Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Model Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain (skripsi dan tesis)


Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka.
Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya.

Metode Pembelajaran Dengan Metode Bimbingan (Guidance)


Teknik atau metode bimbingan adalah metode yang paling umum dalam  latihan, di mana siswa dituntun dengan berbagai cara melalui pemolaan gerak. Dalam penggunaannya metode ini mempunyai beberapa  tujuan, dan yang paling utama adalah untuk mengurangi kesalahankesalahan dan memastikan bahwa pola yang tepat sudah dilakukan.
Penggunaan metode bimbingan terutama arnat penting dalam cabangcabang olahraga yang berbahaya seperti senam di mana bantuan yang diberikan akan memperkecil timbulnya bahaya, atau dalam renang di mana siswa pemula yang masih takut dapat ditolong dengan alat-alat yang dipergunakan. Demikian juga untuk olahraga-olahraga yang menggunakan peralatan yang mahal dan juga berisiko tinggi, seperti belajar mengendarai mobil atau menerbangkan pesawat.
1)      Jenis Belajar Terbimbing
Metode bimbingan terdiri dari berbagai macam jenis tergantung dari setting pembelajarannya. Beberapa bentuk bimbingan sedikit longgar, sehingga hanya memberikan kepada siswa sedikit bantuan untuk tampil. Contohnya adalah pada pembelajaran sepak bola atau menari yang pelatihnya hanya memberikan tanda-tanda verbal untuk menolong siswa-nya mengerti tentang tugas yang dilakukan. Bentuk lain dari bimbingan ada yang lebih ketat dan bersifat langsung kontak dengan siswanya, baik pelatih  atau guru yang melakukannya atau hanya berupa peralatan.
Setiap metode tentunya memberi siswa beberapa jenis bantuan sementara selama proses latihan berlangsung. Harapannya adalah bahwa tanpa bantuan tersebut, kelak si siswa akan mampu melakukannya lagi dengan lebih baik lagi. Beberapa penelitian mengenai metode ini telah memberikan gambaran yang jelas mengenai kapan, pada kondisi apa, dan  pada jenis keterampilan yang bagaimana metode ini paling baik di gunakan.
2)      Efektivitas Metode Latihan Terbimbing
Eksperimen klasik yang memberikan banyak informasi dan wawasan ke dalam proses-proses yang terlibat dalam latihan terbimbing telah dilaksanakan tiga dekade lalu oleh Annett (Schmidt, 1991). Dia mengharuskan  subyek penelitiannya untuk belajar menghasilkan sejumlah tertentu penekanan pada pengungkit tangan. Selama pergerakan satu grup subyek menerima tuntunan visual tambahan pada monitor yang menampilkan jumlah tekanan yang baru saja dilakukan dihubungkan dengan sasaran tekanan, sedangkan grup yang lain tidak. Selama latihan bimbingan itu memudahkan penampilan. Akan tetapi, pada test retensi dengan bimbingan yang dilepaskan, grup yang dibimbing ternyata tampil buruk, dengan beberapa subyek menekan begitu kuatnya pada alatnya sampai rusak. Dengan begitu siswa yang telah belajar tugas gerak yang dimaksud dengan alat itu tidak dapat tampil tanpanya.
Hal ini menampilkan prinsip penting dari latihan terbimbing. Bimbingan efektif untuk menampilkan sesuatu ketika bimbingan itu memang ada  terus selama latihan. Jika kehadirannya dihilangkan, maka penampilan yang bagus karena kehadirannya praktis hilang juga ketika bimbingan itu  dihilangkan. Dari kenyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa metode latihan dengan menggunakan bimbingan kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun demikian bukan berarti bahwa latihan terbimbing tidak bisa lagi digunakan dalam proses latihan gerak. Keuntungannya tetap ada jika metode bimbingan ini diterapkan pada dua kondisi di bawah ini:
a)          Latihan Dini.  Dalam latihan yang sangat dini, ketika siswa sedang mengembangkan gagasan tugas yang paling primitif, prosedur bimbingan dapat menjadi berguna. Prosedur itu akan dapat menolong menampilkan gambaran dasar dari suatu keterampilan, memberikan petunjuk kasar tentang apa yang harus dilakukan, dan memulai siswa menunjukkan cara yang tepat untuk membuat upaya pertamanya.  Untuk menghindarinya, maka prosedur ini harus segera diubah secepat mungkin, yaitu pada titik di mana si siswa dapat melakukan tugas itu secara independen.
