Jumat, 07 Desember 2012

Judul Skripsi Psikologi: Pengertian BurnOut

     Istilah burnout pertama kali dikemukakan kepada masyarakat pada tahun 1973 oleh seorang ahli psikologi klinis bernama Herbert Freudenberger (Sutjipto, 2003). Istilah ini didasarkan pada pengamatan terhadap perubahan perilaku para sukarelawan setelah bertahun-tahun bekerja. Menurutnya, para relawan tersebut mengalami kelelahan mental, kehilangan komitmen dan penurunan motivasi bekerja. Selanjutnya Freudenberger memberikan ilustrasi tentang apa yang dirasakan orang yang mengalami sindrom burnout diibaratkan seperti gedung yang terbakar habis (burned-out), di mana setelah terbakar yang tampak hanyalah kerangka luarnya saja. Seperti halnya dengan orang yang mengalami burnout, dari luar segalanya masih tampak utuh, namun di dalamnya kosong dan penuh dengan masalah.
Pines dan Aronson (Sutjipto, 2003) menyatakan burnout adalah kondisi emosional di mana seseorang merasa lelah dan jenuh secara mental ataupun fisik akibat tuntutan pekerjaan yang meningkat. Timbulnya kelelahan ini karena mereka bekerja keras, merasa bersalah, merasa tidak berdaya, merasa tidak ada harapan, dan merasa terus-menerus membentuk lingkaran yang menghasilkan perasaan lelah dan tidak nyaman, yang pada gilirannya meningkatkan rasa kesal yang terus berlanjut sehingga menimbulkan kelelahan fisik, kelelahan mental dan kelelahan emosional. 

Senada dengan pendapat di atas, Cherniss (1980) menyatakan bahwa burnout merupakan proses perkembangan yang dihasilkan dari tahapan-tahapan stres yang berlebih dan terjadi dalam jangka waktu yang lama, yang kemudian menimbulkan kelelahan fisik dan emosional, perasaan tertekan, dan mudah marah, konsep diri dan sikap kerja yang negatif, serta kehilangan konsentrasi dengan siapapun ia bekerja. Pandangan Cherniss ini sejalan dengan pernyataan Freuddenberger (Sutjipto, 2003) bahwa seseorang memiliki sikap antusias yang tinggi dan tujuan yang hendak dicapai pada awal bekerja. Namun, stres yang dialami secara kronis menyebabkan mereka mengalami perubahan motivasi, mereka mengalami burnout



Judul Skripsi Psikologi: Pengertian Outbound Manajemen Training

Pada awalnya metode outbound merupakan metode yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar manusia dengan berinteraksi dengan alam. Oleh karenanya muncul pengertian outbound sebagai suatu kegiatan belajar yang dilakukan di alam terbuka. Pengertian yang muncul dari berbagai tokoh kemudian menambahkan bahwa tujuan outbound tidak hanya mengefektifkan pencapaian materi belajar namun juga mengembangkan berbagai karakter yang diharapkan muncul dalam proses outbound itu sendiri. Berikut merupakan uraian berbagai tokoh dan kemudian akan disimpulkan dalam pengertian yang dibutuhkan dalam penelitian ini:
Outbound berasal dari kata Out of Boundaries yang artinya pembelajaran dengan menggunakan metode yang berbeda dari biasanya. Outbound adalah kegiatan di alam terbuka. Outbound juga dapat memacu semangat belajar. Outbound merupakan sarana penambah wawasan pengetahuan yang didapat dari serangkaian pengalaman berpetualang sehingga dapat memacu semangat dan kreativitas seseorang. (http://www.kimpraswil.go.id/ itjen/news/2003/ij0306251).
Diungkapkan oleh Asti (2009), Outbound adalah kegiatan pelatihan di alam terbuka yang memerlukan ketahanan sekaligus tantangan fisik yang besar (Asti, 2009). Sedangkan menurt Gras (1993) Outbound Management Training adalah metode pelatihan untuk meningkatkan performa organisasi melalui pembelajaran dan pengalaman. Program-program yang diadakan seringkali mengacu kepada pelatihan melalui petualangan dan pengembangan manajemen outdoor (di luar kelas) yang juga dapat digunakan untuk terapi kejiwaan.
Tidak jauh berbeda dari itu, Taufik (2010) menyebutkan Outbound sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sebuah tim dan dibantu oleh instruktur. Program-program pada Outbound Management Training merupakan program-program berupa aktifitas atau kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan aspek-aspek seperti: leadership, communication skills, planning, change management, delegation, teamwork, dan motivation.
ipun � ~ l h �o0 ��) at kondisi psikologisnya sangat terbebani. Karyawan akan segera beradaptasi dengan kondisi menekan tersebut kemudian memikirkan alternatif solusi pemecahan permasalahan organisasi. Hambatan dan keterbatasan dijadikan kesempatan untuk mengaktualisasikan potensi sehingga produktivitas kerjanya semakin maksimal. 

