berlaku dalam masyarakatsehingga cenderung dipilih oleh responden,namun bukan disebabkan responden merasa isinya cocok denga dirinya tapi karena responden merasa harus melakukan sesuatu dengan cara “baik” dan normatif.Contoh lain adanya muatan social desirability dalam aitem adalah:
Meskipun untuk meningkatkan karier,saya tidak boleh berbuat curang kepada terhadap teman sekerja.
(STS)-(TS)-(N)-(S)-(SS)
Terhadap aitem yang seperti diatas ,tentu saja semua orang akan cenderung memilih jawaban positif (S atau SS) karena itulah bentuk jawaban normatif yang sesuai dengan yng dikehendaki masyarakat,sekalipun pada kenyataanya mungkin banyak diantara mereka yang memberikan jawaban positif itu sengaja atau tidak sengaja sering bertindak curang.
7.      Untuk menghindari stereotipe jawaban ,sebagian dari aitem perlu dibuatkan dalam arah favorabel dan sebagian lain dibuat dalam arah tidak favorabel.
Hal ini terutama benar pada aitem-aitem skala yang format responnya berupa pilihan dan berjenjang dari STS ke SS .Pada saat diformat ini responden menyadari yang sikapnya konsisten akan segera menyadari bahwa jawaban-jawaban yang telah diberikan nya selalu berada pada salah satu ujung kontinum saja sehingga untuk aitem-aitem berikutnya ia cenderung menmpatkan saja jawabanya mengikuti pola yang terjadi .Berbeda kalau arah aitem-aitem bervariasi kadang favorabel kadang tidak,maka subyek akan membaca dengan teliti setiap aitem sebelum mendapatkan jawabannya.
Semakin sedikit aitem yang ada dalam skala akan semakin besar overlap yang terjadi.Sebaliknya ,semakin banyak jumlah aitem dalam skala maka akibat yang ditimbulkan oleh Spurious overlap semakin kecil dan tidak signifikan.Sebagai pegangan kasar,bilamana jumlah aitem dalam skala lebih dari 30 buah maka umumnya efek spurious overlap tidak begitu besar dan karenanya dapat diabaikan,sedangkan bila jumlah aitem dalam skala kurang dari 30 buah maka pengaruhnya menjadi subtansial sehingga perlu diperhitungkan .Untuk itu ,agar kita memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai korelasi antara aitem dan skala ,diperlukan suatu rumusan koreksi terhadap efek spurious overlap.
Kategorisasi  Berdasar Model Distribusi Normal
kategorisasi  ini didasari oleh asumsi bahwa skor individu dalam kelompoknya merupakan estimasi terhadap skor individu dalam populasi dan asumsi bahwa skor individu dalam populasinya terdistribusi secara normal.Dengan demikian kita dapat membuat model batasan kategori skor teoretik yang terdistribusi menurut model normal standart.
Sebagaimana diketahui ,suatu distribusi normal standar terbagi atas enam bagian atau enam satuan deviasi standart.Tiga bagian berada di sebelah kiri mean(bertanda negative )dan tiga bagian berada di sebelah kanan mean (bertanda positif).
Kategori jenjang (ordinal)
 Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur.Kontinum jenjang ini contohnya adalah dari rendah ke tinggi ,dari paling jelek ke paling baik,dari sangat tidak puas ke sangat puas dan semacamnya.Banyaknya jenjang ktegori diagnosis yang akan dibuat biasanya tidak lebih dari lima jenjang tapi juga tidak kurang dari tiga.Mengelompokkan individu-individu ke dalam dua jenjang diagnosis menjadi,misalnya “semangat kerja rendah”dan “semangat kerja tinggi”selain kurang efisien juga akan menghadapi resiko kesalahan yang cukup besar bagi skor-skor yang terletak di sekitar mean kelompok.
Kategorisasi bukan-jenjang (Nominal)
Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok diagnosis yang tidak memiliki makna “lebih” dan “kurang”atau “tinggi”dan “rendah”.Kasusu semacam ini dijumpai contohnya ketika pengelompokan individu dilakukan berdasar skor Pola Asuh yang diterimanya(misalkan Demokratis,Bebas,dan Otoriter),atau ketika dilakukan kategorisasi Orientasi Coping (Orientasi Problem,Orientasi Emosi)atau pengelompokan Peran Jenis(kelompok Feminin,Maskulin,Androgini,dan Tidak Tergolongkan).

