Rabu, 23 Maret 2011

Judul Skripsi Psikologi: Kebahagiaan Hidup dalam Tinjauan Ilmu Psikologi

bagaimana mengukur sebuah kebahagiaan bagi seorang inividu tentu memiliki ukuran yang sangat subjektif. Tentulah tidak bisa menerapkan nilai sebuah kebahagiaan hidup yang kemudian diterapkan pada individu yang lain. demikian kajian kebahagiaan hidup dalam ilmu psikologi namun ada "benang merah" yang dapat ditarik sebagai sebuah generalisasi dalam mendefiniskan, faktor serta aspek/dimensi kebahagiaan hidup
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) kebahagiaan berasal dari kata bahagia yang berarti keadaan atau perasaan senang dan tentram atau bebas dari segala yang menyusahkan. Kebahagiaan sendiri memiliki arti kesenangan dan ketentraman hidup atau lahir batin, keberuntungan, kemujuran yang bersifat lahir batin. Menurut Kartono (2003) kebahagiaan atau happiness adalah suatu keadaan puas secara umum dari organisme terutama jika bisa mendukung secara konsisten-cocok pernyataan-pernyataan lisannya atau pada kasus manusia dengan tingkah laku yang dapat diekspresikan keluar. Menurut Diener (2000) kebahagiaan dapat didefinisikan sebagai evaluasi kognitif dan efketif terhadap kehidupannya. Evaluasi kognitif orang yang bahagia berupa kepuasan hidup yang tinggi, evaluasi afektifnya adalah banyaknya afek positif dan sedikitnya afek negatif yang dirasakan. Pengertian pertama serta pengertian ke dua diatas menunjukkan rasa kepuasan sedangkan dalam pengertian ke tiga menunjuk pada ekspresi baik secara kognitif dan afektif.
Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kebahagiaan hidup makdapat dibedakan menjadi dua faktor eksternal dan internal. Penghasilan, kesehatan, bentuk tubuh, dan faktor demografis (usia, jenis kelamin dan pendidikan) merupakan faktor eksternal sementara temperamen, nilai-nilai hidup yang ada pada diri manusia dan kepribadian merupakan faktor internal.
Untuk pengukuran di dasarkan pada dua dimensi yang ada dalam kebahagiaan hidup itu sendiri yaitu: Pertama, faktor afek. Afek berkaitan erat dengan emosi. Pengaruh emosi akan dapat dilihat melalui parameter fisiologis, gerak mental atau observasi perilaku (Cacioppo et al., 1999). Uraian di atas menunjukkan bahwa afek adalah gambaran perasaan, suasana hati dan emosi secara keseluruhan yang menyertai kesadaran dan dapat bervariasi antara sangat menyenangkan sampai sangat tidak menyenangkan. Afek yang menyenangkan sering disebut dengan afek positif dan afek yang tidak menyenangkan disebut afek negatif. untuk aspek ini maka skala yang dapat digunakan adalah Positive and Negative Affect Schedule (PANAS. PANAS terdiri dari dua sub skala yaitu skala yang mengukur perasaan positif dan skala yang mengukur perasaan negatif.
Kedua, kepuasan hidup. Hurlock (1997) menyatakan bahwa kepuasan hidup adalah keadaan bahagia dan adanya kepuasan hati yang merupakan kondisi yang menyenangkan yang timbul bila kebutuhan dan harapan tertentu individu terpenuhi. Diener (1984) mengemukakan bahwa kepuasan hidup mencerminkan kondisi kehidupan yang diwarnai oleh perasaan senang tentang pengalaman masa lampau, sekarang dan gambaran yang akan datang.Pengukuran kepuasaan hidup didasarkan pada Life Satifactions Scale oleh Diener. Secara singkat maka diungkapkan bahwa Life Satifaction scale merupakan penilaian individu terhadap segala peristiwa yang dialami dengan harapan dan keinginannya. terdapat bebrapa versi untuk pengukuran ini yang disesuaikan dengan subjek penelitian. masing-masing pengukuran berbeda karena aspek kepuasan hidup akan berbeda untuk subjek yang berbeda pula

(Maaf, bukan untuk dikopi paste. sebaiknya membaca langsung sumber referensi yang asli.)

Judul Skripsi Sosiologi :MENGURAI PERJALANAN KAPITALISME DALAM SEJARAH INDONESIA (Pergeseran ”Spirit Of Capitalism” Menjadi Sistem Ekonomi Tanpa Keadilan)

A. Latar Belakang Masalah
Sistem kapitalisme di Indonesia selalu diidentikan dengan suatu sistem yang hanya mengedepankan keuntungan para pemilik modal saja. Kapitalime dalam sejarah Indonesia lekat dengan eksploitasi para tuan tanah (kaum feodal) hingga era modern dikuasai oleh kaum pemilik modal. Sistem kapitalisme selalu lekat dengan kondisi dimana persaingan, pekerjaan serta adanya pihak invisible hands akan menaikkan harga kepada tingkat alamiah dan mendorong tenaga kerja dan modal beralih dari perusahaan yang kurang menguntungkan kepada yang lebih menguntungkan. Pandangan ini menekankan bahwa sistem pasar bebas diberlakukan sistem kebebasan kepentingan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah.
Sistem kapitalisme juga lekat dengan laize faire. Dimana laissez faire diartikan sebagai tiadanya intervensi pemerintah sehingga timbullah individualisme ekonomi dan kebebasan ekonomi. Kapitalisme justru menimbulkan rasa ketidaksensifitas terhadap persamaan dan keadilan sosial bagi seluruh kalangan masyarakat secara merata. Dimana golongan penguasa modal akan semakin menekan kaum pekerja dalam upaya untuk memnuhi motivasi yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Pengidentikan kapitalisme dengan sistem penuh ketidakadilan ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan pengidentikan sistem kapitalisme ini juga berlaku di Amerika dan Eropa sebagai tanah asal dan tanah berkembangnya ”spirit of capitalism”. Sebenarnya sistem kapitalisme yang di jalankan di Amerika berbeda dengan system kapitalisme di Negara-negara Eropa meskipun sistem kapitalime yang dijalankan di Amerika berasal dari negara Eropa. Sistem kapitalisme di Amerika lebih banyak menganut kebebasan sehingga meminimalisir pengaturan oleh pihak pemerintah. Kebebasan ini merupakan pengaruh paham kebebasan yang dibawa oleh imigran. Imigran yang datang ke Amerika adalah orang-orang yang tidak terikat pada tuan tanah atau siapapun. Mereka bebas menggarap lahannya, bebas memilih lahan, bebas memanfaatkan semua hasil panen tanpa adanya pungutan pajak.
Apabila kita menilik pada akar sejarah dari awal mula perkmebangan kapitalisme sendiri maka perkembangan yang ada justru melawan dari nilai awal yang diperjuangkan dalam kapitalisme itu sendiri. Pada awalnya kapitalisme berawal dari upaya untuk menaklukkan alam serta system feodalisme untuk menumbuhkan semangat kemandirian (self reliance), eligaterisme dan individualisme. Semangat untuk mendukung kebebasan dari suatu system yang terkurung dalam struktur kaku yang tidak memungkinkan anggota masyarakat untuk mengubah pekerjaan atau meningkatkan status yang lebih tinggi. Paham kapitalisme memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju atas kemauan sendiri. Gagasan inilah yang menumbuhkan dan meningkatkan persamaan, toleransi dan memberikan rasionalisasi bagi kemandirian ekonomi sehingga memenuhi nilai-nilai kapitalisme itu sendiri.
Pergeseran ”spirit of capitalism” dalam kapitalisme menajdi praktek ekonomi dengan ketidadilan dalam sejarah inilah yang mendasari penulis untuk mengangkat kajian mengenai perjalanan perubahan pemahaman mengenai kapitalisme. Hal ini bertujuan dan bermanfaat untuk menguraikan apa yang sebenarnya terkandung dalam kapitalisme ”spirit of capitalism” yaitu sehingga dapat mengembalikan pemahaman mengenai kapitalisme pada nilai dasarnya.

