Tampilkan postingan dengan label judul sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label judul sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

Jenis Pantun


            Ada beberapa jenis pantun yaitu. Jika dilihat dari bentuknya kita kenal sebagai berikut:
1.    Pantun Biasa  (  Pantun biasa sering juga disebut pantun  saja.)

      Contoh :

            Kalau ada jarum patah
            Jangan dimasukkan ke dalam peti
            Kalau ada kataku yang salah
            Jangan dimasukan ke dalam hati

2.    Seloka (Pantun Berkait)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.

Ciri-ciri Seloka :
a.    Baris kedua dan keempat  pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
b.    Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga
c.    Dan seterusnya

Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan


3.    Talibun
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga  isi.
      Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat  isi.

      Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
      Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

      Contoh :
            Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli                sampiran
            Ikan panjang beli dahulu


            Kalau anak pergi berjalan
            Ibu cari sanak pun cari                   isi
            Induk semang cari dahulu


4.    Pantun Kilat ( Karmina) )
      Ciri-cirinya :
a.    Setiap bait terdiri dari 2 baris
b.    Baris pertama merupakan sampiran
c.    Baris kedua merupakan isi
d.    Bersajak a – a
e.    Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Contoh :
Dahulu parang, sekarang besi     (a)
Dahulu sayang sekarang benci   (a)

Berdasarkan isi nya pantun dibagi menjadi :

a)    Pantun muda mudi
Dari jauh kapal melintang
tampak haluan dengan kemudi
dari jauh kanda datang
apa maksud datang ke sini
b)    Pantun nasihat
Kalau anak pergi ke lepau
yu beli belanak pun beli
ikan panjang beli dahulu
kalau anak pergi merantau
ibu cari sanakpun cari
induk semamg cari dahulu
c)    Pantun agama
Kemumu di dalam semak
buah kepayang banyak minyaknya
biar ilmu setinggi tegak
tak sembayang apa gunanya
d)    Pantun  Jenaka
Iluk nian bukit sumbing
jalan ke sawah bersimpang duo
iluk nian bebini sumbing
biak marah ketawo jugo
e)    Pantun orang tua
Kalau anak pergi ke pasar
jangan lupa membeli baju
kalau anak sedang belajar
jangan lupa pesan guru
f)     Pantun anak-anak
Anak kecubung mandi di sawah
botol kosong nyaring bunyinya
anak sombong banyak ketawa
suka bohong banyak musuhnya

Pengertian Pantun


            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1984: 728) dinyatakan bahwa” Pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b). Tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama atau kedua adalah merupakan tumpuan (sampiran), sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.
            Pendapat lain mengatakan bahwa pantun adalah jenis karangan yang (puisi) terikat oleh bait, baris rima dan irama. Dari pengertian ini dapat dipertegas bahwa pantun adalah salah satu produk berbentuk puisi, tetapi lebih terikat pada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan biasanya karya pantun lebih akrab dengan orang Melayu, karena merupakan kebudayaan asli orang Melayu. Dalam  pantun terpendam mutiara-mutiara  dan kaidah-kaidah yang benilai tinggi untuk dijadikan sebagai pedoman bermasyarakat orang Melayu.  Sebagaimana diungkapkan oleh Hakymi (2004) bahwa: ” dalam pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam tersimpan mutiara-mutiara dan kaidah-kaidah yang tinggi nilainya untuk kepentingan hidup bergaul dalam masyarakat. Kalimat-kalimat yang disusun, diucapkan dengan kata-kata kiasan mengandung makna yang tersirat di dalamnya.”