Judul Skripsi Psikologi: Jenis Adversity Quotient (AQ)

Stoltz (2001) mengibaratkan manusia yang menghadapi masalah dalam kehidupannya sebagai seseorang yang menempuh perjalanan menuju puncak gunung. Oleh karena itu,  Stoltz  membaginya menjadi tiga tipe, yakni :
a.       Tipe Quitters, yakni tipe orang yang mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan dan beban hidup yg dilaluinya. Orang dengan tipe demikian akan selalu melihat kesulitan di balik peluang-peluang yang ada sehingga akan mudah putus asa. Orang yang memiliki tipikal ini tidak mau menghadapi, cenderung mengabaikan bahkan akan lari dari masalah yang ada. Karyawan dengan tipe ini akan menghindari permasalahan yang terjadi diorganisasi karena merasa beban yang dirasakan terlalu berat. Akibatnya, berbagai permasalahan psikologis seringkali mengjangkiti karyawan tipe ini sehingga menurunkan produktivitas kerjanya.
b.      Tipe Campers, yakni orang dengan tipe yang sudah berusaha menghadapi persoalan dan permasalahan yang ada, namun karena permasalahan itu selalu menerjang, orang tersebut merasa “perjalanannya cukup sampai di sini”. Karyawan dengan tipe ini bersedia menghadapi permasalahan yang terjadi dalam organisasi. Namun, karena permasalahan yang ditimbulkan tidak kunjung selesai, karyawan lebih memilih berdiam diri dan menerima kondisi yang ada sebagai konsekuensi dari kondisi organisasi. Karyawan dengan tipe ini mungkin menemukan kepuasan, namun potensi yang dimiliki tidak sepenuhnya keluar kaena memutuskan berhenti sebelum permasalahan benar-benar teratasi.
c.       Tipe Climbers, yakni orang yang selalu berjuang menghadapi permasalahan yang ada meskipun masalah itu selalu muncul dan menerjang. Orang tersebut tidak akan berhenti untuk mencapai puncak meskipun harus melewati terjalnya pegunungan ataupun badai di tengah perjalanan. Karyawan dengan tipe climbers akan selalu berusaha melewati masalah yang terjadi apalagi masalah yang terjadi dalam organisasi merupakan permasalahan jangka panjang. Karyawan seperti ini tidak akan lari dari permasalan yang ada meskipun masalahnya membuat kondisi psikologisnya sangat terbebani. Karyawan akan segera beradaptasi dengan kondisi menekan tersebut kemudian memikirkan alternatif solusi pemecahan permasalahan organisasi. Hambatan dan keterbatasan dijadikan kesempatan untuk mengaktualisasikan potensi sehingga produktivitas kerjanya semakin maksimal. 

Judul Skripsi Psikologi: Pengertian Adversity Quotient

Adversity quotient merupakan kecerdasan yang dimiliki individu dalam mengatasi kesulitan dan mampu bertahan hidup (Stoltz, 2000). AQ dinilai sebagai faktor  yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau  tidaknya,  serta  sejauh  mana sikap, kemampuan dan kinerja individu dapat terwujud. Hal ini bermakna bahwa individu yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan  cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah. Adversity Quotient atau AQ  adalah ilmu tentang ketahanan manusia.Orang yang berhasil menerapkan AQ, tampil maksimal dalam menghadapi kesulitan maupun tantangan besar dan kecil setiap hari. Bahkanmereka tidak hanya belajar dari tantangan ini, tetapi mereka juga menanggapi dengan lebih baik  dan lebih cepat  (Markman, 2001). Senada dengan itu, Bayu (2010) mendefinisikan Adversity Quotient (AQ) sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan kesengsaraan dalam hidupnya. Sedangkan Tosman (2010) menyebut Adversity Quotient (AQ) sebagai kecerdasan dalam mengidentifikasikan masalah, menanggulangi masalah serta mengambil keputusan secara baik dan benar.

