Senin, 27 Juli 2009

Judul Skripsi Sastra: PENDEKATAN STRUKTURAL DALAM ANALISA NOVEL



Pendekatan struktural dapat pula disebut dengan pendekatan intrinsik, yakni pendekatan yang berorientasi kepada karya sebagai jagadyang mandiri terlepas dari dunia eksternal di luar teks. Analisis ditujukan kepada teks itu sendiri sebagai kesatuan yang tersusun dari bagian-bagianyang saling berjalin dan analisis dilakukan berdasar pada parameterintrinsik sesuai dengan keberadaan unsur-unsur internal (Siswantoro,2005:19).Analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkansecermat, seteliti, semendetail dan semendalam mungkin keterkaitan danketerjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-samamenghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984:135).
Menurut Siswantoro (2005: 20) pendekatan struktural membedah novel, misalnya, dapat terlihat dari sudut plot, karakter, setting, point ofview, tone, dan theme serta bagaimana unsur-unsur itu saling berinteraksi akhir cerita akan pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema.Adapun cara yang paling efektif untuk mengenali tema sebuah karya adalah dengan mengamati secara teliti setiap konflik yang ada di dalamnya(Stanton, 2007: 37-42).Secara umum, alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalamsebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yangterhubung secara klausal saja. Dua elemen dasar yang membangun alur adalah konflik dan klimaks. Setiap karya fiksi setidak-tidaknya memiliki ‘konflik internal’ (yang tampak jelas) yang hadir melalui hasrat dua orang karakter atau hasrat seorang karakter dengan lingkungannya. Klimaks adalah saat ketika konflik terasa sangat intens sehingga ending tidak dapatdihindari lagi. Klimaks merupakan titik yang mempertemukan kekuatan-kekuatan konflik dan menentukan bagaimana oposisi tersebut dapatterselesaikan (Stanton, 2007: 26-32)Mengenai tokoh, Semi (1988: 39) menjelaskan bahwa pada umumnya fiksi mempunyai tokoh utama (a central character), yaitu orangyang ambil bagian dalam sebagian besar peristiwa dalam cerita, biasanya peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadinya perubahan sikap terhadap diri tokoh atau perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap tokoh tersebut. Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalamcerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan,dan tahun), cuaca, atau satu periode sejarah (Stanton, 2007:35). Pembahasan struktur novel ini hanya terbatas pada masalah tema, tokoh, dan konflik. Alasannya adalah bahwa ketiga unsur tersebut sesuai dengan tujuan penelitian dan objek yang dikaji yaitu analisis mengenai konflik batin tokoh utama.
.Menurut Nurgiyantoro (2007:37), langkah-langkah dalam menerapkan teori strukturalisme adalah sebagai berikut.
i. mengidentifikasikan unsur-unsur intrinsik yang membangun karyasastra secara lengkap dan jelas meliputi tema, tokoh, , dan konflik
ii.mengkaji unsur-unsur yang telah diidentifikasi sehingga diketahuibagaimana tema, tokoh, latar, dan alur dari sebuah karya sastra;
iii.mendeskripsikan fungsi masing-masing unsur sehingga diketahui tema,tokoh, latar, dan alur dari sebuah karya sastra, dan
iv.menghubungkan masing-masing unsur sehingga diketahui tema, tokoh,latar, dan alur dalam sebuah karya sastra.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam analisis karya sastra, dalam hal ini novel, dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi, mengkaji, mendeskripsikan fungsi dan kemudian menghubungkan antara unsur intrinsik yang bersangkutan. Lihat dalam novel pilihan anda apa yang paling menonjol serta menjadi kelebihan dari novel lainnya dari pengarang yang sama atau novel dengan tema yang sama. Tuangkan dalam latar belakang serta identifikasi masalah. Selanjutnya ini akan dasar untuk mengkaji novel pilihan anda

Judul Skripsi Hubungan Internasional: TEORI PEMILIHAN UMUM DALAM SUATU KARAKTERISTIK PEMILIH DAN KARAKTERISTIK FIGUR CALON PEMIMPIN



Dalam penjelasan fenomena pemilihan umum seperti yang dijabarkan di bawah ini lebih melihat bagaimana faktor-faktor karakteritik pemilih dan karakteristik figur calon pemimpun akan mempengaruhi jalannya pemilhan umum. Suatu kemenangan calon pemimpin merupakan suatu perwujudan dari fenomena bahwa pemenang pemilu merupakan pihak yang mendapatkan dukungan mayoritas rakyat. Hal ini berlaku juga bagi pihak yang pada akhirnya disebut sebagai pihak yang kalah adalah pihak yang tidak mendapatkan mayoritas dukungan suara. Hal ini disebabkan pihak yang kalah dianggap tidak dapat menjadi jembatan antar suara rakyat dan pemerintah sedangkan pemenang pemilu merupakan tokoh/organisasi yang dianggap mampu menyuarakan keinginan rakyat atau sebagai alat artikulasi suara rakyat .
Oleh karenanya dalam pemilu maka suara mutlak adalah suara pemilih yang dalam hal ini adalah rakyat. Dalam setiap negara akan memiliki karakteristik pemilih yang berbeda pula. Hal ini seiring dengan perbedaan secara sosiologi politik dari karakteristik rakyat. Misalkan; Iran yang lebih menonjul dipengaruhi adanya kubu reformis dan konservatif; Venezuela yang dipengaruhi oleh masyarakat lapisan atas dan bawah dan di Bolivia yang dipengaruhi oleh suatu gerakan masyarakat petani (cocaleros) yang bergabung dengan kelompok pekerja lainnya.
Menurut Bone dan Ranney, rakyat dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan aktivitas politiknya. Pertama aktivis partai politik, kelompok ini merupakan kumpulan dari orang-orang yang secara teratur mencurahkan tenaga dan pikirannya pada aktivitas politik seperti pemimpin partai politik dan pemimpin LSM politik, kelompok ini hanya berjumlah lebih kurang 0,25% dari populasi masyarakat dewasa. Kedua kontributor organisasi politik, terdiri dari orang-orang yang merupakan anggota aktif partai politik atau LSM politik, kelompok ini berjumlah kurang lebih 5% dari populasi orang dewasa. Ketiga pemimpin opini politik, kelompok ini merupakan orang-orang yang dalam kesehariannya menjadi pemimpin diskusi politik dengan keluarganya, kerabatnya, dan rekan-kerjanya, mereka umumnya berjumlah kurang lebih 25% dari populasi orang dewasa. Keempat pemilih, kelompok ini lah yang benar-benar sadar dan selalu menggunakan hak politiknya untuk melakukan dan mengikuti pemilihan umum, mereka umumnya berjumlah kurang lebih 25-35% dari populasi orang dewasa. Kelima bukan pemilih, kelompok ini terdiri dari orang-orang yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah menggunakan hak pilihnya namun masih memiliki ketertarikan pada percaturan politik yang terjadi, mereka umumnya berjumlah kurang lebih 30-40% dari populasi orang dewasa. Keenam kelompok apatis, kelompok ini benar-benar acuh tak acuh terhadap aktivitas politik yang terjadi di masyarakat, mereka umumnya berjumlah kurang lebih 3-7% dari populasi orang dewasa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku dalam memilih selain faktor umum seperti status sosio ekonomi, agama, pengaruh keluarga, dan lain-lain juga dipengaruhi oleh tiga hal utama. Pertama identitas partai, dalam suatu sistem demokrasi biasanya rakyat sudah mengelompokkan diri Kedua orientasi isu, terminologi ini digunakan untuk menggambarkan kecenderungan keberpihakan masyarakat pemilih terhadap isu-isu tertentu. Dukungan pemilih terhadap kandidat presiden juga dipengaruhi oleh bagaimana kandidat menyikapi isu tersebut. Ketiga orientasi kandidat, terminologi ini digunakan untuk menggambarkan kualitas instrumental kandidat seperti kemampuan kandidat dalam diplomasi luar negeri, pembangunan ekonomi dan sebaginya menurut pandangan para pemilih serta menggambarkan kualitas simbolik kandidat tersebut berdasarkan sifat kesehariannya (bukan berdasar apa yang dilakukannya) seperti kerendahan hati, kesederhanaan, dan sebagainya.
Keterwakilan rakyat terhadap tokoh sangat tergantung pada karakter (orientasi kandidat) dari tokoh ini sendiri dan analisa karakterisasi tokoh dapat menggunakan teori “the importance of individual and role variables”. Analisa ini mengarahkan kita bagaimana karakterisasi tokoh dapat mempengaruhi pengambilan keputusan atau bahkan tanpa terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan. Peran individu dalam momen sejarah suatu bangsa dapat dilihat dari fungsi-fungsi individu (kualitas simbolik) mereka yaitu bakat, penampilan, dan latar belakang.
“Lacking a clear-cut conception of relative potency, many observers find it easier to fall back on the notion that each moment of history is function of individuals – their talents, outlooks, and background – who made it, than to consider the possibility that the action of the moment arrases out of consideration which any individual – or at least any within a wide range of talent, outlooks, and background – would have found impelling. Thus research tend to focus upon the attitude and capabilities they bring to that rules than on the attitude demands and behavioral which that rules makes of them “

