Jumat, 07 Desember 2012

Judul Skripsi Kedokteran, Keperawatan, Kesehatan: Aspek Perilaku Sehat

Skinner (1938) mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi 3 aspek :
a.       Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memlihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bila sakit. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek:
1)            Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilaman telah sembuh dari penyakit.
2)            Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. Perlu dijelaskan di sini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang yang sehatpun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.
3)            Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat menjadi penyebab menurunnyakesehatan seseorang, bahkan dapat mendatangkan penyakit. Hal ini sangat tergantung pada perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut.
b.      Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
c.       Perilaku kesehatan lingkungan adalah bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempenaruhi kesehatannya. Dengan perkataan lain, bagaimana seseorang mengelola lingkungannya sehingga tidak mengganggukesehatannya sendiri, keluarga, atau masyarakatnya. Misalnya bagaimana mengelola pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah, pembungan limbah, dan sebagainya.

Judul Skripsi Kedokteran, Keperawatan, Kesehatan: Perilaku Sehat

Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku dipandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau organisme yang bersangkutan.  Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah aktifitas dari manusia itu sendiri.
Sedangkan Sarwono (1993) mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.  Karena itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, emosi, berpikir dan lainnya, baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung.
Kesehatan berasal dari kata sehat mempunyai pengertian yang berbeda pada setiap kalangan.  Bagi masyarakat umum, sehat diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak sakit.  Batasan sehat ini juga berbeda pada tingkat strata sosial, tingkat usia, dan tingkat peran yang sedang dijalankan. World Health Organization (WHO) mendefinisikan sehat sebagai status kenyamanan menyeluruh dari jasmani, mental dan sosial, dan bukan hanya tidak ada penyakit dan kecacatan.  Identifikasi beraneka aspek dari kesehatan merupakan sesuatu yang sangat bermakna dalam memandang dan meningkatkan kesadaran akan kompleksitasnya konsep sehat.
Pandangan sosiologis dan fisiologis mengajukan gagasan kesehatan sebagai dasar untuk mencapai potensi realistic seseorang sehingga memungkinkan ia melaksanakan potensi yang dimiliki untuk diaplikasikan dalam meningkatkan mutu hidup manusia.  Beberapa aspek kunci yang mewarnai pandangan WHO mengenai kesehatan adalah sehat merupakan keadaan sejauh mana seseorang individu atau suatu kelompok, pada satu sisi mampu merealisasi aspirasi dan memenuhi kebutuhan, dan pada sisi yang lain mengubah atau mengatasi persoalan dengan lingkungan.  Oleh karena itu sehat dilihat sebagai sumber untuk kehidupan sehari-hari, bukan tujuan dari penghidupan.
Lebih lanjut menurut Notoatmojo (2003) perilaku sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya, juga mencakup makan dengan menu seimbang (kuantitas dan kualitas), olah raga teratur, dan istirahat cukup. Perilaku Kesehatan menurut Skinner (1974) merupakan suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan, kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan.
            Definisi perilaku sehat yang diungkapkan oleh Kasl dan Cobb (dalam Glanz dkk, 1997) memiliki tiga kategori, yaitu pertama perilaku pencegahan yaitu sejumlah aktivitas yang dilakukan dan diyakini sehat dalam rangka pencegahan atau mendeteksi suatu penyakit. Kedua perilaku sakit yaitu aktivitas yang dilakukan dalam rangka mengetahui kesehatanya. Ketiga perilaku peran sakit yaitu aktivitas yang dilakukan untuk menganggap dirinya sakit dalam rangka penyembuhan.
Perilaku kesehatan adalah suatu perilaku yang pada prinsipnya menuntut individu untuk melakukan peran-peran tertentu sesuai dengan keadaannya, baik sehat atau sakit yang disebut health and sick roles (Notosoedirdjo & Latipun, 2005). Orang yang sehat dituntut untuk berperilaku selayaknya orang yang sehat dan bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain. Sedangkan orang yang sakit, baik sakit secara fisik maupun mental dituntut untuk berperilaku selayaknya orang sakit, terbebas dari tanggung jawab normalnya, bahkan tidak perlu bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain. Orang yang sakit justru berkewajiban untuk beristirahat atau menyembuhkan dirinya dengan proses yang sesuai dengan pribadinya maupun kulturalnya.
Prilaku sehat di definisikan oleh Gochman ( 1982 ) sebagai sejumlah atribut keperibadian yang terdiri dari keyakinan, motif, nilai nilai, persepsi dan unsur  kognitif lainnya. Yaitu berupa karakteristik kepribadian yang mencakup faktor akfektif dan emosional ; serta pola prilaku , tindakan, dan kebiasaan yang berkaitan dengan pengelolaan kesehatan, peningkatan kesehatan, serta pemulihan kesehatan. Lebih jauh Gochman ( 1982 ) memberikan penjelasan bahwa prilaku kesehatan mencakup persepsi tentang status kesehatan atau peningkatannya  pada perubahan status kesehatan. Derngan kata  lain bahwa prilaku kesehatan meliputi tidak saja prilaku yang dapat di amati secara langsung, tetapi juga keadaan mental dan perasaan yang diamati dan diukur secara tidak langsung
Skinner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori ”S-O-R” atau stimulus-Organisme-Respons. Skinner membedakan adanya dua respons:
a.       Respondent respons atau reflexive, yakni respons yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut elicting stimulation karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap. Misalnya: makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respons ini juga mencakup perilaku emosional, misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya dengan mengadakan pesta dan sebagainya.
b.      Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforcer, karena memperkuat respons. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.Berdasarkan batasan perilaku dari Skinner tersebut, maka perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan.