Faktor-faktor yang Melemahkan Validitas Alat Ukur

Validitas ,dalam pengertiannya yang paling umum, adalahketepatan dan kecermatan instrument dalam menjalankan fungsi ukurnya.Artinya,validitas menunjuk pada sejauh mana skala itu mampu mengungkap dengan akurat dan teliti data mengenai atribut yang ia dirancang untuk mengukurnya.Skala yang hanya mampu mengungkap sebagian dari atribut lain,dikatakan sebagai skala yang fungsinya tidak valid .Karena validitas sanggat erat berkaitan dengan tujuan ukur,maka skala hanya dapat menghasilkan data yang valid untuk satu tujuan ukur yang spesifik pula.
 Validitas adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh setipa alat ukur.Apakah suatu skala berguna atau tidak sangat ditentukan oleh tingkat validitasnya.Oleh karena itu ,sejak tahap awal perancanganya skala sampai dengan tahap adminitrasi dan pemberia skornya,usaha-usaha untuk menegakkan validitas harus selalu dilakukan.Dalam rangka itulah perancang skala perlu mengenali beberapa factor yang dapat mengancam validitas skala psikologi.Faktor-faktor termasud,antara lain,adalah:

1.       1. Konsep Teoritik Tidak Cukup Difahami
Untuk mengukur “sesuatu” maka sesuatu itu  harus dikenali terlebih dahulu denagn baik.Bila konsep mengenai atribut yang hendak diukur tidak dikenali dengan baik maka perancang skala mungkin memiliki gambaran yang tidak komprehensif atau bahkan keliru mengenai atribut yang bersangkutan.Gambaran ynag tidak tepat akan melahirkan aspek dan indicator keperilakuan yang juga tidak tepat,yang pada akhirnya bila dijadikan acuan dalam penulisan aitem akan menghasilkan aitem-aitem yang tidak valid.
Kurang difahaminya batas-batas atau definisi yang tepat mengenai kawasan (domain) atribut yang diukur mengakibatkan kawasan ukur yang diinginkan menjadi tumpang tindih (overlap) dengan kawasan ukur atribut lain sehingga skala yang nantinya dihasilkan ternyata mengukur banyak hal yang tidak relevan dengan tujuan semula.Ketidaktepatan identifikasi kawasan ukur dapat pula mengakibatkan skala menjadi tidak cukup komprehensif dalam atribut yang dikehendaki .Hal itu terjadi dikarenakan sebagian dari komponen atau dimensi yang membangun teori menjadi konstrak mengenai atribut yang bersangkutan tidak ikut teridentifikasikan.
2.      Aspek Keperilakuan Tidak Operasional
Kejelasan konsep mengenai atribut yang hendak diukur besertakonstraknya memudahkan dalam perumusan  indicator-indikatornya keperilakuan yang juga jelas dan mudah difahami oleh penulis aitem.
Indicator keperilakuan diciptakan berdasarkan batasan konseptual mewngenai atribut yang diukur menjadi rumusan operasional yang terukur (measurable) .Bila perumusan ini tidak cukup operasional atau ternyata masih menimbulkan penafsiran ganda mengenai bentuk-bentuk perilaku yang diinginkan,atau sama sekali tidak mencerminkan konsep yang akan diukur,maka akan melahirkan aitem-aitem yang tidak valid.Pada gilirannya,aitem-aitem yang tidak valid tidak akan menjadi skala yang valid.
3.       Penulisan Aitem Tidak Mengikuti Kaidah
Aitem yang sukar dimengerti maksudnya oleh fihak responden karena terlalu panjang atau karena kalimatnya tidak benar secara tata bahasa,aitem yang mendorong responden untuk memilih jawaban tertentu saja,aitem yang memncing reaksi negative dari pihak responden,aitem yang mengandung muatan social desirability tinggi,dan aitem yang memiliki cacat semacamnya hamper dapat dipastikan adalah hasil dari penulisan aitem yang mengabaikan kaidah-kaidah penulisan yang standart ,Aitem-aitem seperti itu tidak akan berfungsi sebagaimana diharapkan.
