Teori sosiologis disebut juga teori psikologi sosial
dikemukakan oleh Thorstein Veblen, adalah lebih menitik beratkan pada hubungan
dan pengaruh antara individu-individu yang dikaitkan dengan perilaku mereka.
Jadi, teori ini mengutamakan perilaku kelompok. Perusahaan harus bisa
menentukan mana diantara lapisan-lapisan sosial
yang memiliki pengaruh paling besar terhadap peningkatan akan produk
atau jasa yang dihasilkan (Swastha dan H. Handoko,1987)
Sabtu, 24 November 2012
Judul Skripsi Manajemen; Teori Psikologis Dalam Perilaku Konsumen
Teori ini mendasarkan pada faktor-faktor psikologis
individu yang selalu dipengaruhi oleh kekuatan lingkungan. Artinya, manusia
selalu didorong oleh kebutuhan dasarnya, yang timbul sebagai bagian dari
pengaruh lingkungan sekitarnya, serta nampak pada kegiatannya di waktu
sekarang, tanpa mengabaikan pengaruh lampau atau antisipasinya di masa
mendatang. Karena proses mental tidak diamati secara langsung, maka proses
mental diantara input dan output digambarkan sebagai’black box’.
Teori psikologis secara garis besar diabagi dalam dua
bagian, yaitu teori belajar dan teori psikoanalitis :
a.
Teori belajar (Learning
theory)
Teori belajar didasarkan atas empat komponen pokok,
yaitu Drive (dorongan), Cue (petunjuk), responses (tanggapan), dan reinforcement
(penguatan). Drive yang sering
disebut kebutuhan atau motif adalah stimuli kuat dalam diri seseorang yang
memaksanya untuk bertindak, dan dapat dibedakan dalam dorongan yang bersifat
fisiologis maupun proses belajar. Cue
merupakan stimuli yang lebih lemah yang akan menentukan kapan, di mana, dan
bagaimana tanggapan subyek.Responses
akan tergantung dari Cue tersebut dan
petunjuk-petunjuk lain. Reinforcement
terjadi bila perilaku individu terbukti dapat memperoleh kepuasan. Ini berarti
perilaku inidividu yang sama akan berulang jika reinforcement positif dan tidak
akan mengulang jika negatif.
Teori yang dapat menjelaskan penafsiran dan peramalan
proses belajar konsumen adalah Stimulus
Response Theory, Cognitive Theory, dan Gestalt
and Field Theory.
Stimulus
response theory (teori rangsangan tanggapan). Menurut teori ini proses
belajar merupakan suatu tanggapan dari seseorang terhadap suatu rangsangan yang
dihadapi (Swastha dan H. Handoko,1987). Lebih jelasnya proses belajar timbul
apabila seseorang bereaksi terhadap stimulus tertentu dan kemudian ia
mendapatkan imbalan berupa pemuasan kebutuhan apabila reaksinya tepat, tetapi
apabila tidak, maka ia mendapatkan hubungan. Rangsangan itu diulang-ulang
sampai mendapatkan tanggapan yang benar secara terus-menerus, sehingga akhirnya
muncul suatu kebiasaan dan perilaku tertentu.
Cognitive Theory
(teori kesadaran). Menurut teori ini, proses belajar dipengaruhi oleh
faktor-faktor sikap, keyakinan, pengalaman masa lalu,dan pemahaman cara
bagaimana mencapai tujuan tertentu. Seseorang dapat menggunakan kemampuan
berpikirnya untuk mengerti problem tertentu sekalipun tidak ada
preseden-preseden historis pada pengalaman orang yang bersangkutan. Proses
pemikiran seseorang sangat menentukan dalam pembentukan pola perilakunya.