Judul Skripsi Kedokteran: Hepatitis A

Hepatitis A dikenal juga  sebagai hepatitis Infectiosa, disebabkan oleh  Virus Hepatitis A. Virus ini didapat diseluruh dunia, juga dalam bentuk wabah. Gejala utama adalah demam yang akut, dengan perasaan yang mual dan muntah, hati membengkak dan mata menjadi kuning (icterus), diikuti diseluruh kulit. Oleh karena itu orang awam menyebutnya sebagai penyakit kuning. Gejala gejala penyakit ini timbul biasanya 1 – 2 bulan setelah terjadi infeksi. Penyakit ini dapat menular secara langsung dari orang ke orang, secara tak langsung lewat air, makanan yang terkontaminasi virus, dan lewat udara. Virus sering didapat didalam susu, masakan daging dagingaan, sayuran dan buah buahan mentah, kerang kerangan juga roti  (Juli Soemirat Slamet, 2004. Kesehatan lingkungan Gadjah Mada University press Yogyakarta)
Hepatitis A merupakan penyakit peradangan pada hati yang disebabkan virus hepatitis A. Penularan terjadi melalui makanan dan minuman yang tercemar virus hepatitis A dari tinja penderita hepatitis A. Virus ini dapat mati dengan pemanasan bersuhu 85 derajat Celsius selama satu menit atau melalui klorinasi. Gejala hepatitis A, antara lain mual dan atau muntah, nafsu makan menurun, perut terasa tidak nyaman, demam, warna kulit dan bagian mata menjadi kuning, warna air seni seperti air teh, badan lemas dan mudah lelah. Penyakit ini jarang menimbulkan kematian dan tidak menjadi kronik

Judul Skripsi Psikologi; Dimensi Dalam Kesadaran

Atkinson dkk (1999) mengemukakan dua macam kesadaran, yaitu : kesadaran aktif, menitikberatkan pada proses mental dalam membuat rencana, mengambil inisiatif, dan memonitor diri sehingga akan memunculkan regulasi diri; dan kesadaran pasif, seperti kesadaran sederhana dari pikiran, emosi, penginderaan, dan kesan. Buss (1995) dalam teori self-consciousness mengemukakan pula ada dua jenis kesadaran diri, yaitu : private self-consciousness, merupakan kesadaran akan diri sendiri yang tidak bisa diamati secara langsung oleh orang lain, seperti bagaimana rasanya otot mengencang, perasan marah, cinta, ataupun perasaan spiritual; dan public self-consciousness, kesadaran akan diri yang diamati pula oleh orang lain, seperti penampilan diri, bagaimana orang lain berpikir tentang diri, penghargaan terhadap orang lain, ataupun bagaimana individu berkomunikasi dengan orang lain.
Fenigstein (1979) membedakan keadaran diri menjadi dua dimensi yaitu kesadaran diri private (Privat self-consciousness) dan kesadaran diri publik (Public self consciousness). Kesadaran diri pribadi adalah kesadaran dari pikiran dan perasaan seseorang. (missal: Aku berusaha menjadi figure yang ada dalam diriku). Sedangkan kesadaran diri public adalah kesadaran diri sebagai objek social.dan kesadaran dimana orang lain sadar akan dirinya. (misal: aku memperhatikan apa yang orang pikir tentang aku).
Dua segi dari kesadaran diri mengacu ke model kognitif. Kesadaran diri pribadi mengarahkan tingkah lakunya ke perilaku covert dimana individu lain tidak dapat melihat (misal perasaan dan pikiran subjektif, tujuan, intensitas, motif, motif, rencana, dan nilai). Sebaliknya, kesadaran diri publik mengarahkan perhatiannya kepada perilaku overt  dalam diri (misal penampakkan fisik dan perilaku yang nampak dan ekspresi wajah) dimana yang lain dapat melihat dan mengevaluasi. Kesadaran publik dan privat tidak menjangkar titik akhir kontinum tunggal tetapi bukan untuk memisahkan dimensi yang berkorelasi positif, walau sederhana.(Fenigstein et al.,dalam William Nasby, 1989). Kedua tren mungkin menyebabkan tingginya kesadaran  individu untuk berubah ketika upaya persuasive berbalik dari segi skema diri. Sebaliknya, ketika upaya persuasif berbalik dari segi publik dalam skema diri, kesadaran publik seharusnya memprediksi ketahanan untuk berubah.
Teori ini dibedakan dalam dua kategori fokus diri, yaitu objektif dan subjektif. Yang obyektif dari kesadaran diri seseorang adalah sadar dalam diri dimana dia merasa bahwa dirinya dapat membedakan dari objek bukan diri. Di dalam kesdaran subjektif, perhatian diarahkan jauh dari diri; individu sadar hanya dalam arti menyadari bahwa dia satu dari figur di sekitarnya. kesadaran yang menjadi pemikiran keduanya saling eksklusif dan di bawah pengawasan stimulus eksternal. Stimulus yang dikenal untuk memasukkan kesadaran diri objektif adalah kaca, dan hubungan stimulus untuk subjektif adalah pengejaran/ perputaran rotor. (William Nasby, 1989)
Fenigstein, scheier, and Buss (1975) dan A.H Buss (1980) dalam William M Webb, dkk menjabarkan teori kesadaran diri dengan masukkan bahwa manipulasi dari fokus perhatian berbeda dimana aspek  publik atau privat dari diri dibuat menonjol. Contohnya kaca kecil cukup untuk menampakkan wajah untuk mendapati cerminan perilaku kesadaran yang lebih internal dari aspek privat dari  diri.(Baldwin & Holmes,1987, dkk dalam William M Webb, dkk) menjelaskan  dimana gambaran dari suatu monitor TV, mendengar suatu suara di tape, atau kehadiran audiens adalah untuk mendapati perilaku yang mencerminkan kesadaran dari kenampakkan aspek publik. 

