Tampilkan postingan dengan label teknik sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknik sipil. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

.Penyebab - penyebab dari rework (skripsi dan tesis)


Secara lengkapnya faktor-faktor yang mempengaruhi rework ini dapat dilihat sebagai berikut:
1.      Faktor yang berkaitan dengan disain dan dokumentasinya.
Disain merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan yang sering mengakibatkan rework. Berikut adalah kesalahan dan perubahan yang dapat terjadi pada disain dandokumentasinya, beserta penjelasannya:
a.       Kesalahan disain
Kesalahan disain bisa terjadi jika arsitek, drafter, konsultan, ataupun kontraktor menggambarkan sesuatu kondisi / bagian dari proyek tidak sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya, yang pada akhirnya gambar itu telah diturunkan di lapangan dan dikerjakan. Hal ini akan menyebabkan komplain dari pihak pemilik yang akhirnya menghasilkan rework.
b.      Perubahan disain
Perubahan disain biasanya dilakukan untuk memenuhi permintaan dari salah satu konsumen,(Love et al, 2002) diantaranya adalah pemilik, dengan tujuan untuk memenuhi keinginan mereka atas misalnya: operasional dari fasilitas yang dibangun, atau untuk menjaga agar proyek tetap berada dalam jangkauan anggaran. Selain oleh pemilik sebenarnya perubahan disain dapat juga disebabkan oleh:
1)      Kontraktor – untuk meningkatkan constructability dari fasilitas.
2)      Suplier – untuk memungkinkan pemakaian produk yang sudah ada (standard) atau untuk memudahkan mobilisasi dari material baik ketika menuju proyek atauppun ketika didalam proyek.
3)      Desainer – untuk memenuhi modifikasi disain.
4)      Sub–kontraktor – untuk menghilangkan konflik dalam pengaturan pekerjaan.
Bagaimanapun juga perubahan tidak selalu mengakibatkan rework, disini yang dimaksudkan perubahan adalah perubahan yang tidak dimaksudkan. Jika muncul perubahan selama konstruksi, perubahan tersebut dapat menghasilkan rework atau perubahan manajerial tergantung dari keputusan manajerial (Park, 2003). Perubahan menyebabkan rework jika dilakukan upaya untuk mengikuti disain awal dan menghilangkan perubahan yang tejadi tadi, baik dengan mengadakan penambahan atau pengurangan. Sedangkan jika perubahan yang tidak dimaksudkan ini akhirnya diikuti dengan perubahan manajerial yang memutuskan mengubah disain awal mengikuti perubahan yang terjadi maka tidak terjadi rework meskipun pada akhirnya terjadi pengubahan ataupun pengurangan.
c.       Disain yang tidak jelas
Disain yang tidak jelas sering membuat mandor/pekerja mempunyai pengertian yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh disainer. Hal ini akhirnya mengakibatkan kesalahan yang menyebabkan rework, contohnya : pengaturan kembali servis karena bentrokan dari buruknya informasi yang diberikan dalam gambar. Disini rework dapat berupa klaim karena variasi jika secara langsung mempengaruhi jalannya proyek dan menyebabkan gangguan. (Love et al, 2002).
d.      Lack of constructability
Seringkali disain yang dikeluarkan tidak memperhatikan kemudahan pelaksanaan dilapangan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya rework karena oleh pekerja dilapangan akhirnya gambar tadi dikerjakan sebisanya dan akhirnya mengakibatkan terjadinya kesalahan yang bisa menyebabkan terjadinya rework. Hal ini serring disebabkan karena kurangnya pengetahuan disainer mengenai konstruksi. Banyak kasus dimana kontraktor mengeluh karena disain yang sulit atau bahkan mustahil untuk dikerjakan (Andi et al, 2003)
e.       Kurangnya pengetahuan terhadap karakter bahan
Dalam penggunaan bahan-bahan bangunan juga perlu diperhatikan karakteristik dari bahan yang dipakai. Karena kadang ada bahan yang tidak bisa dipakai secara bersamaan karena ketidakcocokan karaktersitik kedua bahan tersebut.
f.       Keadaan di gambar dan di lapangan tidak sesuai.
Hal ini sering diakibatkan kurangnya penyelidikan mengenai keadaan lapangan. Terutama sering terjadi pada pengerjaan pondasi.
g.      Buruknya koordinasi disain dan dokumentasi.
Dalam proyek sering ditemui adanya ketidakcocokan antara gambar struktur dan gambar arsitektur, selain itu juga koordinasi antara gambar konsrtuksi dan gambar dari bagian lain seperti bagian instalasi listrik maupun plumbing. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan dalam pengerjaan karena gambar-gambar tadi saling berbentrokan satu sama lain dalam pelaksanaannya.
Hal ini mengakibatkan perlunya dilakukan pembongkaran untuk memperbaiki kesalahan tadi agar dapat dibuat sesuai dengan keinginan gambar dan hal ini adalah termasuk rework.