b)         Tugas Berbahaya.  Kekecualian lain untuk menggunakan prosedur bimbingan adalah pada situasi yang berbahaya. Bimbingan fisik, seperti sabuk penopang yang sering digunakan oleh pesenam dalam mempelajari rakan baru, dapat mencegah terjadinya cedera. Jika alat yang diperlukan tidak tersedia, maka guru atau pelatih harus memberikan bimbingan fisik pada saat-saat kritis. Ketika siswa tadi menambah kemampuannya, maka tingkat bantuannya dapat secara bertahap dikurangi, dengan ketentuan ia masih siap jika sewaktu-waktu bantuannya diperlukan. Dalam hal ini, prosedur demikian mempunyai nilai manfaat lain, yaitu  di antaranya untuk mengurangi rasa takut atau keraguan dari si siswa. Kepercayaan siswa bahwa dirinya tidak akan cedera dapat menambah keefektifan dalam konsentrasi pada pola gerakan yang sedang dipelajari.
b.      Latihan Padat dan Terdistribusi
Dikaitkan dengan penggunaan waktu dalam proses latihan, maka metode latihan yang lain dapat ditentukan, yaitu latihan padat (massed practice) dan latihan terdistribusi (distributed practice). Latihan padat menunjukkan sedikitnya waktu istirahat di antara ulangan. Misalnya, jika tugas latihan mempunyai lama waktu pelaksanaan 30 detik, latihan padat akan menjadwalkan istirahat pada setiap ulangannya hanya sedikit sekali (misalnya 5 detik) atau tidak istirahat sama sekali. Sedangkan di pihak lain, penggunaan metode latihan terdistribusi akan memerlukan istirahat di antara ulangannya minimal selama waktu pelaksanaannya, misalnya 30  detik atau lebih lama.
Tidak ada garis pembatas yang jelas antara latihan padat dan distribusi ini. Patokannya bahwa latihan padat biasanya mengurangi waktu istirahat di antara latihan atau ulangan, sedangkan latihan ter-distribusi mempunyai istirahat lebih panjang.
Dinyatakan bahwa perbedaan nyata dari kedua latihan tersebut adalah keterlibatan rasa capai atau lelah pada salah satunya. Akibatnya, kelelahan itu menurunkan penampilan pada ulangan berikut dan mungkin malah mengganggu proses belajar yang biasanya terjadi pada tahap ini.
c.       Keseluruhan Vs Bagian
Beberapa keterampilan terdiri dari beberapa gerakan yang sangat kompleks. Dari kenyataan tersebut cukup jelas bahwa alangkah sulitnya bagi guru untuk menampilkan semua aspek keterampilan tersebut sekaligus kepada siswa sebab siswa pun akan merasa dijejali terlalu banyak informasi dan tugas dan kemungkinannya  tidak akan mampu mengingatnya sama sekali. Terhadap tugas yang demikian, tentunya guru atau pelatih harus mampu menyesuaikan prosedur dan pendekatan yang tepat.
Pendekatan yang sering digunakan manakala mepghadapi gejala tersebut, biasanya guru akan membagi tugas tersebut di atas ke dalam unitunit yang bermakna yang dapat dipisah-pisahkan  (metode bagian).  Tujuan dari prosedur demikian adalah untuk menyatukan unti-unit latihan ini ke dalam keterampilan keseluruhan pada penampilan berikutnya. Tentunya hal tersebut tidak semudah memperkirakannya sebab terdapat banyak hal yang membuat menggabungkan kembali unit-unit itu menjadi keterampilan  utuh cukup sulit dilakukan. Oleh karena itu, pertanyaan yang harus diajukan adalah bagaimana menciptakan sub-sub unit dari keterampilan tersebut dan bagaimana subsub tersebut harus dilatih untuk transfer yang maksimum terhadap keterampilan yang utuh.
Adalah hal yang mudah membagi-bagi suatu keterampilan ke dalam bagian-bagian. Kita bisa memisahkan teknik lompat jauh menjadi  sub-sub unit seperti awalan, tolakan, melayang di udara, dan mendarat. Bahkan setiap sub unit tadi dapat juga dibagi-bagi lagi. Tetapi pertanyaan yang nyata adalah apakah bagian-bagian tersebut, yang dilatih secara terpisah-pisah, akan efektif untuk mempelajari keterampilan utuh? Berapa banyak waktu, jika ada, yang harus dihabiskan pada latihan bagian, dan akankah waktu ini menjadi lebih efektif bila digunakan untuk melatih tugas yang utuh?
Jawaban untuk pertanyaan tersebut cukup jelas pada penglihatan awal. Sebab bagian yang dilatih secara terpisah itu nampak sama seperti bagian dalam tugas yang utuh, maka transfer dari tugas per bagian ke tugas keseluruhan akan nampak mudah. Pandangan ini bisa jadi benar dalam kasus tertentu, tetapi terdapat situasi-situasi di mana transfer itu jauh dari sempurna. Perbedaan-perbedaan dalam efektivitas latihan bagian ini tergantung pada beberapa hal.
