Tampilkan postingan dengan label konsultasi tesis yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konsultasi tesis yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2019

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Etos Belajar Islami (skripsi dan tesis)


Menurut Abudin Nata, secara esensial pendidikan Islam setidaknya terdiri dari tiga unsur pokok; yakni pendidik, peserta didik, dan tujuan pendidikan. Ketiga unsur ini akan membentuk suatu triangle, jika hilang salah satu komponen tersebut, maka hilanglah hakikat dari pendidikan Islam. Oleh karena dalam memberikan pendidikan dari guru kepada murid atau dari pendidik kepada peserta didik memerlukan sebuah materi untuk mencapai tujuan, maka menurut penulis materi juga merupakan komponen inti dalam pendidikan Islam.
Sedangkan menurut Ya’qub mengatakan bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi etika, akhlak, atau moral yaitu faktor intern dan faktor ekstren.
1.    Faktor Intern
Yang dimaksud faktor intern adalah faktor yang datang dari diri sendiri yaitu fitrah yang suci yang merupakan bakat bawaan sejak lahir dan mengandung pengertian tentnag kesucian anak yang lahir dari pengaruh-pengaruh luar sebagaimana firman Allah:
 “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): (tetapalah atas) fitrah Allah yang telah mencipatakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Ruum: 30).
Dengan demikian setiap anak yang lahir ke dunia ini telah memiliki naluri keagamaan yang nantinya akan mempengaruhi dirinya, seperti unsur-unsur yang ada dalam dirinya turut membentuk etika, akhlak atau moral, antara lain:
a. Instik dan akal
b. Adat istiadat                                                                                       
c. Kepercayaan
 d. Keinginan-keinginan
e. Hawa nafsu
 f. Hati nurani
2.        Faktor ekstern
 Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi kelakuan atau perbuatan manusia yang meliputi:
a.       Pengaruh keluarga
Setelah anak lahir, maka akan terlihat dengan jelas fungsi keluarga dalam pendidikan, yaitu memberikan pengalaman kepada anak, baik melalui pemeliharaan, pembinaan dan pengarahan yang menuju pada bentuknya tigkah laku yang diinginkan oleh orang tua. Orang tua (keluarga) merupakan pusat kegiatan rohani bagi anak yang pertama, baik itu tentang sikap, cara berbuat, cara berfikir itu akan kelihatan.
Keluargapun sebagai pelaksana pendidikan Islam yang akan mempengaruhi dalam pembentukan etika atau akhlak yang mulia.
b.         Pengaruh sekolah
Sekolah merupakan lingkungan pendidikan yang kedua setelah pendidikan keluarga, disana dapat mempengaruhi etika atau akhlak anak. Yunus, (1987: 37), mengatakan bahwa: “Di dalam sekolah berlangsung beberapa bentuk dasar dari kelangsungan pendidikan pada umumnya, yaitu pembentukan sika-sikap dan kebiasaan-kebiasaan yang wajar, perangsang dari potensi-potensi anak, perkembangan dari kecakapan pada umumnya belajar kerjasama dengan kawan sekelompok, melaksanakan tuntunan dan contoh-contoh yang baik, belajar menahan diri demi kepentingan orang lain”.
c.         Pengaruh masyarakat
Masyarakat dalam pengertian yang sederhana adalah kumpulan individu dalam kelompok yang diikat dalam ketentuan negara kebudayaan dan agama. Yunus, (1978: 33), mengungkapkan: “Lingkungan dan alam sekitar mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk etika lingkungan yang baik akan menarik anak-anak untuk beretika baik. Jika lingkungan jahat maka akan menarik anak untuk beretika jahat atau buruk. oleh karena itu haruslah pendidik memperhatikan lingkungan yang berhubungan dengan anak-anak di luar rumah tangga. Mereka akan mencontoh etika yang disekitar mereka dan ditirunya perkataan dan oerbuatan mereka dengan tiada disadarinya.” Dengan demikian pembentukan etika yang baik dan mulia membutuhkan pendidikan, baik dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan 50 masyarakat dengan ditetapkannya kebiasaan-kebiasaan, latihan-latihan serta contoh-contoh yang baik sehingga abak dapat memahami dan mengetahui berbagai corak kegiatan tingkah laku lebih-lebih dalam pembentukan etika yang baik atau akhlak yang mulia.

Adab Belajar Dalam Islam (skripsi dan tesis)