Kunci analisa terhadap behavioural individu ditekankan pada dua hal yaitu sifat-sifat yang melekat dan menjadi karaterisitik individu tersebut serta tekanan atau tuntutan yang ditimbulkan dari posisi politik individu . Karateristik individu meliputi latar belakang pendidikan, kelas sosial, karir politik, kesehatan fisik .
“By an individual variable is meant any aspect of an factors which characterizes him prior to his assumption of policy making responsibilities and which did not necessarily characterize any other person who might have occupied through election, appointment or other means....A role variables refers to any aspect of the actor derived from his policy making responsibilities and which is expected to characterize any person who fills the same position”.

Hal lain yang perlu diingat dalam penggunaan analisa berdasarkan profil individu mempunyai variasi pada setiap kasus dimana karateristik yang sama dalam kondisi lingkungan yang berbeda atau kebalikannya, karaterisitik berbeda dengan lingkungan sama belum tentu akan memberikan hasil yang tidak sama. Masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi suatu hasil pemilihan umum. Namun satu hal pasti adalah pemilihan umum merupakan proses berpolitik yaitu mendapatkan atau melanggengkan kekuasaan. Suatu cara yang bisa disebut dengan ”permainan politik” akan selalu dijalankan untuk mendapatkan atau melanggengkan kekuasaan. namun apabila rakyat ”pintar”, apapun permainan politik yang dijalankan maka pemilih akan menggunakan akal terang untuk melihat bagaimana calon pemimpinnya.

Judul Skripsi Linguistik: FONETIK ARTIKULATORIS DALAM BAHASA JAWA



Menurut R.H Robbins (1992) inti dari wicara adalah gerakan yang dilakukan seseorang dimulai dari diagram dan melibatkan berbagai bagian dari dada, kerongkongan, mulut dan saluran hidung menciptakan getaran pada udara di sekelilingnya dan alam jarak yang terbatas daro orang itu, getaran tadi dapat ditangkap oleh gendang suara dalam pendengaran. Melalui gendering pendengaran tersebut diterima oleh otak pendengar. Jika pendengaran dan orang itu termasuk masyarakat bahasa yang sama, pendengaran dapat memberi respon ekapada dan mengerti getaran atau bunyi itu. Kajian fonetik artikulatoris, wicara bias dikaji teruatam sebagai aktivitas penutur berkenaan dengan alat-alat artikulatoris an proses yang terlibat dalam aktivitas itu.
Fonem vokal bahasa Jawa berjumlah enam buah yaitu /i, e, ә, a, u o/. berdasarkan ketinggian lidah pada waktu pengucapannya, keenam fonem vocal tinggi /i, u/; madya e/, ә, o/; dan rendah /a/ berdasarkan bagian lidah yang bergerak waktu diucapkan, fonem vocal dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu vocal depan /i, e/; tengah ә, a/ dan waktu diucapkan, fonem vocal dapat dibagi menjadi empat yaitu vokal tertutup /i, u/; semi tertutup /e, o/; semi terbuka /ә/ dan terbuka /a/. berdasarkan bentuk bibir pada waktu diucapkan fonem vokal dapat dibagi menjadi dua yaitu vokal tak bulat /i.,e, ә,a/ dan bulat /u,o/.

Judul Skripsi Psikologi: Penyusunan Skala Psikologi sebagai Alat Ukur (Tips Penyusunan Penelitian Kuantitatif)



Bagi para mahasiswa yang akan menyusun sebuah skala baik dalam bidang psikologi maupun ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran maupun pendidikan, skala akan menentukan bagaimana kelanjutan sebuah penyusunan naskah penelitian yaitu bagian analisa dan pembahasan. Pada akhirnya skala akan membantu anda untuk mendapatkan jawaban dari rumusan masalah dikaitkan dengan data lapangan yang telah anda peroleh. Boleh dibilang skala merupakan ”nyawa” dari sebuah penelitian psikologi karena disinilah merupakan titik tengah yang menetukan apakah proposal dan pembahasan relevan.
Semakin tepat isi skala yang anda susun maka item pertanyaan bisa digunakan sebagai jawaban rumusan permasalahan dalam penelitian. Tapi jika tidak maka skala tidak bisa digunakan sebagai alat ukur yang menjawab rumusan masalah. Pemahaman secara mudah untuk mengukur apakah skala yang anda susun tepat atau tidak maka didasarkan pada relevansi item pada skala dengan jawaban di rumusan permasalahan.
Untuk menyusun skala yang tepat maka anda harus memberikan ketepatan pula dalam teori yang anda gunakan. Artinya suatu skala yang umumnya dicantumkan dalam metode penelitian tidak bisa terlepas dari tinjauan pustaka yang anda susun sebelumnya. Bagaimana pengertiannya? Apa aspeknya? Bentuk, karakteristik dan lain sebagainya. Ke semuanya akan membantu skala yang anda akan susun. Tidaklah mungkin suatu skala disusun tanpa kelengkapan tinjauan pustaka. Semakin lengkap anda menyusun tinjauan pustaka maka semakin mudah anda menyusun skala.
Bila sudah mencapai tahap penyusunan suatu skala, maka anda harus mengerti beberapa karakteristik skala sehingga skala anda akan semakin tepat (Azwar, 1997). Karakteristik tersebut adalah:
1. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.
2. Dikarenakan atribut diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator perilaku sedangkan indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem, maka skala psikologi selalu berisi banyak aitem.
3. Respon subyek tidak diklasifikasi sebagai jawaban ”benar” atau ”salah”. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. Hanya saja, jawaban yang berbeda akan di interpretasikan berbeda pula.
Ketidaktepatan suatu skala dalam mengungkapkan jawaban bagi rumusan masalah dapat diungkapkan dalam analisa validitas Validitas adalah seberapa jauh alat ukur dapat mengungkapkan dengan tepat dan dapat menunjukkan dengan sbenarnya gejala-gejala atau bagian dari gejala yang hendak diukur. Suatu alat ukur dapat memiliki validitas tinggi apabila alat tersebut mampu memberikan hasil ukur yang sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran pada alat penelitian tersebut (Kerlinger dalam Arikunto, 1989). Beberapa hal yang menyebabkan validitas lemah adalah :
1. identifikasi kawasan ukur yang tidak jelas
2. operasionalisasi konsep yang tidak tepat
3. penulisan aitem yang tidak mengikuti kaidah
4. administrasi skala yang tidak berhati-hati yang berarti tampilan skala, kondisi subjek, kondisi testing
5. pemberian skor yang tidak cermat
6. interprestasi yang keliru

