Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

Respon Stress (skripsi dan tesis)


Stressor dapat menyebabkan empat hal (Wicken et al, 2004). Pertama, stressor akan menghasilkan suatu pengalaman psikologis seperti perasaan tertekan. Kedua, timbulnya gejala-gejala fisik yang dapat teramati dalam jangka pendek seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Ketiga, terjadinya penurunan efisiensi dan efektifitas kinerja. Keempat, dalam jangka panjang stressor akan menyebabkan pengaruh yang negatif pada kesehatan. Respon stress  dapat dilihat dari sisi individu maupun dari sisi organisasi. Respon stres secara individu akan tampak pada reaksi-reaksi terhadap pekerjaan dalam proses dan hasil dari pekerjaan itu sendiri.  Ada beberapa perubahan yang dirasakan individu ketika menghadapi tekanan yaitu reaksi fisik, emosi, pikiran dan perilaku. Perubahan fisiologis sampai munculnya berbagai penyakit akan muncul dalam kondisi stres. Misalnya jantung berdebar, keringat dingin dan berbagai gangguan psikosomatis lainnya (Bachroni dan Sahlan Asnawi, 1999).
Moorhead dan Griffin (1995) menyatakan bahwa ada tiga dampak terhadap individu yaitu perilaku, psikologis dan medis. Secara perilaku, orang akan melakukan perilaku-perilaku yang tidak biasa seperti minuman keras atau perilaku tindakan kekerasan. Dampak yang lain adalah dampak psikologis yang mengakibatkan misalnya gangguan pada pola makan dan tidur. Dampak pada kesehatan misalnya menyebabkan tekanan darah tinggi dan sakit kepala.
Sementara secara spesifik disebutkan bahwa stres kerja mempunyai dampak negatif terhadap kinerja, ketidakhadiran dan kemungkinan kepindahan (Davis dan Newstroom, 1989). Model hubungan antara stres kerja dengan kinerja disajikan dalam moden stres-prestasi kerja (hubungan U terbalik) pola U tersebut menunjukkan hubungan tingkat stres (rendah tinggi) dengan kinerja (rendah-tinggi). bila tidak ada stres, tantangan kerja juga tidak ada dan prestasi kerja cenderung menurun. Sejalan dengan meningkatnya stres, prestasi kerja cendrung naik karena stres membantu karyawan untuk mengerahkan sumber daya dalam memenuhi kebutuhan kerja. Akhirnya stres mencapai titik stabil yang kira-kira sesuai dengan kemampuan prestasi karyawan (Robbins, 1996).
Berdasarkan pernyataan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa repon stress dapat berwujud yaitu perilaku, psikologis dan medis dimana hubungannya termodelkan dalam pola U terbalik. Dimana artinya makin tinggi tingkat stres, tantangan kerja juga bertambah maka akan mengakibatkan prestasi kerja juga bertambah. Tetapi apabila tingkat stress sudah optimal maka akan menyebabkan gangguan kesehatan dan pada akhimya akan menurunkan prestasi kerja yang terlalu tinggi. Stres kerja yang sudah optimal umumnya akan mengakibatkan timbulnya kelelahan psikologis yang menyebabkan seorang karyawan akan bekerja dalam keadaan tertekan dan memperbesar terjadinya kesalahan. Sedangkan beban kerja yang terlalu rendah akan menimbulkan kebosanan atau gangguan psikologis.

Selasa, 22 November 2016

Pelaksanaan Metode Dzikir (skripsi dan tesis)