Judul Skripsi Psikologi; Pemahaman Kesadaran

Terdapat begitu banyak penggunaan istilah kesadaran yang jika kita telusuri dalam jurnal teks berbahasa inggris yang bisa berasal dari kata awareness, consciousness dan mindfulness. Istilah consciousness digunakan untuk pengertian kesadaran diri secara lebih luas dan didukung munculnya Journal of Consciousness Studies di awal tahun 90an. Istilah awareness saat ini digunakan untuk pengertian keadaan sadar terjaga terkait keadaan internal dan eksternal individu. Sedangkan istilah mindfulness,  Kabat dan Zinn (Bishop, 2002; 2004) menjelaskan bahwa mindfulness merupakan proses yang mengantarkan kualitas perhatian kepada pengalaman disini-saat ini tanpa perlu mengelaborasi, tanpa penilaian; dan penerimaan akan pikiran, perasaan, ataupun sensasi yang muncul dari pusat keadaan sadar terjaga saat ini. Dari ketiga asal kata tersebut cukup membuat kita merasa kebingungan untuk mendefinisikan tentang kesadarans secara khusus.
Baihaqi, dkk (2005) menyatakan kesadaran adalah kemampuan individu untuk memahami ransang-ransang timbul dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya, melalui pancaindera dan perhatiannya, sehingga individu tersebut mampu melakukan hubungan dan pembatasan yang baik dengan lingkungannya, kondisi sekelilingnya (waktu, tempat, dan keadaan secara umum) atau dengan dirinya sendiri (pikiran, perasaan, atau kebutuhan-kebutuhannya).
Menurut Kamus Besara Bahasa Indonesia, sadar berarti insyaf, merasa, tahu dan mengerti. Kesadaran adalah keinsyafan, keadaan mengerti yang terwujud dalam pemikiran, sikap dan tingkah laku yang mendukung pengembangan hidup yang disadari tersebut (DepDikBud, 1996)
Kesadaran, menunjuk pada pengetahuan atau pemahaman penuh atas kesadaran dalam mengalami diri sendiri dan diri dalam kaitannya dengan orang lain. Menunjuk pada keterjagaan atas respon respon internal seseorang pada fenomena eksternal. Sears, Freedman & Peplav ( 1991 ) berpendapat bahwa individu dikatakan memiliki kesadaran bila dia mulai merasakan dan atau mempelajari sesuatu hal yang ada disekitarnya dan dia berusaha sesuatu untuk menghadapinya
Rychlak (1997) mengemukakan bahwa tidak ada konsep dalam psikometri maupun psikologi yang mempunyai arti begitu jamak seperti kesadaran, karena didalam kesadaran terkandung arti pemahaman, perhatian, Pilihan, Regresi,  sugesti, milik dan definisi definisi lainnya. Kesadaran tidak hanya berkaianh dengah apa yang terjadi didalam diri seseorang tetapi juga apa yang terjadi diluar dirinya. Kesadaran juga mempunyai isi dan proses. Kesadaran sebagai suatu proses tidak akan berubuah walaupun isi dan Kesadaran itu bisa berubah
Husserl yang dikutip Brauwer (1986) menyatakan bahwa kesadaran adalah pikiran sadar ( pengetahuan ) yang mengatur akal, hidup wujud yang sadar, bagian dari sikap/ prilaku, yang dilukiskan sebagai gejala dalam alam dan harus dijelaskan berdasarkan prinsip sebab musabab. Tindakan sebab, pikiran inilah yang menggugah jiwa untuk membuat pilihan, misalnya memilih baik – buruk, indah – jelek.
Menurut joseph Murphy ( 1988 ), kesadaran adalah siuman atau sadar akan tingkah lakunya, yaitu pikiran sadar yang mengatur akal dan dapat menentukan pilihan yang diingini misalnya baik - buruk, indah –jelek dan sebagainya. Poedjawijatna ( 1986 ), menyatakan bahwa kesadaran adalah sadar berdasarkan pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang tergugahnya jiwa terhadap sesuatu , sadar dan tahu itu sama. Buletin para navigator ( 1988 ), menyatakan bahwa kesadaran adalah, modal utama bagi setiap orang yang ingin maju. Secara garis besar sadar itu sadar itu dapat diukur dari beberapa aspek, antara lain : kemampuan membuka mata dan menafsirkan apa yang diilhat, kemampua aktifitas, dan kemampuan berbicara. Jika seseorang mampu melakukan ketiga aspek diatas maka dialah yang bisa disebut sadar. Dari segi lain kesadaran adalah hak dan kemampuan kita untuk menolak melakukan keinginan orang lain atau sesuatu yang diketahui buruk/tidak bermanfaat bagi dirinya.
Bandura ( 1986), secara garis besar menyatakan kesadaran ( consciousness adalah menjadi sadar ( being aware ) atas kejadian kejadian eksternal yang terjadi disekitar individu, apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan. Kesadaran akan hidup ( life consciousness ) berkaitan dengan apa yang terajadi sekarang dan kini. Tapi individu juga dipengaruhi oleh kejadian kejadian masa lalu sehingga mereka bisa mengantisipasi, merencanakan dan mengkhawatirkan hari esok
Duval & Wicklund ( dalam Brehm dan Kessin, 1990 ) berpendapat bahwa Kesadaran adalah pengarah internal individu mengenai apa yang dia pikir harus dilakukan. Teori self awareness menyebutkan bahwa perhatian pada diri (kesadaran diri ) membawa sensitifitas untuk menyatukan nilai nilai dalam diri individu dan prilaku yang diambil. Self  Awareness adalah fungsi kognitif yang paling tinggi, sering disebut sebagai metakognitif, yaitu pengetahuan tentang apa saja yang diketahui.

