Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2020

Mobile Learning (skripsi dan tesis)

Mobile learning sendiri merupakan salah satu jenis pembelajaran yang sedang berkembang saat ini. Konsep pembelajarannya sendiri mobile learning mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki media lain yaitu mudah di akses setiap saat dan lebih menarik untuk dipelajari pada umumnya. Quinn (2000) berpendapat bahwa m-learning adalah sebuah elearning yang dapat diwujudkan melalui perangkat mobile, namun m-learning memiliki manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat diakses pengguna kapan saja dan di mana saja melalui perangkat mobile. Mobile learning didefinisikan oleh Kulkulska (2015:1) yaitu sebuah konsep baru dalam pendidikan dan memiliki salah satu konotasi yag familiar berkaitan dengan mobilitas pelajar. Konotasi yang familiar tersebut ialah penggunaan perangkat genggam baik itu ponsel, smartphone, maupun tablet yang saat ini menjadi tren perkembangan komunikasi dan informasi di dunia. Penggunaan perangkat genggam tersebut dimanfaatkan sebagai suatu strategi dalam belajar dalam arti bahwa pebelajar harus mampu untuk terlibat daalam kegiatan pembelajaran tanpa dibatasi ruangan. Mcquiggan (2015:8) menyatakan Istilah mobile learning atau biasa disebut m-learning merupakan pengalaman dan kesempatan yang diberikan oleh evolusi teknologi pendidikan. Ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja pembelajaran dilakukan instan, akses belajar dikendalikan secara pribadi. Dimana pembelajaran penuh dengan alat dan sumber daya, kita aka lebih mengkonstruk pengetahuan kita sendiri, memuaskan keingintahuan kita, berkolaborasi dengan orang lain, dan budidaya pengalaman. Menurut Tamimuddin (2007:1) mobile learning diartikan kepada

Definisi Flipped Classroom (skripsi dan tesis)

 Flipped classroom menjadi pendekatan pembelajaran yang menarik perhatian para peneliti, akademisi, dan guru. Hwang et al. (2019) melaporkan adanya tren yang naik terhadap penelitian mengenai flipped classroom. Dari penelitian-penelitian ini, beragam definisi telah ditawarkan untuk pendekatan pembelajaran yang juga sering disebut dengan flipped learning (Bond, 2019) dan inverted classroom (Lage et al., 2000) ini. Dua definisi yang sering digunakan oleh para peneliti untuk mendefinisikan pendekatan ini adalah definisi yang diajukan oleh Bishop & Verleger (2013) dan Flipped Learning Network (FLN, 2014). Bishop & Verleger (2013) mendefinisikan flipped classroom sebagai strategi pembelajaran yang terdiri dari dua bagian, yaitu aktivitas-aktivitas pembelajaran kelompok interaktif di dalam kelas, dan pengajaran langsung berbasis komputer yang dilakukan secara individual dan dilaksanakan di luar kelas. Definisi ini secara jelas membedakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa ketika di dalam kelas dan di luar kelas. Secara garis besar, aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh siswa ketika di dalam kelas adalah belajar secara berkelompok. Selain itu, pembelajaran di dalam kelas dilakukan secara interaktif. Artinya, flipped classroom menekankan interaksi antar pelaku pembelajaran. 
Sebaliknya, kegiatan pembelajaran di luar kelas menekankan pembelajaran langsung yang dilakukan secara individual. Kegiatan di luar kelas Y. semacam ini didukung oleh komputer sebagai media penyampai pesan pembelajarannya. Media berbasis komputer yang digunakan dalam kegiatan di luar kelas merupakan video-video pembelajaran. Definisi flipped learning yang lebih komprehensif diusulkan oleh FLN (2014). Definisi tersebut adalah sebagai berikut. [A] pedagogical approach in which direct instruction moves from the group learning space to the individual learning space, and the resulting group space is transformed into a dynamic, interactive learning environment where the educator guides students as they apply concepts and engage creatively in the subject matter. Untuk mengimplementasikan pendekatan flipped learning seperti yang didefinisikan oleh FLN (2014) tersebut, guru harus menggabungkan empat pilar pendekatan pembelajaran tersebut, yaitu (1) lingkungan belajar yang fleksibel, (2) budaya belajar berpusat siswa, (3) konten pembelajaran yang terencana, dan (4) guru yang profesional. Dengan lingkungan belajar yang fleksibel, siswa mendapatkan moda pembelajaran yang bervariasi, dan dapat memilih kapan dan di mana mereka belajar. Budaya belajar dalam pendekatan flipped learning harus bergeser dari pembelajaran yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dengan budaya ini, siswa akan menggunakan waktu belajar di kelas untuk mengeksplorasi topik secara mendalam dan mendapatkan kesempatan belajar yang lebih kaya. Selanjutnya, guru harus memilih dan memilah konten pembelajaran mana yang akan diajarkan secara langsung dan konten mana yang diletakkan pada lingkungan belajar individu. Di pilar terakhir, guru harus profesional. Artinya, peran guru tidak dapat digantikan oleh flipped learning, tetapi peran guru dalam pendekatan ini semakin krusial dibandingkan dengan pembelajaran tradisional.

