Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2019

Hakikat Metode Discovey Inquiry (skripsi dan tesis)

Inquiry selain sebagai model pembelajaran, berfungsi juga sebagai cara yang dapat digunakan  guru untuk mengajar di depan kelas. Adapun pelaksanaannya guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke siswa, Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas menelaah suatu permasalahan, kemudian mereka mempelajari, membahas dan meneliti.
Carin yang pendapatnya dikutip Moh Amien (1987: 126) menyatakan inquiry pada dasarnya adalah proses mental yang membawa siswa atau individu mengasimilasi konsep dan prinsip. Pembelajaran inquiry adalah pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan (discovery) konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Proses mental dalam pembelajaran dengan metode discovery inquiry meliputi mengamati, mengklasifikasi, melakukan pengukuran, menginterpretasi dan sebagainya.

Menurut H. Sujati (1998: 16) bahwa dalam proses belajar mengajar IPA, siswa harus dilibatkan secara aktif dalam menemukan suatu konsep. Metode pembelajaran yang diduga dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif menemukan konsep adalah metode inquiry. Menurut Moh. Amien (1987: 126) kegiatan inquiry dibentuk dan meliputi kegiatan discovery (penemuan). Dengan demikian kegiatan penemuan menunjukkan kegiatan inquiry.
Bruner dalam bukuyang ditulis Ratna Wilis Dahar (1996: 103) menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dengan sendirinya memberikan hasil terbaik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar  bermakna. Kebaikan dari metode ini adalah:
a.       Siswa akan memahami konsep dasar secara lebih baik, sehingga pengetahuan bertahan lama dan mudah dingat
b.      Hasil belajar mempunyai efek transfer yang lebih baik, dengan kata lain pemahaman konsep dan prinsip sebagai kemampuan kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru.
c.       Meningkatkan penalaran dan kemampuan siswa untuk berfikir bebas
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa metode discovery inquiry adalah dua metode yang digabungkan menjadi satu. Discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut adalah mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan. Sedangkan inquiry adalah perluasan poses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya : merumuskan masalah, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan.
Ciri metode discovery inquiry adalah guru menyajikan bahan pembelajaran tidak dalam bentuk jadi, tetapi peserta didiklah yang diberi peluang untuk mengadakan penyelidikan dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Dalam melaksanakan metode discovery inquiry ini keterlibatan siswa secara aktif dalam menemukan konsep lebih diutamakan dengan mengutamakan mengikuti petunjuk kegiatan yang dirancang guru.
Pembelajaran penemuan (discovery)  menurut  Arthur, A Carin membagi pembelajaran penemuan dibagi menjadi 2 jenis yaitu: (1) penemuan terbimbing (guided discovery) dan (2) penemuan bebas (free discovery. Kindsvatter, R William Wilen dan Margareth Ishler (1996:260-262) juga membagi pembelajaran inquiry menjadi 3 jenis yaitu inquiri terbimbing (guided inquiry) dan inquiri bebas (open inquiry) dan (3) inquiry secara individu (individualized inquiry investigation). Dalam inkuiri terbimbing guru menyediakan data dan siswa pertanyaan atau masalah untuk membantu siswa mencari jawaban, kesimpulan, generalisasi dan solus. Pada inkuiri bebas siswa merencanakan solusi mengumpulkan data dan selebihnya sama dengan metode inkuiri terbimbing. Sedangkan pada pembelajaran inkuiri secara individual meliputi ketrampilan mengidentifkasi dan keinginan siswa yang tertarik pada belajar mandiri

Konsep model pembelajaran Biologi (skripsi dan tesis)

             Model pembelajaran digunakan dalam proses belajar mengajar dan diharapkan akan membantu siswa memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai, cara-cara berfikir, dan makna ekspresi mereka sendiri.   Pembelajaran akan meningkatkan kemampuan belajar siswa,  sehingga mereka dapat belajar lebih mudah dan efektif. 
Model Pembelajaran Biologi umumnya berupa model inquiry.  Essensi model  inquiry  adalah melibatkan siswa dalam sebuah problem yang sungguh-sungguh pada penelitian, membantu siswa  dalam mengidentifikasi dan membantu dalam hal mendesain dan menemukan cara (discovery) untuk mengatasi problem tersebut.  Model inquiry IPA Biologi terdiri dari empat fase yaitu:
a.       Siswa ditempatkan pada suasana penelitian
b.      Siswa menyusun problem, termasuk kesulitan yang ada pada penelitian tersebut. Kesulitan ini seperti menginterprestasi data, menggeneralisasikan data, mengontrol eksperimen atau membuat kesimpulan.
c.       Siswa mengidentifikasi problem dalam penelitian
d.      Siswa berspekulasi untuk memecahkan kesulitan dengan mendesain kembali eksperimen, mengorganisasikan dengan cara yang berbeda, menggeneralisasikan data dan mengembangkan gagasan.
Beberapa  dampak pembelajaran dan dampak iringan yang dimiliki model inquiry dapat dilihat pada gambar 1.
            Dampak pembelajaran dan manajemen model inquiry Biologi lebih menekankan pada proses penelitian dalam konsep Biologi, karena dalam proses penelitian inilah fakta menjadi pokok permasalahan dalam penelitian. Guru, dengan model inquiry dapat lebih mudah memotivasi, mengontrol dan mengevaluasi siswa dalam melakukan generalisasi menyangkut hipotesis, interprestasi data, dan mengembangkan gagasannya.
Model Inquiry sesuai dengan tujuan pembelajaran dan pendekatan ketrampilan proses yang sering digunakan guru dalam pembelajaran Biologi. Pembelajaran penemuan (discovery) adalah suatu model yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur dari suatu ilmu (depdiknas, 2003).
Diharapkan model ini dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berfikir, melakukan pemecahan masalah, dan memiliki ketrampilan intelektual. Sesuai dengan yang katakan Wayan (2000) bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara melatih ketrampilan intelektual dan merangsang keingintahuan serta dapat memotivasi kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan yang baru diperoleh.

