Tampilkan postingan dengan label konsultasi skripsi yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konsultasi skripsi yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Februari 2020

Model Penelitian Tindakan Kelas Menurut Riel (skripsi dan tesis)

Model ke dua dikembangkan oleh Riel (2007) yang membagi proses penelitian tindakan menjadi tahap-tahap: studi dan perencanaan, pengambilan tindakan, pengumpulan dan analisis kejadian, refleksi. Riel mengemukakan bahwa untuk mengatasi masalah diperlukan studi dan perencanaan. Masalah ditentukan  berdasarkan pengalaman empiris yang ditemukan sehari-hari. Setelah masalah teridentifikasi kemudian direncanakan tindakan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan dan mampu dilakukan oleh peneliti. Perangkat pendukung tindakan (media, RPP) disiapkan pada tahap perencanaan. Tahap berikutnya pelaksanaan tindakan, kemudian mengumpulkan data/informasi dan menganalisis. Hasil evaluasi kemudian dianalisis, dievaluasi dan ditanggapi. Kegiatan dilakukan sampai masalah bisa diatasi (Endang Mulyatiningsih, 2011:70)

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Kurt Lewin (skripsi dan tesis)

Menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model Penelitian Tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian karena dialah yang pertama kali memperkenalkan action research atau penelitian tindakan. Konsep model ini terdiri dari empat komponen (siklus), yaitu ; perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. (Wijaya Kusuma, 2011:20)

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 Menurut Wijaya Kusuma (2009:9) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Menurut O’Brien sebagaimana dikutip oleh Endang Mulyatiningsih (2011:60) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan ketika sekelompok orang (siswa) diidentifikasi permasalahannya, kemudian peneliti (guru) menetapkan suatu tindakan untuk mengatasinya. Cohen dan Manion sebagaimana dikutip oleh Padmono (2010) menyatakan penelitian tindakan adalah intervensi kecil terhadap terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut. Pandangan ini menunjukkan bahwa penelitian tindakan dapat dilakukan secara kolaboratif dengan pakar. 
Pakar memberikan alternatif pemecahan dan alternatif tersebut perlu diuji sejauh mana efektifitasnya. Dengan demikian peneleitian tindakan menurut Cohen dan Manion bukan mutlak harus dilakukan oleh pekerja sendiri (guru sendiri) akan tetapi guru dapat meminta atau bekerja sama dengan pihak lain. Selanjutnya Kemmis dan Taggart sebagaimana dikutip oleh Padmono (2010) menyatakan penelitian tindakan adalah suatu penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan 10 oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan dan praktek sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktek-praktek itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktek-praktek tersebut. Kemmis dan Taggart memandang, bahwa penelitian ini dilakukan secara kolektif untuk memperbaiki praktek yang mereka lakukan dimana perbaikan dilakukan berdasar refleksi diri. Dalam bukunya Becoming Critical : Education, Knowledge, an Action Research 1986. Kemmis dan Carr lebih jelas menyatakan penelitian tindakan adalah bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, atau kepala sekolah, misalnya) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktek-praktek sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktek-praktek ini, dan (c) situasi-situasi (dan lembaga-lembaga) dimana praktek-praktek tersebut dilaksanakan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat dapat memperbaiki atau meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara professional

Manfaat dari Kegiatan Kolase dari daun Pisang (skripsi dan tesis)