2.      Faktor yang Berkaitan Dengan Manajerial
a.           Jadwal yang terlalu padat atau tekanan oleh waktu
Tekanan oleh waktu adalah salah satu dasar penyebab terjadinya kesalahan dan dikemukakan oleh Petroski (1985), Brown dan Xiaochen Yin (1988) dan Rollings and Rollings (1991). The Commission of Inquiry menemukan bahwa kebakaran di Semerland pada tahun 1974 (menyebabkan kematian lebih dari 50 orang) dan dituliskan oleh Turner (1978) waktu yang telah ditentukan dan tekanan pekerjaan untuk memenuhi awal musim wisata sebagai penyebab dari kesalahan itu. Hal ini juga berlaku dalam dunia konstruksi dimana pelaksanaan yang terburu-buru dapat menyebabkan terjadinya kesalahan yang dapat mengakibatkan terjadinya rework.
b.          Kurangnya kontrol dalam pekerjaan
Kurangnya pengontrolan oleh kontraktor dalam pengerjaan dapat mengakibatkan kualitas/hasil dari pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan harapan. Dalam hal ini bisa terjadi klaim dari owner dan akhirnya menimbulkan rework
c.           Kurangnya kerjasama antara pemilik, disainer, kontraktor, supplier dan pihak pihak lain yang terkait.
Masalah utama yang terdeteksi dalam fase disain ini adalah kecilnya interaksi antara disainer dan kontraktor dan diantara specialist (listrik, plumbing, AC dan lainnya), situasi ini memaksa fase berikutnya untuk berjalan dalam disain yang tidak lengkap. Konsekuensinya adalah solusi yang tidak optimal, lack of constructability, dan change order dalam jumlah besar (baik dalam disain dan rework) (Alarcon dan Mardones, 1998).
d.          Kurangnya informasi mengenai keadaan lapangan
Kurangnya informasi mengenai keadaan lapangan dapat menyebabkan pekerjaan terganggu dan bisa juga menimbulkan rework. Contohnya adalah ketika pemancangan pondasi tiang ternyata didalam tanah ada pondasi dari bangunan yang terdahulu, sehingga pemancangan gagal dan terjadilah rework karena harus mengulangi pemancangan ditempat tadi.
e.           Kurangnya antisipasi terhadap perubahan keadaan eksternal (alam).
Misalnya pada saat proses pengecoran tiba-tiba hujan dn pada saat itu tidak tersedia terpal untuk menutupi cor-coran sehingga menjadi rusak.
f.           Spesifikasi yang terkirim oleh supplier tidak sesuai
Jika bahan yang tidak sesuai dengan permintaan tadi terlanjur dipasang maka perlu dilakukan pembongkaran untuk memperbaikinya hal ini disebut rework.
g.          Pengiriman yang terlambat atau tidak tepat waktu
Misalnya pada proses pengecoran beton. 2 truk pengangkut telah tiba terlebih dahulu dan diadakan pengecoran, lalu truk berikutnya terlambat datang sehingga menyebabkan beton terlanjur setting. Hal ini akan membuat perlunya diadakan proses lebih lanjut untuk bisa melanjutkan pengecoran pada bagian yang belum selesai karena sebagian telah terlanjur setting.
h.          Jeleknya alur informasi baik formal ataupun informal (Atkinson, 1998)
Mengenai alur informasi contohnya adalah sebagai berikut: masalah dalam konstruksi West Gate Bridge, Victoria, Australia, yang mengakibatkan robohnya pada tahun 1976: ‘ tidak ada yang memberitahu (tim Konstruksi) bahwa komponen (box girder) tidak boleh dipaksa untuk tersambung. Bila mereka tidak bisa tersambung atau tidak cocok mereka harus dimodifikasi.
Konsultan tidak berusaha untuk memastikan bahwa kontraktor mengerti filosofi disain dan bahwa metode konstruksi yang lama tidak dapat digunakan. Mereka juga tidak memeriksa konstruksinya untuk melihat apakah telah dikerjakan dengan benar.