Pendekatan Pembelajaran (skripsi dan tesis)

 Kata pendekatan berasal dari kata dasar “dekat” yang mempunyai arti pendek atau tidak jauh. Sedangkan pengertian pendekatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk pada proses, cara, dan usaha untuk mendekati sesuatu. Dalam konteks pembelajaran istilah pendekatan dapat diartikan sebagai suatu cara atau   usaha yang dilakukan dalam proses pembelajaran untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Hamdayana (2016:128) menganalogikan pendekatan pembelajaran sebagai sebuah jalan yang akan dilalui oleh peserta didik dan pendidik dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan cara menyajikan materi dengan bentuk yang berbeda. Sedangkan menurut Wahjoedi (1999:121), pendekatan pembelajaran merupakan cara untuk mengelola kegiatan belajar serta perilaku peserta didik. Hal tersebut dilakukan dalam rangka membuat peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan sebuah usaha untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran melalui penyajian materi ke dalam bentuk yang berbeda. Dengan hadirnya beragam pendekatan pembelajaran yang berbeda, diharapkan seorang pendidik mampu memilih pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar

Pelaksanaan Pembelajaran (skripsi dan tesis)

 Pelaksanaan pembelajaran merupakan bentuk penerapan dari RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Seorang pendidik yang berada dalam satuan pendidikan diwajibkan untuk menyusun RPP. RPP merupakan sebuah rancangan dari kegiatan pembelajaran untuk diterapkan dalam satu kali pertemuan atau lebih. 11 Dengan kata lain RPP merupakan acuan dan pedoman pendidik dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Untuk menyusun sebuah RPP pendidik perlu mengacu pada Silabus yang mencangkup Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK), Materi Pembelajaran, kegiatan pembelajaran, Penilaian, Alokasi Waktu, Dan Sumber Belajar. Silabus sendiri dikembangkan dan disesuaikan oleh masingmasing satuan pendidikan. Adapun langkah-langkah pembelajaran yang terdapat RPP meliputi: 
1) Kegiatan Pendahuluan 
Rusman (2018:14) memaparkan beberapa kegiatan yang wajib dilakukan oleh seorang pendidik dalam kegiatan pendahuluan, yaitu: a) Mempersiapkan peserta didik dari segi psikis dan fisik supaya siap memulai proses pembelajaran. b) Memberikan motivasi belajar kepada peserta didik dengan menyesuaikan pada topik materi ajar pada kehidupan sehari-hari. c) Mengajukan pertanyaan yang dapat memancing ingatan peserta didik terhadap materi sebelumnya yang kemudian dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari. d) Memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai. e) Menyampaikan materi dan menjelaskan uraian kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan silabus. 
 2) Kegiatan Inti 
Kegiatan inti berisi serangkaian kegiatan pembelajaran yang akan dilalui oleh peserta didik sesuai dengan KD. Dalam penyusunan kegiatan inti, pemilihan model, metode, media, dan sumber pembelajaran perlu memerhartikan karakteristik dari peserta didik dan mata pelajaran. Selanjutnya kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan oleh peserta didik.
 3) Kegiatan Penutup 
Rusman (2018:14) memaparkan bahwa kegiatan penutup digunakan untuk melakukan refleksi guna mengevaluasi: a) Seluruh rangkaian aktivitas dan hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. b) Memberikan umpan balik (feedback) terhadap proses dan hasil pembelajaran. c) Memberikan tugas sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. d) Menyampaikan rencana terkait dengan kegiatan pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Komponen Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Pembelajaran merupakan sebuah sistem yang memiliki sejumlah komponen yang saling terhubung dan memengaruhi satu sama lainnya. Ruhimat et al. (2011:148-175) mengungkapkan beberapa komponen pembelajaran sebagai berikut:  1) Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran adalah target yang ingin dicapai setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Tujuan ini merupakan bagian dari upaya pencapaian tujuan yang lebih tinggi, yaitu tujuan pendidikan dan tujuan pembangunan nasional. 2) Bahan Pembelajaran Bahan pembelajaran atau juga sering disebut dengan materi pembelajaran adalah penjabaran dari isi kurikulum yang kemudian dikemas dalam bentuk mata pelajaran ataupun bidang studi beserta dengan topik dan rinciannya. Secara umum isi dari kurikulum dapat dikelompokan kedalam tiga unsur utama, yaitu: logika (pengetahuan tentang benar-salah), etika (pengetahuan tentang baik-buruk), dan estetika (pengetahuan tentang keindahan). 3) Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran adalah serangkaian langkah-langkah yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dalam penerapannya strategi pembelajaran sangat bergantung dan tidak dapat dipisahkan dengan komponen lain yang terdapat dalam sistem. Dengan kata lain strategi pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti: tujuan, materi, peserta didik, fasilitas, waktu, dan pendidik. 4) Media pembelajaran Media pembelajaran adalah alat dan bahan yang dapat membantu dalam menyampaikan bahan pembelajaran. Selain itu menurut Wirawan et.al (2018:256) 10 media pembelajaran juga dapat digunakan sebagai upaya meningkatkan kegiatan belajar peserta didik. Jenis media pembelajaran dapat meliputi: media visual, media audio, media audio visual, media penyaji, dan media interaktif. 5) Evaluasi pembelajaran Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh informasi tentang nilai suatu objek yang bersifat menyeluruh. Dalam prosesnya evaluasi pembelajaran tidak hanya didasarkan pada hasil pengukuran saja, namun dapat pula didasarkan dari hasil pengamatan yang kemudian menghasilkan keputusan nilai tentang suatu objek yang bersifat final. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang baik, keberadaan dari komponen-komponen tersebut tidak boleh dihilangkan meskipun hanya satu komponen. Disebutkan bahwa salah satu komponen yang harus tersedia dalam pembelajaran adalah media. Sesuai dengan poin tersebut, dalam penelitian ini penggunaan aplikasi Kahoot! merupakan salah satu bentuk dari penerapan media yang dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan dan motivasi belajar peserta didik. 