 Usaha belajar berarti usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat serta mewariskannya kepada generasi setelahnya untuk dikembangkan dalam kehidupan yang merupakan suiatu proses pendidikan untuk melestarikan hidupnya. Oleh karenaya adab yang menyertai proses itu sendirijuga menyangkut mengenai tidak hanya mengenai proses belajaranya saja namun juga menyangkut beberapa hal yang secara terkait. Dalam hal ini adalah Etika belajar dengan diri sendiri, Etika belajar dengan guru, Etika belajar ketika memilih pelajaran dan Etika belajar siswa ketika memilih teman belajar. Untuk selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut
1.    Etika belajar dengan diri sendiri
 Tumbuhnya kesadaran pada seseorang bahwa belajar adalah tugas dan kewajiban yang diberikan Allah karena pendidikan adalah kebutuhan dari setiap manusia. Menuntut ilmu juga merupakan ibadah jika diniatkan untuk mendapatkan ridha dari Allah. Sudah selayaknya setiap muslim menuntut ilmu karena begitu banyak manfaat yang didapatkan dari mencari ilmu baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah menjanjikan derajat yang lebih tinggi kepada tiap orang yang berilmu. Hal itu juga berlaku di dunia, orang yang memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi secara normatif akan dihargai lebih tinggi daripada orang yang berpendidikan rendah. Bukan hanya masalah gaji melainkan juga bentuk  penghormatan dari orang lain. Jadi derajat orang yang berilmu akan semakin tinggi dihadapan Allah sekaligus dimata manusia lainnya. Ketika kesadaran sudah ada dalam diri seseorang maka akan timbul semangat dan dorongan dari pribadi untuk senantiasa belajar dan berusaha sesulit apapun jalan itu dilalui. Semangat inilah yang harus selalu ada pada diri setiap muslim agar islam kembali berjaya seperti dahulu, bangsa barat mengembangkan ilmu pengetahuan yang berasal dari ilmuan-ilmuan muslim seperti aljabar (Husnul Khuluq, 2010).
2.    Etika belajar dengan guru
 Guru maupun ustadz merupakan pengganti orang tua di berbagai majelis ilmu baik di sekolah, kampus, pesantren dan masjid. Sebagai pengganti orang tua sudah selayaknya guru dihormati layaknya anak menghormati dan menghargai orang tua sendiri. Guru memberikan ilmu yang begitu berharga yang dibutuhkan oleh siswa untuk melangsungkan hidupnya di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu siswa wajib berbuat baik kepada guru dalam arti menghormati, memuliakan dengan ucapan dan perbuatan sebagai balas jasa terhadap kebaikannya. Siswa berbuat baik dan memuliakan guru dengan dasar: (1) memuliakan guru adalah perintah agama (2) guru adalah orang yang sangat mulia (3) guru adalah orang yang sangat berjasa dalam memberikan ilmu  pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kepada siswa (Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007),
Bentuk penghormatan juga bermacam-macam seperti memperhatikan ketika guru menerangkan, menyapa dan memberikan salam kepada guru ketika  bertemu di majelis ilmu maupun di luar, berbicara dengan bahasa yang sopan, menjadikan perilaku baik dari guru menjadi teladan bagi siswa dan senantiasa mendoakan guru-guru yang telah mengajarkan berbagai hal. Selain dari sisi siswa, etika guru dalam proses belajar mengajar juga  perlu diperhatikan.
Dalam Islam pendidik bukan hanya bertanggung jawab dalam pembentukan pengetahuan, tetapi pendidik juga harus bersikap dan  berperilaku yang mencerminkan kebaikan seperti tepat waktu, ramah, disiplin dan berusaha dekat dengan siswa agar bisa dijadikan teladan bagi siswa. Hal-hal yang perlu dilakukan guru terhadap muridnya antara lain: (1) memperlakukan para murid dengan kasih sayang seperti anaknya sendiri; (2) menasehati murid tentang hal-hal yang baik dan mencegahnya dari akhlak tercela; (3) jangan menghina disiplin ilmu lain; (4) menerangkan dengan kadar kemampuan akal murid hingga batas kemampuan pemahaman mereka (5) seorang guru harus menjadi orang yang mengamalkan ilmunya (6) bersifat adil terhadap murid-muridnya, tidak pilih kasih, ia mengutamakan yang benar. Contoh yang diberikan bukan hanya dalam bentuk mata pelajaran, tetapi harus menanamkan keimanan dan akhlak dalam islam. Peningkatan nilai iman dan akhlak akan terjadi secara sendirinya pada diri manusia. Karena secara lahiriah watak dan tabiat yang baik akan menjurus pada suatu kebaikan yang dengannya orang akan enggan melakukan keburukan (Muhammad Daud Ali, 2005).
3.    Etika belajar ketika memilih pelajaran
Pelajaran yang dipelajari siswa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama merupakan ilmu yang mempelajari tentang agama seperti fiqih, aqidah, ibadah dan sebagainya. Sementara ilmu umum adalah ilmu yang mempelajari tentang alam semesta dan perkembangannya serta logika dan rasionalitas seperti matematika, biologi, fisika dsb. Kedua ilmu tersebut penting untuk dipelajari oleh setiap orang. Tetapi tidak mungkin setiap orang mempelajari dan mendalami semua bidang ilmu yang ada, maka perlu adanya pemilihan bidang ilmu yang ingin dipelajari oleh seseorang. Pemilihan bidang ilmu tersebut didasari oleh kemampuan, minat dan kebutuhan dari setiap orang yang berbeda-beda. Maka dari itu tiap orang harus  bisa mengenali diri sendiri, mana yang sesuai dengan kemampuan, bakat, minat dan kebutuhannya. Namun, hendaknya setiap muslim mendahulukan menuntut ilmu agama, karena ilmu agama adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim tanpa terkecuali. Ilmu agama inilah sumber dari segala sumber ilmu yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah. Agama juga membentengi seseorang dari ilmu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah seperti halnya teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari monyet. Padahal sudah jelas tertulis pada Al Qur’an bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam as. yang dibuat oleh Allah dari tanah (Nur Uhbiyati, 2009).
4.    Etika belajar siswa ketika memilih teman belajar
Tidak kalah pentingnya etika belajar ketika memilih teman sebaya. Teman sebaya adalah teman sepergaulan yang seumur dalam usianya. Dalam  pergaulan terhadap sebayanya perlu adanya kerjasama, saling pengertian dan saling menghargai. Pergaulan yang dijalin dengan kerjasama yang baik akan  bisa memecahkan berbagai masalah yang tidak bisa dipecahkan sendiri
Untuk menciptakan kerjasama yang baik dalam pergaulan hendaknya  janganlah seseorang merasa lebih baik dari yang lain, tetapi jika memang mampu memberikan ide atau memecahkan masalah yang orang lain tidak bisa maka boleh didiskusikan dengan teman yang lain tanpa perlu merasa sombong. Dalam pergaulan hendaknya seperti rangka sebuah bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Pergaulan yang didasari oleh rasa pengertian akan menimbulkan kehidupan yang tenang dan tentram. Dengan adanya saling pengertian akan terbina rasa saling mengasihi dan tolong-menolong, tentu saja dalam hal kebaikan. Pergaulan yang ditopang oleh saling menghargai akan menimbulkan rasa setia kawan, kerukunan, serta tidak akan timbul rasa saling curiga, dendam serta cela-mencela sehingga terhindar dari percekcokan dan perselisihan. Selain itu perlu diperhatikan bahwa teman belajar yang memiliki cara  belajar yang sama agar ketika belajar tidak saling mengganggu. Seperti anak yang memiliki metode belajar visual jika belajar dengan orang yang memiliki metode belajar kinestetik pasti memiliki perbedaan yang sangat jauh dan akan saling mengganggu satu sama lain (Husnul Khuluq, 2010).
Etika belajar siswa terhadap teman dalam mempererat ukhuwah islamiyah dijelaskan oleh imam Al Ghazali dibagi dalam berbagai kriteria, yaitu: (1) Berpegang teguh pada tali Allah; (2) menyatukan hati; (3) toleransi; (4) musyawarah; (5) tolong-menolong; (6) Solidaritas dan kebersamaan; (7) istiqomah (Muhammad Atyhiyah Al-Abrasy, 2006)