Upaya Peningkatan Keefektifan Pembelajaran Biologi (skripsi dan tesis)

Sebagai tenaga  profesional guru merupakan pemegang peranan penting dalam upaya peningkatan keefektifan pembelajaran . Berbagai perkembangan paradigma terhadap pandangan belajar-mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa akan optimal.
Keefektifan pembelajaran dapat dinilai dari semakin meningkatnya  gairah, keaktifan dan konsentrasi siswa, saling berbicara dan mendengarkan tetapi tidak saling bertengkar dan ingin pelajaran berlangsung terus: “…..they saw children who were excitef, active, engaged, concentrating, talking and listening but no bickering, and wanting the task continue”, (Antil, Jenkins, Wayne, & Vadasy, 1998: 430).
Menurut Sujana (1991: 35-36), keefektifan pembelajaran dapat dinilai dari: (1) konsistensi kegiatan belajar-mengajar dengan kurikulum, (2) keterlaksanaanya oleh guru, (3) keterlaksanaannya oleh siswa, (4) motivasi belajar siswa, (5) keefektifan belajar siswa dalam kegiatan belajar-mengajar, (6) interaksi guru-siswa, (7) kemampuan guru dalam hal penguasaan bahan pembelajaran, penetapan metode-strategi dan media,dan penerapan evaluasi pembelajaran, (8) kualitas hasil belajar yang dicapai siswa.
Penerapan berbagai model pembelajaran diyakini akan meningkatkan keefektifan pembelajaran Biologi. Salah satu model yang menonjol diantaranya model  inquiry, model ini dikembangkan oleh Suchman (1962). Pada proses pembelajaran dengan model ini, siswa dilatih menyelidiki dan menjelaskan fenomena secara baik dan benar. Inquiry didesain untuk memberikan bimbingan kepada siswa dalam proses ilmiah melalui latihan bahkan banyak memberikan aktivitas proses IPA dalam waktu yang pendek. Dampak dari pelatihan ini telah dilaporkan oleh Schlanker (Joyce & Weil, 1996), latihan inquiry telah meningkatkan pemahaman pada pengetahuan, produktivitas dalam menciptakan pemikiran dan terampil untuk  memilih dan menganalisa informasi. Biologi  sendiri lebih menekankan pada sistem akan gambaran sesungguhnya tentang alam dan makhluk hidup. Pembelajarannya  lebih memberikan kesempatan secara alami pada siswa untuk berkembang  dengan kemampuan memecahkan masalah.
Mills & Dean (Mouly, 1973), mendefinisikan  pendekatan problem solving meliputi: (1) mengamati permasalahan, dengan menganalisa situasi permasalahan yang potensial untuk diteliti, (2) mendeskripsikan problem, dengan pernyataan yang jelas untuk diteliti, (3) mendiskusikan masalah, dengan membuat kepastian bahwa siswa mengerti apa yang termasuk dalam permasalahan, (4) membatasi, memisahkan bagian permasalahan yang dapat dipecahkan secara menguntungkan, (5) merencanakan tindakan, dengan menyiapkan hipotesa yang sesuai untuk penyelidikan, (6) analisis dan pembatasan lebih lanjut, yaitu dengan mengadakan tes kesementaraan pada hipotesis untuk mengidentifikasi cara yang lebih baik untuk menghasilkan solusi,  merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran Biologi. Pendekatan tersebut diatas semirip pendekatan ilmiah yang dicapai dengan langkah-langkah ilimiah, pendekatan ilmiah yang diterapkan dalam proses pembelajaran disebut dengan model pembelajaran inquiry.

Keefektifan Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Sudarsono (1994: 33) menjelaskan keefektifan merupakan rasio antara output terhadap inputnya. keefektifan merupakan ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran dalam hal ini kuantitas, kualitas, dan waktu yang telah dicapai. Paradigma keefektifan bertumpu pada pengukuran yang valid atas kinerja dalam suatu organisasi atau dalam suatu unit yang ada di dalamnya. Kinerja yang diukur merupakan hasil kerja yang telah dicapai dari tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam bentuk persamaan keefektifan sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang diharapkan (Depdiknas, 2001: 32)
Bush dan Coleman (200: 47) menyatakan “effetiveness may be largely associated with classroom factors directly affecting teaching and learning” Hal ini berarti bahwa keefektifan terkait dengan faktor-faktor kelas yang secara langsung mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Proses belajar mengajar yang keefektifannya tinggi, adalah proses belajar mengajar yang menekankan pada peningkatan pemberdayaan siswa. Proses PBM bukan sekedar memorisasi dan recall, bukan sekedar penekanan pada penguasaan tentang materi yag diajarkan (logos), akan tetapi lebih menekankan pada proses internalisasi materi yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati (ethos) serta dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Proses Belajar mengajar yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Depdiknas, 2001:12-13). Keefektifan pembelajaran Biologi tercermin pada hasil belajar baik aspek kognitif, afektif,  maupun psikomotorik. Bila hasil belajarnya memiliki nilai tinggi maka keefektifan pembelajaran Biologi dinyatakan tinggi.