Pengertian Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 20, pengertian dari pembelajaran adalah suatu proses yang melibatkan interaksi antara peserta didik, pendidik, dan sumber belajar yang berlangsung pada suatu lingkungan belajar. Peserta didik merupakan objek dari pendidikan yang mendapatkan pengajaran ilmu melalui proses pembelajaran guna mengembangkan kemampuan diri. Ilmu yang diterima oleh peserta didik diajarkan oleh seorang pendidik, yaitu tenaga profesional yang bertugas untuk melakukan perencanaan dan mengoperasikan proses pembelajaran, melakukan penilaian hasil pembelajaran, serta melakukan pembimbingan dan pelatihan kepada peserta didik. Sedangkan segala bentuk alat dan bahan yang dapat digunakan untuk memberikan ilmu kepada peserta didik maupun pendidik disebut dengan sumber belajar. Ruhimat et al. (2011:188) secara garis besar meyebutkan bahwa pembelajaran pada hakikatnya merupakan interaksi antara peserta didik dengan lingkungan pembelajarannya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dimaksud adalah perubahan perilaku peserta didik yang dapat berupa pengetahuan, sikap, sampai dengan keterampilan. 8 Rusman (2018:95) menggambarkan pembelajaran sebagai suatu sistem yang terbentuk dari beberapa komponen yang saling berhubungan satu sama lain. Adapun komponen tersebut terdiri dari tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Pendidik sebagai fasilitator mempunyai peran penting dalam mengelola komponenkomponen tersebut. Sebagai contoh, pendidik harus terampil dalam menentukan dan menyiapkan media, metode, strategi, dan pendekatan yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan bentuk interaksi antar komponen yang terjadi dalam lingkungan belajar. Secara garis besar komponen pembelajaran dapat berupa peserta didik, pendidik, tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Pembelajaran akan terjadi apabila peserta didik dapat secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar yang diatur oleh pendidik. Oleh karena itu pendidik mempunyai peran penting dalam mengelola dan merancang sebuah pembelajaran. Apabila dapat dilaksanakan dengan baik, maka tujuan dari pembelajaran akan tercapai. Salah satunya yaitu untuk merubah perilaku peserta didik kearah yang lebih baik serta mengembangkan ilmu, keterampilan, dan potensi dari peserta didik

Sistem Manajemen Pembelajaran (skripsi dan tesis)

 Sistem manajemen pembelajaran adalah istilah yang merujuk pada sebuah aplikasi LMS (Learning Management System) yang merupakan sistem yang digunakan untuk membantu administrasi dan berfungsi sebagai platform E-learning content [8]. Ada tiga fiturfitur standar pembelajaran elektronik menurut Wahono, fitur tersebut adalah sebagai berikut : a) Fitur kelengkapan Belajar-mengajar b) Fitur Diskusi dan komunikasi c) Fitur Ujian dan Penugasan

Model ARSC (The Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) (skripsi dan tesis)

Model ARCS (The Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) adalah sebuah pendekatan untuk desain instruksional menggunakan teknologi multimedia berdasarkan pada sintesis konsep motivasi, untuk motivasi mahasiswa dalam konteks pembelajaran. Kondisi pertama adalah bahwa pelajaran harus menarik dan mempertahankan perhatian peserta didik (A). Persyaratan ini didasarkan pada penelitian tentang rasa ingin tahu, gairah, dan kebosanan. Kondisi kedua untuk motivasi adalah untuk membangun relevansi (R). Persyaratan ini didasarkan pada penelitian tentang motivasi intrinsik dan kompetensi sebagai sasaran dalam teori penentuan nasib sendiri. Kondisi ketiga untuk memotivasi peserta didik adalah kepercayaan (C). Persyaratan ini didasarkan pada penelitian tentang self-efficacy dan atribusi. Kondisi keempat adalah kepuasan (S). Persyaratan ini didasarkan pada teori penguatan dan teori ekuitas yang telah umum digunakan di daerah lain seperti I/O Psikologi. Model ARCS adalah proses desain sepuluh langkah sistematis untuk mengembangkan unsur-unsur motivasi dalam pengaturan instruksional: memperoleh informasi saja, memperoleh informasi peserta didik, menganalisis peserta didik, menganalisis bahan yang ada, daftar tujuan dan penilaian, daftar taktik potensial, memilih dan merancang taktik, mengintegrasikan dengan instruksi, memilih dan mengembangkan bahan, dan mengevaluasi dan merevisi

Rabu, 25 Maret 2020

Prestasi Belajar Siswa (skripsi dan tesis)