Ada banyak manfaat yang akan di dapat dari kegiatan kolase dari daun pisang keringyaitu : 
1. Melatih Motorik Halus Saat bermain kolase, anak harus menempelkan satu persatu guntingan dari daun pisang yang digunakan untuk kolase.Sebagian anak mungkin agak kesulitan melakukannya karena butuh gerakan-gerakan halus dan jari jemari untuk menempelkan dibidang gambar.Kemampuan morik halus yang baik sangat penting karena berpengaruh terhadap aktivitas anak sehari-hari. 
2. Meningkatkan Kreativitas Pilih permainan kolase yang juga memancing kreativitas. Salah satunya yang menyedikan pilihan, baik warna, bidang tempel, karakter, atau lainnya yang memenuhi selera
3. Melatih Konsentrasi Butuh konsentrasi cukup tinggi bagi anak saat menempel. Lambat laun kemempuan konsentrasinya akan semakin terarah. Pada saat kosentrasi menempel dibutuhkan pula koordinasi pergerakkan tangan dan mata.Koordinasi ini sangat baik untuk merangsang pertumbuhan otak di masa yang sangat penting.
 4. Mengenal Warna Kolase terdiri atas banyak sekali warna : merah, hijau, kuning, biru, dan lainnya. Anak dapat belajar mengenal warna agar wawasan dan kosa katanya bertambah. 
5. Mengenal Bentuk Selain warna, beragam bentuk pun pada kolase.Ada segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang, dan gambar-gambar yang bukan geometris.Pengenalan bentuk geometris dasar yang baik, kelak membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik.Pemehaman ini membuat otak lebih aktif sehingga kecerdasan anak tumbuh lebih maksimal. 
6. Melatih Memecahkan Masalah Kegiatan kolase merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan anak.Tetapi bukan masalah yang sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak.Masalah yang mengasikkan yang b mebuat anak tanpa sadar sebenarnya sedang dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. 
7. Mengasah Kecerdasan Splokasial Kecerdasan special adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami ruang. Kemampuan special akan ikut terasah dalam permainan kolase ini. 8. Melatih Ketekunan Tak mudah menyelesaikannya kegiatan kolase dalam waktu cepat. Butuh ketekunan dan kesabaran saat mengerjakannya mengingat setiap bentuk yang akan ditempel satu persatu. Tak heran bila permainan ini pun dapat melatih ketekunan dan kesabaran anak. 
9. Meningkatkan Kepercayaan Diri Bila anak mampu menyelesaikannya, dia akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dalam dirinya tumbuh kepercayaan diri bahwa dia mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik.Kepercayaan diri sangat positif untuk menambah daya kreativitas anak karena mereka tidak kuat atau malu saat mengerjakan sesuatu

Langkah- langkah Pembelajaran Kolase di TK (skripsi dan tesis)

 Dalam Sumanto (2006) langkah-langkah guru dalam mengajar pembuatan kolase di TK adalah :
 1. Guru menyiapkan kertas gambar atau Koran sesuai ukuran yang di inginkan, menyiapkan daun pisang kering untuk di tempelkan, lem dan peralatan lainnya.
 2. Bahan membuat kolase disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, untuk lingkungan desa gunakan bahan yang mudah di tempelkan. Misalnya daun pisang kering, batang pisang kering dan lainnya. Untuk lingkungan kota gunakan bahan buatan, bahan limbah, barang bekas dengan pertimbangan lebih mudah digunakan.
 3. Guru memandu langkah kerja membuat kolase dimulai dari, menyiapkan bahan yang akan ditempelkan, memberi lem pada bahan yang akan ditempelkan dan cara menempel bahan yang telah diberi lem sampai menjadi kolase. 
4. Guru di harapkan juga mengingatkan pada anak agar dapat melakukannya dengan tertib dan setelah selesai merapikan atau membersihkan tempat belajar. 
5. Selama kegiatan berlangsung guru sebagai peneliti dan kolaborator berkeliling mengamati kerja anak. Selain itu guru memberi motivasi kepada anak agar mampu membuat hasil karya sesuai keinginannya.Serta mendampingi dan memberi motivasi dan semangat kepada anak sampai anak bisa menciptakan karya yang sesuai dengan imajinasinya. 
6. Guru menghargai ide anak dengan memberikan penguatan dan reward, berupa acunga jempol, tanda bintang dan sebagainya kepada anak saat kegiatan berlangsung sehingga anak lenih termotivasi.