3.      Faktor yang berkaitan dengan sumber daya (resource)
a.       Kurangnya pengalaman dari pekerja
Pengalaman yang kurang biasanya menghasilkan pekerjaan yang kurang baik dan memerlukan perbaikan untuk mencapai kualitas yang diharapkan.
b.      Kurangnya pengetahuan pekerja
Pengetahuan pekerja yang kurang mengenai apa yang dikerjakannya dapat menyebabkan kesalahan dalam pekerjaannya, contoh: kurangnya pengetahuan mengenai pemakaian alat penggetar beton (digunakan untuk meratakan cor- coran) dapat menyebabkan kualitas beton yang dihasilkan jelek.
c.       Jumlah kerja lembur yang terlalu banyak
Dengan banyaknya jam kerja lembur akan mengakibatkan pekerja mengalami kelelahan. Kelelahan ini dapat menyebabkan kualitas pekerjaan seseorang berkurang dan akibatnya sering terjadi kesalahan dalam bekerja yang mengakibatkan rework. Dua laporan mengenai kegagalan balok pada sebuah bangunan lapangan terbang dari Engineering News Record (Korman, 1991a,b) mencatat faktor dari kerja yang berlebihan dan tekanan untuk memproduksi.
d.      Bekerja tidak sesuai prosedur
Pengerjaan yang tidak sesuai prosedur tentu saja akan menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang lebih buruk, dan hal ini seringkali memerlukan perbaikan untuk mencapai kualitas yang diharapkan.
e.       Pertimbangan yang salah dalam lokasi proyek
Seringkali jika dihadapkan pada situasi yang mendesak, misalnya karena jadwal yang padat, pekerja lapangan harus mengambil keputusan sendiri mengenai apa yang mereka kerjakan. Terkadang keputusan mereka itu salah dan mengakibatkan hasil yang berbeda dari keinginan disainer ataupun kontraktor.
f.       Kurangnya QA/QC
Pekerjaan yang kurang memperhatikan QA/ QC akan dapat mengakibatkan didapatnya hasil dengan kualitas yang tidak sesuai dengan keinginan sehingga perlu diusahakan usaha lebih lanjut untuk memperbaiki kualitas dari hasil tadi agar tercapai hasil dengan kualitas yang diinginkan. Hal ini mengakibatkan terjadinya rework.
g.      Kurang memadainya perlengkapan ataupun peralatan
Demikianlah hal-hal yang merupakan penyebab terjadinya rework. Bagaimanapun juga dapat diketahui bahwa meskipun telah dikelompokkan menjadi 3 bagian, beberapa penyebab itu saling berhubungan. Sebuah penyebab yang termasuk salah satu kelompok dapat mengakibatkan terjadinya penyebab di kelompok yang lain. Hubungan ini disebabkan karena kompleksnya operasi konstruksi (Love et al,1997)