Etos Belajar Islami (skripsi dan tesis)


Sejumlah ayat al-Quran yang secara esensial mendorong etos kerja tinggi:
"Katakanlah : bekerjalah kamu, niscaya Allah akan melihat pekerjaanmu serta RasulNya dan orang-orang beriman ... " (QS At- Taubah/9:105).

" .... maka berjalanlah kamu di berbagai penjuru bumi dan makanlah rizki Allah... " (QS al-Mulk/67:15).
 Berjalan di sini tentunya mengandung arti perintah untuk berusaha dan bekerja dalam rangka mencari rizki.
"Barang siapa mengerjakan kebaikan baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, niscaya Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik  dan kami balas mereka dengan pahala lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan" (QS an-Nahl/16:97).

" .... dan perbuatlah kebaikan, nicaya kamu akan sukses" (QS al- Hajj/22: 77).

" ... maka berlomba-lombalah kamu berbuat kebaikan ... " (QS al-Maidah/5:48).

Maka, kalau mengacu pada alur berpikir 'Isa Abduh, al-Fanjariy dan Rauf Syalabiy berdasarkan maksud ayat-ayat di atas, mestinya orang Islam selalu terdorong untuk beretos kerja tinggi. Akan tetapi mengapa realitas di lapangan jauh dari kemestian itu? Apakah pengaruh paham Jabariyyah lebih dominan di kalangan mereka? Sebagai jawaban tentatif mengapa yang demikian terjadi barangkali dapat dikemukakan realitas dinamis dilatarbelakangi oleh sifat kompleksitas manusia yang begitu unik di samping faktor pemahaman keagamaan. Kinerja mereka selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor intrinsik seperti pembawaan, kemampuan, ciri-ciri kepribadian, dan sebagainya, dan oleh faktor-faktor ekstrinsik seperti keadaan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan kerja.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa etos belajar Islami adalah karakter dan kebiasaan manusia berkenaan dengan kerja, terpancar dari sistem keimanan/aqidah Islam yang merupakan sikap hidup mendasar terhadapnya. Aqidah itu terbentuk oleh pemahaman yang diperoleh dari ajaran wahyu dan akal yang bekerjasama secara proporsional. Maksud terpancar di sini mencakup arti dan fungsi aqidah yang menjadi sumber motivasi serta sumber acuan dan nilai sehubungan dengan belajar. Hal ini di dasarkan bahwa ajaran Islam hila dikaji secara holistis-proporsional, niscaya menghasilkan pemahaman bahwa Islam betul-betul agama amal dan kerja yakni, agama yang mengajarkan serta memberi dorongan tidak tanggung-tanggung agar para pemeluknya beretos kerja tinggi islami.
Karakteristik-karakteristik etos belajar islami digali serta dirumuskan berdasarkan konsep iman dan amal saleh yang mensyaratkan ilmu, yaitu :
1)   belajar merupakan penjabaran aqidah;
2)   belajar dilandasi ilmu; dan
3)   Belajar dengan meneladani sifat-sifat Ilahi serta mengikuti petunjuk-petunjukNya. Dari tiga karakteristik etos belajar islami itu, ternyata dapat ditemukan hampir seluruh penampilan lahiriah ciri-ciri etos kerja tinggi pada umumnnya, seperti aktif, disiplin, profesional, tekun, dan hemat. Keunikan etas belajar islami yang berbeda dengan lainnya memang tidak pada penampilan lahir, tetapi pada sumber motivasi dan sumber nilai yang dimiliki.
Ali (1987; Yousef, 2000) menyatakan bahwa nilai bekerja dalam etos kerja islami lebih menekankan pada niat dari pada hasil dari bekerja. Hal ini menggambarkan bahwa Islam mementingkan nilai sebuah proses bukan hanya tertuju pada hasil akhir. Sehingga etos belajar islami menyetujui bahwa hidup tanpa bekerja adalah tidak memiliki arti apa pun dan menjalankan kegiatan ekonomi merupakan sebuah kewajiban. Nasr (1984) sepakat bahwa etos belajar Islami merupakan hal yang serius karena ini merupakan karakteristik ideal seorang muslim. Sebagai tambahan, seperti halnya Ali (1986) menyepakati bahwa Islam merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam sistem nilai kehidupan umat Islam. Sementara itu, menurut Tasmara (2004) etos belajar muslim adalah semangat untuk menapaki jalan lurus.
Berdasarkan uraian di atas maka etos belajar islam adalah perubahan perilaku yang cendrung terus mempengaruhi model perilaku umum menuju pada sebuah peningkatan yang disesuaiakan dengan sifat, karakter, kualitas hidup, moral dan etika yang disesuaikan dengan nilai-nilai masyarakat Islam. Dalam hal ini maka etos belajar Islam tidak hanya menekankan hasil namun juga proses termasuk diantaranya adalah adab dalam belajar. 