1)      Keterampilan Serial.
Dalam banyak keterampilan serial, masalah yang dihadapi siswa adalah mengorganisir satu set kegiatan ke dalam urutan yang tepat. Melatih subtugas khusus biasanya efektif dalam mentransfer ke dalam rangkaian keseluruhan. Transfer bagian paling baik berlaku pada tugas-tugas serial yang panjang, di mana aksi (kesalahan) dari satu bagian tidak mempengaruhi aksi dari bagian berikutnya. Dengan demikian, jika bagian-bagian dari keterampilan itu tidak terlalu erat kaitannya satu sama lain, maka tidak ada masalah jika guru menggunakan metode ini. Siswa dalam hal ini akan memungkinkan untuk berkonsentrasi pada bagian yang paling susah dan mengabaikan yang paling mudah, sehingga waktu latihan lebih efisien.
Masalahnya, banyak juga suatu keterampilan dalam olahraga terdiri dari bagian-bagian yang kaitan antara satu bagian dengan bagian yang lain demikian eratnya;  sehingga kegagalan di satu bagian akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang berikutnya. Jika demikian halnya, maka metode bagian tidak dapat digunakan pada keterampilan semacam ini.
2)      Keterampilan Diskrit.
Setiap keterampilan biasanya mengandung nuansa serial, yang mana bagian-bagian tertentu darinya berangkai dengan bagian-bagian lain. Seperti gerakan memukul dalam softball, yang berisi melangkah, memutar pinggul, dan mengayun lengan. Pada beberapa titik, bagian-bagian individual ini, ketika dilihat  secara terpisah, hilang maknanya sebagai bagian itu. Jika keterampilan demikian yang hendak dipelajari, maka metode keseluruhan akan cukup bermakna.
Beberapa eksperimen mengenai metode ini mengatakan bahwa penggunaan metode bagian untuk keterampilan diskrit secara terpisah tidak menghasilkan transfer yang baik, terutama jika keterampilan tersebut bersifat cepat dan balistik. Kenyataan ini menunjukkan bahwa gerakan yang  cepat biasanya berinteraksi secara kuat antara bagian-bagiannya.
3)      Prinsip Kekhususan.
Menurut konsep motor program, aksi yang cepat dikontrol secara openloop, dengan keputusan tentang struktur aksi tersebut telah diprogram terlebih  dahulu. Menampilkan hanya satu bagian dari aksi semacam ini, khususnya jika bagian itu mempunyai dinamika yang berbeda ketika  ditampilkan secara terpisah, memerlukan penggunaan program yang  berbeda, yaitu yang bertanggung jawab hanya untuk bagian itu. Jadi melatih program bagian ini hanya menyumbang pada peningkatan penampilan pada bagian itu secara terpisah, tetapi tidak akan menyumbang apa-apa terhadap penghasilan gerakan keseluruhan, yang didasarkan pada motor program yang berbeda.
4)      Bagian Progresif.
Beberapa latihan bagian dapat sangat menolong, terutama jika elemenelemen aksi itu banyak jumlahnya  dan memberikan kesulitan untuk siswa dalam merangkaikannya secara tepat. Metode latihan bagian yang lama bisa bermanfaat dalam mempelajari aksi yang demikian. Akan tetapi untuk meminimalkan masalah-masalah belajar yang tidak mudah ditransfer dari bagian ke keseluruhan, banyak guru menggunakan  latihan bagian progresif. Dalam metode ini bagian-bagian dari suatu keterampilan yang kompleks diberikan secara terpisah, tetapi bagian-bagian tadi diintegrasikan ke dalam bagian-bagian yang lebih besar, dan akhirnya menjadi keseluruhan, ketika keseluruhan bagian-bagian itu dikuasai.
Pada prinsipnya, metode progresif ini mengikuti jalur demikian. Pada tahap satu, latihan hanya melibatkan satu bagian dari suatu keterampilan. Pada tahap dua, bagian pertama tadi digabung dengan bagian kedua, sehingga menampilkan latihan pola gerak yang berbeda. Pada tahap tiga, bagian satu dan bagian dua tadi digabung lagi dengan bagian tiga, yang menunjukkan pola gerak yang semakin meningkat kompleksitasnya. Demikian seterusnya hingga seluruh bagian yang tersisa akhirnya  tergabung secara keseluruhan. Pada tahapan terakhir, tentunya seluruh bagian tadi sudah tergabungkan, sehingga latihan yang dimaksud sudah  menunjukkan keutuhannya.