Definisi Rework (skripsi dan tesis)


Rework dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi pengerjaan ulang. Selanjutnya akan dipakai istilah rework. Rework sudah menjadi sebagian yang hampir tak terpisahkan dalam dunia konstruksi. Oleh karena itu maka banyak  peneliti yang mengadakan riset dan penelitian untuk mengetahui apa sebenarnya rework itu. Para peneliti itu mendefinisikan rework menurut pandangan dan pendapat mereka masing–masing. Diantaranya definisi rework menurut mereka adalah sebagai berikut :
CIDA (1995) mendefinisikan rework sebagai ”Mengerjakan sesuatu paling tidak satu kali lebih banyak, yang disebabkan oleh ketidak cocokkan dengan permintaan”.
Menurut Love et al (1999a) rework adalah ”efek yang tidak perlu dari mengerjakan ulang suatu proses atau aktivitas yang diimplementasikan secara tidak tepat pada awalnya dan dapat ditimbulkan oleh kesalahan ataupun adanya variasi”
Menurut CII (Construction Industry Institute oleh tim penelitinya, Cause and Effect of Field Rework Research Team 153, 2000) rework adalah ”melakukan pekerjaan dilapangan lebih dari sekali ataupun aktivitas yang memindahkan pekerjaan yang telah dilaukkan sebelumnya sebagai bagian dari proyek”.
COAA (Construction Owner Association of Alberta, 2002) mendifinisikan ”rework sebagai total biaya di lapangan yang dikeluarkan selain daripada biaya dan sumber daya awal”.
Fayek et al (2002) mendefinisikan rework sebagai ”aktivitas dilapangan yang harus dikerjakan lebih dari sekali, atau aktivitas yang menghilangkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya sebagai bagian dari proyek diluar sumber daya, dimana tidak ada change order yang dikeluarkan dan change of scope yang diidentifikasi”. Definisi ini menggabungkan definisi dari CII dan COAA.
Bagaimanapun juga pengertian tersebut masih kurang jelas sehingga perlu diberikan batasan - batasan mengenai mana yang termasuk rework dan mana yang tidak termasuk rework. Berikut ini adalah contoh beberapa hal yang tidak termasuk rework adalah : (COAA, 2002):
1.      Perubahan scope pekerjaan mula–mula.
Misalnya : sebuah balok beton memiliki permukaan yang tidak rata, jika permukaan yang tidak rata tadi dihilangkan/ dikikis maka hal ini akan tergolong rework, tetapi jika balok tadi ditambah tebalnya untuk menjadikan rata permukaan tadi maka akan tergolong sebagai perubahan dari scope pekerjaan mula-mula (change).
2.      Perubahan desain atau kesalahan yang tidak mempengaruhi pekerjaan di lapangan.
Misalnya: terjadi kesalahan / perubahan desain pada konstruksi atap, tetapi pada saat perubahan diberikan ke kontraktor dan sampai di pekerja lapangan, proyek belum berjalan sampai pembangunan atap. Bisa juga disebut sebagai perubahan yang belum terlambat.
3.      Penambahan ataupun penghilangan scope pekerjaan karena kesalahan disainer dan kontraktor. (meskipun rework termasuk biaya yang berhubungan dengan mengerjakan ulang suatu bagian pekerjaan yang termasuk tambahan atau scope yang hilang)
Misalnya : penambahan kolom ukir (bukan kolom struktur), hal ini dilakukan dengan menambah satu pekerjaan baru bukan memperbaiki atau mnghilangkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya.
4.      Kesalahan fabrikasi off-site yang dibetulkan off-site
Misalnya : tiang pancang yang dipesan ukurannya tidak sesuai dengan ukuran yang diminta, tetapi hal itu diketahui sebelumnya dan diperbaiki sebelum dipasang.
5.      Kesalahan off-site modular fabrication yang dibetulkan off-site
Keterangan : penjelasan sama dengan atas, hanya saja ini menyangkut hal yang lebih besar (modular), seperti bangunan minyak lepas pantai yang telah dibuat seluruhnya di pabrik.
6.      Kesalahan fabrikasi on - site tapi tidak mempengaruhi aktivitas di lapangan secara langsung (diperbaiki tanpa mengganggu jalannya aktivitas konstruksi).
Misalnya : pengerjaan konstruksi atap baja yang dilakukan didalam lokasi proyek tetapi sebelum dipasang telah diketahui adanya kesalahan sehingga dapat segera diperbaiki sebelum dipasang dalam bangunan, dalam hal ini aktivitas pengerjaan konstruksi tidak terhambat.
Dengan banyaknya pengertian yang diberikan oleh para pakar tersebut maka untuk penelitian ini diambil satu pengertian yang dirasa tepat, yaitu yang menyatakan bahwa rework adalah : aktivitas dilapangan yang harus dikerjakan lebih dari sekali, atau aktivitas yang menghilangkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya sebagai bagian dari proyek diluar sumber daya, dimana tidak ada change order yang dikeluarkan. Pengertian / definisi dirasa paling tepat karena menyertakan pengecualian bagi terjadinya rework, yaitu jika terjadi change order atau bisa juga disebut sebagai change in managerial maka meskipun terjadi pengerjaan bagian yang sama lebih dari satu kali maka tidak akan digolongkan sebagai rework.