Setiap kegiatan belajar mengajar akan menghasilkan suatu perubahan yaitu hasil belajar. Hasil belajar ini dapat terlihat dalam bentuk prestasi belajar. Prestasi belajar berkaita erat dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan hingga seberapa jauh kemampuan yang dimiliki dalam menghadapi ujian untuk menyelesaikan soal-soal dengan baik. Prestasi adalah hasil belajar yang dicapai setelah seorang siswa melakukan kegiatan belajar  (Poerwadarminto, 2007).
Menurut Djamarah (2012: 20-21), prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dalam buku yang sama Nasrun Harahap, berpendapat bahwa prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan siswa berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada siswa.
Menurut Djaali (2012: 108-109) suatu prestasi berkaitan dengan harapan. Harapan seseorang terbentuk melalui belajar dalam lingkunganya. Suatu harapan selalu mengandung standar keunggulan (standard of execellence). Standar ini memungkinkan lingkungan kultur tempat seseorang dibesarkan. Oleh karena itu, standar keunggulan merupakan kerangka acuan bagi seseorang tatkala ia belajar mengerjakan tugas, memecahkan masalah dan mempelajari keterampilan lainnya.
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan seseorang atau kelompok yang telah dikerjakan, diciptakan dan menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan bekerja
Selanjutnya untuk memahami pengertian tentang belajar berikutdikemukakan beberapa pengertian belajar diantaranya menurut Slameto (2003: 2) dalam bukunya Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya bahwa belajar ialah suatu usaha yang dilakukanseseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang barusecara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalaminteraksi dengan lingkungannya. Muhibbin Syah (2010: 136) bahwabelajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yangrelative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi denganlingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas bahwa belajar merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan rutin pada seseorang sehingga akan mengalami perubahan secara individu baik pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku yang dihasilkan dari proses latihan dan pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Winkel (2004: 162) prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Menurut Ahmadi dan Supriyono (2012: 130) prestasi belajar merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar (faktor eksternal) individu.  
Menurut Suryabrata (2006: 297), prestasi dapat pula didefinisikan sebagai berikut : nilai merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru mengenai kemajuan/prestasi belajar siswa selama masa tertentu. Jadi, prestasi adalah hasil usaha siswa selama masa tertentu melakukan kegiatan. Prestasi belajar menurut Hamalik (2004:45) adalah prestasi belajar yang berupa adanya perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu.
Berdasarkan beberapa batasan diatas, prestasi belajar dapat diartikan sebagai kecakapan nyata yang dapat diukur yang berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai interaksi aktif antara subyek belajar dengan obyek belajar selama berlangsungnya proses belajar mengajar untuk mencapai hasil belajar

Motivasi Belajar (skripsi dan tesis)