Judul Skripsi Psikologi; Strategi Dalam Coping

Strategi coping terbagi menjadi dua berdasarkan fokusnya, yaitu problem focused coping dan  emotional focused coping. Problem focused coping biasanya digunakan untuk mengatasi apa yang menjadi penyebab timbulnya stress. Individu mengontrol hubungannya dengan lingkungan atau stressor melalui pemecahan masalah, pembuatan keputusan, maupun tindakan langsung. Sedangkan emotional focused coping merupakan pemecahan sementara agar individu tidak terlalu menderita terhadap stress yang dialami untuk dicari pemecahan masalah. Individu mengelola ketegangan dengan cara pengaturan emosi atau penilaian kembali ancaman.
Penelitian Folkman, dkk (1986) menyimpulkan bahwa problem focused coping akan memodifikasi beberapa aspek situasi yang penuh tekanan (stress). Hasil positif atau adaptif akan diperoleh hanya jika usaha tersebut secara nyata dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan pada emotional focused coping akan melakukan pengaturan emosi atau penilaian kembali ancaman. Hasil adaptif akan diperoleh jika stressor relatif tidak dapat dikontrol oleh individu tersebut.
Apabila situasi secara potensial dinilai dapat berubah-rubah, seperti misalnya masalah dalam pekerjaan atau berselisih paham dengan orang lain, coping yang adaptif untuk menghadapinya adalah problem focused coping. Individu dapat melakukan pemecahan masalah secara langsung, atau melakukan negosiasi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hasil negatif akan diperoleh apabila strategi coping yang digunakan adalah emotional focused coping. Hal ini justru akan menambah masalah baru bagi individu tersebut, karena stressor relatif dapat dikontrol. Sebaliknya, emotional focused coping akan adaptif untuk situasi yang dirasakan tidak dapat berubah lagi, sehingga stressor relatif tidak dapat dikontrol. Misalnya pada penderita kanker, akan menjadi lebih tenang jika individu tersebut memperoleh dukungan dari orang lain atau lingkugannya dan berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang lebih menyenangkan
Dalam dunia kerja, penelitian Schuler (dalam Davis, 1985) menyimpulkan bahwa stres positif merangsang usaha individu untuk mengarahkan kemampuannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Stresor dalam pekerjaan dinggap sebagai tantangan dan bukan sebagai ancaman. Sebaliknya, apabila stres dipandang negatif maka akan menurunkan usaha individu dalam mencapai performansi kerja yang diharapkan.

Judul Skripsi Psikologi; Dimensi Dalam Coping

Dimensi dalam strategi coping stres, yaitu:
A.    Manifestations of coping
    1. Secara kognitif
Teknik coping secara kognitif adalah untuk menggambarkan usaha intra fisik untuk menyesuaikan dengan kondisi yang stressfull dan akibatnya.
    1. Secara behavioral
Coping secara behavioral lebih kepada usaha tingkah laku yang digunakan untuk mengatasi stres.
B.     Focus of coping
a.       Problem focused coping
Biasanya digunakan untuk mengatasi dan mengatur strategi yang menjadi penyebab timbulnya stres, individu mengontrol hubungannya dengan lingkungan melalui pemecahan masalah, pembuatan keputusan, maupun tindakan langsung. Termasuk diantaranya adalah :
1.      Exercised caution (kehati-hatian), yaitu menahan diri, individu cenderung melakukan tindakan yang tidak memerlukan tantangan daripada tindakan yang mampu menyelesaikan masalah.
2.      Negotiation, diarahkan pada orang lain penyebab masalah, misalnya dengan berusaha mengubah pemikiran orang lain.
3.      Instrumental action, yang mengarah pada pemecahan masalah secara langsung.
b.      Emotional focused coping
Merupakan pemecahan sementara agar individu tidak terlalu menderita terhadap stres yang dialami untuk dicari pemecahan masalah. Meredakan dan mengelola ketegangan emosi yang muncul antara individu dengan lingkungan, misalnya :
·         Support mobilization, memperoleh informasi, saran, dan dukungan emosional dari orang lain.
·         Minimization, secara disadari berusaha untuk tidak memikirkan masalah.
·         Escapism, individu berusaha untuk menghindari stres yang dihadapi.
·         Self blame, memilih pasif daripada mencari usaha untuk keluar dari masalah.
Seeking meaning, menemukan jawaban dari perenungan