Kamis, 06 Desember 2012

JUDUL SKRIPSI PSIKOLOGI; TIPS DAN TRIK MENYUSUN LATAR BELAKANG (PENELITIAN KORELASIONAL)

Dalam penyusunan latar belakang masalah pada skripsi psikologi korelasional sebenarnya tidak berbeda dengan penyusunan latar belakang masalah pada skripsi lainnya. Secara singkat, membatu peneliti untuk menguraikan perlunya penelitian tersebut diangkat. Secara khusus, penyusunan latar belakang masalah kemudian menyesuaiakan dengan petunjuk penulisan bagi setiap universitas. Berikut merupakan fungsi secara umum latar belakang pada skripsi psikologi yaitu:  
1.      Menunjukkan bahwa masalah yang ingin diangkat dalam penelitian berawal dari fenomena nyata di masyarakat ditunjukkan dengan pengamatan pra penelitian, pernyataan beberapa ahli atau cuplikan pada artikel media massa).
2.      Memperlihatkan pentingnya permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya untuk dijadikan pertanyaan penelitian. Pertanyaan penelitian ini kemudian ditegaskan dalam rumusan masalah
3.      Gambaran batasan dalam penelitian ini ditinjau dari pengertian, alat ukur, subjek penelitian, dan jangkauan waktu. Selanjutnya gambaran batasan ini akan ditegaskan dalam batasan penelitian.
4.      Gambaran penerapan manfaat penelitian ini dibuktikan dengan pernyataan para ahli atau rujukan pada jurnal penelitian yang terkait. Bagian ini selanjutnya akan diuraikan secara mendetail dalam manfaat penelitian sebagai bagian untuk menunjukkan manfaat langsung pada pihak-pihak yang sekiranya dapat menggunakan hasil penelitian ini.
5.      Keterkaitan antara dua variable  yang selanjutnya akan mengantarkan pebaca (termasuk dosen pembimbing) pada jawaban sementara/hipotesa ditunjukkan dengan rujukan penelitian sebelumnya.
6.      Gambaran penelitian tersebut belum pernah diangkat sebelumnya. Penegasan penelitian tersebut belum pernah diangkat sebelumnya nantinya akan dipertegas dalam sub bab penelitian sebelumnya.
Seperti halnya penyusunan latar belakang masalah pada skripsi maka penyusunan latar belakang masalah skripsi psikologi korelasional harap diperhatikan penyampaian kalimat yang benar secara tata bahasa. Dalam penyusunan latar belakang masalah skripsi psikologi korelasional harus memperhatikan pula penyusunan kalimat yang efektif pula. Dengan demikian  pembaca dapat memahami logika yang anda (peneliti) sedang gambarkan secara tepat dan cepat.
Apabila peneliti hendak mengutip pendapat para ahli atau petikan artikel pada media massa maka dapat menggunakan dua cara yaitu melalui kutipan langsung atau paraphrase. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks atau karangan dalam bentuk susunan kata yang lain dengan maksud dapat menjelaskan maknanya yang tersembunyi. Pengungkapan kembali suatu tuturan dan sebuah tingkatan atau macam bahasa tertentu menjadi macam yang lain tanpa mengubah pengertiannya

Selasa, 04 Desember 2012

Metode Analisa Data: Mengapa Dimasukkan Sebagai Penelitian Kualitatif

Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986: 9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tindakan suatu cirri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi cirri sesuatu itu. Untuk itu pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian penelitti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan atas perhitungan presentase, rata- rata, ci kuadrat, dan perhitungan statistic lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas.   Penelitian kualitatif dari sisi definisi lainnya dikemukakan bahwa hal itu merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan, dan perilaku individu atau sekelompok orang. Ternyata definisi ini hanya mempersoalkan satu metode yaitu wawancara terbuka, sedang yang penting dari definisi ini mempersoalkan apa yang diteliti yaitu upaya memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku baik individu maupun sekelompok orang. Di pihak lain kualitas nampak menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. 
         Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandanagan mereka yang diteliti yang rinci, dibentuk dengan kata- kata, gambaran holistic dan rumit. Definisi ini lebih melihat perspektif emik dalam penelitian yaitu memandang sesuatu upaya membangun pandangan subjek penelitian  yang rinci, dibentuk dengan kata- kata, gambaran  holistic  dan rumit. Penelitian kualitatif seringkali digunakan untuk  menyajikan dunia social, dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Kembali pada definisi di sini dikemukakan tentang peranan penting dari apa yang seharusnya diteliti yaitu konsep, perilaku, persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Melalui penelitian kualitatif didapatkan ke dalaman data atau disebut juga sebagai kekayaan fenomena yang melingkupi suatu peristiwa. Hal ini membedakan dengan penelitian kuantitatif yang mengarahkan peneliti lebih pada generalisasi melalui angka-angka uji statistik. 