Langkah-langkah relaksasi dzikir ini merupakan modifikasi dari teknik relaksasi dengan melibatkan factor keyakinan dari Benson (2000), yaitu:
a.    Memilih frase yang sesuai dengan keyakinan Frase atau kata ini digunakan sebagai fokus atau pengantar meditasi, dan  emilihan kata sebaiknya memiliki arti khusus terutama frase yang dapat menimbulkan munculnya kondisi transen-densi, sehingga diharapkan dengan frase sebagai fokus yang digunakan akan meningkatkan kekuatan respon relaksasi dengan memberi kesempatan faktor keyakinan untuk memberi pengaruh. Pemilihan frase sebaiknya cukup singkat agar dapat diucapkan dalam hati ketika menghembuskan nafas secara normal. Dalam metode ini yang akan digunakan adalah frase “yaa Allah” karena frase ini singkat dan langsung menuju kepada objek transendensi.
b.    Atur posisi tubuh yang nyaman Sebelum memulai relaksasi carilah posisi duduk yang nyaman sehingga posisi tidak mengganggu pikiran. Posisi dapat dilakukan misalnya dengan bersila atau duduk di sofa. Lingkungan diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu proses relaksasi misalnya suhu, kebisingan, pakaian yang terlalu ketat dan bau-bauan yang tidak enak.
c.    Memejamkan mata. Pejamkan mata secara perlahan dan pejamkan dengan wajar tidak perlu memicingkan mata kuat-kuat. Karena pemaksaan untuk memejamkan akan membuat otot-otot mata tidak rileks.
d.   Lemaskan otot-otot. Mulailah melemaskan otot dari kaki, kemudian betis, paha, dan perut seterusnya hingga kepala. Caranya dengan merasakan otot yang akan dirilekskan kemudian otot tersebut diperintahkan untuk rileks misalnya akan melemaskan otot kaki; dengan memerintahkan pada kaki “lemas..lemas..” sambil merasakan dan membiarkan otot-otot kaki untuk lemas.
e.    Perhatikan napas dan mulailah menggunakan kata fokus yang berakar dari keyakinan Bernapaslah perlahan-lahan dan wajar, tanpa memaksakan iramanya. Pada tahap ini mulailah mengulang-ulang dalam hati kata atau frase yang dipilih sambil mengambil dan mengeluarkan napas. Karena teknik ini menggunakan frase yaa Allah maka ketika mengambil napas disertai dengan membaca dalam hati kata yaa…kemudian ketika mengeluarkan napas diikuti pula membaca dalam hati kata Allah….
f.     Pertahankan sikap pasif Selain pengulangan kata atau frase, sikap pasif adalah aspek penting untuk membangkitkan respon relaksasi. Saat mulai duduk dan mengulang-ulang frase berbagai macam pikiran akan bermunculan yang akan mengalihkan perhatian frase yang diulang-ulang. Teknik untuk menghindari gangguan ini adalah dengan
g.    tidak memperdulikan dan tidak memaksa menghilangkan gangguan tersebut. Selain itu bila muncul rasa nyeri akibat duduk terlalu lama bersikap pasif saja tidak perludilawan, ketika rasa nyeri itu muncul katakan pada diri sendiri “baiklah” dan kembali mengulang frase atau kata yang digunakan.

Pengertian Metode Dzikir (skripsi dan tesis)


Dzikir berarti ingat kepada Allah,ingat ini tidak hanya sekedar menyebut nama Allah dalam lisan atau dalam pikiran dan hati. akan tetapi dzikir yang dimaksud adalah ingat akan Zat, Sifat dan Perbuatan-Nya kemudian memasrahkan hidup dan mati kepada-Nya sehingga tidak takut maupun gentar menghadapi segala macam mara bahaya dan cobaan (Sangkan, 2002).
Sebagian tokoh Islam membagi zikir menjadi dua yaitu : zikir dengan lisan dan dzikir dengan hati. Zikir lisan merupakan jalan yang akan menghantarkan pikiran dan perasaan yang kacau menuju kepada ketetapan zikir hati, kemudian dengan dzikir hati inilah semua kedalaman kejiwaan akan kelihatan lebih luas, sebab dalam wilayah ini Allah akan mengirimkan pengetahuan berupa ilham. Dzikir kepada Allah bermakna, bahwa manusia sadar akan dirinya yang berasal dari Sang Khalik, yang senantiasa mengawasi segala perbuatannya. Dengan demikian manusia mustahil akan berani berbuat curang dan maksiat dihadapan-Nya. Dzikir berarti kehidupan, karena manusia ini adalah adalah makhluq yang akan binasa (fana), sementara Allah senantiasa hidup, melihat, berkuasa, dekat, dan mendengar, sedangkan menghubungkan (dzikir) gambaran dzikir yang dituturkan Rasulullah Saw (Sangkan, 2002)..
 Dzikir kepada Allah itu bukan sekedar ungkapan sastra, nyanyian, hitungan-hitungan lafadz, melainkan suatu hakikat yang diyakini didalam jiwa dan merasakan kehadiran Allah disegenap keadaan, serta berpegang teguh dan menyandarkan kepadaNya hidup dan matinya hanya untuk Allah semata (Sangkan, 2002).
Menurut Bahjad (1998) memberikan pengertian tentang dzikir sebagai berikut, dzikir secara lisan seperti menyebut nama Allah berulang-ulang, dan satu tingkat di atas dzikir lisan adalah hadirnya pemikiran tentang Allah dalam kalbu. Kemudian upaya menegakkan hukum syariat Allah di muka bumi dan membumikan al quran dalam kehidupan. Demikian pula memperbagus kualitas amal sehari-hari dan menjadikan dzikir ini sebagai pemacu kreativitas baru dalam bekerja dengan mengarahkan niat kepada Allah. Dzikir dapat digunakan sebagai sarana transendensi, yaitu ketika seseorang sudah ingat kepada Allah dan adanya sikap penyerahan, sebab makna transendensi sendiri adalah menggantungkan. Dengan sikap ini maka seseorang akan terbawa pada kondisi pasif sehingga akan sangat efektif bila digabungkan dengan teknik relaksasi.