Judul Skripsi Psikologi; Pengertian Coping

. Proses yang digunakan oleh seseorang untuk mengatasi stressor dinamakan coping. Coping merupakan suatu strategi yang dikembangkan dalam mengatasi masalah yang merupakan kecenderungan tingkah laku individu untuk melindungi diri dari tekanan-tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh problematika pengalaman sosial (Lazarus, 1976). Coping adalah respon yang ditujukan terhadap stressor, baik yang berupa sikap, perasaan, atau pikiran individu dalam usaha untuk mengatasi, menahan, atau menurunkan efek negatif dari situasi yang mengancam.
Lazarus (dikutip Stone dan Neale, 1984) mengemukakan pendapat bahwa tingkah laku coping adalah tingkah laku yang mengarah pada pemecahan masalah yang paling sederhana dan realistis untuk membebaskan diri dari bahaya yang nyata dan tidak nyata (imajiner). Tingkah laku tersebut juga melibatkan pikiran-pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi dan mengontrol efek dari perasaan dan pengalaman seseorang dalam situasi yang menekan. Coping merupakan respon yang ditujukan terhadap stressor, baik itu berupa sikap, perasaan atau pikiran individu dalam usaha mengatasi, menahan atau menurunkan efek negatif dari situasi yang mengancam (Baron dan Byrne, 1991).
Perilaku coping merupakan suatu proses yang dibutuhkan setiap waktu, karena konflik akan selalu timbul. F. Cohen dan Lazarus (1972) menyatakan bahwa usaha coping bertumpu pada lima tugas utama yaitu:
1.      Mengurangi kondisi lingkungan yang mengancam dan meningkatkan kemungkinan untuk kembali ke kondisi semula.
2.      Bertahan dan menyesuaikan diri dengan kejadian negatif dan kenyataan.
3.      Memelihara self image yang positif.
4.      Menjaga keseimbangan emosional.
5.      Menjaga kelanjutan hubungan emosional yang memuaskan dengan orang lain.
Folkman (1986) memandang coping sebagai usaha yang bersifat kognitif dan behavioral yang dilakukan untuk mengatur tuntutan internal dan eksternal yang timbul dari hubungan individu dengan lingkungan yang dinilai mengganggu atau di luar batas-batas yang dimiliki individu tersebut

Judul Skripsi Psikologi; Sumber Pembentukan Harga Diri

Ada empat aspek menurut Coopersmith (1967) yang menjadi  sumber pembentukan harga diri seseorang. Empat hal tersebut adalah :
a.       Keberartian (significant)
Keberartian individu nampak dari adanya penerimaan, penghargaan, perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian biasanya ditujukan dengan adanya penerimaan dari lingkungannya, ketenaran dan dukungan keluarga. Semakin banyak ekspresi kasih sayang yang diterima individu, individu akan semakin berarti. Tetapi apabila individu tidak atau jarang memperoleh stimulus positif dari orang lain, maka kemungkinan besar individu akan merasa ditolak dan mengisolasikan diri dari pergaulan.
b.      Kekuatan (power)
Kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol diri sendiri serta orang lain. Pada situasi tertentu kebutuhan ini ditunjukkan dengan adanya penghargaan, penghormatan dari orang lain. Pengaruh dan wibawa juga merupakan hal-hal yang menunjukkan adanya aspek ini pada seorang individu. Dari pihak individu, seseorang yang mempunyai kemampuan seperti ini biasanya akan menunjukkan sifat-sifat asertif dan explanatory actions yang tinggi.
c.       Kompetensi (competence)
Merupakan performance atau penampilan yang prima dalam upaya meraih kesuksesan dan keberhasilan. Dalam hal ini penampilan yang prima ditunjukkan dengan adanya skill atau kemampuan yang merata untuk semua usia. Dengan adanya kemampuan yang cukup, individu akan merasa yakin untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Individu dengan kompetensi yang bagus akan merasa setiap orang memberi dukungan padanya. Individu akan merasa mampu mengatasi setiap masalah yang dihadapinya serta mampu menghadapi lingkungannya.
d.      Kebajikan (virtue)
Adanya kesesuaian diri dengan moral dan standar etik yang berlaku di lingkungan. Kesesuaian diri dengan moral dan standar etik diadaptasi individu dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh para orang tua. Permasalahan nilai ini pada dasarnya berkisar pada persoalan benar dan salah. Bahasan tentang kebajikan juga tidak akan lepas dari segala macam pembicaraan mengenai peraturan dan norma di dalam masyarakat, juga hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta ketaatan dalam beragama.

Judul Skripsi Psikologi; Pemahaman Duka Cita

Konsep kehilangan dan berduka (duka cita) telah secara luas dipublikasikan di berbagai textbook maupun jurnal sejak 50 tahun yang lalu. Dari pemikiran klasik Bowlby (1980) tentang perasaan cinta dan kehilangan (attachment and loss) sampai dengan penjelasan mengenai kepedihan (poignant) dari C.S. Lewis (1994). Perawat jarang sekali mendalami perasaan duka cita yang sedang dialami oleh pasiennya, meskipun duka cita adalah sebuah pengalaman universal dalam diri manusia.
Duka cita bermakna kesedihan yang mendalam disebabkan karena kehilangan seseorang yang dicintainya (misal kematian). Menurut Cowles dan Rodgers (2000), duka cita dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Duka cita dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan emosi, pikiran maupun perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu proses yang ditandai dengan beberapa tahapan atau bagian dari aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu : (1) menolak (denial); (2) marah (anger); (3) tawar-menawar (bargaining); (4) depresi (depression); dan (5) menerima (acceptance) (TLC, 2004) . Pekerjaan duka cita terdiri dari berbagai tugas yang dihubungkan dengan situasi ketika seseorang melewati dampak dan efek dari perasaan kehilangan yang telah dialaminya. Duka cita berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu.
2.      Pengalaman duka cita bersifat individu dan dipengaruhi oleh banyak faktor, kemudian dapat mempengaruhi aspek kehidupan lainnya. Duka cita lebih dari sekedar tetesan air mata, ia memanifestasikan dirinya sendiri dalam kesadaran, fisik, tingkah laku, jiwa, psikologis, dan kehidupan sosial seseorang, seperti halnya perilaku emosional.
3.      Duka cita bersifat normatif namun tidak ada kesepakatan universal yang bisa menjelaskan sejauh mana kondisi normalnya. Perawat seringkali merasakan adanya sesuatu yang membatasi duka cita pasien sehingga tidak sesuai dengan apa yang perawat pikirkan; penghalang tersebut berasal dari latar belakang sosial budaya klien yang mendorong terciptanya berbagai macam respon duka cita (Cowles& Rodgers, 2000). Dengan memanfaatkan literatur dari berbagai disiplin ilmu sebagai basis analisis, Cowles and Rodgers (1991) mendefinisikan duka cita sebagai “suatu proses dinamis, menyebar, dan sangat individual dengan komponen yang bersifat normatif”. Atribut duka cita yang dikembangkan mencakup hal-hal sebagai berikut : dinamis, proses, individual, menyebar, dan normatif (Cowles dan Rodgers, 2000). Namun atribut-atribut tersebut belum menghasilkan suatu variabel yang dapat diukur. Menurut Reed (2003), perlu dilakukan eksplorasi lebih lanjut tentang berbagai aspek duka cita yang lebih spesifik dan operasional. 