Pengertian Pantun (skripsi dan tesis)


            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1984: 728) dinyatakan bahwa” Pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b). Tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama atau kedua adalah merupakan tumpuan (sampiran), sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.
            Pendapat lain mengatakan bahwa pantun adalah jenis karangan yang (puisi) terikat oleh bait, baris rima dan irama. Dari pengertian ini dapat dipertegas bahwa pantun adalah salah satu produk berbentuk puisi, tetapi lebih terikat pada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan biasanya karya pantun lebih akrab dengan orang Melayu, karena merupakan kebudayaan asli orang Melayu. Dalam  pantun terpendam mutiara-mutiara  dan kaidah-kaidah yang benilai tinggi untuk dijadikan sebagai pedoman bermasyarakat orang Melayu.  Sebagaimana diungkapkan oleh Hakymi (2004) bahwa: ” dalam pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam tersimpan mutiara-mutiara dan kaidah-kaidah yang tinggi nilainya untuk kepentingan hidup bergaul dalam masyarakat. Kalimat-kalimat yang disusun, diucapkan dengan kata-kata kiasan mengandung makna yang tersirat di dalamnya.”          
2.2.1 Jenis Pantun
            Sehubungan dengan permasalahan penelitian maka bahasan berikut lebih mengupas masalah pantun, mulai dari jenis pantun dan syarat-syaratnya.
            Ada beberapa jenis pantun yaitu. Jika dilihat dari bentuknya kita kenal sebagai berikut:
1.    Pantun Biasa  (  Pantun biasa sering juga disebut pantun  saja.)

      Contoh :

            Kalau ada jarum patah
            Jangan dimasukkan ke dalam peti
            Kalau ada kataku yang salah
            Jangan dimasukan ke dalam hati

2.    Seloka (Pantun Berkait)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.

Ciri-ciri Seloka :
a.    Baris kedua dan keempat  pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
b.    Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga
c.    Dan seterusnya

Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan

Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan

3.    Talibun
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga  isi.
      Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat  isi.

      Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
      Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

      Contoh :
            Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli                sampiran
            Ikan panjang beli dahulu


            Kalau anak pergi berjalan
            Ibu cari sanak pun cari                   isi
            Induk semang cari dahulu


4.    Pantun Kilat ( Karmina) )
      Ciri-cirinya :
a.    Setiap bait terdiri dari 2 baris
b.    Baris pertama merupakan sampiran
c.    Baris kedua merupakan isi
d.    Bersajak a – a
e.    Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Contoh :
Dahulu parang, sekarang besi     (a)
Dahulu sayang sekarang benci   (a)

Berdasarkan isi nya pantun dibagi menjadi :

a)    Pantun muda mudi
Dari jauh kapal melintang
tampak haluan dengan kemudi
dari jauh kanda datang
apa maksud datang ke sini
b)    Pantun nasihat
Kalau anak pergi ke lepau
yu beli belanak pun beli
ikan panjang beli dahulu
kalau anak pergi merantau
ibu cari sanakpun cari
induk semamg cari dahulu
c)    Pantun agama
Kemumu di dalam semak
buah kepayang banyak minyaknya
biar ilmu setinggi tegak
tak sembayang apa gunanya
d)    Pantun  Jenaka
Iluk nian bukit sumbing
jalan ke sawah bersimpang duo
iluk nian bebini sumbing
biak marah ketawo jugo
e)    Pantun orang tua
Kalau anak pergi ke pasar
jangan lupa membeli baju
kalau anak sedang belajar
jangan lupa pesan guru
f)     Pantun anak-anak
Anak kecubung mandi di sawah
botol kosong nyaring bunyinya
anak sombong banyak ketawa
suka bohong banyak musuhnya

Pembelajaran Menulis Pantun (skripsi dan tesis)

