Tampilkan postingan dengan label Metode penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode penelitian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juli 2017

DASAR PENGGUNAAN WAWANCARA (skripsi dan tesis)


Wawancara atau interviu memiliki dasar penggunaan yang sama engan angket, yaitu mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidakny-tidaknya ada pengetahuan, keyakinan, maupun sikap pribadi responden, penggunaan wawancara sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian di dasarkan pada anggapan:
1.      Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
2.      Bahwa apa yang dinyataka oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
3.      Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudhkan oleh peneliti



Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

PENGERTIAN ISTILAH DALAM METODE WAWANCARA (skripsi dan tesis)



a.         Pewawancara (interviewer) adalah petugas pengumu informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk mejawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar.
b.         Orang yang di interviu (interviewer) atau responden adalah orang yang memberi infomrasi yang diharaka dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
c.         Pedoman wawancara berisi tentang uraian tentang data yang akan diungkap yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan agar proses wawancara berjalan dengan baik

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

PRINSIP PENULISAN ANGKET (skripsi dan tesis)


Penulisan angket yang baik perlu memperhatikan beberapa prinsip. Sugiyono (2010, 142-144) menyatakan ada 10 prinsip yang perlu diperhatikan dalam penulisan angket:
1.      Isi dan tujuan pernyataan
2.      Bahasa yang digunakan
3.      Tipe dan bentuk pertanyaan
4.      Pertanyaan tidak mendua
5.      Tidak menanyakan yang sudah lupa
6.      Pertanyaan tidak menggiring
7.      Panjang pertanyaan
8.      Urutan pertanyaan
9.      Prinsip  pengukuran
10.  Penampilan fisik angket

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta












JENIS ANGKET DARI JAWABAN YANG DIBERIKAN (skripsi dan tesis)


Dipandang dari hawaban yang diberikan, angket dibedakan mejadi angket langsung dan angket tidak langsung
Angket langsung yaitu angket dimana responden menjawab/memberi respon tentang keadaan dirinya sendiri. Contoh : angket yang mengukur sikap guru terhadap kebijakan sekolah, respondennya adalah guru maka guru menjawab tentang keadaan dirinya sendiri
Angket tidak langsung yaitu jika responden menjawab/memberi respon tentang keadaan orang lain. Contohnya: angket untuk mengukur kinerja guru, respondennya adalah siswa maka siswa yang menilai keadaan guru atau kinerja gurunya pada saat mengajar sesuai dengan alternatif yang disediakan oleh penyusun angket

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

JENIS ANGKET DARI CARA MENJAWAB (skripsi dan tesis)


Dipandang dari cara menjawab, angket dapa dibedakan menjadi angket terbuka dan angket tertutup
1.      Angket terbuka merupakan angket yang bisa dijawab/direspon secara bebas oleh responden. Peneliti tidak menyediakan alternatif jawaban/respon kepada respoden. Penggunaan angket terbuka maupun tertutup maisng-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan yaitu:
a.       Akan mendapatkan data yang bervariasi
b.      Membantu peneliti mendapatkan infomrasi yang lebih lengkap tentang objek yang diteliti
c.       Memberikan kebebasan kepada responden untuk menulis jawaban atau berdasarkan pendapatnya
d.      Responden dapat mengisi atau memberi respon sesuai dengan keadaan responden yang dialaminya
Angket terbuka memiliki kekurangan yaitu:
a.       Bagi peneliti sulit untuk mengelompokkan jawaban/respon atau memberi kode terhadap jawaban responden
b.      Bagi responden memakan waktu untuk menjawab pertanyaan atau memeri respon terhadap pertanyaan yang disampaikan
2.      Angket tertutup, merupakan angket yang jumlah item dan alternatif jawabnnya maupun responnya sudah ditentukan, responden tinggal memilihnya sesuai denagan keadaan yang sebenarnya
Angket tertutup memiliki kelebihan, antara lain;
a.       Mudah memberi nilai
b.      Mudah dalam memberi kode
Angket tertututp memiliki kekurangan, antara lain:
a.       Bagi peneliti, kadang-kadang sulit untuk menyediakan alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan responden
b.      Bagi respondn sulit untuk memilih alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan dirinya.

 Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta



SUMBER DATA (skripsi dan tesis)


Berdasarkan sumbernya, data dapat dikelompokkan menjadi dua data yaitu:
a.       Data internal merupakan data yang dikumpulkan atau diperoleh dari lembaga atau organisasi dimana penelitian dilaksanakan.
b.      Data eksternal merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan dari lembaga aau organisasi lain dimana penelitian dilaksanakan


Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Selasa, 20 Juni 2017

KONSISTENSI RELIABILITAS EKSTERNAL (skripsi dan tesis)


Estimasi realibilitas eksternal diperolah dengan menggunakan skor hasi pengukuranyang berbeda baik dari instrumen yang berbeda maupun sama. Ada dua cara untuk mengestimasi reliabilitas eksternal suatu intrumen yaitu dengan teknik pengukuranulang (tes-retest method) dan teknik paralel
1.       Metode tes ulang (tes-retest method)
Untukmengetahui keterahandalan atau realibilitas skor hasil pengukuran, pengukuran perlu dilakukan dua kali. Pengukuran pertama dan pengukuran kedua atau ulangannya. Kedua pengukuran ini dapat dilakukan oleh orang yang sama tau berbeda, namun ada proses oengukuran yang kedua, keadaan yang diukur itu harus benar-benar berada pada kondisi yang sama dengan pengukuran pertama. Selanjutnya hasil pengukuran yang pertama dan yang ke dua dikorelasikan dan hasilnya menunjukkan realibilitas skor perangkat pengukuran.
Teknik tes-retest method ini dapat disesuaikan dengan tujuannya jika keadaan subjek yang dukur tetap dan tidak mengalami perubahan pada saat pengukuran yang pertama maupun pada pengukuran yang kedua. Pada dasarnya keadaan respondentu selalu berkembang, tidak statis ataupun berubah-ubah., maka sebenarnya teknik ini kurang teat digunakan. Di samping itu pada pengukuran yang kedua akan terjadi adanya carry-over effect atau testing efect, reponden pengukuran atau penelitian telah mendapat tambaan pengetahuan karena sudah mengalami tes yang pertama ataupun belajar setelah pengukuranyan pertama
2.       Metode Bentuk Paralel
Teknik kedua untuk mengestimasi realibilitas secara eksternal dengan metode bentuk paralel. Pada teknik ini , diperlukan dua instrumen yang dikatakan paralel untuk mengestimasi koefisien realibilitas. Dua buahtes dikatakan paralel atau equivalent adalah dua buah isntrumen yang mempunyai kesamaan tujuan dalam pengukuran, tingkat kesukaran dan susunan yang sama, namun butir soalnya berbeda atau dikenal dengan istilah alternate forms method atau paralele forms.
Dengan metode bentuk paralel ini , dua buah isntrumen yang paralel, misalnya instrumen paket A akandiestimasi realibilitasnya dan instrumen paket B merupakan isntrumen yang paralel denganpaket A, keduanya diberikan kepada kelompok responden yang sama, kemudian ke dua skor tersebut dikorelasikan. Koefisien korelasi dari kedua skor respoden terhadap instrumen inilah yang menunjukkan koefisien realibilitas skor instrumen paket A. Jika koefisien realibilitasnya skor instrumen tinggi maka perangkar tersebut dikatakan reliabel dapat digunakan sebagai instrumen pengukur suatu konstruk yang terandalkan.  