Judul Skripsi Linguistik: IKONISASI DALAM LINGUISTIK

Ikonitas (iconity) adalah perihal ikon. Kata ikon berasal dari bahasa Latin yaitu icon yang berarti arca atau patung (Prent. 1969) atau gambar atau patung yang menyerupai contohnya (Verhoeven. 1969). Kata ikon selanjutnya dipakai oleh Pierrce sebagai istilah semiotika yaitu untuk menyebut tanda yang penandanya memiliki hubungan kemiripan dengan obyek yang diacunya. Kata ikon kemudian dipakai dalam linguistik dengan arti “to refer to signals mhose physical form closely correspondens to characteristic to which they refers” (Crystal. 1980) yang dapat iartikan sebagai untuk menyebut tanda yang bentuknya fisiknya memiliki kaitan yang erat dengan sifat khas dari apa yang diacunya (Sudaryanto, 1989).
Kaitan erat yang dimaksud dalam definisi tersebut adalah kemiripan (resemblance) atau mencerminkan (to reflect) dan apa yang dimaksud dengan apa yang diacunya adalah realitas (reality) (Haiman, 1985), isi tuturan atau isi wicara (content) (Sudaryanto, 1995) atau situasi (situation) (Verhaar, 1977). Dengan demikian pengertian ikon dalam linguistik dapat dirumuskan dengan lebih tegas yaitu satuan lingual yang bentuknya mirip dengan realitas yang diacunya atau satuan lingual yang bentuknya mencerminkan realitas yang diacunya.
Agar pengertian ikon lebih jelas lagi maka konsep “realitas” dan konsep ”mirip” atau ”mencerminkan” akan diuraikan lebih lanjut.pengertian realitas yang terkandung dalam ikon tidak sama dengan pengertian relitas yang dikemukakan oleh Chomsky. Pengertian realitas yang dimaksud oleh Chomsky semata-mata mengacu pada konsep dalam pikiran yang tidak ada kaitannya dengan dunia nyata yang berada di luar pikiran. Chomsky (1981) menyatakan bahwa “our interpretation of the world is based in part on representational system that derive from the structure of the mind it self and do not mirror in any direction the form of things in external world....”. pengertian realitas yang dikemukakan oleh Chomsky terlalu rasionalistic atau subjektif sehingga menihilkan realitas diluar pikiran manusia.
Pengertian realitas dalam ikon juga tidak sama dengan pengertian petanda yang dikemukakan oleh Saussure. Petanda, menurut Saussure adalah konsep (concept) yang bersama-sama penanda yang merupakan citra akustis (image acoustique) membentuk tanda bahasa (Saussure.1988). Dengan demikian pengertian petanda menurut Saussure sama dengan pengertian realitas menurut Chpmsky, yaitu semata-mata konsep dalam pikiran manusia yang tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. Lebih-lebih Saussure memiliki pandangan bahwa dunia penanda dan dunia petanda di satu pihak dan dunia nyata di pihak lain masing-masing bersifat otonom.
Chomsky dan Saussure sama-sama memandang bawa bahasa itu bersifat diadis (dyadic) yaitu hanya merupakan perpduan unsur-unsur internalnya (bentuk dan makna) dan tidak memiliki kaitan apapun dengan unsur ekstenalnya yang disebut realitas. Hal ini berbeda dengan pandangan terhadap bahasa yang terkandun dalam konsep ikon. Dalam konsep ikon terkandung pemahaman bahwa bahasa itu bersifat triadik (triadic) yaitu bahasa merupakan relasi, makna dan realitas.
Van Peursen (1990) mengemukakan bahwa realitas bukanlah benda keras yang diambil dari tanah. Ini berarti bahwa yang disebut realitas bukan semata suatu benda konkret, melainkan juga sesuatu yang bastrak. Realitas mencakup sesuatu yang ada di luar pikiran dan sesuatu yang ada di dalam pikiran. Realitas mencakup apa yang disebut realitas material dan realitas substansial (Sudaryanto. 1995). Dalam hal ini realitas juga mencakup apa yang disebut dengan realitas objektif dan realitas subjektif atau realitas transendens dan realitas transcendental (Van Peursen. 1990).
Realitas memang aspek eksternal bahasa, tapi hal itu tidak dapat dipisahkan dari realitas subjektif. Hal ini disebabkan proses penyerapan terhadap sesuatu al harus melalui konseptualisasi atau referensi menurut Odgen dan Richard (1989) atau subjeketifikasi menurut Langacker (1990). Karena demikian bentuk lingual yang mencerminkan realitas objektif tentu juga mencerminkan realitas subjektif, tetapi bentuk lingual yang mencerminkan realitas subjektif tidak tentu mencerminkan relitas objektif. Atau dasar hal tersebut, bentuk lingual yang mencerminkan realitas dapat dibedakan dua macam, yaitu (i) bentuk lingual yang mencerminkan realitas objektif (yang sekaligus mencerminkan realitas subjektif) dan (ii) bentuk lingual yang mencermikan realitas subjektif semata-mata. Ke dua macam bentuk lingual jenis pertama yang mencerminkan realitas objektif (yang sekaligus mencerminkan realitas subjektif) dengan sendirinya lebih ikonis daripada bentuk lingual jenis kedua, yang hanya mencerminkan realitas subjektif. Dalam hal ini, sifat ikonis bentuk lingual lantas tidak bersifat bier atau diskret, melainkan bersifat rentangan atau derajat.
Kemudian kata mirip atau mencerminkan dalam ikon berarti bahwa bentul lingia; dan realitas yang digambarkan harus persis sama dan sempurna. Menurut Haiman (1985) tidak ada ikon yang sempurna. Ikon cenderung mereduksi dan menyerdahanakan realitas yang digambarkan. Di samping itu bukan semata-mata kopi dari realitas. Bahasa juga merupakan hasil dari kreatifitas pemiliknya dalam menggambarkan realitas (Simone. 1995)

Metode Analisa Data: PENELITIAN EKSPERIMEN SERTA PENELITIAN SEPERTI EKSPERIMEN

Penelitian eksperimen adalah observasi objektif terhadap suatu fenomena yang dibuat agar terjadi dalam suatu kondisi yang terkontrol ketat, dimana satu atau lebih factor divariasikan dan factor lain yang dibuat constan. Terdapat tiga syarat utama yaitu manipulasi, kontrol dan randomisasi.Secara singkat, maka dapat dikatakan bahwa penelitian eksperimen dimana minimal salah satu variable dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat.[1] Sedangkan pengertian dari manipulasi sendiri adalah memberikan perlakuan atau mengkondisikan keadaan/kejadian yang berbeda dalam subjek penelitian.
Apa yang terjadi apabila suatu penelitian membutuhkan desain eksperimental namun kondisinya tidak bisa dikontrol. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya penelitian seperti eksperimen. Berikut merupakan desain penelitian seperti penelitian seperti eksperimen.