B. PEMBAHASAN
Dalam sejarah, awal mula kapitalisme telah ada dalam pemikiran masyarakat yang berkembang di Babilonia, Mesir, Yunani dan Kekaisaran Roma. Para ahli ilmu sosial menamai tahapan awal kapitalisme ini dengan sebutan commercial capitalism. Kapitalisme komersial berkembang ketika pada zaman itu perdagangan lintas suku dan kekaisaran sudah berkembang dan membutuhkan sistem hukum ekonomi untuk menjamin fairness perdagangan ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang, tuan tanah, dan kaum rohaniawan.
Perkembangan selanjutnya adalah perkembangan kapitalisme yang dikenal sebagai tata cara dan “kode etik” yang dipakai oleh kaum merkantilis. Awal kapitalisme dengan bercirikan merkantilisme diawali oleh kaum pedagang yang banyak berkumpul di bilangan pelabuhan Genoa, Venice dan Pisa. Kaum merkantilis memakai kapitalisme sebagai tahap lanjutan sistem sosial ekonomi yang dibentuk. Tatanan ekonomi dan politik yang berkembang memerlukan hukum dan etika yang disusun dengan relatif mapan. Hal ini disebabkan terjadi perkembangan kompetisi dalam sistem pasar, keuangan, tata cara barter serta perdagangan yang dianut oleh para merkantilis abad pertengahan. Para merkantilis mulai membuka wacana baru tentang pasar luas. Merkantilis memulai perluasan kapitalisme tidak hanya melewati wilayah dalam satu benua saja namun mengembangkan hingga perdagangan hingga ke seluruh wilayah di dunia. Hal ini tidak hanya menyangkut pengiriman ke namun juga pengiriman dari sehingga memulai komoditas keunggulan dari satu wilayah yang dikirim ke wilayah lain. Ketika mereka berbicara tentang pasar dan perdagangan, mau tidak mau mereka mulai bicara tentang barang dagang (komoditas) dan nilai lebih yang nantinya akan banyak disebut sebagai the surplus value (nilai lebih). Dari akar penyebutan inilah, wacana tentang keuntungan dan profit menjadi bagian integral dalam kapitalisme sampai abad pertengahan.
Pandangan merkantilis dan perkembangan pasar berikut sistem keuangan telah mengubah cara ekonomi feodal yang semata-mata bisa dimonopoli oleh para tuan tanah, bangsawan dan kaum rohaniawan. Ekonomi mulai bergerak menjadi bagian dari perjuangan kelas menengah dan mulai menampakkan pengaruh pentingnya. Ditambah lagi, rasionalisasi filosofis abad modern yang dimulai dengan era renaissance dan humanisme mulai menjalari bidang ekonomi juga.
Setidaknya terdapat tiga tokoh ilmuwan filsafat sosial yang cukup memberikan pengaruh yang dramatis terhadap perkembangan kapitalisme industri modern. Tokoh tersebut adalah: Pertama, Thomas Hobbes dengan pandangan egosentris etisnya, yang pada intinya meletakkan sisi ajaran bahwa setiap orang secara alamiah pasti akan mencari pemenuhan kebutuhan dirinya; Kedua, John Locke yang menekankan sisi liberalisme etis, di mana salah satu adagiumnya berbunyi bahwa manusia harus dihargai hak kepemilikan personalnya. Ketiga, Adam Smith dimana di dalam pandangan klasiknya Adam Smith menganjurkan permainan bebas pasar yang memiliki aturannya sendiri. Persaingan, pekerjaan dari invisible hands akan menaikkan harga kepada tingkat alamiah dan mendorong tenaga kerja dan modal beralih dari perusahaan yang kurang menguntungkan kepada yang lebih menguntungkan. Pandangan ini menekankan bahwa sistem pasar bebas diberlakukan sistem kebebasan kepentingan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah.
Kapitalisme di tiga tokoh itu (Hobbes, Locke dan Adam Smith) mendapatkan legitimasi rasionalnya. Akselarasi perkembangan kapitalisme rasional ini memicu analisa dan praktek ekonomi selanjutnya. Akselarasi kapitalisme semakin terpicu dengan timbulnya “revolusi industri”. Kapitalisme mendapatkan piranti kerasnya dalam pencapaian tujuan utamanya, yaitu akumulasi kapital (modal). Industrialisasi di Inggris dan Perancis mendorong industri-industri raksasa. Perkembangan raksasa industri mekanis modern ini, memicu kolonialisme dan imperialisme ekonomi. Tidak mengherankan apabila dalam era ini muncul konsep exploitation de l’homme par l’homme.
Sementara itu, kapitalisme di Amerika lebih banyak dipengaruhi oleh kaum Puritan. Kaum puritan adalah sekelompok komunitas dari beberapa generasi setelah Reformasi di wilayah Inggris Raya dan Amerika, yang berusaha mereformasi dan memurnikan gereja serta memimpin orang-orang kepada Alkitab, kehidupan yang saleh, mempertahankan konsistensi doktrin tentang anugerah. Kelompok Puritan inilah yang dianggap sebagai salah satu kelompok imigran ikut berpengaruh membentuk kebudayan Amerika .
Upaya mereka untuk memenuhi persyaratan Tuhan untuk menjadi orang yang dipilih untuk diselamatkan atau juga dikenal dalam slogan "to work is to glorify God” atau “bekerja adalah untuk memuliakan Tuhan" adalah sebagai identifikasi terhadap etos kerja kaum Puritan. Adanya etos kerja kaum Puritan yaitu "bekerja untuk memuliakan Tuhan" telah memberikan inspirasi banyak orang untuk bekerja dengan mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan berpartisipasi dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk melakukan investasi. Di sisi lain sebagai tanah impian baru, Amerika memberikan kebebasan yang berkembang dengan penghargaan terhadap hak-hak individu. Minimnya penguasaan Inggris sebagai negara asal sebagai besar imigran meminimalkan pengaturan negara terhadap send-sendi kehidupan. Hal ini bukan berarti Amerika kemudian tidak memiliki pengaturan pada kehidupan bermasyarakat namun membebaskan bagi sebuah pembentukan pemerintahn dengan nilai yang berbeda. Misalkan tidak masuknya struktur kebangsawan dalam urusan pemerintahan. Nilai ini kemudian menjadi cikal bakal perkembangan demokrasi yang ada di Amerika selanjutnya. Nilai demokrasi tidak hanya menyangkut masalah kebebasan berpendapat namun juga kebebasan anggota masyarakat dalam bidang ekonomi yaitu untuk menjalankan usaha selama kegiatan usaha tidak merugikan kepentingan masyarakat.
Secara singkat maka terdapat nilai dasar dalam spirit of capitalisme yaitu:
1. Nilai individualisme
Individualisme disini berarti seseorang harus menjadi dirinya sendiri artinya individu anggota masyarakat harus mampu independen, tidak tergantung pada orang lain sebab setiap orang memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri (Peackock, 1996). Dalam nilai individualisme tidak hanya memasukkan unsur independen saja namun juga unsur lainnya yang sangat penting yaitu self reliance, self interest, self confidence, self esteem, and self fulfillment are meaning of individualisme (keyakinan diri, minat probadi, kenyamanan pribadi dan pemenuhan kebutuhan pribadi adalah arti individualisme secara mendalam).
2. Nilai kebebasan
Nilai individualisme tidak dapat dipisahkan dengan semangat kebebasan karena nilai individualisme sendiri dapat teraktualisasikan melalui independensi. Independensi dalam kapitalisme meliputi kebebasan berusaha dan kebebasan pasar.
3. Nilai produktivitas
Dalam kapitalisme maka setiap individu diharuskan untuk memproduksi (dengan kata lain berkarya) untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Semakin banyak produk (karya) yang dihasilkan seseorang maka makin berharga dirinya di tengah mata masyarakat. Penghargaan datang tidak hanya dari keturunan seperti halnya dalam sistem feodalisme namun penghargaan datang karena orang tersebut mampu menghasilkan lebih banyak dibandingkan individu lain.
4. Nilai efisiensi
Dalam sistem produksi massal maka nilai produktifitas tidak akan terpisah dari nilai efisiensi. Dalam nilai efisiensi maka unsur produktifitas dengan memaksimalkan produksi yang dapat ditempuh melalui dua hal yaitu (1) tenaga kerja yang di disiplinkan dan (2) investasi kapital yang diregulasi (rasionalisasi capital). Semangat kapitalisme memasukkan nilai bahwa capital yang dimiliki individu dan pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan harus digunakan sebagai capital yang digunakan untuk memperbesar produksi Dengan demikian spirit capitaslim meperkenalkan suatu metode akumulasi kekayaan secara rasional, prosedur kalkulasi, perencanaan jangka panjang, kerja keras dan capital harus diinvestasikan kembali untuk memperoleh capital yang lebih banyak lagi.
Berger berpendapat bahwa bahwa hubungan antara kehidupan spiritual manusia dengan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan mendasarkan beberapa nilai dan sikap hidup merupakan pengembangan dari spirit capitalism kaum Puritan. Melalui nilai dan sikap hidup tersebut timbullah wirausahan-wirausahawan kapitalisme yang sangat menonjol dalam masyarakat Amerika saat itu.
Kondisi Amerika ini mulai bergeser ketika masyarakat Amerika mulai bergeser dalam memahami ”spirit of capitalism. Meskipun ekonomi Amerika mengalami masa kejayaan namun secara kualitas moral maka justru terjadi penurunan. Muncullah genegrasi-genegrasi pemuda ”instan” yaitu kondisi pemuda yang hanya melewati hidupnya dalam kemakmuran namun tidak mengimbangi dengan etika dan etos kerja dalam nilai-nilai keagamaan.
Pada masa itu secara ekonomi berada dalam taraf kemakmuran yang tinggi atau lebih dikenal istilah “The Gilded Age”. Salah satu faktor pendorongnya adalah perkembangan bisnis dan industri yang membuka era baru dalam sistem perekonomian Amerika dan menempatkannya sebagai tulang punggung perekonomian negara. Bisnis dan industri mampu menciptakan kemakmuran bagi masyarakat dan memposisiskan Amerika sebagai negara terkuat di dunia. Teknologi mengantarkan Amerika memasuki era baru yaitu “progressive era” yang dihiasi oleh “booming” ekonomi dan industri (Mc. Elvaine, 1993:10). Namun kondisi tersebut malah membuat sebagian generasi mudanya menjadi pengagum duniawi semata yang perilakunya tidak sesuai dengan aturan-aturan moral dan etik yang terdapat dalam Puritan. Perubahan moral dan perilaku ini membuat masyarakat Amerika terkejut terutama generasi tua yang sangat memegang teguh nilai-nilai Puritan. ”Many were shocked by the changes in manners, morals, and fashion of youth especially on college campuses” (Cincotta, 1994:253)”
Melalui kajian di atas kita akan dapat memahami bahwa dalam perjalanan waktu, perkembangan masyarakat merubah mengenai pengertian dan pemahaman mengenai kapitalisme itu sendiri. Setiap kurun waktu memberikan sumbangan berbeda mengenai pemhaman kapitalisme. Sementara itu dalam setiap kurun waktu yang berbeda muncul berbagai tokoh yang memberikan pengertian dan identifikasi mengenai kapitalisme. Masing-masing tokoh kemudian mengidentifikasi apa dan bagaimana kapitalisme menurut apa yang mereka respon dari perubahan lingkungan yang mereka hadapi serta muatan-muatan tuntutan yang ingin mereka sampaikan. Dengan demikian segala pengertian dan karakteristik yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh ekonomi tidak terpisah dari fenomena yang ada pada masa tokoh tersebut hidup. Fenomena inilah yang kemudian ditangkap oleh beberapa tokoh dan menjadi dasar bagi pernyataan pengertian serta karakteristik kapitalisme itu sendiri.
Masing-masing tokoh akan mengutarakan sesuatu yang berbeda mengenai pengertian kapitalisme itu sendiri. Menurut Peter L Barger dalam bukunya The Capitalist Revolution menyatakan bahwa istilah “capital ” muncul pertama kali pada abad 12 dan 13 yang artinya modal yang meliputi dana, persediaan barang dan uang pinjaman. Istilah tersebut dikutip oleh Ferdinan Braudel dari khutbah pendeta bernama St Bernadino dari Sien (1380-1444) yang mengacu pada Qamdam Seminale Rationem Lucrosi Quam Communiter Capital e Vocamus (bahwa sebab utama kemakmuran adalah capital)