Gestalt dan
Field Theory (teori bentuk dan ruang). Teori ini menekankan pentingnya
interaksi manusia dengan ruang hidupnya, atau lebih khusus lagi dengan
lingkungan psikologisnya. Teori ini memandang bahwa proses pengamatan,
pengalaman masa lalu, dan pengarahan tujuan merupakan variabel yang menimbulkan
perilaku.
b. Teori
Psikoanalitis
Teori psikoanalitis didasarkan pada teori psikoanalisa
dari Sigmund Freud yang menekankan pada alam bawah sadar dari kepribadian dan
sebagai akibat dari konflik di masa kecil, konflik tersebut berasal dari tiga
komponen kepribadian yaitu id, ego, dan superego (Assael,1998). Menurut Freud,
perilaku manusia ini adalah merupakan hasil kerjasama dari ketiga aspek dalam
struktur kepribadian manusia yaitu (Dharmesta dan Handoko, 2000) :
Judul Skripsi Ekonomi Manajemen: Teori Mikro Ekonomi
Teori ekonomi klasik dikembangkan oleh ahli-ahli
ekonomi klasik termasuk Adam Smith yang menyatakan bahwa manusia di dalam
segala tindakannya didorong oleh kepentingannya sendiri. Sedangkan Jeremy
Bentham memandang manusia sebagai mahluk yang memperhitungkan dan
mempertimbangkan untung rugi, akan didapat segala tingkah laku yang akan
dilakukan. Teori tersebut kemudian disempurnakan oleh ahli-ahli neoklasik,
yaitu teori kepuasan marjinal oleh William S. Jevono, Alfred Marshal, Karl
Menger, serta Leon Walras. Teori kepuasan marjinal yang kemudian lebih dikenal
sebagai teori kepuasan modern dikembangkan oleh Alfred Marshal. Teori ini
menyebutkan bahwa setiap konsumen akan mendapatkan kepuasan yang maksimal, dan
konsumen akan meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk untuk jangka waktu
yang sangat lama, bila ia telah mendapatkan kepuasan dari produk yang sama.
Dalam hal ini, kepuasan yang didapatkan sebanding atau lebih besar dengan marjinal utility yang diturunkan dari
pengeluaran yang sama untuk beberapa produk lain, melalui suatu perhitungan
yang cermat terhadap konsekuensi dari setiap pembelian. Namun teori dari
Marshal ini memiliki kelemahan dimana kenyataan seseorang yang akan membeli
sebuah barang tidak akan menghitung secara teliti marjinal utility dari suatu barang, dan kemudian membandingkan marjinal utility barang lain. Jadi,
teori Marshal ini hanya memperhatikan faktor-faktor ekonomi saja dan tidak
memperhatikan faktor psikologis dan sosiologis yang sebenarnya juga dapat
mempengaruhi perilaku konsumen (Swastha dan H. Handoko,1987).
Judul Skripsi Ekonomi Manajemen: Perilaku Konsmen
Keberhasilan
program pemasaran dipengaruhi oleh pemahaman akan perilaku konsumen. Hal ini sangat penting bagi
perusahaan untuk mengembangkan program dan strategi pemasaran dengan lebih
cepat. Perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu secara langsung
terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan barang dan jasa, termasuk di
dalamnya proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan
(Engel J.F, dkk, 1994).
Perilaku konsumen adalah
proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik yang dilakukan oleh
individu-individu dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau
menghabiskan barang dan jasa (Loudon, et.al, 1988).
Analisis perilaku konsumen dapat membantu manajer
dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian strategi pemasaran dalam rangka
pencapaian tujuan-tujuan perusahaan seperti laba, market share dan sebagainya. Analisis dan implementasinya
tergantung pada pemahaman atas proses pembelian dan faktor-faktor yang
berpengaruh pada perilaku konsumen. Analisis perilaku konsumen yang realistik
tidak hanya mengamati bagian yang tampak saja, tetapi hendaknya menganalisis
juga proses-proses yang tidak dapat diamati, yang selalu menyertai pembelian.
Kaitannya dengan keputusan membeli dan memakai suatu barang atau jasa, maka
pemahaman akan perilaku konsumen meliputi jawaban atas pertanyaan mengenai
siapa, di mana, bagaimana kebiasaan dan dalam kondisi apa membeli barang atau
jasa (Swastha dan H. Handoko,1987).
Perilaku
konsumen perlu dipantau dan dianalisis karena hal ini sangat bermanfaat bagi
pengembangan produk, desain produk, penetapan harga, pemilihan saluran
distribusi dan penentuan strategi promosi. Analisis perilaku konsumen dapat
dilakukan dengan penelitian (riset pasar), baik melalui observasi maupun metode
survai (Tjiptono, 1998)
Untuk
mengetahui perilaku konsumen suatu produk yang dibidik oleh produsen maka
dilakukan riset pemasaran. Pada prinsipnya konsumen memiliki keinginan dan
kebutuhan yang memerlukan sarana pemuas tertentu (produk). Untuk itu, konsumen
akan mencari produk yang paling sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan tersebut secara efektif dan efisien. Ada perbedaan cukup mendasar
antara kebutuhan, keinginan,dan permintaan. (Santoso, 2004).
a.