Menulis adalah aktivitas komunikasi. Menurut Karim (1997: 18) memulai menulis terkadang merupakan kegiatan yang sulit untuk dilakukan. Hal ini  dialami oleh orang yang baru belajar menulis maupun penulis yang telah berpengalaman. Penulis-penulis berpengalaman  merasa sudah mempunyai keterikatan tanggungjawab yang besar terhadap tulisan yang akan dikerjakannya. Perasaan ini mendorong para penulis untuk mempersiapkan  selengkap-lengkapnya itu dapat menimbulkan perasaan belum merasa cukup untuk memulai menulis. Sehingga kegiatan menulis tidak lekas dimulai. Untuk mengatasi hal ini hendaknya diingat bahwa perencanaan penulisan itu  bukanlah  suatu yang kaku. Demikian juga yang dialami siswa ketika memulai untuk menulis puisi.
Dalam KTSP menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran menulis diberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat kesulitan materi dan kemampuan siswa. Salah satu pembelajaran menulis yang diajarkan di SMP adalah menulis puisi lama atau pantun.
Luxemburg dalam Siswanto (1984: 175) menyatakan bahwa ” Puisi adalah teks monolog yang isinya bukan pertama merupakan sebuah alur. Atau dengan kata lain isinya bukan  semata-mata sebuah cerita, tetapi lebih merupaka sebuah  ungkapan perasaan. Penyair bertanggung jawab pada semua yang ada dalam karya sastranya. Baik bentuk maupun isinya. Sementara itu Waluyo ( 1987: 25) mengemukakan puisi adalah bentuk karya sastra  yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengosentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya.
      Bentuk struktur fisik puisi sering disebut metode puisi. Bentuk dan struktur fisik  puisi menurut Siswanto (2008: 113-123) mencakup perwajahan puisi, diksi, pengimajian, kata konkrit, majas atau bahasa  figuratif, dan verifikasi. Semua unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Perwajahan puisi adalah pengaturan dan penulisan kata, larik dan bait dalam puisi
      Pada puisi lama atau pantun kata-katanya diatur dalam deret yang disebut larik atau baris. Setiap larik  tidak selalu mencerminkan satu pernyataan, bisa saja terdapat dua larik yang mengandung satu pernyataan. Kumpulan pernyataan dalam pantun tidak membentuk paragraf tetapi berbentuk bait. Setiap bait dalam puisi lama atau pantun mengandung satu pokok pikiran.
Diksi adalah pilihan kata-kata yang gunakan penyair dalam pantun. Pemilihan kata dalam pantun berhubungan dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Pilihan kata akan mempengaruhi ketepatan makna dan keselarasan bunyi. Pilihan kata juga berkait erat dengan latar belakang panyair. Seperti puisi lama atau pantun berikut ini:
Dari jauh kapal melintang
tampak haluan dengan kemudi
dari jauh kanda datang
apa maksud datang kemari
Pemilihan kata berhubungan erat dengan latar belakang penyair. Semakin luas wawasan penyair, semakin kaya dan berbobot kata-kata yang digunakan. Kata-kata dalam pantun tidak hanya sekedar kata-kata yang dihafalkan, tetapi sudah mengandung pandangan pengarang. Panyair yang religius akan menggunakan kosakata yang berbeda dengan panyair sosialis.
Imaji adalah kata atau kelompok kata yang dapat  mengungkapkan pengalaman inderawi seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi tiga yaitu : imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti yang dialami penyair. Imaji dapat berhubungan erat dengan kata konkret.
            Kata konkret adalah kata yang dapat diungkapkan dengan indera. Kata konkrit berhubungan kiasan atau lambang. Kata konkret salju dapat melambangkan kebekuan cinta, kehampaan cinta, kehampaan hidup, kekakuan sikap. Kata-kata konkret rawa-rawa dapat melambangkan tempat yang kotor, tempat hidup, bumi dan kehidupan,
Majas adalah bahasa kias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan  puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.  Seperti contoh pantun berikut ini:
Muara talang dilingkung bukit
bukit tekungkung sikayu jati
kasih sayang bukanlah sedikit
dari hidup sampai ke mati
Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksud penyair karena 1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, 2) bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam pantun lebih nikmat dibaca, 3) bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas  perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, 4) bahasa figuratif adalah cara untuk mengonsentrasi makna yang hendak disampaikan. Dan cara menyampaikan sesuatu untuk makna yang luas dan bahasa yang singkat.
Verifikasi dalam pantun terdiri atas rima dan ritme, Rima adalah persamaan bunyi pada pantun, baik awal, tengah maupun akhir baris pantun. Rima mencakup tiruan terhadap  bunyi, bentuk intern pola bunyi dan pengulangan kata atau ungkapan. Ritme merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritme sangat menonjol bila pantun dibacakan. dari variasi keras lemah ritme, secara garis besar dapat dibedakan atas empat metrum. Jambe adalah tekanan bervariasi, ada yang diberi tekanan ada yang tidak. Pada tracheus tekanan keras terdapat pada suku kata pertama. Pada daktylus tekanan terdapat pada awal baris. Dan selanjutnya diseling dua suku kata ketiga dan pada awal kata tidak bertekanan.
Menurut Richard dalam Siswanto (2008), berpendapat bahwa struktur batin puisi terdiri atas empatt unsur, yaitu:  1) tema atau makna, 2) rasa (feeling), 3) nada, dan 4) amanat , gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh pengarang atau yang terdapat dalam puisi disebut dengan tema. Rasa dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pokok , Nada dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Ada penyair dalam menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerjasama dengan pembaca untuk memecahkan masalah. Amanat atau tujuan merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair itu menciptakan puisi atau pantun.
Atmazaki (1993) berpendapat bahwa pada dasarnya puisi bukanlah satu-satunya  jenis  karya sastra karena pada setiap bentuk pengungkapan yang  menggunakan bahasa, seseorang dapat saja menemukan dan merasakan puisi atau sesuatu yang puitis. Kepuitisan dapat saja ditemukan dalam karya sastra berbentuk prosa dan drama. Defenisi pantun yang menyebutkan bahwa pantun adalah puisi lama yang merupakan  karangan terikat oleh baris dan bait, oleh rima dan irama, dan oleh jumlah kata dan suku kata sebenarnya.