Judul Skripsi Psikologi; Pengertian Depresi

Depresi dapat diartikan sebagai sebuah kondisi batin yang tertekan dalam waktu panjang (stres berkelanjutan) dan mengakibatkan hilangnya harapan hidup, makna hidup, motivasi berprestasi, dan kepercayaan-diri (losing mood and confidence). Secara garis besar depresi bisa terjadi distimulasi oleh keadaan eksternal yang berubah ke arah yang lebih buruk dan itu di luar kontrol individu tersebut. Kondisi emosi atau psikologis masing-masing orang turut menentukan apakah sesuatu itu dapat menyebabkan depresi, sejauh mana tingkat depresinya  serta seberapa besar kemampuan orang itu untuk mengatasi masalah (hingga tidak sampai depresi) atau, seberapa besar kemampuan orang itu untuk mengatasi depresinya.(Beck,1979)
Misalnya kematian orang-orang tercinta atau bencana alam yang menyisakan kenangan-kenangan traumatik. Bila ini berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi maka menyebabkan individu kehilangan mood, kehilangan gairah untuk melangkah, kehilangan kepercayaan diri, maka trauma itu menyebabkan seseorang mengalami depresi. Individu kehilangan daya tarik untuk menjadikan hidup individu menjadi lebih hidup dan kehilangan semangat untuk menjalankan aktivitas positif.
Depresi juga muncul karena ulah individu sendiri. Ulah di sini ada yang berbentuk penyimpangan / pelanggaran  atau ada yang berbentuk pengabaian. Hampir seluruh tindak penyimpangan atau pelanggaran atas apa yang benar di dunia ini dalam skala / ukuran yang besar,  umumnya akan melahirkan konsekuensi yang tidak terkontrol. Bila konsekuensi buruk itu terjadi dan merembet kemana-mana dan semuanya menjadi pilihan buruk buat individu, ini juga bisa menimbulkan depresi. Pengabaian terhadap diri sendiri seperti potensi yang tidak dikembangkan atau mempunyai resource tetapi tidak digunakan, dan lain-lain, ini juga bisa menimbulkan depresi. Jadi, bukan pengabaiannya yang menyebabkan depresi tetapi konsekuensi pengabaian itulah yang membuat orang menjadi depresi.  Individu mulai merasa tidak berarti bagi diri sendiri dan orang lain. (Gilbert et al,1988)

Judul Skripsi Psikologi; Asas-Asas Bimbingan Konseling

Dalam penyelengaraan layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didapatkannya prinsip-prinsip bimbingan dan konseling juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan konseling dengan baik sehingga dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkannya. Adapun asas-asas bimbingan dan konseling tersebut adalah:
1.     asas kerahasiaan
asas ini menuntut untuk dirahasiakannya semua data dan keternagan peseta didik yang menjadi sasaran layanan
2.     asas kesukarelaan
merupakan asas yang menghendaki adanya kesuksesan dan kerelaan klien mengikuti atau menjalani layanan yang diperuntukkan baginya
3.     asas keterbukaan
asas yang menghendaki klien yang menjadi sasaran layanan bersikap terbuka, tidak berpura-pura baik keterangan tentang dirinya maupun informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangannya
4.     asas kegiatan
asas bimbingan konseling yang menghendaki peserta didik atau klien berpartisipasi secara aktif dalam penyelenggaran layanan bimbingan
5.     asas kemandirian
asas yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan sehingga setelah dibantu diharapkan klien mandiri
6.     asas kekirian
merupakan asa yang menghendaki masalah yang menjadi obejk sasaran layanan adalah permasalahan dalam kondisi sekarang; apa yang perlu dilakukan sekarang
7.     asas kedinamisan
asas yang menghendaki terjadinya perubahan pada diri individu yang dibimbing yaitu perubahan tingkah laku terarah yang lebih baik
8.     asas keterpaduan
merupakan asas bimbingan dan konseling yang mengusahakan memadukan berbagai aspek kepribadian klien. Selain itu juga memadukan jangan sampai layana  yang diberikan tidak sesuai dengan aspek layanan yang lain
9.     asas kenormatifan
asas yang menghendaki segenap layana dan kegiatan bimbingan konseling tidak bertentangan dengan nilai dan norma yang ada baik norma agama , hukum, dan peraturan adat istiadat yang berlaku, ilmu pengetahuan serta kebiasaan yang berlaku
10. asas keahlian
asas yang menghendaki agar layanan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah profesionalisme
11. asas alihtangan
asas ini menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan bimbingan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik mengalihtangankan permasalahan itu ke pihak yang lebih ahli
12. asas Tut Wuri Handayani
asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi, mengembangkan keteladanan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk maju. 