Kebutuhan
adalah suatu keadaan merasa tidak memiliki kepuasan dasar. Kebutuhan melekat
pada sifat dasar manusia, contohnya orang butuh makanan ,pakaian, perlindungan,
keamanan, hak milik, harga diri dan beberapa aspek dasar lainnya.
b.
Keinginan
adalah hasrat akan pemuas tertentu dari kebutuhan tersebut.Orang dapat saja
memiliki kebutuhan yang sama, nammun keinginannya berbeda-beda. Misal ada tiga
orang yang butuh makan, tetapi si A ingin makan sate ayam, si B ingin pizza,
sedangkan si C ingin makan nasi goreng.
c.
Permintaan
adalah keinginan akan suatu produk yang didukung dengan kemampuan serta
kesediaan membelinya. Keinginan menjadi permintaan jika didukung dengan daya
beli. Banyak orang ingin memiliki sedan BMW, tetapi hanya sedikit yang mampu
dan mau membelinya.
Setiap
produsen selalu mengharapkan bahwa produk yang dibuatnya sesuai dengan selera
pasar (konsumen) sehingga terjadi adanya transaksi (pertukaran) di antara
keduanya. Adanya transaksi (pertukaran) tidak berarti proses berhenti begitu
saja. Produk yang telah dibeli akan digunakan dan dievaluasi, yaitu apakah
memuaskan bagi konsumen atau tidak.Hal ini lah yang akan menentukan apakah akan
ada proses pembelian ulang berikutnya atau tidak. Di sinilah peranan riset
pasar, yaitu untuk dapat memberikan informasi mengenai kebutuhan, keinginan,
dan permintaan konsumen serta mengidentifikasi kepuasan konsumen pengguna
produk.
Judul Skripsi Kedokteran: Pengaruh Sampah terhadap Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan
Ada dua hal
pengaruh pengelolaan sampah yaitu:
1.
Pengaruh positif
a. Sampah dapat
dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah.
b. Sampah dapat dimanfaatkan untuk pupuk.
c. Sampah dapat diberikan untuk makanan
ternak setelah menjalani proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu
untuk mencegah pengaruh buruk sampah tersebut terhadap ternak.
d. Pengelolaan sampah menyebabkan
berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga atau binatang pengerat.
e. Menurunkan insidensi kasus penyakit
menular yang erat hubungannya dengan sampah.
f. Keadaan estetika lingkungan yang bersih
menimbulkan kegairahan hidup masyarakat.
g. Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan
kemajuan budaya masyarakat.
h. Keadaan lingkungan yang baik akan
menghemat pengeluaran dana kesehatan suatu negara sehingga dana tersebut dapat
digunakan untuk keperluan lain (Budiman Chandra, 2007: 121-122).
2.
Pengaruh negatif
a.
Polusi udara berupa bau yang
sangat menyengat akibat proses pembusukan bahan organik. Polusi bau terjadi
mulai dari sumber sampah, kemudian di sepanjang jalan dari sumber sampah ke TPA
dan lokasi TPA itu sendiri.
b.
Polusi udara berupa asap. Hal
ini disebabkan oleh kegiatan pembakaran sampah. Dampaknya juga berakibat ke
pencemaran bau, pandangan terhalang, serta partikulat karbon melayang di udara
yang akan membahayakan kesehatan paru-paru.
c.
Polusi air berupa keluarnya air
leachate akibat air hujan mencuci sampah yang sudah busuk serta segala
kotoran yang terjerap di dalamnya. Air tersebut ada yang mengalir di permukaan
tanah yang dampaknya mengotori jalan dan kampung sehingga menimbulkan bau dan
penyakit.
d.
Polusi terhadap tanah yang
menyebabkan tanah bekas TPA akan dijenuhi garam-garam mineral sehingga tingkat
salinitasnya sangat tinggi. Membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkannya
kembali untuk tujuan lahan pertanian.
e.