Pembelajaran Bahasa Indonesia (skripsi dan tesis)


Ada empat aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Keempat aspek itu adalah keterampilan mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan ini saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan aktivitasnya, keterampilan berbicara dan menulis merupakan keterampilan yang bersifat produktif. Sedangkan keterampilan mendengarkan dan membaca merupakan keterampilan reseptif. Namun demikian keempat keterampilan ini dapat diaplkasikan  dalam suatu pembelajaran secara terpadu.
Sujanto (1988: 56) menyatakan bahwa pengajaran bahasa  di sekolah terdiri atas empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Tujuan akhir dari keempat keterampilan tersebut  adalah melalui pembelajaran keterampilan berbahasa siswa bisa mandiri.
Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP, pada dasarnya tersebar pada komponen kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, pembelajaran keterampilan menulis harus disajikan secara terpadu dengan keterampilan-keterampilan bahasa yang lain, dan harus menggunakan  suatu proses, yaitu pra-menulis  di kelas pengedrafan, perbaikan, pengeditan dan publikasi. Menurut Tompkins (1994: 39) ada delapan bentuk menulis yang dapat diajarkan di tingkat pendidikan dasar, yaitu menulis jurnal, menulis deskriptif, menulis surat menulis narasi, menulis surat, menulis puisi dan menulis persuasif.
Tarigan ( 1993) menulis seperti juga halnya ketiga keterampilan  berbahasa lainnya merupakan  suatu proses perkembangan. Menulis menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, keterampilan-keterampilan khusus dan pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Menuntut gagasan-gagasan yang tersusun secara logis, diekspresikan dengan jelas  dan ditata secara menarik. Selanjutnya menuntut penelitan yang terperinci, observasi yang seksama, perbedaanyang tepat dalam memilih judul, bentuk dan gaya. Akhirnya ia menuntut kita untuk menulis, mengoreksi cetakan percobaan, menulis kembali dan menyempurnakannya untuk mengembangkan kata dari seorang bakal penulis menjadi seorang pengarang yang memuaskan.

Manfaat Metode Mind Mapping (skripsi dan tesis)

Menurut Buzan (2010:5) mengungkapkan bahwa Mind mapping merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif, dan memetakan pikiran-pikiran kita, secara menarik, mudah dan berdaya guna, bagi anak-anak, disarankan sebaiknya menerapkan metode Mind mapping ini sejak dini. Karena ternyata metode ini ampuh diterapkan pada anak mulai usia 4 tahun. Anak-anak bisa diajarkan metode Mind mapping di usia 4 tahun, atau umur berapa saja bagi anak-anak yang sudah bisa mengenal objek. Selain memaksimalkan kinerja otak kanan dan kiri siswa untuk memahami sebuah konsep atau materi, penggunaan media pembelajaran juga sangat penting untuk membantu siswa mempelajari objek, suara, proses, peristiwa atau lingkungan yang sulit dihadirkan didalam kelas.
Alamsyah (2009) menyebutkan beberapa manfaat dari penggunaan metode mind mapping, antara lain:
a.    Dapat melihat gambaran secara menyeluruh dengan jelas
b.    Dapat melihat detail tanpa kehilangan benang merahnya antar topik
c.    Terdapat pengelompokkan informasi
d.   Menarik perhatian mata dan tidak membosankan
e.    Memudahkan berkonsentrasi
f.     Proses pembuatannya menyenangkan karena melibatkan warna, gambar-gambar dan lain-lain
g.    Mudah mengingatnya karena ada penanda-penanda visualnya
Windura (2008) menambahkan khusus dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, kegunaan dan aplikasi mind map sangat banyak, antara lain untuk meringkas, mengkaji ulang (review), mencatat, mengajar, bedah buku, presentasi, penelitian dan manajemen waktu (time management).

Langkah-Langkah Menggunakan Mind Mapping (skripsi dan tesis)


Buzan (2009) menjelaskan untuk membuat mind map, bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1) Kertas, minimal berukuran A4
2) Pensil warna atau sepidol
3) Imajinasi.
4) Otak kita sendiri
Alamsyah (2009) menjelaskan setiap peta pikiran (mind map) mempunyai elemen-elemen sebagai berikut:
a.    Pusat peta pikiran atau central topic, merupakan ide atau gagasan utama.
b.    Cabang utama atau basic ordering ideas (BOI), cabang tingkat pertama yang langsung memancar dari pusat peta pikiran.
c.    Cabang, merupakan pancaran dari cabang utama, dapat dituliskan ke segala arah.
d.   Kata, menggunakan kata kunci saja.
e.    Gambar, dapat menggunakan gambar-gambar yang disukainya.
f.     Warna, gunakan warna-warni yang menarik dalam peta pikiran.
Langkah-langkah membuat mind map (Windura, 2008):
a.    Mulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan vertikal atau horizontal
b.    Menentukan central topic yang akan dibuat dengan metode mind mapping, central topic biasanya adalah judul buku atau judul bab yang dipelajari dan harus diletakkan di tengah kertas serta diusahakan berbentuk gambar.
c.    Membuat basic ordering ideas (BOI) untuk central topic yang telah dipilih, gunakan warna yang berbeda pada masing-masing garis BOI. BOI biasanya adalah judul bab atau sub bab dari buku yang akan dipelajari atau bisa juga dengan menggunakan 5WH (what, where, why, who, when, dan how). Buzan (2009) menjelasakan garis BOI dibuat lebih tebal dibandingkan dengan garis cabang-cabang selanjutnya setelah cabang utama (BOI) dan seluruh garis cabang utama (BOI) harus tersambung ke pusat/central topic .
d.   Melengkapi setiap BOI dengan cabang-cabang yang berisi data-data pendukung yang terkait garis cabang kedua, ketiga, dan selanjutnya lebih tipis dibandingkan garis cabang utama (BOI) dan warna garis cabang kedua, ketiga, dan selanjutnya tersebut mengikuti warna BOI nya masing-masing
e.    Melengkapi setiap cabang dengan gambar, simbol, kode, daftar, grafik agar lebih menarik, lebih mudah untuk diingat dan dipahami, jika perlu lengkapi dengan garis penghubung bila ada BOI yang saling terkait satu dengan lainnya serta tuliskan kata kuncinya saja untuk setiap garis.