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

PENGERTIAN RELIABILITAS (skripsi dan tesis)




Pada suatu instrumen yang digunakan untuk mengumbulkan data, realibilitas skor hasiltes merupakan informasi yang diperlukan dalam pengembangan tes. Realibilitas merupakan derajat keajegan (consistency) di anata dua skor hasil pengukuran pada objek yang sama, meskipun menggunakan alat pengukur yang berbeda dan skala yang berbeda (Mehrens,&Lehmann, 1973; Reynold, Livingstone &Wilson, 2010).
Allen dan Yen (1979) menyatakan bahwa tes dikatakan reliabel jika skor amatan mempunyai korelasi yang tinggi dengan skor yang sebenarny. Selanjutnya dinyatakan bahwa realibilitas merupakan koefesioen korelasi antara dua skor amatan yang diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan tes yang paralel. Dengan demikian, pengertian yang dapat diperoleh dari pernyataan tersebut adalah suatu tes itu reliabel jka hasil pengukuran mendekati keadaan peserta tes yang sebenarnya.
Koefisien realibilitas dapadiartikan sebagai koefisien keajegan atau kestabilan hasil pengukuran. Alat ukur yang reliabel akan memberikan hasil pengukuran yang stabil (Lawrence, 1994) dan konsisten (Mehrens,&Lehmann, 1973). Artinya suatu alat ukur dikatakan memiliki koefisien realibilitas tinggi manakala digunakan untuk mengukur hal yang sama pada waktu yang berbeda hasilnya sama atau mendekati sama. Dalam hal ini, realibilitas merupakan sifat dari sekumpulan skor (Frisbie, 2005).

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta






















LANGKAH DALAM MEMBUKTIKAN VALIDITAS ISI (skripsi dan tesis)


1.       Memberikan kisi-kisi dari butir instrumen, berikut rubrik penskorannya jika ada kepada beberapa ahli yang seseuai dengan bidang yang diteliti untuk memohon masukan. Banyaknya ahli yang dimohon untuk memberi masukan paling tidak 3 orang ahli dngan kepakaran yang relevan dengan bidang yang diteliti
2.       Masukan yang diharapkan dari ahli berupa kesesuaian komponen instrumen dengan indikator, indikator dengan butir, substansi butir, kejelasan kalimat dalam butir, jika merupakan tes maka pertanyaannya harus ada jawabannya/luncinya, kalimat tidak membingungkan, format tulisan, simbol dan gambar yang cukup jelas. Proses ini sering disebut dengan telaah kualitatif yang meliputi aspek substansi, bahasa dan budaya.
3.       Erdasarkan masukan ahli tersebut, kisi-kisi atau instrumen kemudian diperbaiki
4.       Meminta ahli untuk menilai validitas butir, berupa kesesuaian antara butir dengan indikator. Penilaian ni dapat dilakukan misalnya dengan skala likert (skor 1: tidak valid, skor 2: kurang valid, skor 3: cukup valid, skor 4: valid, skor 5: sangat valid).

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

TIPE-TIPE DALAM VALIDITAS (skripsi dan tesis)


Validitas itu dikelompokkan dalam tiga tipe yaitu
1.       Validitas kriteria
Validitas kriteria dibagi menjadi dua yaitu validitas prediktif dan validitas konkuren. Fernandes (1984) mengatakan validitas berdasarkan kriteria dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana tes memprediksi kemampuan peserta di masa mendatang (predictive validity) atau mengestimasi kemampuan dengan alat ukur lain dengan tenggang waktu yang hampir bersamaan (conncurent validity).
2.       Validitas isi
Validitas isi adalah suatu instrumen sejauh mana butr-butir dalam instrumen itu mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur dan sejauh mana butir-butir itu mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Sementara itu Lawrance (1994) menjleaskan bahwa validitas isi adalah keterwakilan pertanyaan terhadap kemampuan khusu yang harus diukur. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa validitas isi terkait dengan analisis rasional terhadap domain yang hendak diukur untuk mengetahui keterwakilan dengan kemampuan yang hendak diukur
3.       Validitas kontruks
Validitas konstruk adalah sejauh mana instrumen mengungkapkan suatu kemampuan atau konstruk teoritis yan hendak diukurnya (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Prosedur validitas konstruk diawali dari sutau identikasi dan batasan mengenai variabel yang hendak diukur dan dinyatakan dalam bentuk konstruk logis berdasarkan teori variabel tersebut. Dari teori ini ditarik suatu konsekuensi praktis mengenai hasil pengukuran pada kondisi tertentu dan konsekuensi inilah yang akan diuji. Apabila hasilnya sesuai dengan harapan maka instrumen itu dianggap memiliki validitas konstruk yang sesuai.