Sama seperti halnya pernyataan Berger, Dillard (dalam Rahardjo, 1972; 15) menyatakan bahwa kapitalisme merupakan dasar yang mengatur mengenai hubungan antara pemilik pribadi atas alat-alat produksi yang bersifat non produksi (tanah, tambang, instalasi industri) yang secara keseluruhan disebut dengan capital ). Pengertian ini kemudian bergeser dengan merubah pengertian capital tidak hanya sebagai kata yang merujuk pada benda saja namun kepada keseluruhan sistem yang mengatur modal sebagai bagian dari kegiatan produksi. Dalam abad ke 18, Karl Max menggunakan istilah capital dalam arti yang lebih sempit yaitu suatu konsep sentral yang memuat mengenai pengaturan “cara produksi” (mode of production). Dengan demikian Karl Max tidak hanya mengasosiasikan capital sebagai sebuah kata benda namun sebagai bagian dari kegiatan produksi.
Demikian pula bagi setiap tokoh dalam melihat ciri-ciri yang membedakan dengan sistem ekonomi lainnya. Menurut Acombrie, kapitalisme memiliki beberapa karakteristik yang menunjukkan beberapa ciri diantaranya adalah (1) pemilikan dan kontrol atas instrument produksi khususnya capital oleh swasta, (2) pengarahan kegiatan ekonomi kearah pembentukan laba (3) kerangka pasar yang mengatur semua kegiatan (4) apresiasi laba oleh pemilik modal yang bertindak sebagai agen bebas. Pernyataan Acombrie dipertegas dengan pernyataan Desai yang memberikan ciri-ciri kapitalisme sebagai berikut: (1) produksi untuk dijual dan tidak digunakan sendiri (2) adanya pasar tenaga kerja dibeli dan dijual dengan alat tukar upah melalui hubungan kontrak (3) penggunaan uang sebagai alat tukar yang selanjutnya memberikan peran yang sistematis kepada bank dan lembaga keuangan non bank, (4) proses produksi atau proses kerja berada dalam kontrol tangan pemilik modal sehingga para pekerja tidak ikut serta dalam proses pengambilan keputusan (5) berlakunya persaingan bebas di antara pemilik capital. Persamaan pernyataan Acrombie dan Desai terlihat dari pengungkapan bahwa keputusan-keputusan yang menyangkut produksi yang dibuat oleh kaum pemilik modal diarahkan demi kepentingan pribadi. Dengan demikian nampak sekali bahwa peran individu sangat menonjol.
Sedangkan kapitalisme menurut Ebenstein (1985; 149) memiliki dasar-dasar sebagai berikut: (a) Private Ownership (kepemilikan pribadi) yaitu tiap-tiap individu serta perusahaan berhak memliki alat produksi (usaha) tersendiri serta berhak untuk mengawasi distribusi barang tersebut, terlepas dari campur tangan pemerintah (b) Market Economy (perekonomian pasar) yaitu barang yang dihasilkan pengusaha tidak ditujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri melainkan untuk kepentingan pasar (permintaan konsumen). Hal itu dimaksudkan agar barang yang dihasilkan tersebut menuntungkan, maka pengusaha tersebut menghasilkan barang tersebut berdasarkan spesialisasi kerja (c) Profit Motive yaitu pengusaha menjalankan usaha secara langsung untuk mencari keuntungan bagi dirinya (d) Competition atau Persaingan yaitu untuk mengalahkan lawannya, tiap-tiap penguasa berusaha mengembangkan kualitas barang serta menurunkan harga barang.
Berdasarkan karakteristik kapitalisme maka terlihat bahwa kapitalisme sangat diwarnai tiga hal yaitu pemilikan, persaingan dan rasionalitas. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kapitalisme berlaku bagi siapapun meskipun pada awalnya dari satu kebudayaan tertentu saja. Tidak memandang darimana seseorang tersebut namun lebih menekankan pada memanfaatkan peluang pasar secara rasional untuk menjadi sesuatu yang menguntungkan baginya melalui persaingan.
Berdasarkan uraian diatas tersebut, diketahui bahwa secara singkat, kapitalisme merujuk pada unsur kunci yaitu pengelolaan sumber pembiayaan untuk produksi. Hal ini tidak hanya menunjukkan bahwa capital hanya sebagai pengertian yang merujuk benda namun fungsi dari capital itu sendiri dalam proses produksi. Namun tentu saja pemahaman mengenai kapitalisme tidak bisa begitu saja diambil sebagai sesuatu yang disederhanakan menjadi sebuah ”benda” atau ”proses produksi”. Masing-masing tokoh dalam kurun waktu yang berbeda akan memahami kapitalisme sesuai dengan perkembangan yang ada.
Sementara untuk Indonesia maka untuk memahami kapitalisme di Indonesia sekarang ini, kita harus kembali sejauh jaman kolonial Belanda. Secara umum, kita dapat membagi tahapan sejarah Indonesia seperti berikut: koloni Belanda (1600-1945), perjuangan kemerdekaan (1945-1949), Orde Lama (1949-1965), Orde Baru (1965-1998), dan Reformasi 1998 dan sesudahnya (1998-sekarang). Sejarah kolonialisme di Indonesia adalah sejarah eksploitasi kapitalis imperialis. Tumbuh di dalamnya adalah nilai-nilai eksploitasi kapitalis tanpa etika. Dimana di dalamnya muncul periode kekacauan dan ketidakpastian ini, administrasi kolonial secara perlahan-lahan mengkooptasi elit-elit penguasa lokal ke dalam administrasi. Dimana sebelumnya selama periode kekuasaan VOC para elit lokal dibiarkan mengontrol subyek mereka sesuka hati mereka, di bawah pretensi untuk melindungi rakyat Hindia dari perlakukan semena-mena (untuk membangun masyarakat berhukum dan tertib) sebuah mesin negara yang lebih ketat diimplementasikan di Hindia Timur Belanda dimana penguasa-penguasa lokal secara efektif adalah karyawan bayaran dan dipilih oleh pemerintah kolonial. Pemerintahan desa, vergadering, prinsip “yang sama menguasai yang sama” (memasukkan kelas penguasa lokal ke dalam pemerintah kolonial), semua ini didesain sesuai dengan kebutuhan ekonomi karena sistem tanam paksa membutuhkan sebuah pemerintah yang kuat.
Pada masa-masa periode selanjutnya, hingga bahkan masa sekarang, sistem perkembangan ekonomi Indonesia tidak lepas dari apa yang diturunkan oleh masa kolonialisme. Masyarakat Indonesia tumbuh dalam kapitalisme yang justru kehilanagn spirit of capitalisme. Kapitalisme yang justru mengalami pergeseran kehilangan keseimbangan antara nilai dasar dalam kapitalisme adalah bergabungnya semangat kerja dengan etika dan etos kerja.
Berkali-kali sistem ini kemudian berakhir pada resesi. Hingga berujung pada berbegai krisis yang di alami oleh bangsa Indonesia. Pada tahun 1965-an, ekonomi Indonesia digambarkan sebagai “kemerosotan kronik” oleh Benjamin Higgins, penulis buku terkemuka mengenai Ekonomi Perkembangan pada periode tersebut. Dia menyimpulkan bahwa “Indonesia tentu harus dicatat sebagai kegagalan nomor satu di antara negara-negara kurang berkembang.” Sultan Hamengkubowono IX pada tahun 1966 menjelaskan situasi pada saat itu sebagai berikut: “Setiap orang yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami sebuah situasi ekonomi yang menguntungkan sungguh kurang melakukan studi yang intensif .. Bila kita membayar semua utang luarnegeri kita, kita tidak ada valuta asing tersisa untuk memenuhi kebutuhan rutin kita. Pada tahun 1965 harga-harga secara umum naik lebih dari 500 persen . pada tahun 1950an anggaran negara mengalami defisit sebesar 10 hingga 30 persen, dan pada tahun 1960an defisit ini meningkat hingga lebih dari 100 persen. Pada tahun 1965, ini bahkan mencapai 300 persen.”
Demikian pula dengan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada Krisis 1997/1998 dan Resesi Dunia 2008/2009. 32 tahun pembangunan terurai secara eksplosif. Harga kebutuhan sehari-hari meroket. Supresi demokrasi menjadi semakin tidak tertahankan, dengan inside 27 Juli 1997 – penyerangan markas Partai Demokrasi Indonesia – menjadi titik balik. PDI dan Megawati menjadi titik persatuan untuk perjuangan demokrasi.
Rejim Soeharto ditumbangkan oleh massa. 32 tahun kediktaturan diremukkan dalam satu malam ketika jutaan rakyat turun ke jalan dan memaksa Soeharto untuk mundur. Namun, Reformasi membawa apa yang ditakdirkannya: reforma kosmetik dan bukan perubahan fundamental. Reforma di periode krisis ekonomi hanya dapat berarti konter-reforma, dan ini yang terjadi. Perusahaan-perusahaan milik negara diprivatisasi dan subsidi dihapus; agenda neo-liberal diimplementasikan dengan ganas. Reformasi memang memberikan ruang demokrasi, dan ini kendati para reformis. Namun, Reformasi juga membawa lebih banyak kebebasan kepada kaum kapitalis untuk mengeksploitasi massa.
Setelah 12 tahun, menjadi jelas bagi siapapun bahwa Reformasi gagal membawa perubahan fundamental ke dalam masyarakat. Walaupun Reformasi menghantarkan satu pukulan besar ke rejim kapitalis, memaksa Soeharto untuk mundur dan membuka ruang demokrasi – kendati ini adalah ruang demokrasi borjuis -, ia gagal menyelesaikan problem fundamental yang dihadapi oleh jutaan buruh, tani, nelayan, kaum muda, dan kaum miskin kota. Kemiskinan masih tinggi. Persentasi populasi yang hidup dengan 1 dolar per hari (kemiskinan ekstrim) pada tahun 1996 sebagai puncak boom ekonomi Indonesia adalah 7,8%, pada tahun 2006 angka ini menjadi 8,5%. Namun bila kita ambil garis kemiskinan 2-dolar-perhari, maka kemiskinan pada tahun 2006 melonjak ke 53%. Ini berarti bahwa lebih dari setengah rakyat Indonesia hidup jauh di bawah PBD per kapita $3900 (angka tahun 2008). 10% penduduk termiskin hanya mengkonsumsi 3% kekayaan, sedangkan 10% penduduk terkaya mengkonsumsi 32,3%.
Pada Resesi Dunia 2008/2009, Indonesia tidak dapat lari dari pengaruh resesi dunia yang dipicu oleh krisis kredit perumahan di AS (Untuk analisa yang lebih dalam mengenai resesi dunia, baca Dokumen Perspektif Dunia 2010). Di Indonesia, ekonomi pada tiga kuartal pertama tahun 2008 dipenuhi dengan optimisme dan tumbuh di atas 6%, dan ketika resesi menghantam, berkontraksi ke 5,2% pada kuartal keempat. Hampir seperti krisis 1997, Rupiah mengalami 30% depresiasi terhadap dolar AS dalam dua bulan Oktober dan November 2008. Pasar saham kehilangan hampir setengah nilainya antara Januari 2008 (2627,3) dan Desember 2008 (1355,4).
Kondisi sosial tidak lebih baik, dengan kontras antara yang kaya dan yang miskin semakin menajam pada saat itu, kendati pengumuman berulang-ulang dari pemerintah mengenai cita-cita masyarakat adil dan makmur. Ini digarisbawahi oleh kutipan berikut ini dari seorang pengamat Indonesia selama: “ ... jumlah konsumsi barang mewah di Jakarta tampak meningkat ... tajamnya peningkatan jumlah mobil, pada saat dimana transportasi publik semakin memburuk dengan serius, memberikan indikasi mengenai kesenjangan ini ... setiap kali selalu ada peraturan ekspor-impor baru untuk menghentikan impor barang-barang mewah, tetapi entah bagaimana mereka tetap masuk
Hilangnya nilai individualisme, nilai kebebasan, nilai produktivitas dan nilai efisiensi dalam kesekian kali resesi serta krisis yang di alami oleh bangsa Indonesia ternyata tidak kunjung menimbulkan kesadaran bagi masyarakat. Bahwa bangsa ini telah kehilangan keseimbangan anatara nilai mengandung etos kerja dengan pemujaan terhadap materi. keseimbangan yang meletakkan perimbangan antara antara kehidupan spiritual manusia dengan kegiatan untuk berkarya selama hidupnya. Inilah yang disebut sebagai nilai dasar dari ”spirit of capitalisme” dalam kapitalisme. Tidak hanya mencari keuntungan semata namun juga mengembangkan hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan Tuhan-nya dan manusia dengan manusia serta manusia dengan lingkungannya. Apabila salah satu unsur (nilai keagamaan) menghilang maka yang muncul adalah pergeseran menuju ketidadilan sebuah sistem ekonomi kapitalisme seperti yang kita kenal sekarang. Muncullah keruntuhan peradaban manusia yang tidak lagi mengutamakan kemanusiaan namun berpusat pada materi saja.
Dalam tulisan ini tidak memberbandingkan dengan sistem ekonomi lain namun ada satu kesamaan yang harus diakui. Bahwa pada akhirnya sebuah sistem apapun yang dijalankan tanpa keseimbangan antara etika dan nilai-nilai pemujaan keduniawian akan berakhir pada nihilisme. Pada akhirnya sistem ini akan membenarkan bahwa tidak ada kemajuan dalam peradaban manusia. Apapun yang dihasilkan hingga sekarang adalah berbagai kemudahan dalam hidup manusia.