Motivasi adalah kekuatan yang ada dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu dan berperilaku tertentu. Akar permasalahannya adalah kebutuhan. Kebutuhan adalah kondisi yang dialami seseorang berkaitan dengan kelangkaan/ ketidakcukupan/ ketidaklengkapan tentang sesuatu pada situasi/saat tertentu. Tujuan adalah kondisi ideal yang diinginkan yang akan memberikan manfaat untuk memuaskan kebutuhan. Kebutuhan dan tujuan merupakan dua hal yang penting yang bisa memotivasi seseorang. Individu/orang tidak akan memiliki kebutuhan ketika tidak ada tujuan yang ingin dicapai dan tujuan tidak akan memotivasi orang ketika orang tidak melihat ada kebutuhan untuk mencapai hal tersebut. (Uno, 2007:1)
Motivasi belajar menurut Wingkel adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau dihayati (Wingkel, 2004:27). Belajar menurut Witherington (2003:10) adalah suatu perubahan pada kepribadian, yaitu pada adanya pola sambutan baru yang dapat berupa suatu pengertian.
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan  tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.
Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Tetapi harus diingat, kedua faktor tersebut disebabkan oleh rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk mel;akukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat.
Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa – siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu  mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (2) adanya dorongan dan kebutuhan belajar; (3) adanya harapan dan cita-cita masa depan; (4) adanya penghargaan dalam belajar; (5) adanya kegiatan yang menarik dalambelajar; (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik (Uno, 2007:23). Dalam kaitannya dengan pengertian belajar maka motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar mengajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar untuk mencapai suatu tujuan belajar.
Sardirman (2016: 86) mengatakan bahwa motivasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dalam pribadi sesorang yang disebut motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik yang berasal dari luar diri seseorang.
1)      Motivasi Intrinsik
Motivasi interinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik bila tujuannya inheren dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan peserta didik untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung didalam mata pelajaran itu. Peserta didik termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena keinginan lain seperti ingin mendapat pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah, dan sebagainya.
2)      Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik apabila peserta didik menempatkan tujuan belajarnya diluar-luar faktor situasi belajar. Peserta didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak diluar hal yang dipelajarinya, misalnya untuk mencapai angka tertinggi, diploma, gelar kehormatan, dan sebagainya.
Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi sesorang dipengaruhi 2 hal, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri siswa (internal) dan luar siswa (eksternal). Motivasi tersebut sangat berpengaruh terhadap sesorang untuk melakukan sesuatu.
Sardiman (2016: 83) mengatakan bahwa motivasi yang ada pada diri setiap orang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Tekun menghadapi tugas
b.      Ulet menghadapi kesulitan
c.       Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah
d.      Tidak mudah melepas hal yang diyakini itu
e.       Cepat bosan dengan tugas yang rutin
f.       Dapat mempertahankan pendapatnya
g.      Lebih senang bekerja mandiri
h.      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal
Dalam penelitian ini ciri-ciri motivasi yang dijadikan sebagai indikator dalam penelitian untuk mengukur motivasi belajar adalah:
a.       Tekun menghadapi tugas
b.      Ulet menghadapi kesulitan
c.       Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah
d.      Cepat bosan dengan tugas yang rutin
e.       Lebih senang bekerja mandiri
Menurut Hamalik (2008), motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang tumbuh dalam diri seseorang untuk melaksanakan sesuatu guna mencapai tujuan yang diinginkan. Artinya motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan). Motivasi ada tiga unsur yang berkaitan, yaitu sebagai berikut.
a.       Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi.
Perubahan-perubahan dalam motivasi timbul dari perubahan- perubahan tertentu di dalam sistem neuropisiologis dalam organisme manusia, misalnya karena terjadi perubahan dalam sistem pencernaan maka timbul motif lapar. Tapi ada juga perubahan energi yang tidak diketahui.
b.      Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal).
Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang bermotif. Perubahan ini mungkin bisa dan mungkin juga tidak, kita hanya dapat melihatnya dalam perbuatan. Seorang terlibat dalam suatu diskusi. Karena dia merasa tertarik pada masalah yang akan dibicarakan maka suaranya akan timbul dan kata-katanya dengan lancar dan cepat keluar.


c.       Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Pribadi yang bermotivasi mengadakan respons-respons yang tertuju ke arah suatu tujuan. Respons-respons itu berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya. Setiap respons merupakan suatu langkah ke arah mencapai tujuan, misalnya si A ingin mendapat hadiah maka ia akan belajar, bertanya, membaca buku, dan mengikuti tes. Oleh sebab itulah mengapa setiap manusia membutuhkan motivasi khususnya dalam kehidupan
Djaali (2012: 109) mengemukakkan siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) menyukai situasi atau tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi atas hasil-hasilnya; 2) memilih tujuan yang realitas tetapi menantang dari tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar resikonya; 3) mencari situasi dimana ia memperoleh umpan balik dengan segera; 4) senang bekerja sendiri dan bersaing untuk mengingguli orang lain; 5) tidak tergugah untuk sekedar mendapatkan imbalan melainkan mencari lambang prestasi, suatu ukuran keberhasialan. Siswa yang mempunyai karakteristik seperti diatas, maka sudah mempunyai potensi untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Ciri-ciri motivasi di atas dapat mengetahui atau dijadikan indikator siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi
Yusuf (2009: 23), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu:
a.       Faktor Internal
Faktor internal meliputi:
 1)      Faktor Fisik
Faktor fisik meliputi nutrisi (gisi), kesehatan, dan fungsi-fungsi fisik (terutama panca indera).
2)      Faktor Psikologis
Faktor psikologis berhubungan dengan aspek-aspek yang mendorong atau menghambat aktivitas belajar pada siswa.
b.      Faktor Eksternal (yang berasal dari lingkungan)
1)      Faktor Non-Sosial
Faktor non-sosial meliputi keadaan udara (cuaca panas ataudingin), waktu (pagi, siang, malam), tempat (sepi, bising, ataukualitas sekolah tempat belajar), sarana dan prasarana ataufasilitas belajar.
2)      Faktor Sosial
Faktor sosial adalah faktor manusia (guru, konselor, dan orangtua), baik yang hadir secara langsung maupun tidak langsung (foto atau suara). Proses belajar akan berlangsung dengan baik,apabila guru mengajar dengan cara menyenangkan, seprti bersikap ramah, memberi perhatian pada semua siswa, serta selalu membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Pada saat di rumah siswa tetap mendapat perhatian orang tua, baikmaterial dengan menyediakan sarana dan prasarana belajar guna membantu dan mempermudah siswa belajar di rumah