Minggu, 20 Januari 2019

Etos Belajar (skripsi dan tesis)


Menurut Geertz (1982:3), etos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Sikap di sini digambarkan sebagai prinsip masing-masing individu yang sudah menjadi keyakinannya dalam mengambil keputusan. Sedangkan Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi atau tujuan moral seseorang serta pan dangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya (Khasanah, 2004: 8).
Etos juga diartikan sebagai sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang diyakininya. Dari kata etos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk (moral), sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk menyempurnakan sesuatu secara optimal, lebih baik, dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.
Etos adalah sifat, karakter, kualitas hidup, moral dan gaya estetika serta suasana hati seseorang masyarakat. Kemudian mengatakan bahwa etos berada pada lingkaran etika dan logika yang bertumpuk pada nilai-nilai dalam hubungannya pola-pola tingkah laku dan rencana-rencana manusia. Etos memberi warna dan penilaian terhadap alternatif pilihan kerja, apakah suatu pekerjaan itu dianggap baik, mulia, terpandang, salah dan tidak dibanggakan (Marjohan: 2009).
Dengan menggunakan kata etos dalam arti yang luas, yaitu pertama sebagaimana sistem tata nilai mental, tanggung jawab dan kewajiban. Akan tetapi perlu dicatat bahwa sikap moral berbeda dengan etos kerja, karena konsep pertama menekankan kewajiban untuk berorientasi pada norma sebagai atokan yang harus diikuti. Sedangkan etos ditekankan pada kehendak otonom atas kesadaran sendiri, walaupun keduanya berhubungan erat dan merupakan sikap mental terhadap sesuatu.
Pengertian etos tersebut, menunjukan bahwa antara satu dengan yang lainnya memberikan pengertian yang berbeda namun pada prinsipnya mempunyai tujuan yang sama yakni terkonsentrasi pada sikap dasar manusia, sebagai sesuatu yang lahir dari dalam dirinya yang dipancarkan ke dalam hidup dan kehidupannya
Sedangkan pengertian belajar adalah sebuah proses organism memperoleh bentuk perubahan perilaku yang cendrung terus mempengaruhi model perilaku umum menuju pada sebuah peningkatan. Perubahan perilaku tersebut terdiri dari berbagai proses modifikasi menuju bentuk permanen, dan terjadidalam aspek perbuatan, berpikir, sikap, dan perasaan. Akhirnya dapat dikatakan bahwa belajar itu tiada lain adalahmem peroleh berbagai pengalaman baru (Kochhar, 1967: 27).
Berdasarkan definisi tersebut, etos kerja setidaknya mencakupi beberapa unsur penting :
1. Etos kerja itu bersumber dan berkaitan langsung dengan nilai-nilai yang tertanam dalam jiwa seseorang. Itulah sebabnya menjadi sangat penting untuk menyeleksi setiap nilai yang akan kita tanamkan dalam jiwa kita.
2. Etos kerja adalah bukti nyata yang menunjukkan pandangan hidup seseorang yang telah mendarah daging. Pandangan hidup yang benar tentu saja akan melahirkan etos kerja yang lurus. Begitu pula sebaliknya.
3. Etos kerja menunjukkan pula motivasi dan dorongan yang melandasi seseorang melakukan kerja dan amalnya. Semakin kuat dan kokoh etos kerja itu dalam diri seseorang, maka semakin kuat pula motivasinya untuk bekerja dan beramal.
4. Etos kerja yang kuat akan mendorong pemiliknya untuk menyiapkan rencana yang dipandangnya dapat menyukseskan kerja atau amalnya.
5. Etos kerja sesungguhnya lahir dari tujuan, harapan dan cita-cita pemiliknya. Harapan dan cita-cita yang kuatlah yang akan meneguhkan etos kerjanya. Cita-cita yang lemah hanya akan melahirkan etos kerja yang lemah pula.
Berdasarkan uraian di atas maka etos belajar adalah memperoleh bentuk perubahan perilaku yang cendrung terus mempengaruhi model perilaku umum menuju pada sebuah peningkatan yang disesuaiakan dengan sifat, karakter, kualitas hidup, moral dan gaya estetika yang disesuaikan dengan nilai-nilai masyarakat

pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen atau percobaan adalah rancangan penelitian dimana peneliti dengan
sengaja memberikan suatu perlakuan atau intervensi (variabel bebas) kepada subjek
penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tersebut terhadap variabel
terikat (variabel yang diteliti). Faktor penelitian dalam eksperimen lazim disebut perlakuan
(treatment), atau intervensi. Unit eksperimen, unit pengamatan, dan unit analisis dalam
eksperimen dapat merupakan individu atau agregat individu (kelompok).
Pada kasus tertentu, misalnya bidang eksakta, penelitian-penelitian yang paling mampu
mengetahui pengaruh faktor penelitian dapat diakomodir melalui penelitian eksperimen. Hal
ini disebabkan variabel-variabel dalam proses eksperimen itu dapat dikontrol secara ketat.