Bahan dan Peralatan Kolase untuk Pembelajaran di TK (skripsi dan tesis)

 Bahan yang digunakan dalam pembutan kolase di TK tentu akan berbeda dengan bahan pembuatan kolase pada umumnya. Tetapi dalam prinsipnya pembuatannya dan prinsip kerjanya, baik untuk kolase pada TK maupun pada umumnya adalah sama. Dalam Pamadhi dan Sukardi (2008:5.39) bahan pembuatan kolase di TK yaitu kertas, kain, gabus, lem, daun kering, sedotan, gelas bekas aqua, potongan kayu dadu, benang, bijibijian, sendok plastik, karet, benang, manic-manik atau masih banyak media lainnya. Bahan – bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan kolase untuk anak TK adalah berupa bahan alam, bahan buatan dan bahan kertas. Bahan yang menarik serta mudah di dapatkan dalam pembuatan kolase untuk anak  TK menggunakan alat bidang dasaran berupa kertas HVS, kertas gambar, lem kayu, lem kertas, gunting dan pensil, serta menggunakan bahan alam dan kertas seperti kertas lipat, kertas bungkus kado, Koran, biji kedelai, biji jagung, daun pisang kering dan kacang hijau

Pengertian Kolase (skripsi dan tesis)

Dalam Pamadhi dan Sukardi (2008:5.4) kolase yaitu merupakan karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan bahan bermacam-macam selama bahan dasar tersebut dapat dipadukan dengan bahan dasar lain yang akhirnya dapat menyatu menjadi karya yang utuh dan dapat mewakili ungkapan perasaan estetis orang yang membuatnya. Kegiatan kolase dalam pengertian ini adalah kegiatan berolah seni rupa yang menggabungkan tekhnik melukis (lukisan tangan) dengan keterampilan menyusun dan merekatkan bahan-bahan pada kertas gambar atau bidang dasar yang digunakan daun pisang,sampai di hasilkan tatanan yang unik, menarik dan berbeda menggunakan bahan kertas, bahan alam dan bahan buatan

Perkembangan Emosi Anak Usia Dini Usia 5 – 6 Tahun (skripsi dan tesis)

 Menurut Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Nomor 137 2014 standar isi tentang tingkat pencapaian perkembangan emosi anak usia 5 – 6 tahun yaitu :
Kesadaran Diri 1. Memperlihatkan kemampuan diri untuk menyesuaikan dengan situasi 2. a. Memperlihatkan kehati – hatian kepada orang yang belum dikenal (menumbuhkan kepercayaan pada orang dewasa yang tepat) 3. Mengenal perasaan sendiri dan mengelolanya secara wajar (Mengendalikan diri secara wajar )
 b. Rasa tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain 1. Mentaati aturan kelas ( kegiatan, aturan ) 2. Mengatur diri sendiri 3. Bertanggung jawab atas prilakunya untuk kebaikan diri sendiri 
c. Prilaku Prososial 1. Mengetahui perasaan temannya dan merespon secara wajar 2. Berbagi dengan orang lain 3. Menghargai hak / pendapat / karya orang lain 4. Bersikap kooperatif dengan teman 5. Menunjukkan sikap toleran 6. Mengepresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada (senang – sedih – antusias,dsb)

Karakteristik Perkembangan Emosi (skripsi dan tesis)

Menurut Elizabeth B. Hurlock dalam Syaodih (2008:2.24) perkembangan emosi anak memiliki karakteristik sebagai berikut : 
a. Emosi yang kuat Anak kecil bereakasi terhadap suatu stimulasi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang sulit. Anak belum mampu menunjukkan reaksi emosional yang sebanding terhadap stimulasi yang dialaminya.
 b. Emosi seringkali tampak Anak-anak sering kali tidak mampu menahan emosinya, cenderung emosi anak nampak dan bahkan berlebihan. 
c. Emosi bersifat sementara Emosi anak cenderung lebih bersifat sementara, artinya dalam waktu yang relative singkat emosi anak dapat berubah dari marah kemudian tersenyum, dari ceria berubah menjadi murung. 
d. Reaksi emosi mencerminkan individualitas Semasa bayi, reakasi emosi yang ditunjukkan anak relative sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh factor belajar dan lingkungan, prilaku  yang menyertai berbagai emosi anak semakin di individualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketekutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis atau menjerit. 
e. Emosi berubah kekuatannya Dengan meningkatnya usia, emosi anak pada usia tertentu berubah kekuatannya. Emosi anak yang tadinya kuat berubah menjadi lemah, sementara yang tadinya lemah berubah menjadi emosi yanh kuat. 
f. Emosi dapat diketahui melalui gejala prilaku Emosi yang dialami anak dapat pula dilihat dari gejala prilaku anak, seperti pemarah, melamun, gelisah, menangis, sukar berbicara atau dari tingkah laku yang gugup seperti menggigit kuku atau menghisap jempol.