Karakteristik Kecemasan (skripsi dan tesis)


Nevid berpandangan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan gelisah atau aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, 2005, h. 163).
Pemaparan di atas menunjukkan  karakteristik kecemasan secara  umum, maka sekarang merujuk pada kriteria kecemasan akademis sebagai bagian dari kecemasan menjelang ujian nasional. Ottens (1991, h. 5-7) berpendapat bahwa ada empat karakteristik yang ada pada kecemasan akademis.
a.    Pola kecemasan-yang menimbulkan aktivitas mental (pattern of anxiety engendering mental activity).
Siswa memperlihatkan pikiran, persepsi dan dugaan yang mengarah pada kesulitan akademis yang dihadapi. Ada tiga aktivitas mental yang terlibat. Pertama dan terpenting adalah kekhawatiran. Siswa menjebak diri sendiri ke dalam kegelisahan dengan menganggap semua yang dilakukannya adalah salah. Kedua, dialog diri (self-dialog) yang maladaptif. Siswa berbicara dengan dirinya sepanjang hari, yang merupakan wujud dari dialog sadar. Pengingat diri (self-reminder), instruksi diri (self-directives), menyelamati diri (self-congratulations),  dan kesukaan akan sesuatu merupakan bentuk-bentuk dari dialog sadar. Tetapi berbicara dalam hati pada siswa yang cemas secara akademik seringkali ditandai dengan kritik-diri (self-criticism) yang keras, penyalahan-diri (self-blame), dan kepanikan berbicara pada diri sendiri (selftalk) yang mengakibatkan munculnya perasaan cemas dan memperbesar peluang untuk merendahkan kepercayaan diri serta mengacaukan siswa dalam memecahkan masalah. Ketiga, pengertian yang kurang maju dan keyakinan siswa mengenai diri dan dunia mereka. Siswa memiliki keyakinan yang salah tentang pentingnya masalah yang ada. Cara untuk menegaskan harga diri (self worth), mengetahui cara yang terbaik untuk memotivasi dan mengatasi kecemasan, serta memisahkan pemikiran-pemikiran salah yang menjamin adanya kecemasan akademis. 
b.    Perhatian yang menunjukkan arah yang salah (misdirected attention).
Tugas akademis seperti membaca buku, ujian, dan mengerjakan tugas rumah membutuhkan konsentrasi penuh. Siswa yang cemas secara akademis membiarkan perhatian mereka menurun. Perhatian dapat dialihkan melalui pengganggu eksternal (perilaku siswa lain, jam, suara-suara bising), atau melalui pengganggu internal (kekhawatiran, melamun, reaksi fisik).
c.    Distress secara fisik (physiological distress).
Perubahan pada tubuh diasosiasikan dengan kecemasan-otot tegang, berkeringat, jantung berdetak cepat, dan tangan gemetar. Selain perubahan pada tubuh, ada juga pengalaman emosional dari kecemasan, biasanya disebut dengan perasaan “sinking”, “freezing”, dan “cluthing”. Aspek fisik dan emosi dari kecemasan menjadi kacau jika diinterpretasikan sebagai bahaya atau jika menjadi fokus penting dari perhatian selama tugas akademis berlangsung.
d.   Perilaku yang kurang tepat (inappropriate behaviors).
Berulangkali, siswa yang cemas secara akademis memilih berperilaku dengan cara menjadikan kesulitan menjadi satu. Perilaku siswa mengarah pada situasi akademis yang tidak tepat. Penghindaran (prokrastinasi) sangat umum dijumpai, karena dengan menunjukkan  tugas yang belum sempurna dan performa siswa fungsinya yang bercabang (misalnya, berbicara dengan teman ketika sedang belajar). Siswa yang cemas juga berusaha keras menjawab ertanyaan ujian atau terlalu cermat mengerjakan untuk menghindari  kesalahan dalam ujian. 
Peneliti menggunakan pola kecemasan yang menimbulkan aktivitas mental, perhatian yang menunjukkan arah yang salah, distres secara fisik, dan perilaku yang kurang tepat sebagai komponen yang digunakan dalam pembuatan skala kecemasan karena menggambarkan kesesuaian dengan penelitian yang dilakukan

Kamis, 17 November 2016

Pengertian Pornografi


Pornografi berasal dari kata pornÄ“ (“prostitute atau pelacuran") dan graphein (tulisan). Menurut Armando (2004; 17) pornografi adalah  materi yang disajikan di media tertentu yang dapat dan atau ditujukan untuk membangkitkan hasrat seksual khalayak atau mengeksploitasi seks. Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Soebagijo, 2008; 27, merumuskan pornografi sebagai: 1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi; 2) bahan bacaan yang sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi/seks.
Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 (UU Pornografi) yang dimaksud dengan pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat 