Senin, 08 Februari 2010

Judul Skripsi Manajemen Proyek: SIKLUS MANAJEMEN PROYEK


Pengertian suatu proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber daya untuk mendapatkan manfaat. Kegiatan-kegiatan berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan proyek dapat berbentuk barang-barang modal, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu. Sumber daya tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang atau jasa, konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang. Dari pengertian di atas, proyek mempunyai ciri-ciri:
a. memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir,
b. jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan,
c. bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas, dan
d. tidak berulang, macam dan intensitas kegiatan berubah atau tidak sama.
Kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan selanjutnya dilaksanakan, untuk itu perlu mengorganisir dan mengelola sumber daya yang ada agar tercapai sasaran tersebut. Upaya tersebut bertujuan agar kegiatan-kegiatan dapat berjalan lancar mencapai sasaran tanpa banyak penyimpangan yang berarti. Usaha ini dikenal sebagai proses pengendalian yang merupakan salah satu fungsi manajemen proyek .
Di dalam proses mencapai tujuan tersebut ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besarnya biaya yang dialokasikan, jadwal/waktu yang ditentukan serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Ketiga batasan diatas disebut tiga kendala (triple constraint) seperti terlihat pada Gambar 2.3.



Gambar Sasaran proyek yang merupakan tiga kendala (triple constraint)

a. Biaya/Anggaran
Biaya/anggaran adalah suatu batasan alokasi dana yang ditentukan untuk suatu proyek. Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi dari anggaran yang ditentukan. Anggaran tidak hanya ditentukan secara total proyek melainkan terbagi atas anggaran komponen-komponennya atau per periode tertentu (misalnya per triwulan atau per kwartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode tersebut.

b. Jadwal/Waktu
Waktu/jadwal adalah suatu rentang masa yang ditetapkan untuk penyelesaian suatu proyek. Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan dalam arti penyerahan akhir proyek tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.
c. Mutu
Mutu adalah suatu standar/target yang harus dihasilkan suatu produk dengan biaya dan waktu yang telah ditentukan. Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa produk aspal beton maka kriteria yang harus dipenuhi adalah persyaratan material, pencampuran, dan pelaksanaan penghamparan harus sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan untuk mutu aspal beton tersebut.
Iman Soeharto (1998) memberikan penjelasan suatu konsep biaya pada suatu pekerjaan (aktivitas) dapat dibagi dalam :
a. Biaya langsung (direct cost), yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang dilaksanakan antara lain biaya untuk upah tenaga kerja dan bahan/material. Hubungan antara biaya langsung dengan waktu pelaksanaan merupakan garis non linier, apabila waktu pelaksanaan dipercepat maka pada umumnya biaya langsung akan makin tinggi.
b. Biaya tak langsung (indirect cost), yaitu pengeluaran-pengeluaran untuk overhead, gaji pegawai tetap, biaya sewa dan perawatan alat, asuransi, bunga bank dan sebagainya. Biaya ini mempunyai sifat bahwa apabila waktu pelaksanaan diperlambat maka secara total biaya akan semakin tinggi.


Minggu, 07 Februari 2010

Judul Skripsi Manajemen Proyek: MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI


Manajemen adalah usaha manusia untuk mencapai tujuan dengan cara yang paling efektif dan efisien. Usaha yang dimaksud adalah bagian dari proses manajemen yaitu suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara berurutan atau kronologis. Rangkaian kegiatan dimaksud secara umum yaitu mulai dari penetapan tujuan (goal setting), perencanaan (planning) pengorganisasian (organizing) pelaksanaan (actuating) dan pengawasan/pengendalian (controlling).
a. Perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan sasaran termasuk menyiapkan segala sumber daya untuk mencapainya. Perencanaan memberikan pegangan/pedoman bagi pelaksana mengenai alokasi sumber daya dalam melaksanakan kegiatan. Iman Soeharto (1977) secara garis besar menyatakan perencanaan berfungsi untuk meletakkan dasar sasaran proyek, yaitu penjadwalan, anggaran dan mutu. Pengertian diatas menekankan bahwa perencanaan merupakan suatu proses, berarti perencanaan tersebut mengalami tahap-tahap pekerjaan tertentu. Adapun tahapan yang dilalui dalam menyusun suatu perencanaan adalah :
1) menentukan tujuan yaitu sebagai pedoman yang memberikan arah gerak dari kegiatan yang dilakukan,
2) menentukan sasaran yaitu suatu titik tertentu yang perlu dicapai untuk mewujudkan suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya,
3) mengkaji posisi awal terhadap tujuan yaitu untuk mengetahui sejauh mana kesiapan dan posisi, maka perlu diadakan kajian terhadap posisi dan situasi awal terhadap tujuan dan sasaran yang hendak dicapai,
4) memilih alternatif adalah selalu tersedianya beberapa alternatif yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran. Dalam memilih alternatif yang paling sesuai untuk suatu kegiatan memerlukan kejelian dan pengkajian yang seksama agar alternatif yang dipilih lebih tepat, dan
5) menyusun rangkaian langkah untuk mencapai tujuan, proses ini terdiri dari penetapan langkah terbaik yang mungkin dapat dilaksanakan setelah memperhatikan berbagai batasan.
b. Penjadwalan
Penjadwalan dalam pengertian proyek konstruksi merupakan perangkat untuk menentukan aktifitas yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu proyek dengan urutan serta kerangka waktu tertentu, dimana setiap aktifitas harus dilaksanakan agar proyek selesai tepat waktu dan biaya yang ekonomis (Callahan, 1992). Penjadwalan meliputi tenaga kerja, material, peralatan, keuangan dan waktu. Dengan penjadwalan yang tepat maka beberapa macam kerugian dapat dihindari seperti keterlambatan, pembengkakan biaya dan perselisihan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penjadwalan antara lain bagi pemilik proyek dan pelaksana proyek atau kontraktor.
1) Bagi Pemilik Proyek dapat digunakan untuk:
a) mengetahui waktu mulai dan selesai proyek,
b) merencanakan aliran kas, dan
c) mengevaluasi efek perubahan terhadap waktu dan biaya proyek.
2) Bagi Pelaksana Proyek/Kontraktor dapat digunakan untuk :
a) memprediksi kapan suatu kegiatan yang spesifik dimulai dan diakhiri,
b) merencanakan kebutuhan material, peralatan dan tenaga kerja,
c) mengatur waktu keterlibatan sub kontraktor,
d) menghindari konflik antara sub kontraktor dengan pekerja,
e) merencanakan aliran kas, dan
f) mengevaluasi efek perubahan terhadap waktu dan biaya proyek.
c. Pengendalian
Mockler (1972) dalam Soeharto (1977) memberikan pengertian tentang pengendalian yaitu adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang system informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber daya digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai sasaran. Fungsi utama pengendalian adalah memantau dan mengkaji (bila perlu mengadakan koreksi). Pengendalian memantau apakah hasil kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan patokan yang telah digariskan dan memastikan penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien.
Manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh manajemen proyek menggunakan pendekatan sistem dan hirarki (arus kegiatan) vertikal maupun horizontal.
Manajemen profesional adalah suatu kegiatan yang melibatkan sumber daya di dalamnya, dimana tugas dan tanggung jawab dilakukan secara profesional. Kegiatan yang dimaksud dimulai dari tahapan pembuatan desain, penawaran, penunjukkan pelaksana dan tahapan konstruksi dengan harapan tercapainya tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya.