Pengertian emosi (skripsi dan tesis)

Menurut Nugraham & Rachmawati (2010:1.2) emosi adalah perasaan yang ada dalam diri kita, dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. Sedangkan menurut Syamsudin dalam Nugraha mengemukakan bahwa “ emosi merupakan suatau suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (stid up state) yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya suatu prilaku

Pengertian Perkembangan Emosi (skripsi dan tesis)

 Menurut Masitoh,dkk (2010:2.12) perkembangan emosi berhubugan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi. Anak cendrung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka.Sikap marah sering mereka perhatikan dan sering berebut perhatian guru.Pada masa ini anak menjadi lebih mengerti dan mampu berinisiatif, tetapi mungkin terlalu kuat sehingga timbul keinginan menarik rencananya.Hal ini menyebabkan anak merasa bersalah. Pada masa ini anak mampu melakukan partisipasi dan mengambil inisiatif dalam kegiatan fisik, tetapi ada beberapa kegiatan yang dilarang oleh guru dan orang tua. Anak sering memiliki keraguan untuk memilih antara apa yang ingin dikerjakan dengan apa yang harus dikerjakan. Pada usia ini  anak sudah memiliki inisiaif tetapi sering pula mereka tidak bisa memutuskan apa yang akan di kerjakannya. 
Menurut Fridani & Wulan dkk (2008:5.3) perkembangan anak usia dini merupakan proses yang sangat kompleks. Perkembangan emosi berkaitan dengan tempramen, perasaan, reaksi, konsep diri, dan harga diri.Emosi dan perasaan memainkan peran dalam segala pengalaman hidup, dalam bekerja, bermain, belajar, dan interaksi antara manusia.Emosi bersifat universal dan evolusioner dalam membantu manusia untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri dan belajar.Setiap individu dari berbagai budaya menunjukkan ekspresi emosi seperti bahagia atau senang, marah, berduka, tertawa karena lucu, dan lain-lain. Emosi anak usia dini adalah bukti dalam menunjukkan ekspresi, bahasa tubuh, postur tubuh, bahasa tubuh yang lain, suara atau vocal, bahasa, gaya komunikasi, dan prilaku yang ditimbulkan karena bermain dengan alat-alat mainan dan alat-alat pembelajaran. Perkembangan emosi adalah proses yang berjalan secara perlahan dari bayi mula dapat mengontrol dirinya ketikamenemukan self comforting behavior atau merasa nyaman

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Hopkins (skripsi dan tesis)

 Model Hopkins dalam Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inquiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan

Model Penelitian Tindakan Kelas Menurut Kemmis & Taggart (skripsi dan tesis)


 Model Kemmis & Teggart dalam Sofyan (2014:110) kegiatan pokok fokus penelitian tindakan terdiri dari (1) Planning, (2) Acting, (3) Observing, (4) Reflecting,
 Planning : 
1. Mempelajari aspek-aspek perkembangan yang akan dikembangkan di TK
 2. Mempelajari kurikulum TK 
3. Mengembangkan tematik yang sesuai dengan perkembangan anak
 4. Mempersiapkan permainan sesuai dengan tema 
5. Membuat RKM 
6. Membuat RKH 
7. Menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan sesuai tema
 8. Menyiapkan sumber belajar 
9. Mengembangkan format observasi 
10. Mengembangkan format evaluasi 
Acting : 
1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan perencanaan
 2. Melaksanakan pengamatan mengenai isi tindakan 3. Mengumpulkan data perlengkapan lain yang mendukung 
 1. Melakukan observasi dengan format observasi 
2. Mengamati kegiatan pembelajaran, pengamatan, berperan serta, peneliti terlibat langsung selama kegiatan berlangsung
 Reflecting I :
 1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah terjadi tindakan 
2. Mengadakan pertemuan untuk membahas hasil tindakan 
3. Evaluasi Planning :
 1. Merevisi dan memodifikasi pembelajaran sesuai dengan hasil tindakan siklus I Acting :
 1. Mengaplikasian pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang ke II Observing II 1. Mengamati kegiatan pembelajaran sesuai dengan siklus perencanaan yang kedua
 2. Mengumpulkan data tindakan yang kedua Reflecting II 
1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah dilakukan tindakan kedua 
 2. Evaluasi tindakan yang kedua