Pembelajaran Servis Bawah Bola Voli dengan Metode Keseluruhan (skripsi dan tesis)


Upaya membelajarakan macam-macam teknik dasar permainan bola voli dapat diterapkan dengan metode keseluruhan.
a.       Metode Keseluruhan
Metode keseluruhan merupakan bentuk latihan suatu keterampilan yang pelaksanaannya dilakukan secara utuh dari keterampilan yang dipelajari. Berkaitan dengan metode keseluruhan Sugiyanto (1996: 67) menyatakan, “Metode keseluruhan adalah cara pendekatan dimana sejak awal pelajar diarahkan untuk mempraktekkan keseluruhan rangkaian gerakan yang dipelajari”. Menurut Andi Suhendro (1999: 3.56) bahwa, “Metode keseluruhan adalah metode yang menitik beratkan kepada keutuhan dari bahan pelajaran yang ingin disampaikan”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan, metode keseluruhan merupakan cara mengajar yang menitik beratkan pada keutuhan dari keterampilan yang dipelajari. Dalam metode keseluruhan, siswa dituntut melakukan gerakan keterampilan yang dipelajari secara keseluruhan tanpa memilah-milah bagianbagian dari keterampilan yang dipelajari. Metode keseluruhan pada umumnya diterapkan untuk mempelajari suatu keterampilan yang sederhana. Seperti dikemukakan Harsono (1988: 142) bahwa, “Apabila keterampilan olahraga yang diajarkan itu sifatnya sederhana dan mudah dimengerti maka keterampilan tersebut sebaiknya diajarkan secara keseluruhan, dan setiap teknik bagian hanya dilatih secara khusus apabila siswa atau subyek selalu membuat kesalahan pada teknik bagian tersebut”. Sedangkan Rusli Lutan (1988: 411) menyatakan, “Metode keseluruhan memberikan keuntungan maksimal jika yang dipelajari ialah gerakan yang sederhana”.
Metode keseluruhan pada dasarnya sangat cocokatau relevan untuk mempelajari keterampilan yang sederhana. Namun demikian, apabila pada bagian-bagian tertentu terdapat kompleksitas atau gerakan yang sulit, maka dapat diajarkan secara khusus apabila siswa seringkali melakukan kesalahan.
b.      Pelaksanaan Pembelajaran Servis Bawah Bola Voli dengan Metode Keseluruhan
Pelaksanaan pembelajaran servis bawah bola voli secara keseluruhan yaitu, pertama-tama dijelaskan teknik servis bawah baik dan benar, meliputi sikap permulaan, gerakan pelaksanaan dan gerak lanjut. Bagian-bagian gerakan teknik servis bawah dijelaskan secara terperinci dan didemonstrasikan. Pelaksanaan dari masing-masing teknik dasar servis bawah yaitu:
1)      Sikap permulaan yaitu: berdiri di daerah servis menghadap ke lapangan, bagi yang tidak kidal kaki kiri di depan dan bagi yang kidal sebaliknya. Bola dipegang pada tangan kiri, tangan kanan boleh menggenggam atau dengan telapak tangan terbuka, lutut agak ditekuk sedikit dan berat badan berada di tengah.
2)      Gerakan pelaksanaan yaitu: bola dilambungkan di depan pundak kanan, setinggi 10 sampai 20 cm dan pada saat yang bersamaan tangan kanan ditarik ke belakang, kemudian diayunkan ke arah depan atas dan mengenai bagian belakang bawah bola.
3)      Gerak lanjut yaitu: setelah memukul bola diikuti dengan memindahkan berat badan ke depan, dengan melangkahkan kaki kanan ke depan dan segera masuk ke lapangan untuk mengambil posisi dengan sikap siap normal, siap untuk menerima pengembalian atau serangan dari pihak lawan.
Dari penjelasan teknik servis bawah tersebut, apabila siswa telah jelas dan mengerti secara seluruhan, selanjutnya siswa mempraktekkan sesuai dengan contoh dari daerah servis. Dari pelaksanaan pembelajaran servis bawah bola voli tentunya akan terjadi kesalahan. Jika terjadi kesalahan, maka guru berkewajiban membetulkan kesalahan tersebut. Kesalahan yang sering dilakukan, harus diberikan penekanan secara khusus agar siswa betul-betul memahami dan tidak mengulang kesalahan tersebut. Setelah kesalahan tersebut dibenarkan, selanjutnya siswa melakukan gerakan servis bawah secara keseluruhan dengan tidak mengulangi kesalahan lagi.
c.       Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Servis Bawah Bola Voli dengan Metode Keseluruhan
Metode keseluruhan merupakan cara latihan yang mengutamakan keutuhan dari keterampilan yang dipelajari. Siswa memperagakan gerakan servis bawah bola voli secara utuh dan dilakukan secara berulang-ulang. Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran servis bawah bola voli dengan metode keseluruhan dapat diidentifikasi kelebihan dan kelemahannya. Kelebihan pembelajaran servis bawah bola voli dengan metode keseluruhan antara lain:
1)       Merangsang siswa untuk segera memiliki kemampuan servis bawah dengan pantulan yang kuat.
2)       Membiasakan siswa untuk melakukan servis dengan jarak yang sesungguhnya, karena sejak awal telah dirangsang untuk melakukan servis dengan jarak yang seseuai dengan peraturan. Hal ini akan menjadikan kemampuan siswa untuk berorientasi terhadap lapangan menjadi lebih baik.
3)       Membiasakan siswa untuk melakukan servis dengan kuat, sebab sejak awal telah dirangsang untuk melakukan servis dengan jarak yang relatif jauh, sehingga tidak akan mengalami kesulitan saat bermain bola voli.
4)       Bagi siswa yang sudah memiliki dasar penguasaan teknik servis bawah, pembelajaran ini sangat cocok, karena siswa tersebut tinggal melatih ketepatan mengarahkan bola.
Sedangkan kelemahan pembelajaran servis bawah bola voli dengan metode keseluruhan antara lain:
1)        Bagi siswa pemula khususnya, dalam melakukan pembelajaran ini pada awal pembelajaran tingkat kegagalannya akan sangat besar.
2)        Karena servis ini memerlukan tenaga yang cukup besar, maka dalam pembelajaran konsentrasinya hanya tertuju pada penggunaan tenaga, sedangkan penggunaan teknik servis yang baik dan benar sering terabaikan, sehingga penguasaan terhadap teknik servis bawah yang benar sulit tercapai