Manajemen konstruksi mempunyai tugas dan kewajiban untuk menjamin pemilik proyek, akan mendapatkan pelaksanaan proyek yang ekonomis, sesuai dengan kebutuhan pemilik proyek dan menjamin bahwa proyek dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi.
Konsultan perencana mempunyai tugas dan tanggung jawab menangkap ide dan gagasan dari pemilik proyek melalui manajemen konstruksi, kemudian melakukan pengelolaan tahap demi tahap sampai ide tersebut terwujud.
Kontraktor adalah sebagai pelaksana proyek yang diberikan oleh pemilik proyek dengan pengarahan dan pengendalian yang dilakukan oleh manajemen konstruksi, sehingga pelaksanaan sesuai dengan perencanaan yang telah digariskan.

Kamis, 20 Agustus 2009

Judul Skripsi Biologi:LANGKAH PENELITIAN TINGKAH LAKU KAWIN BURUNG DI PERKOTAAN



1. Survei pendahuluan untuk menentukan wilayah yang paling banyak aktivitas burung dengan melakukan pengamatan
2. Penentuan lebih lanjut lokasi sarang
Penentuan jenis kelamin prilaku berpasangan, suara, atau kombinasi dari kedua cara tersebut. Observasi prilaku berpasangan didasarkan pada posisi spesifik burung jantan dan betina pada waktu berpasangan (Goodwin, 1963 dalam Sang Putu Kaler Surata, 2005). Umumnya burung berjenis kelamin jantan juga cenderung lebih agresif dibanding burung berjenis kelamin betina (Widodo dkk, 1998) sehingga dapat diketahui bahwa hanya burung jantan yang bernyanyi, hal tersebut didukung oleh observasi selama lima tahun oleh Goodwin (1963) yang menemukan hanya burung jantan yang bernyanyi.
3. Pengamatan dilakukan secara visual dan bantuan peralatan kamera, teropong binokuler, timbangan dan peralatan pendukung lainnya. Untuk penggunaan kamera perekam di letakkan di sekitar sarang sehingga dapat mengetahui kegiatan apa saja yang terjadi dalam sarang tersebut. Pengamatan dilakukan pada setiap hari selama musim perkawinan Jarak pengamatan dilakukan antara 6–10 m dibantu dengan binokular dan kamera. Pengamatan meliputi tingkah laku perkawinan, saat pertama kali meletakkan telur berupa sarang sebagai tempat pengeraman pertama kali di buat, tingkah laku dalam menjaga telur dan anakan serta tanggal menetas .
4. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi. Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas harian burung meliputi tingkah laku makan dan kawin. Pengamatan dilakukan secara intensif dan semua data yang diperoleh secara obyektif dianalisis secara tabulasi dan data yang diperoleh secara subyektif dianalisis secara deskriptif (Irba Unggul Warsono, 2002).

Judul Skripsi Kedokteran: METODE ANALISIS JUMLAH DAN MORFOLOGI SEL DARAH



Eritrosit
1. Menghitung jumlah eritrosit (Gandasoebrata, 1992 dan Tjokronegoro, 2000)
Larutan Hayem digunakan sebagai pengencer dengan perbandingan 1:200 Darah diisap(yang sudah dicampuri NaEDTA) dengan pipet eritrosit sampai tanda garis 1,0 dan larutan pengencer sampai tanda garis 101. Dicampur selama satu menit kemudian dibiarkan selama 3 menit agar eritrosit mengendap. Penghitungan jumlah eritrosit menggunakan kamar hitung Double Improve Neubauer pada kelima bidang sedang yang masing-masing dibagi menjadi 16 bidang kecil sehingga faktor untuk mendapat jumlah eritrosit per ul darah menjadi 5000E dengan E adalah jumlah eritrosit Eritrosit diamati dengan perbesaran mikroskop sebesar 400X
2. Uji kadar hemoglobin (Gandasoebrata, 1992 dan Waid, 1990 )
Kadar Hb ditentukan dengan kit Hb Merck 3317. Darah diambil sebanyak 20 ul dan dimasukkan dalam larutan kaliumferrisianida dan kalium sianida sebanyak 5 ml (Larutan Drabkin). Absorbansi larutan darah diukur dalam gelombang 540 nm. Kadar hemoglobin ditentukan dari perbandingan absorbansinya dengan absorbansi standar sianmethemoglobin yaitu kadar hemoglobin = absorbansi yang teramati x 36.8 g Hb/dl
3. Mengamati morfologi eritrosit (Tjokronegoro, 2000)
Pembuatan sediaan apusan darah dilakukan diatas kaca objek yang bebas lemak maupun kotoran dengan dibersihkan dengan sedikit metil alkohol. Kemudian diteteskan darah pada jarak kurang lebih 2-3 mm dari ujung kaca objek dan dengan bantuan kaca penghapus yang sebelumnya diletakkan didepan tetesan darah dengan sudut 30-45 derajat (agar darah tersebar merata) dibuat film hapusan darah dengan menggeser kaca penghapus secepat mungkin dengan sudut antara kaca objek dengan kaca penghapus sebesar mungkin sehingga diperoleh film sediaan hapusan darah yang tipis dan merata.
Pewarnaan menggunakan zat warna Giemsa (1 g dalam 10 ml metil alkohol) dan Wright ( 1 g dalam 10 ml metil alkohol). Pewarnaan dengan zat warna Giemsa dan Wright tidak memerlukan fiksatif karena zat warna sudah mengandung metil alkohol. Zat warna diteteskan pada sediaan sebanyak 20 tetes dan dibiarkan selama 5 sampai 12 menit. Dilanjutkan dengan membersihkan zat warna yang berlebihan dengan air suling secara perlahan-lahan dan setelah bersih dikeringkan dalam posisi vertikal.
Pengamatan meliputi kelainan morfologi yang didasarkan pada ukuran, bentuk dan warna pada bagian apusan darah eritrosit yang tidak bersentuhan atau pada sediaan tipis.
b). Leukosit
1. Menghitung leukosit (Arifin, 1983 dan Gandasoebrata, 1992)
Larutan Turk digunakan sebagai pengencer dengan perbandingan 1:20. Darah diisap dengan pipet leukosit sampai pada tanda garis 1,0 kemudian dilanjutkan menghisap larutan pengencer sampai tanda 11 dan dikocok selama 15-30 detik serta dibiarkan selama 3 menit. Penghitungan menggunakan kamar hitung Double Improve Neubauer pada ke 4 bidang besar yang masing-masing terdiri 16 kotak kecil sehingga jumlah leukosit diperoleh dengan mengkalikan 50. Leukosit diamati dengan perbesaran mikroskop 100X
2. Menghitung jenis leukosit (Gandasoebrata, 1992)
Penghitungan jenis leukosit mengunakan sediaan apusan darah yang hitungannya didasarkan atas per 100 leukosit kemudian hasilnya disusun. Pengamatan mikroskop menggunakan perbesaran 40X yang dapat dilanjutkan dengan perbesaran 100X.
3. Mengamati morfologi (Tjokronegoro, 2000)
Mengamati morfologi mengunakan sediaan apusan darah yang proses dan pewarnaan sama dengan pembuatan sediaan apusan darah eritrosit dan meliputi kelainan morfologi dalam bentuk, ukuran, warna sitoplasma dan granula dengan menggunakan mikroskop perbesaran 100 x.
c). Trombosit
1. Menghitung jumlah trombosit (Marjorie, 1983)
Larutan Ammonium Oksalat digunakan sebagai pengencer dengan perbandingan 1:200. Darah diisap menggunakan pipet eritrosit sampai tanda garis 1,0 dan dilanjutkan dengan larutan pengencer sampai 101 dan segera dikocok selama 3 menit. Penghitungan jumlah trombosit dilakukan dengan kamar hitung Double Improve Neubauer pada ke lima bidang besar yang masing-masing terdiri dari enam belas bidang kecil sehingga jumlah trombosit diperoleh dengan mengkalikan 5000 jumlah trombosit yang ditemui dalam penghitungan. Pengamatan mengunakan mikroskop menggunakan perbesaran 100X.