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Kurt Lewin (skripsi dan tesis)

 Model Kurt Lewin dalam Ekawarna (2009) yang sering dijadikan acuan pokok atau dasar dari berbagai model penelitian tindakan (action research), terutama PTK. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research menurut Krut Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu : 
1. Perencanaan (Planning) Pada tahap ini penulis melakukan : 
a. Menyusun rencana kegiatan harian (RKH) 
b. Menyiapkan instrument penelitian 
c. Menyiapkan sumber belajar 
d. Mengembangkan scenario pembelajaran
 2. Tindakan (acting) Melakukan tindakan sebagai langkah yang kedua merupakan realisasi dari rencana yang kita buat.Tanpa tindakan rencana hanya merupakan agan-agan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
 3. Pengamatan (observing) Berdasarkan pengamatan kita akan dapat menemukan apakah ada hal-hal yang harus segera diperbaiki agar tindakan dapat mencapai tujuan yang kita inginkan. 
4. Refleksi (reflecting) Refeksi sebagai langkah keempat, kita lakukan setelah tindakan terakhir. Kita akan mencoba melihat atau merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan dan apa dampaknya bagi proses belajar  siswa. Yang lebih penting pula kita renungkan alasan kita melakukan satu tindakan dikaitkan dengan dampaknya. Dengan cara ini kita akan dapat mengenal kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang kita lakukan.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 Penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai manfaat yang cukup besar, bagi guru, pembelajaran, maupun bagi sekolah.: 
1. Manfaat PTK bagi Guru Bagi guru, PTK mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut : 
a).PTK dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya karena memang sasaran akhir PTK adalah perbaikan pembelajaran.
 b).Dengan melakukan PTK guru dapat berkembang secara propesional karena dapat menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pelajaran yang dikelolanya. c).PTK membantu guru lebih percaya guru. 
2. Manfaat PTK bagi Pembelajaran/Siswa 
 mempunyai manfaat yang sangat besar bagi pembelajaran karena tujuan PTK adalah memperbaiki praktik pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki belajar siswa. Dengan adanya PTK kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, hingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut. 
3. Manfaat PTK bagi Sekolah Sekolah mempunyai kesempatan yang besar untuk berubah secara menyeluruh. Dalam konteks ini, PTK memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan professional para guru, perbaikan proses dan hasil belajar siswa, serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah tersbut.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas pada dasarnya memiliki sejumlah karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut :
 a. Bersifat siklis atau berulang, artinya dalam PTK terdapat siklus-siklus atau perulangan mulai dari perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi sebagai prosedur baku PTK. 
b. Bersifat jangka panjang atau longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu lama yang tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya.
 c. Bersifat particular - spesipik, jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka menguji atau menemukan teori-teori. Hasinya pun tidak untuk di generalisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain, di tempat lain yang konteksnya mirip.
 d. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekaligus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu di ubah. 
e. Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak yang di teliti, bukan menurut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang di teliti. 
f. Bersifat kalobaratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja sama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian. 
g. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesipik atau khusus dalam pembelajarang yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru, menggarap masalah-masalah yang memiliki urgensi tinggi. 
h. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian. 
 i. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasikan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif.
 j. Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Penelitian tindakan pada hakikatnya merupakan rangkaian “ riset – tindakan – riset – tindakan -… “ yang dilakukan secara siklik dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Sedangkan menurut Wardhani & Wihardit (2012 :1.4) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat

Desain Intact-Group Comparison (skripsi dan tesis)