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

PENGERTIAN VALIDITAS INSTRUMEN (skripsi dan tesis)


Validitas suatu alat ukur merupakan sejauh mana alat ukur ini mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Nunnaly, 1978; Allen dan Yen, 1979; Kerlinger, 1986; Azwar, 2000). Sementara itu, Linn dan Gronlund (1995) menjelaskan validitas mengacu pada kecukupan dan kelayakan interprestasi yang dibuat dari penilaian, berkenaan dengan penggunaan khusus. Pendapat ini diperkuat oleh Messick (1998) bahwa validitas merupakan kebiajakn evaluatif yang terintegrasi tentang sejauh mana fakta empiris dan dan alasan teoritis mendukung kecukupan dan kesesuaian inferensi dan tindakan berdasarkan skor tes atau skor suatu instrumen

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Penelit, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN (skripsi dan tesis)


Untuk mengembangkan instrumen yang baik, ada langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah mengembangkan instrumen baik tes maupun non tes sebagai berikut:
1.       Menentukan tujuan penyusunan instrumen
Pada awal menyusun instrumen, perlu ditetapkan tujuan penyusunan instrumen. Tujuan penyusunan ini memandu teori untuk mengkonstruk instrumen, bentuk instrumen, penyekoran sekaligus pemaknaan hasil penyekoran pada instrumen yang akan dikembangkan. Tujuan penyusunan instrumen ini perlu disesuaikan dengan tujuan penelitian
2.       Menyusun butir instrumen
Setelah tujuan isntrumen ditetapkan selanjutnya perlu dicari teori atau cakupan materi yang relevan. Teori yang relevan diigunakan untuk membuat kosntruk, apa saja indikator suatu variabel yang akan diukur. Kaitannya dengan tes, perlu dibatasi juga cakupan materi apa saja yang menyusun tes. Sebagai contoh pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang akan diukur harus memiliki indikator pemecahan masalah )problem solving), kebaharuan, kreativitas dan lain-lain. Jika yang akan diukur anak SMP, cakupan materi apa saja yang akan diukur perlu menjadi bahan pertimbangan
3.       Menyusun indikator butir instrumen/soal
Indikator soal ditentukan berdasarkan kajian teori yang relevan oada instrumen non tes. Adapaun pada instrumen tes, selain mempertimbangkan kajian teori, perlu dipertimbangkan cakupan dan kedalaman materi. Inidikator dapat disusun menjadi butir instrumen. Biasanya aspek yangakan diukur dengan idnikatornya disusun menjadi suatu tabel. Tabe; tersebut kemudian disebut dengan kisi-kisi (blue print). Penyusunan kisi-kisi ini mempermudah peneliti menyusun butir soal
4.       Menyusun butir instrumen
Langkah selanjutnya adalah menyusn butir-butir instrumen. Penyusunan butir ini dilakukan dengan melihat indikator yang sudah disusun pada kisi-kisi. Pada penyusunan butir ini , peneliti perlu mempertimbangkan bentuknya. Misal untuk non tes akan menggunakan angket, angke jenis yang mana, menggunakan berapa skala, penskorannya dan analisa. Jika peneliti menggunakan instrumen berupa tes, perlu dipikirkan apakan akan menggunakan bentuk objektif atau menggunakan bentuk uraian (constructed response). Pada penyusunan butir ini, peneliti telah mempertimbangkan penskoran untuk tiap butir sehingga memudahkan analisis. Jika perlu, pedoman penskoran disusun setelah peneliti menyelesaikan penyusunan butir instrumen
5.       Validiasi isi
Setelah butir-butir soal tersusun, langkah selanjutnya adalah validasi. Validasi ini dilakukan dengan menyampaikan kisi-kisi, butir instrumen dan lembar diberikan kepada ahli untuk ditelaah secara kuantitatif maupun kualitatif. Tugas ahli adalah melihat kesesuaian indikator dengan tujuan pengembangan instrumen, kesesuaian instrumen dengan indikator butir, melihat kebenaran konsep butir, melihat ebernaran isi, kebenaran kuni (pada tes), bahasa dan budaya. Proses ini disebut dengan validai isi dengen mempertimbangkan penilaian ahli (expert judgment).
Jik validasi isi akan dikuantifikasi, peneliti dapat meminta ahlu mengisi lembar penilaian validasi. Paling tidak, ada 3 ahli yang dilibatkan untuk proses validasi instrumen penelitian. Berdasarkan isian 3 ahli, selanjutnya penelitian menghitung indeks kesepakatan ahli atau kesepakatan validator dengan menggunakan indeks Aiken atau indeks Gregory.
6.       Revisi berdasarkan masukan validator
Biasanya validator memberikan masukan. Masukan-masukan ini kemudian digunakan peneliti untuk merevisinya. Jika perlu, peneliti perlu mengkonsultasikan lagi hasil perbaikan tersebut, sehingga diperoleh instrumen yang benar-benar valid
7.       Melakukan uji coba kpada responden yang bersesuaian untuk memroleh data responden peserta
Setelah revisi, butir-butir instrumen kemudin disusun lengkap (dirakit) dan siap diujicobakan. Uji coba ini dilakukan dalam rangka memperoleh bukti secara empiris. Uji coba ini dilakukan kepada responden yang bersesuaian dengan subjek penelitian. Peneliti dapat pula menggunakan anggota populasi yang tidak menjadi anggota sampel.
8.       Melakukan analisis (realibilitas, tingkat kesulitan dan daya pembeda)
Setelah melakukan uji coba, peneliti memperoleh data respon peserta uji coba. Dengan menggunakan respons peserta, peneliti kemudian melakukan penskoran tiap butir. Selanjutnya hasil penskoran ini digunakan untuk melakukan analisis realibitas skor perangkat tes dan juga analisis kekteristik butir. Analisis karakteristik butir dapat dilakukan dengan pendekatan teori tes klasik maupun teori respon butir. Analisis pada kedua pendekatan ini akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.
9.       Merakit instrumen
Setelah karakteristik butir diketahui, peneiti dapat merakit ulang instrumen. Pemilihan butir-butir dalam merakit perangkat ini mempertimbangkan karakteritik tertnetu yang dikehendaki oleh peneliti, misalnya tingkat kesulitas butir. Setelah diberi instruksi pengerjaan, peneliti kemudian dapat mempergunakan inatrumen tersebut untuk mengumpulkan data penelitian.