Metode Analisa Data: Multidimensional Scaling



Multidimensional scaling (MDS) adalah salah satu teknik penyekalaan yang sering digunakan untuk memposisikan sekelompok obyek secara relatif di dalam sebuah peta preseptual (grafik dengan 2 sumbu X-Y atau lebih dengan dimensi sumbu yang saling berlawanan seperti tinggi-rendah, pahit-manis dan sebaginya). Secara umum MDS dapat membantu untuk menentukan (1) dimensi yang paling sering digunakan oleh responden dalam menilai suatu obyek, (2) berapa jumlah dimensi yang digunakan dalam penilaian tersebut, (3) hubungan relatif dari masing-masing dimensi, (4) hubungan obyek yang diamati secara preseptual.
Semua obyek yang diamati memiliki dimensi obyektif dan dimensi preseptual. Sebagai contoh produk motor Honda Kharisma memiliki dimensi warna merah dan hitam, rem cakram, serta mesin 125 CC, hal ini adalah dimensi obyektif. Sedangkan di sisi lain konsumen juga dapat beranggapan bahwa motor Honda Kharisma memiliki body kurang langsing dan kurang lincah, mahal namun irit. Hal-hal tersebut dapat juga dinamakan dimensi preseptual atau dimensi subyektif. Dua produk dapat memiliki ciri fisik yang sama namun dapat dipandang secara lain karena merek yang berbeda dianggap mencerminkan kualitas yang berbeda.




Dimensi 1
A
F
E
B


IPDimensi 2
C
D

Gambar 2.1. Gambar Ilustrasi Peta Preseptual pada MDS
Perbedaan MDS dengan metode interdependen lainnya seperti analisis faktor dan analisis cluster, adalah bahwa analisis faktor mengelompokkan faktor-faktor yang memiliki korelasi yang tinggi. Analisis cluster didasarkan pada pengamatan sekelompok variabel dan menentukan profil tiap kelompok. Sedangkan pada MDS responden bebas mengambil kesimpulan ataupun berangapan tentang suatu produk sehingga tidak dapat ditentukan nilai penyimpangannya. (Hair, 1998).
Pemetaan preseptual dalam metode MDS sangat sesuai digunakan untuk :
1. Mengeksplorasi dan mengidentifikasi dimensi-dimensi tak dikenal yang dapat mempengaruhi tingkah laku atau anggapan responden terhadap suatu obyek.
2. Membandingkan dua atau lebih obyek secara langsung sekalipun basis persamaan atau nilai pembanding obyek-obyek tersebut tidak dapat didefinisikan.
Berikut ini adalah diagram algoritma pengambilan keputusan dalam metode Multidimensional scaling sampai dengan tahap 3. (Hair, 1998)
Desain Penelitian
· Jumlah Obyek yang diamati
· Metrik atau nonmetrik
Desain Penelitian
· Jumlah Obyek yang diamati
· Metrik atau nonmetrik
Jenis Evaluasi
Mencari similaritas, preferensi obyek atau keduanya
Asumsi-Asumsi
Dimensi evaluasi dapat bervariasi pada tiap responden, begitu juga urutannya
Menentukan Metode Pendekatan pada Peta Preseptual
· Komposisional , ditentukan secara spesifik oleh peneliti
· Dekomposisional, menggunakan anggapan umum
Tujuan Penelitian
Menentukan obyek pengamatan yang relevan (similaritas atau preferensi, obyek secara umum atau khusus)
Rumusan Permasalahan
Mengidentifikasi dimensi-dimensi yang digunakan untuk mengevaluasi obyek
Tahap 4
Tahap 1
Tahap 2
Tahap 3
Metode Dekomposisional : Metode MDS tradisional dengan cara memecah atribut khusus dari anggapan umum obyek
Kombinasi : Kombinasi Similaritas dan preferensi
Preferensi : Meranking obyek secara langsung
Similaritas : Mencari kesamaan antar obyek
Metode Komposisional
Membuat presepsi secara umum dari atribut-atribut yang ditentukan oleh peneliti, seperti corespondence analysis, Factor analysis, dan discriminant analysis.

Langkah-Langkah Penentuan Tujuan Penelitian
Salah satu kesulitan paling umum dalam penentuan tujuan penelitian adalah pendefinisian spesifikasi standar untuk menilai atau mengevaluasi suatu obyek. Keutamaan peta preseptual adalah kemampuannya untuk menarik dimensi simpulan (obyektif maupun subyektif) tanpa harus mendefinisikan atribut obyek lebih dahulu. Oleh karena itu, perlu dilakukan tiga langkah dasar dalam penentuan tujuan penelitian, sebagai berikut :
a. Memilih obyek-obyek yang akan dievaluasi
Peneliti harus memastikan untuk mengikutsertakan segala hal yang relevan dalam evaluasi pembentukan presepsi responden, seperti produk atau layanan.
b. Menentukan basis penilaian obyek, similaritas atau preferensi
Langkah berikutnya setelah memilih obyek yang diamati, peneliti harus menentukan basis evaluasi, similaritas (kesamaan) atau preferensi (tingkatan). Kedua basis evaluasi tersebut dapat digunakan untuk membuat peta preseptual namun dengan intepretasi yang berbeda. Peta preseptual berbasis similaritas menampilkan atribut-atribut kesamaan obyek namun tidak secara langsung menampilkan urutan atau obyek yang menjadi pilihan utama responden. Sedangkan peta preseptual berbasis preferensi menampilkan urutan dan pilihan responden namun tidak menampilkan aspek-aspek kesamaan atribut obyek dikarenakan responden dapat mendasarkan penilaiannya pada dimensi yang benar-benar berbeda satu sama lain. Penggunaan basis similaritas atau preferensi harus diputuskan sejak awal, karena kedua hal tersebut secara mendasar mewakili hal yang berbeda.
c. Menentukan apakah analisis dilakukan pada suatu kelompok atau tingkat individu (agregate atau disagregate).
Peneliti dapat menentukan pembuatan peta preseptual mewakili masing masing individu secara terpisah pada metode disagrerat, sehingga dari peta presptual ini akan dapat dicari solusi untuk tiap-tiap orang. Melalui cara ini peneliti harus dapat mengidentifikasi elemen-elemen yang menjadi kesamaan pada tiap-tiap responden.
Sedangkan pada metode agregat, pendekatan paling sederhana adalah dengan mengambil nilai rata-rata dari keseluruhan skor obyek dan menghasilkan solusi tunggal pada seluruh obyek, untuk mengelompokkan responden dengan ciri sama, peneliti dapat menggunakan analisis kluster dan menggambarkan peta prespetual secara rata-rata.
d. Menentukan metode pendekatan yang akan digunakan, pendekatan berdasarkan penilaian obyek secara keseluruhan dan umum atau menggunakan pendekatan berdasarkan atribut dari masing-masing obyek yang diamati.
e. Menentukan siapa dan berapa responden yang akan dijadikan sasaran penelitian. Peneltitian hendaknya dilakukan pada responden yang setara dan bisa diperbandingkan atau memiliki satu karakter yang sama karena peta preseptual tidak dapat menggambarkan responden dengan karakteristik yang dipaksakan sama. Jumlah responden yang diamati minimal memenuhi level penerimaan terendah, terantung pada tingkat kepercayaan yang diunakan.
f. Metrik atau non metrik
Pada mulanya metode MDS menggunakan peta non metrik (secara ururtan) untuk menggambarkan peta preseptual, namun keterbatasan intreprestasi yang dapat digunakan menjadikan metode metrik (terukur) lebih banyak digunakan. Metode metrik dapat melakukan beberpa modoikasi dari data aslinya yaitu dengan menambahkan konstanta tertentu atau dengan melakukan rotasi.
g. Mencari kesamaan atau tingkat preferensi
Pengumpulan data harus ditentukan tujuannya, yaitu mencari kesamaan dan ketidak samaan atau mencari preferensi terhadap suatu obyek.
Basis preferensi memiliki dua pilihan prosedur yang dapat digunakan:
· Penentuan peringkat secara langsung
Setiap responden menentukan peringkat secara langsung pada obyek-obyek yang diamati, dengan cara ini masing-masing obyek harus diberikan penilaian yang unik (tidak boleh ada yang memiliki nilai sama).
· Perbandingan berpasangan
Setiap responden memberikan nilai terhadap pasngan obyek yang diamati sehingga dengan cara ini peneliti dapat menemukan informasi secara eksplisit dan lebih detail dari penentuan peringkat secara langsung. Namun tugas perhitungan akan menjadi berpuluh kali lipat lebih banyak, untuk 10 obyek yang diamati akan menjadi 90 pasang obyek.
h. Asumsi-asumsi yang digunakan.
asumsi yang digunakan di sini tidak pada metodologinya, namun lebih pada asumsi presepsi:
· Variasi dimensional
Setiap responden akan menerima memiliki dimensi presepsi suatu obyek yang berlainan sehingga jawaban akan beragam sekalipun ada keterbatasan jumlah dimensi yang diajukan peneliti.
· Variasi keutamaan
Responden memutuskan keutamaan dimensi suatu brand berdasarkan tingkatan kepentingan yang berbeda.
· Variasi batas waktu
Presepsi responden terhadap suatu obyek baik secara dimensional maupun tingkatan tidak akan selalu sama seiring berjalannya waktu, atau dapat berubah sewaktu-waktu.