Senin, 03 Desember 2012

Judul Skripsi Psikologi/Sosiologi: Pengertian Pelacuran

Pelacuran atau Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikannya. Pelacuran itu berasal dari bahasa latin pro-stituere atau pro-stauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zinah, melakukan persundalan, percabulan, pergendakan. Sedang prostitue adalah pelacur atau sundal. Dikenal pula dengan istilah WTS atau Wanita Tuna Susila. Secara etimologis prostitusi berasal dari kata prostitutio yang berarti hal menempatkan dihadapkan, hihadapkan, hal menawar. Adapula yang menghubungkannya dengan kata prostare yang berarti menjual atau menjajakan (Verkuyl, 1963).
Menurut Bonger (1967)  menuliskan bahwa Prostitusi ialah gejala kemasyarakatan dimana wanita menjual diri melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencarian. Pada definisi ini jelas dinyatakan adanya peristiwa penjualan diri sebagai ”profesi” atau mata pencaharian sehari-hari, dengan jalan melakukan relasi-relasi seksual.
Sedangkan (Kartono, 2003)  menyatakan bahwa Prostitusi  adalah penyerahan diri dari wanita kepada banyak laki-laki dengan pembayaran” . Definisi diatas mengemukakan adanya unsur-unsur ekonomis, dan penyerahan diri wanita yang dilakukan secara berulang-ulang atau terus-menerus dengan banyak laki-laki. Selanjutnya Kartono (2003) mengemukakan definisi pelacuran sebagai berikut:
a.       Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seksual, dengan pola-pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendali denganbayak orang (promiskuitas), disertai ekspoitasi dan komersialisasi seks, yang impersonal tanpa afeksi sifatnya.
b.      Pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri (persundalan) dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan, dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks, dengan imbalan pembayaran.
c.       Pelacuran ialah perbuatan perempuan atau laki-laki yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapatkan upah.

Sedang dalam pasal 296 KUHP mengenai prostitusi tersebut menyatakan :
Barang siapa yang pekerjaannya atau kebiasaannya dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya seribu rupiah.

Pengertian ini sama dengan definisi yang dinyatakan oleh Mulia (1979) bahwa jelasnya, pelacuran itu bisa dilakukan baik oleh kaum wanita maupun pria. Jadi ada persamaan predikat lacur antar laki-laki dan wanita yang bersama-sama melakukan perbuatan hubungan kelamin diluar perkawinan. Dalam hal ini perbuatan cabul tidak hanya berupa hubungan kelamin diluar nikah saja, akan tetapi termasuk pula peristiwa homoseksual dan permainan-permainan seksual lainnya. 

Judul Skripsi Psikologi:Posisi dan Peranan Perempuan Di Dalam Lingkungan Sosial

Pembicaraan mengenai peranan selalu dikaitkan dengan status mengingat kedua hal tersebut seperti dua sisi mata uang yang saling berkaitan. Peranan wanita yangideal dalam kebudayaan patriarki adalah menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Namun saat ini hal tersebut sudah mengalami pergeseran dalam hal pembagian peranan/kerja antara pria dan wanita dalam keluarga dan rumah tangga.
Menurut  Pudjiwati (1983) terdapat dua tipe peranan wanita sebagai berikut:
a.    Pola peranan tipe pertama di mana peranan wanita digambarkan seluruhnya hanya dalam pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan pemeliharaan kebutuhan hidup semua anggota keluarga dan anggota rumah tangga.
b.    Pola peranan, di mana wanita mempunyai dia peranan, yaitu peranan dalam pekerjaan rumah tangga dan di bidang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, baik sebagai pencariu nafkah utama maupun sebagai pencari nafkah tambahan.
Sedangkan dalam Kartono (2006) wanita dalam lingkungan sosial diharapkan memiliki posisi yang dihasilkan dari besarnya peranan yang dapat dilaksanakannya. Peranan yang diharapkan masyarakat dari seorang perempuan adalah:
1.  mempunyai rencana dan tujuan hidup. Daklam hidupnya melalui rencana dan tujuan hidup maka perempuan akan menjalankan peranan yaitu dengan menggariskan tujuan hidup kemudian mengkaitkan diri pada prinsip yang telah ditentukan sendiri serta konsekuen dan bertanggung jawab menca[ai tujuan hidupnya.
2.  kerja atau karya. Perempuan diharapkan mempunyai kerja atau karya yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat
3.  pembentukan diri dan stabilitas normatif yaitu perempaun dapat bertangggung jawab terhadap dirinya sendiri dan masyarakat
4.  kemandirian susila dan bertanggung jawab
5.  partisipasi aktif dan konstruktif

