Tampilkan postingan dengan label skala psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skala psikologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juni 2017

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RELIABILITAS (skripsi dan tesis)



Ada beberapa faktor yang mempengaruhi realibilitas. Faktor tersebut dapat dikategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi secara langsung dan secara tidak langsung. Faktor-faktor tersebut yaitu:
1.       Panjang tes dan kualitas butir-butir instrumen. Instrumen yang terdiri dari banyak butir tentu lebih reliabel dibandingkan denganisntrumenyang hanya terdiri dari beberapa butir. Jika panjang instrumen ditambah denganbutir-butir yang baik maka semakin panjang suatu instrumen maka responden akanterlalu lelah mengerjakannya. Faktor kelelahan responden ini akan menurunkan realibilitas.
2.       Kondisi penyelenggaraan pengumpulan data atau adminstrasi
a.       Sebagai contoh padapelaksanaan res, petunjuk yang diberikan sebelum tes mulai dan petunjuk ni disajikan dengan jelas, penyelenggaraan tes akan berjalan dengan lancar dan tidak akan banyak terdapat pertanyaan arau komentar dari responden. Hal ini akan menjamin pelaksnaan tes yang berjalan tertib dan teang sehingga skor yang diperoleh lebih reliabel
b.      Pengawas yan tertib akan mempengaruhi skor hasil pemerolehan responden. Pengawasan yang terlalu ketat ketika pengumpulan data menyebabkan respoden merasa kurang nyaman atau merasa taut dan tidak dapat dengan leluasa dalam merespon instrumen. Namun jika pengawasan kurang maka peserta akan bekerjasama sehingga hasil pengumpulan data kurang dapat dipercaya.
c.       Suasana lingkungan dan tempat pengumpulan data (tempat duduk yang tidak teratur, suasana disekelililngnya yang gaduh, atau tidak tenang, dan sebagainya) akan mempengaruhi realibilitas. Sebagai contoh pada pelaksanaan tes, suasana yang panas dan dekat dengan sumber kegaduhan akan mempengaruhi hasil tes.


Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta












KESALAHAN PENGUKURAN STANDAR (Standard error of measurenment, SEM) (skripsi dan tesis)



Kesalahan baku pengukuran (Standard error of measurenment) dapat digunakna untukmemahami kesalahan yang bersifat acak/random yang mempengaruhi skor responden dalam merespon instrumen. Kesalahan pengukuran yang disimbolkan dengan σE. Penafsiran SEM dilakuakn karena tidak adanya prosedur penilaian yang sangat konsisten, interprestasi skor dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan ukuran kemungkinan kesalahan pengukuran. Interprestasi SEM digunakan untuk memprediksikan rentang skor sebenarnya yang diperoleh dari responden.

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

KONSISTENSI REALIBILITAS INTERNAL (skripsi dan tesis)



Dengan teknik konsistensi internal ini, hanya dengan melakukan satu kali pengumpulan data, realibilitas skor perangkat pengukuran dapat diestimasi. Pada pembuktian instrumen dengan cara ini ada beberapa caar, yang masing-masing dapat memerlukan  persyaratan-persyaratan atau asumsi tertentu yangharus dipenuhi oleh peneliti. Beberapa caara yang dapat digunakan untuk mengestimasi realibilitas dengan konsistensi internal diantaranya adlah sebgai berikut:
1.       Metode belah dua (split half method)
Dalam teknik belah dua, dalam satu instrumen dikerjakan satu kali oleh sejumlah subjek (sampel) suatu penelitian. Butir-butir pada perangkat dibagi menjadi dua. Pembagian dapat menggunakan nomor ganjil-genap pada instrumen atau separuh pertama maupun separuh ke dua, maupun membelah dengan menggunakan nomor acak atau tanpa pola tertentu. Skor responden merespon setengah perangkat bagian yang pertama dikrelasikan dengan skor setengah perangkat ke dua, teknik ini berpegang pada asumsi, belahan pertama dan belahan ke dua mengukur konstruk yang sama, banyaknya butir dalam instrumen belahan pertama dan kedua harus dapat dibandingkan dari sisi banyaknya butir atau paling tidak jumlahnya hampir sama
Ada  beberapa formula untuk mengestimasi realibilitas dengan metode belah dua, antara lain rumus Spearman-Brown, rumus Flanagan dan rumus Rulon.
2.       Realibilitas Komposit
Pada suatu instrumen, sering peneliti menggunakan instrumen yang terdiri dari banyak butir. Jika butir-butir ini menggunakan butir yang berbeda-beda namun membangun sutau kosntruk yang sama, maka analisis untukmengestimasi realibilitas dapat digunakan rumus realibilitas komposit. Komposit yang dimaksudkan yakni skor akhir merupakan gabungan dari skor butir-butir penyusun instrumen. Ada 3 formula yang dapat digunakan untuk mengestimasi realibilitas dengancara ini yaitu dengan menghitung koefisien dari cronbach, koefisien KR-20 dan koefisien KR-21.
3.       Realibilitas konstruk
Realibilitas konstruk ini dapat diestimasi setelah peneliti membuktikan validitas konstruk dengan analisis faktor konfirmatori sampai memperoleh model yang cocok (model yang fit). Dengana nalisis faktor ini, peneliti dapat memperoleh muatan faktor (factor loading) tiap indikator yang menyusun instrumen dan indeks kesalahan unik dari tiap indikator.
Estimasi realibilitas dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu estimasi realibilitas dengan realibilitas konstruk (construct realibilitity, CR) realibilitas ω dan realibilitas maksimal Ω.
4.       Realibilitas Inter-Rater
Jika dalam suatu isntrumen penskoran butir dilakukan dengan memanfaatkan dua orang rater, peneliti dapat megestimasi realibilitas dengan inter-rater agreement. Hasil estimasi realibilitas dengan cara ini disebut dengan realibilitas inter-rater. Adapaun cara mengestimasinya dengan menghitung terlebih dahulu banyaknya butir atau kasus yang cocok atau butir  atau kasus yang iskor sama dengan kedua rater. Banyaknyabutir yang cocok ini kemudian dibandingkan dengan butir total kemudian disajikan dalam persentase
5.       Realibilitas dengan teori generalizabilities
Teori generalisabilitas terkait dengan 2 hal yaitu generalizability (G) study dan decision (D) study. Peneliti yang melakukan G studi mengutaamakan generalisasi dari suatu sampel pengukuran ke keseluruhan pengukuran. Studi tentang stabilitas respons atara waktu, equivalensi skor dari 2 atau lebih instrumen yang berbeda, hubungan antara skor kemampuan dengan skor butir terkait dengan G study. Pada D study. Data dikumpulkan untuk tujuan khusus terkait dengan mebuat keputusan. Studi ini menyediakan data mendeskripsikan peserta tes baik seleksi atau penempatan, maupun menyelidiki hubungan 2 variabel atau lebih (Crocker & Algina, 2008). Sebagai contoh, pada suatu tes seleksi panitia akan menggunakan dua penilai atau lebih perlu diperisa terlebih dahulu efisiensinya. Untuk hal tersebut, perlu dilakukan D study.
Koefisien realibilitas dalam teori ini disebut dengan kofisien generalizability. Dalam mengestimasi koefisien generalizability, ada bebrapa desain termasuk banyaknya bentuk tes, kesempatan melakukan tes atau administrasi tes, banyaknya rater yang disebut dengan facet. Banyaknya variabel yang digunakan  menentukan banyaknya facet. Desain yang dapat dipilih misalnya desain facet tunggal (single facet design) dan facet ganda.


Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

KONSISTENSI RELIABILITAS EKSTERNAL (skripsi dan tesis)


Estimasi realibilitas eksternal diperolah dengan menggunakan skor hasi pengukuranyang berbeda baik dari instrumen yang berbeda maupun sama. Ada dua cara untuk mengestimasi reliabilitas eksternal suatu intrumen yaitu dengan teknik pengukuranulang (tes-retest method) dan teknik paralel
1.       Metode tes ulang (tes-retest method)
Untukmengetahui keterahandalan atau realibilitas skor hasil pengukuran, pengukuran perlu dilakukan dua kali. Pengukuran pertama dan pengukuran kedua atau ulangannya. Kedua pengukuran ini dapat dilakukan oleh orang yang sama tau berbeda, namun ada proses oengukuran yang kedua, keadaan yang diukur itu harus benar-benar berada pada kondisi yang sama dengan pengukuran pertama. Selanjutnya hasil pengukuran yang pertama dan yang ke dua dikorelasikan dan hasilnya menunjukkan realibilitas skor perangkat pengukuran.
Teknik tes-retest method ini dapat disesuaikan dengan tujuannya jika keadaan subjek yang dukur tetap dan tidak mengalami perubahan pada saat pengukuran yang pertama maupun pada pengukuran yang kedua. Pada dasarnya keadaan respondentu selalu berkembang, tidak statis ataupun berubah-ubah., maka sebenarnya teknik ini kurang teat digunakan. Di samping itu pada pengukuran yang kedua akan terjadi adanya carry-over effect atau testing efect, reponden pengukuran atau penelitian telah mendapat tambaan pengetahuan karena sudah mengalami tes yang pertama ataupun belajar setelah pengukuranyan pertama
2.       Metode Bentuk Paralel
Teknik kedua untuk mengestimasi realibilitas secara eksternal dengan metode bentuk paralel. Pada teknik ini , diperlukan dua instrumen yang dikatakan paralel untuk mengestimasi koefisien realibilitas. Dua buahtes dikatakan paralel atau equivalent adalah dua buah isntrumen yang mempunyai kesamaan tujuan dalam pengukuran, tingkat kesukaran dan susunan yang sama, namun butir soalnya berbeda atau dikenal dengan istilah alternate forms method atau paralele forms.
Dengan metode bentuk paralel ini , dua buah isntrumen yang paralel, misalnya instrumen paket A akandiestimasi realibilitasnya dan instrumen paket B merupakan isntrumen yang paralel denganpaket A, keduanya diberikan kepada kelompok responden yang sama, kemudian ke dua skor tersebut dikorelasikan. Koefisien korelasi dari kedua skor respoden terhadap instrumen inilah yang menunjukkan koefisien realibilitas skor instrumen paket A. Jika koefisien realibilitasnya skor instrumen tinggi maka perangkar tersebut dikatakan reliabel dapat digunakan sebagai instrumen pengukur suatu konstruk yang terandalkan.  

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

PENGERTIAN RELIABILITAS (skripsi dan tesis)




Pada suatu instrumen yang digunakan untuk mengumbulkan data, realibilitas skor hasiltes merupakan informasi yang diperlukan dalam pengembangan tes. Realibilitas merupakan derajat keajegan (consistency) di anata dua skor hasil pengukuran pada objek yang sama, meskipun menggunakan alat pengukur yang berbeda dan skala yang berbeda (Mehrens,&Lehmann, 1973; Reynold, Livingstone &Wilson, 2010).
Allen dan Yen (1979) menyatakan bahwa tes dikatakan reliabel jika skor amatan mempunyai korelasi yang tinggi dengan skor yang sebenarny. Selanjutnya dinyatakan bahwa realibilitas merupakan koefesioen korelasi antara dua skor amatan yang diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan tes yang paralel. Dengan demikian, pengertian yang dapat diperoleh dari pernyataan tersebut adalah suatu tes itu reliabel jka hasil pengukuran mendekati keadaan peserta tes yang sebenarnya.
Koefisien realibilitas dapadiartikan sebagai koefisien keajegan atau kestabilan hasil pengukuran. Alat ukur yang reliabel akan memberikan hasil pengukuran yang stabil (Lawrence, 1994) dan konsisten (Mehrens,&Lehmann, 1973). Artinya suatu alat ukur dikatakan memiliki koefisien realibilitas tinggi manakala digunakan untuk mengukur hal yang sama pada waktu yang berbeda hasilnya sama atau mendekati sama. Dalam hal ini, realibilitas merupakan sifat dari sekumpulan skor (Frisbie, 2005).