Fasilitas Bengkel (skripsi dan tesis)

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (Mulyono dkk,2007), fasilitas adalah segala hal yang dapat memudahkan perkara, sehingga dalam penelitian ini kelengkapan fasilitas praktik diartikan sebagai keadaan fasilitas praktik yang sudah lengkap.  Kegiatan pengajaran memerlukan fasilitas yang lengkap serta relevan dengan tujuan dapat membantu pencapaian belajar seoptimal mungkin. Mengingat fasilitas adalah sesuatu yang penting, maka pengadaannya perlu direncanakan dengan baik.
Menurut Barnawi dan Arifin (2012), fasilitas atau sarana pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu alat pelajaran, alat peraga, dan media pengajaran.
a.       Alat pelajaran adalah alat yang dapat digunakan secara langsung dalam proses pembelajaran, misalnya buku, alat peraga, alat tulis, dan alat praktik.
b.      Alat peraga merupakan alat bantu pendidikan yang dapat berupa perbuatan-perbuatan ata benda-benda yang dapat menkonkretkan materi pembelajaran. Materi pembelajaran yang tadinya abstrak dapat dikonkretkan melalui alat peraga sehingga siswa lebih mudah dalam menerima pelajaran.
c.       Media pengajaran adalah sarana pendidikan yang berfungsi sebagai perantara dalam proses pembelajaran sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan. Media pengajaran ada tiga jenis, yaitu visual, audio dan audiovisual.
Tim Dosen AP UNY (2011: 76) fasilitas merupakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam melakukanatau memperlancar suatu kegiatan. Sementara menurut Bafadal (2014: 2) fasilitas atau sering disebut perlengkapan bengkel adalah proses kerja sama penggunaan semua perlengkapan pendidikan secara efektif dan efisien. Fasilitas dibagi menjadi dua kelompok yaitu sarana pendidikan dan prasarana pendidikan.
Pengertian di atas dapat dirangkum bahwa fasilitas adalah wahana yang mempermudah sesuatu dalam penggunaan sarana dan prasarana pendidikan secara efisien dan efektif. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 mencatumkan Standar Sarana Sekolah Menengah Kejuruan/ Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK) Ruang Bengkel Teknik Pemesinan sebagai berikut:
a.       Ruang praktik Program Keahlian Teknik Pemesinan berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran: pekerjaan logam dasar, pengukuran dan pengujian logam, membubut lurus, bertingkat, tirus, ulir luar dan dalam, memfrais lurus, bertingkat, roda gigi, menggerinda-alat, dan pengepasan/pemasangan komponen.
b.      Luas minimum ruang praktik Program Keahlian Teknik Pemesinan adalah 288 m² untuk menampung 32 peserta didik yang meliputi: area kerja bangku 64 m², ruang pengukuran dan pengujian logam 24 m², area kerja mesin bubut 64 m², area kerja mesin frais 32 m², area kerja gerinda 32 m², ruang kerja pengepasan 24 m², ruang penyimpanan dan instruktur 48 m².
c.       Ruang praktik Program Keahlian Teknik Pemesinan dilengkapi prasarana sebagaimana tercantum pada Tabel berikut:
Tabel 2.2. Jenis, Rasio, dan Deskripsi Standar Prasarana Ruang Praktik Program Keahlian Teknik Pemesinan