Pengertian Kedwibahasaan


Kedwibahasaan seseorang ialah kebiasaan orang memakai dua bahasa dan penggunaan bahasa itu secara bergantian (Nababan, 1992:103). Kondisi ini terjadi pada masyarakat bangsa Indonesia karena di Negara ini terdiri atas beberapa bahasa daerah berdasarkan suku daerah tersebut. Kemudian bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, sehingga mendorong dan mengharuskan masyarakat Indonesia menjadi dwibahasawan. Karena di samping bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pertama) dari masyarakat itu, harus pula belajar dan memperoleh bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, agar komunikasi antar warga dapat berjalan lancar. Apalagi kalau dua orang yang berbeda suku bangsa dan daerah, maka untuk berkomunikasi tentunya menggunakan bahasa kedua.
Salah satu hasil pemerolehan atau pembelajaraan bahasa kedua ialah bahwa orang yang belajar atau memperoleh bahasa kedua itu menguasai dua bahasa, yang disebut dengan kemampuan dwibahasa (bilingualitas). Oleh karena itu, seseorang belajar bahasa kedua untuk menggunakannya dalamkeadaan di mana bahasa kedua itu diperlukan.
Menurut Nababan (1984) yang dikutip oleh Sri Utari Nababan (1992:104), bahwa penggunaan kedwibahasaan (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) terjadi karena :
a)    Dalam Sumpah Pemuda (1928) penggunaan bahasa Indonesia dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan dan nasionalisme.
b)   Bahasa-bahasa daerah mempunyai tempat yang wajar di samping pembinaan dan pengembangan bahasa dan kebudayaan Indonesia.
c)    Perkawinan campur antarsuku.
d)   .Perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah yang lain yang disebabkan urbanisasi, transmigrasi, mutasi karyawan dan pegawai, dan sebagainya.
e)     Interaksi antarsuku, yakni dalam perdagangan, sosialisasi dan urusan kantor atau sekolah.
f)    . Motivasi yang banyak didorong oleh kepentingan profesi dan kepentingan hidup.
Berdasarkan pengertian di atas mengenai kedwibahasaan, maka yang dimaksud dengan dwibahasawan adalah orang yang dapat berbicara dalam dua bahasa.

Pengertian Bahasa


Bahasa adalah sistem lambang yang berupa bunyi yang dipakai untuk melukiskan pikiran dan perasaan ( Ali, 1989:23). Pendapat tersebut menujukkan bahwa bahasa merupakan suatu sistem berupa lambang dan bunyi yang menjadi wahana atau alat bagi seseorang dalam mengapresiasikan dan melahirkan buah pikiran, ide, gagasan, dan perasaan. Dalam hal ini, setiap penyampaian pikiran dan perasaan bagi seseorang haruslah melalui bahasa.
Sedangkan, Parera (1993:15) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer dan bermakna konvensional yang dengannya satu kelompok masyarakat berkomunikasi antarsesama anggota. Selanjutnya, ahli ini juga memberikan definisi bahasa dari segi komunikasi, dengan mengatakan bahwa bahasa adalah sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan, pesan dan memahami pikiran, perasaan, dan pesan dari orang lain (Parera, 1993:15).
Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut, maka penulis menarik suatu kesimpulan bahwa bahasa itu mempunyai ciri, antara lain :
a)    Bahasa, adalah sebuah sistem
b)   Bahasa itu berwujud lambang
c)    Bahasa itu berupa bunyi
d)   Bahasa itu bersifat arbitrer
e)    Bahasa itu mempunyai makna
f)    Bahasa itu bersifat konvensional
g)   Bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk melahirkan atau menyampaikan
h)   pikiran, perasaan, dan pesan.
i)     Bahasa itu berfungsi sebagai alat komunikasi atau berinteraksi sosial.
b.    Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan bahasa mereka (Halliday, 1994:16). Karl Buhler (1934) seorang psikolog Austria, membedakan fungsi bahasa ke dalam bahasa ekspresif, bahasa konatif, dan bahasa representasional (Halliday, 1994:16).
Yang dimaksud fungi bahasa sebagai fungsi ekspresif adalah bahasa yang terarah pada diri sendiri. Bahasa sebagai fungsi konatif yaitu bahasa yang terarah pada lawan bicara. Adapun bahasa sebagai fungsi refresentasional yaitu bahasa yang terarah pada apa saja selain si pembicara ataupun lawan bicara (Halliday, 1994:17).
Sedangkan menurut Sudaryat (1985:204) bahwa bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan pernyataan pikiran, menyatukan masyarakat dan kebudayaan bangsa. Merujuk dari pendapat dengan di atas, dapatlah dikatakan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi atau berinteraksi, tanpa bahasa maka seseorang akan menjadi kaku, bahkan komunikasi atau interaksi sosial pun tidak akan ada. Karena itu, bahasa tidak akan lepas dari kehidupan dan peradaban kebudayaan manusia itu sendiri. Melihat fungsi bahasa secara umum, maka bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional, berfungsi sebagai :
a)      Lambang identitas nasional
b)      Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang nasional budaya dan bahasanya.
c)      Alat perhubungan antar daerah dan antar budaya.