Pengertian Metode Mind Mapping (skripsi dan tesis)

Menurut Buzan (2009), mind map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak. Mind map adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita. Catatan yang dibuat tersebut membentuk gagasan yang saling berkaitan, dengan topik utama di tengah dan subtopik serta perincian menjadi cabang-cabangnya. Buzan (2009), menjelaskan bahwa mind map juga merupakan peta rute hebat bagi ingatan, memungkinkan kita menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan teknik pencatatan tradisional.
Menurut Windura (2008), mind map adalah suatu teknis grafis yang dapat menyelaraskan proses belajar dengan cara kerja alami otak. Mind map melibatkan otak kanan sehingga proses pembuatannya menyenangkan, dan mind map merupakan cara paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan, dan mengeluarkan data dari otak kita.
Menurut Alamsyah (2009), mind mapping selaras dengan cara kerja alami otak, karena mind mapping melibatkan kedua belahan otak, seseorang mencatat dengan melibatkan simbol-simbol atau gambar-gambar yang disukainya, menggunakan warna-warna untuk percabangan-percabangan yang mengindikasikan makna tertentu dan bisa melibatkan emosi, kesenangan, kreativitas seseorang dalam membuat catatan-catatan. Menurut Septiana (2007), agar pembelajaran membekas dalam ingatan peserta didik, maka diperlukan penekanan hal-hal yang telah dipelajari selama sesi kelas itu. Gambar atau tulisan yang menarik dan berkesan dapat membantu siswa mengingat kembali hal-hal yang telah mereka lakukan dan pelajari.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan (skripsi dan tesis)


Sifat disiplin yang dimiliki oleh siswa merupakan hasil interaksi berbagai unsur di sekelilingnya. Disiplin juga merupakan sikap yang bersifat lahir dan batin yang pembentukannya memerlukan latihan-latihan yang disertai oleh rasa kesadaran dan pengabdian, dimana perbuatan setiap perilaku merupakan pilihan yang paling tepat bagi dirinya. Hal ini tidak terlepas karena sikap disiplin seseorang sangat relatif tergantung pada dorongan yang ada di sekelilingnya, dimana dorongan tersebut sangat mudah mengalami perubahan, bisa meningkat, menurun bahkan bias hilang. Itu artinya sikap disiplin yang ada pada diri siswa tergantung dengan keadaan lingkungan sekitarnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya sikap disiplin siswa tidak terlepas dari faktor yang mempengaruhi belajar, karena pada dasarnya sikap disiplin adalah tahap belajar siswa dari sikap tidak teratur menjadi sikap teratur. Faktor-faktor itu antara lain:
1)      Faktor keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama, tapi juga dapat menjadi penyebab kesulitan disiplin dalam belajar. Itu artinya keluarga adalah salah satu lembaga pendidikan yang pertama kali yang mendidik anak menjadi baik. Dalam keluarga inilah anak didik mendapat pengetahuan pertama kali tentang apapun, begitu juga dengan sikap disiplin harus pertama kali ditanamkan pada anak ketika masih berada dalam lingkungan keluarga, karena keluarga adalah komunitas sosial kecil yang pertama yang di terjuni anak. Ketika disiplin sudah ditanamkan sejak kecil atau dini dalam lingkungan keluarga maka sikap disiplin pada anak akan menjadi suatu kebiasaan ketika mereka berada di luar rumah atau lingkungan keluarga. Hal ini terjadi karena “tiap pengaruh lingkungan yang menentukan tingkah laku si anak yang terutama ialah dari keluarga”.
2)      Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah ini menyangkut faktor guru, faktor alat sekolah, faktor kondisi gedung dan faktor waktu sekolah. Semua faktor yang termasuk lingkungan sekolah tersebut dapat berpengaruh terhadap disiplin siswa ketika mereka berada di lingkungan sekolah.
Di antara faktor-faktor yang mempengauhi kedisiplinan siswa adalah faktor guru, hal ini disebabkan karena kadang-kadang guru tidak kulifiet, misalnya sebagi berikut: (1) Dalam pengambilan metode yang ia gunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya, sehingga dalam penyampaian mata pelajaran kurang pas dengan metodenya yang menyebabkan anak didik malas mengikuti pelajaran atau kurang; (2) Hubungan guru dengan murid kurang baik, yang bermula pada sikap guru yang tidak di senangi oleh murid- muridnya seperti kasar, tidak pernah senyum, menjengkelkan, suka membengkak dan lain- lain; (3) Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar, misalnya dalam bakat, minat, sifat, kebutuhan-kebutuhan anak dan sebagainya; (4) Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak. Artinya ketika guru menyampaikan pelajaran sedangkan siswa tidak memahaminya, maka guru masih terus melanjutkan pelajaran yang ia sampaikan pada murid karena dia menganggap bahwa pelajaran yang ia sampaikan pada siswa sudah sesuai dengan standar. Padahal materi yang di berikan oleh guru tidak di pahami oleh siswa, sehingga menyebabkan malasnya belajar pada diri siswa.
3)      Masyarakat
Masyarakat sebagai suatu lingkungan yang lebih luas daripada keluarga dan sekolah turut menentukan berhasil tidaknya pendidikan dan pembinaan disiplin. Situasi masyarakat tidak selamanya konstan atau stabil, sehingga situasi tersebut dapat menghambat atau memperlancar terbentuknya disiplin anggota masyarakat.
Masyarakat yang dapat dijadikan medan pembinaan disiplin ialah masyarakat yang mempunyai karakter campuran antara masyarakat yang menekankan ketaatan dan loyalitas penuh,serta masyarakat yang permisif atau terlalu terbuka. Dalam situasi mesyarakat seperti ini, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kebudayaan dan bersikap terbuka namun selektif terhadap pengaruh dari luar. Kontrol yang disertai kelonggaran yang bijaksanan akan mewujudkan pribadi yang semakin matang dan bertanggung jawab.
Menurut Brown dan Brown ada beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, dan mengelompokkannya sebagai berikut: (1) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru; (2) Perilaku tidak disiplin bias disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin; (3) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa, siswa yang berasal dari keluarga yang broken home; (4) Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.