Rabu, 16 November 2016

Pengertian Psikotropika (Skripsi dan Tesis)


Psikotropika adalah zat atau obat,  baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan prilaku, digunakan untuk mengobati gangguan jiwa (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997).
Jenis psikotropika dibagi atas 4 golongan :
a.    Golongan I : adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat untuk menyebabkan ketergantungan, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya seperti esktasi (menthylendioxy menthaphetamine dalam bentuk tablet atau kapsul), sabu-sabu (berbentuk kristal berisi zat menthaphetamin).
b.    Golongan II : adalah psikotropika dengan daya aktif yang kuat untuk menyebabkan Sindroma ketergantungan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : ampetamin dan metapetamin.
c.    Golongan III : adalah psikotropika dengan daya  adiktif yang sedang berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: lumubal, fleenitrazepam. 
d.   Golongan IV : adalah psikotropika dengan daya  adiktif  ringan berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: nitra zepam, diazepam (Martono, 2006).

Senin, 14 November 2016

Karakteristik Kecemasan


Nevid berpandangan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan gelisah atau aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, 2005, h. 163).
Pemaparan di atas menunjukkan  karakteristik kecemasan secara  umum, maka sekarang merujuk pada kriteria kecemasan akademis sebagai bagian dari kecemasan menjelang ujian nasional. Ottens (1991, h. 5-7) berpendapat bahwa ada empat karakteristik yang ada pada kecemasan akademis.
a.    Pola kecemasan-yang menimbulkan aktivitas mental (pattern of anxiety engendering mental activity).
Siswa memperlihatkan pikiran, persepsi dan dugaan yang mengarah pada kesulitan akademis yang dihadapi. Ada tiga aktivitas mental yang terlibat. Pertama dan terpenting adalah kekhawatiran. Siswa menjebak diri sendiri ke dalam kegelisahan dengan menganggap semua yang dilakukannya adalah salah. Kedua, dialog diri (self-dialog) yang maladaptif. Siswa berbicara dengan dirinya sepanjang hari, yang merupakan wujud dari dialog sadar. Pengingat diri (self-reminder), instruksi diri (self-directives), menyelamati diri (self-congratulations),  dan kesukaan akan sesuatu merupakan bentuk-bentuk dari dialog sadar. Tetapi berbicara dalam hati pada siswa yang cemas secara akademik seringkali ditandai dengan kritik-diri (self-criticism) yang keras, penyalahan-diri (self-blame), dan kepanikan berbicara pada diri sendiri (selftalk) yang mengakibatkan munculnya perasaan cemas dan memperbesar peluang untuk merendahkan kepercayaan diri serta mengacaukan siswa dalam memecahkan masalah. Ketiga, pengertian yang kurang maju dan keyakinan siswa mengenai diri dan dunia mereka. Siswa memiliki keyakinan yang salah tentang pentingnya masalah yang ada. Cara untuk menegaskan harga diri (self worth), mengetahui cara yang terbaik untuk memotivasi dan mengatasi kecemasan, serta memisahkan pemikiran-pemikiran salah yang menjamin adanya kecemasan akademis. 
b.    Perhatian yang menunjukkan arah yang salah (misdirected attention).
Tugas akademis seperti membaca buku, ujian, dan mengerjakan tugas rumah membutuhkan konsentrasi penuh. Siswa yang cemas secara akademis membiarkan perhatian mereka menurun. Perhatian dapat dialihkan melalui pengganggu eksternal (perilaku siswa lain, jam, suara-suara bising), atau melalui pengganggu internal (kekhawatiran, melamun, reaksi fisik).
c.    Distress secara fisik (physiological distress).
Perubahan pada tubuh diasosiasikan dengan kecemasan-otot tegang, berkeringat, jantung berdetak cepat, dan tangan gemetar. Selain perubahan pada tubuh, ada juga pengalaman emosional dari kecemasan, biasanya disebut dengan perasaan “sinking”, “freezing”, dan “cluthing”. Aspek fisik dan emosi dari kecemasan menjadi kacau jika diinterpretasikan sebagai bahaya atau jika menjadi fokus penting dari perhatian selama tugas akademis berlangsung.
d.   Perilaku yang kurang tepat (inappropriate behaviors).
Berulangkali, siswa yang cemas secara akademis memilih berperilaku dengan cara menjadikan kesulitan menjadi satu. Perilaku siswa mengarah pada situasi akademis yang tidak tepat. Penghindaran (prokrastinasi) sangat umum dijumpai, karena dengan menunjukkan  tugas yang belum sempurna dan performa siswa fungsinya yang bercabang (misalnya, berbicara dengan teman ketika sedang belajar). Siswa yang cemas juga berusaha keras menjawab ertanyaan ujian atau terlalu cermat mengerjakan untuk menghindari  kesalahan dalam ujian. 
Peneliti menggunakan pola kecemasan yang menimbulkan aktivitas mental, perhatian yang menunjukkan arah yang salah, distres secara fisik, dan perilaku yang kurang tepat sebagai komponen yang digunakan dalam pembuatan skala kecemasan karena menggambarkan kesesuaian dengan penelitian yang dilakukan