No.
Jenis
Rasio
Deskripsi
1
Area kerja bangku
8 m²/peserta didik
Kapasitas untuk 8 peserta didik. Luas minimum adalah 64 m². Lebar minimum adalah 8 m.
2
Ruang pengukuran dan pengujian logam
6 m²/peserta didik
Kapasitas untuk 4 peserta didik. Luas minimum adalah 24 m². Lebar minimum adalah 4 m.
3
Area kerja mesin bubut
8 m²/peserta didik
Kapasitas untuk 8 peserta didik. Luas minimum adalah 64 m². Lebar minimum adalah 8 m.
4
Area kerja mesin frais
8 m²/peserta didik
Kapasitas untuk 4 peserta didik. Luas minimum adalah 32 m². Lebar minimum adalah 4 m.
5
Area kerja mesin gerinda
8 m²/peserta didik
Kapasitas untuk 4 peserta didik. Luas minimum adalah 32 m². Lebar minimum adalah 4 m.
6
Ruang kerja pengepasan
6 m²/peserta didik
Kapasitas untuk 4 peserta didik. Luas minimum adalah 24 m². Lebar minimum adalah 4 m.
7
Ruang penyimpanan dan instruktur
4 m²/instruktur
Luas minimum adalah 48 m². Lebar minimum adalah 6 m.

Menurut Soelipan (1995: 2-3) peralatan yang ada di bengkel mesin produksi SMK dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.       Alat tangan (hand tool)
Yaitu alat yang penggunaannya hanya menggunakan tangan sebagai sumber tenaga maupun pengarah. Contoh: kikir, sekrap tangan, dan gergaji.
b.      Alat bertenaga (power tool)
Yaitu alat yang penggunaannya hanya menggunakan tenaga selain manusia, tetapi tetap dipegang dan diarahkan oleh tangan manusia. Contoh: mesin bor tangan, mesin gerinda tangan.
c.       Alat ukur dan alat uji (measuring tool and testing tool)
Alat ukur yaitu alat yang digunakan untuk pmengukur dimensi maupun geometric benda. Contoh: mistar geser, spirit level dll. Sedangkan alat uji yaitu alat yang digunakan untuk menguji sifat, kekuatan maupun kondisi bahan. Contoh: mesin uji kekerasan, mesin uji ultrasonic.
d.      Mesin-mesin ringan (light machinery)
Yaitu mesin-mesin yang berdasarkan kerjanya sederhana. Contoh: mesin gerinda tipe meja.
e.       Mesin-mesin berat (heavy machinery)
Yaitu mesin-mesin yang berdasarkan kerjanya bersifat komplek. Contoh: mesin bubut dan mesin frais.


f.        Alat bantu mengajar (teaching aid)
Yaitu alat yang digunakan sebagai pemerjelas keterangan guru. Contoh: overhead projector.
g.      Perlengkapan umum
Yaitu perlengkapan yang menunjang praktik atau penunjang kelengkapan bengkel.
Fasilitas bengkel dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu prasarana bengkel dan sarana bengkel. Berikut penjabaran dari prasaran dan sarana bengkel praktik (Laksono, 2014):
a.       Prasarana bengkel
Prasarana bengkel yang baik terdiri dari:
1)      Ruang bengkel
2)      Ukuran bengkel
3)      Tata letak (lay out) bengkel dan peralatan praktik
4)      Penerangan ruang
5)      Ventilasi ruang bengkel
6)      Perabot bengkel
b.      Sarana Bengkel
Sarana bengkel yang baik dapat dilihat dari tersedianya peralatan praktik dan bahan praktik yang dibutuhkan oleh siswa.