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Penelit, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

Selasa, 13 Juni 2017

SIFAT DATA (skripsi dan tesis)



Berdasarkan sifatnya, data dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu data dikotomi, diskrit atau kontinum.
a.       Data dikotomi merupakan data yang bersifat pilah atau satu sama lain seperti jenis kelamin, suku, agama dan lain sebagainya. Pengumpulan data dikotomi dilakukan dengan memberikan angka label
b.      Data diskrit merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara menghitung atau membilang
c.       Data kontinum merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara mengukur dengan alat ukur yang menggunakan skala tertentu



Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta 

JENIS DATA (skripsi dan tesis)



Berdasarkan data dibedakan menjadi dua macam yaitu data kaulutatif dan kuantitatif.
a.       Data kualitatif
Data kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada baik keadaan, proses, perisitiwa/kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata. Penentan kualitas itu menuntut menilai tentang bagaimana mutu sesuatu itu. Contohnya: wanita itu cantik, pria itu tampan, baik, buruk dan sebagainya. Data ini biasanya diperoleh  dari hasil wawancara dan bersifat subjketif sebab data tersebut dapat ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda. Data kualitatif yang diangkakan (kuantifikasi) dalam bentuk ordinal atau rangking.
Nawawi dan Hadari (2006; 49-51) membedakan data kualitatif dilihat dari jenisnya sebagai berikut:
1)      Data kategori yang dinyatakan dengan perkataan untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan, proses atau persitiwa termasuk dalam salah stau golongan atau suatu pihak tertentu
2)      Data yang menunjukkan porsi dari setiap keadaan yang dinyatakan dengan perkataan yang merupakan perbandingan dengan yang ideal atau keseluruhan.
3)      Data berjenjang atau meningkat yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian perstiwa termasuk pada suatu tingkatan mutu/kualitas tertentu di atas atau di bawah rata-rata.
4)      Data yang bersifat relatif yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian/persitiwa merupakan sesuau yang adanya dapat berubah-ubah.
5)      Data yang bertentangan yang menyatakan jika yang satu ada maka yang lain tidak aa tentang suatu keadaan, kejadian atau proses tertentu yang diungkapkan dalam suatu penelitian
b.      Data kuantitatif
Data kuantitatif merupakan data yang berwujud angka-angka sebagai hasil observasi atau pengukuran. Data ini diperoleh dari hasil pengukuran langsung maupun dari angka-angka yang diperoleh dengan mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. Data kuantitatif bersifat objektif dan bisa ditafsirkan sama oleh seua orang



Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta








PERAN DATA DALAM PENELITIAN (skripsi dan tesis)


1.      Data berfungsi sebagai alat hipotesis atau alat bukti atas pertanyaan penelitian
2.      Kualitas data sanga menentukan kualitas hasil penelitian. Artinya hasil penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang berhasil belum tentu hasil penelitian juga baik. Hasil penelitian selain dipengaruhi oleh kualitas data yang berhasil dikumpulkan juga dipengaruhi oleh ketepatan dan keakuratan analisis data yang dilakukan. Kualitas data tergantung pada kualitas dari instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen pengumpulan data berkaitan dengan validitas dan reabilitas instrumen

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

PENGERTIAN DATA (skripsi dan tesis)



Secara umum, data diartikan sebagai suatu fakta yang dapat digambarkan dengan angka, simbol, kode dan lain-lain (Umar, 2001:6). Menurut Arikunto (2006:118) data diartikan sebagai hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta maupun angka. Sedangkan menurut Soeratno dan Arsyad (2003; 72-73) data adalah semua hasil observasi atau pengukuran yang telah dicatat untuk suatu keperluan tertentu. Data merupakan bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta (Ridwan, 2009; 5). Dalam konteks penelitian, data dapat diartikan sebagai keterangan mengenai variabel pada sejumlah objek. Data menerangkan objek-objke dalam variabel tertentu. Misalnya: data berat 5 batang logam merupakan keterangan mengenai 5 logam dalam variabel “berat”.

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta 

Jumat, 09 Juni 2017

PEMBEDAAN VARIABEL BERDASARKAN PENAMPILAN WAKTU PENGUKURAN (skripsi dan tesis)


Berdasarkan penampilan/performan ketika hendak diukur, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variabel maksimalis dan variabel tipikalis.
a.       Variabel maksimalis
Variabel maksimalis merupkan variabel yang pada waktu pengumpulan datanya responden di dorong untuk menunjukkan penampilan maksimalnya. Berdasarkan penampilan maksimalnya tersebut dapat diketahui keberadaan variabel tersebut pada responden. Instrumen yag digunkaan untuk mengukur performan variabel maksimalis adalah tes.
b.      Variabel tipikalis
Variabel tipikalis merupkan variabel yang pada saat pengumpulan datanya responden tidak didorong untuk menunjukkan penampilan maksimal tetapi lebih di dorong untuk melaporkan secara jujur keadaan dirinya dalam variabel yang diukur.

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

PEMBEDAAN VARIABEL BERDASARKAN TIPE SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)