Judul Skripsi Psikologi: Terapi Relaksasi Religius

Dasar teori relaksasi adalah sebagai berikut di dalam sistem syaraf manusia terdapat susunan syaraf pusat dan susunan syaraf otonom. Susunan syaraf pusat mengendalikan gerakan-gerakan yang di kehendaki misalnya gerakan kaki, tangan leher dsb. Sedangkan susunan syaraf otonom terdiri atas sistem syaraf simpatesis dan dan sisitem syaraf parasimpatesis  yang kerjanya berlawanan. Sistem syaraf simpatesis memacu kerja organ-organ tubuh, sedangkan parasimpatesis berfungsi untuk menurunkan aktivitas organ-organ tubuh. Jika susunan syaraf pusat mengendalikan gerakan-gerakan yang di kehendaki susunan syaraf otonom mengendalikan gerakan-gerakan yang di kehendaki , susunan syaraf otonom mengendalikan gerakan-gerakan yang otomatis misalnya fungsi-fungsi digestif, proses kardiovaskuler, gairah seksual dsb. Di saat terjadi ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sisitem syaraf simpatesis, sedangkan saat rileks yang bekerja adalah syaraf parasimpatesis. Jadi relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok, sehingga timbul counterconditioning dan penghilangan (Bellack & Hersen, 1979).
Relaksasi adalah salah satu teknik di dalam terapi perilaku yang pertama kali dikenalkan oleh Jacobson, seorang psikolog dari Chicago, yang mengembangkan metode fisiologis melawan ketegangan dan kecemasan. Teknik ini disebut relaksasi progresif yaitu teknik untuk mengurangi ketegangan otot. Jacobson berpendapat bahwa Semua bentuk ketegangan termasuk ketegangan mental didasarkan pada kontraksi otot (Sheridan dan Radmacher, 1992). Jika seseorang dapat diajarkan untuk merelaksasikan otot mereka, maka mereka benar-benar relaks. Seseorang yang tetap mengalami ketegangan mental atau emosional, sementara otot mereka relaks adalah orang yang mengalami ketegangan semu (Sheridan dan Radmacher, 1992). Latihan relaksasi dapat digunakan pada pasien nyeri untuk mengurangi rasa nyeri melalui kontraksi otot, mengurangi pengaruh dari situasi stres, dan mengurangi efek samping dari kemoterapi pada pasien kanker (Sheridan dan Radmacher, 1992). Relaksasi dapat juga digunakan untuk mengurangi denyut jantung, meningkatkan daya hantar kulit (skin conductance), mengurangi ketegangan otot, tekanan darah dan kecemasan (Taylor, 1995).

Relaksasi religius merupakan pengembangan dari respon relaksasi yang dikembangkan oleh Benson (2000), dimana relaksasi ini merupakan gabungan antara relaksasi dengan keyakinan agama yang dianut. Fokus dari relaksasi ini tidak pada pengendoran otot namun pada frase tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah kepada objek transendensi yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa nama-nama Tuhan, atau kata yang memiliki makna menenangkan.
Pelatihan relaksasi bertujuan untuk melatih peserta agar dapat mengkondisikan diri untuk mencapai kondisi relaks. Pada waktu individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok, sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan.
Pelatihan relakasi religius cukup efektif untuk memperpendek waktu dari mulai merebahkan hingga tertidur dan mudah memasuki tidur. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi religius yang dilakukan dapat membuat lebih relaks sehingga keadaan kesulitan ketika mengawali tidur dapat diatasi dengan treatmen ini. Penggunaan kaset relaksasi religius cukup membantu subjek dalam mengawali tidur. Pada umumnya subjek melaporkan bahwa dengan mengikuti kaset relaksasi dirinya lebih mudah untuk tertidur, ada beberapa hal yang menyebabkan mereka mudah tertidur antara lain instruksi diucapkan dengan pelan dan mudah diikuti.
Pelatihan relaksasi dapat memunculkan keadaan tenang dan relaks dimana gelombang otak mulai melambat semakin lambat akhirnya membuat seseorang dapat beristirahat dan tertidur. Hal ini sesuai dengan pendapat Panteri (1993) yang menggambarkan neurofisiologi tidur sebagai berikut : Pada saat berbaring atau duduk dalam keadaan masih terjaga seseorang berada pada gelombang otak beta, hal ini terjadi ketika subjek mulai merebahkan diri tidur dan mengikuti instruksi relaksasi religius yaitu pada tahap pengendoran otot dari atas yaitu kepala hingga jari jari kaki. Selanjutnya dalam keadaan yang lelah dan siap tidur mulai untuk memejamkan mata, pada saat ini gelombang otak yang muncul mulai melambat frekwensinya, meninggi tegangannya dan menjadi lebih teratur.