Karyawan proyek konstruksi (skripsi dan tesis)


Setiap kegiatan perlu diorganisasikan, yang berarti bahwa kegiatan tersebut harus disiapkan, disusun dan dialokasikan serta dilaksanakan oleh para unsur organisasi tersebut sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efisien dan efektif. Proses ini meliputi perincian pekerjaan, pembagian pekerjaan dan koordinasi pekerjaan yang terjadi dalam suatu lingkup dan struktur tertentu. Soekanto (2003).
Karyawan proyek konstruksi adalah orang atau tenaga kerja yang terlibat di dalam proyek konstruksi untuk melakukan keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapanya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lainya.
Karyawan proyek konstruksi atau tenaga kerja dapat di jelaskan sebagai berikut (Coory, 2009):
1.      tenaga ahli, yaitu tenaga kerja yang berlatar belakang pendidikan universitas atau akademi yang berpengalaman sesuai dengan bidangnya,
2.      tenaga menengah, yaitu tenaga kerja yang berlatar belakang pendidikan STM untuk mengurusi masalah teknik dan pengawasan,
3.      tenaga borong atau mandor, yaitu tenaga kerja yang bertanggung jawab atas pekerjaan dan menangani pekerjaan-pekerjaan yang spesifik. Tenaga borongan atau mandor dituntut memiliki pengetahuan teknis dalam taraf tertentu, misalnya dapat membaca gambar-gambar konstruksi, dapat membuat hitungan-hitungan ringan dan dapat membedakan kualitas bahan bangunan yang akan digunakan,
4.      tenaga tukang, yaitu tenaga kerja yang ahli dalam bidangnya berdasarkan pengalaman serta cara kerja yang sederhana,
5.      tenaga kasar, yaiu tenaga kerja yang bekerja mengandalkan kondisi fisik yang kuat dan sehat serta tanpa berbekalkan keahlian tertentu. Tenaga kasar bertanggung jawab kepada mador.

Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)