4.      Adminitrasi Skala Tidak Berhati-hati
Skala yang isinya telah dirancang dengan baik san aitem-aitemnya sidah ditulis dengan prosedur yang benar namun disajikan atau diadminitrasikan kepada responden dengan cara sembarangan dapat menghasilkan data yang tidak valid mengenai keadaan responden.
Adminitrasi skala memerlukan berbagai persiapan dan antisipasi dari pihak penyaji.Beberapa di antara banyak hal yang berkaitan dengan kehati-hatian adminitrasi ini adalah:
a.       Penampilan skala (validitas tampang)
Skala psikologi bukan sekedar sekumpulan aiem-aitem yang diberkas menjadi satu.Dari segi penampilan harus dikemas dalam bentuk yang berwibawa sehingga mampu menimbulkan respek dan apresiasi dari pihak respondennya .Sekalipun harus tetap tampil sederhana,namun skala psikologi perlu dikemas indah,dicetak jelas dengan p[ilihan huruf yang tepat,dengan tata letak (lay –out)  yang menarik,serta mengunakan desain lembar jawaban yang dapt memudahkan subjek dalam memeberikan jawaban.Penampilan skala yang sederhana tapi anggun dapat lebih memotivasi subjek untuk memberikan jawaban dengan serius sehingga diharapkan akan dapat memperoleh data yang valid.
b.       Situasi Ruang
Situasi ruang menunjuk pada kondisi di dalam tempat pelaksanaan penyajian atau adminitrasi skala.Ruang perlu disiapkan dengan baik.Ruang harus cukup nyaman,cukup pencahayaan,dan tidak bising.Sedapat mungkin masing-masing subjek duduk menghadap satu meja yang leluasa untuk membaca dan memahami isi skala dan meresponya .Tidak boleh ada gangguan atau kehadiran orang ketiga yang dapat mempengaruhi respon subjek.
c.        Kondisi Subyek
Skalas psikologi hanya boleh disajikan pada subyek yang kondisinya –baik secara fisik maupun psikologis-memenuhi syarat.Janggan mengharapkan jawaban yang valid apabila responden harus membaca dan menjawab skala dalam keadaan sakit,lelah,tergesa-gesa,tidak berminat,merasa terpaksa,dan semacamnya.
5.      5. Pemberian Skor Tidak Cermat
Sekalipun disediakan kunci “skor” ,namun kadang –kadang masih terjadi kesalahan dari fihak pemeriksa dikarenakan salah dalam penghitungan skor atau keliru cara penggunaan kunci jawaban.Pada skala yang menggunakan konversi skor,kesalahan dapat terjadi sewaktu mengubah skor mentah menjadi skor derivasi karena salah lihat pada tabel konversi.
6.      6. Keliru Interpretasi
Penafsiran terhadap hasil ukur skala merupakan bagian penting dari proses diagnosis psikologi .Bagaimana pun bagusnya kualitas psikometrik skala yang digunakan apabila diinterpretasikan secara tidak benar tentu akan sia-sia dan kesimpulan diagnosisnya akan tidak tepat.
Sekalipun disediakan norma penilaian sebagi acuan interpretasi terhadap skor skala namun harusselalu diingat bahwa skor yangdiperoleh dari pengukuran psikologi tidak sempurna reliabilitas dan validitasnya sehingga tetap dituntut kecermatan interpretasi.

4 SKALA UTAMA KUISIONER

Dalam penyusunan alat ukur psikologi tertutup tentunya kita memerlukan skala tertentu sebagai dasar pilihan jawaban responden terhadap pertanyaan yang diajukan. Berikut ini adalah 4 jenis skala yang biasa digunakan (Azwar, 2005):
1.    Nominal ialah angka yang berfungsi hanya untuk membedakan , merupakan identitas (identity) urutan tidak berlaku,operasi matematika juga tidak berlaku,artinya 2 tidak harus lebih besar dari satu atau tidak harus lebih kecil dari 4(hasil kali,bagi,penjumlahan,pengurangan tidak mempunyai arti)Hanya sebagai lambang/symbol /identitas.
Contoh:
Jenis kelamin    : perempuan=0,laki-laki=1
Agama               :  islam=1,Kristen=2,Hindu=3
Suku (bangsa)  : Jawa=1,Minang=2,Batak=3,Dayak=4.