1. Eksperimen Kuasi (Quasi Experiment)
Ekperimen Kuasi bukan merupakan eksperimen murni tetapi seperti murni. Eksperimen ini disebut juga dengan metode semu.. Eksperimen kuasi bisa saja digunakan apabila minimal dapat mengatur hanya satu variable saja meskipun dalam bentuk matching, atau memasangkan/menjodohkan karakteristik, kalau bisa random lebih baik. [2] Metode ini masih menggunakan kelompok kontrol seperti metode eksperimen namun tidak menggunakan pengambilan kelompok secara acak namun berpasangan
Keunggulan dari metode ini adalah dapat dilaksanakan bahkan di penelitian yang berlangsung dalam kondisi dimana pengontrolan terhadap variabel sangat sulit sehingga kemungkinan sukar untuk melakukan eksperimen murni Sementara kelemahan dari metode ini adalah adanya pengontrolan variable yang lemah menyebabkan karakteristik dalam satu kelompok perlakuan tidak bisa dibuat sama atau disamakan.

2. Eksperimen Lemah atau Pra eksperimen
Eksperimen lemah atau pra eksperimen adalah penelitian yang tidak menggunakan sama sekali penyamaan karakteristik (random) dan tidak ada pengontrolan variabel. Dalam model desain penelitian ini maka kelompok tidak diambil secara acak atau berpasangan, tidak ada kelompok pembanding tapi diberi tes awal dan tes akhir.
Desain metode ini paling lemah maka tidak disarankan untuk digunakan dalam penelitian ilmih setingkat skripsi, tesis maupun disertasi tapi masih boleh digunakan dalam penelitian latihan saja.



3. Eksperimen Subjek Tunggal
Dalam eksperimen subjek tunggal maka eksperimen dilakukan terhadap subejk tunggal dengan menggunakan variasi bentuk murni, kuasi dan lemah. Perbedaan antar kelompok dihitung berdasarkan skor rata-rata antar kelompok tersebut. Pendekatan dasar dalam eksperimen subjek tunggal adalah meneliti individu dalam kondisi tanpa perlakuan dan kemudian dengan perlakuan dan akibatnya terhadap variabel akibat diukur dalam kedua kondisi tersebut. Agar memiliki validitas internal yang tinggi maka desain tersebut harus memperhatikan pengukuran yang ajeg, berulang-ulang, adanya deskripsi kondisi, garis dasar, kondisi perlakuan, rentang dan stabilitas yang relatif sama serta variabel yang diubah hanya satu.

[1] Liche Seniati, Aries Yulianto, Bernadette N Setiadi, Psikologi Eksperimen, Penerbit Indeks, Jakarta, 2005
[2] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008

Judul Skripsi Politik, Hubungan Internasional; TEORI UMUM DALAM KEBIJAKAN POLITIK



Kebijakan politik adalah segala sesuatu hasil keputusan baik berupa dalam sistem. Kebijakan selalu berhubungan dengan keputusan-keputusan pemerintah yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat melalui instrument-instrumen kebijakan yang dimiliki oleh pemerintah berupa hukum, pelayanan, transfer dana, pajak dan anggaran-anggaran serta memiliki arahan-arahan yang bersifat otoritatif untuk melaksanakan tindakan-tindakan pemerintahan di dalam yurisdiksi nasional, regional, unisipal, dan local.
Teori Sistem Politik
Kebijakan publik dipandang sebagai respons sistem politik terhadap tuntutan yang muncul dari lingkungannya. Oleh karenanya teori ini digunakan untuk menganalisa perubahan dalam suatu sistem politik yang kemudian akan menghasilkan kebijakan yang berbeda. Perlu digaris bawahi bahwa sistem politik memuat mengenai pergantian kepimpinan namun tidak secara mendetail. Bagi kasus yang lebih menganalisa perubahan kebijakan pergantian kepimpinan lebih baik menggunakan teori rational choice.
a) Sistem politik terdiri atas institusi dan aktivitas yang saling berkaitan dalam masyarakat yangmembuat alokasi otoritatif dari nilai-nilai yang mengikat masyarakat
b) Inputs ke dalam sistem politik berasal dari lingkungan dan terdiri atas tuntutan (demands) dan dukungan (supports).
c) Outputs dari sistem politik mencakup undang-undang, aturan, keputusan pengadilan dan lain-lain.
d) Feedbacks menunjukkan bahwa outputs atau kebijakan publik yang dibuat pada satu saat tertentu pada gilirannya dapat mengubah lingkungan dan tuntutan yang akan muncul berikutnya, dan juga, karakter sistem politik itu sendiri.
Teori Kelompok (Group Theory)
Teori kelompok digunakan untuk menjelaskan pengaruh suatu kelompok terhadap proses perubahan kebijakan. Hal ini bisa diterapkan misalkan pada kelompok teknokrat, siloviki ataupun liberalis di negara Rusia yang pada akhirnya akan mempengaruhi kebijakan baik dalam maupun luar negeri. Ataupun pada kasus keompok masyarakat cocaleros yang mendukung calon presiden Bolivia.
a) Kebijakan publik merupakan produk dari perjuangan kelompok.
b) Interaksi dan perjuangan antara kelompok-kelompok adalah kenyataan sentral dari kehidupan politik.
c) Kelompok adalah sekumpulan orang yang mungkin, atas dasar sikap atau kepentingan yang sama, membuat klaim terhadap kelompok lain dalam masyarakat. Kelompok menjadi kelompok kepentingan manakala ia membuat klaim melalui atau terhadap setiap institusi pemerintah.
d) Konsep utama dalam teori kelompok adalah akses.
Teori Elit (Elite Theory)
Secara spesifik, teori ini menjadi bagian dari teori kelompok yang ada diatas. Namun teori ini hanya mengkhususkan membahas suatu kelompok masyarakat yang telah lama memegang kekuasaan di suatu negara. Misalkan kelompok masyarakat kelas atas yang memegang kekuasaan di negara Venezuela hingga akhirnya digantikan oleh kebijakan Presiden Hugo Chavez.
a) Kebijakan publik dipandang sebagai pencerminan nilai dan preferensi elite yang berkuasa.
b) Masyarakat terbagi atas sedikit orang yang mempunyai power dan massa yang tidak mempunyai power.
c) Elite berasal dari lapisan masyarakat dengan tingkat sosial-ekonomi tinggi. Perpindahan non-elite ke posisi elite harus lambat dan terus menerus untuk memelihara stabilitas dan menghindari revolusi.
d) Elite mempunyai konsensus terhadap nilai-nilai dasar dari sistem sosial dan pelestarian sistem.
e) Perubahan dalam kebijakan publik akan bersifat inkremental.
f) Elite mempengaruhi massa lebih banyak daripada massa mempengaruhi elite.
Institutionalism
Teori ini juga menjadi bagian dari teori kelompok, namun seperti halnya teori elit maka teori institusionalism lebih mengkhususkan kepada institusi yang berpengaruh terhadap proses kebijakan. Perbedaan dengan teori elit adalah teori elit membahas klompok masyarakat sementar isntitusionalis membahas organisasi pemerintah.
a) Kebijakan publik ditentukan secara otoritatif dan pada awalnya dilaksanakan oleh institusi pemerintah.
b) Terpusat pada pemaparan aspek-aspek formal dan legal dari institusi pemerintah: organisasi formal, kekuasaan hukum, aturan prosedural, dan fungsi atau aktivitas.
Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory)
• Kebijakan publik sebagai keputusan dari aktor politik yang bertindak rasional untuk memaksimalkan kepuasan mereka (rational utility maximizer).
• Aktor politik dipandu oleh kepentingan pribadi dalam memilih rangkaian tindakan untuk kemanfaatan terbaik bagi dirinya, misalkan :
(1) Pemilih memberikan suara untuk partai dan kandidat yang terbaik memenuhi kepentingannya,
• Self interest birokrasi mengarahkan mereka untuk memaksimalkan budget
instansinya karena budget yang lebih besar merupakan sumber power, prestige, perks, dan high salary.
Keseluruhn penjabaran diatas sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk menggabungkan dengan teori yang sudah dibahas diatas atau dengan teori lain yang ada. Hal ini berfungsi untuk memberikan pembatasan yang jelas mengenai variabel yang akan anda gunakan dalam pembahasan.