Jenis Perilaku Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

     
Setidaknya ada dua bentuk disiplin yang perlu dikembangkan oleh sekolah, yaitu preventif dan kuratif. Disiplin preventif, yaitu upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang berlaku. Dengan hal itu pula, siswa berdisiplin dan dapat memelihara dirinya terhadap peraturan yang ada. Disiplin korektif, yaitu upaya mengarahkan siswa untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada.
Menurut Lembaga Ketahanan Nasional (1974 : 14) jenis perilaku disiplin adalah sebagai berikut: (1) takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) kepatuhan dinamis, artinya bukan kepatuhan yang mati dalam mewajibkan seseorang untuk patuh; (3) kesadaran, yang artinya adanya kepatuhan yang sudah menyatu dengan hati dan perbuatan;. (4) rasional, yaitu kepatuhan melalui proses berfikir; (5) sikap mental yang menyatu dalam diri, artinya kepatuhan yang sudah dijabarkan dalam setiap perilaku dan perbuatan, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga yang bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara; (6) keteladanan, artinya setiap orang harus dapat menjadi teladan atau contoh yang baik bagi orang lain; (7) keberanian dan kejujuran, artinya sikap yang tidak mendua, yaitu sikap tegas dan lugas dalam menerapkan aturan atau sanksi.
Seseorang yang dalam hatinya telah tertanam kedisiplinan akan terdorong untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku. Sikap dan perbuatan yang selalu taat pada peraturan yang berlaku tersebut merupakan perwujudan dari perilaku disiplin yang akan menyatu dengan seluruh aspek kepribadian seseorang. Untuk mewujudkan perilaku disiplin secara terus-menerus, maka kualitas atau kriteria tersebut di atas harus didukung oleh aspirasi dan kehendak berbuat dari para pelakunya

Tujuan Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Kedisiplinan siswa dalam belajar sangatlah penting, oleh karena itu adanya sikap disiplin yang tertanam pada siswa mempunyai tujuan agar dapat menjaga hal-hal yang menghambat atau mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar, juga dapat membuat anak didik terlatih dan mempunyai kebiasaan yang baik serta bisa mengontrol setiap tindakannya sehingga akan membentuk pribadi yang mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Setiap tindakan yang dilakukan siswa akan dampak pada perkembangan mereka sehingga mereka akan menyadari bahwa hakikat segala apa yang diperbuat akan kembali pada diri mereka sendiri.
Maman Rachman (1999) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah : (1) memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya.
Selain tujuan di atas, masih ada tiga tujuan lain yang berkaitan dengan kedisiplinan ini. Pertama, kedisiplinan mesti diterapkan tanpa menunjukkan kelemahan, tanpa menunjukkan amarah dan kebencian. Bahkan kalau perlu dengan kelembutan agar para pelanggar kedisiplinan menyadari bahwa disiplin itu diterapkan demi kebaikan dan kemajuan dirinya. Kedua, kedisiplinan mesti diterapkan secara tegas, adil dan konsisten. Aturan disiplin diterapkan tanpa pandang bulu dan berlaku bagi masyarakat sekolah. Ketidakadilan dan inkonsistensi dalam menegakkan disiplin hanya akan membuat ketidakjelasan dan kebingungan bagi siswa serta hilangnya kewibawaan dan kepercayaan semua pihak terhadap sekolah. Ketiga, ketika kedisiplinan mulai menampakkan pertumbuhannya, sama seperti biji tanaman yang baru tumbuh, benih itu mesti dijaga dan dirawat dengan penuh kesabaran. Sebaiknya hindari menggunakan ancaman-ancaman dan kekerasan karena hal itu hanya akan menjadi panasnya terik matahari yang akan menghanguskan benih yang sedang tumbuh itu. Perlu dipakai cara-cara yang selaras dengan perkembangan dan kebutuhan siswa sehingga mereka semakin jatuh cinta pada kegiatan belajar.