Alamat rumah,nomor kmar hotel,nomor KTP,SIM,nomor pada punggung pemain bola,PSSI
2.    Ordinal ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal juga menunjukkan urutan,bahwa sesuatu yang baik,lebih bagus,lebih disenangi,daripada……..
Abas lebih menyenangi mobil merek Honda daripada Toyota.
Hasil lukisan pelukis A lebih bagus daripada pelukis B
Jarak (distance) tidak sama,biasanya untuk membuat peringkat (rangking)
Hasil penjualan (jutaan Rp) dari 5 salesman.
                  Hasil penjualan           Peringkat  (ordinal)
A                         50                                   4
B                          45                                  5
C                         100                                 1
D                          75                                  3
E                          85                                   2
Jadi jarak tidak sama,akan tetapi terlihat urutannya semakin besar (menuju ke 5 )atau semakin mengecil (menuju ke 1).
3.    Interval ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal dan ordinal juga menunjukkan jarak yang sama,akan tetapi tidak sampai berapa kali,sebab  titik nol letaknya sembarang,dipergunakan untuk “rating”.Contoh suhu /temperature naik dari  200-300atau 400-600 jaraknya 100-300.akan tetapi tingkat panas (level of heatnes) yang ditunjukkan oleh angka 300 tidak berarti 1,5 kali timgkat panas yang ditunjukkan oleh angka 200 juga tingkat panas yang 600 tidak berarti 1,5 tingkat panas 400 Tingkat kepuasan1,2,3,4.5. walaupun jaraknya sama yaitu 1,akan tetapi tidak berarti tingkat kepuasan 4 dua kali ,tingkat kepuasan 2 atau tingkat kepuasan 5,lima kali tingkat kepuasan 1.
4.    Rasio ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal ,ordinal dan interval ,juga menunjukkan beberapa kali,sebab angka nol letaknya tidak sembarangan.
Berat badan jhony 890kg,abas 60kg,berarti berat jhony 1,5 kali berat abas.Angka nol dalam rasio mempunyai arti.Misalnya uang jhoni nol rupiah ,memang dia tidak punya uang sama sekali .Letak titik nol jelas pada titik asal,perpotongan sumbu X dan Y.Sedangkan titik nol pada interval letaknya sembarangan.(arbitrary)
 N                   0                1                   R
ß------------------------------------------------à
Ilmu sosial                                 Ilmu Eksakta
Subjektif                                   Objectif
Abstrack                                   Konkret
Non-fisik                                   Fisik
Kualitatif                                   Kuantitatif
Relatif                                       Mutlak
Susah (mengukurnya)           Mudah (mengukurnya)
Variabel tunggal (hanya satu ,tidak terkait yang lain ),misalnya variabel X hanya bisa untuk menguraikan keadaan/memperoleh gambaran tentang sesuatu yaitu mengenai jumlahnya,rata-ratanya ,banyaknya persentasenya,medianya,modusnya ,kuartilnya (quartile) desentilnya (decentile) ,dan persentilnya (percentile) .Seperti  berapa jumlah tabunganya,rata-rata anggota keluarganya,dan lain sebagainya.
di samping itu juga, bisa untuk mengetahui distribusinya dan tingkat variasinya.Misalnya mengikuti distibusi normal,binomial,Poisson,dan lain sebagainya.Sedangkan tingkat variasinya bisa diukur dengan range  (dibaca rinz) varian ,simpangan baku (standart deviation)  ,kesalahan baku (standart error) rata-rata deviasi dan lain sebagainya.Lihat,Supranto J.MA,Statistik,Teori dan Aplikasi Jilid I ,edisi ke -6 Penerbit Erlangga Jakarta 2001.
Kalau kita meneliti ,kita peroleh nilai variabel X dan X = N (µ,σ) artinya X mengikuti fungsi normal ,dengan rata-rata µ dan standart deviasi σ (sigma kecil).
Z= (X-µ)/σ, Z stndart  normal ,dengan rata-rata nol dan standart deviasi satu .Jadi untuk membuat variabel baku ,variabel asli dikurangi rata-ratanya ,kemudian dibagi dengan standart deviasinya .Variabel baku bebas dari satuan atau unit free ,bisa digunakan untuk membandingkan variabel yang berbeda satuannya.