Senin, 26 Oktober 2015

Unsur Drama


a.    Tema
Tema merupakan sumber gagasan atau ide cerita yang dikembangkan menjadi sebuah karangan yang digunakan pengarang dalam menyusun cerita. Untuk bisa menentukan tema, seseorang perlu mengetahui minimal tiga unsur cerita, yaitu rangkaian cerita, setting, dan tokoh-tokoh yang mendukung cerita bersama karakternya (Satoto, 2012)
b.    Plot
Seperti juga bentuk-bentuk sastra lainnya, sebuah cerita drama pun harus bergerak dari satu permulaan (beginning) melalui suatu pertengahan (middle) menuju suatu akhir (ending). Dalam drama, bagian-bagian ini dikenal sebagai eksposisi, komplikasi, dan resolusi (denouement) (Kosasih,2012).
1)   Eksposisi suatu lakon atau cerita yang menentukan aksi dalam waktu dan tempat; memperkenalkan tokoh, menyatakan situasi suatu cerita; mengajukan konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita tersebut, dan adakalanya membayangkan resolusi yang akan dibuat dalam cerita itu.
2)   Komplikasi bertugas mengembangkan konflik. Sang pahlawan atau pelaku utama menemukan rintangan-rintangan antara dia dan tujuannya, dia mengalami aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk menanggulangi rintangan-rintangan ini. Pengarang dapat mempergunakan teknik flash-back atau sorot balik untuk memperkenalkan penonton dengan masa lalu sang pahlawan, menjelaskan suatu situasi atau untuk memberikan motivasi bagi aksi-aksinya.
3)   Resolusi hendaklah muncul secara logis dari apa-apa yang telah mendahuluinya didalam komplikasi. Titik batas yang memisahkan komplikasi dan resolusi, biasanya disebut klimaks (turning point). Pada klimaks itulah terjadi perubahan penting mengenai nasib sang tokoh. Kepuasan para penonton terhadap suatu cerita tergantung pada sesuai tidaknya perubahan itu dengan yang mereka harapkan.
c.    Penokohan (Karakterisasi atau Perwatakan)
Karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita seperti ketika ada orang yang bertanya; “Berapa karakter yang ada dalam cerita itu?”. Konteks kedua, karakter merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu (Kosasih, 2012).
Tokoh-tokoh dalam drama diklasifikasikan sebagai berikut :
1)        Tokoh gagal atau tokoh badut (the foil). Tokoh ini mempunyai pendirian yang bertentangan dengan tokoh lain. Kehadiran tokoh ini berfungsi untuk menegaskan tokoh lain itu.
2)        Tokoh idaman (the type character). Tokoh ini berperan sebagai pahlawan dengan karakternya yang gagah, berkeadilan, atau terpuji.
3)        Tokoh statis (the static character). Tokoh ini memiliki peran yang tetap sama, tanpa perubahan, mulai dari awal hingga akhir cerita.
4)        Tokoh yang berkembang. Tokoh ini mengalami perkembangan selama cerita itu berlangsung. Misalnya tokoh yang awal ceritanya sangat setia, secara cepat berkembang dan berubah menjadi tidak setia, menjadi orang yang berkhianat pada akhir cerita
d.    Dialog
Ciri khas drama adalah naskah tersebut berupa dialog. Dalam menyusun dialog, pengarang harus memperhatikan pembicaraan tokoh. Ragam bahasa dalam dialog tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis maka diksi hendaknya dipilih sesuai dengan dramatic-actiondari plot yang ada (Kosasih, 2012:). Dalam drama, percakapan atau dialog haruslah memenuhi dua tuntutan.
1)        Dialog harus turut menunjang gerak laku tokohnya. Dialog haruslah dipergunakan untuk mencerminkan apa yang telah terjadi sebelum cerita itu, apa yang sedang terjadi di luar panggung selama cerita itu berlangsung dan harus pula dapat mengungkapkan pikiran-pikiran serta perasaan-perasaan para tokoh yang turut berperan di atas pentas.
2)        Dialog yang diucapkan di atas pentas lebih tajam dan tertib daripada ujaran sehari-hari. Tidak ada kata yang harus terbuang begitu saja, para tokoh harus berbicara jelas dan tepat sasaran. Dialog itu disampaikan secara wajar dan ilmiah
e.    Latar
Istilah latar (setting) dalam arti yang lengkap meliputi aspek ruang dan waktu kejadiannya peristiwa. Bagian dari teks dan hubungan yang mendasari suatu lakuan (action) terhadap keadaan sekeliling. Latar adalah keterangan mengenai tempat, ruang, dan waktu didalam naskah drama (Kosasih, 2012).
1)             Latar tempat, yaitu penggambaran tempat kejadian di dalam naskah drama.
2)             Latar waktu, yaitu penggambaran waktu kejadian di dalam naskah drama.
3)             Latar suasana/budaya, yaitu penggambaran suasana ataupun budaya yang melatarbelakangi terjadinya adegan atau peristiwa dalam drama misalnya dalam budaya masyarakat betawi, melayu, sunda.
f.     Amanat
Pesan atau sisipan nasihat yang disampaikan pengarang melalui tokoh dan konflik dalam suatu cerita. Hal mendasar yang membedakan antara karya sastra puisi, prosa, dan drama adalah pada bagian dialog. Dialog adalah komunikasi antar tokoh yang dapat dilihat (bila dalam naskah drama) dan didengar langsung oleh penonton, apabila dalam bentuk drama pementasan (Satoto, 2012).