Pengertian Kecemasan Menjelang Ujian Nasional


Kecemasan sebagai suatu perasaan tidak tenang, rasa khawatir, atau ketakutan terhadap sesuatu yang tidak jelas atau tidak diketahui (Craig, 1992 dalam Elliot, 1996. h. 343). Fungsi kecemasan sendiri adalah memperingatkan individu akan adanya bahaya, kecemasan merupakan isyarat bagi  ego bahwa kalau tidak dilakukan tindakan-tindakan tepat, maka bahaya tersebut akan meningkat sampai ego dikalahkan (Freud dalam Supratiknya, 1993, h. 81).
Kecemasan muncul pada saat individu mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan karena frustrasi muncul pada individu yang memiliki hambatan dalam memenuhi kebutuhan, sehingga individu tersebut merasa terancam. Kegagalan yang dialami membuat individu tertekan perasaannya sehingga individu tersebut menjadi cemas. Konflik juga bisa menimbulkan kecemasan bila terdapat dua macam dorongan atau lebih yang berlawanan dan tidak mungkin dipenuhi dalam waktu yang sama (Daradjat, 1990, h. 28).
Menurut Valiante dan Pajares (1999, h. 33) menyatakan kecemasan akademis sebagai perasaan tegang dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, perasaan tersebut mengganggu dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademis. Ottens (1991, h. 1) menjelaskan bahwa kecemasan akademis mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas-tugas akademis diberikan.
Perasaan berbahaya, takut, atau tegang sebagai hasil tekanan di sekolah disebut juga sebagai kecemasan akademis. Kecemasan akademis paling sering dialami selama latihan  yang bersifat  rutinitas dan  diharapkan siswa  dalam kondisi sebaik mungkin  saat performa ditunjukkan, serta saat sesuatu yang dipertaruhkan bernilai sangat tinggi, seperti tampil  di depan orang lain. Cara seseorang merasakan kecemasan  dapat  terjadi secara bertahap dari  pertama kali kecemasan tersebut muncul, contohnya kegugupan saat harus membaca di depan kelas degan suara  keras. Gangguan serius yang dialami seseorang menegaskan terjadinya kepanikan dan mengalami kesulitan untuk berfungsi secara normal (O'Connor, 2007, h. 4-5)
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa kecemasan menjelang ujian nasional adalah dorongan pikiran dan perasaan dalam diri individu yang berisikan ketakutan akan bahaya atau ancaman di masa yang akan datang tanpa sebab khusus, sehingga mengakibatkan terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku sebagai hasil tekanan dalam  pelaksanaan ujian nasional