Judul Skripsi KomunikasiI; ANALISA ISI SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF ANALISIS MEDIA


Analisis isi merupakan analisa yang dioperasikan oleh seperangkat kategori-kategori konseptual yang berkaitan dengan isi media dan secara kuantitatif menghitung ada atau tidaknya kategori tersebut dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.[1] Pendekatan dasar untuk menerapkan teknik ini adalah (1) memilih contoh (sample) atau keseluruhan isi. (2) menetapkan kerangka teori acuan eksternal yang relevan dengan tujuan pengkajian, (3) memilih satuan analisi isi (kata, kalimat, alinea, kisah, gambar, urutan dan sebagainya (4) menyesuaikan isi dengan kerangka teori per satuan unit yang dipilih (5) mengungkapkan hasil sebagai distribusi menyeluruh dari semua satuan atau per contoh dalam hubungannya dengan frekuensi keterjadian hal-hal yang dicari untuk acuan.[2] Secara singkat maka prosedurnya di dasarkan atas dua asumsi utama yaitu hubungan antara objek acuan eksternal dan acuannya dalam teks akan cukup jelas dan tidak mendua dan bahwa frekuensi perwujudan acuan yang terpilih secara sahih akan mengungkapkan ”arti” utama teks secara objektif.
Analisa isi pada perkembangannya tidak cukup digunakan untuk menekankan isi pesan sebagai area terpenting dalam analisis ilmu-ilmu sosial. Oleh karenanya analisa isi secara kuantitatif seperti ini dianggap sebagai cara tradisional dan berkembang menjadi ilmu analisa wacana, analisis semiotik dan analisis framing. Kelebihan dari analisa isi adalah mampu menyajikan secara lebih sistematis, kuantitatif dan deskriptis sementara kekurangannya tidak mampu menganalisa lekak-lekuk teks secara lebih detail. Dengan kata lain, analisis isi memiliki keterbatasan untuk menganalisis isi pesan apalagi sampai ke tingkat ideologis, padahal pesan dalam sebuah media terlebih media massa merupakan bangunan yang dibentuk dari struktur bahasa yang terdiri dari lambang-lambang (sign) dan berfungsi menyampaikan pesan dari si pengirim pesan melalui penerima pesan. Kurang lebih bisa dikatakan bahwa pesan dapat dianalisa melalui alat penghantarnya yaitu struktur tanda itu sendiri.
Jadi tips dalam penelitian analisa isi sebenarnya adalah: Pertama, menentukan tema yang ingin diangkat. Misalkan analisa isi peristiwa (.....) dalam media (......) dari tanggal (......) degan kerangka (.....). Kedua, tentukan kategorisasi. Umumnya kategorisasi menggabungkan antara teori dan data yang tersedia. Jadi setelah tema ditentukan sesegera mungkin anda juga menyediakan data. Jangan setelah proposal selesai baru anda mencari data. Hal ini akan jauh lebih mempermudah anda karena dalam pelaksanaan penelitian maka tidak akan mungkin kategorisasi dalam tipe yang tidak ada.

[1] Listiorini, Dina, 1999. Mengembangkan Ilmu Komunikasi Melalui Semiotika dalam Abrar, Ana Nadya. Membangun Ilmu Komunikasi dan Sosiologi, Yogyakarta, Universitas Atmajaya Yogyakarta; hlm 257-264
[2] McQuail, Denis, 1991. Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. Edisi Ke Dua. Alih Bahasa Agus Dharmawan dan Amiruddin, Jakarta; Penerbit Erlangga
[3] Wimmer, Roger D & Joseph.R.Dominick, 1997, Mass Media Research: An Introduction., MA: Wadsworth, Belmont USA
[4] “Analisis Isi Berita Media Cetak Kampanye Presiden Mengenai Lingkungan”, Penelitian Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil, Jakarta, 2004

Kamis, 29 Januari 2009

KONSULTASI SKRIPSI

TEMPAT KONSULTASI-BIMBINGAN-BANTUAN-PENYUSUNAN ANALISIS SKRIPSI, TESIS, TUGAS AKHIR DAN OLAH DATA SECARA ONLINE MAUPUN OFFLINE/TATAP MUKA/KETEMU LANGSUNG | Fakultas Tehnik, Fakultas Hukum [Perdata,Pidana,Dagang,Bisnis], Ekonomi, Ilmu Sosial dan Politik, Ilmu Pemerintahan, Psikologi, Ilmu Pendidikan, Sosial Budaya, Iesp, Manajemen, Kehutanan, Sastra, Kedokteran, Farmasi, Filsafat, Pertanian, Peternakan, Geografi, Biologi, MIPA, D3, S1,S2,S3 | Judul-Kumpulan-Skripsi-skripsi-Tesis-tesis hanya di www.skripsi-konsultasi.com
Konsultasi dalam penyusunan berbagai karya penelitian, Skripsi, thesis, desertasi, dari berbagai strata pendidikan. Selain itu kami juga melakukan riset ataupun pendampingan riset, penerjemahan bahasa asing dan pelatihan statistik .
Kresna Konsultan merupakan lembaga yang bergerak dalam jasa untuk membantu mahasiswa ketika melakukan penyusunan skripsi serta berbagai jenis karya penelitian lainnya
Penelitian eksperimen adalah observasi objektif terhadap suatu fenomena yang dibuat agar terjadi dalam suatu kondisi yang terkontrol ketat, dimana satu atau lebih factor divariasikan dan factor lain yang dibuat constan. Terdapat tiga syarat utama yaitu manipulasi, kontrol dan randomisasi.Secara singkat, maka dapat dikatakan bahwa penelitian eksperimen dimana minimal salah satu variable dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat.1 Sedangkan pengertian dari manipulasi sendiri adalah memberikan perlakuan atau mengkondisikan keadaan/kejadian yang berbeda dalam subjek penelitian.
Apa yang terjadi apabila suatu penelitian membutuhkan desain eksperimental namun kondisinya tidak bisa dikontrol. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya penelitian seperti eksperimen

