Sabtu, 24 November 2012

Judul Skripsi Kedokteran: Masalah Pengadaan Air

Air merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting. Yang disebut secara umum dengan pengadaan air bersih adalah meliputi penyediaan sumber-sumbernya, pengolahan air menurut prinsip sanitasi, penyaluran kepada konsumen, maupun pengawasan kualitas airnya. Dengan pengertian pengadaan air bersih adalah air bersih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga (air minum), rumah tangga maupun umum (Slamet Ryadi, 1986: 42).
Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena penyediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat. Volume rata-rata kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara 150 – 200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat (Budiman Chandra, 2007: 39).
Masalah pengawasan kualitas air dapat dimonitor melalui prosedur pemeriksaan secara berkala baik dari segi biologis, khemis, maupun fisis.
1.      Syarat-syarat Air Bersih
Agar manusia tidak menerima akibat buruk dari penggunaan air, maka harus mengenal syarat-syarat air yang dapat digolongkan sebagai air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut Notoatmodjo (1996: 153) pada dasarnya air dikatakan air bersih, apabila telah memenuhi 3 persyaratan:
a.       Syarat fisik, artinya air tersebut bening (tidak berwarna), tidak berasa, suhu di bawah suhu udara di luarnya.
b.      Syarat bakteriologis, harus terbebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Setelah melalui pemeriksaan, maka sekurang-kurangnya dalam 90% dari jumlah contoh air yang dikumpulkan tidak terdapat bakteri golongan coli.
c.       Syarat kimia, air harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia dalam air, akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia.
2.      Parameter Kualitas Air
Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Air minum pun seharusnya tidak mengandung kuman patogen dan segala makhluk yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Tidak mengandung zat kimia  yang dapat mengubah fungsi tubuh, tidak dapat diterima secara estetis dan dapat merugikan secara ekonomis. Air itu seharusnya tidak korosif, tidak meninggalkan endapan pada seluruh jaringan distribusinya. Pada hakekatnya tujuan ini dibuat untuk mencegah terjadinya serta meluasnya penyakit bawaan air (Juli Soemirat, 1994: 110).
Menurut Juli Soemirat, (1994: 111-117), parameter pengukuran kualitas air selalu dibagi kedalam beberapa bagian sebagai berikut:


a.       Parameter Fisis
1)      Bau
Bau pada air dapat memberikan petunjuk akan kualitas air. Bau air bergantung dari sumbernya, dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia, ganggang, plankton, atau tumbuhan dan hewan air yang hidup maupun yang sudah mati.
2)      Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik yang bersifat anorganik maupun yang organik. Zat anorganik, biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam, sedangkan organik dapat berasal dari lapukan tanaman atau hewan. Bakteri juga merupakan zat organik tersuspensi sehingga pertambahannya akan menambah kekeruhan air.
3)      Rasa
Air minum biasanya tidak memberi rasa / tawar. Air yang tidak tawar dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan.
4)      Temperatur
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran atau pipa, menghambat reaksi-reaksi biokimia di dalam saluran, mikroorganisme tidak berkembangbiak dan apabila diminum dapat menghilangkan dahaga.
5)      Warna
Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alas an estetis dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun mokroorganisme yang berwarna. Warna dapat disebabkan adanya tanin dan asam humat yang terdapat secara alamiah di air rawa. Warna juga dapat berasal dari buangan industri.
b.      Parameter Kimia
1)      Air raksa (Hg)
Air raksa adalah metal yang menguap pada temperatur kamar. Hg merupakan racun sistemik dan diakumulasi dalam hati, ginjal, limpa dan tulang. Keracunan Hg akan menimbulkan gejala susunan saraf pusat seperti kelainan kepribadian, pikun, imsomnia, iritasi, depresi, dan rasa ketakutan.
2)      Aluminium (Al)
Aluminium adalah metal yang dapat dibentuk, dan karenanya banyak digunakan, sehingga banyak terdapat di lingkungan dan didapat pada berbagai jenis makanan. Dalam dosis tinggi dapat menimbulkan luka pada usus. Al dalam bentuk debu dapat diakumulasi dalam paru-paru, dapat pula menyebabkan iritasi kulit, selaput lender, dan saluran pernafasan.
3)      Arsen (As)
Arsen adalah metal yang mudah patah, berwarna keperakan, dan sangat toksik. As elemental di dapat di alam dalam jumlah yang sangat terbatas, terdapat bersama-sama Cu, sehingga didapatkan sebagai produk sampingan pabrik peleburan Cu. Keracunan As pada manusia dapat menyebabkan muntaber disertai darah, disusul dengan koma, dapat menyebabkan kematian.
4)      Barium (Ba)
Barium juga suatu metal, berwarna putih. Barium banyak terdapat di lingkungan. Dalam bentuk debu Ba dapat diakumulasi dalam paru-paru dan dapat menyebabkan fibrosis. Keracunan Ba dapat menghentikan otot-otot jantung dalam waktu 1 jam. Pada fase akhir keracunan dapat terjadi kelumpuhan urat saraf.
5)      Besi (Fe)
Besi atau Ferrum adalah metal berwarna putih keperakan, liat dan dapat dibentuk. Di alam terdapat sebagai hematite. Di air minum Fe menimbulkan rasa, warna kuning, pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi, dan kekeruhan. Dalam dosis besar Fe dapat merusak dinding usus. Debu Fe dapat diakumulasi dalam alveoli, dan menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru.
6)      Fluorida (F)
Fluor adalah halogen yang sangat reaktif, karenanya di alam selalu didapat dalam bentuk senyawa. Fluorida anorganik bersifat lebih toksik dan lebih iritan daripada yang organik. Keracunan F menyebabkan orang menjadi kurus, pertumbuhan tubuh terganggu, terjadi fluorosis pada gigi serta kerangka, dan gangguan pencernaan yang disertai dengan dehidrasi, cacat tulang, kelumpuhan, dan kematian.
7)      Cadmium (Cd)
Cadmium adalah metal berbentuk kristal putih keperakan. Cd sangat beracun bagi manusia, keracunan akut akan menyebabkan gejala gasterointestinal dan penyakit ginjal.
8)      Kesadahan (CaCo3)
Kesadahan dapat menyebabkan pengendapan pada dinding pipa. Kesadahan yang tinggi disebabkan oleh sebagian besar oleh Calcium, Magnesium, Strontium, dan Ferrum. Masalah yang dapat timbul adalah sabun sulit membusa.
9)      Khlorida
Khlorida adalah senyawa halogen khlor (Cl). Toksisitasnya tergantung pada gugus senyawa. Dalam jumlah banyak, Cl akan menimbulkan rasa asin, korosi pada pipa sistem penyediaan air panas.
10)  Khromium (Cr)
Khromium adalah metal kelabu yang keras. Cr tidak toksik, tetapi senyawanya sangat iritan dan korosif, menimbulkan ulcus yang dalam pada kulit dan selaput lender. Inhalasi Cr dapat menimbulkan kerusakan pada tulang hidung. Di dalam paru-paru Cr dapat menimbulkan kanker.