Judul Skripsi Psikologi; Prinsip Layanan Bimbingan dan Konseling

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam layanan bimbingan dan konseling adalah:
1.      prinsip berkenaan dengan sasaran layanan
1)        bimbingan dan konseling melayani semua individu (tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi
2)        bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis
3)        bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu
4)        bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individu yang menjadi orientasi pokok pelayanannya
2.      prinsip berkenaan dengan permasalahan individu
1)        bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di rumah
2)        kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya yang kurang menguntungkan merupakan salah satu faktor timbulnya pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan dan konseling
3.      prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program layanan
1)        bimbingan dan konseling merupakan bagian integrak dari proses pendidikan dan pengembangan individu. Oleh karena itu program bimbingan dan konseling harus disusun dan dipandang sejalan dengan program pendidikan dan pengembangan peserta didik
2)        program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga
3)        program bimbingan dan konseling disusun secara berkesinambungan dari jenjang pendidikan yang terendah sampai tertinggi
4)        terhadap isi pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian yang teratur dan terarah
4.      prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan
1)        bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk mengembangkan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahannya
2)        dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan hendak dilakukan oleh klien itu sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari konselor
3)        permasalahan antara konselor, guru dan orang tua amat menentukan hasil pelayanan bimbingan
4)        pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling

Judul Skripsi Psikologi; Pengertian Sikap Proaktif

Pengertian proaktifitas adalah memiliki inisiatif dan tindakan yang dilakukan oleh nilai yang sudah dipikirkan secara cermat, seletif dan dihayati (Stephen, 1997). Memiliki inisiatif berarti tidak menjadi sasaran namun bertindak untuk menyatakan keadaan tertentu. Perilaku orang proaktif adalah produk dari pilihan sadar berdasarkan nilai dan produk dari kondisi berdasarkan perasaan. Jadi orang yang proaktif dapat mengatur diri sendiri yang digerakkan berdasarkan nilai. Menurut (Covey, 2005) Sikap proaktif adalah mengembangkan kebiasaan yang pertama dan paling mendasar dari manusia yang sangat efektif dalam lingkungan apapun
Sedangkan menurut Sean (2001), proaktif adalah mengambinisiatif dan mampu mengendalikan hidup sendiri dan membuat pilihan menurut nilai, berpikir sebelum berekasi, sadar bahwa tidak bisa mengendalikan segala yang terjadi. Berdasarkan pendapat ini maka proaktif berarti mau bertindak tidak sekedar menjadi sasaran tindakan dan mampu menjadi pengemudi hidupnya. Dalam bertindak orang yang proaktif berdasarkan pilihan orang yang proaktif berdasarkan pilihan nilai dan saar dengan keterbatasan yang dimiliki.

Judul Skripsi Psikologi; Pengertian Konsep Diri

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2008), konsep diri merupakan gambaran tentang diri dipengaruhi oleh model dari orangtua, gambaran tentang dirinya menjadi akar dari pandangannya terhadap orang lain. Konsep diri adalah persepsi keseluruhan yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri. Burns (1997) dalam Sobur (2009) , mengatakan bahwa konsep diri merupakan suatu kepercayaan mengenai keadaan diri sendiri yang relatif sulit diubah. Konsep diri tumbuh dari interaksi seseorang dengan orang-orang lain yang berpengaruh dalam kehidupannya, biasanya orangtua, guru, dan teman-teman.
Mead (dalam Slameto, 2003) mengatakan bahwa konsep diri adalah suatu produk sosial yang dibentuk melalui sebuah proses internalisasi dan pengalaman psikologis yang merupakan hasil eksplorasi seseorang terhadap lingkungan, fisiknya dan refleksi dari dirinya sendiri dan diterima dari orang yang berpengaruh terhadap dirinya. Sedangkan Brem dan Kassin (dalam Dayaksini, 2006) menjelaskan konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat) yang dimilikinya, atau dapat juga dimengerti sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki individu tentang karakteristik atau ciri-ciri pribadinya (Worchel dkk, dalam Dayaksini, 2006).
Verderber dalam bukunya Communicate, mendefinisikan konsep diri sebagai “Koleksi persepsi setiap aspek dari keberadaan Anda, Anda penampilan, fisik dan kemampuan mental, kejuruan potensi, ukuran, kekuatan dan sebagainya (Sobur, 2009). Pendapat yang hampir senada tentang konsep diri ini dikemukakan oleh William D. Brooks dalam bukunya Speech Communication. Dikatakan, “konsep-diri itu, dapat didefinisikan sebagai persepsi-persepsi fisik, sosial, dan psikologis dari diri kita yang kita berasal dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain” (Sobur, 2009).
Rogers (Alwisol, 2006) mengemukakan bahwa self atau konsep self adalah konsep menyeluruh yang ajeg dan terorganisir tersusun dari persepsi ciri-ciri mengenai “I” atau “me” (aku sebagai subjek atau aku sebagai objek) dan persepsi hubungan “I” atau “me” dengan orang lain dan berbagai aspek kehidupan, berikut dengan nilai-nilai yang terlibat pada persepsi itu. Menurut Rogers (dalam Faisal dan Mappiare), seseorang dalam mempersepsi suatu kejadian bergantung pada bagaimana seseorang itu merespon, dan respon tiap orang itu subjektif. Setiap individu menilai diri dan lingkungannya. Hasil penilaian itu disimbolkannya (diungkapkannya) baik dalam bentuk kata-kata maupun citra dalam benaknya. Konsep diri, menurut Rogers (Budiharjo, 1997), adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, yaitu "aku" merupakan pusat referensi setiap pengalaman (Sobur, 2009).
Konsep diri merupakan evaluasi diri spesifik domain dalam kehidupannya - akademis, olahraga, penampilan fisik - yang dilakukan seseorang terhadap dirinya (Santrock, 2007). Sedangkan menurut Slavin (2008), konsep diri adalah persepsi seseorang tentang kekuatan, kelemahan, kemampuan, sikap, dan nilainya sendiri. Konsep diri dalam perkembangan anak-anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman dalam keluarga, di sekolah, dan dengan teman sebaya. Perkembangannya dimulai pada saat lahir dan terus dibentuk oleh pengalaman.
Konsep diri sebagai pandangan yang dimiliki setiap orang mengenai dirinya sendiri yang terbentuk, baik melalui pengalaman maupun pengamatan terhadap diri sendiri, baik konsep diri secara umum (general self-concept) maupun konsep diri secara spesifik termasuk konsep diri dalam kaitannya dengan bidang akademik, karier, atletik, kemampuan artistik, dan fisik. Konsep diri merupakan verifikasi diri, konsistensi diri, dan kompleksitas diri yang terbuka untuk interpretasi sehingga secara umum berkaitan dengan pembelajaran dan menjadi mediasi variabel motivasi dan pilihan tugas-tugas pembelajaran (Black & Bornholt, 2000, dalam Thalib, 2010).