Apakah menggunakan jasa konsultan skripsi sama dengan plagiat

Bila plagiat disini dijadikan bagian dari pembajakan hak intelektual maka kami dengan berbangga hati mengatakan bahwa kami tidak melakukan plagiat. Banyak pihak yang menyatakan bahwa jasa konsultasi skripsi merupakan plagiat atau apapun yang menunjukkan bahwa kami hanya melakukan ”copy paste”. Jika Kresna Konsultan memang melakukan hal tersebut maka kami tidak akan menyediakan sesi konsultasi sampai mahasiswa yang dibimbing mengerti baik ide maupun cara penyusunan. Baik dari ide maupun cara penyusunan, masing-masing kami sesuaikan dengan kondisi mahasiswa. Kami tidak melakukan penyediaan copy skripsi. Setiap mahasiswa yang melakukan konsultasi dengan Kresna Konsultan, kami jamin kerahasiaanya

Skripsi/tesis/disertasi merupakan upaya untuk menuangkan ide tentang masalah berkaitan dengan ilmu yang anda pelajari dalam sebuah karya penulisan. Jadi penilaian dosen pembimbing umumnya berkisar antara ide, proses, tulisan dan cara membawakan ide serta tulisan baik ketika seminar maupun ujian akhir.
1 Menentukan judul sesuai dengan kemampuan
Judul disini bisa diartikan sebagai ide yang mendasari seluruh penulisan skripsi yang anda buat. Ini penting karena umumnya mahasiswa yang saya temui ketika melakukan konsultasi skripsi menemui hambatan karena ketidakmampuan memprediksi sejauh mana kemampuan yang dimiliki. Kemampuan tersebut tidak hanya sumber daya manusianya atau istilah kasarnya kemampuan akademis namun juga kemampuan financial serta waktu. Kemampuan tersebut bisa juga dipengaruhi oleh adanya faktor lain misalkan referensi, alat penunjang dan lain sebagainya. Tidak usah termakan omongan orang bahwa judul anda dianggap gampangan karena belum tentu judul yang gampangan tersebut didalam analisisnya juga gampangan. Hal paling penting ya itu tadi ide, proses cara penulisan, dan cara anda membawakan dalam seminar serta ujian akhir. Banyak judul yang kelihatannya susah namun karena keterbatasan mahasiswa sendiri akhirnya berhenti di tengah jalan atau analisisnya ngawur.
2 Banyak membaca referensi
Selain untuk penyusunan, referensi juga diperlukan bagi anda untuk membangun argumen. Hal ini pula yang mendasari point pertama tentang bagaimana referensi bisa mempengaruhi judul, menentukan kerangka teori/tinjauan pustaka, analisis data serta pembahasan. Semakin banyak referensi yang anda baca maka semakin mudah anda menyusun skripsi. Referensi tidak hanya terbatas pada buku namun juga penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya bahkan koran, majalah atau melalui internet bisa menjadi alternatif anda mendapatkan referensi.
3 Ketepatan penyusunan isi sesuai dengan bagian-bagian dalam skripsi.
Ketidaktepatan penyusunan merupakan salah satu contoh kesalahan yang jamak dilakukan oleh mahasiswa ketika menulis skripsi. Ini didasari oleh kebingungan mahasiswa terhadap apa yang harus disajikan di tiap bagian

skripsi. Meskipun dari masing-masing universitas atau fakultas menyediakan buku tuntunan, namun masih banyak saya jumpai kesulitan mahasiswa untuk melakukan penyusunan skripsi ketika melakukan konsultasi. Misal dalam bagian latar belakang masalah maka mahasiswa tidak mengetahui bahwa yang disajikan dalam bagian tersebut adalah apa yang mendasari hingga munculnya masalah/ide yang anda akan angkat. Atau dalam rumusan masalah maka merupakan pertanyaan mendasar dari keseluruhan skripsi. Ini merupakan penjelasan-penjelasan dari setiap bagian skripsi dari pengalaman saya ketika melakukan konsultasi (sementara untuk format penyusunan disesuaikan dengan masing-masing fakultas dan universitas):
- Judul merupakan gambaran tentang ide yang anda akan tuangkan dalam skripsi.
- Latar belakang masalah berisikan tentang apa yang mendasari anda sehingga mengangkat ide tersebut
- Rumusan masalah merupakan pertanyaan tentang ide yang anda angkat dalam skripsi.
- Kerangka teori/tinjauan pustaka merupakan penjelasan mengenai definisi, aspek, dimensi, serta indikasi tentang variabel yang anda gunakan
- Metode penelitian merupakan alat yang digunakan untuk menjelaskan membantu bagaimana hubungan antar variabel.
- Analisa data merupakan penjelasan mengenai penyajian data beserta hasil hubungan tersebut. Apakah sesuai dengan hipotesa atau justru ditolak. Penolakan atau penerimaan tersebut kemudian dikaji dari kerangka teori atau tinjauan pustaka
- Kesimpulan berisikan jawaban akhir dari rumusan masalah
Selain ketepatan apa yang anda akan tulis pada setiap bagian, maka ketidaktepatan alat analisa, saya juga sering jumpai ketika melakukan konsultasi. Alat analisa atau disebut juga dengan metode analisis data, dimana digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel. Sementara dari hubungan variabel ini akan menunjukkan hipotesa anda, apakah diterima atau ditolak. Misalkan hubungan antar variabel dalam penelitian anda apakah diuji dalam penelitian kuantitaif atau kualitatif. Kemudian berbentuk pengaruh atau hubungan. Ini perlu didefinisikan dengan jelas sehingga hipotesa anda akan terjawab.
2 Membangun mood untuk mengerjakan skripsi
Buat jadwal yang memuat target anda untuk dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dan patuhi. Ingat bahwa penilaian dosen juga tergantung kedisiplinan anda dalam proses untuk menyusun skripsi. Banyak cara bisa anda lakukan namun saya umumnya menyarankan mahasiswa untuk “curhat” dengan teman yang sama-sama sedang melakukan penulisan skripsi.
3 Menghadapi Dosen Pembimbing
Masing-masing dosen pembimbing mempunyai karateristik. Karateristik dosen ini akan antara lain akan mempengaruhi bagaimana bentuk penulisan. Mungkin saja yang anda tulis ketika menyusun skripsi ternyata bagi dosen dianggap tidak sesuai karena cara penulisan anda berbeda dengan apa yang dipahami oleh dosen. Atau dosen berkeinginan konsultasi hanya dilakukan pada jam serta waktu tertentu karena kesibukan.
Tidak ada dosen yang “susah”, killer, dsb karena yang ada adalah anda belum memahami karakter si dosen
Seringkali, selama saya menjadi konsultan jurusan Ilmu Hubungan Internasional menemukan banyak mahasiswa yang kesulitan dalam menentukan tema penelitian. Atau kadang kala menentukan sampai seberapa besar cakupan analisa. Hal ini sangat penting karena dengan menentukan tema atau judul yang sesuai dengan tingkatan analisa tepat maka anda akan lebih mudah menentukan rumusan masalah dan pembatasan penelitian. Jadi, sebenarnya untuk menentukan judul dalam ilmu Hubungan Internasional tidaklah sesulit yang mahasiswa bayangkan.