Judul Skripsi Psikologi: Tahap Penerimaan Kedukaan

Elizabeth Kubler Ross (1969) membagi perilaku dan proses berpikir seseorang yang sekarat menjadi 5 fase: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar menawar, depresi dan penerimaan.
a.       Penolakan dan isolasi (denial and isolation) merupakan fase pertama yang diusulkan Kubler Ross di mana orang menolak bahwa kematian benar-benar ada. Orang tersebut mungkin berkata “tidak”, “itu tidak dapat terjadi pada saya”. Hal ini merupakan reaksi utama pada penyakit yang tidak tertolong lagi namunpenolakan merupakan baian dari pertahanan diri yang bersifat sementara dan kemudian akan digantikan dengan rasa penerimaan yang meningkat saat seseorang dihadapkan dengan beberapa hal seperti pertimbangan keuangan, urusan yang belum selesai dan kekhawatiran mengenai kehidupan anggota keluaraga lain nantinya.
b.       Kemarahan (anger) merupakan fase ke dua di mana orang yang menjelang kematian menyadari bahwa penolakan tidak dapat lagi dipertahankan. Penolakan seringkali memunculkan rasa benc, marah dan iri. Pertanyaan yang biasanya muncul pada diri orang yang sekarat adalah “mengapa saya?”. Pada titik ini seseorang makin sulit dirawat karena amarahnya seringkali salah sasaran dan diproyeksikan kepada dokter, perawat anggota keluarga juga Tuhan. Realisasi dari kehilangan ini besar dan mereka yang menjadi symbol dari kehidupan, energi dan fungsi-fungsi yang merupakan target utama dari rasa benci dan cemburu orang tersebut.
c.       Tawar menawar (bargaining) merupakan fase ketiga menjelang kmetian di masa seseorang mengmebngkan harapan bahwa sewaktu-waktu kematian  dapat ditunda atau diundur. Beberapa orang ytawar menawar atau negoisasi seringkali dengan Tuhan sambil mencoba untuk menunda kemtian. Secara psikologis seseorang berkata “Ya, saya , tapi…” dalam usaha mendapatkan perpanjangan waktu untuk beberapa hari, minggu atau bulan dari kehidupan, seseorang berjanji untuk mengubah kehidupannya, seseorang berjanji untuk mengubah kehidupannya yang didedikasikan hanya untuk Tuhan atau melayani orang lain
d.      Depresi (depression) merupakan fase keempat menjelang kematian di mana orang yang sekarat akhirnya menerima kematian. Pada titik ini satu periode depresi atau persiapan berduka mungkin akan muncul. Orang yang menjelang kemtiannya mungkin akan menjadi pendiam serta menghabiskan waktunya untuk menangis dan berduka. Perilaku ini normal dalam situasi tersebut dan sebenarnya merupakan usaha untuk membahagiakan orang yang menjelang kemtianya pada fase ini justru menjadi penghalang karena orang tersebut untuk merenungkan ancaman kematian
e.       Penerimaan (acceptance) merupakan fase kelima menjelang kematian di mana seseorang mengembangkan rasa damai, menerima takdir  dan dan dalam beberapa hal ingin ditinggal sendiri. Pada fase ini perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang. Kubler-Ross menggambarkan fase kelima ini sebagai akhir perjuangan menjelang kematian.
Tidak ada satu orang pun yang dapat mengkonfirmasikan bahw seseorang akan secara pasti melewati fase yang digambarkan Kubler Ross. Oleh karenanya terdapat variasi pada setiap inividual mengenai bagaimana kita menghadapi kematian namun urutan yang telah dikemukakan secara optimal akan sesuai.

Judul Skripsi Psikologi:Kecemasan Kematian

Kecemasan akan kematian dapat berkaitan dengan datangnya kematian itu sendiri, dan dapat pula berkaitan dengan caranya kematian serta rasa sakit atau siksaan yang mungkin menyertai datangnya kematian, karena itu pemahaman dan pembahasan yang mendalam tentang kecemasan lansia penting untuk, khususnya individu yang mengalami penyakit kronis, dalam menghadapi kematian menjadi penting untuk diteliti. Sebab kecemasan bisa menyerang siapa saja. Namun, ada spesifikasi bentuk kecemasan yang didasarkan pada usia individu. Umumnya, kecemasan ini merupakan suatu pikiran yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan kekhawatiran, rasa tidak tenang, dan perasaan yang tidak baik atau tidak enak yang tidak dapat dihindari oleh seseorang (Hurlock, 1990:91).
Disamping itu juga, ada beberapa faktor lain yang dapat menimbulkan kecemasan ini, salah satunya adalah situasi. Menuruk Hurlock (1990:93) bahwa jika setiap situasi yang mengancam keberadaan organisme dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan dalam kadar terberat dirasakan sebagai akibat dari perubahan sosial yang sangat cepat. Manifestasi psikologis yang ditandai dengan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, khawatir, takut, dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang

Kematian sendiri mempunyai beberapa pengertian namun secara umum kematian dikaitkan dengan hilangnya kemampuan biologis seseorang. Menurut Harvard Medical School (1997), konsep kematian sendiri menyangkut hilangnya lima kemampuan dasar individu, yaitu ketidakmampuan menerima dan merespon stimulus, tidak memiliki kemampuan dalam hal gerak atau pernafasan, tidak mempunyai reflek, EEG datar, dan tidak adanya sirkulasi dalam otak.
Namun dalam pengertian lain maka selain membahas kematian secara biologis penting maka terdapat pengertian menyangkut konsep kematian secara psikologis terjadi ketika pikiran seseorang berhenti untuk berfungsi. Menurut Aiken (sitat dalam Bishop, 1994), kematian secara sosial terjadi ketika orang lain melakukan tindakan untuk orang yang sudah dinyatakan meninggal.

Judul Skripsi Psikologi: Pemahaman Kematian

Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuh kembangkan semangat pengabdian. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian.
Sartre ( dalam Hasan 1973) memandang kematian sebagai kefaktaan yang terakhir. Setiap eksisitensi harus di akhiri dengan maut atau kematian, sehingga kematian menjadi salah satu halangan kebebasan manusia. Moody(1987) mengartikan kematian sebagai tidak adanya tanda-tanda kehidupan secra klinis, tidak ada kegiatan gelombang otak dan hilangnya fungsi-fungsi penting yang tidak bisa di ubah. Kematian sendiri merupakan suatu bagian dari proses yang sebenarnya akan dilewati individu dalam menjalani kehidupannya namun tidak semuanya siap dalam menghadapi kemtian itu sendir. Ketidaksiapan menghadapi kematian tersebut yang sering mendatangkan kecemasan menghadapi kematian. Hal ini bermanifestasi menjadi kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, khawatir, takut, dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang
Kematian sendiri mempunyai beberapa pengertian namun secara umum kematian dikaitkan dengan hilangnya kemampuan biologis seseorang. Menurut Harvard Medical School (1997), konsep kematian sendiri menyangkut hilangnya lima kemampuan dasar individu, yaitu ketidakmampuan menerima dan merespon stimulus, tidak memiliki kemampuan dalam hal gerak atau pernafasan, tidak mempunyai reflek, EEG datar, dan tidak adanya sirkulasi dalam otak.
Namun dalam pengertian lain maka selain membahas kematian secara biologis penting maka terdapat pengertian menyangkut konsep kematian secara psikologis terjadi ketika pikiran seseorang berhenti untuk berfungsi. Menurut Aiken (sitat dalam Bishop, 1994), kematian secara sosial terjadi ketika orang lain melakukan tindakan untuk orang yang sudah dinyatakan meninggal.

Judul Skripsi Psikologi: Tingkat Kecemasan

Menurut poplou (1998) ada empat tingkat kecemasan yang dialami oleh individu-individu yang ringan, sedang, berat dan panik :
a.       Kecemasan ringan
Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari, individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas, contohnya:
a)       Seseorang yang menghadapi ujian akhir
b)      Pasangan dewasa yang akan memasuki jenjang pernikahan
c)       Individu yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
d)      Individu yang tiba-tiba dikejar anjing menggonggong
b.      Kecemasan sedang
Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya. Terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain. Contohnya:
a)       Pasangan suami istri yang menghadapi kelahiran bayi pertama dengan resiko tinggi
b)      Keluarga yang menghadapi perpecahan (berantakan)
c)       Individu yang mengalami konflik dalam pekerjaan
c.       Kecemasan berat
Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detil yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berfikir tentang ha-hal lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu perintah atau arahan untuk terfokus pada area lain. Contohnya:
a)       Individu yang mengalami kehilangan harta benda dan orang yang dicintai dengan bencana alam.
b)      Individu dalam penyanderaan
d.      Panik
Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatiannya hilang karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melaksanakan apapun meskipun dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif biasanya disertai dengan disorganisasi kepribadian. Contohnya: Individu dengan kepribadian pecah/depersonalisasi.
Bentuk dari kecemasan itu bermacam-macam Bucklew (1980) mengatakan bahwa pada umumnya para ahli membagi bentuk dari kecemasan itu dibagi dalam dua tingkat :
a.       Tingkat psikologis yaitu kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan seperti tegang, bingung, kawatir, sukar berkonsentrasi perasaan tidak menentu dsb.
b.      Tingkat psikologis yaitu kecemasa yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik, terutama paa fungsi sistem sayaraf. Misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, keluar keringat dingin erlebihan , sering gemetar, perut muall dsb.
Welwood (1985) menmabahkan satu jenis kecemasan, yaitu kecemasan eksisitensial. Oleh kierkegaard (dalam welwood) kecemasan ini disebut dread. Kecemasan jenis ini muncul berkaitan dengan eksisitensi manusia , misalnya kecemasan terhadap kematian . Frankl (984) menyebut kecemasan eksisitensial sebagai frustasi eksisitensial yang disebabkan oleh tidak diperolehnya makna hidup. Hal ini akan menimbulkan perasaan hampa yang kemudian berwujud noogenic neurosis.