Tahap Selanjutnya dari algortima pengambilan keputusan dengan metode multidimensional scaling adalah sebagai berikut : (Hair, 1998)

Metode Analisa Data: ANALISIS MULTIVARIAT


Analisis Multivariat dapat didefinisikan secara sederhana sebagai metode pengolahan variabel dalam jumlah banyak untuk mencari pengaruhnya terhadap suatu obyek secara simultan. (Santoso, 2004)
Metode analisis multivariat sebenarnya secara teoritis sudah diketahui sejak lama, namun dalam praktek perhitungannya baru digunakan saat teknologi komputer berkembang pesat.
Berdasarkan ketergantungan variabel-variabel yang ada, analisis multivariat dapat dibai menjadi : (Dillon,1984)
1. Analisis dependensi
Ciri dari analisis ini adalah adanya suatu atau beberapa variabel yang berfungsi sebagai variabel dependen dan beberapa variabel lain variabel bebas (independen).Alat analisis dalam kategori ini adalah :
· Analisis regresi berganda
Metode ini menggunakan satu variabel dependen (terikat)dan lebih dari satu variabel independen (bebas) yang berada dalam satu set hubungan. Misal persamaan y = x1 + x2 + x3 + x4
· Analisis deskriminan
Metode ini pada prinsipnya mencoba mengelompokkan setiap obyek ke dalam dua atau lebih kelompok berdasarkan kriteria pada sejumlah variabel bebas. Pengelompokkan ini sifat mutually exclusive, dalam artian jika obyek A sudah masuk kelompok 1 maka dia tidak akan munkin menjadi anggota kelompok 2. Oleh karena ada sejumlah variabel independen, maka akan terdapat satu variabel dependen (tergantung). Ciri analisis diskriminan adalah jenis data dari variabel dependen bertipe nominal (kategori). seperti 0 dan 1 atau kombinasi lainnya.
· Analisis logit
Logit analisis digunakan jika kriteria ukuran tunggal adalah diskrit (kateorikal) dan variabel prediktor juga berbentuk kategorikal secara alamiah. Logit analisis adalah metode untuk kasus khusus untuk model log linier jika variabel yang diamati dipengaruhi oleh kelompok variabel prediktor dalam kategori tertentu.
· Multivariate analysis of variance (manova)
Manova digunakan jika tersedia berbagai ukuran kriteria yang secara bersamaan mempengaruhi berbagai level varibel eksperimen. Fokus utma dari multivariat analisis adalah untuk menguji signifikansi perbedaan suatu profil dengan adanya perubahan pada variabel-variabel eksperimen terkontrolnya.
· Analisis korelasi kanonikal
Analisis korelasi kanonikal bertujuan untuk mencari hubungan linier antara sekelompok prediktor serta sekelompok varibel terukur dengan menggunakan dua kombinasi linear. Pertama untuk variabel-variebel prediktor dan yang kedua untuk variabel-variabel kelompok terukur, contohnya untuk kasus yang membutuhkan penyelesaian diskriminan beranda.
2. Analisis interdependensi
Ciri dari analisis ini adalah bahwa variabel saling berhubungan satu dengan lainnya sehingga tidak ada variabel dependen atau variabel independen.
· Analisis komponen prinsip
Teknik ini bekerja dengan mereduksi data dengan tujuan mendapatkan kombinasi yang linier dari variabel-variabel asli sebanyak mungkin. Hubungan linier yang sukses jika variabel-variabel pendukungnya berlainan menciptakan variasi terkecil.
· Analisis faktor
Analisis faktor lebih tepatnya dinamakan common factor analytic model, adalah metode reduksi data , namun berbeda dengan analisis komponen prinsip karena ada beberapa faktor terhitung yang merupakan gabungan dari lainnya.
· Metrik multidomensional scaling
Adalah salah satu teknik penyekalaan yang sering digunakan untuk memposisikan sekelompok obyek secara relatif di dalam sebuah peta preseptual (grafik dengan 2 sumbu X-Y atau lebih dengan dimensi sumbu yang saling berlawanan seperti tinggi-rendah, pahit-manis dan sebaginya). Metrik MDS mengasumsikan data yang similar atau tidak, memiliki sifat metrik atau sifat yang dapat diukur secara relatif.
· Non-metrik multidimensional scaling
Non-metrik MDS mengasumsikan bahwa data yang similar tidak memilik sifat metrik (dipetakan secara angka) namun memilik sifat terukur secara relatif pada dimensi-dimensi tertentu ata adalah salah satu teknik penyekalaan yang sering digunakan untuk memposisikan sekelompok obyek secara relatif di dalam sebuah peta preseptual (grafik dengan 2 sumbu X-Y atau lebih dengan dimensi sumbu yang saling berlawanan seperti tinggi-rendah, pahit-manis dan sebaginya).u secara rangking saja.
· Analisis cluster
Anlisis kluster merupakan metode pengurangan data, dengan tujuan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok variabel yang anggotanya memeiliki kemiripan. namun tidak ada kemiripan dengan kelompok yang lain.
· Model loglinier
Model ini memungkinkan peneliti untuk menyelidiki,hubungan antar kategori variabel dari tabel kontingensi. Model loglinear mengekspresikan kemungkinan dari tabel kontinjensi multidemensi, memberikan efek dan berinteraksi dengan variabel-variabel, yang ada di dalam tabel

Senin, 27 Juli 2009

Judul Skripsi Komunikasi: KOMUNIKASI NON VERBAL

Skirt-Komunikasi non-verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata, komunikasi ini menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, intonasi nada (tinggi-rendahnya nada), kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan-sentuhan. Salah satu cara mendefinisikan komunikasi non verbal adalah berdasarkan kategori sebagai berikut:
a. Proksemik
Proksemik merupakan penyampaikan pesan-pesan melalui pengaturan jarak dan ruang. Manusia mempunyai wilayah-wilayah atau zona dalam berkomunikasi, wilayah juga berarti daerah atau ruang yang rang klaim sebagai miliknya, yang seolah-olah merupakan perluasan dari tubuhnya, jarak wilayah itu sebagai berikut:
Zona intim, adalah zona yang dapat melakukan kontak fisik, dari jarak semua zona hanya zona inilah yang terpenting karena pada zona ini orang menjaganya seolah-olah zona ini milik pribadi. Hanya orang dekat secara emosional yang dapat memasukinya seperti kekasih, orang tua, suami-istri, anak-anak, kerabat dan sanak saudara. Umumnya berjarak 15-46 cm(bersentuhan-18 inch)
Zona pribadi, jarak ini dilakukan seperti pada saat kita dipesta-pesta, acara kantor dan lain sebagainya. Umumnya berjarak 46cm-1.2 m(18 inch-4ft)
Zona sosial, zona ini berlaku pada orang yang belum dikenal secara baik atau bahkan asing, seperti pada saat ditoko yang berbicara dengan pelayan toko. umumnya berjarak 1.2-3.6 m(4ft-12ft)
Zona umum, zona ini berlaku pada saat kita berbicara dengan sekelompok orang yang banyak seperti pidato. umumnya berjarak > 3.8 m(> 12 ft)
Semua zona itu dapat berubah-ubah tergantung dari keadaan, nilai, kepercayaan, budaya dan lain sebagainya. Dalam Agama Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia, antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram (memiliki hubungan keluarga) diwajibkan menjaga jarak satu sama lain saat berkomunikasi dan biasanya tetap dalam jarak zona sosial 1.2-3.6 m bahkan ada syarat lain yaitu tidak boleh saling memandang dan harus ditemani orang lain.
b. Kinesik
Kinesik merupakan penyampaikan pesan-pesan yang menggunakan gerakan-gerakan tubuh yang berarti yang meliputi mimik wajah, mata (lirikan-lirikan), gerakan-gerakan tangan dan yang terakhir keseluruhan anggota badan (tegap, lemah gemulai dan sebagainya).
Dalam budaya jawa komunikasi non verbal sangat kental dilakukan terutama untuk menghormati orang, atau orang yang lebih tua, semisal gerakan komunikasi yang dilakukan antara atasan dan bawahan atau abdi di mana bawahan atau abdi cenderung untuk menunduk dan merunduk untuk menunjukkan bahwa posisinya tidak lebih tinggi dari tuannya yang diajak bicara.
c. Khronemik
Khronemik adalah srudi mengenai penggunaan kita akan konteks waktu. Ide mengenai kelinearan waktu telah diterima secara luas oleh masyarakat manapun bahkan agama manapun, hal ini kemudian melahirkan beberapa istilah sepertti masa lalu, saat ini dan masa depan yang merupakan suatu urutan yang tidak dapat dibalik.
Bagaimana kita menggunakan waktu sangat tergantung pada budaya, semisal dalam budaya Indonesia pada umumnya masih sangat jarang istilah on time benar-benar dijalankan dengan baik, semisal acara rapat dalam organisasi apapun memiliki kecenderungan untuk terlambat dari 10 menit sampai 1 jam.
d. Paralinguistik
Paralinguistik adalah pesan non-verbal yang berhubungan dengan cara mengucapkannya dengan kata lain tinggi rendahnya intonasi cara pengucapannya. Satu pesan verbal yang sama dengan menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan dengan cara yang berbeda.
Elemen-elemen komunikasi paralinguistik adalah sebagai berikut:
- Karakter vokal, seperti tertawa dan terisak
- Kualifikasi vokal seperti intensitas keras lemah, dan tinggi rendah
- Pemisahan vokal seperti uh, um, dan uhuh
Di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari orang tua seringkali berkomunikasi dengan anaknya dengan nada tinggi bahkan cenderung menghardik, hal ini seringkali menjadi hambatan dalam komunikasi orang tua dan anak sehingga orang tua tidak mengerti permasalahan yang dihadapi anaknya. Di Indonesia sendiri memang dibudayakan bahwa komunikasi orang tua dan anak cenderung satu arah.
e. Diam
Diam juga seringkali digunakan dalam komunikasi. Diam bisa diartikan bermacam-macam semilsal persetujuan, sikap apatis, tahu, bingung, kontemplasi, ketidak setujuan, dan arti-arti lainnya.
Penggunaan diam dalam komunikasi masyarakat kita telah secara luas diterima semisal dalam komunikasi atasan dengan bawahan, seringkali bawahan lebih banyak melakukan komunikasi diam sedangkan atasan banyak menyampaikan pesan sehingga sikap diam bawahan dapat diartikan kepatuhan, dan persetujuan.
f. Haptik
Haptik adalah studi mengenai penggunaan sentuhan dalam komunikasi. Sekali lagi penggunaan sentuhan dalam komunikasi sangat berbeda pada setiap kebudayaan, antara Barat dan Timur sangat berbeda dalam memandang penggunaan sentuhan.
Sentuhan dalam komunikasi di Indonesia masih relatif jarang dipakai khususnya di daerah yang masih memegang adat-istiadat ketimuran di mana sentuhan antara laki-laki dan perempuan tidak diperbolehkan karena akan menjurus pada persepsi yang negatif pada pada komunikan. Si perempuan akan diangap sebagai perempuan murahan sedangkan laki-laki dapat dianggap sebagai penggoda.
g. Cara Berpakaian dan penampilan fisik
Umumnya pakaian digunakan untuk menyampaikan identitas komunikator, menyampaikan identitas berarti menunjukkan kepada orang lain bagaimana prilaku kita dan bagaimana sepatutnya orang lain memperlakukan kita.
Di Indonesia ketika seorang perempuan berpakaian minim seringkali dianggap sebagai cewek murahan, walaupun hal ini umumnya terjadi pada masyarakat pinggiran. Hal ini jelas akan menghambat komunikasi yang terjadi.
Contoh lain dalam budaya jawa pakaian priyayi berupa beskap sedangkan pakaian para abdi biasanya berupa pakaian surjan. Hal ini kemudian berimbas pada komunikasi yang terjadi antar golongan dan akan lebih menjadi sebuah hambatan daripada faktor pendorong.
h. Olefatik
Studi komunikasi melalui indra penciuman disebut sebagai olefatik. Bau masih merupakan suatu hal yang sangat susah dimengerti dalam komunikasi. Bau-bauan telah digunakan manusia untuk berkomunikasi secara sadar atau tidak. Sebagai contoh bila seseorang sedang dalam keadaan tegang maka akan mengeluarkan keringat yang yang mempunyai bau yang khas.
Contoh sehari-hari penggunaan bau dalam komunikasi adalah bau-bauan yang digunakan oleh PSK yang terkesan berlebihan. Penggunaan bau berlebihan ini seringkali dimaksudkan untuk mengundang calon pelanggan mereka untuk memanfaatkan jasanya.
i. Okulestik
Okulestik adalah studi komunikasi yang disampaikan melalui pandangan mata. Sebenarnya tidak banyak studi mengenai okulestik namun dapat dicontohkan dalam berbagai budaya bahwa pandangan menggoda wanita disiratkan melalui lirikan-lirikan mata dan kerlingan.
Dalam budaya timur khususnya agama Islam kontak mata langsung antara laki-laki dan perempuan tidak diperbolehkan. Hal ini biasnya juga disertai pelarangan dalam jarak dan sentuhan.