Pengertian dan Unsur Dalam Cerita


Cerita dapat dikategrikan sebagai karya sastra. Hanya prioritas yang berbeda. Dengan demikian penggunaan cerita dilema moral untuk remaja tetap harus memenuhi persyaratan. Membuat cerita untuk remaja terlebih cerita tertulis membutuhkan ketekunan, pendalaman, pengendapan, kejujuran, pertanggungjawaban dan pengetahuan pembaca itu sendiri (Epstein, 1999). Oleh karenanya meskipun cerita tetap harus memiliki unsur seperti tema dan amanat, tokoh, alur, setting, sudut pandang dan sarana kebahasaan namun juga harus diolah sedemikain rupa sehingga dapat dicerna oleh remaja.
Khususnya terhadap cerita lisan untuk remaja memang memiliki berbagai kelebihan. Meskipun demikian, karena cerita tersebut dipengaruhi oleh kepiawaian pencerita, maka cerita yang bagus secara tertulis mungkin akan menjadi tidak menarik ketika diceritakan oleh orang yang tidak pandai bercerita. Disamping itu, cerita lisan dipengaruhi oleh faktor memori pendengar. Dengan demikian struktur dan panjang kalimatnya pun berbeda. Cerita yang tersampaikan secara lisan memiliki karakteritik tertentu karena cerita lisan memiliki beberapa keterbatasan sekaligus. Dari sudut pandang produksi, jelas bahwa cerita lisan berbeda dengan cerita tulis. Pada cerita lisan, pendongeng atau pencerita dapat membuat segala macam efek ”kualitas suara”, ekspresi muka, isyarat, serta sikap tubuh. Dengan mengedepankan unsur itu, pendongeng dapat mengendalikan pengaruh kata-kata yang diucapkannya. Secara lisan kata-kata tersebut didukung oleh kualitas suara dan ”pembawaan” pencerita. Semakin pandai seseorang bercerita semakin kuat pengaruh kata-kata tersebut pada remaja. Penceritaan dapat membantu apa yang diceritakannya, dapat keluar masuk dalam cerita, dapat melibatkan remaja secara langsung, dapat merencremajaan ujaran tertentu yang dipandang perlu, dan dapat mengkoreksi ujaran yang keliru atau tidak jelas (Brown & Yule, 1996 : 4-5).
Cerita yang dilisankan digolongkan sebagai cerita yang baik apabila memiliki alur irama yang alami (natural rhytmic flow) pada awal, tengah, dan akhir cerita. Selain itu, plot cerita dikembangkan dengan baik, karakter tokohnya dapat dipercaya, kata-katanya imajinatif  kreatif, dan memanfaatkan humor atau drama untuk membangkitkan emosi dan imajinasi remaja. Bahasa dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai untuk memaparkan konteks dan isi cerita, untuk melukiskan plot, konflik, perasaan-perasaan, dan karakter tokoh dalam bingkai yang kohesif yang didesain untuk merebut perhatian dan minat remaja (Lenox, 2000).
a.             Tema
Tema adalah makna yang terkandung dalam sebuah cerita (Pickering & Hoeper, 1981 : 61; Stanton, 1965: 20; Kenney, 1966: 88). Tema dapat juga diartikan sebagai gagasan atau ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra (Sudjiman, 1992 : 50). Mengenai tema ini, lebih lanjut Kenney mengatakan (1966:89) Theme is not the moral of story. The theme of a story is not identical with subject of the story at least, not as we’ll use the term “theme” in our discussion.  Dengan demikian jelas bahwa tema tidak identik dengan subyek cerita dan bukan pula moral cerita.
Tema dapat diklasifikasikan menurut subyek pembicaraan suatu cerita yakni (1) tema fisik yang  mengarah pada kegiatan fisik manusia, (2) tema organanik yang mengarah pada masalah hubungan seksual manusia, (3) tema social yang mengarah pada masalah pendidikan, propaganda, (4) tema egoik yang mengarah pada reaksi-reaksi pribadi yang umumnya menentang pengaruh social, (5) tema ketuhanan yang menyangkut kondisi dan situasi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan (Shipley via Nurgiyantoro, 1991).
Tema cerita dapat diklasifikasikan menjadi tema tradisional dan tema non tradisional. Tema tradisional mengarah pada  tema yang hanya “itu-itu” saja, yang telah lama digunakan dalam berbagai cerita. Tema-tema tradisional secara umum boleh dikatakan selalu berkaitan dengan kebenaran dan kejahatan (Meredith & Fitzgerald via Nurgiyantoro, 1991 : 44). Karena tema-tema tradisional digemari oleh setiap orang dimanapun dan kapanpun. Hal disebabkan pada dasanya setiap orang cinta kebenaran dan membenci kejahatan.
b.             Amanat
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam kayanya (Sudjiman, 1992 : 57). Amanat dalam cerita biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran. Amanat cerita untuk remaja kadang tidak dibebani amanat, walau tersirat sekalipun. Setelah menghayati cerita dan memahami probelamtika di dalamnya, penikmat diharapkan menyimpulkan atau mencari penyelesaian sendiri (Sudjiman, 1991 : 57-58). Amanat untuk cerita remaja harus ada di dalam cerita atau dongeng, baik ditampilkannya secara eksplisit maupun implicit, baik dinyatakan melalui tokohnya, maupun oleh penceritanya. Amanat cerita merupakan sesuatu yang paling penting dalam cerita remaja. Amanat itu menurut Kenney (1966 : 89), dimaksudkan sebagai sesuatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral yang bersifat praktis yang dapat ditafsirkan lewat cerita yang bersangkuta.
c.              Plot atau  Alur Cerita
Plot adalah peristiwa-peristiwa naratif yang disusun dalam serangkaian waktu. Plot juga dapat didefinisikan sebagai peristiwa-peristiwa narasi (cerita) yang penekannya terletak pada hubungan kasualitas (Forster, 1966 : 93). Walaupun berisi urutan kejadian, tiap kejadian dalam plot dihugungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu menyebabkan peristiwa yang lain (Stanton, 1965: 14). Peristiwa demi peristiwa disusun secara urut atau progresif. Agar remaja tidak berkutat pada alur cerita, alur regresif maupun campuran cenderung dihindari. Plot cerita remaja cenderung berulang dan mudah ditebak (Lihat Cox, 1999: 398-399; Rainers & Isbell, 2002: vii-ix). Hubungan sebab-akibat dalam alur cerita adalah sederhana, tidak membutuhkan analisis kognitif tinggi. Dalam cerita orang dewasa disuguhkan sebab psikologis yang cukup rumit tentang peristiwa yang dialami tokoh.  
d.             Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami berbagai peristiwa dalam cerita sedangkan penokohan merupakan penuturan terhadap sifat, kondisi fisik, serta asal usul tokoh sebagai latar belakang. Umumnya terdapat dua kategori penokohan yaitu
e.              Sudut Pandang
Sudut pandang atau point of interview, merupakan salah satu sarana cerita (literary devices) (Stanton, 1973). Sudut pandang mempermasalahkan siapa yang menceritakan atau dari kacamata siapa cerita dikisahkan. Sudut pandang mempengaruhi pengembangan cerita, kebebasan dan keterbatasan cerita, dan keobjektivitasan hal-hal yang diceritakan. Pemilihan sudut pandang mempengaruhi penyajian cerita dan mempengaruhi penikmatnya, dalam hal ini remaja-remaja.