Berikut merupakan langkah yang harus anda lakukan ketika memilih tema atau judul kajian ilmu Hubungan Internasional

1. Bagaimana untuk mendapatkan judul yang sesuai dalam ilmu Hubungan Politik.

Untuk mendapatkan judul atau tema skripsi ilmu Hubungan Internasional maka saya sarankan anda harus membaca banyak referensi. Banyak referensi, tidak berarti tidak harus bersumber pada buku-buku atau jurnal yang membahas ilmu politik. Saya seringkali menemukan judul ilmu Hubungan Internasional yang kemudian saya angkat menjadi skripsi ketika membaca majalah-majalah seperti National Geography atau bahkan majalah wanita seperti Femina. Anda harus menyadari bahwa ilmu politik seperti ilmu Hubungan Internasional, dan ilmu-ilmu lainnya mempunyai keterkaitan. Jadi bisa saja, artikel yang membahas lingkungan hidup namun juga mempunyai muatan ilmu politik kalau anda cukup teliti untuk menangkap ide ini. Jadi, jangan mengkotakkan diri anda dalam sebuah ilmu yang anda pelajari selama kuliah saja. Banyak membaca berarti anda memperluas wawasan anda.

Langkah kedua untuk mencari ide judul skripsi adalah sharing dengan teman, atau dosen anda. Percakapan dengan teman yang anda lewatkan di kantin ataupun ketika dosen menyampaikan materi kuliah, terus keluar ide dan anda menangkapnya. Jadilah sebuah judul skripsi.

Untuk penerimaan judul biasanya ditentukan dari kebaruan dan kesulitan mengenai objek yang diteliti

2. Menentukan Wilayah Perilaku berpolitik

Perlu diingat bahwa ilmu Hubungan Internasional adalah bagian dari ilmu Politik. Jadi untuk mencari kajian apa dan bagaimana ilmu Hubungan Internasional maka dapat dikembalikan dalam esensi dari ilmu Politik itu sendiri. Jadi tema atau judul dalam ilmu Hubungan Internasional dapat di dasarkan pada kajian-kajian wilayah ilmu Politik. Ilmu Politik sendiri bersumber dari kajian yang memahami bagaimana keputusan-keputusan atau kebijakan otoratif dan sah dibuat dan dilaksanakan dalam suatu masyarakat (David Easton, 1957). Baik input, output maupun lingkungan; ke semuanya membentuk sistem yang saling terkait dan saling mempengaruhi (Mohtar Mas’oed 2001)

Berdasarkan bagan diatas maka kita dapat meletakkan topik tersebut di dalam wilayah proses input, output (kebijakan), maupun lingkungan. Berikut merupakan berbagai contoh tema yang dapat diangkat dalam menganalisa Hubungan Internasional

a. Input

Bentuk input dalam ilmu politik dibedakan menjadi dua yaitu tuntutan dan dukungan. Input dalam tuntutan disebabkan adanya ketidakpuasan atas`pemenuhan kepentingan yang terjadi dalam masyarakat, dengan demikian timbulnya input berupa dukungan disebabkan oleh adanya kepuasaan atas kepentingan yang terjadi dalam masyarakat. Namun bisa jadi input dukungan tersebut merupakan upaya untuk melanggengkan pemenuhan kepentingan. Tuntutan maupun dukungan tersebut dapat upaya untuk mendapatkan atau melanggengkan posisi status, prestise dan kekuasaan dalam sebagian ataupun keseluruhan masyarakat .

b. Output

Output dalam suatu sistem politik secara khas disebut dengan kebijakan. Jadi secara meluas, tema yang dapat diangkat dalam wilayah output adalah jalannya pelaksanaan, keefektifan serta implikasi kebijakan tersebut dalam struktur masyarakat .

c. Lingkungan

Untuk menciptakan proses dimana sistem tersebut berjalan maka dibutuhkan adanya lingkungan. Lingkungan dalam ilmu politik merupakan suatu penggambaran secara sistematik dari setiap bagian masyarakat yaitu baik struktur maupun fungsi dari masyarakat. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan internal atapun eksternal. Tema inilah yang paling banyak tidak dicermati mahasiswa sebagai tema dalam penelitian ilmu Hubungan Internasional padahal banyak bidang yang bisa dikaji, misalkan kebudayaan masyarakat setempat ataupun perbedaan kelembagaan negara yang mempengaruhi dalam perilaku berpolitik.

Ke semua bagian dalam sistem politik akan seperti yang diuraikan di atas dapat menjadi dasar kegiatan politik apa yang anda angkat sebagai judul skripsi ilmu Hubungan Internasional. Hal ini akan membantu anda dalam menentukan kegiatan politik mana yang akan dijadikan sebagai dasar judul dalam kajian ilmu Hubungan Internasional.

3. Menentukan Tingkatan Analisa

Langkah berikutnya adalah menentukan tingkatan analisa. Untuk langkah ini maka kita dapat membagi berdasarkan tingkatan mana yang paling mempengaruhi dan dipengaruhi dari kebijakan tersebut. Untuk itu, tingkatan analisa menurut Mohtar Masoed umumnya dibagi menjadi tingkatan aktor, kelompok kepentingan dalam masyarakat, negara bangsa dan organisasi supranasional. Hal ini berarti anda tidak bisa terlepas dalam penjelasan di point nomor 1. Kalau anda bicara mengenai kegiatan politik pada wilayah input maka anda meletakkan dasar analisa pada tingkatan di mana paling mempengaruhi kebijakan tersebut. Misalkan kasus kebijakan yang dikeluarkan Hugo Chavez dalam misi Bolivarian di negara Venezuela maka ditimbulkan oleh adanya penggolongan kelas bawah dan atas, maka bila anda menganalisa mengapa kebijakan misi Bolivarian dikeluarkan oleh Hugo Chavez maka anda akan meletakkan analisa masyarakat kelas bawah di Venezuela. Lain halnya jika anda bicara mengenai kaum wanita yang berperan dalam kebangkitan kaum reformis di Iran maka anda cukup meletakkan dasar analisa hanya pada satu kelompok saja, tidak pada keseluruhan masyarakat.
Sedangkan kalau anda meletakkan analisa pada wilayah kegiatan output maka anda meletakkan dasar analisa pada tingkatan mana yang paling dipengaruhi kebijakan tersebut. Kita ambil contoh yang sama yaitu kebijakan dalam misi Bolivarian ternyata paling berpengaruh terhadap kalangan menengah ke atas yang dahulunya menjadi kaum elite politik dan memegang pengelolaan minyak bumi yang selama ini menjadi sumber penghasilan negara. Maka apabila anda menganalisa pengaruh kebijakan misi Bolivarian, anda akan meletakkan tingkat analisa pada kelas atas masyarakat Venezuela.