Ditinjau dari aspek sosial
ekonomi, seluruh areal hamparan TPA dalam radius 2 km, termasuk jalan menuju
TPA dikategorikan sebagai daerah polusi. Dampaknya adalah harga jual tanah di
daerah tersebut menjadi turun (Sudradjat, 2006: 71-72).
Judul Skripsi Kedokteran: Prevalensi
Prevalensi adalah salah satu cara untuk mengukur frekuensi, penyakit, atau
morbiditas. Prevalensi menghitung semua kasus yang ada pada periode waktu
tertentu, jadi kasus lama dan baru akan terhitung. Prevalensi digunakan pada
survei cross-sectional untuk mencari penyakit kronis. Menurut Juli
Soemirat (1996: 27) Prevalensi dapat
dihitung sebagai berikut:
Prevalensi = jumlah penderita pada waktu tertentu X Faktor
_____________________________
Jumlah populasi penyandang resiko
dengan nilai faktor 1
Judul Skripsi Sosiologi: Tinjauan tentang Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan
istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi
tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara
individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah
masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas.
Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu
sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok
orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam
pengertian masyarakat, maka ciri-ciri masyarakat itu sendiri adalah:
1.
Kesatuan antar individu
(gabungan dari beberapa individu).
2.
Menempati suatu wilayah
tertentu.
3.
Terdapat sistem yang berlaku
dan telah disepakati bersama.
4.
Terdapat interaksi antar
sesamanya ( http://id.answers.yahoo.com, diakses 14 agustus 2008: 13:00).
Judul Skripsi Kedokteran: Pencemaran Air dan Tanah
1.
Pencemaran Air
Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi dan atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh
kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan air tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Bila suatu
sumber air mengalami pencemaran yang berasal dari air limbah suatu industri
sehingga tidak dapat lagi dimanfaatkan untuk air baku air minum, maka dikatakan
sumber air tersebut telah tercemar (Ricki M. Mulia, 2005: 46-47).
2.
Pencemaran Tanah
Pengertian pencemaran tanah tidak jauh berbeda dengan pencemaran udara dan
air, tanah pun dapat mengalami pencemaran. Walaupun banyak jenis tanah mempunyai
kemampuan mengasimilasi dan menetralisir bahan pencemar, namun tanah juga dapat
mengalami penurunan kualitasnya, tanah tidak dapat lagi memberikan daya dukung
bagi kehidupan manusia secara optimal (Ricki M. Mulia, 2005: 89).
Judul Skripsi Kedokteran: Arti dan Hubungan Penyakit terhadap Kesehatan Manusia
Secara umum yang dimaksud dengan penyakit
adalah segala sesuatu yang menimbulkan masalah terhadap kesehatan manusia
sehingga manusia tidak dapat bekerja dengan baik (Ichsan, 1994: 62).
1.
Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit terdiri dari 2
golongan yaitu:
a. Penyebab yang berasal dari dalam tubuh
manusia itu sendiri. Hal ini berupa kelainan dari dalam tubuh manusia.
Misalnya, perubahan pada kelenjar hormone yang dapat menimbulkan penyakit
seperti Basedow, kencing manis, akromegali, dan sebagainya.
b. Penyebab penyakit dari luar manusia yang
dapat terjadi adalah sebagai berikut:
1) Keadaan mekanis, seperti luka akibat kena
benda tajam, tertembak, patah tulang karena jatuh, dan sebagainya.
2) Keadaan fisik, misalnya susu yang tinggi,
terbakar, tersiram air panas, kena aliran listrik, dan sebagainya.
3) Keadaan bahan kimia yang terlalu banyak
mencemari bahan makanan, minuman, atau lingkungan seperti keracunan makanan,
gas, dan sebagainya.
4) Terkena infeksi jasad renik (bakteri,
hewan bersel satu, jamur, rickersia dan virus), dan jasad makro (cacing,
serangga, dan lain-lain).
5) Kekurangan unsur-unsur tertentu dalam
makanan, misalnya air kurang mengandung flour dapat menimbulkan kerusakan gigi
(carries).
6) Keadaan kejiwaan, misalnya terkejut secara
hebat, rasa takut yang terus-menerus (Ichsan, 1994: 63).
2.
Cara Penularan Penyakit
Menurut Notoatmodjo (1996: 35-36), penularan penyakit dapat
melalui berbagai cara, antara lain:
a.
