Tampilkan postingan dengan label akutansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akutansi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2016

Pengguna dan Kebutuhan Informasi


            Pengguna laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi (IAI, 2007):
 1.      Investor
Penanam modal berisiko dan penasehat mereka berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan, atau menjual investasi tesebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar deviden.
2.      Karyawan
Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, imbalan pascakerja dan kesempatan kerja.
3.      Pemberi pinjaman
Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
4.      Pemasok dan kreditor usaha lainnya
Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka bergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
5.      Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kalangsungan hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau bergantung pada perusahaan.
6.      Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktifitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak, dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
7.      Masyarakat
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan terhadap penanan modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (tren) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.


Unsur-unsur Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)


1.      Neraca
Neraca adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada tanggal tertentu. Unsur-unsur neraca, yaitu Unsur-unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan:
a.       Aset
Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi di masa depan. Manfaat ekonomi masa depan yang berwujud dalam aset adalah potensi dalam aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung terhadap arus kas kepada perusahaan.
Aset terdiri dari:
1.         Aset lancar
Adalah uang kas atau setara kas atau sumber-sumber yang diharapkan direalisasi menjadi uang kas atau dijual atau dikonsumsi selama siklus perusahaan. Contoh aset lancar seperti kas, piutang dagang, biaya dibayar di muka, surat berharga, persediaan barang dagangan.
2.      Aset tetap
Adalah harta atau kekayaan perusahaan yang sifatnya permanen dan dapat digunakan lebih dari 1 periode akuntansi. Elemen-elemen aset tetap meliputi peralatan, tanah, gedung, kendaraan, mesin.
3.         Aset lain-lain adalah aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kelompok-kelompok lain.
b.    Kewajiban
Kewajiban adalah tugas atau tanggungjawab untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu
1.         Kewajiban Lancar/Jangka Pendek
Adalah kewajiban perusahaan untuk membayar jumlah tertentu kepada pihak lain, dimana jangka waktu pelunasannya tidak lebih dari 1 tahun. Elemen-elemen kewajiban lancar meliputi utang dagang, utang gaji.
2.         Kewajiban Tidak Lancar/Jangka Panjang
Adalah kewajiban perusahaan untuk membayar jumlah tertentu kepada pihak lain dimana jangka waktu pelunasannya lebih dari 1 tahun.
c.    Ekuitas
Adalah hak residual atas aset neto perusahaan. Aset neto perusahaan adalah aset total setelah dikurangi kewajiban total.
          
2. Laporan Laba-Rugi
Laporan laba-rugi adalah laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya dari suatu unit usaha. Selisih antara pendapatan dan biaya merupakan laba-rugi yang diperoleh. Laporan laba-rugi merupakan alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai oleh perusahaan dan untuk mengetahui hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode. Unsur yang langsung berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih (laba) meliputi penghasilan dan beban.
a.         Pendapatan
Adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penambahan modal.  Misalnya pendapatan dari sewa.
b.         Biaya
Adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal. Misalnya biaya gaji karyawan, biaya administrasi dan umum.
     3.    Laporan Perubahan Ekuitas
       Selain menyusun neraca dan laporan laba-rugi pada akhir akuntansi, kita perlu menyusun laporan perubahan ekuitas untuk mengetahui sebab- sebab perubahan modal perusahaan. Laporan ini dapat dicari dengan cara laba yang tidak dibagi  pada awal bulan lalu setelah ditambah dengan laba bersih dikurangi dengan pengambilan prive oleh pemilik.
            


Perlakuan Akuntansi (skripsi dan tesis)