Selasa, 10 Juni 2008

TIPS DAN TRIK :MENENTUKAN JUDUL SKRIPSI HUBUNGAN INTERNASIONAL


Seringkali, selama saya menjadi konsultan jurusan Ilmu Hubungan Internasional menemukan banyak mahasiswa yang kesulitan dalam menentukan tema penelitian. Atau kadang kala menentukan sampai seberapa besar cakupan analisa. Hal ini sangat penting karena dengan menentukan tema atau judul yang sesuai dengan tingkatan analisa tepat maka anda akan lebih mudah menentukan rumusan masalah dan pembatasan penelitian. Jadi, sebenarnya untuk menentukan judul dalam ilmu Hubungan Internasional tidaklah sesulit yang mahasiswa bayangkan.
Berikut merupakan langkah yang harus anda lakukan ketika memilih tema atau judul kajian ilmu Hubungan Internasional
A.Bagaimana untuk mendapatkan judul yang sesuai dalam ilmu Hubungan Politik.
Untuk mendapatkan judul atau tema skripsi ilmu Hubungan Internasional maka saya sarankan anda harus membaca banyak referensi. Banyak referensi, tidak berarti tidak harus bersumber pada buku-buku atau jurnal yang membahas ilmu politik. Saya seringkali menemukan judul ilmu Hubungan Internasional yang kemudian saya angkat menjadi skripsi ketika membaca majalah-majalah seperti National Geography atau bahkan majalah wanita seperti Femina. Anda harus menyadari bahwa ilmu politik seperti ilmu Hubungan Internasional, dan ilmu-ilmu lainnya mempunyai keterkaitan. Jadi bisa saja, artikel yang membahas lingkungan hidup namun juga mempunyai muatan ilmu politik kalau anda cukup teliti untuk menangkap ide ini. Jadi, jangan mengkotakkan diri anda dalam sebuah ilmu yang anda pelajari selama kuliah saja. Banyak membaca berarti anda memperluas wawasan anda.
Langkah kedua untuk mencari ide judul skripsi adalah sharing dengan teman, atau dosen anda. Percakapan dengan teman yang anda lewatkan di kantin ataupun ketika dosen menyampaikan materi kuliah, terus keluar ide dan anda menangkapnya. Jadilah sebuah judul skripsi.
Untuk penerimaan judul biasanya ditentukan dari kebaruan dan kesulitan mengenai objek yang diteliti
B. Menentukan Wilayah Perilaku berpolitik
Perlu diingat bahwa ilmu Hubungan Internasional adalah bagian dari ilmu Politik. Jadi untuk mencari kajian apa dan bagaimana ilmu Hubungan Internasional maka dapat dikembalikan dalam esensi dari ilmu Politik itu sendiri. Jadi tema atau judul dalam ilmu Hubungan Internasional dapat di dasarkan pada kajian-kajian wilayah ilmu Politik. Ilmu Politik sendiri bersumber dari kajian yang memahami bagaimana keputusan-keputusan atau kebijakan otoratif dan sah dibuat dan dilaksanakan dalam suatu masyarakat (David Easton, 1957). Baik input, output maupun lingkungan; ke semuanya membentuk sistem yang saling terkait dan saling mempengaruhi (Mohtar Mas’oed 2001)
Berdasarkan bagan diatas maka kita dapat meletakkan topik tersebut di dalam wilayah proses input, output (kebijakan), maupun lingkungan. Berikut merupakan berbagai contoh tema yang dapat diangkat dalam menganalisa Hubungan Internasional
1.Input
Bentuk input dalam ilmu politik dibedakan menjadi dua yaitu tuntutan dan dukungan. Input dalam tuntutan disebabkan adanya ketidakpuasan atas`pemenuhan kepentingan yang terjadi dalam masyarakat, dengan demikian timbulnya input berupa dukungan disebabkan oleh adanya kepuasaan atas kepentingan yang terjadi dalam masyarakat. Namun bisa jadi input dukungan tersebut merupakan upaya untuk melanggengkan pemenuhan kepentingan. Tuntutan maupun dukungan tersebut dapat upaya untuk mendapatkan atau melanggengkan posisi status, prestise dan kekuasaan dalam sebagian ataupun keseluruhan masyarakat .
2.Output
Output dalam suatu sistem politik secara khas disebut dengan kebijakan. Jadi secara meluas, tema yang dapat diangkat dalam wilayah output adalah jalannya pelaksanaan, keefektifan serta implikasi kebijakan tersebut dalam struktur masyarakat .
3.Lingkungan
Untuk menciptakan proses dimana sistem tersebut berjalan maka dibutuhkan adanya lingkungan. Lingkungan dalam ilmu politik merupakan suatu penggambaran secara sistematik dari setiap bagian masyarakat yaitu baik struktur maupun fungsi dari masyarakat. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan internal atapun eksternal. Tema inilah yang paling banyak tidak dicermati mahasiswa sebagai tema dalam penelitian ilmu Hubungan Internasional padahal banyak bidang yang bisa dikaji, misalkan kebudayaan masyarakat setempat ataupun perbedaan kelembagaan negara yang mempengaruhi dalam perilaku berpolitik.
Ke semua bagian dalam sistem politik akan seperti yang diuraikan di atas dapat menjadi dasar kegiatan politik apa yang anda angkat sebagai judul skripsi ilmu Hubungan Internasional. Hal ini akan membantu anda dalam menentukan kegiatan politik mana yang akan dijadikan sebagai dasar judul dalam kajian ilmu Hubungan Internasional.

C.Menentukan Tingkatan Analisa
Langkah berikutnyan adalah menentukan tingkatan analisa. Untuk langkah ini maka kita dapat membagi berdasarkan tingkatan mana yang paling mempengaruhi dan dipengaruhi dari kebijakan tersebut. Untuk itu, tingkatan analisa menurut Mohtar Masoed umumnya dibagi menjadi tingkatan aktor, kelompok kepentingan dalam masyarakat, negara bangsa dan organisasi supranasional. Hal ini berarti anda tidak bisa terlepas dalam penjelasan di point nomor 1. Kalau anda bicara mengenai kegiatan politik pada wilayah input maka anda meletakkan dasar analisa pada tingkatan di mana paling mempengaruhi kebijakan tersebut. Misalkan kasus kebijakan yang dikeluarkan Hugo Chavez dalam misi Bolivarian di negara Venezuela maka ditimbulkan oleh adanya penggolongan kelas bawah dan atas, maka bila anda menganalisa mengapa kebijakan misi Bolivarian dikeluarkan oleh Hugo Chavez maka anda akan meletakkan analisa masyarakat kelas bawah di Venezuela. Lain halnya jika anda bicara mengenai kaum wanita yang berperan dalam kebangkitan kaum reformis di Iran maka anda cukup meletakkan dasar analisa hanya pada satu kelompok saja, tidak pada keseluruhan masyarakat.
Sedangkan kalau anda meletakkan analisa pada wilayah kegiatan output maka anda meletakkan dasar analisa pada tingkatan mana yang paling dipengaruhi kebijakan tersebut. Kita ambil contoh yang sama yaitu kebijakan dalam misi Bolivarian ternyata paling berpengaruh terhadap kalangan menengah ke atas yang dahulunya menjadi kaum elite politik dan memegang pengelolaan minyak bumi yang selama ini menjadi sumber penghasilan negara. Maka apabila anda menganalisa pengaruh kebijakan misi Bolivarian, anda akan meletakkan tingkat analisa pada kelas atas masyarakat Venezuela.