Pengertian Drama


Kata drama berasal dari kata Greek (bahasa Yunani) ‘draien’, yang diturunkan dari kata draomai yang semula berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi (to do, to act). Dalam perkembangan selanjutnya, kata ‘drama’ mengandung arti kejadian, risalah, dan karangan. Ada beberapa pengertian yang dirumuskan oleh banyak ahli di bidang drama. Menurut Moulton (dalam Satoto, 2012) drama adalah kehidupan yang ditampilkan dalam gerak (life presented in action). Jika dalam sastra jenis prosa menggerakkan fantasi kita, maka dalam jenis drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri. Drama adalah kualitet komunikasi, situasi, action, yang menimbulkan perhatian, kehebatan, ketegangan pada pendengar atau penonton (Badrun, 1983).
Harymawan dalam (Satoto, 2012:3) drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas, yang menggunakan bentuk cakapan dan gerak atau penokohan di hadapan para penonton. Dalam bahasa perancis drama disebut drame yang artinya lakon serius (Endraswara, 2011). Lakon serius yang dimaksud, tidak berarti drama melarang adanya humor. Serius dalam hal ini cenderung merujuk pada aspek penggarapan. Drama perlu garapan yang matang. Drama adalah seni cerita dalam percakapan dan tokoh akting. Dalam drama harus ada akting dan lakon.