Pengertian suatu proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber daya untuk mendapatkan manfaat. Kegiatan-kegiatan berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan proyek dapat berbentuk barang-barang modal, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu. Sumber daya tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang atau jasa, konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang (Imam soeharto, 1999). Dari pengertian di atas, proyek mempunyai ciri-ciri:
a.       memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir,
b.      jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses       pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan,
c.       bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya  tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas, dan
d.      tidak berulang, macam dan intensitas kegiatan berubah atau tidak  sama.
Proyek konstruksi memiliki karakteristik unik yang tidak berulang pada proyek lainnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi yang mempengaruhi proses suatu proyek konstruksi berbeda satu sama lain. Misalnya kondisi alam seperti perbedaan letak geografis, hujan, gempa dan keadaan tanah merupakan faktor yang turut mempengaruhi keunikan proyek konstruksi (Ervianto, 2004). Intinya dalam setiap proyek apapun terdapat empat elemen esensial yaitu kerangka waktu tertentu, suatu pendekatan yang teratur terhadap kegiatan-kegiatan yang saling bergantung, hasil yang diinginkan dan karakteristik-karakteristik unik (Davidson, 2002).

Sabtu, 11 Februari 2017

Pelayanan Sosial Infrastruktur Jalan (skripsi dan tesis)


Fasilitas infrastruktur salah satunya berfungsi melayani berbagai kepentingan umum. Kebutuhan prasarana merupakan pilihan (preference), dimana tidak ada standar umum untuk menentukan berapa besarnya fasilitas yang tepat di suatu daerah atau populasi. Edwin (1998) menguraikan prasarana umum untuk pelayanan meliputi kategori-kategori sebagai berikut:
a.    Pendidikan, berupa Sekolah Dasar, SMP, SMA dan perpustakaan umum.
b.    Kesehatan, berupa rumah sakit, rumah perawatan, fasilitas pemeriksaan oleh dokter keliling, fasilitas perawatan gigi dengan mobil keliling, fasilitas kesehatan mental dengan mobil keliling, rumah yatim piatu, perawatan penderita gangguan emosi, perawatan pecandu alkohol dan obat bius, perawatan penderita cacat fisik dan mental, rumah buta dan tuli, serta mobil ambulans.
c.    Transportasi, berupa jaringan rel kereta api, bandar udara dan fasilitas yang berkaitan, jalan raya dan jembatan di dalam kota dan antar kota serta terminal penumpang.
d.    Kehakiman, berupa fasilitas penegakan hukum dan penjara.
e.    Rekreasi, berupa fasilitas rekreasi masyarakat dan olahraga.
Sedangkan World Bank (1994) membagi infrastruktur menjadi tiga komponen utama, yaitu:
a.    Infrastruktur ekonomi, merupakan infrastruktur fisik yang diperlukan untuk menunjang aktivitas ekonomi, meliputi public utilities (tenaga listrik, telekomunikasi, air, sanitasi, gas), public work (jalan, bendungan, kanal, irigasi dan drainase) dan sektor transportasi (jalan, rel, pelabuhan, lapangan terbang dan sebagainya).
b.    Infrastruktur sosial, meliputi pendidikan, kesehatan, perumahan dan rekreasi.
c.    Infrastruktur administrasi, meliputi penegakan hukum, kontrol administrasi dan koordinasi.
Infrastruktur jalan memberikan layanan berupa akses terhadap infrastruktur lainnya termasuk infrastrukutr sosial seperti infrastruktur pendidikan dan infrastruktur kesehatan. Semakin besar akses yang diberikan, maka semakin tinggi juga tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh infrastruktur pendidikan dan infrastruktur kesehatan yang pada akhirnya mengurangi kesenjangan pendidikan dan kesehatan antar wilayah.
Keterbatasan akses layanan pendidikan dan kesehatan di daerah yang terpencil dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya kondisi geografis wilayah yang spesifik, aksesibilitas pendidikan, aksesibilitas spasial dan infrastruktur wilayah. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Rustiadi, et al (2001) bahwa faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan antar wilayah adalah : (1) geografi; (2) sejarah; (3) politik; (4) kebijakan pemerintah; (5) administrasi; (6) sosial budaya; dan (7) ekonomi.
Aksesibilitas spasial merupakan faktor penentu dalam pembangunan daerah terpencil. Adapun bentuk kesuksesan program yang dirancang untuk memperbaiki kondisi kehidupan penduduk daerah terpencil akan sangat tergantung pada akses yang dimiliki terhadap berbagai fasilitas dan barang. Salah satunya adalah pemenuhan infrastruktur. Infrastruktur merujuk pada sistem fisik seperti jalan, jembatan, jaringan listrik, alat transportasi, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik yang lain, harus tersedia bukan hanya di daerah perkotaan terlebih di daerah perdesaan sangatlah diperlukan guna terpenuhinya kebutuhan dasar manusia baik dalam lingkup sosial, ekonomi dan lainnya. Adanya aksesibilitas ini diharapkan dapat mengatasi beberapa hambatan mobilitas, baik berhubungan dengan mobilitas fisik (Kartono, 2001). Mobilitas fisik misalnya kemudahan dalam memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan.