1.      Persediaan
Persediaan (inventory) adalah pos-pos yang dimiliki oleh perusahann untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang digunakan atau barang yang dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual. Perusahaan manufaktur biasanya mempunyai 3 akun persediaan, yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (Baridwan, 2004).
a.       Persediaan Bahan Baku (Raw Material Inventory)
Biaya yang dibebankan kebarang dan bahan baku yang ada ditangan tetapi belum dialihkan ke produksi dilaporkan sebagai persediaan bahan baku.
b.      Persediaan Barang Dalam Proses (Work in Process Inventory)
Pada setiap titik dalam proses produksi yang berkelanjutan, ada sejumlah unit yang belum selesai diproses sepenuhnya. Biaya bahan baku untuk produk yang telah dibuat tetapi belum selesai, ditambah dengan biaya tenaga kerja langsung yang diaplikasikan secara khusus ke bahan baku ini dan biaya overhead yang diaplikasikan, merupakan persediaan dalam proses.
c.       Persediaan Barang Jadi (Finished Goods Inventory)
Biaya yang berkaitan dengan produk yang telah selesai tetapi belum terjual pada akhir periode fiskal dilaporkan sebagai persediaan barang jadi.
            Metode Pencatatan Persediaan Barang (Baridwan, 2004):
a.       Metode Fisik
Penggunaan metode ini mengharuskan adanya perhitungan barang yang masih ada pada tanggal penyususnan laporan keuangan. Perhitungan persediaan ini dilakukan untuk mengetahui berapa jumlah barang yang masih ada kemudian diperhitungkan harga pokoknya. Dalam metode ini mutasi persediaan barang tidak diikuti dalam buku-buku, setiap pembelian barang dicatat dalam akun pembelian.
b.      Metode Buku (Perpetual)
Dalam metode ini setiap jenis persediaan dibuat akun sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Akun yang digunakan untuk mencatat persediaan ini terdiri dari beberapa kolom yang dapat dipakai untuk mencatat pembelian, penjualan dan saldo persediaan. Setiap perubahan dalam persediaan diikuti dengan pencatatan dalam akun persediaan sehingga jumlah persediaan sewaktu-waktu dapat diketahui dengan melihat kolom saldo dalam akun persediaan.
            Metode Pencatatan Harga Pokok Persediaan (Baridwan, 2004):
Untuk menghitung harga pokok penjualan dan harga pokok persediaan akhir bisa menggunakan berbagai cara yaitu:
a.       Identifikasi Khusus
Metode identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biaya. Untuk itu perlu dipisahkan tiap-tiap jenis barang berdasarkan harga pokoknya dan untuk masing-masing kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing-masing harga pokok bisa diketahui.
b.      Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Harga pokok persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan kejadiannya. Apabila ada penjualan atau pemakaian barang-barang maka harga pokok yang dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, disusul yang masuk berikutnya. Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir.
c.       Rata-rata Tertimbang
Dalam metode ini barang-barang yang dipakai untuk produksi atau dijual akan dibebani harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan kuantitasnya.
d.      Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)
Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan harga pokok pembelian yang terakhir disusul dengan yang masuk sebelumnya. Persediaan akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.
2.      Depresiasi
Depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan aset tetap yang secara sistematis dialokasikan menjadi beban setiap periode akuntansi. Aset tetap yang dapat disusutkan adalah aset yang (Baridwan, 2004):
a)      Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi.
b)      Memiliki masa manfaat yang terbatas.
c)      Dimiliki oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau pemasok barang atau jasa, untuk disewakan atau untuk tujuan administrasi.
Metode Perhitungan Depresiasi:
1)      Metode Garis Lurus (Straght Line Method)
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan banyak digunakan. Dalam cara ini beban depresiasi tiap periode jumlahnya sama (kecuali bila ada penyesuaian-penyesuaian).
Depresiasi =   
2)      Metode Jam Jasa (Service Hours Method)
Dalam cara ini beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan jam jasa. Beban depresiasi periodik besarnya akan sangat tergantung pada jam jasa yang terpakai (digunakan).
Depresiasi =  
3)       Metode Hasil Produksi (Productive Outout Method)
Beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan hasil produksi, sehingga depresiasi tiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi dalam hasil produksi. Dasar teori yang dipakai adalah bahwa suatu aset itu dimiliki untuk menghasilkan produk, sehingga depresiasi juga didasarkan pada jumlah produk yang dapat dihasilkan.
Depresiasi =  
4)      Metode Beban Berkurang (Reducing Charge Methods)
Ada empat cara meghitung beban depresiasi yang menurun dari tahun ke tahun, yaitu:
a.       Metode Angka Tahun (Sam of Years Digits Methods)
Didalam metode ini depresiasi dihitung dengan cara mengalikan bagian pengurang yang setiap tahunnya selalu menurun dengan harga perolehan dikurangi residu. Bagian pengurangan ini dihitung sebagai berikut:
            Pembilang  =  Bobot untuk tahun yang bersangkutan
Penyebut    =  Jumlah angka tahun selama umur ekonomis   aset atau jumlah angka bobot
b.      Metode Saldo Menurun
Dalam cara ini beban depresiasi periodik dihitung dengan cara mengalikan tarif yang tetap dengan nilai buku aset karena nilai buku aset ini setiap tahun selalu menurun maka beban depresiasinya setiap tahunnya juga selalu menurun.
c.       Double Declining Balance Method
Dalam metode ini beban depresiasi tiap tahunnya menurun. Untuk dapat menghitung beban depresiasi yang selalu menurun, dasar yang dugunakan adalah persentase depresiasi dengan cara garis lurus. Persentase ini dikalikan dua dan setiap tahunnya dikalikan pada nilai buku aset tetap. Karena nilai buku selalu menurun maka beban depresiasi juga selalu menurun.
d.      Metode Tarif Menurun (Declining Rate on Cost Method)
Tarif (%) setiap periode dikalikan dengan harga perolehan. Penurunan tarif (%) setiap periode dilakukan tanpa menggunakan dasar yang pasti, tetapi ditentukan berdasarkan kebijaksanaan pimpinan perusahaan. Karena tarifnya setiap periode selalu menurun maka beban depresiasi juga selalu menurun.
e.       Metode-metode Khusus
Pembebanan depresiasi bisa dilakukan tidak dengan dasar alokasi harga perolehan, tetapi dengan menggunakan dasar-dasar yang lain. Metode ini dapat diterima jika terdapat kesulitan-kesulitan untuk menghitung depresiasi dengan cara yang biasa. Biasanya metode-metode khusus ini dipakai untuk membebankan depresiasi alat-alat kerja yang dimiliki dalam jumlah yang besar. Metode penghitungan depresiasi yang khusus adalah sebagai berikut:
1)      Sistem Penilaian Persediaan
Dalam cara ini akun aset didebit dengan harga perolehan (cost) aset. Setiap periode aset tersebut dinilai dan akun aset dikurangi sampai jumlah penilaian tersebut. Pengurangannya dibebankan sebagai depresiasi.
2)      Sistem Pemberhentian
Dalam cara ini akun aset didebit dengan harga perolehan (cost) aset. Pada akhir periode akun aset itu dikredit dengan jumlah harga perolehan aset yang dihentikan penggunaaanya selama periode tersebut dan dibebankan sebagai beban depresiasi.
3)      Sistem Penggantian
Dalam cara ini akun aset didebit dengan harga perolehan (cost) aset. Pembebanan sebagai biaya dilakukan apabila aset tersebut diganti. Jadi harga perolehan aset baru dikurangi nilai sisa aset lama dibebankan sebagai depresiasi.
3.      Metode Harga Pokok Produksi (Process Cost Method)
Process Cost Method adalah metode pengumpulan harga pokok produksi dimana biaya dikumpulkan dalam satuan waktu atau periode tertentu. Metode ini digunakan oleh perusahaan yang menggunakan karakteristik sebagai berikut (Mulyadi, 2001):
a.       Produk yang dihasilkan dalam jumlah relatif besar (produk masal) dan pada umumnya berupa produk standar dengan variasi produk relatif kecil.
b.      Proses produksi berlangsung terus menerus, tidak tergantung pada ada atau tidak pesanan dari pembeli, karena tujuannya adalah untuk menghasilkan produk yang siap dijual.
 Karakteristik Metode Harga Pokok Produksi (Muladi, 2001):
a.       Biaya produksi dikumpulkan dan dicatat dalam setiap departemen produksi yang ada untuk jangka waktu tetentu.
b.      Harga pokok produk dihitung pada akhir periode tertentu.
c.       Produk yang belum selesai pada akhir periode dicatat kedalam akun persediaan produk dalam proses.
d.      Pada akhir periode dibuat laporan harga pokok produksi, yang berisi harga pokok produk yang telah selesai dan masih dalam proses.
e.       Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja tidak perlu dipisahkan.
 Elemen-elemen yang membentuk harga pokok produksi yaitu:
a.       Biaya Bahan Baku: adalah harga perolehan dari seluruh bahan baku yang akhirnya menjadi produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
b.      Biaya Tenaga Kerja Langsung: adalah harga yang dibebankan atau terjadi untuk digunakan membayar upah pekerja dibagian produksi.
c.       Biaya Overhead Pabrik: adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung atau biaya produksi yang tidak ada hubungannya langsung dengan proses produksi.