Judul Skripsi Psikologi: Kecemasan

Kecemasan merupakan suatu kondisi yang dihadapi seorang individu ketika menghadapi perubahan dalam hidupnya. Kecemasan seringkali lekat dengan perasaan takut karena pada awalnya kecemasan timbul bersamaan dengan rasa takut menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan oleh individu tersebut. Dalam hal ini bisa saja adalah proses menghadapi kematian.. Menurut Fletcher & Hansson (1991) kecemasan dirasakan oleh individu yang akan lebih terkait dengan perubahan sosial, misalnya kecemasan akan indentitas sosial, perasaan takut diasingkan dan cemas karena merasa tidak mampu bersosialisasi lebih luas.
Kecemasan sendiri didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai tokoh. Menurut Bryne (1966), bahwa kecemasan adalah suatu perasaan yang dialami individu, seperti apabila ia mengalami ketakutan. Pada kecemasan perasaan ini bersifat kabur, tidak realistis atau tidak jelas obyeknya sedangkanpada ketakutan obyeknya jelas. Sedangkan menurut Hurlock (1990), kecemasan adalah bentuk perasaan khawatir, gelisah dan perasaan-perasaan lain yang kurang menyenangkan. Biasanya perasaan-perasaan ini disertai oleh rasa kurang percaya diri, tidak mampu, merasa rendah diri, dan tidak mampu menghadapi suatu masalah.
Freud (dalam Lindzey dan aronson, 1975)  memandang kecemasan sebagai suatu keadaan afeksi yang tidak mengenakan dan di bedakan dari keadaan ketidaksenangan lain seperti rasa sakit di sebabkan organ-organ internal tubuh. Kecemasan adalah ketidak pastian mengenai eksisitensi manusia berkiatan dengan kematian yang harus dihadapi dan dialami oleh setap manusia (Jaspers, dalam Hassan, 1973). Kecemasan juga dapat diartikan sebagai kondisi emosionalya sisitem syaraf yang tidak menyenangkan yang di tandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan kekwatiran dan juga di tandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat (post, 1978).
 Menurut Kartono (1997), ketidakberanian individu dalam menghadapi suatu masalah dan ditambah dengan adanya kerisauan terhadap hal-hal yang tidak  jelas merupakan tanda-tanda kecemasan pada individu. Pendapat ahli lain Havary (1997), berpendapat bahwa kecemasan merupakan reaksi psikis terhadap kondisi mental individu yang tertekan. Apabila orang menyadari bahwa hal-hal yang tidak bisa berjalan dengan baik pada situasi tertentu akan berakhir tidak enak maka mereka akan cemas. Kondisi-kondisi atau situasi yang menekan akan memunculkan kecemasan. Kecemasan yang dimaksud adalah suatu kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, khawatir, takut, dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (Lazarus, 1976). Menurut Desy Chriswandani (2007) definisi dari kecemasan adalah keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, non spesifik.

Judul Skripsi Psikologi: Manifestasi Depresi

Stab dan Fieldeman (1999) mengemukakan bahwa depresi terjadi apabila individu secara konsisten menemukan diri mereka dalam suasana tertekan setiap hari dilebihi periode dua minggu. Dalam American Psychiatry Asociation (1994) seseorang dapat dinyatakan mengalami depresi apabila setidaknya dalam dua minggu terakhir mengalami lima atau lebih simtom berikut: adanya perubahan pada nafsu makan atau berat badan, tidur dan aktivitas psikomotor, muncul perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah, kesulitan berpikir, dan membuat keputusan, munculnya pikiran atau ide yang menyebabkan mudah lelah, munculnya pikiran atau ide untuk bunuh diri atau keinginan untuk mati.
Menurut Beck (1967) bahwa manifestasi depresi mempunyai konsistensi, seperti adanya penurunan mood, kesedihan, pesimisme tentang masa depan, retardasi dan agitasi, sulit berkonsentrasi, menyalahkan diri sendiri, lamban dalam berpikir serta serangkaian tanda vegetatif seperti gangguan dalam nafsu makan maupun gangguan dalam hal tidur. Konsistensi manifestasi depresi tersebut menjadikan simtom depresi dapat digolongkan menjadi simptom emosional, kognitif, motivasional dan vegetatif fisik.