Konsep Kepentingan Nasional (skripsi dan tesis)


Dalam suatu politik Luar Negeri suatu negara sangat berpengaruh terhadap suatu kepentingan nasional negara tersebut. Kepentingan Nasional merupakan konsepsi yang sangat umum tetapi merupakan unsur yang menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi negara. Unsur tersebut mencakup Self preservation (kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara), Independence (kemerdekaan), Territorial integrity (keutuhan wilayah), Military security (keamanan militer) dan Economic well being (kesejahteraan ekonomi).[1] Kepentingan nasional setiap negara adalah mengejar kekuasaan, yaitu apa saja yang bisa membentuk dan mempertahankan pengendalian suatu negara atas negara lain.[2]
a.     Self Preservation yaitu hak untuk mempertahankan diri.
Self preservation merupakan sebuah hak yang sangat hakiki dan esensial sebagai tujuan fundamental suatu negara. Kategori kepentingan nasional ini juga merupakan prasyarat vital bagi tujuan negara di seluruh dunia. Upaya mempertahankan diri juga memiliki keterkaitan dengan harkat dan martabat bagi suatu negara yang berdaulat untuk kelangsungan jalannya suatu negara.
b.      Independence yaitu tidak dijajah atau tunduk terhadap negara lain.
Independence atau kemerdekaan merupakan faktor penting dari kepentingan nasional suatu negara. Kemerdekaan juga berperan vital seperti halnya self preservation karena faktor ini memiliki hubungan yang kuat dengan kemandirian suatu negara untuk dapat menjalankan jalannya sistem kenegaraan tanpa campur-tangan asing, baik secara langsung ataupun tidak langsung yang pada akhirnya dapat mewujudkan sebuah pola pemerintahan yang stabil untuk mewujudkan kesejahteraan negaranya.
c.    Military Security yaitu tidak ada gangguan dari kekuatan militer negara lain.
Military security atau keamanan militer merupakan bagian dari kepentingan nasional yang bersifat vital. Faktor ini sangat berpengaruh untuk menjaga kelangsungan suatu negara, sekaligus sebagai ujung tombak dalam menghadapai ancaman dari dalam dan luar negara. Dalam perkembangannya keamanan militer bukan hanya menyangkut sumber daya militer fisik, namun juga non-fisik yang juga berperan sebagai tolak ukur kemajuan militer suatu negara.
Kemampuan suatu negara dalam membentuk sebuah aliansi, pakta dan kerjasama bidang pertahanan mampu menjadi sebuah parameter keamanan militer. Sebuah negara yang memiliki yang sumber daya alutsista yang besar tentunya tidak akan optimal tanpa disertai dengan adanya kerjasama dan perluasan hegemoni ke negara atau regional lainnya, demikian juga sebaliknya.
d.      Territorial Integrity yaitu keutuhan wilayah.
Territorial integrity merupakan elemen penting sebagai tujuan negara. Keutuhan wilayah bukan hanya mampu berperan sebagai aset nasional, namun juga sebagai upaya preventif sekaligus persuasif untuk meredakan separatisme sebagai salah satu isu yang mengemuka dalam percaturan politik internasional dewasa ini. Keutuhan wilayah juga memiliki keterkaitan yang erat dengan kerjasama dan bentuk-bentuk kesepahaman lainnya dengan negara tetangga dan manajemen perbatasan (borderness management) yang optimal.
e.       Economic Well Being yaitu kesejahteraan ekonomi.
Economic well being merupakan elemen penting dari kepentingan nasional suatu negara. Kesejahteraan ekonomi bukan hanya mampu menjadi parameter yang menunjukkan tingkat kemajuan suatu negara sehingga berpengaruh bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya, namun kemajuan ekonomi juga menentukan citra suatu negara di mata negara-negara internasional. Negara yang memiliki perekonomian maju dewasa ini merupakan negara yang memiliki posisi tawar (bargain position) yang tinggi dan strategis dalam percaturan politik internasional.
Dalam kaitannya dengan kasus penolakan India atas sanksi embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran, faktor penting yang menjadi dasar kepentingan India dalam penolakan tersebut adalah Economic Well Being. Kebutuhan India akan sumber daya energi minyak sangatlah besar. Iran merupakan negara penyuplai minyak terbesar kedua bagi India setelah Arab Saudi. Sementara India telah menyumbang lebih dari 10 persen ekspor tahunan Iran minyak, yang bernilai sekitar $ 12 miliar.[3]   
Selain itu hubungan perdagangan antara India dan Iran semakin erat. Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi dan mitra Indianya menegaskan pentingnya hubungan bilateral antara Iran dan India. Iran dan India saat ini memiliki neraca perdagangan sebesar USD 16 miliar. Menurut Ali Akbar Salehi, jumlah itu belum mencerminkan kapasitas yang ada akan mengambil langkah tertentu untuk meningkatkan jumlah neraca perdagangan tersebut.[4]



Konsep Politik Luar Negeri (skripsi dan tesis)