Urgensi Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Adanya sikap disiplin yang harus dimiliki oleh setiap anak didik sangat perlu dalam kehidupan mereka, karena ketika mereka mempunyai sifat disiplin maka hidup mereka akan menjadi teratur. Menurut Hurlock (2000: 83) mengemukakan bahwa disiplin itu perlu untuk perkembangan anak, karena ia memenuhi beberapa kebutuhan tertentu, di antaranya adalah: (1) disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan; (2) dengan membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah, perasaan yang pasti mengakibatkan rasa tidak bahagia dan penyesuaian yang buruk. Disiplin memungkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok sosial dan dengan demikian memperoleh persetujuan social; (3) dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan. Hal ini esensial bagi penyesuaian yang berhasil dan kebahagiaan; (4) disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya; (5) disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani atau suara dari dalam yang membimbing dalam mengambil suatu keputusan dan pengendalian perilaku.

Unsur-Unsur Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Disiplin diharapkan mampu mendidik siswa untuk berperilaku sesuai denagn standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka. Siswa hendaknya memiliki empat unsur pokok disiplin seperti yang diungkapkan Hurlock (2000:84-85), yaitu:
1)      Peraturan
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk berbuat atau bertingkah laku, tujuannya adalah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi dan kelompok tertentu. Peraturan memiliki dua fungsi penting yaitu: fungsi pendidikan, sebab peraturan merupakan alat memperkenalkan perilaku yang disetujui anggota kelompok kepada anak, dan fungsi preventif karena peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
Peraturan dianggap efektif apabila setiap pelanggaran atas peraturan itu mendapat konsekuensi yang setimpal. Jika tidak, maka peraturan tersebut akan kehilangan maknanya. Peraturan yang efektif akan membantu seorang anak agar merasa terlindungi sehingga anak tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak pantas.
Isi setiap peraturan harus mencerminkan hubungan yang serasi diantara anggota keluarga, memiliki dasar yang logis untuk membuat berbagai kebijakan, dan menjadi model perilaku yang harus terwujud didalam keluarga. Proses penentuan setiap peraturan dan larangan bagi anak-anak bukan merupakan sesuatu yang dapat dikerjakan seketika dan berlaku untuk jangka panjang, peraturan dapat diubah agar dapat disesuaikan dengan perubahan keadaan, pertumbuhan fisik, usia dan kondisi saat ini didalam keluarga.
2)      Hukuman
Hukuman berasal dari kata latin Punier yang berarti menjatuhkan hukuman kepada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau balasan. Hukuman memiliki tiga fungsi yang berperan penting dalam perkembangan anak, (1) menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat, (2) mendidik, sebelum anak mengerti pengaturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tersebut benar atau salah dengan mendapat hukuman, (3) memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima di masyarakat.
3)      Penghargaan
Istilah penghargaan berarti setiap bentuk penghargaan atas hasil yang baik. Penghargaan tidak hanya berbentuk materi tetapi dapat juga berbentuk pujian, kata-kata, senyuman, atau tepukan di punggung. Penghargaan mempunyai peranan penting yaitu, (1) penghargaan mempunyai nilai mendidik, (2) penghargaan berfungsi motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial dan (3) penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan melemahkan perilaku tersebut.
4)      Konsistensi
Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas, mempunyai tiga fungsi yaitu (1) mempunyai nilai mendidik yang besar, (2) konsistensi mempunyai nilai motivasi yang kuat untuk melakuakn tindakan yang baik di masyarakat dan menjauhi tindakan buruk, dan (3) konsistensi membantu perkembangan anak untuk hormat pada aturan-aturan dan masyarakat sebagai otoritas. Anak-anak yang telah berdisiplin secara konsisten mempunyai motivasi yang lebih kuat dan komitmen untuk berperilaku sesuai dengan standar sosial yang berlaku dibanding dengan anak-anak yang berdisiplin secara tidak konsisten.
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peraturan berfungsi sebagai pedoman perilaku, hukuman sebagai akibat dari pelanggaran peraturan, penghargaan berfungsi sebagai penguatan positif untuk berperilaku baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, serta konsisten dalam mentaati peraturan dan cara yang digunakan untuk mengajarkan peraturan dan diwujudkan dengan memiliki komitmen dalam melaksanakan peraturan bola. Dalam permainan sepak bola, rambu-rambu penanaman telah jelas bagi mereka dengan hukuman yang sudah jelas pula dan telah diketahut oleh pan pemarn bob Jika pemain melakukan suatu pelanggaran tata tertib permainan, maka dengan segera wasit memberikan kartu kuning sebagai tanda penngatan bagi yang bersangkutan. Jika akumulasi pelanggaran yang berbentuk kartu kuning tersebut telah mencapai tingkat tertentu, maka wasit akan segera mengeluarkan kartu merah sebagai tanda bahwa pemain haruis dikeluarkan dari gelanggang permainan Demikian juga dengan pemberlakuan Sistern Poin Pelanggaran (Yusransyah, 2003 3-4)