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta






















LANGKAH DALAM MEMBUKTIKAN VALIDITAS ISI (skripsi dan tesis)


1.       Memberikan kisi-kisi dari butir instrumen, berikut rubrik penskorannya jika ada kepada beberapa ahli yang seseuai dengan bidang yang diteliti untuk memohon masukan. Banyaknya ahli yang dimohon untuk memberi masukan paling tidak 3 orang ahli dngan kepakaran yang relevan dengan bidang yang diteliti
2.       Masukan yang diharapkan dari ahli berupa kesesuaian komponen instrumen dengan indikator, indikator dengan butir, substansi butir, kejelasan kalimat dalam butir, jika merupakan tes maka pertanyaannya harus ada jawabannya/luncinya, kalimat tidak membingungkan, format tulisan, simbol dan gambar yang cukup jelas. Proses ini sering disebut dengan telaah kualitatif yang meliputi aspek substansi, bahasa dan budaya.
3.       Erdasarkan masukan ahli tersebut, kisi-kisi atau instrumen kemudian diperbaiki
4.       Meminta ahli untuk menilai validitas butir, berupa kesesuaian antara butir dengan indikator. Penilaian ni dapat dilakukan misalnya dengan skala likert (skor 1: tidak valid, skor 2: kurang valid, skor 3: cukup valid, skor 4: valid, skor 5: sangat valid).

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

TIPE-TIPE DALAM VALIDITAS (skripsi dan tesis)


Validitas itu dikelompokkan dalam tiga tipe yaitu
1.       Validitas kriteria
Validitas kriteria dibagi menjadi dua yaitu validitas prediktif dan validitas konkuren. Fernandes (1984) mengatakan validitas berdasarkan kriteria dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana tes memprediksi kemampuan peserta di masa mendatang (predictive validity) atau mengestimasi kemampuan dengan alat ukur lain dengan tenggang waktu yang hampir bersamaan (conncurent validity).
2.       Validitas isi
Validitas isi adalah suatu instrumen sejauh mana butr-butir dalam instrumen itu mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur dan sejauh mana butir-butir itu mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Sementara itu Lawrance (1994) menjleaskan bahwa validitas isi adalah keterwakilan pertanyaan terhadap kemampuan khusu yang harus diukur. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa validitas isi terkait dengan analisis rasional terhadap domain yang hendak diukur untuk mengetahui keterwakilan dengan kemampuan yang hendak diukur
3.       Validitas kontruks
Validitas konstruk adalah sejauh mana instrumen mengungkapkan suatu kemampuan atau konstruk teoritis yan hendak diukurnya (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Prosedur validitas konstruk diawali dari sutau identikasi dan batasan mengenai variabel yang hendak diukur dan dinyatakan dalam bentuk konstruk logis berdasarkan teori variabel tersebut. Dari teori ini ditarik suatu konsekuensi praktis mengenai hasil pengukuran pada kondisi tertentu dan konsekuensi inilah yang akan diuji. Apabila hasilnya sesuai dengan harapan maka instrumen itu dianggap memiliki validitas konstruk yang sesuai.

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

PENGERTIAN VALIDITAS INSTRUMEN (skripsi dan tesis)


Validitas suatu alat ukur merupakan sejauh mana alat ukur ini mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Nunnaly, 1978; Allen dan Yen, 1979; Kerlinger, 1986; Azwar, 2000). Sementara itu, Linn dan Gronlund (1995) menjelaskan validitas mengacu pada kecukupan dan kelayakan interprestasi yang dibuat dari penilaian, berkenaan dengan penggunaan khusus. Pendapat ini diperkuat oleh Messick (1998) bahwa validitas merupakan kebiajakn evaluatif yang terintegrasi tentang sejauh mana fakta empiris dan dan alasan teoritis mendukung kecukupan dan kesesuaian inferensi dan tindakan berdasarkan skor tes atau skor suatu instrumen

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Penelit, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN (skripsi dan tesis)