Kontak
(contact)
Dapat terjadi
kontak langsung maupun kontak tidak langsung melalui benda-benda yang
terkontaminasi. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung ini
pada umumnya terjadi pada masyarakat yang hidup berjubel. Oleh karena itu,
lebih cenderung terjadi di kota daripada di desa yang penduduknya masih jarang.
b.
Inhalasi
(inhalation)
Yaitu
penularan melalui udara/ pernapasan. Oleh karena itu, ventilasi rumah yang
kurang, berjejalan (over crowding), dan tempat-tempat umum adalah faktor yang
sangat penting di dalam epidemiologi penyakit ini. Penyakit yang ditularkan
melalui udara sering kali disebut “air borne infection” (penyakit yang
ditularkan melalui udara).
c.
Infeksi
Penularan melalui
tangan, makanan atau minuman.
d.
Penetrasi
pada kulit
Hal ini dapat
langsung oleh organisme itu sendiri. Penetrasi pada kulit misalnya cacing
tambang, melalui gigitan vektor misalnya malaria atau melalui luka, misalnya
tetanus.
Judul Skripsi Kedokteran: Masalah Pengadaan Air
Air merupakan
kebutuhan manusia yang sangat penting. Yang disebut secara umum dengan pengadaan
air bersih adalah meliputi penyediaan sumber-sumbernya, pengolahan air menurut
prinsip sanitasi, penyaluran kepada konsumen, maupun pengawasan kualitas
airnya. Dengan pengertian pengadaan air bersih adalah air bersih untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi keluarga (air minum), rumah tangga maupun umum (Slamet
Ryadi, 1986: 42).
Ditinjau dari sudut
ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat karena penyediaan air bersih yang terbatas memudahkan
timbulnya penyakit di masyarakat. Volume rata-rata kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara 150
– 200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung
pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat (Budiman Chandra, 2007: 39).
Masalah pengawasan kualitas air dapat dimonitor melalui prosedur
pemeriksaan secara berkala baik dari segi biologis, khemis, maupun fisis.
1.
Syarat-syarat Air Bersih
Agar manusia tidak menerima akibat
buruk dari penggunaan air, maka harus mengenal syarat-syarat air yang dapat
digolongkan sebagai air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut Notoatmodjo (1996: 153) pada dasarnya air dikatakan air bersih,
apabila telah memenuhi 3 persyaratan:
a. Syarat fisik, artinya air tersebut bening (tidak berwarna), tidak berasa,
suhu di bawah suhu udara di luarnya.
b. Syarat bakteriologis, harus terbebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Setelah melalui pemeriksaan, maka
sekurang-kurangnya dalam 90% dari jumlah contoh air yang dikumpulkan tidak
terdapat bakteri golongan coli.
c. Syarat kimia, air harus
mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau
kelebihan salah satu zat kimia dalam air, akan menyebabkan gangguan fisiologis
pada manusia.
2.
Parameter Kualitas Air
Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa, dan
tidak berbau. Air minum pun seharusnya tidak mengandung kuman patogen dan
segala makhluk yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Tidak mengandung zat
kimia yang dapat mengubah fungsi tubuh,
tidak dapat diterima secara estetis dan dapat merugikan secara ekonomis. Air
itu seharusnya tidak korosif, tidak meninggalkan endapan pada seluruh jaringan
distribusinya. Pada hakekatnya tujuan ini dibuat untuk mencegah terjadinya
serta meluasnya penyakit bawaan air (Juli Soemirat, 1994: 110).
Menurut Juli Soemirat, (1994: 111-117), parameter pengukuran kualitas air selalu dibagi kedalam beberapa bagian
sebagai berikut:
a.
Parameter Fisis
1)
Bau
Bau pada air
dapat memberikan petunjuk akan kualitas air. Bau air bergantung dari sumbernya,
dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia, ganggang, plankton, atau tumbuhan dan
hewan air yang hidup maupun yang sudah mati.
2)
Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik yang
bersifat anorganik maupun yang organik. Zat anorganik, biasanya berasal dari
lapukan batuan dan logam, sedangkan organik dapat berasal dari lapukan tanaman
atau hewan. Bakteri juga merupakan zat organik tersuspensi sehingga pertambahannya
akan menambah kekeruhan air.