Pengertian Perkembangan Remaja


Santrock (2003) mendefinisikan remaja sebagai masa perkembangan transisi antara anak-anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional yang terjadi berkisar dari perkembangan fungsi seksual, proses berpikir abstrak sampai pada kemandirian.
Dari tinjauan usia, maka remaja adalah mereka yang berusia 10-19 tahun dan belum kawin. Hal ini sesuai dengan batasan 10-19 tahun menurut WHO. Namunn batasan usia remaja hingga usia 19 tahun ternyata tidak menjamin remaja telah mencapai kondisi sehat fisik, mental, dan sosial untuk proses reproduksi, sehingga WHO kemudian meningkatkan cakupan usia remaja sampai 24 tahun (Meiwati Iskandar, 1998). Hurlock (1994) mengatakan bahwa awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 tahun atau 17 tahun, dan akhir masa remaja berlangsung dari usia 16 tahun atau 17 tahun sampai 18 tahun. Sementara di Indonesia sendiri menurut hasil SUPAS pada tahun 1995, proporsi remaja di Indonesia berumur 10-24 tahun sebesar 31,39 % dari keseluruhan jumlah penduduk (BPS, 1995).
Sedangkan oleh Hurlock (1994) masa remaja dianggap mulai pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat mencapai usia matang secara hukum. Istilah remaja dalam bahasa Inggris disebut sebagai adolescence, yang berasal dari bahasa latin “adolescare” atau diartikan sebagai tumbuh kearah kematangan. Kematangan disini tidak hanya berarti kematangan fisik, tetapi terutama kematangan sosial psikologi.
Berhubung ada macam-macam persyaratan untuk dikatakan dewasa, maka sebelum abad 18 remaja dimasukkan dalam ketegori anak-anak padahal masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat transisi atau peralihan (Calon dalam Monks, 2006). Dari pernyataan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian remaja adalah individu dengan usia rata-rata antara 11-24 dimana terjadi perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional yang terjadi berkisar dari perkembangan fungsi seksual, proses berpikir abstrak sampai pada kemandirian
Seperti diuraikan, batasan masa remaja sangat sulit dirumuskan sehingga sulit menentukan kapan masa ini dimulai dan kapan berakhirnya. Uuntuk mempermudah maka dipilih batasan secara kronologis yaitu remaja yang digunakan oleh Sarwono (1994) memberi batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan usia 11 tahun adalah usia dimana umumnya tanda seksual sekunder mulai nampak. Batasan usia 24 tahun merupakan batas maksimal yaitu untuk memberi peluang pada mereka yang masih menggantungkan diri pada orangtua dan belum menikah. Berdasarkan usia kronologis, Monks (1994) menyatakan masa remaja berlangsung ketika orang berada pada usia 12-21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun termasuk masa remaja pertengahan dan 8-21 tahun termasuk masa remaja akhir