Untuk mengembangkan instrumen yang baik, ada langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah mengembangkan instrumen baik tes maupun non tes sebagai berikut:
1.       Menentukan tujuan penyusunan instrumen
Pada awal menyusun instrumen, perlu ditetapkan tujuan penyusunan instrumen. Tujuan penyusunan ini memandu teori untuk mengkonstruk instrumen, bentuk instrumen, penyekoran sekaligus pemaknaan hasil penyekoran pada instrumen yang akan dikembangkan. Tujuan penyusunan instrumen ini perlu disesuaikan dengan tujuan penelitian
2.       Menyusun butir instrumen
Setelah tujuan isntrumen ditetapkan selanjutnya perlu dicari teori atau cakupan materi yang relevan. Teori yang relevan diigunakan untuk membuat kosntruk, apa saja indikator suatu variabel yang akan diukur. Kaitannya dengan tes, perlu dibatasi juga cakupan materi apa saja yang menyusun tes. Sebagai contoh pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang akan diukur harus memiliki indikator pemecahan masalah )problem solving), kebaharuan, kreativitas dan lain-lain. Jika yang akan diukur anak SMP, cakupan materi apa saja yang akan diukur perlu menjadi bahan pertimbangan
3.       Menyusun indikator butir instrumen/soal
Indikator soal ditentukan berdasarkan kajian teori yang relevan oada instrumen non tes. Adapaun pada instrumen tes, selain mempertimbangkan kajian teori, perlu dipertimbangkan cakupan dan kedalaman materi. Inidikator dapat disusun menjadi butir instrumen. Biasanya aspek yangakan diukur dengan idnikatornya disusun menjadi suatu tabel. Tabe; tersebut kemudian disebut dengan kisi-kisi (blue print). Penyusunan kisi-kisi ini mempermudah peneliti menyusun butir soal
4.       Menyusun butir instrumen
Langkah selanjutnya adalah menyusn butir-butir instrumen. Penyusunan butir ini dilakukan dengan melihat indikator yang sudah disusun pada kisi-kisi. Pada penyusunan butir ini , peneliti perlu mempertimbangkan bentuknya. Misal untuk non tes akan menggunakan angket, angke jenis yang mana, menggunakan berapa skala, penskorannya dan analisa. Jika peneliti menggunakan instrumen berupa tes, perlu dipikirkan apakan akan menggunakan bentuk objektif atau menggunakan bentuk uraian (constructed response). Pada penyusunan butir ini, peneliti telah mempertimbangkan penskoran untuk tiap butir sehingga memudahkan analisis. Jika perlu, pedoman penskoran disusun setelah peneliti menyelesaikan penyusunan butir instrumen
5.       Validiasi isi
Setelah butir-butir soal tersusun, langkah selanjutnya adalah validasi. Validasi ini dilakukan dengan menyampaikan kisi-kisi, butir instrumen dan lembar diberikan kepada ahli untuk ditelaah secara kuantitatif maupun kualitatif. Tugas ahli adalah melihat kesesuaian indikator dengan tujuan pengembangan instrumen, kesesuaian instrumen dengan indikator butir, melihat kebenaran konsep butir, melihat ebernaran isi, kebenaran kuni (pada tes), bahasa dan budaya. Proses ini disebut dengan validai isi dengen mempertimbangkan penilaian ahli (expert judgment).
Jik validasi isi akan dikuantifikasi, peneliti dapat meminta ahlu mengisi lembar penilaian validasi. Paling tidak, ada 3 ahli yang dilibatkan untuk proses validasi instrumen penelitian. Berdasarkan isian 3 ahli, selanjutnya penelitian menghitung indeks kesepakatan ahli atau kesepakatan validator dengan menggunakan indeks Aiken atau indeks Gregory.
6.       Revisi berdasarkan masukan validator
Biasanya validator memberikan masukan. Masukan-masukan ini kemudian digunakan peneliti untuk merevisinya. Jika perlu, peneliti perlu mengkonsultasikan lagi hasil perbaikan tersebut, sehingga diperoleh instrumen yang benar-benar valid
7.       Melakukan uji coba kpada responden yang bersesuaian untuk memroleh data responden peserta
Setelah revisi, butir-butir instrumen kemudin disusun lengkap (dirakit) dan siap diujicobakan. Uji coba ini dilakukan dalam rangka memperoleh bukti secara empiris. Uji coba ini dilakukan kepada responden yang bersesuaian dengan subjek penelitian. Peneliti dapat pula menggunakan anggota populasi yang tidak menjadi anggota sampel.
8.       Melakukan analisis (realibilitas, tingkat kesulitan dan daya pembeda)
Setelah melakukan uji coba, peneliti memperoleh data respon peserta uji coba. Dengan menggunakan respons peserta, peneliti kemudian melakukan penskoran tiap butir. Selanjutnya hasil penskoran ini digunakan untuk melakukan analisis realibitas skor perangkat tes dan juga analisis kekteristik butir. Analisis karakteristik butir dapat dilakukan dengan pendekatan teori tes klasik maupun teori respon butir. Analisis pada kedua pendekatan ini akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.
9.       Merakit instrumen
Setelah karakteristik butir diketahui, peneiti dapat merakit ulang instrumen. Pemilihan butir-butir dalam merakit perangkat ini mempertimbangkan karakteritik tertnetu yang dikehendaki oleh peneliti, misalnya tingkat kesulitas butir. Setelah diberi instruksi pengerjaan, peneliti kemudian dapat mempergunakan inatrumen tersebut untuk mengumpulkan data penelitian.

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Penelit, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

Jumat, 26 September 2014

Judul Psikologi; Pengukuran Terapi Modifikasi Perilaku Kognitif

Pengukuran merupakan hal yang penting dalam modifikasi perilaku-kognitif. Pengukuran yang cermat perlu dilakukan sebelum, selama, dan setelah terapi (Hersen & Bellack, 1977). Melalui pengukuran akan diperoleh data yang berguna untuk melakukan identifikasi, klasifikasi, prediksi, spesifikasi, dan evaluasi. Terapis perlu mengidentifikasi faktor-faktor pada subjek yang dapat menjadi penghambat ataupun pendorong timbulnya perilaku subjek, aspek biologis, dan anatomis. Setelah informasi diperoleh, terapis dapat melakukan klasifikasi perilaku yang tidak adaptif, dan perilaku yang adaptif. Prediksi yang dilakukan terutama terkait dengan kontrol yang bersifat terapiutik untuk munculnya perilaku adaptif. Langkah selanjutnya adalah menentukan teknik serta tujuan yang ingin dicapai. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh efek pelatihan berpengaruh terhadap subjek.

Selasa, 12 Agustus 2014

Penulisan Aitem Skala Psikologi

Blue Print
Perbandingan proposional bobot aspek tersebut sedapat mungkin didasari oleh teori atau hasil analisis factor yang telah pernah dilakukan sebelumnya .Apabila tidak diperoleh laporan hasil analisis factor,maka pembobotan aspek keperilakuan dapat dikembalikan pada penilaian para ahli berdasarkan kepatutan akal (common sense) .Dalam banyak kasus ,bila tidak diperoleh alas an untuk menggangap adanya sebagian aspek yang lebih signifikan disbanding aspek lainya,maka perbandingan proposional aitem dibuat mengikuti saja perbandingan banyaknya indicator setiap aspek,atau dapat juga semua aspek diberi bobot sama.
Penyajian muatan atau bobot aspek secara proposiaonal dalam bentuk persentase dengan mudah dapat dieterjemahkan ke dalam bilangan yang menunjukan banyaknya aitem pada masing-masing aspek yang bersangkutan bilamana jumlah aitem secara keseluruhan telah ditetapkan oleh spesifikasi skala.
Bahkan tabel kisi-kisi dapat dibuat lebih mendetail dengan memuat proposi atau persentase aitem yang harus ditulis dalam arah favorable(favorable) dan aitem yang harus ditulis dalam arah unfavorable (tidak favorable) ,kecuali kalu sudah ditentukan lebih dahulu bahwa jumlah aitem favorable dan tidak favprabel dibuat kurang lebih sama banyak pada masing-masing indicator.
Aitem favorable dan Aitem tidak favorable
Aspek keperilakuan harus selalu dirumuskan dalam arah favorable (favorable) yaitu berisi konsep keperilakuan yang sesuai atau mendukung atribut yang diukur.Begitu pula halnya indicator keperilakuan harus selalu dirumuskan dalam kalimat favorable yaitu yang menggambarkan secara operasional perilaku yang mendukung cirri aspek keperilakuanya .Hal tersebut tidak berlaku dalam penulisan aitem.Aitem selain ditulis dalam arah favorable dapat juga ditulis dalam arah tidak favorable ,yaitu yang isinya bertentanggan atau tidak mendukung cirri perilaku yang dikehendaki oleh indicator keperilakuanya.
Aitem-aitem skala yang berupan pernyataan memang dapat ditulis dalam salah-satu dari kedua arah tersebut.Aitem ini disebut berarah favorable apabila isinya menggambarkan dukungan keberfihakan atau menunjukkan kesesuaian dengan deskripsi keperilakuan pada indikatornya(dalam beberapa bentuk skala,favorable berarti emndukung langsung atribut yang diukur).Sebagai contoh,dalam pengukuran Semangat Kerja maka aitem yang berbunyi.