Servis Bola Voli (skripsi dan tesis)

a.    Fungsi Servis dalam Permainan Bola Voli
Teknik dasar servis dalam permainan bola voli terus berkembang. Pada awalnya servis merupakan penyajian bola pertama sebagai tanda dimulainya permainan. Seiring dengan perkembangan permainan bola voli dan penerapan taktik dan strategi permainan bola voli, pukulan servis memiliki fungsi ganda yaitu sebagai tanda dimulainya permainan dan sebagai serangan pertama bagi regu yang melakukan servis. Novia Lestari (2007: 176) menyatakan”Servis adalah kontak dengan bola yang memulai permainan untuk memulai setiap rally”. Menurut Nuril Ahmadi (2007: 20) bahwa, “Servis adalah pukulan bola yang dilakukan dari belakang garis akhir lapangan permainan melampaui net ke daerah lawan”. Sedangkan Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 61) menyatakan, “Servis adalah awal terjadinya suatu permainan bola voli. Akan tetapi dalam perkembangannya servis menjadi salah satu serangan pertama yang sangat penting”.
Berdasarkan tiga pendapat tersebut menunjukkan bahwa, servis dalam permainan bola voli merupakan tanda dimulainya permainan dan berfungsi sebagai serangan pertama untuk mendapatkan point bagi regu yang mendapat kesempatan servis. Dengan sistem penilaian rellypoint, maka servis mempunyai pengaruh besar terhadap jalannya seluruh permainan. Seperti Deiter Beutelstahl (2003: 9) bahwa, “Servis yang baik mempengaruhi seluruh jalannya pertandingan”. Hal ini artinya, angka atau point dapat dihasilkan melalui servis yang baik dan bahkan dapat menentukan menang atau kalahnya suatu tim. Tetapi kegagalan servis juga menguntungkan pihak lawan, yaitu bola berpindah dan lawan mendapatkan angka. Oleh karena itu, dalam melakukan servis hendaknya lebih berhati-hati agar bola dapat masuk ke daerah permainan lawan dan lawan sulit untuk menerimanya.
Barbarra L. Viera dan Bonnie Jill Ferguson (1996: 27) menyatakan, “Dalam suatu pertandingan sangat penting bagi anda untuk melakukan servis dengan konsisten yaitu paling tidak 90% dari servis anda dapat melewati net ke daerah lawan”. Oleh karena itu, dalam melakukan servis harus dibuat sesulit mungkin agar lawan sulit mengembalikan atau bahkan langsung mati. Menurut Soedarwo dkk. (2000: 38) cara mempersulit bola servis pada dasarnya berkaitan dengan, “(1) kecepatan, kurve dan belak-belok jalannya bola dan, (2) penempatan bola diarahkan pada titik-titik kelemahan lawan”.
Kunci keberhasilan pukulan servis yaitu bola dapat menyeberang melewati net, laju bola sulit diantisipasi lawan dan diarahkan pada titik kelamahan lawan. Kemampuan seorang pemain melakukan pukulan servis yang sulit atau mengarahkan pada titik kelemahan lawan, maka akan menyulitkan lawan untuk menerimanya atau bahkan lawan langsung mati.
b.    Servis Bawah
Berdasarkan cara pelaksanaannya, servis bola voli dibedakan menjadi dua yaitu servis tangan bawah (underhand service) dan servis atas (overhead service). Servis bawah merupakan bentuk servis yang sederhana dan tujuan servis bawah biasanya hanya sekedar menyeberangkan bola ke daerah permainan lawan. Seperti dikemukakan Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 61) bahwa, “Servis dari bawah merupakan bentuk servis yang paling mudah untuk dilakukan. Tujuan servis bawah adalah melambungkan bola menuju lapangan lawan melintasi jaring”.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, servis bawah kurang memiliki efektivitas untuk melakukan serangan, jika dibandingkan dengan servis atas. Hal ini karena, servis bawah tidak mungkin dapat mempercepat laju bola, sehingga lawan mudah untuk menerimanya. Seperti dikemukakan Agus Mukholid (2004: 35) bahwa, “kelemahan servis tangan bawah adalah mudah diterima dan lintasannya melambung tinggi sehingga mudah diantisipasi lawan”.