11)  Mangan (Mn)
Mangan adalah metal kelabu kemerahan. Dalam air juga menyebabkan warna ungu atau hitam. Keracunan seringkali bersifat khronis sebagai akibat inhalasi debu dan uap logam. Gejala yang timbul imsomnia, lemah pada kaki dan otot muka sehingga ekspresi muka menjadi beku dan muka tampak seperti topeng.
12)  Natrium (Na)
Natrium sangat reaktif, karenanya bila berada di dalam air akan terdapat sebagai suatu senyawa. Natrium sendiri bagi tubuh tidak merupakan benda asing, tetapi tonisitasnya tergantung pada gugus senyawanya.
13)  Nitrat, Nitrit
Nitrat dan nitrit dalam jumlah besar dapat menyebabkan gangguan GI (Gastero Intestinal), Diare campur darah, disusul konvulsi koma, dan kematian. Keracunan khronis menyebabkan depresi umum, sakit kepala, dan gangguan mental.
14)  pH
Air minum sebaiknya netral, tidak asam atau basa, untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat, dan korosi jaringan distribusi air minum. Air adalah bahan pelarut yang sangat baik, maka dibantu dengan pH yang tidak netral dapat melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya.

15)  Seng (Zn)
Tubuh memerlukan Zn untuk proses metabolisme, tetapi dalam kadar tinggi dapat bersifat racun. Di dalam air dapat menimbulkan rasa kesat, dan dapat menyebabkan gejala muntaber. Seng menyebabkan warna air menjadi opalescent, dan bila dimasak akan timbul endapan seperti pasir.
16)  Sianida (Cn)
Sianida adalah senyawa Sian (Cn) yang dikenal sebagai racun. Di dalam tubuh akan menghambat pernapasan jaringan, sehingga terjadi asphyxia, orang merasa tercekik dan cepat diikuti oleh kematian.
17)  Sulfat
Sulfat bersifat iritan bagi saluran gastro-intestinal, bila dicampur dengan Magnesium atau Natrium. Jumlah MgSO­­4 yang tidak terlalu besar sudah dapat menimbulkan diare.
18)  Tembaga (Cu)
Tembaga sebetulnya diperlukan dalam perkembangan tubuh manusia tetapi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan gejala GI (Gastero Intestinal), SSP (Susunan Saraf Pusat), Ginjal dan hati. Dalam dosis rendah menimbulkan rasa kesat, warna, korosi pada pipa, sambungan, dan peralatan dapur. 
19)  Timbal (Pb)
Timbal adalah metal kehitaman. Pb merupakan racun sistemik dan keracunan Pb akan menimbulkan gejala rasa logam di mulut, garis hitam pada gusi, anorexia, muntah-muntah, kelumpuhan, kebutaan dan lain sebagainya.
20)  Zat padat terlarut (TDS = Total Disolved Solid)
TDS biasanya terdiri atas zat organik, garam anorganik, dan gas terlarut. Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik pula. Selanjutnya efek TDS ataupun kesadahan terhadap kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab masalah tersebut.
1.      Hubungan  Air Kotor dengan Kesehatan
Menurut Ichsan (1979: 38-39), Air kotor adalah air yang sudah dicemari. Secara kimia mungkin air tersebut mengandung zat-zat kimia yang membahayakan. Secara bakteriologi, air tersebut mengandung berbagai bakteri penular penyakit. Secara fisik, air tersebut telah berubah, terutama warnanya. Air kotor dapat menimbulkan berbagai penyakit yang biasa dikenal dengan “Water Borne Diseases”. Beberapa penyakit yang diakibatkan oleh air kotor antara lain:
a.       Penyakit Perut: Kholera/ Diare (muntah berak), Disentri, Thyphus
b.      Penyakit Cacing
c.       Penyakit Mata
d.      Keracunan

Judul Skripsi Kedokteran: Gambaran Umum Kesehatan Masyarakat

Kesehatan masyarakat adalah kiat untuk mencegah penyakit, memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kesehatan serta efesiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk; sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan hygiens perorangan, mengorganisir pelayanan medis dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis dini dan pengobatan pencegahan serta membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehidupan yang cukup baik untuk dapat memelihara kesehatan (Notoatmodjo, 1994: 10).
1.      Pengertian tentang Perilaku Kesehatan Individu/ Masyarakat
Perilaku kesehatan individu atau masyarakat adalah hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan individu, memilih makanan, sanitasi dan sebagainya (Notoatmodjo, 1996: 124).
Kesehatan individu dan masyarakat adalah suatu upaya untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan individu (masyarakat) (Notoatmodjo, 1996: 10).
2.      Pengaruh Perilaku Kesehatan Individu terhadap Penyakit Infeksi
Tingkat kebersihan pribadi dan kebersihan makanan yang memadai dan dalam halnya pemaparan patogen akibat pekerjaan, penggunaan pakaian, alas kaki dapat memberi perlindungan terhadap infeksi (Duncan M, 1994: 82).