3)
Rasa
Air minum
biasanya tidak memberi rasa / tawar. Air yang tidak tawar dapat menunjukkan
kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan.
4)
Temperatur
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak
panas terutama agar tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran
atau pipa, menghambat reaksi-reaksi biokimia di dalam saluran, mikroorganisme
tidak berkembangbiak dan apabila diminum dapat menghilangkan dahaga.
5)
Warna
Air minum sebaiknya tidak berwarna
untuk alas an estetis dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia
maupun mokroorganisme yang berwarna. Warna dapat disebabkan adanya tanin dan asam humat yang terdapat secara
alamiah di air rawa. Warna juga dapat berasal dari
buangan industri.
b.
Parameter Kimia
1)
Air raksa (Hg)
Air raksa adalah metal yang menguap pada temperatur kamar. Hg merupakan
racun sistemik dan diakumulasi dalam hati, ginjal, limpa dan tulang. Keracunan
Hg akan menimbulkan gejala susunan saraf pusat seperti kelainan kepribadian,
pikun, imsomnia, iritasi, depresi, dan rasa ketakutan.
2)
Aluminium (Al)
Aluminium adalah metal yang dapat
dibentuk, dan karenanya banyak digunakan, sehingga banyak terdapat di
lingkungan dan didapat pada berbagai jenis makanan. Dalam dosis tinggi dapat menimbulkan luka pada
usus. Al dalam bentuk debu dapat diakumulasi dalam paru-paru, dapat pula
menyebabkan iritasi kulit, selaput lender, dan saluran pernafasan.
3)
Arsen (As)
Arsen adalah metal yang mudah patah, berwarna keperakan, dan sangat toksik.
As elemental di dapat di alam dalam jumlah yang sangat terbatas, terdapat
bersama-sama Cu, sehingga didapatkan sebagai produk sampingan pabrik peleburan
Cu. Keracunan As pada manusia dapat menyebabkan muntaber disertai darah,
disusul dengan koma, dapat menyebabkan kematian.
4)
Barium (Ba)
Barium juga suatu metal, berwarna putih. Barium banyak terdapat di
lingkungan. Dalam bentuk debu Ba dapat diakumulasi dalam paru-paru dan dapat
menyebabkan fibrosis. Keracunan Ba dapat menghentikan otot-otot jantung dalam
waktu 1 jam. Pada fase akhir keracunan dapat terjadi kelumpuhan urat saraf.
5)
Besi (Fe)
Besi atau
Ferrum adalah metal berwarna putih keperakan, liat dan dapat dibentuk. Di alam
terdapat sebagai hematite. Di air minum Fe menimbulkan rasa, warna kuning, pengendapan
pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi, dan kekeruhan. Dalam dosis besar
Fe dapat merusak dinding usus. Debu Fe dapat diakumulasi dalam alveoli, dan
menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru.
6)
Fluorida (F)
Fluor adalah
halogen yang sangat reaktif, karenanya di alam selalu didapat dalam bentuk
senyawa. Fluorida anorganik bersifat lebih toksik dan lebih iritan daripada
yang organik. Keracunan F menyebabkan orang menjadi kurus, pertumbuhan tubuh
terganggu, terjadi fluorosis pada gigi serta kerangka, dan gangguan pencernaan
yang disertai dengan dehidrasi, cacat tulang, kelumpuhan, dan kematian.
7)
Cadmium (Cd)
Cadmium adalah metal berbentuk kristal putih keperakan. Cd sangat beracun
bagi manusia, keracunan akut akan menyebabkan gejala gasterointestinal dan
penyakit ginjal.
8)
Kesadahan (CaCo3)
Kesadahan
dapat menyebabkan pengendapan pada dinding pipa. Kesadahan yang tinggi
disebabkan oleh sebagian besar oleh Calcium, Magnesium, Strontium, dan Ferrum.
Masalah yang dapat timbul adalah sabun sulit membusa.
9)
Khlorida
Khlorida
adalah senyawa halogen khlor (Cl). Toksisitasnya tergantung pada gugus senyawa.
Dalam jumlah banyak, Cl akan menimbulkan rasa asin, korosi pada pipa sistem
penyediaan air panas.