Berdasarkan macamnya servis bawah dibedakan menjadi beberapa macam. Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 62) mengelompokkan jenis servis bawah yaitu, “Servis pangkal lengan, servis arah luar, servis arah dalam, servis menyamping, servis bola melayang dan servis tinju”. Berdasarkan macam-macam jenis servis bawah tersebut, maka membelajarkan servis bawah bagi siswa pemula adalah langkah yang harus dilakukan untuk menuju pada permainan yang menuntut keterampilan servis yang baik agar nantinya siswa mampu melakukan servis sebagai serangan. Oleh karena itu, dalam melakukan servis hendaknya berhati-hati. Hal ini karena sistem penilaian permainan bola voli yaitu relly point, maka kegagalan servis merupakan keuntungan bagi pihak lawan. Oleh karena itu, bagi tim yang mendapat kesempatan servis harus mampu dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Hal terpenting dan harus diperhatikan dalam melakukan servis bola voli yaitu harus dilakukan seefektif dan sesulit mungkin agar lawan tidak dapat menerimanya untuk selanjutnya menyusun serangan. Seperti dikemukakan Dieter Beutelstahl (2003: 70) bahwa servis dapat bertujuan untuk “(1) langsung meraih angka kemenangan, (2) menghalang-halangi formasi penyerangan pihak lawan”.
Ketepatan dan keakuratan penempatan bola dalam melakukan servis merupakan hal penting untuk memperoleh hasil servis yang optimal. Apabila pemain mampu mengarahkan servisnya ke tempat yang tidak dijaga atau pemain yang paling lemah, maka servis akan berhasil dengan baik. Hal ini karena, lawan tidak mempunyai kesempatan menyusun serangan karena servis yang tidak sempurna atau bahkan lawan langsung mati.
c.    Teknik Servis Bawah Bola Voli
Keberhasilan servis bawah tidak terlepas dari penguasaan teknik yang baik dan benar. Teknik yang benar akan menghasilkan pukulan servis yang baik dan efektif. Sedangkan kesalahan teknik servis adalah sebuah kegagalan, sehingga akan menguntungkan pihak lawan. Berkaitan dengan teknik servis bawah, M. Yunus (1992: 68) mengelompokkan teknik servis bawah terdiri tiga bagian yaitu, “(1) sikap permulaan, (2) gerakan pelaksanaan dan (3) gerak lanjut”.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, teknik servis bawah bola voli terdiri tiga bagian yaitu sikap permulaan, gerakan pelaksanaan dan gerak lanjut. Dari ketiga teknik tersebut harus dirangkaikan dalam satu gerakan yang utuh dan harmonis. Untuk lebih jelasnya berikut ini diuraikan teknik pelaksanaan servis bawah sebagai berikut:
1)          Sikap Permulaan
Sikap permulaan servis bawah yaitu: berdiri di daerah servis menghadap ke lapangan, bagi yang tidak kidal kaki kiri di depan dan bagi yang kidal sebaliknya. Bola dipegang pada tangan kiri, tangan kanan boleh menggenggam atau dengan telapak tangan terbuka, lutut agak ditekuk sedikit dan berat badan berada di tengah.
2)          Gerakan Pelaksanaan
Gerakan pelaksanaan servis bawah yaitu: bola dilambungkan di depan pundak kanan, setinggi 10 sampai 20 cm dan pada saat yang bersamaan tangan kanan ditarik ke belakang, kemudian diayunkan ke arah depan atas dan mengenai bagian belakang bawah bola.
3)          Gerak Lanjut (Followthrough)
Gerak lanjut dari pukulan servis bawah yaitu: setelah memukul bola diikuti dengan memindahkan berat badan ke depan, dengan melangkahkan kaki kanan ke depan dan segera masuk ke lapangan untuk mengambil posisi dengan sikap siap normal, siap untuk menerima pengembalian atau serangan dari pihak lawan. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan ilustrasi rangkaian pelaksanaan servis bawah sebagai berikut:
Gambar 1. Rangkaian Gerakan Servis Bawah Bola Voli
(Amung Ma’mum dan Toto Subroto, 2001: 62)
d.   Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Servis Bawah
Servis bawah merupakan jenis servis yang paling mudah jika dibandingkan dengan servis atas. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bagi siswa pemula seringkali melakukan kesalahan. Kesalahan dalam teknik gerakan servis bawah mengakibatkan servis bawah menjadi gagal. Barbara L.V. & Bonnie J.F. (1996:34) mengidentifikasi kesalahan teknik gerakan servis bawah dan cara memperbaikinya sebagai berikut:

Kesalahan
Perbaikan
1.
Bola bergerak ke atas bukan ke
1.
Pegang bola setinggi pinggang atau

depan, dan tidak dapat

lebih rendah. Pukul bola tepat pada

menyeberang net

bagian tengah belakang dan
2.
Bola tidak cukup bertenaga untuk

ayunkan lengan ke depan ke arah

menyeberangi net.

net. Pindahkan berat badananda ke



kaki depan.
3.
Berat badan anda bertumpu di kaki
2.
Jangan mengayunkan tangan yang

belakang, bola melambung terlalu

memegang bola. Pukulan harus

tinggi

dilakukan dengan tumit telapak



tangan anda yang terbuka.


3.
Melangkahlah ke depan dengan



kaki depan anda pada saat anda



memukul bola. Kepala dan bahu



anda harus berada di depan sejajar



dengan lutut.


Kesalahan-kesalahan dan cara memperbaiki gerakan servis bawah tersebut harus dipahami oleh seorang guru. Kesalahan yang sering dilakukan siswa harus segera dibetulkan. Kesalahan yang dibiarkan akan mengakibatkan pola gerakan menjadi salah, sehingga gerakan tidak efektif dan tidak sesuai seperti yang diharapkan.

Pentingnya Menguasai Teknik Dasar Bola Voli (skripsi dan Tesis)


Hal yang mendasar dan harus dikuasai agar dapat bermain bola voli adalah menguasai macam-macam teknik dasar bola voli. Tanpa menguasai teknik dasar bola voli tidak mungkin mencapai prestasi bola voli yang optimal. Dalam hal ini Marta Dinata (2004: 5) menyatakan, “Untuk meningkatkan prestasi, seorang pemain bola voli harus menguasai beberapa teknik dasar terlebih dahulu. Teknik dasar merupakan faktor utama selain kondisi fisik, taktik dan mental”.
Penguasaan teknik dasar bola voli merupakan unsur yang sangat mendasar untuk mencapai prestasi bola voli, selain faktor fisik, taktik dan mental. Teknik dasar bola voli merupakan faktor utama yang harus dikembangkan melalui latihan yang baik dan teratur. Berkaitan dengan teknik dasar bola voli M. Yunus (1992: 68) menyatakan, “Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai hasil yang optimal”. Menurut Soedarwo dkk. (2000: 6) bahwa, “Teknik dasar bola voli adalah proses melahirkan keaktifan jasmani dan pembuktian praktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang olahraga permainan bola voli”. Sedangkan Dieter Beutelstahl (2003: 9) berpendapat, “Teknik merupakan prosedur yang telah dikembangkan berdasarkan praktek, dan bertujuan mencari penyelesaian suatu problem pergerakan tertentu dengan cara yang paling ekonomis dan berguna”.
Berdasarkan pengertian teknik dasar bola voli yang dikemukakan tiga ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, teknik dasar permainan bola voli merupakan suatu proses gerak tubuh yang dibuktikan dengan praktek yang dilakukan dengan sebaik mungkin dalam arti efektif dan efisien untuk menyelesaikan tugas yang pasti guna mencapai hasil yang baik dalam permainan bola voli. Teknik permainan bola voli merupakan aktivitas jasmani yang menyangkut cara memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal.
Penguasaan teknik dasar bermain bola voli mempunyai peran penting dalam usaha mencapai prestasi yang optimal. Seorang pemain yang menguasai teknik dasar bola voli dengan baik akan mendukung penampilannya baik secara individu maupun secara kolektif. M. Yunus (1992: 68) menyatakan, “Seni dalam permainan bola voli terlihat dari pemain yang sudah menguasai teknik tinggi hingga menyerupai akrobatik dengan pukulan-pukulan dan tipu muslihat yang indah serta mempesona para penonton yang menyaksikannya”. Menurut A. Sarumpaet dkk. (1992: 87) bahwa, “Penguasaan teknik dasar bola voli merupakan salah satu unsure yang menentukan menang atau kalahnya suatu regu dalam pertandingan. Oleh karena itu, teknik dasar tersebut harus benar-benar dikuasai terlebih dahulu, agar dapat mengembangkan mutu permainan, lancar dan teratur”. Hal senada dikemukakan Soedarwo dkk. (2000: 6) menyatakan, “Penguasaan teknik dasar permainan bola voli merupakan salah satu unsur yang ikut menentukan menang atau kalahnya suatu regu di dalam suatu pertandingan di samping unsur-unsur kondisi fisik, taktik dan mental”.
Berdasarkan tiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, penguasaan teknik dasar bola voli mempunyai peran penting baik secara individual maupun secara kolektif dalam bermain bola voli di samping faktor fisik, taktik dan mental. Dengan menguasai teknik dasar bola voli akan mendukung penampilan seorang pemain lebih baik, dan secara kolektif dapat mempengaruhi menang atau kalahnya sutau tim dalam pertandingan. Pentingnya penguasaan teknik dasar permainan menurut Soedarwo dkk. (2000: 6) mengingat hal-hal sebagai berikut:
1)      Hukuman terhadap pelanggaran permainan yang hubungannya dengan kesalahan teknik.
2)      Karena terpisahnya tempat antara regu ke satu dengan regu yang lain, sehingga tidak terjadi adanya sentuhan badan dari permainan lawan, maka pengawasan wasit terhadap kesalahan teknik ini lebih seksama.
3)      Banyaknya unsur-unsur yang menyebabkan terjadinya kesalahankesalahan teknik ini antara lain membawa bola, mengangkat bola, serta pukulan rangkap.
4)      Permainan bola voli adalah, waktu untuk memainkan bola sangat sempurna sehingga akan memungkinkan timbulnya kesalahankesalahan teknik yang lebih besar.
5)      Penguasaan teknik-teknik yang tinggi hanya memungkinkan kalau penguasaan teknik dasar, teknik tinggi dalam bola voli ini cukup sempurna.
Hal-hal seperti di atas harus dipahami dan dimengerti oleh setiap pemain bola voli. Setiap pemain harus mengerti dan memahami peraturan dasar permainan bola voli, sehingga akan terhindar dari kesalahan teknik. Kesalahan teknik yang dilakukan seorang pemain akan merugikan timnya dan menguntungkan pihak lawan.