Judul Skripsi Sastra: Pendekatan Sosiologi Sastra Sebagai Alat Analisa Novel



1. Sosiologi Sastra
Sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Oleh karenanya sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai masyarakat dimungkinkan, bagaimana carakerjanya dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup. Gambaran ini akan menjelaskan cara-cara manusia menyesuaiakan diri dengan ditentukan oleh masyarakat-masyarakat tertentu, gambaran mengenai mekanisme sosialisasi, proses belajar secara kultural, yang dengannya individu-individu dialokasikan pada dan menerima peranan-peranan tertentu dalam strutur sosial. Di samping itu sosiologi juga menyangkut mengani perubahan-perubahan sosial yang terjadi secara berangsur-angsur maupun secara revolusioner dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut (Damono, 1978).

2. Sasaran Penelitian Sosiologi Sastra
a. Konteks Sosial Pengarang
Konteks sosial sastrawan ada hubungannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Dalam bidang pokok ini termasuk juga faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi karya sastranya. Oleh karena itu, yang terutama diteliti adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana sastrawan mendapatkan mata pencaharian; apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat secara langsung atau bekerja rangkap.
2) Profesionalisme dalam kepengarangan; sejauh mana sastrawan menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi.
3) Masyarakat yang dituju oleh sastrawan. Dalam hal ini, kaitannya antara sastrawan dan masyarakat sangat penting sebab seringkali didapati bahwa macam masyarakat yang dituju itu menentukan bentuk dan isi karya sastra mereka (Damono, 1979: 3-4).
b. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat
Sastra sebagai cermin masyarakat yaitu sejauh mana sastra dianggap sebagai mencerminkan keadaan masyarakatnya. Kata “cermin” di sini dapat menimbulkan gambaran yang kabur, dan oleh karenanya sering disalahartikan dan disalahgunakan. Dalam hubungan ini, terutama harus mendapatkan perhatian adalah.
1) Sastra mungkin dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis, sebab banyak ciri masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis.
2) Sifat “lain dari yang lain” seorang sastrawan sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya.
3) Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat.
4) Sastra yang berusaha menampilkan keadaan masyarakat yang secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisa dipercaya atau diterima sebagai cermin masyarakat. Demikian juga sebaliknya, karya sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan masyarakat secara teliti barangkali masih dapat dipercaya sebagai bahan untuk mengetahui keadaan masyarakat. Pandangan sosial sastrawan harus diperhatikan apabila sastra akan dinilai sebagai cermin masyarakat (Damono, 1979: 4).
c. Fungsi Sosial Sastra
Pendekatan sosiologi berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “Sampai berapa jauh nilai sastra berkait dengan nilai sosial?”, dan “Sampai berapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial?” ada tiga hal yang harus diperhatikan.
1) Sudut pandang yang menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Dalam pandangan ini, tercakup juga pandangan bahwa sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak.
2) Sudut pandang lain yang menganggap bahwa sastra bertugas sebagai penghibur belaka. Dalam hal ini gagasan-gagasan seni untuk seni misalnya, tidak ada bedanya dengan usaha untuk melariskan dagangan agar menjadi best seller.
3) Sudut pandang kompromistis seperti tergambar sastra harus mengajarkan dengan cara menghibur (Damono, 1979: 4).
Apabila dikaitkan dengan sastra maka terdapat tiga pendekatan; Pertama, konteks sosial pengarang. Hal ini berhubungan dengan sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Dalam pokok ini termasuk pula faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi pengarang sebagai perseorangan di samping mempengaruhi isi karya sastranya. Hal yang terutama di teliti dalam pendekatan ini adalah: (a) bagaimana pengarang mendapatkan mata pencaharian (b) sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai profesi dan (c) mayarakat yang dituju oleh pengarang. Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Hal yang terutama di teliti dalam pendekatan ini adalah (a) sejauh mana sifat pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat yang ingin disampaikan (c) sejauh mana genre sastra yang digunakan pengarang dapat mewakili seluruh masyarakat. Ketiga, fungsi sosial sastra. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang menjadi perhatian (a) sejauh mana sastra dapat berfungsi sebagai perombak masyarakatnya (b) sejauh mana pengarang hanya berfungsi sebagai penghibur saja dan (c) sejuah mana terjadi sintesis antara kemungkinan point a dan b diatas (Damono, 1978).
Secara epitesmologis dapat dikatakan tidak mungkin untuk mebangun suatu sosiologi sastra secara general yang meliputi pendekatan yang dikemukakan itu. Konsep mengenali masyarakat akan berbeda satu dengan yang lain. Dalam penelitian novel ”Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata ini maka konsep sosiologi sastra akan menggunakan pendekatan sastra sebagai cermin masyarakat. Hal ini akan digunakan untuk menjelaskan sejauh mana pengarang dapat mewakili dan menggambarkan seluruh masyarakat dalam karyanya.

3. Sastra dan Masyarakat
Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat (Semi, 1990: 73). Sastra dapat dikatakan sebagai cerminan masyarakat, tetapi tidak berarti struktur masyarakat seluruhnya tergambarkan dalam sastra, yang didapat di dalamnya adalah gambaran masalah masyarakat secara umum ditinjau dari sudut lingkungan tertentu yang terbatas dan berperan sebagai mikrokosmos sosial, seperti lingkungan bangsawan, penguasa, gelandangan, rakyat jelata, dan sebagainya. Sastra sebagai gambaran masyarakat bukan berarti karya sastra tersebut menggambarkan keseluruhan warna dan rupa masyarakat yang ada pada masa tertentu dengan permasalahan tertentu pula.
Novel merupakan salah satu di antara bentuk sastra yang paling peka terhadap cerminan masyarakat. Menurut Johnson (Faruk, 2005: 45-46) novel mempresentasikan suatu gambaran yang jauh lebih realistik mengenai kehidupan sosial. Ruang lingkup novel sangat memungkinkan untuk melukiskan situasi lewat kejadian atau peristiwa yang dijalin oleh pengarang atau melalui tokoh-tokohnya. Kenyataan dunia seakan-akan terekam dalam novel, berarti ia seperti kenyataan hidup yang sebenarnya. Dunia novel adalah pengalaman pengarang yang sudah melewati perenungan kreasi dan imajinasi sehingga dunia novel itu tidak harus terikat oleh dunia sebenarnya.
Sketsa kehidupan yang tergambar dalam novel akan memberi pengalaman baru bagi pembacanya, karena apa yang ada dalam masyarakat tidak sama persis dengan apa yang ada dalam karya sastra. Hal ini dapat diartikan pula bahwa pengalaman yang diperoleh pembaca akan membawa dampak sosial bagi pembacanya melalui penafsiran-penafsirannya. Pembaca akan memperoleh hal-hal yang mungkin tidak diperolehnya dalam kehidupan. Menurut Hauser (Ratna, 2003: 63), karya seni sastra memberikan lebih banyak kemungkinan dipengaruhi oleh masyarakat, daripada mempengaruhinya.
Sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat, sebenarnya erat kaitannya dengan kedudukan pengarang sebagai anggota masyarakat. Sehingga secara langsung atau tidak langsung daya khayalnya dipengaruhi oleh pengalaman manusiawinya dalam lingkungan hidupnya. Pengarang hidup dan berelasi dengan orang lain di dalam komunitas masyarakatnya, maka tidaklah heran apabila terjadi interaksi dan interelasi antara pengarang dan masyarakat.
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut.
Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat.
1. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap espek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.
2. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalah kemasyarakatan.
3. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.
4. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menentukan citra dirinya dalam suatu karya (Ratna, 2006: 322-333).
Gambaran kehidupan yang terpancar dalam novel akan memberikan pengalaman baru bagi masyarakat atau pembaca, karena apa yang ada dalam masyarakat tidak sama persis dengan apa yang ada dalam karya sastra. Melalui penafsirannya, pembaca akan memperoleh hal-hal yang mungkin tidak diperolehnya dalam kehidupan.
Dengan demikian, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra adalah salah satu pendekatan untuk mengurai karya sastra yang mengupas masalah hubungan antara pengarang dengan masyarakat, hasil berupa karya sastra dengan masyarakat, dan hubungan pengaruh karya sastra terhadap pembaca. Namun dalam kajian ini hanya dibatasi dalam kajian mengenai gambaran pengarang melalui karya sastra mengenai kondisi suatu masyarakat.