Judul Skripsi Kedokteran: Hubungan Sampah dengan Kesehatan

A.    Hubungan Sampah dengan Kesehatan
1.      Pengertian Sehat
Dalam Undang-Undang Pokok Kesehatan nomor 9 tahun 1960 Bab I pasal 2, kesehatan adalah keadaan sempurna yang meliputi kesehatan badan, rohani (mental), sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan (Juli Soemirat, 1994: 4).
Menurut Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, disebutkan bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomi (Juli Soemirat, 1994: 4).
2.      Pengaruh Sampah terhadap Kesehatan
Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi efek langsung dan efek tidak langsung. Yang dimaksud efek langsung adalah efek yang disebabkan karena kontak langsung dengan sampah tersebut. Misalnya sampah beracun, sampah yang korosif terhadap tubuh, yang karsinogenik, dan lain sebagainya. Selain itu ada pula sampah yang mengandung kuman patogen, sehingga dapat menimbulkan penyakit. Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan masyarakat akibat proses pembusukan, pembakaran dan pembuangan sampah. Efek tidak langsung lainnya berupa penyakit bawaan vektor yang berkembangbiak di dalam sampah. Sampah apabila ditimbun sembarangan dapat dipakai sarang lalat dan tikus sebagai vektor penyakit perut (Juli Soemirat, 1994: 154-155).
3.      Jenis Penyakit yang Berhubungan dengan Sampah dan Air
Sampah sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Pengaruh yang tidak langsung dirasakan oleh masyarakat adalah akibat proses pembusukan, pembakaran, dan pembuangan sampah. Selain itu, penyakit bawaan vektor dapat berkembang biak di dalam sampah. Sampah apabila ditimbun sembarangan dapat menjadi sarang lalat dan tikus. Penyakit bawaan sampah sangat luas dan dapat berupa penyakit menular, tidak menular dan dapat berupa juga akibat kebakaran, keracunan dan lain-lain (Juli Soemirat, 1994: 155).
Adanya penyebab penyakit dalam air, dapat menyebabkan efek langsung terhadap kesehatan. Peran air dalam terjadinya penyakit menular antara lain; sebagai penyebar mikroba pathogen, sebagai sarang insekta penyebar penyakit, sebagai sarang hospes sementara penyakit, dan lain sebagainya. Penyakit menular yang disebarkan oleh air secara langsung diantara masyarakat seringkali dinyatakan sebagai penyakit bawaan air atau “water borne deseases”. Penyakit-penyakit ini hanya dapat menyebar apabila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air ini banyak macamnya, mulai dari virus, bakteri, protozoa, dan metazoan (Juli Soemirat, 1994: 94). 

Judul Skripsi Lingkungan: Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir Sampah

Untuk mendukung operasi dan fungsi TPA, maka diperlukan sarana dan prasarana antara lain:
a.       Sarana TPA sampah meliputi:
1)      Ventilasi gas, untuk mengalirkan gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi sampah.
2)      Drainase keliling TPA. Drainase dibuat terpisah untuk menyalurkan air hujan dan air lindi (leachate).
3)      Jembatan timbangan dan komputerisasi, untuk mengetahui dan mencatat volume sampah, asal sampah, jenis sampah, tanggal dan waktu kedatangan.
4)      Sumur monitor, yang berfungsi untuk memonitor air tanah disekitar TPA.
b.       Prasarana TPA sampah
Prasarana TPA (fasilitas penunjang) yang tersedia di TPA sampah Purworejo terdiri dari:
1)      Ruang perkantoran
2)      Ruang workshop untuk memperbaiki dan memelihara kendaraan operasional
3)      Bak pengolahan air lindi atau leachate
4)      Alat ukur curah hujan
5)      Tempat cuci dan garasi kendaraan
6)      Jalan masuk ke areal TPA
1.      Aktivitas Pengelolaan Sampah di TPA
Aktivitas pengelolaan sampah di TPA antara lain meliputi kegiatan-kegiatan yaitu:
a.       Penurunan sampah
Penurunan sampah dari kendaraan pengangkut dilakukan pada lokasi yang telah ditentukan. Untuk kelancaran pembongkaran sampah maka perlu adanya pengaturan rute atau lintasan kendaraan di lokasi pembongkaran. Pembongkaran dilakukan secara efisien, untuk menghindari kendaraan slip dan lain sebagainya.
b.      Pemadatan dan pemerataan sampah
Pemadatan dan perataan sampah dilakukan lapis demi lapis, dengan ketebalan 1,5 sampai 2 meter. Pemadatan dilakukan dengan menggunakan buldozer sebanyak 4 kali, dengan kemiringan antara 200 – 300 (kemiringan 1 : 2 sampai 1 : 3) untuk memudahkan operasi.
c.       Penutupan sampah
1)      Penutupan harian
Dilakukan pada setiap akhir operasi atau dilakukan pada sore hari dengan ketebalan 5 – 10 cm. hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penyebaran bibit penyakit dari lokasi TPA. Pada awal operasi tanah yang digunakan untuk menutup sampah berasal dari TPA itu sendiri yang telah disimpan sebelumnya dalam ruang penyimpanan, tetapi untuk saat ini tanah penutup berasal dari daerah lain yang ditangani oleh pihak ketiga dan dibeli oleh pihak TPA.
2)      Penutupan sampah antara
Selama proses dekomposisi sampah di TPA, akan timbul gas metan yang terkumpul dalam lapisan tanah. Bila hal ini terjadi maka perlu adanya lapisan antara sebagai penguat untuk mencegah terkumpulnya gas metan tersebut. Lapisan ini berhubungan dengan pipa ventilasi yang mengeluarkan gas dari dalam sampah. Penutupan dilakukan dengan ketebalan 2 m dan dipadatkan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran serta untuk memudahkan kendaraan melintas diatasnya.
3)      Penutupan sampah akhir
Dilakukan setelah berakhirnya masa operasional TPA atau saat kapasitas maksimal TPA tercapai. Ketebalan  tanah urug adalah 50 – 70 cm. Gas yang terakumulasi dalam timbunan sampah tersebut masih aktif selama 20 tahun sejak penutupan akhir TPA. Oleh karena itu pemadatan disesuaikan dengan peruntukan pemanfaatan dari akhir operasi TPA tersebut dengan pertimbangan apakah akan digunakan untuk penghijauan atau dimanfaatkan untuk kegiatan lain.
2.      Operasional Monitoring
Monitoring adalah suatu kegiatan yang dilakukan terhadap aspek operasional TPA, menurut Yogyakarta Urban Development Project: 1995 adalah sebagai berikut:
a.       Monitoring Leachate
Leachate adalah cairan yang berupa rembesan dari limbah padat yang mengandung bahan-bahan terlarut atau endapan. Leachate merembes melalui lapisan bawah tanah, bahan-bahan kimia dan biologis yang dikandungnya dapat merusak kondisi air tanah. Salah satu cara yang sangat baik untuk mengurangi atau menghilangkan rembesan leachate tersebut yaitu sistem pelapisan dengan tanah liat.
Besarnya jumlah leachate yang terjadi bergantung pada masuknya limpasan air permukaan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dibuat saluran-saluran drainase tepi TPA tersebut.
b.      Monitoring sampah
Kategori sampah yang dapat diterima adalah sampah yang tidak berbahaya misalnya sampah rumah tangga, sampah dari daerah komersial, sampah industri tidak berbahaya, bongkaran bangunan, serta lumpur tidak berbahaya. Sedangkan sampah yang tidak dapat diterima atau dibuang ke TPA adalah sampah berbahaya misalnya sampah yang berasal dari; pabrik kulit, pengrajin batik, bengkel/ pom bensin, industri kimia, percetakan, laboratorium, serta rumah sakit.
Monitoring dilakukan dengan cara mengecek jumlah sampah, penimbangan sampah, pemungutan retribusi, dan tahap pengelolaan sampah yang meliputi; penurunan sampah, perataan dan pemadatan sampah, serta penutupan sampah.
c.       Monitoring badan air
Sistem air bersih yang ada di TPA tidak dimaksudkan untuk penyediaan air minum, melainkan untuk menyediakan air bagi segala kegiatan di TPA. Sistem monitoring badan air yang dilakukan meliputi; pengecekan sistem air bersih, pembersihan filter pasir lambat, pembersihan reservoir, dan pengisian unit disinfeksi

Judul Skripsi Lingkungan: Teknik Operasional Pengelolaan Sampah

1.      Sistem Operasional
Ada dua macam sistem operasional sampah, yakni sistem mikro dan sistem makro. Sistem Mikro adalah pengumpulan sampah dari sumber sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Sistem Makro adalah pengangkutan dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan pengelolaan sampah dilakukan di TPA (Notoatmodjo, 1996: 169).
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Kegiatan pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transpor, pengolahan dan pembuangan akhir (Kuncoro Sejati, 2009: 24).
2.      Metode Pembuangan Akhir Sampah
a.       Metode Open Dumping
Open dumping adalah sampah yang ada hanya ditempatkan begitu saja hingga kapasitasnya tidak lagi terpenuhi. Teknik ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan (Kuncoro Sejati, 2009: 26).
Keuntungan:
1)      Mudah dilaksanakan karena tidak membutuhkan metode pengerjaan yang khusus.
2)      Lahan yang tersedia tidak memerlukan konstruksi khusus.
3)      Biaya murah dalam operasional dan pemeliharaan.
Kerugiannya:
1)      Luas lahan yang dibutuhkan cukup besar.
2)      Kurang memperhatikan segi estetika terhadap lingkungan.
3)      Dapat menimbulkan bau dan gangguan adanya penyebaran vektor penyakit.
4)      Kurang memperhatikan segi perlindungan lingkungan karena hasil dekomposisi sampah (leachate) dapat mencemari air tanah.
b.      Metode Controlled Landfill
Metode ini adalah menimbun sampah pada daerah tersebut sampai pada ketinggian yang dikehendaki atau bisa dengan penggalian tanah sebagai tempat pembuangan sampah, kemudian tumpukan sampah itu ditimbun dengan lapisan tanah dan dilakukan pemadatan dengan menggunakan alat berat (Anonim, 1995).
Keuntungan:
1)      Mudah dilaksanakan karena menggunakan metode yang sederhana.
2)      Lahan yang tersedia tidak memerlukan konstruksi.
3)      Murah dalam operasi dan pemeliharaan karena sistem yang digunakan tidak terlalu kompleks.
4)      Tidak menimbulkan dampak negatif bagi estetika kota, sebab sampah tersebut tidak tersebar sembarangan.
5)      Tidak menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan lingkungan karena gangguan bau sampah dapat dihindari dan berkurangnya vektor penyebab penyakit.
Kelemahan:
1)      Memerlukan daerah yang cukup besar untuk lokasi pembuangan akhir.
2)      Memerlukan anggaran biaya yang khusus untuk pembayaran tenaga operasional dan pemeliharaan alat.
c.       Metode Sanitary Landfill
Sanitary landfill adalah sistem pemusnahan yang paling baik. Dalam metode ini, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi selapis. Dengan demikian, sampah tidak berada di ruang terbuka dan tentunya tidak menimbulkan bau atau menjadi sarang binatang pengerat. Syarat sanitary landfill yang baik adalah sebagai berikut:
1)      Tersedia tempat yang luas.
2)      Tersedia tanah untuk menimbunnya.
3)      Tersedia alat-alat besar.
Lokasi sanitary landfill yang lama dan sudah tidak dipakai dapat dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, perkantoran, dan sebagainya (Budiman Chandra, 2007: 116).
d.      Incineration
Incineration atau insinerasi adalah suatu metode pemusnahan sampah dengan cara membakar sampah secara besar-besaran dengan menggunakan fasilitas pabrik.
Keuntungan:
1)     Volume sampah dapat diperkecil sampai sepertiganya.
2)     Tidak memerlukan ruang yang luas.
3)     Panas yang dihasilkan dapat dipakai sebagai sumber uap.
4)     Pengelolaan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal jam kerja yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Kerugian:
1)     Biaya besar
2)     Lokalisasi pembuangan pabrik sukar didapat karena keberatan penduduk.

Judul Skripsi Lingkungan: Pengertian, Sumber dan Klasifikasi Sampah

1.      Pengertian Sampah
a.       Menurut Notoatmodjo (1996: 166)
Pengertian sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang.
b.      Menurut Azwar (1979: 53)
Sampah (refuse) dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup.
Berdasarkan definisi sampah diatas maka, dapat disimpulkan bahwa sampah adalah bahan-bahan hasil dari kegiatan masyarakat umum yang tidak digunakan lagi, yang pada umumnya berupa benda padat, baik yang mudah membusuk maupun yang tidak mudah membusuk, kecuali kotoran yang keluar dari tubuh manusia, yang ditinjau dari segi sosial ekonomi sudah tidak berharga, dari segi keindahan dapat mengganggu dan mengurangi nilai estetika dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian lingkungan.

2.      Sumber Sampah
Menurut Budiman Chandra (2007: 113-114), sumber sampah dapat berasal dari:
a.       Pemukiman penduduk
Sampah disuatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah kering (rubbish), abu, atau sampah sisa tumbuhan.
b.      Tempat umum dan tempat perdagangan
Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage), sampah kering, abu, sisa-sisa bahan bangunan, sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.
c.       Sarana layanan masyarakat milik pemerintah
Sarana layanan masyarakat yang dimaksud antara lain, tempat hiburan dan umum, jalan umum, tempat parkir, tempat layanan kesehatan (misalnya: rumah sakit dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai tempat berlibur, dan sarana pemerintah yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan tempat khusus dan sampah kering.
d.      Industri berat dan ringan
Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam, tempat pengolahan air kotor dan air minum, dan kegiatan industri lainnya, baik yang sifatnya distributif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.
e.       Pertanian
Sampah yang dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga tanaman.
3.      Klasifikasi Sampah
Sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori antara lain:
a.       Sampah Berdasarkan Bentuk
Menurut Hadiwiyoto (dalam Kuncoro Sejati, 2009: 14), sampah berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi:
1)      Sampah padat (solid) misal: daun, kertas, karton, kaleng, plastik dan logam.
2)      Sampah cair, misalnya bekas air pencuci, bekas cairan yang tumpah, tetes tebu, dan limbah industri yang cair.
3)      Sampah berbentuk gas, misalnya karbondioksida, amonia, H2S, dan lainnya.
b.      Sampah Berdasarkan Proses Terjadinya
Sampah berdasarkan proses terjadinya dapat dibedakan menjadi:
1)      Sampah alami, yaitu sampah yang terjadi karena proses alami, misalnya daun-daun yang rontok.
2)      Sampah non alami, yaitu sampah yang terjadi karena kegiatan manusia, misalnya: plastik dan kertas.
c.       Sampah Berdasarkan Zat Kimia yang Terkandung
Menurut Notoatmodjo (1996: 167), sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat dibedakan menjadi:
1)      Sampah anorganik, yaitu sampah yang umumnya tidak dapat membusuk, misalnya: logam/ besi, pecahan gelas, plastik, dan sebagainya.
2)      Sampah organik, yaitu sampah yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya: sisa-sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan, dan sebagainya.
d.      Sampah Berdasarkan Karakteristik
Menurut Budiman Chandra (2007: 112), sampah dapat dibedakan menjadi beberapa pengertian, antara lain:
1)      Garbage, adalah terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar, dan sebagainya.
2)      Rubbish, terbagi menjadi 2 yaitu:
a)      Yang mudah terbakar terdiri atas zat-zat organik, seperti kertas, kayu, karet, daun kering, dan sebagainya.
b)      Yang tidak mudah terbakar terdiri atas zat-zat anorganik, seperti kaca, kaleng, dan sebagainya.
3)      Ashes, adalah semua sisa pembakaran dari industri.
4)      Street sweeping, adalah sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau manusia.
5)      Dead animal, adalah segala jenis bangkai binatang besar (anjing, kucing, dan sebagainya) yang mati akibat kecelakaan atau secara alami.
6)      House hold refuse, adalah jenis sampah campuran (misalnya, garbage, ashes, rubbish) yang berasal dari perumahan.
7)      Abandoned vehicle, adalah sampah yang berasal dari bangkai kendaraan.
8)      Demolision waste, adalah sampah yang berasal dari sisa pembanguman gedung, seperti tanah, batu dan kayu.
9)      Sampah industri, adalah sampah yang berasal dari pertanian, perkebunan, dan industri.
10)  Santage solid, sampah yang terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat organik, pada pintu masuk pusat pengolahan limbah cair.
11)  Sampah khusus, adalah sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat radioaktif.

Judul Skripsi Pendidikan: Lembar Kerja Siswa

Lembar kerja siswa merupakan hand out yang dimaksudkan untuk membantu siswa belajar secara terarah. Menurut Surachman (1998) dalam kegiatan praktis LKS dapat berupa petunjuk praktikum sesuai dengan formatnya (susunannya).
LKS dapat dikemas dalam bentuk :
a.       Tertutup (Structured, Guided)
Sifat tertutup ini menunjukkan program belajar yang dikemas guru sedemikian ketatnya, sehingga tidak memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan daya nalar, kreatifitas, minat dan daya imajinasinya. Siswa dipaksa mengikuti arahan dan mengerjakan tugas-tugas sesuai petunjuk yang telah ditetapkan guru. Penerapan bentuk LKS ini biasanya ditujukan kepada siswa yang sedang mulai belajar. Apa yang dikerjakan siswa, secara tersembunyi sesungguhnya semua jawaban yang akan ditemukan siswa dalam kegiatan yang sudah ditetapkan oleh guru.
b.      Semi Terbuka (Semi Structured, Semi Guided)
Bentuk LKS ini mirip dengan LKS Model Tertutup, namun beberapa bagianya sengaja diberikan kepada siswa untuk dikembangkan. Bagian-bagian yang diserahkan kepada siswa umumnya dirancang guru untuk mengembangkan beberapa kemampuan spesifik pada diri siswa.
c.       Terbuka (Un-Structured, Un-Guided, Free Inquiry, Free Discovery)
Sifat terbuka memberi makna adanya pemberian peluang besar bagi siswa mengembangkan kreatifitas dan daya nalarnya. Arahan yang diberikan guru biasanya lebih bersifat sebagai stimulasi bagi siswa untuk mengerjakan sesuatu kegiatan belajar, misal penyajian problema yang harus dipecahkan siswa lewat kajian eksperimental atau dapat pula disajikan sebagai bentuk studi kasus. Dalam hal ini desain dan pelaksanaan eksperimen sepenuhnya dikerjakan siswa. Selama kegiatan belajar guru lebih banyak memerankan dirinya sebagai motivator dan fasilitator. Sifat menantang dan menumbuhkan sifat keingintahuan siswa menjadi kunci keberhasilan dalam memacu aktivitas belajar siswa.

Judul Skripsi Pendidikan: Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, nilai dan sikap yang diekspresikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemempuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya. Sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Beberapa aspek yang terkandung dalam kompetensi sebagai berikut:
 a.       Pengetahuan (Knowledge) yaitu suatu kesadaran dalam bidang kognitif.
b.      Pemahaman (Understanding) yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu.
c.       Kemampuan (Skill) yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepada peserta didik.
d.      Nilai (Value) yaitu suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.
e.       Siakap (Attitude) yaitu perasaan (senang atau tidak senang) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar.
f.        Minat (Interest) yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
Berdasarkan pengertian kompetensi diatas, Kurikulum Berbasis Kompetensi menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan sesuatu (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performans tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa perasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu dengan penuh tanggung jawab (Mulyasa, 2003).

Judul Skripsi Pendidikan: Sumber Belajar

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan dalam proses belajar mengajar (Mulyasa, 2003).
Lingkungan alam sekitar dapat dimungkinkan untuk digunakan sebagai sumber belajar mengingat Biologi adalah ilmu yang mempelajari makluk hidup. Objek dan permasalahan Biologi banyak ditemukan di sekitar kita. Lingkungan yang mencakup lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan juga lingkungan alam merupakan sumber belajar dan sekaligus masukan lingkungan. Pengaruh lingkungan sangat besar dalam kegiatan lapangan       (di lingkungan) sebagai alternatif sumber belajar,  perlu dilakukan beberapa pendekatan. Pendekatan tersebut diantaranya adalah pendekatan inquiry, ketrampilan proses dan pendekatan lingkungan. Dengan dilakukannya pendekatan tersebut, diharapkan siswa dapat memahami maksud kegiatan yang diselenggarakan dan dicapai tujuan yang diharapkan. Kaitannya dengan pemilihan bahan ajar, maka seorang guru harus memilih dan menentukan keleluasaannya (scope) dan pencapaiannya (sequence). Pembatasan materi atau bahan dimaksudkan bahwa bahan yang akan diberikan kepada siswa benar-benar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya (Susilo, 2004).
Muhroji dalam Susilo (2004) menjelaskan bahwa untuk memilih bahan pengajaran harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
a.       Relevan; relevan dengan lingkungan siswa, relevan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, relevan dengan dunia kerja, relevan dengan perkembangan kehidupan sekarang dan masa mendatang.
b.      Efektif; sejauh mana tujuan dapat dicapai dengan bahan tersebut.
c.       Efisien; dimana tujuan dapat dicapai dengan bahan yang seminimal mungkin.
d.      Kontinuitas; bahan yang diberikan berkesinambungan dengan bahan sebelumnya.
e.       Fleksibilitas; dalam penyampaian bahan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi.

Judul Skripsi Kedokteran: Glukagon

Glukagon manusia adalah berupa suatu polipeptida linear dengan berat molekul 3484 yang dihasilkan oleh sel α pulau Langerhans dan saluran cerna bagian atas. Glukagon bersifat glikogenolitik, glukoneogenik, lipolitik, dan ketogenik. Setelah berikatan dengan reseptor di sel-sel hati, hormon ini bekerja melalui G5 untuk mengaktifkan adenil siklase dan peningkatan AMP siklik intrasel. Hal ini menyebabkan pengaktifan fosforilase melalui protein kinase A sehingga terjadi peningkatan pemecahan glikogen dan peningkatan glukosa plasma.
Diet protein dan pemberian infusa berbagai asam amino meningkatkan sekresi glukagon. Selama masa olah raga terjadi peningkatan penggunaan glukosa yang diimbangi dengan peningkatan produksi glukosa yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukagon dalam darah.
Sekresi glukagon juga dihambat oleh FFA dan keton. Namun penghambatan ini dapat dibatasi karena kadar glukagon plasma tinggi pada ketoasidosis diabetes (Ganong, 1999).

Judul Skripsi Kedokteran: Insulin

Insulin adalah suatu polipeptida yang mengandung dua rantai asam amino yang dihubungkan oleh jembatan sulfida (Ganong,1999). Secara klinik, defisiensi (kekurangan) insulin mengakibatkan hiperglikemia yaitu kadar gula darah yang tinggi, turunnya berat badan, lelah dan poliurial (sering buang air kecil) disertai rasa haus, lapar, kulit kering, mulut dan lidah kering. Akibatnya juga ketosis serta asidosis dan kecepatan nafas bertambah.
Keadaan sebaliknya ialah hipoglikemia atau kadar gula darah rendah, dapat terjadi sebagai akibat kelebihan dosis insulin atau karena pasien tidak  makan makanan sesudah suntikan insulin sehigga kelebihan insulin dan darahnya menyebabkan koma hipoglikemia (Pearce, 2000).
Beberapa efek hipoglikemik insulin diantaranya insulin mempermudah glukosa masuk ke dalam sel dengan meningkatkan jumlah transporter glukosa di membran sel. Dalam jaringan-jaringan ini kecepatan fosforilasi glukosa, setelah masuk ke dalam sel diatur oleh hormon lain. Hormon pertumbuhan dalam kortisol keduanya menghambat fosforilasi pada jaringan tertentu. Insulin juga meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam sel hati tetapi tidak melalui peningkatan jumlah transporter GLUT 4 di membran sel. Insulin menginduksi heksokinase dan hal ini meningkatkan fosforilasi glukosa sehingga konsentrasi glukosa bebas dalam intrasel tetap rendah serta memudahkan masuknya glukosa ke dalam sel (Ganong, 1999).
Kerja insulin berupa :
a.       Menaikkan pengambilan glukosa ke dalam sel-sel sebagian besar jaringan.
b.      Menaikkan penguraian glukosa secara oksidatif.
c.       Menaikkan pembentukan glikogen dalam hati dan juga dalam otot dan mencegah penguraian glikogen.
d.      Menstimulasi pembentukan protein dan lemak dari glukosa (Guyton, 1994).
Insulin diklasifikasikan menjadi beberapa macam :
a.       Insulin dengan masa kerja singkat, menimbulkan pengaruh maksimal dalam waktu 2-6 jam sesudah disuntikkan diberikan pada pengobatan dekompensasi diabetik akut dan pasien dengan ketoasidosis diabetik. Digunakan untuk pelengkap insulin masa kerja panjang.
b.      Insulin dengan masa kerja sedang mencapai kadar puncaknya dalam waktu 14-20 jam setelah pemberian digunakan untuk mengendalikan pasien diabetes sehari-hari.
c.       Insulin dengan masa kerja panjang mencapai masa puncaknya dalam waktu 18-24 jam setelah pemberian dan jarang dipakai untuk pengobatan rutin pasien diabetes.

Judul Skripsi Kedokteran: Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus adalah kelainan metabolisme yang ditandai terutama oleh hiperglikemia akibat defisiensi relatif atau absolut. Hiperglikemia timbul karena terhambatnya penyerapan glukosa  ke dalam sel serta gangguan metabolisme. Defisiensi ini disebabkan oleh berkurangnya produksi insulin oleh pankreas, penurunan respons tubuh terhadap insulin atau produksi hormon antagonis insulin. Hiperglikemia timbul karena penyerapan glukosa ke dalam sel terhambat serta metabolismenya terganggu.
Diabetes Mellitus menurut Ganong (1999) ditandai dengan poliuria, polidipsia dan berat badan yang kurang meskipun polifagia (nafsu makan bertambah), hiperglikemia, glukosuria, ketosis, dan koma. Terdapat kelainan biokimiawi yang amat luas namun efek pokok yang mendasari semua abnormalitas yang lain adalah berkurangnya glukosa yang masuk ke berbagai jaringan perifer dan bertambahnya jumlah glukosa yang dilepaskan dalam darah (glukoneogenesis hati yang meningkat). Dengan demikian timbul kelebihan glukosa ekstrasel dan defisiensi glukosa intrasel. Jumlah asam amino yang masuk ke dalam otot pun berkurang sedangkan pemecahan lemak meningkat.
Dalam keadaan normal kira-kira 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air 5 %. Diubah menjadi glikogen dan kira-kira 30-40% diubah menjadi lemak. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut terganggu sehingga sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah dan energi terutama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak (Ganong, 1999).
Diabetes Mellitus dapat dicegah dengan pengaturan diet karbohidrat yang baik dan dilakukannya gerak badan secara teratur dan cukup (Guyton, 1994).
Secara umum diabetes dapat dibagi atas dua jenis yaitu :
a. IDDM (Insulin Dibetes Mellitus), juga dikenal sebagai diabetes tipe 1.
Penderita diabetes ini yaitu diabetes yang tergantung insulin. Penyakit pada tipe I ini dikarenakan kurang menggetahkan hormon insulin atau hormon ini tidak aktif mengubah gula yang berkadar tingggi dalam darah menjadi glikogen di dalam hati dan otot. IDDM disebut juga Juvenile Diabetes.
Penyakit ini timbul pada masa remaja dan teori baru mengatakan penyakit ini erat berkaitan dengan sistem HLA (Human Leukocyte Antigen) atau sistem kecocokan jaringan. Pada golongan ini terbentuk reaksi auto anti bodi terhadap sel β pulau Langerhans pankreas, sehingga rusak dan hancur dan insulin tidak dapat diproduksi di dalam tubuh (Yatim, 1999).
Pada IDDM faktor lingkungan dan predisposisi genetika berperan. Penyakit ini timbul sebelum usia 40 tahun walaupun dapat timbul pada usia berapa saja dan ditandai oleh hilangnya insulin dari darah. Penyakit ini berkaitan dengan kegemukan dan sering dipersulit oleh ketosis dan asidosis (Ganong, 1999)
b.NIDDM (Non Insulin Dependent Dibetes Mellitus), dikenal diabetes tipe II.
NIDDM biasanya timbul setelah usia 40 tahun dan tidak berkaitan dengan hilangnya seluruh kemampuan mengsekresi insulin. Awalnya penyakit perlahan jarang berkaitan dengan ketosis dan biasanya memperlihatkan morfologi dan kandungan insulin sel β yang normal apabila sel β belum mengalami kelelahan. Satu tanda utama penyakit ini adalah gangguan sekresi insulin. Yang lain adalah resistansi insulin, terutama pada otot rangka dan ketiga ada peningkatan pengeluaran glukosa oleh hati.
Terdapat respon yang berlebihan, timbul lambat tapi berkepanjangan terhadap glukosa yang terjadi akibat ketidak kuatan respon sel β awal yang tidak menekankan pengeluaran glukosa oleh hati.
Disamping itu ada jenis Diabetes Mellitus yang digolongkan impared glucose tolerance yaitu golongan penderita dengan gangguan toleransi terhadap pemakaian karbohidrat. Mereka dianggap penderita dengan kasus yang ringan yaitu dalam keadaan mengambang antara sehat dan sakit (borderline) yang dapat berubah menjadi diabetes sejati.

Judul Skripsi Kedokteran: Glukosa Darah

Kandungan glukosa darah berasal dari karbohidrat yang terkandung dalam makanan yang kemudian mengalami proses glukoneogenesis dan glikogenolisis. Karbohidrat dalam makanan yang dicerna secara aktif menjadi residu glukosa, galaktosa dan fruktosa yang akan diserap dalam intestinum. Zat-zat gizi ini lalu diangkut menuju hepar lewat vena porta hepatis (Mayes et al, 1995).
Kadar glukosa darah pada saat tertentu ditentukan oleh keseimbangan glukosa yang masuk dalam darah dan jumlah yang meninggalkan darah. Faktor-faktor utamanya berupa asupan, kecepatan masuknya makanan ke dalam sel otot, jaringan lemak, dan organ-organ lain serta aktivitas glukostatik dalam hati. Setelah makan, glukosa akan diubah menjadi glikogen dalam hati sebesar 5% dan 30-40% diubah menjadi lemak. Sisanya akan dimetabolisir dalam otot dan jaringan lain (Ganong, 1999).
Kadar glukosa darah normal untuk manusia selama sehari antara 80mg/dL sebelum makan. Menurut Mayes et al, 1995 sumber glukosa berasal dari :
a.       Glukosa dari karbohidrat dalam makanan.
Sebagian besar karbohidrat yang ada dalam makanan akan membentuk glukosa, galaktosa, ataupun fruktosa setelah dicerna. Senyawa ini diangkut ke hepar lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera diubah menjadi glukosa dalam hepar.
b.      Glukosa dari berbagai senyawa glukogenik yang mengalami glukoneogenesis.
Senyawa ini dapat digolongkan dalam kategori yaitu :
1). senyawa yang meliputi konversi netto langsung menjadi glukosa tanpa tanpa daur ulang yang berarti, seperti beberapa asam amino serta propionat.
2). Senyawa yang merupakan hasil metabolisme parsial glukosa dalam jaringan tertentu diangkut ke dalam hepar serta ginjal untuk disintetis kembali menjadi glukosa.
c. Glukosa dari glikogen hati melalui proses glikogenolisis.

Judul Skripsi Kedokteran: Metabolisme Karbohidrat

Karbohidrat merupakan salah satu zat makanan yang sangat diperlukan tubuh yang berfungsi sebagai bahan bakar utama untuk mendapatkan tenaga yang dibutuhkan bagi berbagai macam kegiatan fisiologi sel. Dalam hal ini karbohidrat dipakai sel terutama dalam bentuk glukosa (Mayes et al, 1995). Menurut Ganong (1999), karbohidrat yang terdapat dalam makanan adalah polimer heksosa dan yang paling penting adalah galaktosa, fruktosa dan glukosa. Kebanyakan monosakarida terdapat dalam bentuk disomer. Hasil utama pada pencernaan hidrat arang dan gula terdapat dalam darah adalah glukosa.
Glukosa setelah masuk ke dalam sel akan mengalami fosforilasi membentuk glukosa-6-fosfat yang dikatalisis dengan enzim heksokinase. Di dalam hati terdapat enzim lain yang disebut glukokinase yang bersifat lebih sensitif terhadap glukosa dan seperti heksokinase, glukokinase akan meningkat kadarnya oleh insulin dan berkurang pada waktu kelaparan dan diabetes. Glukosa-6-fosfat dapat berpolimerasi membentuk glikogen atau mengalami katabolisme (Ganong, 1999).
Menurut Mayes (1995) metabolisme karbohidrat pada mamalia dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Glikolisis : Oksidasi glukosa atau glikogen menjadi piruvat dan laktat oleh jalan Embden Meyerhoff (Gambar 2)
  2. . Glikogenesis   : Sintetis glikogen dari glukosa.
  3. Glikogenolisis : Pemecahan glikogen. Glukosa adalah hasil utama glikogenolisis dalam hati sedangkan piruvat serta laktat adalah hasil utama dalam otot. 
  4. .Oksidasi piruvat menjadi asetil ko-A. Proses ini merupakan tingkat yang penting sebelum hasil glikolisis masuk ke dalam siklus asam sitrat dan merupakan hasil akhir bersama untuk oksidasi karbohidrat, lemak dan protein.
  5.  Heksose monofosfat shunt (jalan pentosa fosfat, jalan oksidasi fosfat glukonat) yaitu suatu jalan Embden Meyerhoff untuk oksidasi glukosa.
  6.  Glukoneogenesis : pembentukan glukosa atau glikogen dari sumber selain karbohidrat. Jalan yang termasuk dalam glukoneogenesis adalah asam sitrat dan glikolisis. Substrat utama untuk glukoneogenesis adalah asam amino glukonat, laktat dan gliserol serta propionat pada hewan memamah biak

Langkah pertama katabolisme monosakarida glukosa, fruktosa dan galaktosa oleh enzim-enzim glikolisis. Lintasan glikolisis mengubah gula menjadi piruvat. Suatu enzim 3 karbon yang menggunakan energi yang dikeluarkan dalam proses untuk melakukan fosforilasi ADP menjadi ATP dan mereduksi NAD menjadi NADH. Piruvat dimetabolisis lebih lanjut menjadi asetil. KoA suatu fragmen 2 karbon yang aktif pada proses lebih lanjut menghasilkan lebih banyak NADH

Judul Skripsi Kedokteran: Karakteristik Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus L)


Tikus sering digunakan sebagai hewan uji untuk penelitian-penelitian di laboratorium. Ada 2 sifat yang membedakan tikus dengan hewan-hewan percobaan lain yaitu  tikus tidak dapat muntah karena struktur anatomi yang tidak lazim ditempat esofagus bermuara kelambung dan tikus tidak mempunyai kantung empedu. Selain 2 hal tersebut tikus juga mempunyai beberapa keunggulan, yaitu :
1). Siklus reproduksinya sangat singkat sehingga hasil uji cepat diketahui
2). Masa aktivasi reproduksi sangat panjang
3). Mudah diperlakukan dan harganya relatif murah
4). Reaksi-reaksi didalam tubuhnya lebih sesuai dengan manusia sehingga    hasilnya akan lebih cocok daripada menggunakan spesies lain
5). Ukuran seragam dan mudah ditangkarkan.
Tikus lebih cepat dewasa, tidak memperlihatkan fertilisasi musiman dan lebih mudah berkembang biak. Berat badan pada umur 4 minggu dapat mencapai 35-40 gram dan setelah dewasa sampai 200-250 gram.
(Smith dan Mangkuwidjojo, 1988)