Macam-Macam Teknik Dasar Bermain Bola Voli (skripsi dan tesis)

Syarat utama agar dapat bermain bola voli adalah menguasai teknik dasar bermain bola voli. Hal ini sesuai pendapat A. Sarumpaet dkk., (1992: 86) bahwa,
“Agar permainan bola voli berjalan atau berlangsung dengan baik, lancar dan teratur, maka para pemain dituntut harus menguasai unsur-unsur dasar permainan, yaitu teknik dasar bermain bola voli”.

Teknik dasar bola voli pada dasarnya merupakan suatu upaya seorang pemain untuk memainkan bola berdasarkan peraturan dalam permainan bola voli. Berkaitan dengan teknik dasar bola voli Aip Syarifuddin dan Muhadi (1991/1992: 187) menyatakan, “Teknik dasar permainan bola voli merupakan permainan untuk melakukan bentuk-bentuk gerakan yang berhubungan dengan permainan bola voli”. Menurut M. Yunus (1992: 68) bahwa, “Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai hasil yang optimal”. Sedangkan Dieter Beutelstahl (2003: 9) berpendapat, “Teknik merupakan prosedur yang telah dikembangkan berdasarkan praktek, dan bertujuan mencari penyelesaian suatu problem pergerakan tertentu dengan cara yang paling ekonomis dan berguna”.
Berdasarkan pengertian teknik dasar bola voli yang dikemukakan tiga ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, teknik dasar bola voli merupakan suatu gerakan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam permainan bola voli. Teknik dalam permainan bola voli merupakan aktivitas jasmani yang menyangkut cara memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal.
Adapun macam-macam teknik dasar bola voli menurut A. Sarumpaet dkk. (1992: 87) yaitu: “(1) passing atas, (2) passing bawah, (3) set-up (4) bermacam-macam service, (5) bermacam-macam smash (spike), (5) bermacam-macam block (bendungan)”. Sedangkan teknik dasar bermain bola voli menurut Suharno HP. (1991: 23) dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Teknik tanpa bola terdiri atas:
(1) Sikap siap normal
(2) Pengambilan posisi yang tepat dan benar
(3) Langkah kaki gerak ke depan, ke belakang, ke samping kiri, ke samping kanan.
(4) Langkah kaki untuk awalan smash dan block
(5) Guling ke samping , ke belakang
(6) Gerak meluncur
(7) Gerak tipuan
2) Teknik dengan bola terdiri atas :
(1) Servis untuk penyajian bola pertama
(2) Pass bawah untuk passing dan umpan bertahan
(3) Pass atas berguna untuk umpan dan passing
(4) Umpan untuk menyajikan bola ke smasher
(5) Smash untuk menyerang/mematikan lawan
(6) Block, pertahanan di net.
Teknik dasar bermain bola voli pada prinsipnya terdiri dua macam yaitu, teknik tanpa bola dan teknik dengan bola. Teknik tanpa bola berupa gerakan-gerakan khusus yang mendukung teknik dengan bola, sedangkan teknik dengan bola adalah cara memainkan bola dengan anggota badan secara efektif dan efisien sesuai dengan peraturan yang berlaku. Teknik tanpa bola dan teknik dengan bola merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam bermain bola voli. Keterkaitan antara teknik tanpa bola dan teknik dengan bola didasarkan kebutuhan dalam permainan.