Jack C.Plano dan Roy Olton dalam The International Relations Dictionary menyebutkan bahwa Politik Luar Negeri adalah strategi atau rangkaian tindakan yang terencana yang dibuat oleh para pembuat keputusan suatu negara vis a vis negara lain atau kesatuan internasional untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam rangka memenuhi kepentingan nasional.[1]
Sementara Cecil V.Grab Jr, menyebutkan bahwa “politik luar negeri merupakan sintesa dari tujuan (kepentingan nasionalnya) dan sarana (kemampuan) dari suatu negara, sehingga dalam politik luar negeri terdapat 2 elemen yaitu, tujuan-tujuan (nasional objektif) yang hendak dicapai serta sarana-sarana (means) untuk mencapainya.” Jadi politik luar negeri bertujuan mewujudkan tujuan, cita-cita nasional, serta memenuhi kebutuhan suatu negara. Dengan demikian, politik luar negeri merupakan langkah nyata demi mencapai, melindungi, dan mempertahankan kepentingan nasional negara tersebut.[2]
Politik Luar Negeri merupakan pilar yang menghubungkan kepentingan nasional suatu bangsa. Oleh karena itu dalam pengambilan keputusan, pemerintah suatu negara harus mempertimbangkan politik luar negerinya terlabih dahulu.
India merupakan suatu negara yang terletak di kawasan Asia Selatan, India adalah negara yang memiliki penduduk lebih kurang 1,18 milyar orang dan termasuk dalam kategori negara yang memiliki penduduk terbesar nomor dua di dunia dan luas wilayah India merupakan yang terbesar di kawasan Asia Selatan.
Peran India yang sangat besar dalam penyeimbang di kawasan Asia Selatan yang merupakan kawasan yang memiliki potensi konflik yang cukup tinggi baik konflik vertikal maupun horizontal serta yang melibatkan elemen-elemen di luar kawasan tersebut. Peran India yang cukup signifikan di kawasan Asia Selatan dapat dilihat dari kebijakan politik luar negeri negara tersebut guna mengakomodir ancaman, hambatan dan tantangan yang terjadi di kawasan Asia Selatan maupun dunia internasional baik yang bersumber dari kawasan itu sendiri atau dari luar kawasan Asia Selatan.
Politik luar negeri yang diterapkan di kawasan regional maupun internasional ini dapat menjadi penentu arah bagaimana kawasan Asia Selatan dan India pada khususnya akan bergerak guna mengakomodir hambatan, ancaman dan tantangan serta kepentingan-kepentingan nasional India dalam hubungannya dengan geopolitik dan politik internasional yang sedang berjalan. Politik luar negeri India merupakan politik luar negeri yang bertumpu pada aspek pencapaian kepentingan-kepentingan nasional India serta prinsip non-blok yang telah menjadi dasar atau pedoman bagi perumusan politik luar negeri India sejak masa perang dingin hingga saat ini, meskipun dalam pelaksanannya pada masa sekarang atau setelah perang dingin berakhir prinsip tersebut banyak mengalami perubahan namun tetap tidak menghilangkan dasar dari prinsip itu sendiri. Sehubungan dengan Iran, kebijakan utama politik luar negeri India terhadap Iran saat ini adalah untuk mencapai kepentingan nasionalnya yaitu dalam bidang ekonomi atas pemenuhan sumber daya energi.



Land rent (skripsi dan tesis)


Land rent merupakan surplus pendapatan di atas pengeluaran biaya untuk lahan yang memungkinkan faktor produksi dapat dimanfaatkan dalam proses produksi (Suparmoko, 2006). Persaingan penggunaan lahan di berbagai sektor menyebabkan terjadinya alokasi lahan ke arah penggunaan lahan yang memiliki rent paling tinggi. Ricardo memberikan konsep teori atas perbedaan kesuburan tanah terutama di sektor pertanian. Asumsinya daerah permukiman baru terdapat sumberdaya lahan yang subur dan berlimpah, lahan yang subur digunakan untuk bercocok tanam dan tidak ada sewa karena penduduknya masih sedikit, sewa akan muncul jika penduduk bertambah sehingga permintaan akan lahan meningkat (Suparmoko, 1997). Teori di atas menegaskan bahwa perbandingan kualitas tanah merupakan faktor penentu nilai tanah pada lahan pertanian.
Hal tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tanah khususnya tanah pertanian. Terdapat hubungan antara land rent dengan penggunaan lahan (Gambar 2.1). Urutan penggunaan lahan yang memberikan land rent tertinggi sampai terendah adalah lahan yang digunakan untuk keperluan industri atau komersial diikuti penggunaan lahan untuk permukiman, hutan, padang rumput dan rawa (Barlowe, 1972 dalam Sudirman 2011).
Keterangan di atas memberikan gambaran kepada peneliti bahwa jenis-jenis penggunaan lahan akan berpengaruh terhadap nilai tanah dan dinamikanya, kemudian sebagai fungsi ruang penggunaan tanah akan berpengaruh terhadap terbentuknya pola zona nilai tanah. Oleh karena itu faktor jenis penggunaan tanah yang meliputi penggunaan perdagangan, pemukiman, tegalan, dan sawah akan dijadikan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi nilai tanah di lokasi penelitian ini.
Von Thunen (dalam Yunus, 2008) mengemukakan konsep locationrent (sewa lokasi) dengan variabel utama yang dianalisis berupa transportation cost yang dengan sendirinya sangat erat kaitannya dengan variabel jarak dan karakteristik dari komoditas yang diangkut. Selanjutnya Von Thunen (dalam Suparmoko, 2006) menjelaskan bahwa sewa tanah berkaitan dengan perlunya biaya transport dari daerah yang jauh ke pusat pasar. Teori tersebut menjelaskan bahwa salah satu variabel penting yang mempengaruhi nilai tanah yaitu faktor jarak dari pusat produksi (perdesaan) ke pusat input produksi dan pasar produksi (perkotaan). Prinsip tersebut dikemukakan dalam teori land rent yang merupakan surplus pendapatan di atas pengeluaran biaya untuk lahan yang memungkinkan faktor produksi dapat dimanfaatkandalam proses produksi (Suparmoko, 2006). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya transport tersebut merupakan komponen dari biaya produksi sehingga jarak lokasi produsen ke pusat pelayanan akan memberikan nilai land rent yang berbeda.
Semakin dekat letak tanah dari pusat-pusat penyedia barang dan jasa yang diperlukan masyarakat, maka biaya transportasi untuk memenuhi barangdan jasa tersebut relatif rendah atau murah sehingga faktor jarak jalan tersebut dengan CBD ini menjadi faktor penting yang membentuk nilai tanah.
Pada gambar tersebut harga produksi dan tingkat produksi antara A, B dan C adalah sama, yang membedakannya adalah biaya produksi yang dihasilkan. Perbedaan biaya produksi yang terjadi disebabkan oleh perbedaan jarak A, B, dan C ke pasar, sehingga menyebabkan perbedaan biaya transportasi. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa jarak A ke pasar lebih dekat dari pada B, dan jarak B ke pasar lebih dekat dari pada C, sehingga nilai land rent tertinggi dimiliki oleh A kemudian diikuti B dan yang terakhir adalah C. Teori ini menggambarkan bahwa jarak suatu lokasi tanah terhadap kota merupakan variabel penting yang mempengaruhi nilai tanah.
Burgess (dalam Nasucha, 1995) membahas hubungan antara sewa tanah dengan pencapaian (aksesibilitas) yang diukur dengan jarak dari pusat kota. Pencapaian (aksesibilitas) akan menurun secara bertahap kesemua arah dari pusat kota, sehingga sewa tanah akan berkurang seiring dengan makin jauhnya tempat tersebut dari pusat kota
Teori tersebut menjelaskan bahwa aksesibilitas suatu bidang tanah atau suatu zona nilai tanah dari pusat kota (pusat-pusat kegiatan) ekonomi atau wisata akan mempengaruhi nilai tanah suatu bidang atau suatu zona nilai tanah. Oleh sebab itu faktor aksesibilitas suatu bidang tanah dari pusat kota (ibu kota kabupaten) dan pusat perekonomian lainnya di lokasi penelitian digunakan sebagai salah satu faktor yang diduga mempengaruhi nilai tanah di lokasi penelitian ini.
Selanjutnya menurut Burgess (dalam Nasucha, 1995) dalam kenyataannya, perbedaan aksesibilitas suatu bidnag tanah mencerminkan adanya persaingan berbagai kegiatan di suatu tempat. Misalnya kegiatan A yang mutlak menuntut aksesibilitas yang tinggi, menyisihkan kegiatan lainnya berada di pusat kota (zona A sebagai perwakilan dari zona perdagangan). Kegiatan B, mampu menempati nilai sewa yang tinggi akan menempati zona B sebagai perwakilan dari zona industri. Sedangkan kegiatan C hanya mampu menempati zona C sebagai perwakilan dari zona tempat tinggal. Demikian pula dengan kegiatan D akan menempati zona D sebagai perwakilan dari zona pertanian. Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada peneliti bahwa jenis-jenis penggunaan lahan akan berpengaruh terhadap nilai tanah dan dinamikanya, kemudian sebagai fungsi ruang penggunaan tanah akan berpengaruh terhadap terbentuknya pola zona nilai tanah. Oleh karena itu faktor jenis penggunaan tanah yang meliputi penggunaan perdagangan, pemukiman, tegalan, dan sawah akan dijadikan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi nilai tanah di lokasi penelitian ini.