Judul Skripsi Psikologi, Pendidikan; Evaluasi Prestasi Hasil Belajar

Evaluasi prestasi belajar siswa yang bersifat kognitif membutuhkan bukti-bukti berupa hasil tes (ulangan). Melalui pengukuran dapat dilihat kekuatan dan kelemahan masing-masing siswa dalam menguasai materi pelajaran. Manfaat dari hasil pengukuran prestasi belajar ini tidak hanya pendidik dan siswa, akan tetapi orangtua dapat melihat sejauhmana anaknya dapat mengikuti pendidikan yang diterima. Prestasi belajar siswa untuk jenjang pendidikan formal dicantumkan dalam buku raport yang diperoleh siswa setiap enam bulan sekali (per semester) dan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) pada akhir jenjang pendidikan. Evaluasi hasil belajar dicantumkan dalam rapor yang merupakan perumusan yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar murid-muridnya selama masa tertentu (Syah, 2010).
Ulangan dan Ulangan Umum yang dulu disebut THB (Tes Hasil Belajar) itu dan TPB (Tes Prestasi Belajar) adalah alat-alat ukur yang banyak digunakan untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah proses belajar-mengajar atau untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah program pengajaran. Sementara itu, istilah evaluasi biasanya dipandang sebagai ujian untuk menilai hasil pembelajaran para siswa pada akhir jenjang pendidikan tertentu. Di Indonesia ujian seperti ini disebut Ujian Akhir Nasional (UAN) (Suryabrata, 2004).
Ujian Akhir Nasional atau Ujian Nasional (UN) pada prinsipnya sama dengan evalusi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa. Namun, UAN yang mulai diberlakukan pada tahun 2002 itu dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas tertinggi pada suatu jenjang pendidikan tertentu yakni jenjang SD/MI (Madrasah Ibtidaiyah), dan seterusnya (Syah, 2010).
Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 (1) evaluasi belajar peserta didik dilakukan untuk memantau proses. Kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Oleh karena itu, maka evaluasi seyogianya dilakukan guru secara terus-menerus dengan berbagai cara, bukan hanya pada saat-saat ulangan terjadwal atau saat ujian belaka (Syah, 2010).
Ada dua macam pendekatan yang amat populer dalam mengevaluasi atau menilai tingkat keberhasilan atau prestasi belajar (Syah, 2009), yakni:
a.    Penilaian Acuan Norma (PAN) atau Norm-referenced Assessment untuk mengevaluasi tinggi-rendahnya nilai seorang siswa berdasarkan hasil perbandingan dengan skor atau persentase jawaban benar yang dicapai kelompoknya.
b.    Penilaian Acuan Kriteria (PAK) atau Criterion-Referenced Assessment untuk mengevaluasi keberhasilan belajar siswa berdasarkan kriteria tertentu yang dijadikan patokan mutlak.
Menurut Syah (2009), batas minimal keberhasilan belajar siswa (passing grade) pada umumnya adalah 5,5 atau 6,0 untuk skala nilai0.0 – 10, dan 55 atau 60 untuk skala 10 – 100, tetapi untuk mata pelajaran inti (core subject) batas minimalnya adalah 6,5 atau 7,0 atau bahkan 8,0 jika pelajaran inti tersebut memerlukan mastery learning.
Dalam materi sosialisasi pedoman pengajaran pendidik (2010), batas keberhasilan belajar pada siswa berdasarkan kriteria penetapan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) meliputi:
a.    Tingkat kompleksitas
Kompleksitas indikator (kesulitan dan kerumitan) ialah setiap indikator pencapaian atau kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa.
a.    Daya dukung
Kemampuan sumber daya pendukung yaitu tenaga, sarana dan prasarana pendidikan, biaya, lingkungan, manajemen, Komite Sekolah, dan stakeholders sekolah.
b.    Intake siswa (masukan kemampuan siswa)
Intake adalah tingkat kemampuan rata-rata siswa, merupakan:
1)  Hasil seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB)
2)  Rapor kelas terakhir dari tahun sebelumnya
3)  Test seleksi untuk masuk atau psikotes
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi prestasi belajar adalah hasil penilaian guru terhadap materi pelajaran yang telah diberikan melalui tugas, ulangan harian maupun ulangan umum. Pengukuran terhadap prestasi belajar siswa yang bersifat kognitif ini dilakukan dengan cara melihat daftar nilai hasil ulangan umum semester I dan II yang dicantumkan dalam buku raport yang diperoleh siswa yang memenuhi kurikulum yang ada sehingga diperoleh indeks prestasi siswa.