Kaidah Penulisan Aitem
Untuk menghasilkan aitem dengan kualitas baik ,yaitu berfungsi selaras dan signifikan sebagai bagian dari skala serta mendukung validitas konstrak yang dibangun,maka aitem harus ditulis mengikuti indicator keperilakuan yang sudah dirumuskan dalam kisi-kisi dan berpedoman pada kaidah penulisan.
Beberapa diantaranya kaidah penting dalam penulisan yang perlu diperhatikan dan diikuti oleh penulis aitem adalah:
1.      Gunakan kata dan kalimat yang sederhana,jelas dan mudah dimengerti oleh responden namun tetap harus mengikuti tata tulis dan tata bahasa Indonesia yang baku.
Kalimat yang rumit hanya akan menyulitkan subjek dalam memahami maksud aitem.Subjek mudah salah paham dan akibatnya tentu saja jawaban yang ia berikan tidak akan memberikan gambaran yang benar mengenai dirinya.Kalimat yang sulit difahami dapat mengurangi minat dan kesungguhan subjek dalam menjawab.
Penggunaan Bahasa Indonesia baku adalah keharusan kecuali pada skala-skala yang ditunjukan khusus bagi budaya tertentu yang mengunakan bahasa daerah yang dipahami oleh subyek.
2.      Tulis aitem dengan berhati-hati sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda terhadap kata dan istilah yamg digunakan.
Hindari penggunaan istilah-istilah khusu yang dikenal hanya  dalam lingkungan terbatas.istilah yang tidak begitu populer mudah disalahartikan oleh responden.Berikut ini adalah contoh aitem yang berisi istilah yang dapat menimbulkan salah pengertian:
Saya akan menjadi pendengar yang baik,bila ada karyawan yang mengeluh.
Problem pada aitem di atas terletak pada makna istilah “pendengar yang baik” yang dapat bersifat tidak favorabel.Bila yang dimaksudkan sebagai pendengar yng baik adalah seseorang yang dapat menjadi tempat curahan dan memahami orang lain dengan penuh empati,tentu aitem tersebut termasuk aitem yang favorabel.sebaliknya bila yang dimaksud dengan pendengar yang baik adalah seseorang yang hanya mau mendengarkan tanpa perlu memberi komentar atau bersikap kritis ,sebagaiman istilah itu biasanya digunakan dalam pergaulan kelompok tertentu ,maka aitem tersebut menjadi bersifat tidak favorabel .Dengan demikian perbedaan respon akan menjadi tergantung perbedaan individual pada aspek yang diukur.
3.      Ingat bahwa aitem harus selalu mengacu pada indikator keperilakuan ,karena itu janggan menulis aitem yang langsung berkaitan dengan atribut yang diukur.
Berikut ini adalah salah satu aitem yang pernah ditulis oleh seseorang mahasiswa yang dimaksudkan guna mengungapkan atribut Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun:
Saya merasa cemas akan kesepian setelah pensiun       
Aitem seperti di atas ,apabila dijawab oleh subyek dengan respon positif seperti SESUAI atau YA mak harus langsung disimpulkan bahwa subyek merasa cemas ,begitu pula apabila diperoleh jawaban negatif TIDAK harus diartikan bahwa subyek tidak merasa cemas.Lalu apa guna aitem-aitem yang lain?inilah contoh aitem yang ditulis langsung dan tidak tepat untuk digunakan dalam skala.hendaknya dibuat aitem yang berupa suatu pernyataan tidak langsung mengenai kecemasan sebagai atribut yang diukur ,tetapi berupa pernyataan mengenai indikator keperilakuanya seperti:
Saya sulit untuk berkonsentrasi dengan pekerjaan bila mengingat masa pensiun sudah dekat.
Yang mengacu pada gangguan konsentrasi sebagai salah satu indikator kecemasan.Jawaban YA pada aitem ini tentu saja baru merupakan sebagian banyak dari indikasi kecemasan yang masih perlu didukung oleh jawaban terhadap aitem-aitem yang lainnya. Begitu pula jawaban TIDAK baru merupakan salah satu pertanda saja dari banyak indikasi tidak adanya kecemasan.
4.      Selalu perhatikan indikator perilaku apa yang hendak diungkap sehingga stimulus dan pilihan jawaban tepat relevan dengan tujuan pengukuran
Biasanya ketika penulis aitem telah mengahabiskan terlau banyak waktu   mengerahkan segenap kemampuan dan kreativitasnya dalam “menciptakan “aitem ,akan ada semacam kecenderungan untuk kehilangan  arah sehingga secara tidak sadar mulai menulis aitem-aitem yang sebenarnya kurang relevan dengan tujuan pengukuran.Penulisan aiem bukan pekerjaan yang dapat selesai dengan sekali duduk.Oleh karena itu janggan memaksakan diri bila mulai merasa lelah ,dan bila memusatkan pikiran pada aitem janggan pernah melepaskan perhatian pda indikator keperilakuan yang hendak diungkap.
5.      Cobalah menguji pilihan-pilihan jawaban yang yang telah ditulis .Adakah perbedaan arti dan makna antara dua pilihan yang berbeda sesuai dengan indikator keperilakuannya,apabila tidak ada beda makna yang jelas maka aitem yang bersangkutan tidak memiliki daya beda.
Fungsi aitem sebenarnya adalah membedakan individu pada aspek yang diukur berdasarkan responnya terhadap aitem tersebut.Perhatikan contoh aitem yang pernah ditulis untuk mengungapkan Semangat Kerja,berikut ini:
Pekerjaan saya menuntut berbagai macam kemampuan.
Dipandang dari segi tingginya semangat kerja yang hendak diungkap,apkah perbedaan individu yang menjawab YA dan yang menjawab TIDAK terhadap aitem di atas?Tidak ada,karena individu yang memiliki swemangat kerja tinggi dan individu yang tidak memiliki semngat kerja memiliki peluang yang sama besar untuk memiklih jawaban mana saja.Hal ini atau karena terjadi karena isi aitem yang tidak relevan denag tujuan ukur atau karena isi aitem lebih bersifat fakta atau dapat dianggap fakta sehingga jawaban subyek lebih ditentuka n faktor lain,bukan oleh faktor semangat kerjanya.Bandingkan denga aitem berikut:
Saya berangkat kerja dengan hati yang tidak mantap.
Yang jelas akan mampu memancing respon berbeda.Karena aitem ini bersifat tidak –favorabel maka subyek yang memilih jawaban YA berarti memiliki indikasi kurang bersemangat kerja sedangkan individu yang memilih jawaban TIDAK berarti meiliki pertanda semangat  yang tinggi.
6.      Perhatikan bahwa isi aitem tidak boleh mengandung social desirability yang tinggi yaitu aitem yang isinya sesuai dengan keingginan sosialnya umumnya atau tidak dianggap baik oleh norma sosial.Aitem yang bermuatan social desirability tinggicenderung akan disetujui atau didukung oleh semua orang semata-mata karena orang berfikir normatif bukan karena isi aitem iru sesuai dengan perasaan atau keadaan dirinya.
Sebagai contoh ,untuk pengukuran Asertivitas,suatu aitem ditulis sebagai berikut:
Seseorang menyalakan rokok dalam bis ber AC yang sedang anda tumpangi.
a)      Saya tegur dengan sopan dan baik-baik
b)      Saya tunjukkan bahwa saya sangat tergangu dan sanggat jengkel
Aitem di atas nampaknya banyak mengandung muatan  social desirability.pilihan a mencerminkan perilaku yang sanggat sesuai dengan norma sosial yang berlaku dalam masyarakatsehingga cenderung dipilih oleh responden,namun bukan disebabkan responden merasa isinya cocok denga dirinya tapi karena responden merasa harus melakukan sesuatu dengan cara “baik” dan normatif.Contoh lain adanya muatan social desirability dalam aitem adalah:
Meskipun untuk meningkatkan karier,saya tidak boleh berbuat curang kepada terhadap teman sekerja.
(STS)-(TS)-(N)-(S)-(SS)
Terhadap aitem yang seperti diatas ,tentu saja semua orang akan cenderung memilih jawaban positif (S atau SS) karena itulah bentuk jawaban normatif yang sesuai dengan yng dikehendaki masyarakat,sekalipun pada kenyataanya mungkin banyak diantara mereka yang memberikan jawaban positif itu sengaja atau tidak sengaja sering bertindak curang.
7.      Untuk menghindari stereotipe jawaban ,sebagian dari aitem perlu dibuatkan dalam arah favorabel dan sebagian lain dibuat dalam arah tidak favorabel.
Hal ini terutama benar pada aitem-aitem skala yang format responnya berupa pilihan dan berjenjang dari STS ke SS .Pada saat diformat ini responden menyadari yang sikapnya konsisten akan segera menyadari bahwa jawaban-jawaban yang telah diberikan nya selalu berada pada salah satu ujung kontinum saja sehingga untuk aitem-aitem berikutnya ia cenderung menmpatkan saja jawabanya mengikuti pola yang terjadi .Berbeda kalau arah aitem-aitem bervariasi kadang favorabel kadang tidak,maka subyek akan membaca dengan teliti setiap aitem sebelum mendapatkan jawabannya.
Semakin sedikit aitem yang ada dalam skala akan semakin besar overlap yang terjadi.Sebaliknya ,semakin banyak jumlah aitem dalam skala maka akibat yang ditimbulkan oleh Spurious overlap semakin kecil dan tidak signifikan.Sebagai pegangan kasar,bilamana jumlah aitem dalam skala lebih dari 30 buah maka umumnya efek spurious overlap tidak begitu besar dan karenanya dapat diabaikan,sedangkan bila jumlah aitem dalam skala kurang dari 30 buah maka pengaruhnya menjadi subtansial sehingga perlu diperhitungkan .Untuk itu ,agar kita memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai korelasi antara aitem dan skala ,diperlukan suatu rumusan koreksi terhadap efek spurious overlap.
Kategorisasi  Berdasar Model Distribusi Normal
kategorisasi  ini didasari oleh asumsi bahwa skor individu dalam kelompoknya merupakan estimasi terhadap skor individu dalam populasi dan asumsi bahwa skor individu dalam populasinya terdistribusi secara normal.Dengan demikian kita dapat membuat model batasan kategori skor teoretik yang terdistribusi menurut model normal standart.
Sebagaimana diketahui ,suatu distribusi normal standar terbagi atas enam bagian atau enam satuan deviasi standart.Tiga bagian berada di sebelah kiri mean(bertanda negative )dan tiga bagian berada di sebelah kanan mean (bertanda positif).
Kategori jenjang (ordinal)
 Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur.Kontinum jenjang ini contohnya adalah dari rendah ke tinggi ,dari paling jelek ke paling baik,dari sangat tidak puas ke sangat puas dan semacamnya.Banyaknya jenjang ktegori diagnosis yang akan dibuat biasanya tidak lebih dari lima jenjang tapi juga tidak kurang dari tiga.Mengelompokkan individu-individu ke dalam dua jenjang diagnosis menjadi,misalnya “semangat kerja rendah”dan “semangat kerja tinggi”selain kurang efisien juga akan menghadapi resiko kesalahan yang cukup besar bagi skor-skor yang terletak di sekitar mean kelompok.
Kategorisasi bukan-jenjang (Nominal)
Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok diagnosis yang tidak memiliki makna “lebih” dan “kurang”atau “tinggi”dan “rendah”.Kasusu semacam ini dijumpai contohnya ketika pengelompokan individu dilakukan berdasar skor Pola Asuh yang diterimanya(misalkan Demokratis,Bebas,dan Otoriter),atau ketika dilakukan kategorisasi Orientasi Coping (Orientasi Problem,Orientasi Emosi)atau pengelompokan Peran Jenis(kelompok Feminin,Maskulin,Androgini,dan Tidak Tergolongkan).