10)
Khromium (Cr)
Khromium adalah metal kelabu yang keras. Cr tidak toksik, tetapi senyawanya
sangat iritan dan korosif, menimbulkan ulcus yang dalam pada kulit dan selaput
lender. Inhalasi Cr dapat menimbulkan kerusakan pada tulang hidung. Di dalam
paru-paru Cr dapat menimbulkan kanker.
11)
Mangan (Mn)
Mangan adalah
metal kelabu kemerahan. Dalam air juga menyebabkan warna ungu atau hitam.
Keracunan seringkali bersifat khronis sebagai akibat inhalasi debu dan uap
logam. Gejala yang timbul imsomnia, lemah pada kaki dan otot muka sehingga
ekspresi muka menjadi beku dan muka tampak seperti topeng.
12) Natrium (Na)
Natrium
sangat reaktif, karenanya bila berada di dalam air akan terdapat sebagai suatu
senyawa. Natrium sendiri bagi tubuh tidak merupakan benda asing, tetapi
tonisitasnya tergantung pada gugus senyawanya.
13)
Nitrat, Nitrit
Nitrat dan
nitrit dalam jumlah besar dapat menyebabkan gangguan GI (Gastero Intestinal),
Diare campur darah, disusul konvulsi koma, dan kematian. Keracunan khronis
menyebabkan depresi umum, sakit kepala, dan gangguan mental.
14)
pH
Air minum
sebaiknya netral, tidak asam atau basa, untuk mencegah terjadinya pelarutan
logam berat, dan korosi jaringan distribusi air minum. Air adalah bahan pelarut
yang sangat baik, maka dibantu dengan pH yang tidak netral dapat melarutkan
berbagai elemen kimia yang dilaluinya.
15)
Seng (Zn)
Tubuh
memerlukan Zn untuk proses metabolisme, tetapi dalam kadar tinggi dapat
bersifat racun. Di dalam air dapat menimbulkan rasa kesat, dan dapat
menyebabkan gejala muntaber. Seng menyebabkan warna air menjadi opalescent,
dan bila dimasak akan timbul endapan seperti pasir.
16)
Sianida (Cn)
Sianida adalah senyawa Sian (Cn) yang
dikenal sebagai racun. Di
dalam tubuh akan menghambat pernapasan jaringan, sehingga terjadi asphyxia,
orang merasa tercekik dan cepat diikuti oleh kematian.
17)
Sulfat
Sulfat
bersifat iritan bagi saluran gastro-intestinal, bila dicampur dengan Magnesium
atau Natrium. Jumlah MgSO4 yang tidak terlalu besar sudah dapat
menimbulkan diare.
18)
Tembaga (Cu)
Tembaga sebetulnya diperlukan dalam
perkembangan tubuh manusia tetapi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan gejala
GI (Gastero Intestinal), SSP (Susunan Saraf Pusat), Ginjal dan hati. Dalam dosis rendah menimbulkan rasa kesat,
warna, korosi pada pipa, sambungan, dan peralatan dapur.
19)
Timbal (Pb)
Timbal adalah metal kehitaman. Pb
merupakan racun sistemik dan keracunan Pb akan menimbulkan gejala rasa logam di
mulut, garis hitam pada gusi, anorexia, muntah-muntah, kelumpuhan, kebutaan dan
lain sebagainya.
20)
Zat padat terlarut (TDS = Total
Disolved Solid)
TDS biasanya
terdiri atas zat organik, garam anorganik, dan gas terlarut. Bila TDS bertambah
maka kesadahan akan naik pula. Selanjutnya efek TDS ataupun kesadahan terhadap
kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab masalah tersebut.
1.
Hubungan Air Kotor dengan Kesehatan
Menurut Ichsan
(1979: 38-39), Air kotor adalah air yang sudah dicemari. Secara kimia mungkin
air tersebut mengandung zat-zat kimia yang membahayakan. Secara bakteriologi, air tersebut mengandung
berbagai bakteri penular penyakit. Secara fisik, air tersebut telah berubah,
terutama warnanya. Air kotor dapat menimbulkan berbagai penyakit yang biasa
dikenal dengan “Water Borne Diseases”. Beberapa penyakit yang
diakibatkan oleh air kotor antara lain:
a. Penyakit Perut: Kholera/ Diare (muntah
berak), Disentri, Thyphus
b.
Penyakit Cacing
c.
Penyakit Mata
d.
Keracunan
Langganan:
Postingan (Atom)