Karateristik Umum dan Perkembangan Sosial Remaja


Menurut Havighurst, (dalam Hurlock, 1999) ciri masa remaja antara lain:
1.       Masa remaja sebagi periode yang penting
Remaja mengalami perkembangan fisik dan mental yang cepat dan penting di masa semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan pembentukan sikap, minat dan nilai baru
2.       Masa remaja sebagai masa peralihan
Peralihan tidak berarti putus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, tetapi peralihan merupakan perpindahan dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya, dengan demikian dapat diartikan bahwa apa yang terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang serta mempengaruhi pola perilaku dan sikap yang baru pada tahap berikutnya
3.       Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa belajar sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Perubahan fisik yang terjadi dengan pesat diikuti dengan perubahan perilaku dan sikap yang berlangsung pesat. Perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku juga menurun
4.       Masa remaja sebagai usia bermasalah
Setiap periode mempunyai masalah-masalah sendiri namun masalah maa remaja sering terjadi masalah yang sulit diatasai baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan. Ada dua alasan bagi kesulitan ini yaitu:
a.       Sepanjang masa anak-anak, masalah anak-anak sebagaian diselesaikan oleh orang tua dan guru sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah
b.       Remaja merasa diri mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri menolak bantuan orang tua dan guru
5.       Masa remaja sebagai masa mencari indentitas
Pencarian identitas di mulai ketika masa kanak-kanak, penyesuaian diri dengan standar kelompok lebih penting daripada bersikap individualistis. Penyesuaian diri dengan kelompok pada masa remaja awal masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan namun lambat laun mereka menjadi pribadi yang berbeda dengan orang lain.
6.       Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Anggapan stereotype budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak menyebabkan orang dewasa yang harus memebimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
7.       Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Remaja pada masa ini melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri
8.       Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
Semakin mendekatnya usia kematangan, para remaja menjadi gelisah untuk meningglakan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa yaitu merokok, minum minuman keras, emnggunakan obat-obatan an terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberi citra yang mereka inginkan.
Sesuai dengan pembagian usia remaja, menurut Monks (1999) maka terdapat tiga tahap proses perkembangan menuju kedewasaan yang disertai dengan karateristik:
1.       Remaja awal (12-15 tahun)
pada tahap ini, remaja masih heran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan tersebut. Mereka mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenisdan mudah terangsang secara erotis. Kepekaaan yang berlebihan ini ditambah dengan berkurangnya pengendalian terhadap ego dan menambahkan remaja sulit mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa.
2.       Remaja madya (15-18 tahun)
pada tahap ini, remaja sangat membutuhkan teman-teman. Ada kecenderungan narsistik yaitu mencintai dirinya sendir dengan cara menyukai teman-teman yang mempunyai sifat sama dengan dirinya. Pada tahap ini remaja berada dalam kondisi kebingungan karena masih ragu harus memeilih yang mana, peka atau peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis dan sebagainya.
3.       Remaja akhir (18-21 tahun)
tahap ini adalah masa mendekati masa kedewasaan yang ditandai dengan pencapaian:
a.       minat yang semakin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
b.       efonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.
c.       Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
d.      Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain
e.       Tumbuh dinding pemisah antara diri sendiri dengan masyarakat umum
 Keniston (dalam Santrock, 2003) menggunakan istilah masa muda sebagai masa transisi antara remaja dan dewasa yang merupakan waktu ketergantungan ekonomi dan pribadi. Batasan ini diambil karena dalam perkembangannya antara masa remaja dan masa dewasa semakin lama semakin kabur. Pertama, karena sebagian remaja tidak melanjutkan sekolah melainkan bekerja atau menikah di usia remaja sehingga dengan begitu mereka akan memasuki dunia orang dewasa pada usia remaja. Kalau dalam keadaan ini dapat dikatakan masa remaja yang diperpendek, maka keadaan yang sebaliknya dapat disebut sebagai masa remaja yang diperpanjang, yaitu apabila sesudah masa remaja sesorang masih tinggal dan menjadi tanggungan orangtuanya. Misalnya mahasiswa yang berusia 24 tahun namun masih dibiayai oleh orangtuanya, dengan begitu otoritas masih ada pada orangtua. (Monks, 2006).
Berdasarkan uraian di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa masa remaja adalah merupakan periode yan penting dimana didalamnya merupakan gabungan antara periode peralihan, periode perubahan, usia yang bermasalah, mencari indentitas, usia yang menimbulkan ketakutan, masa tidak realistik, masa ambang kedewasaan. Sedangkan kekhususan pada tugas perkembangan seksual maka pada masa ini mulai terjadinya perubahan baik secara sosial, fisik, dan mental terhadap hal-hal seksual
a. Perkembangan Sosial
Masa remaja merupakan masa yang paling banyak mengalami perubahan dalam segi sosial. Apabila dimasa kanak-kanak mereka masih sangat tergantung pada orangtuanya maka pada masa remaja mereka berusaha melepaskan diri dari orangtua dan berusaha menemukan dirinya, mencapai otonomi diri dan mendapat pengakuan serta ingin bersikap mandiri (Hurlock,1994).
Masrers dkk (1986) mengatakan bahwa periode remaja adalah masa yang sulit dan banyak perubahan. Pada masa ini terdapat tuntutan secara psikososial yang meliputi banyak hal yaitu: remaja menjadi lebih mandiri dari orangtua, lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya, dapat bertanggungjawab terhadap diri sendiri, dan yang paling penting pada masa remaja mereka harus dapat menguasai peran sesuai dengan jenis kelaminnya. Tugas remaja dalam peran seksualitasnya antara lain: belajar mengendalikan perasaan dan perilaku seksual, mempelajari berbagai persoalan dalam aktivitas seksual dan mempelajari bagaimana mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.