Klasifikasi Jalan (skripsi dan tesis)

Dalam Undang-undang RI No.38(2004), jalan dapat diklasifikasi yaitu:
a.      Klasifikasi jalan menurut peran dan fungsi
Klasifikasi jalan umum menurut peran dan fungsinya terdiri atas:
1)     Jalan arteri
1.1)     Jalan arteri primer: ruas jalan yang menghubungkan antar kota jenjang kesatu yang berdampingan atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua.
Persyaratan yang harus dipenuhi adalah
a)        Kecepatan rencana > 60 km/jam.
b)        Lebar badan jalan > 8,0 meter.
c)        Kapasitas jalan lebih besar dari volume lalu-lintas rata-rata.
d)        Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan dapat tercapai.
e)        Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal
f)         Jalan primer tidak terputus walaupun memasuki kota
1.2)     Jalan arteri sekunder: ruas jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder lainnya atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.
Persyaratan yang harus dipenuhi adalah
a)     Kecepatan rencana > 30 km/jam
b)     Lebar jalan > 8,0 meter
c)     Kapasitas jalan lebih besar atau sama dari volume lalu-lintas rata-rata
d)     Tidak boleh diganggu oleh lalu-lintas lambat
2)     Jalan kolektor.
2.1)  Jalan kolektor primer: ruas jalan menghubungkan antar kota kedua dengan kota jenjang kedua, atau kota jenjang kesatu dengan jenjang ketiga.
Persyaratan yang harus dipenuhi adalah
a)     Kecepatan rencana > 40 km/jam
b)     Lebar badan jalan > 7,0 meter
c)     Kapasitas jalan lebih besar atau sama dengan volume lalu-lintas rata-rata.
d)     Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan tidak terganggu.
e)     Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu-lintas lokal.
f)      Jalan kolektor primer tidak terputus walaupun memasuki daerah kota.
2.2)  Jalan kolektor sekunder: ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder lainnya atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawsan sekunder ketiga.
Persyaratan yang harus dipenuhi adalah
a)      Kecepatan rencana > 20 km/jam
b)      Lebar jalan > 7,0 meter
3)     Jalan lokal
3.1)    Jalan lokal primer: ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil, kota jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga lainnya, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang di bawahnya.
Persyaratan yang harus dipenuhi adalah
a)      Kecepatan rencana > 20 km/jam.
b)      Lebar badan jalan > 6,0 meter.
c)      Jalan lokal primer tidak terputus walaupun memasuki desa.
3.2)    Jalan lokal sekunder: ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, atau kawasan sekunder kedua dengan perumahan, atau kawasan sekunder ketiga dan seterusnya dengan perumahan.
Persyaratan yang harus dipenuhi adalah
a)      Kecepatan rencana > 10 km/jam
b)      Lebar jalan > 5,0 meter
4)     Jalan lingkungan
Jalan lingkungan adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri-ciri, sebagai berikut :
a)      Perjalanan jarak dekat
b)      Kecepatan rata-rata rendah
b.  Klasifikasi Jalan Menurut Wewenang
Klasifikasi jalan menurut wewenangnya terdiri atas:
1)    Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
2)    Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
3)    Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi, yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
4)    Jalan kota merupakan jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota
5)    Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.