Faktor-faktor yang Melemahkan Validitas Alat Ukur

Validitas ,dalam pengertiannya yang paling umum, adalahketepatan dan kecermatan instrument dalam menjalankan fungsi ukurnya.Artinya,validitas menunjuk pada sejauh mana skala itu mampu mengungkap dengan akurat dan teliti data mengenai atribut yang ia dirancang untuk mengukurnya.Skala yang hanya mampu mengungkap sebagian dari atribut lain,dikatakan sebagai skala yang fungsinya tidak valid .Karena validitas sanggat erat berkaitan dengan tujuan ukur,maka skala hanya dapat menghasilkan data yang valid untuk satu tujuan ukur yang spesifik pula.
 Validitas adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh setipa alat ukur.Apakah suatu skala berguna atau tidak sangat ditentukan oleh tingkat validitasnya.Oleh karena itu ,sejak tahap awal perancanganya skala sampai dengan tahap adminitrasi dan pemberia skornya,usaha-usaha untuk menegakkan validitas harus selalu dilakukan.Dalam rangka itulah perancang skala perlu mengenali beberapa factor yang dapat mengancam validitas skala psikologi.Faktor-faktor termasud,antara lain,adalah:

1.       1. Konsep Teoritik Tidak Cukup Difahami
Untuk mengukur “sesuatu” maka sesuatu itu  harus dikenali terlebih dahulu denagn baik.Bila konsep mengenai atribut yang hendak diukur tidak dikenali dengan baik maka perancang skala mungkin memiliki gambaran yang tidak komprehensif atau bahkan keliru mengenai atribut yang bersangkutan.Gambaran ynag tidak tepat akan melahirkan aspek dan indicator keperilakuan yang juga tidak tepat,yang pada akhirnya bila dijadikan acuan dalam penulisan aitem akan menghasilkan aitem-aitem yang tidak valid.
Kurang difahaminya batas-batas atau definisi yang tepat mengenai kawasan (domain) atribut yang diukur mengakibatkan kawasan ukur yang diinginkan menjadi tumpang tindih (overlap) dengan kawasan ukur atribut lain sehingga skala yang nantinya dihasilkan ternyata mengukur banyak hal yang tidak relevan dengan tujuan semula.Ketidaktepatan identifikasi kawasan ukur dapat pula mengakibatkan skala menjadi tidak cukup komprehensif dalam atribut yang dikehendaki .Hal itu terjadi dikarenakan sebagian dari komponen atau dimensi yang membangun teori menjadi konstrak mengenai atribut yang bersangkutan tidak ikut teridentifikasikan.
2.      Aspek Keperilakuan Tidak Operasional
Kejelasan konsep mengenai atribut yang hendak diukur besertakonstraknya memudahkan dalam perumusan  indicator-indikatornya keperilakuan yang juga jelas dan mudah difahami oleh penulis aitem.
Indicator keperilakuan diciptakan berdasarkan batasan konseptual mewngenai atribut yang diukur menjadi rumusan operasional yang terukur (measurable) .Bila perumusan ini tidak cukup operasional atau ternyata masih menimbulkan penafsiran ganda mengenai bentuk-bentuk perilaku yang diinginkan,atau sama sekali tidak mencerminkan konsep yang akan diukur,maka akan melahirkan aitem-aitem yang tidak valid.Pada gilirannya,aitem-aitem yang tidak valid tidak akan menjadi skala yang valid.
3.       Penulisan Aitem Tidak Mengikuti Kaidah
Aitem yang sukar dimengerti maksudnya oleh fihak responden karena terlalu panjang atau karena kalimatnya tidak benar secara tata bahasa,aitem yang mendorong responden untuk memilih jawaban tertentu saja,aitem yang memncing reaksi negative dari pihak responden,aitem yang mengandung muatan social desirability tinggi,dan aitem yang memiliki cacat semacamnya hamper dapat dipastikan adalah hasil dari penulisan aitem yang mengabaikan kaidah-kaidah penulisan yang standart ,Aitem-aitem seperti itu tidak akan berfungsi sebagaimana diharapkan.
4.      Adminitrasi Skala Tidak Berhati-hati
Skala yang isinya telah dirancang dengan baik san aitem-aitemnya sidah ditulis dengan prosedur yang benar namun disajikan atau diadminitrasikan kepada responden dengan cara sembarangan dapat menghasilkan data yang tidak valid mengenai keadaan responden.
Adminitrasi skala memerlukan berbagai persiapan dan antisipasi dari pihak penyaji.Beberapa di antara banyak hal yang berkaitan dengan kehati-hatian adminitrasi ini adalah:
a.       Penampilan skala (validitas tampang)
Skala psikologi bukan sekedar sekumpulan aiem-aitem yang diberkas menjadi satu.Dari segi penampilan harus dikemas dalam bentuk yang berwibawa sehingga mampu menimbulkan respek dan apresiasi dari pihak respondennya .Sekalipun harus tetap tampil sederhana,namun skala psikologi perlu dikemas indah,dicetak jelas dengan p[ilihan huruf yang tepat,dengan tata letak (lay –out)  yang menarik,serta mengunakan desain lembar jawaban yang dapt memudahkan subjek dalam memeberikan jawaban.Penampilan skala yang sederhana tapi anggun dapat lebih memotivasi subjek untuk memberikan jawaban dengan serius sehingga diharapkan akan dapat memperoleh data yang valid.
b.       Situasi Ruang
Situasi ruang menunjuk pada kondisi di dalam tempat pelaksanaan penyajian atau adminitrasi skala.Ruang perlu disiapkan dengan baik.Ruang harus cukup nyaman,cukup pencahayaan,dan tidak bising.Sedapat mungkin masing-masing subjek duduk menghadap satu meja yang leluasa untuk membaca dan memahami isi skala dan meresponya .Tidak boleh ada gangguan atau kehadiran orang ketiga yang dapat mempengaruhi respon subjek.
c.        Kondisi Subyek
Skalas psikologi hanya boleh disajikan pada subyek yang kondisinya –baik secara fisik maupun psikologis-memenuhi syarat.Janggan mengharapkan jawaban yang valid apabila responden harus membaca dan menjawab skala dalam keadaan sakit,lelah,tergesa-gesa,tidak berminat,merasa terpaksa,dan semacamnya.
5.      5. Pemberian Skor Tidak Cermat
Sekalipun disediakan kunci “skor” ,namun kadang –kadang masih terjadi kesalahan dari fihak pemeriksa dikarenakan salah dalam penghitungan skor atau keliru cara penggunaan kunci jawaban.Pada skala yang menggunakan konversi skor,kesalahan dapat terjadi sewaktu mengubah skor mentah menjadi skor derivasi karena salah lihat pada tabel konversi.
6.      6. Keliru Interpretasi
Penafsiran terhadap hasil ukur skala merupakan bagian penting dari proses diagnosis psikologi .Bagaimana pun bagusnya kualitas psikometrik skala yang digunakan apabila diinterpretasikan secara tidak benar tentu akan sia-sia dan kesimpulan diagnosisnya akan tidak tepat.
Sekalipun disediakan norma penilaian sebagi acuan interpretasi terhadap skor skala namun harusselalu diingat bahwa skor yangdiperoleh dari pengukuran psikologi tidak sempurna reliabilitas dan validitasnya sehingga tetap dituntut kecermatan interpretasi.

4 SKALA UTAMA KUISIONER

Dalam penyusunan alat ukur psikologi tertutup tentunya kita memerlukan skala tertentu sebagai dasar pilihan jawaban responden terhadap pertanyaan yang diajukan. Berikut ini adalah 4 jenis skala yang biasa digunakan (Azwar, 2005):
1.    Nominal ialah angka yang berfungsi hanya untuk membedakan , merupakan identitas (identity) urutan tidak berlaku,operasi matematika juga tidak berlaku,artinya 2 tidak harus lebih besar dari satu atau tidak harus lebih kecil dari 4(hasil kali,bagi,penjumlahan,pengurangan tidak mempunyai arti)Hanya sebagai lambang/symbol /identitas.
Contoh:
Jenis kelamin    : perempuan=0,laki-laki=1
Agama               :  islam=1,Kristen=2,Hindu=3
Suku (bangsa)  : Jawa=1,Minang=2,Batak=3,Dayak=4.
Alamat rumah,nomor kmar hotel,nomor KTP,SIM,nomor pada punggung pemain bola,PSSI
2.    Ordinal ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal juga menunjukkan urutan,bahwa sesuatu yang baik,lebih bagus,lebih disenangi,daripada……..
Abas lebih menyenangi mobil merek Honda daripada Toyota.
Hasil lukisan pelukis A lebih bagus daripada pelukis B
Jarak (distance) tidak sama,biasanya untuk membuat peringkat (rangking)
Hasil penjualan (jutaan Rp) dari 5 salesman.
                  Hasil penjualan           Peringkat  (ordinal)
A                         50                                   4
B                          45                                  5
C                         100                                 1
D                          75                                  3
E                          85                                   2
Jadi jarak tidak sama,akan tetapi terlihat urutannya semakin besar (menuju ke 5 )atau semakin mengecil (menuju ke 1).
3.    Interval ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal dan ordinal juga menunjukkan jarak yang sama,akan tetapi tidak sampai berapa kali,sebab  titik nol letaknya sembarang,dipergunakan untuk “rating”.Contoh suhu /temperature naik dari  200-300atau 400-600 jaraknya 100-300.akan tetapi tingkat panas (level of heatnes) yang ditunjukkan oleh angka 300 tidak berarti 1,5 kali timgkat panas yang ditunjukkan oleh angka 200 juga tingkat panas yang 600 tidak berarti 1,5 tingkat panas 400 Tingkat kepuasan1,2,3,4.5. walaupun jaraknya sama yaitu 1,akan tetapi tidak berarti tingkat kepuasan 4 dua kali ,tingkat kepuasan 2 atau tingkat kepuasan 5,lima kali tingkat kepuasan 1.
4.    Rasio ialah angka yang selain berfungsi sebagai nominal ,ordinal dan interval ,juga menunjukkan beberapa kali,sebab angka nol letaknya tidak sembarangan.
Berat badan jhony 890kg,abas 60kg,berarti berat jhony 1,5 kali berat abas.Angka nol dalam rasio mempunyai arti.Misalnya uang jhoni nol rupiah ,memang dia tidak punya uang sama sekali .Letak titik nol jelas pada titik asal,perpotongan sumbu X dan Y.Sedangkan titik nol pada interval letaknya sembarangan.(arbitrary)
 N                   0                1                   R
ß------------------------------------------------à
Ilmu sosial                                 Ilmu Eksakta
Subjektif                                   Objectif
Abstrack                                   Konkret
Non-fisik                                   Fisik
Kualitatif                                   Kuantitatif
Relatif                                       Mutlak
Susah (mengukurnya)           Mudah (mengukurnya)
Variabel tunggal (hanya satu ,tidak terkait yang lain ),misalnya variabel X hanya bisa untuk menguraikan keadaan/memperoleh gambaran tentang sesuatu yaitu mengenai jumlahnya,rata-ratanya ,banyaknya persentasenya,medianya,modusnya ,kuartilnya (quartile) desentilnya (decentile) ,dan persentilnya (percentile) .Seperti  berapa jumlah tabunganya,rata-rata anggota keluarganya,dan lain sebagainya.
di samping itu juga, bisa untuk mengetahui distribusinya dan tingkat variasinya.Misalnya mengikuti distibusi normal,binomial,Poisson,dan lain sebagainya.Sedangkan tingkat variasinya bisa diukur dengan range  (dibaca rinz) varian ,simpangan baku (standart deviation)  ,kesalahan baku (standart error) rata-rata deviasi dan lain sebagainya.Lihat,Supranto J.MA,Statistik,Teori dan Aplikasi Jilid I ,edisi ke -6 Penerbit Erlangga Jakarta 2001.
Kalau kita meneliti ,kita peroleh nilai variabel X dan X = N (µ,σ) artinya X mengikuti fungsi normal ,dengan rata-rata µ dan standart deviasi σ (sigma kecil).
Z= (X-µ)/σ, Z stndart  normal ,dengan rata-rata nol dan standart deviasi satu .Jadi untuk membuat variabel baku ,variabel asli dikurangi rata-ratanya ,kemudian dibagi dengan standart deviasinya .Variabel baku bebas dari satuan atau unit free ,bisa digunakan untuk membandingkan variabel yang berbeda satuannya.