Tampilkan postingan dengan label Metode Analisa Data. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Analisa Data. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juni 2017

KONSISTENSI RELIABILITAS EKSTERNAL (skripsi dan tesis)


Estimasi realibilitas eksternal diperolah dengan menggunakan skor hasi pengukuranyang berbeda baik dari instrumen yang berbeda maupun sama. Ada dua cara untuk mengestimasi reliabilitas eksternal suatu intrumen yaitu dengan teknik pengukuranulang (tes-retest method) dan teknik paralel
1.       Metode tes ulang (tes-retest method)
Untukmengetahui keterahandalan atau realibilitas skor hasil pengukuran, pengukuran perlu dilakukan dua kali. Pengukuran pertama dan pengukuran kedua atau ulangannya. Kedua pengukuran ini dapat dilakukan oleh orang yang sama tau berbeda, namun ada proses oengukuran yang kedua, keadaan yang diukur itu harus benar-benar berada pada kondisi yang sama dengan pengukuran pertama. Selanjutnya hasil pengukuran yang pertama dan yang ke dua dikorelasikan dan hasilnya menunjukkan realibilitas skor perangkat pengukuran.
Teknik tes-retest method ini dapat disesuaikan dengan tujuannya jika keadaan subjek yang dukur tetap dan tidak mengalami perubahan pada saat pengukuran yang pertama maupun pada pengukuran yang kedua. Pada dasarnya keadaan respondentu selalu berkembang, tidak statis ataupun berubah-ubah., maka sebenarnya teknik ini kurang teat digunakan. Di samping itu pada pengukuran yang kedua akan terjadi adanya carry-over effect atau testing efect, reponden pengukuran atau penelitian telah mendapat tambaan pengetahuan karena sudah mengalami tes yang pertama ataupun belajar setelah pengukuranyan pertama
2.       Metode Bentuk Paralel
Teknik kedua untuk mengestimasi realibilitas secara eksternal dengan metode bentuk paralel. Pada teknik ini , diperlukan dua instrumen yang dikatakan paralel untuk mengestimasi koefisien realibilitas. Dua buahtes dikatakan paralel atau equivalent adalah dua buah isntrumen yang mempunyai kesamaan tujuan dalam pengukuran, tingkat kesukaran dan susunan yang sama, namun butir soalnya berbeda atau dikenal dengan istilah alternate forms method atau paralele forms.
Dengan metode bentuk paralel ini , dua buah isntrumen yang paralel, misalnya instrumen paket A akandiestimasi realibilitasnya dan instrumen paket B merupakan isntrumen yang paralel denganpaket A, keduanya diberikan kepada kelompok responden yang sama, kemudian ke dua skor tersebut dikorelasikan. Koefisien korelasi dari kedua skor respoden terhadap instrumen inilah yang menunjukkan koefisien realibilitas skor instrumen paket A. Jika koefisien realibilitasnya skor instrumen tinggi maka perangkar tersebut dikatakan reliabel dapat digunakan sebagai instrumen pengukur suatu konstruk yang terandalkan.  

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

PENGERTIAN RELIABILITAS (skripsi dan tesis)




Pada suatu instrumen yang digunakan untuk mengumbulkan data, realibilitas skor hasiltes merupakan informasi yang diperlukan dalam pengembangan tes. Realibilitas merupakan derajat keajegan (consistency) di anata dua skor hasil pengukuran pada objek yang sama, meskipun menggunakan alat pengukur yang berbeda dan skala yang berbeda (Mehrens,&Lehmann, 1973; Reynold, Livingstone &Wilson, 2010).
Allen dan Yen (1979) menyatakan bahwa tes dikatakan reliabel jika skor amatan mempunyai korelasi yang tinggi dengan skor yang sebenarny. Selanjutnya dinyatakan bahwa realibilitas merupakan koefesioen korelasi antara dua skor amatan yang diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan tes yang paralel. Dengan demikian, pengertian yang dapat diperoleh dari pernyataan tersebut adalah suatu tes itu reliabel jka hasil pengukuran mendekati keadaan peserta tes yang sebenarnya.
Koefisien realibilitas dapadiartikan sebagai koefisien keajegan atau kestabilan hasil pengukuran. Alat ukur yang reliabel akan memberikan hasil pengukuran yang stabil (Lawrence, 1994) dan konsisten (Mehrens,&Lehmann, 1973). Artinya suatu alat ukur dikatakan memiliki koefisien realibilitas tinggi manakala digunakan untuk mengukur hal yang sama pada waktu yang berbeda hasilnya sama atau mendekati sama. Dalam hal ini, realibilitas merupakan sifat dari sekumpulan skor (Frisbie, 2005).