Pendekatan penilaian (skripsi dan tesis)


a.       Pendekatan pasar/perbandingan harga pasar.
Dalam pendekatan pasar, nilai tanah ditentukan berdasarkan perbandingan relatif terhadap harga pasar yang terjadi. Metode ini dilakukan dengan cara membandingkan properti yang akan dinilai dengan properti pembanding yang telah diketahui karakteristik dan nilainya. Obyek pembanding yang digunakan untuk menghitung obyek yang dinilai minimal tiga obyek pembanding baik yang telah terjual maupun dalam proses penawaran dan sebisa mungkin sejenis atau sebanding dengan obyek yang akan ditentukan nilainya. Penilaian dengan metode perbandingan data pasar diperlukan penyesuaian dari data yang dijadikan pembanding untuk menilai. Penyesuain data penting untuk dapat menghasilkan hasil penilaian yang akurat dan dapat dipercaya. Data pembanding biasanya diperoleh dengan kondisi yang berbeda dari properti yang dinilai (https://sia.diplomaekonomi.ugm.ac.id diakses tanggal 17 februari 2017 pukul 03:48 AM) selanjutnya dijelaskna bahwa yang perlu diperhatikan dalam proses penyesuaian data pembanding ialah (a) waktu transaksi dari data yang digunakan untuk menilai; (b) kualitas dari properti data pembanding; (c) luas tanah dan luas bangunan data yang diperoleh; (d) spesifikasi properti data pembanding; (e) lokasi data pembanding; (f) lingkungan data pembanding; (g) perlengkapan properti pembanding; (h) kondisi data yang diperoleh, data transaksi atau data penawaran; (i) kondisi transaksi yang terjadi.
b.      Pendekatan pendapatan.
Pendekatan pendapatan merupakan suatu metode penilaian properti yang berdasarkan pendapatan bersih per tahun. Nilai properti merupakan fungsi positif dari pendapatan. Semakin tinggi pendapatan yang dihasilkan oleh properti, maka semakin tinggi nilai properti tersebut. Metode ini digunakan untuk menilai suatu harta tetap/properti yang dapat menghasilkan pendapatan dari sewa. Dasar pemikiran dari Metode Kapitalisasi Pendapatan (Income Approach) yaitu Nilai pasar dari suatu harta tetap/properti kurang lebih sama dengan suatu modal yang mempunyai potensi untuk mendatangkan pendapatan. Adapun persayaratan yang yang harus dipenuhi sebelum menggunakan pendekatan kapitalisasi dalam menentukan nilai suatu properti adalah pendapatan bersih pertahun tidak pernah berubah jumlahnya selama masa investasi dan lamanya investasi tak terhingga (https://sia.diplomaekonomi.ugm.ac.id diakses tanggal 17 februari 2017 pukul 03:48 AM).
c.       Pendekatan biaya.
Asumsi dasar dalam pendekatan ini ialah adanya hubungan antara biaya produksi dan nilai properti. Dalam pendekatan ini juga dikenal adanya penurunan harga properti yang disebabkan oleh penyusutan properti tersebut (Suyudi, 2003:4). Pendekatan ini menekankan pada perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali obyek penilian (bangunan baru) kemudian biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali obyek yang dinilai dikurangi biaya penyusutannya dan ditambah dengan nilai tanahnya. Dari metode ini akan diperoleh total nilai tanah dan bangunan, selanjutnya nilai tanah diperoleh dari hasil pengurangan total nilai tanah dan bangunan terhadap nilai bangunan setelah dikurangi nilai penyusutan bangunan. Penyusutan dimaksud meliputi:
1)      Kerusakan fisik (Physical Deterioration), terdiri dari rusak, lapuk, retak, mengeras atau kerusakan pada strukturnya. Pertimbangan disesuaikan dengan umur kondisi fisik yang ada.
2)      Kemunduran Fungsional (Functional Obsolescence), disebabkan oleh perencanaan yang kurang baik, ketidak seimbangan yang berhubungan dengan ukuran, model, bentuk dan umur.
3)      Kemunduran Ekonomis (Economic Obsolescence), faktor-faktor luar yang mempengaruhi seperti perubahan sosial, peraturan-peraturan pemerintah, dan peraturan-peraturan lain yang membatasi peruntukan dan lain-lain.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi nilai tanah (skripsi dan tesis)