Konsep Dasar Akuntansi (skripsi dan tesis)


Terdapat lima konsep dasar akuntansi yang mendasari penyusunan Standar Akuntansi (Baridwan, 2004) adalah sebagai berikut:
1.    Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)
Prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal, dan biaya. Yang dimaksud dengan harga perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam transaksi. Harga perolehan ini harus terjadi dalam transaksi diantara dua belah pihak yang bebas  (Arm’s Length Transaction). Harga perolehan ini dapat terjadi pada seluruh transaksi dengan pihak ekstern, baik yang menyangkut aset, kewajiban, ekuitas atau transaksi lainnya
2.    Prinsip pengakuan pendapatan (Revenue Recognition Principle)
Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aset) yang timbul dari penyerahan barang/jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu. Biasanya pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa, pada saat produksi selesai, selama masa produksi, dan pada saat penerimaan uang.
1.    Prinsip Mempertemukan (Matching Principle)
Prinsip mempertemukan adalah mempertemukan biaya dan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini berguna untuk menentukan besarnya penghasilan bersih setiap periode. Karena biaya itu harus dipertemukan dengan pendapatannya, maka pembebanan biaya sangat tergantung pada saat pengakuan pendapatan. Apabila pengakuan suatu pendapatan ditunda, maka pembebanan biayanya juga akan ditunda sampai saat diakuinya pendapatan.
4.    Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)
Agar laporan keuangan dapat dibandingkan dengan tahun ke tahun sebelumnya, maka metode dan prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun. Sehingga bila terdapat perbedaan antara suatu pos dalam dua periode, maka dapat segera diketahui bahwa perbedaan itu bukan selisih akibat penggunaan metode yang berbeda
5.    Prinsip Pengakuan Lengkap (Full Disclousure Principle)
Prinsip pengakuan lengkap adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan. Karena informasi yang disajikan itu merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari akun-akun tertentu, tidaklah mungkin untuk memasukkan semua informasi-informasi yang ada ke dalam laporan keuangan.