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta






















LANGKAH DALAM MEMBUKTIKAN VALIDITAS ISI (skripsi dan tesis)


1.       Memberikan kisi-kisi dari butir instrumen, berikut rubrik penskorannya jika ada kepada beberapa ahli yang seseuai dengan bidang yang diteliti untuk memohon masukan. Banyaknya ahli yang dimohon untuk memberi masukan paling tidak 3 orang ahli dngan kepakaran yang relevan dengan bidang yang diteliti
2.       Masukan yang diharapkan dari ahli berupa kesesuaian komponen instrumen dengan indikator, indikator dengan butir, substansi butir, kejelasan kalimat dalam butir, jika merupakan tes maka pertanyaannya harus ada jawabannya/luncinya, kalimat tidak membingungkan, format tulisan, simbol dan gambar yang cukup jelas. Proses ini sering disebut dengan telaah kualitatif yang meliputi aspek substansi, bahasa dan budaya.
3.       Erdasarkan masukan ahli tersebut, kisi-kisi atau instrumen kemudian diperbaiki
4.       Meminta ahli untuk menilai validitas butir, berupa kesesuaian antara butir dengan indikator. Penilaian ni dapat dilakukan misalnya dengan skala likert (skor 1: tidak valid, skor 2: kurang valid, skor 3: cukup valid, skor 4: valid, skor 5: sangat valid).

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

TIPE-TIPE DALAM VALIDITAS (skripsi dan tesis)


Validitas itu dikelompokkan dalam tiga tipe yaitu
1.       Validitas kriteria
Validitas kriteria dibagi menjadi dua yaitu validitas prediktif dan validitas konkuren. Fernandes (1984) mengatakan validitas berdasarkan kriteria dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana tes memprediksi kemampuan peserta di masa mendatang (predictive validity) atau mengestimasi kemampuan dengan alat ukur lain dengan tenggang waktu yang hampir bersamaan (conncurent validity).
2.       Validitas isi
Validitas isi adalah suatu instrumen sejauh mana butr-butir dalam instrumen itu mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur dan sejauh mana butir-butir itu mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Sementara itu Lawrance (1994) menjleaskan bahwa validitas isi adalah keterwakilan pertanyaan terhadap kemampuan khusu yang harus diukur. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa validitas isi terkait dengan analisis rasional terhadap domain yang hendak diukur untuk mengetahui keterwakilan dengan kemampuan yang hendak diukur
3.       Validitas kontruks
Validitas konstruk adalah sejauh mana instrumen mengungkapkan suatu kemampuan atau konstruk teoritis yan hendak diukurnya (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Prosedur validitas konstruk diawali dari sutau identikasi dan batasan mengenai variabel yang hendak diukur dan dinyatakan dalam bentuk konstruk logis berdasarkan teori variabel tersebut. Dari teori ini ditarik suatu konsekuensi praktis mengenai hasil pengukuran pada kondisi tertentu dan konsekuensi inilah yang akan diuji. Apabila hasilnya sesuai dengan harapan maka instrumen itu dianggap memiliki validitas konstruk yang sesuai.

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

PENGERTIAN VALIDITAS INSTRUMEN (skripsi dan tesis)


Validitas suatu alat ukur merupakan sejauh mana alat ukur ini mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Nunnaly, 1978; Allen dan Yen, 1979; Kerlinger, 1986; Azwar, 2000). Sementara itu, Linn dan Gronlund (1995) menjelaskan validitas mengacu pada kecukupan dan kelayakan interprestasi yang dibuat dari penilaian, berkenaan dengan penggunaan khusus. Pendapat ini diperkuat oleh Messick (1998) bahwa validitas merupakan kebiajakn evaluatif yang terintegrasi tentang sejauh mana fakta empiris dan dan alasan teoritis mendukung kecukupan dan kesesuaian inferensi dan tindakan berdasarkan skor tes atau skor suatu instrumen

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Penelit, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN (skripsi dan tesis)


Untuk mengembangkan instrumen yang baik, ada langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah mengembangkan instrumen baik tes maupun non tes sebagai berikut:
1.       Menentukan tujuan penyusunan instrumen
Pada awal menyusun instrumen, perlu ditetapkan tujuan penyusunan instrumen. Tujuan penyusunan ini memandu teori untuk mengkonstruk instrumen, bentuk instrumen, penyekoran sekaligus pemaknaan hasil penyekoran pada instrumen yang akan dikembangkan. Tujuan penyusunan instrumen ini perlu disesuaikan dengan tujuan penelitian
2.       Menyusun butir instrumen
Setelah tujuan isntrumen ditetapkan selanjutnya perlu dicari teori atau cakupan materi yang relevan. Teori yang relevan diigunakan untuk membuat kosntruk, apa saja indikator suatu variabel yang akan diukur. Kaitannya dengan tes, perlu dibatasi juga cakupan materi apa saja yang menyusun tes. Sebagai contoh pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang akan diukur harus memiliki indikator pemecahan masalah )problem solving), kebaharuan, kreativitas dan lain-lain. Jika yang akan diukur anak SMP, cakupan materi apa saja yang akan diukur perlu menjadi bahan pertimbangan
3.       Menyusun indikator butir instrumen/soal
Indikator soal ditentukan berdasarkan kajian teori yang relevan oada instrumen non tes. Adapaun pada instrumen tes, selain mempertimbangkan kajian teori, perlu dipertimbangkan cakupan dan kedalaman materi. Inidikator dapat disusun menjadi butir instrumen. Biasanya aspek yangakan diukur dengan idnikatornya disusun menjadi suatu tabel. Tabe; tersebut kemudian disebut dengan kisi-kisi (blue print). Penyusunan kisi-kisi ini mempermudah peneliti menyusun butir soal
4.       Menyusun butir instrumen
Langkah selanjutnya adalah menyusn butir-butir instrumen. Penyusunan butir ini dilakukan dengan melihat indikator yang sudah disusun pada kisi-kisi. Pada penyusunan butir ini , peneliti perlu mempertimbangkan bentuknya. Misal untuk non tes akan menggunakan angket, angke jenis yang mana, menggunakan berapa skala, penskorannya dan analisa. Jika peneliti menggunakan instrumen berupa tes, perlu dipikirkan apakan akan menggunakan bentuk objektif atau menggunakan bentuk uraian (constructed response). Pada penyusunan butir ini, peneliti telah mempertimbangkan penskoran untuk tiap butir sehingga memudahkan analisis. Jika perlu, pedoman penskoran disusun setelah peneliti menyelesaikan penyusunan butir instrumen
5.       Validiasi isi
Setelah butir-butir soal tersusun, langkah selanjutnya adalah validasi. Validasi ini dilakukan dengan menyampaikan kisi-kisi, butir instrumen dan lembar diberikan kepada ahli untuk ditelaah secara kuantitatif maupun kualitatif. Tugas ahli adalah melihat kesesuaian indikator dengan tujuan pengembangan instrumen, kesesuaian instrumen dengan indikator butir, melihat kebenaran konsep butir, melihat ebernaran isi, kebenaran kuni (pada tes), bahasa dan budaya. Proses ini disebut dengan validai isi dengen mempertimbangkan penilaian ahli (expert judgment).
Jik validasi isi akan dikuantifikasi, peneliti dapat meminta ahlu mengisi lembar penilaian validasi. Paling tidak, ada 3 ahli yang dilibatkan untuk proses validasi instrumen penelitian. Berdasarkan isian 3 ahli, selanjutnya penelitian menghitung indeks kesepakatan ahli atau kesepakatan validator dengan menggunakan indeks Aiken atau indeks Gregory.
6.       Revisi berdasarkan masukan validator
Biasanya validator memberikan masukan. Masukan-masukan ini kemudian digunakan peneliti untuk merevisinya. Jika perlu, peneliti perlu mengkonsultasikan lagi hasil perbaikan tersebut, sehingga diperoleh instrumen yang benar-benar valid
7.       Melakukan uji coba kpada responden yang bersesuaian untuk memroleh data responden peserta
Setelah revisi, butir-butir instrumen kemudin disusun lengkap (dirakit) dan siap diujicobakan. Uji coba ini dilakukan dalam rangka memperoleh bukti secara empiris. Uji coba ini dilakukan kepada responden yang bersesuaian dengan subjek penelitian. Peneliti dapat pula menggunakan anggota populasi yang tidak menjadi anggota sampel.
8.       Melakukan analisis (realibilitas, tingkat kesulitan dan daya pembeda)
Setelah melakukan uji coba, peneliti memperoleh data respon peserta uji coba. Dengan menggunakan respons peserta, peneliti kemudian melakukan penskoran tiap butir. Selanjutnya hasil penskoran ini digunakan untuk melakukan analisis realibitas skor perangkat tes dan juga analisis kekteristik butir. Analisis karakteristik butir dapat dilakukan dengan pendekatan teori tes klasik maupun teori respon butir. Analisis pada kedua pendekatan ini akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.
9.       Merakit instrumen
Setelah karakteristik butir diketahui, peneiti dapat merakit ulang instrumen. Pemilihan butir-butir dalam merakit perangkat ini mempertimbangkan karakteritik tertnetu yang dikehendaki oleh peneliti, misalnya tingkat kesulitas butir. Setelah diberi instruksi pengerjaan, peneliti kemudian dapat mempergunakan inatrumen tersebut untuk mengumpulkan data penelitian.

Heri Retnawati. 2016. Validitas, Realibilitas dan Karakteristik Butir (Panduan untuk Penelit, Mahasiswa dan Psikometrian), Parama Publishing, Yogyakarta

Jumat, 09 Juni 2017

PEMBEDAAN VARIABEL BERDASARKAN PENAMPILAN WAKTU PENGUKURAN (skripsi dan tesis)


Berdasarkan penampilan/performan ketika hendak diukur, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variabel maksimalis dan variabel tipikalis.
a.       Variabel maksimalis
Variabel maksimalis merupkan variabel yang pada waktu pengumpulan datanya responden di dorong untuk menunjukkan penampilan maksimalnya. Berdasarkan penampilan maksimalnya tersebut dapat diketahui keberadaan variabel tersebut pada responden. Instrumen yag digunkaan untuk mengukur performan variabel maksimalis adalah tes.
b.      Variabel tipikalis
Variabel tipikalis merupkan variabel yang pada saat pengumpulan datanya responden tidak didorong untuk menunjukkan penampilan maksimal tetapi lebih di dorong untuk melaporkan secara jujur keadaan dirinya dalam variabel yang diukur.

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

PEMBEDAAN VARIABEL BERDASARKAN TIPE SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)



Variabel dapat dibedakan berdasarkan tipe skala pengukuran. Terdapat 4 tingkat variasi yang dihasilkan dari hasil pengukuran terhadap variabel yaitu nominal, rdinal, interval dan rasio.
a.       Variabel Nominal
Variabel nominal disebut juga dengan variabel diskrit. Sesuai dengan namnya nominal atau nomi yang berarti nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara variabel yang satu dengan lainnya. Variabel nominal adalah variabel yang dapat dgolongkan secara terpisah, secara diskrit, secara kaegori. Contoh variabel nominal diantaranya adalah jenis kelamin, jenis pekerjaan, jenis dan lain sebagainya. Variabel nominal meripakan variabel yang memiliki variasi paling sedikit yaitu perbedaan. Contoh variabel jenis hanya membedakan antara laki-laki dan perempuan dan tidak memiliki jenjang bertingkat atau urutan, tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan
b.      Variabel ordinal
Variabel ordinal merupkan variabel yang memiliki variasi perbedaan dan urutan (order) tetapi tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan. Urutanni menggambarkan adanya gradasi atau peringkat, akan tetapi jarak tingkat yang satu dengan tingkat lainnya tidak dapat diketahui dengan pasti.
c.       Variabel Interval
Variabel interval merupakan variabel yang skala pengukurannya dapat dibedakan, bertingkat dan memiliki jarak yang sama dari satuan hasil pengukuran, namun tidak bersifat mutlak dan tidak dapat diperbandingkan,
d.      Variabel Rasio
Variabel rasio merupkan variabel yang memiliki skor yang dapat dibedakan, diurutkan, memiliki kesamaan jarak perbedaan dan dapat diperbandingkan. Dengan demikian variabel yang memiliki skala rasio merupakan variabel yang memiliki tingkat tertingi dalam pensaklaan pengkuran variabel karena dapat menunjukkan perbedaa, tingkat, jarak dan dapat diperbandingkan.
Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta













PEMBEDAAN VARIABEL BERDASARKAN URGENSI PEMBAKUAN INSTRUMEN (skripsi dan tesis)



Berdasarkan perlu tidaknya pembakuan instrumen untuk mengumpulkan data, variabel dapat dibedakan menjadi variabel faktual dan variabel konseptual (Purwanto, 2007; 9)
a.       Variabel Faktual
Variabel fktual merupakan variabel yang terdapat di dalam faktnya. Contoh variabel faktual antara lan: jenis kelamin, agama, pendidikan, usia asal sekolah dan sebagainya. Karena bersifat aktual, maka bila terdapat kesalahan dalam pengumpulan data, kesalahan bukan terletak pada isntrumen tetapi pada responden, misalnya memberi jawaban yang tidak jujur. Instrumen untuk mengumpulkan data variabel faktual tidak perlu dibakukan. Tidak perlu dlakukan uji validias dan realiabilitas.
b.      Variabel Konseptual
Variabel konseptual merupakan variabel yangtidak terlihat dalam fakta namun ersembunyi dalam konsep. Variabel konsep hanya diketahui berdasarkan indikator yang nampak. Contoh variabel konsep antara lain: prestasi belajar, motivasi belajar, kecerdasan dan lain sebagainya. Karen tersembunyi dalam kosep maka keakuratan data dari variabel konsep tergantung pada keakuratan indikatr dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh peneltii. Kesalahan data dalam pengukuran dapat disebabkan oleh kesalahan konsep beserta indikator yang dikembangkan. Kesalahan data dari variabel prestasi belajar misalnya, kemungkinan disebabkan oleh instrumen pengumpulan data prestasi (baik dengan tes maupun non tes) yangsalah konsep. Untuk memastikan instrumen tidak salah konsep maka sebelum digunakan untuk mengumpulkan data variabl konsep, instrumen harus diuji validitas dan realibilitasnya



Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

PENENTUAN KEDUDUKAN VARIABEL (skripsi dan tesis)


Untuk dapat menentukan kedudukan variabel beas, terikat, kontrol, moderating, variabel antara atau lainnya harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengamatan empiris. Untuk itu, sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan diteliti perlu dilakukan kajian teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada objek yang akan diteliti. Jangan sampai terjadi menyusun rancangan penelitian di belakang meja dan tanpa mengetahui terlebih dahulu permasalaahn yang ada di objek penelitian. Sering terjadi, rumusan masalah dibuat tanpa melalui studi pendahuluan ke objek peneltian, sehingga setelah dirumuskan ternyata masalah itu tidak menjadi masalah pada objek penelitiabn. Setelah masalah dapat dipahami dengan jelas dan dikaji secara teoritis maka peneliti dapat menentukan variabel-variabel penelitiannya.

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta


MACAM VARIABEL BERDASARKAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL (skripsi dan tesis)


Berdasarkan hubungan antar variabel maka variabel dalam penelitian tersebut dapat dibedakan menjadi:
a.              Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab terjadinya perubahan pada variabel lain. Dengan kata lain, perubahan pada variabel ni diasumsikan akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel lain. Variabel ini disebut variabel bebas karena adanya tidak tergantung pada adanya yang lain atau bebas dari ada atau tidaknya variabel lain.
Untuk lebih mudah memahaminya dapat dilihat dari contoh sebuah penelitian. Jika dalam penelitian dinyatakan bahwa yang akan diungkap adalah “pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa” maka variabel bebasnya adalah “motivasi belajar”. Variabel ini disebut variabel bebas karena “pretasi belajar siswa” tergantung dan dipengaruhi oleh variabel tersebut, yang adanya bebas tidak tergantung pada variabel yang lain.
Variabel bebas sering juga disebut sebagai variabel stimulus, pengaruh dan prediktor. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel eksogen
b.             Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Disebut variabel terikat karena kondisi atau variasinya dipengaruhi atau terikat oleh variasi variabel lain, yaitu dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat ini ada yang menyebut dengan istilah variabel tergantung, karena variasinya tergantung oleh variasi variabel lain. Selain itu ada juga yang menyebut variabel output, kriteria ataupun respon. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel indogen
c.              Variabel Kontrol
Variabel antara atau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat menjadi hbungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsing berubahnya atau timbulnya variabel terikat
d.             Variabel Moderator
Variabel moderator merupakan yang memperkuat atau memperlemah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Sugiyono (2010; 39) menyebut dengan istilah variabel independen kedua. Secara definisi hampir sama dengan variabel kontrol, hanya saja di sini pengaruh variabel itu tidak dinetralisisr atau ditiadakan tetapi bahkan dianalisis atau diperhitungkan
e.              Variabel Antara
Variabel antara aatau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabelbeas terhadap variabel terikat menjadi hubungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat.
Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta 

MACAM-MACAM VARIABEL PENELITIAN BERDASARKAN SIFAT VARIABEL (skripsi dan tesis)

l
Berdasarkan sifatnya, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi dua aitu variabel statis dan variabel dinamis
a.       Variabel Statis
Ariabel statis merupakan variabel yang mempunyai sifat yang tetap, tidak dapat diubah keberadaannya maupun karakteristiknya. Dalam kondisi yang wajar sifat-sifat itu sukar diubahnya speerti mialnya jenis kelamin, jenispekerjaan, status soail ekonomi, dan sebagainya. Ada juga yang menyebutnya variabel atributif (Sudjarwo dan Basrowi, 2009; 198). Sifat yang ada padanya adalah tetap, untuk itu penelitian hanya mampu untuk memilih atau menyeleksi. Oleh karena variabel ini disebut juga dengan variabel selektif. Arikunto (2006; 124) selain menggunakan istilah variabel tidak berdaya untukmaksud yang sama karenapeneliti tidak mampu mengubah atau mengusulkan untuk mengubah variabel tersebut
b.      Variabel Dinamis
Variabel dinamis merupakan yang dapat diubah keberadaanya atau karakteristiknya. Variabel ini memungkinkan untuk dimanipulasi atau diubahs esuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Pengubahan dapat berupa peningkatan atau penurunan. Contoh variabel dinamis adalah: kinerja pegawai, motivasi belajar. Selain menggunakan istilah variabel dinamis, untuk maksud yang sama maka Arikunto (2006; 124) menggunakan istilah variabel terubah. Sedangkan Sudjarwo dan Basrowi (2009; 197) menggunakan istilah variabel aktif.

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta












CIRI-CIRI VARIABEL PENELITIAN (skripsi dan tesis)


Dalam penelitian, variabel mempunyai tiga ciri, yaitu: mempenyai variasi nilai, membedakan satu objek dengan objek lain dalam satu populasi dan dapat diukur.
1.      Variabel mempunyai nilai yang bervariasi. Oleh karena itu variabel membedakan satu objek dengan objek lain dalam populasi, maka variabel harus memiliki nilai yang bervariasi. Misalakan dari populasi 30 oang mahasiswa maka IP hanya akan menjadi variabel apabila terdapat nilai yang bervariasi. Sebaliknya, apabila dari 30 orang siswa tersebut tidak terdapat variasi karena nilai IP yang sama maka IP bukanlah variabel pada populasi yang bersangkutan. Contoh lain, dari populasi penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu, jenis pekerjaan atau prfesi bukan merupkan variabel apabila selurh penduduk tersebut memiliki pekerjaan atau profesi yang sama.
2.      Variabel membedakan satu objek dari objek yang lain. Objek-objek menjadi anggota populasi karnan mempunyai satu karakteristikyang sama. Meskipun sama, objekobjek dalam populasi dapat dibedakan satu sama lain dalam variabel. Sebagai contoh,  populasi mahasiswa terdiri dari anggota ang memeiliki satu kesamaan karakteristik yaitu mahasiswa. Selain kesamaan tersebut, antara mereka berbeda daam usia, jenis kelamin, agama, motivasi belajar, tempat tinggal, prestasi dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini yang merupakan variabel karena mempunyai sifat membedakan di antara objek yang ada dalam populasi.
3.      Variabel harus dapat diukur. Penelitian kuantitatif menghasruskan hasil penelitian yang ojektif, terukur dan selalu terbuka untuk diuji. Variabel berbeda dengan konsep. Konsep belum dapat dukur sedangkan variabel dapat diukur. Variabel adalah operasionalisasi konsep. Sebagai contoh, belajar adalah konsep dan hasil belajar adalah variabel; siswa adalah konsep dan jumlah siswa adalah Variabel. Dengan demikian data dari Variabel penelitian harus tampak dalam perilaku yang dapat diobservasi dan diukur, misalnya prestasi belajar aalah jumlah jawaban benar yang dibuat siswa dalam mengerjakan sebuah tes. 

Widoyoko, 2015, Teknik Penyusunan Instrumen penelitian,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta





Senin, 26 Oktober 2015

Jenis Kesalahan Dalam Pengambilan Sampling

Jika keputusan (kesimpulan)baru diambil sesudah meneliti sampel yang diambil ketiga kalinya atau lebih maka cara ini disebut multiple sampling.
  1. Kesalahan Nonsampling
Kesalahan nonsampling dapat timbul pada hampir setiap penelitian, apakah penelitian itu dilakukan berdasarkan sensus ataukah sampel survei.
Sebab- sebab timbulnya kesalahan ini antara lain misalnya:
  1. Populasi yang tidak jelas
Sebelum penelitian dilakukan definisikan populasinya secara hati- hati. Usahakan jangan sampai melakukan penelitian terhadap populasi yang tidak semestinya.
Sebagai contoh misalnya seorang pengusaha bermaksud mempelajari soal selera penduduk di sebuah kota. Apabila dalam hal ini si pengusaha telah menggunakan orang- orang yang terdapat dalam “buku petunjuk telepon” sebagai dasar penelitian, maka kesalahan nonsampling telah terjadi. Kesalahan tersebut timbul karena si pengusaha telah mengabaikan orang- orang lain yang tidak terdapat dalam buku petunjuk itu, padahal sebenarnya mereka pun harus dimasukkan sebagai sasaran penelitian.
  1. Pertanyaan- pertanyaan tidak tepat
Untuk memperoleh keterangan- keterangan yang lengkap, hendaknya pertanyaan yang diajukan kepada responden
(yang dimintai keterangan) dirumuskan sejelas mungkin dan mudah dimengerti. Hindarkanlah hal- hal yang akan mengakibatkan responden tidak memberikan keterangan- keterangan.
Kesalahan ini bisa juga terjadi, apabila orang atau objek yang akan diselidiki itu tidak berhasil ditemui atau diperoleh.
  1. Adanya ketidaktepatan atau ketidakjelasan dalam definisi- definisi variabel, kriteria, atau dalam pemakaian satuan- satuan ukuran.
  2. Kesalahan lainnya
Misalnya kesalahan dalam pengolahan dan penerbitan seperti salah menghitung, salah ketik, salah cetak dan sebagainya.
  1. Kesalahan Sampling
Pada umumnya kesalahan ini sering terjadi pada waktu menelaah sampel yang akan dipakai sebagai dasar untuk membuat kesimpulan mengenai populasi darimana sampel itu diambil.
             Penelitian yang dilakukan terhadap sampel yang diambil dari suatu populasi dan penelitian terhadap populasi itu jelas akan berbeda hasilnya. Perbedaan hasil penelitian inilah yang dinamakan kesalahan sampling.
            Penyimpangan- penyimpangan karena pengunaan sampel (kesalahan sampling) bersama- sama dengan penyimpangan bukan karena pengunaan sampel (kesalahan nonsampling) merupakan penyimpangan total yang mungkin terdapat dalam suatu penelitian. Penyimpangan- penyimpangan tersebut harus diperkecil. Kesalahan sampling dapat diperkecil dengan pemakaian metode pengambilan sampel yang tepat, sedangkan kesalahan nonsampling dapat diperkecil dengan perencanaan dan pelaksanaan penelitian yang hati- hati dan teliti.(Subagyo, dan Djarwanto,2014)

Jenis-Jenis Sample Design

Sample Design
Sample design adalah suatu rencana mengenai cara pengambilan sampel dari populasi yang ditentukan. Sampel design seyogianya ditentukan dengan lengkap sebelum data yang diperlukan dikumpulkan.
Macamnya:
a. Systematic sampling
Setiap individu yang akan diselidiki diambil berdasarkan urutan tertentu dari populasi yang telah disusun secara teratur. Urutan pengambilan tiap individu dibuat sedemikian rupa sehingga setiap dua individu yang diambil mempunyai perbedaan nomor yang tetap sesuai dengan banyak anggota subpopulasi yang dibuat. Banyaknya subpopulasi adalah suara sesuai dengan ukuran sampel yang dikehendaki.
Misalnya kita menghendaki sebuah sampel berukuran 85 dari sebuah populasi yang berukuran 850. Setelah setiap individu dari populasi itu diberi nomor urut 001 sampai dengan 850, maka bagilah individu itu menjadi 85 kumpulan (subpopulasi) di mana setiap kumpulan terdiri dari 10 individu. Subpopulasi pertama berisi individu  bernomor 001 sampai dengan 010, subpopulasi kedua berisi individu dengan nomor 011 sampai dengan 020, dan seterusnya sampai sub populasi yang ke-85 berisi individu dengan nomor 841 sampai dengan 850.
            Dari subpopulasi pertama, kita gunakan “Tabel Bilangan Random” untuk mendapatkan sebuah anggota dari sampel yang dikehendaki. Misalkan jatuh pada nomor 005, maka dari subpopulasi kedua tinggal diambil individu bernomor 005 + 010 = 015, dari kumpulan ketiga individu bernomor = 015 + 010 = 025 dan seterusnya.
            Jika dari subpopulasi pertama, individu yang diambil secara random jatuh pada nomor 003, maka individu berikutnya yang perlu diselidiki untuk sampel itu adalah yang bernomor 013, 023, 033 ...... dan seterusnya.
            Metode “systematic sampling” dapat digunakan dalam keadaan (Teken, 1965: 71):
  1. Apabila nama atau identifikasi dari satuan- satuan individu dalam populasi itu terdapat dalam suatu daftar, sehingga satuan-satuan tersebut dapat diberi nomor urut.
  2. Apabila populasi itu mempunyai pola beraturan, seperti blok- blok dalam kota atau rumah- rumah pada suatu jalan. Blok- blok dalam kota itu dapat diberi nomor urut, sedang rumah- rumah pada suatu jalan biasanya sudah mempunyai nomor urut.
b. Stratified Random Sampling
            Populasinya dibagi- bagi menjadi beberapa bagian/ subpopulasi/ stratum. Anggota- anggota dari subpopulasi (stratum) dipilih secara random, kemudian dijumlahkan, jumlah ini membentuk anggota sampel.
            Penggunaan metode “ Stratified Random Sampling” harus memenuhi tiga syarat yaitu (Teken, 1965: 78-79).
  1. Harus ada kriteria yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasikan populasi itu kedalam  stratum- stratum (misalnya variabel yang akan diteliti).
  2. Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang akan dipergunakan untuk stratifikasi.
  3. Harus dapat diketahui dengan tepat jumlah satuan- satuan individu dari setiap stratum dalam populasi itu.
c. Quota Sampling
            Sampel diambil berdasarkan pertimbangan- pertimbangan tertentu dari penyelidik. Dalam quota sampling, para pencacah diminta untuk berwawancara dengan sejumlah individu yang mempunyai karakteristik (sifat- sifat) tertentu. Misalnya untuk mengetahui pendapat umum tentang sesuatu hal yang sedang diselidiki, si peneliti dapat berwawancara dengan 18 orang pedagang keturunan Cina yang mempunyai rumah sendiri, 25 orang India yang tinggal di Indonesia dan yang mempunyai toko tekstil, 76 orang Indonesia pensiunan dari pegawai negeri, dan lain- lain yang semacam.
            Penentuan kelompok- kelompok yang diteliti tersebut biasanya ditentukan atas dasar pertimbangan- pertimbangan dari si peneliti.
d. Cluster Sampling
            Didalam cluster sampling (sampling kelompok), populasinya dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian dari kelompok- kelompok tersebut dipilih secara random sejumlah kelompok.
            Sampel yang diperlukan terdiri atas individu- individu (anggota) yang berada dalam kelompok- kelompok yang telah dipilih secara random tersebut.
            Dalam cluster sampling kita tidak langsung memilih individu, melainkan memilih kelompok. Yang termasuk sebagai anggota sampel adalah anggota yang berada dalam kelompok yang terpilih itu. Jika kelompok- kelompok tersebut merupakan pembagian daerah- daerah geografis, maka cluster sampling ini disebut juga area sampling.
            Misalkan kita ingin memilih sebuah sampel berukuran 100 kepala keluarga dengan cara cluster sampling dari populasi tentang perumahan disuatu desa yang mempunyai 1.000 kepala keluarga. Dari 1.000 kepala keluarga tersebut kita bagi menjadi 200 kelompok yang masing- masing terdiri atas 5 kepala keluarga yang berdekatan. Jika dari 200 kelompok itu kita mengambil sebuah sampel random yang terdiri atas 20 kelompok, maka dengan cara ini kita telah memperoleh sebuah sampel dengan cara cluster sampling yang terdiri dari 20 x 5 kepala keluarga atau 100 kepala keluarga.
e. Double Sampling
            Dalam double sampling, penelitian dimulai dengan sebuah sampel yang relatif berukuran kecil. Jika hasilnya tidak dapat memberikan kepastian, maka sampel yang kedua perlu diambil dan berdasarkan tambahan sampel kedua  inilah sesuatu kesimpulan baru dibuat.
            Misalkan kita ingin meneliti sejumlah barang hasil produksi dengan rencana (ketentuan) sebagai berikut:
            Sebuah sampel random berukuran 40 diambil dengan ketentuan, kita nyatakan produksi berhasil baik jika terdapat yang rusak paling banyak satu, dan kita nyatakan produksi jelek jika terdapat yang rusak 5 atau lebih. Jika dari sampel tersebut yang rusak terdapat 2, 3 atau 4 buah, maka perlu diselidiki sebuah sampel lain yang berukuran 70. Dalam hal sampel yang kedua diperlukan, maka kedua sampel itu kita gabungkan dan dibuat keputusan, produksi dinyatakan baik jika terdapat yang rusak maksimum 4 buah barang, dan produksi dinyatakan jelek jika terdapat yang rusak 5 buah barang atau lebih.

Pengertian Sampling


Sampling adalah cara atau teknik yang dipergunakan  untuk mengambil sampel. Pada dasarnya ada dua cara pengambilan sampel yakni:
a. Random sampling
b. Nonrandom sampling
Random sampling
Suatu cara pengambilan sampel disebut random apabila kita tidak memilih-milih individu yang akan dijadikan anggota sampel. Seluruh individu dalam populasinya diberi kesempatan yang sama untuk dijadikan anggota sampel (disebut probability sampling).
Nonrandom sampling
Suatu cara pengambilan sampel disebut nonrandom, jika penyelidik tidak memberikan kesempatan yang sama pada anggota populasi untuk dijadikan anggota sampel (disebut nonprobability sampling). Yang termasuk dalam nonrandom sampling adalah Convenience Sampling, Quota Sampling, Purposive Sampling, Judgement Sampling dan Incidental Sampling.
Keuntungan yang utama daripada sampling bila dibandingkan dengan pencatatan menyeluruh (sensus) adalah:
a. Penyediaan biaya yang terbatas (reduce cost): oleh karena objek/ data yang diselidiki itu lebih kecil maka ongkos- ongkos dan biaya penyelidikannya jauh lebih sedikit.
b. Menghemat waktu dan tenaga (greater speed): data dapat segera dikumpulkan, diolah dan diselidiki sehingga hasilnya dengan cepat dapat dipergunakan.
c. Pengamatan pada hal-hal khusus: beberapa jenis survei membutuhkan wawancara yang lama dan padat sehingga tidak mungkin dilakukan dengan cara lain kecuali dengan sampel. Dengan memakai sample, memungkinkan perhatian tertuju pada sejumlah hal-hal yang ditentukan.
d. Greater accuracy: meskipun data yang diselidiki itu hanya merupakan bagian dari populasi, namun kualitasnya atau hasil hasilnya dapat lebih baik dan lebih tepat daripada sensus, sebab pengolahan data tidak memerlukan tenaga yang banyak, sehingga oleh karenanya dapatlah pengolahan data itu diserahkan kepada tenaga-tenaga yang betul-betul ahli dan terlatih.
Kelemahan-kelemahan sampling:
Dalam keadaan tertentu faedah dari sampling menimbulkan keragu-raguan. Tiga keadaan pokok dapat disebut sebagai berikut:
a. Jika data diperlukan dari wilayah-wilayah yang amat kecil maka diperlukan sampel yang relatif besar proporsinya. Karena precision dari sebuah sampel sangat tergantung dari besarnya sampel, bukan dari jenis sampling, maka dalam hal ini sampling sama mahalnya dengan sensus.
b. Jika data yang dibutuhkan adalah untuk beberapa periode waktu yang teratur dan diperlukan untuk mengukur perubahan yang sangat kecil dari suatu periode ke periode berikutnya, sampel yang besar mungkin dibutuhkan.
c. Jika dalam survey, pengambilan sampel harus dikeluarkan biaya administrasi yang besarnya luar biasa disebabkan oleh pekerjaan pemilihan sampel, pengawasan dan sebagainya, maka sampling mungkin tidak praktis.