Pada desain ini, populasi dibagi atas dua kelompok, tidak secara random. Kelompok
pertama merupakan unit percobaan untuk perlakuan dan kelompok kedua merupakan
kelompok untuk suatu kontrol. Kemudian dicari perbedaan antara rerata pengukuran dari
keduanya, dan perbedaan ini dianggap disebabkan oleh perlakuan
Prosedur dalam melaksanakan percobaan dengan desain ini, adalah sebagai berikut:
1. pilihlah unit percobaan secara dengan membagi dua kelompok dari suatu populasi.
2. gunakan perlakuan terhadap kelompok percobaan dan tanpa perlakuan pada
kelompok kontrol (kelompok kedua)
3. ukurlah hasil perlakuan, misalnya dengan melakukan posttest
4. hitunglah rerata dari masing-masing ukuran kelompok, dan bandingkan dengan
menggunakan statistik yang cocok.
Desan ini mempunyai validitas internal yang lemah, karena tidak dilakukan randomisasi.
Pengaruh counfonding antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua tidak ada,
karena pengukuran pertama (pretest) tidak dilakukan.
Beberapa pengaruh luar belum tentu dihilangkan, antara lain error history, instrumentasi,
dan error testing.

Desain satu kelompok pretest- posttest (skripsi dan tesis)


Desain penelitian ini terdapat dua kali pengukuran dengan satu kali perlakuan.
Pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan diberikan, dan pengukuran data
kedua dilakukan sesudah perlakuan dilaksanakan. Desain ini merupakan perbaikan terhadap desain sebelumnya. Misalnya, percobaan
dilakukan pada kelompok-kelompok ibu hamil untuk melihat kebaikan sistem
pengelolaan ibu hamil melalui pendampingan. Pemberian tablet Fe merupakan suatu
perlakuan X. Pertama-tama diukur rerata kadar Hb Ibu hamil melalui pemeriksaan darah
sebelum diberi perlakuan. Sesudah perlakuan (pemberian tablet Fe) dilaksanakan,
kemudian diukur lagi kadar Hbnya. Kemudian dibuat perbandingan antara rerata Hb
sebelum dan sesudah perlakuan untuk melihat pengaruh pemberian kadar Fe.
Kelemahan:
Validitas internal masih dirasakan relatif kurang. Tidak ada jaminan yang menyatakan
bahwa perbedaan rerata kadar Hb ibu hamil sebelum dan sesudah perlakuan selalu
disebabkan oleh pemberian tablet Fe.
Desain ini menghasilkan banyak error, antara lain error yang disebabkan oleh: efek
testing, pengaruh instrumen (alat tes Hb), error history, bias pemilihan, dan error regresi.
Efek testing adalah error yang disebabkan karena berubahnya motivasi ibu hamil setelah
dites pertama kali sebelum perlakuan sehingga pola makan dapat berubah sebelum atau
selama perlakuan. Pengaruh instrumen, artinya error yang disebabkan karena jenis
keakuratan dan presisi dari alat tes Hb. Error history dapat terjadi karena subjek berubah
misalnya menjadi lebih mampu secara ekonomi atau akses gizi. Bias pemilihan terjadi
karena ada subjek penelitian yang drop out sehingga tidak dapat mengikuti tes.
Keuntungan:
Karena adanya pretest sebelum dikenakan perlakuan, dan adanya post-test sesudah
perlakuan diberikan, maka dapat dibuat perbandingan terhadap kadar Hb Ibu hamil dari
kelompok percobaan yang sama. Bias variabel pemilihan subjek penelitian, dapat
dihilangkan dengan menjamin bahwa kedua tes tersebut adalah semua anggota unit
percobaan.

Pada one shot case study, perlakuan dikenakan pada kelompok unit percobaan tertentu, dan kemudian diadakan pengukuran terhadap variabel terikatDesain percobaan ini, digunakan hanya satu kelompok percobaan tanpa kontrol. Misalnya
menyajikan suatu pelajaran dengan sistem ceramah. Kemudian diukur pengaruh pemberian
ceramah tersebut dengan mengadakan ujian setelah ceramah diberikan. Prestasi belajar
kelompok tersebut diukur berdasarkan hasil posttest di atas dengan mencari meannya.
Keuntungan:
Desain ini berguna untuk mengembangkan suatu prakarsa atau sebagai suatu desain untuk penelitian eksplorasi atau penelitian pendahuluan.
Kelemahan:
1. Desain ini tidak mempunyai kontrol, oleh karena itu validitas internal tidak ada sama sekali. Validitas eksternal juga tidak ada, karena kesimpulan yang diperoleh tidak mempunyai jaminan ketepatan.
2. Desain ini tidak mempunyai dasar untuk membuat perbandingan, kecuali secara subjektif dan intuitif