Menurut Hidayat dan Harjanto (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tanah dapat antara lain (a) faktor permintaan dan penawaran (b) faktor fisik (c) faktor perlekatan dan (d) faktor kenegaraan/politiik. Selanjutnya setiap faktor dijelaskan sebagai berikut:
a.       Faktor Penawaran dan Permintaan.
Permintaan dan penawaran memiliki hubungan yang erat dalam hukum ekonomi, jika permintaan meningkat sedangkan jumlah penawaran tetap atau bahkan berkurang, maka nilai komoditas akan naik begitu juga sebaliknya apabila pasokan meningkat sementara permintaan berkurang maka akan menyebabkan nilai komoditi menjadi turun. Tanah sebagai salah satu komoditi ekonimi juga terpengaruh oleh hukum ekonomi tersebut, akan tetapi nilai tanah memiliki kecenderungan terus mengalami kenaikan karena jumlah bidang tanah yang cenderung tetap sedangkan permintaan akan tanah terus meningkat. Penawaran dan permintaan turut berpengaruh terhadap peningkatan nilai tanah di suatu daerah, termasuk di lokasi penelitian yang akan diteliti hal tersebut ditandai dengan jumlah transaksi jual beli tanah yang terus meningkat setiap saat.


b.      Faktor fisik.
Faktor fisik merupakan faktor yang melekat pada bidang tanah dan mempengaruhi nilai dari bidang tanah tersebut. Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa faktor fisik merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai suatu bidang tanah. Semakin ideal kondisi fisik suatu bidang tanah, maka semakin tinggi nilai dari bidang tanah tersebut hal itu juga berlaku sebaliknya. contoh faktor fisik yang mempengaruhi nilai tanah antara lain jenis penggunaan tanah, bentuk bidang, luas tanah, ukuran, topografi, dan lain-lain. Terkait dengan faktor fisik bidang tanah, dalam pasal 16 ayat 1 huruf b peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional nomor 1 Tahun 1994 tentang ketentuan pelaksanaan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 55 Tahun 1993 tentang Penggadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi nilai tanah sebagai berikut: (a) lokasi tanah; (b) jenis hak atas tanah; (c) status penguasan tanah; (d) peruntukan tanah; (e) kesesuaian penggunaan tanah dengan rencana tata ruang wilayah; (f) prasarana yang tersedia; (g) fasilitas dan utilitas; (h) lingkungan dan (i) lain-lain yang mempengaruhi harga tanah.
BPN dan PPE FE UGM (1994) mengemukakan bahwa nilai tanah dipengaruhi oleh: (a) penggunaan tanah; (b) lebar jalan dan lebar perkerasan jalan; (c) luas bidang tanah; (d) banjir; (e) elevasi bidang tanah; (f) bentuk bidang tanah; (g) fasilitas PLN dan PAM; (h) lokasi sudut bidang tanah; (i) fasilitas pendidikan dan pasar dalam jarak 500 meter; (j) lokasi tusuk sate bidang tanah.
c.       Faktor perlekatan dan lokasi.
Faktor perlekatan yang dimaksud meliputi apakah suatu bidang tanah terletak di tempat yang tinggi atau rendah (elevasi), di lereng bukit atau di tepi sungai di tengah atau di pojok blok perumahan dan sebagainya. Sedangkan faktor lokasi dalam beberapa penelitian terdahulu merupakan salah satu fakor yang “terkuat” dalam mempengaruhi nilai tanah jika dibandingkan dengan faktor-faktor yang lain.
d.      Faktor kenegaraan/politik.
Faktor kenegaraan yang dimaksud adalah faktor ekonomi, sosial dan politik suatu negara dimana secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap nilai tanah. Contohnya sistem perundangan yang ada di suatu negara akan mempengaruhi nilai tanah apabila sistem perudangan tersebut dapat memberikan kemudahan terkait penerbitan tanda bukti kepemilikan atas suatu bidang tanah. Kemudahan peraturan kepemilikan bidang tanah akan menyebabkan permintaan tanah akan naik sehinggan nilai tanah akan ikut meningkat.
Beberapa faktor yang telah dijelaskan akan digunakan dalam penelitian ini untuk mengestimasi nilai tanah seluruh bidang yang terdapat pada lokasi penelitian. Namun yang menjadi focus utama dalam penelitian ini ialah keberadaan faktor fisik bidang tanah baik yang melekat langsung pada bidang tanah yang dinilai maupun faktor dari luar bidang tanah seperti kesesuaian penggunaan bidang tanah terhadap tata ruang, aksesibilitas dan lain sebagainya.