Variabel dapat dibedakan berdasarkan tipe skala pengukuran. Terdapat 4 tingkat variasi yang dihasilkan dari hasil pengukuran terhadap variabel yaitu nominal, rdinal, interval dan rasio.
a.       Variabel Nominal
Variabel nominal disebut juga dengan variabel diskrit. Sesuai dengan namnya nominal atau nomi yang berarti nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara variabel yang satu dengan lainnya. Variabel nominal adalah variabel yang dapat dgolongkan secara terpisah, secara diskrit, secara kaegori. Contoh variabel nominal diantaranya adalah jenis kelamin, jenis pekerjaan, jenis dan lain sebagainya. Variabel nominal meripakan variabel yang memiliki variasi paling sedikit yaitu perbedaan. Contoh variabel jenis hanya membedakan antara laki-laki dan perempuan dan tidak memiliki jenjang bertingkat atau urutan, tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan
b.      Variabel ordinal
Variabel ordinal merupkan variabel yang memiliki variasi perbedaan dan urutan (order) tetapi tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan. Urutanni menggambarkan adanya gradasi atau peringkat, akan tetapi jarak tingkat yang satu dengan tingkat lainnya tidak dapat diketahui dengan pasti.
c.       Variabel Interval
Variabel interval merupakan variabel yang skala pengukurannya dapat dibedakan, bertingkat dan memiliki jarak yang sama dari satuan hasil pengukuran, namun tidak bersifat mutlak dan tidak dapat diperbandingkan,
d.      Variabel Rasio
Variabel rasio merupkan variabel yang memiliki skor yang dapat dibedakan, diurutkan, memiliki kesamaan jarak perbedaan dan dapat diperbandingkan. Dengan demikian variabel yang memiliki skala rasio merupakan variabel yang memiliki tingkat tertingi dalam pensaklaan pengkuran variabel karena dapat menunjukkan perbedaa, tingkat, jarak dan dapat diperbandingkan.
Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta













PEMBEDAAN VARIABEL BERDASARKAN URGENSI PEMBAKUAN INSTRUMEN (skripsi dan tesis)



Berdasarkan perlu tidaknya pembakuan instrumen untuk mengumpulkan data, variabel dapat dibedakan menjadi variabel faktual dan variabel konseptual (Purwanto, 2007; 9)
a.       Variabel Faktual
Variabel fktual merupakan variabel yang terdapat di dalam faktnya. Contoh variabel faktual antara lan: jenis kelamin, agama, pendidikan, usia asal sekolah dan sebagainya. Karena bersifat aktual, maka bila terdapat kesalahan dalam pengumpulan data, kesalahan bukan terletak pada isntrumen tetapi pada responden, misalnya memberi jawaban yang tidak jujur. Instrumen untuk mengumpulkan data variabel faktual tidak perlu dibakukan. Tidak perlu dlakukan uji validias dan realiabilitas.
b.      Variabel Konseptual
Variabel konseptual merupakan variabel yangtidak terlihat dalam fakta namun ersembunyi dalam konsep. Variabel konsep hanya diketahui berdasarkan indikator yang nampak. Contoh variabel konsep antara lain: prestasi belajar, motivasi belajar, kecerdasan dan lain sebagainya. Karen tersembunyi dalam kosep maka keakuratan data dari variabel konsep tergantung pada keakuratan indikatr dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh peneltii. Kesalahan data dalam pengukuran dapat disebabkan oleh kesalahan konsep beserta indikator yang dikembangkan. Kesalahan data dari variabel prestasi belajar misalnya, kemungkinan disebabkan oleh instrumen pengumpulan data prestasi (baik dengan tes maupun non tes) yangsalah konsep. Untuk memastikan instrumen tidak salah konsep maka sebelum digunakan untuk mengumpulkan data variabl konsep, instrumen harus diuji validitas dan realibilitasnya



Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

PENENTUAN KEDUDUKAN VARIABEL (skripsi dan tesis)


Untuk dapat menentukan kedudukan variabel beas, terikat, kontrol, moderating, variabel antara atau lainnya harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengamatan empiris. Untuk itu, sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan diteliti perlu dilakukan kajian teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada objek yang akan diteliti. Jangan sampai terjadi menyusun rancangan penelitian di belakang meja dan tanpa mengetahui terlebih dahulu permasalaahn yang ada di objek penelitian. Sering terjadi, rumusan masalah dibuat tanpa melalui studi pendahuluan ke objek peneltian, sehingga setelah dirumuskan ternyata masalah itu tidak menjadi masalah pada objek penelitiabn. Setelah masalah dapat dipahami dengan jelas dan dikaji secara teoritis maka peneliti dapat menentukan variabel-variabel penelitiannya.

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta