Tampilkan postingan dengan label Manajemen Proyek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Proyek. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

Definisi Rework (skripsi dan tesis)


Rework dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi pengerjaan ulang. Selanjutnya akan dipakai istilah rework. Rework sudah menjadi sebagian yang hampir tak terpisahkan dalam dunia konstruksi. Oleh karena itu maka banyak  peneliti yang mengadakan riset dan penelitian untuk mengetahui apa sebenarnya rework itu. Para peneliti itu mendefinisikan rework menurut pandangan dan pendapat mereka masing–masing. Diantaranya definisi rework menurut mereka adalah sebagai berikut :
CIDA (1995) mendefinisikan rework sebagai ”Mengerjakan sesuatu paling tidak satu kali lebih banyak, yang disebabkan oleh ketidak cocokkan dengan permintaan”.
Menurut Love et al (1999a) rework adalah ”efek yang tidak perlu dari mengerjakan ulang suatu proses atau aktivitas yang diimplementasikan secara tidak tepat pada awalnya dan dapat ditimbulkan oleh kesalahan ataupun adanya variasi”
Menurut CII (Construction Industry Institute oleh tim penelitinya, Cause and Effect of Field Rework Research Team 153, 2000) rework adalah ”melakukan pekerjaan dilapangan lebih dari sekali ataupun aktivitas yang memindahkan pekerjaan yang telah dilaukkan sebelumnya sebagai bagian dari proyek”.
COAA (Construction Owner Association of Alberta, 2002) mendifinisikan ”rework sebagai total biaya di lapangan yang dikeluarkan selain daripada biaya dan sumber daya awal”.
Fayek et al (2002) mendefinisikan rework sebagai ”aktivitas dilapangan yang harus dikerjakan lebih dari sekali, atau aktivitas yang menghilangkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya sebagai bagian dari proyek diluar sumber daya, dimana tidak ada change order yang dikeluarkan dan change of scope yang diidentifikasi”. Definisi ini menggabungkan definisi dari CII dan COAA.
Bagaimanapun juga pengertian tersebut masih kurang jelas sehingga perlu diberikan batasan - batasan mengenai mana yang termasuk rework dan mana yang tidak termasuk rework. Berikut ini adalah contoh beberapa hal yang tidak termasuk rework adalah : (COAA, 2002):
1.      Perubahan scope pekerjaan mula–mula.
Misalnya : sebuah balok beton memiliki permukaan yang tidak rata, jika permukaan yang tidak rata tadi dihilangkan/ dikikis maka hal ini akan tergolong rework, tetapi jika balok tadi ditambah tebalnya untuk menjadikan rata permukaan tadi maka akan tergolong sebagai perubahan dari scope pekerjaan mula-mula (change).
2.      Perubahan desain atau kesalahan yang tidak mempengaruhi pekerjaan di lapangan.
Misalnya: terjadi kesalahan / perubahan desain pada konstruksi atap, tetapi pada saat perubahan diberikan ke kontraktor dan sampai di pekerja lapangan, proyek belum berjalan sampai pembangunan atap. Bisa juga disebut sebagai perubahan yang belum terlambat.
3.      Penambahan ataupun penghilangan scope pekerjaan karena kesalahan disainer dan kontraktor. (meskipun rework termasuk biaya yang berhubungan dengan mengerjakan ulang suatu bagian pekerjaan yang termasuk tambahan atau scope yang hilang)
Misalnya : penambahan kolom ukir (bukan kolom struktur), hal ini dilakukan dengan menambah satu pekerjaan baru bukan memperbaiki atau mnghilangkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya.
4.      Kesalahan fabrikasi off-site yang dibetulkan off-site
Misalnya : tiang pancang yang dipesan ukurannya tidak sesuai dengan ukuran yang diminta, tetapi hal itu diketahui sebelumnya dan diperbaiki sebelum dipasang.
5.      Kesalahan off-site modular fabrication yang dibetulkan off-site
Keterangan : penjelasan sama dengan atas, hanya saja ini menyangkut hal yang lebih besar (modular), seperti bangunan minyak lepas pantai yang telah dibuat seluruhnya di pabrik.
6.      Kesalahan fabrikasi on - site tapi tidak mempengaruhi aktivitas di lapangan secara langsung (diperbaiki tanpa mengganggu jalannya aktivitas konstruksi).
Misalnya : pengerjaan konstruksi atap baja yang dilakukan didalam lokasi proyek tetapi sebelum dipasang telah diketahui adanya kesalahan sehingga dapat segera diperbaiki sebelum dipasang dalam bangunan, dalam hal ini aktivitas pengerjaan konstruksi tidak terhambat.
Dengan banyaknya pengertian yang diberikan oleh para pakar tersebut maka untuk penelitian ini diambil satu pengertian yang dirasa tepat, yaitu yang menyatakan bahwa rework adalah : aktivitas dilapangan yang harus dikerjakan lebih dari sekali, atau aktivitas yang menghilangkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya sebagai bagian dari proyek diluar sumber daya, dimana tidak ada change order yang dikeluarkan. Pengertian / definisi dirasa paling tepat karena menyertakan pengecualian bagi terjadinya rework, yaitu jika terjadi change order atau bisa juga disebut sebagai change in managerial maka meskipun terjadi pengerjaan bagian yang sama lebih dari satu kali maka tidak akan digolongkan sebagai rework.


Karyawan proyek konstruksi (skripsi dan tesis)


Setiap kegiatan perlu diorganisasikan, yang berarti bahwa kegiatan tersebut harus disiapkan, disusun dan dialokasikan serta dilaksanakan oleh para unsur organisasi tersebut sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efisien dan efektif. Proses ini meliputi perincian pekerjaan, pembagian pekerjaan dan koordinasi pekerjaan yang terjadi dalam suatu lingkup dan struktur tertentu. Soekanto (2003).
Karyawan proyek konstruksi adalah orang atau tenaga kerja yang terlibat di dalam proyek konstruksi untuk melakukan keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapanya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lainya.
Karyawan proyek konstruksi atau tenaga kerja dapat di jelaskan sebagai berikut (Coory, 2009):
1.      tenaga ahli, yaitu tenaga kerja yang berlatar belakang pendidikan universitas atau akademi yang berpengalaman sesuai dengan bidangnya,
2.      tenaga menengah, yaitu tenaga kerja yang berlatar belakang pendidikan STM untuk mengurusi masalah teknik dan pengawasan,
3.      tenaga borong atau mandor, yaitu tenaga kerja yang bertanggung jawab atas pekerjaan dan menangani pekerjaan-pekerjaan yang spesifik. Tenaga borongan atau mandor dituntut memiliki pengetahuan teknis dalam taraf tertentu, misalnya dapat membaca gambar-gambar konstruksi, dapat membuat hitungan-hitungan ringan dan dapat membedakan kualitas bahan bangunan yang akan digunakan,
4.      tenaga tukang, yaitu tenaga kerja yang ahli dalam bidangnya berdasarkan pengalaman serta cara kerja yang sederhana,
5.      tenaga kasar, yaiu tenaga kerja yang bekerja mengandalkan kondisi fisik yang kuat dan sehat serta tanpa berbekalkan keahlian tertentu. Tenaga kasar bertanggung jawab kepada mador.

Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)


Pengertian suatu proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber daya untuk mendapatkan manfaat. Kegiatan-kegiatan berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan proyek dapat berbentuk barang-barang modal, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu. Sumber daya tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang atau jasa, konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang (Imam soeharto, 1999). Dari pengertian di atas, proyek mempunyai ciri-ciri:
a.       memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir,
b.      jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses       pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan,
c.       bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya  tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas, dan
d.      tidak berulang, macam dan intensitas kegiatan berubah atau tidak  sama.
Proyek konstruksi memiliki karakteristik unik yang tidak berulang pada proyek lainnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi yang mempengaruhi proses suatu proyek konstruksi berbeda satu sama lain. Misalnya kondisi alam seperti perbedaan letak geografis, hujan, gempa dan keadaan tanah merupakan faktor yang turut mempengaruhi keunikan proyek konstruksi (Ervianto, 2004). Intinya dalam setiap proyek apapun terdapat empat elemen esensial yaitu kerangka waktu tertentu, suatu pendekatan yang teratur terhadap kegiatan-kegiatan yang saling bergantung, hasil yang diinginkan dan karakteristik-karakteristik unik (Davidson, 2002).

Rabu, 04 November 2015

Gaya Kepemimpinan Transaksional


Teori kepemimpinan transaksional mendasarkan diri pada asumsi bahwa kepemimpinan merupakan kontrak sosial antara pemimpin dan pengikut. Pemimpin dan pengikut merupakan pihak-pihak yang masing-masing mempunyai tujuan, kebutuhan dan kepemimpinan sendiri. Dalam kondisi nyata, tujuan dan kebutuhan kadang kala saling bertentangan sehingga mengarah ke situasi konflik antara pemimpin dan pengikut. Pemimpin Transaksional berusaha memotivasi bawahannya melalui pemberian imbalan atas apa yang telah mereka lakukan.
Inti kepemimpinan transaksional adalah menekankan transaksi di antara pemimpin dan bawahan. Dalam hal ini, kepemimpinan transaksional memungkinkan pemimpin memotivasi dan mempengaruhi bawahan dengan cara mempertukarkan reward dengan kinerja tertentu. Artinya, dalam sebuah transaksi bawahan dijanjikan untuk diberi reward bila bawahan mampu menyelesaikan tugasnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Alasan ini mendorong Burns untuk mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai bentuk hubungan yang mempertukarkan jabatan atau tugas tertentu jika bawahan mampu menyelesaikan dengan baik tugas tersebut. Hal ini bermakna, bahwa pandangan teori kepemimpinan transaksional mendasarkan diri pada pertimbangan ekonomis-rasional sesuai dengan kontrak yang telah mereka setujui bersama (Sanusi, 2009).
Kepemimpinan Transaksional timbul apabila terdapat motivasi bawahan oleh kebutuhan pribadi mereka, sehingga seakan-akan perusahaan melakukan proses transaksi  terhadap karyawan. Dalam hal ini perusahaan melakukan proses transaksi dengan karyawan. Adapun hubungan dengan bawahan dapat dijelaskan sebagai berikut (Marselius dan Rita, 2004):
                           1.     Mengetahui apa yang diinginkan bawahan dan menjelaskan bahwa mereka akan memperoleh apa yang diinginkannya, apabila performance mereka memenuhi harapan.
                           2.     Memberikan usaha-usaha yang dilakukan bawahan dengan imbalan atau janji untuk memperoleh imbalan.
                           3.     Responsif terhadap kepentingan bawahan selama kepentingan pribadi itu sepadan dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan bawahan.
                           4.     Responsif terhadap kepentingan pribadi bawahan selama kepentingan. pribadi itu sepadan dengan nilai pekerjaan yang dilakukan bawahan.
Pada teori kesinambungan kepemimpinan, kepemimpinan transaksional berletak di ujung yang berlawanan dengan kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transaksional lebih sering dijumpai dari kepemimpinan transformasional (Burns, 1978). Kepemimpinan transaksional dideskripsikan sebagai proses pertukaran yang mana pemimpin mengidentifikasi kebutuhan pengikutnya dan mendefinisikan proses pertukaran yang layak untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan kedua belah pihak (Bass, 1985). Bentuk dari kepemimpinan transaksional termasuk kepemimpinan penghargaan kelompok, kepemimpinan manajemen dengan pengecualian baik aktif maupun pasif, dan kepemimpinan kebebasan atau mengakomodasi (Bass dan Avolio, 1990).
Hubungan pemimpin transaksional dengan karyawan tercermin dari tiga hal (Yukl, 1990) yakni:
                           1.     Pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang akan mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan.
                           2.     Pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan.
                           3.     Pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan tersebut sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.
Kepemimpinan Transaksional dapat dilakukan dengan manajemen melalui ekspensi dan imbalan kontijen (Bass, 1985).
                           1.     Manajemen Melalui Eksepsi (Management by Exception)
Manajemen melalui eksepsi, merupakan praktek manajemen dimana pimpinan hanya memberikan campur tangan dan perhatian kepada bawahannya ketika terjadi kesalahan. Pimpinan semacam ini jarang sekali memberikan pujian atau penghargaan terhadap bawahannya. Pemimpin biasanya membiarkannya bawahannya untuk melakukan pekerjaaanya dengan cara yang sama setiap waktu. Tipe pemimpin seperti ini juga tidak berusaha untuk mengubah sesuatu selama masih berjalan baik. Komunikasi dengan bawahan biasannya hanya berupa hal-hal yang harus dilakukan oleh bawahan.
                           2.     Perilaku Imbalan Kontinjen (Dorongan Kontijen Positif)
Imbalan Kontijen meliputi interaksi antara atasan dan bawahan yang di dasarkan pada asas pertukaran atau kesepakatan, dimana bawahan akan mendapatkan penghargaan atas asas pertukaran atau kesepakatan, dimana bawahan akan mendapatkan penghargaan, pengakuan dan imbalan untuk setiap hasil pekerjaanya yang memenuhi informasi yang telah ditetapkan sebelumya. Pemimpin sebagai atasan juga harus berusaha untuk mengetahui kebutuhan pada bawahannya dan memberikan kejelasan mengenai imbalan apa yang akan diterima oleh bawahannya apabila performasi bawahan memuasakan.

Selasa, 19 Agustus 2014

Judul Skripsi Manajemen Operasi-Manajemen Konstruksi: Konsep nilai hasil (earned value concept)

Angka-angka yang dihasilkan analisis varians menunjukkan perbedaan hasil kerja pada waktu pelaporan dibandingkan dengan anggaran atau jadwal. Metode ini untuk menjawab apakah proyek pada saat pelaporan masih sesuai dengan anggaran atau jadwal.
Kelemahan metode ini, yaitu menganalisis penyimpangan biaya dan jadwal masing-masing secara terpisah, tidak mengungkapkan masalah kinerja kegiatan yang sedang dilakukan. Misalnya suatu kegiatan tertentu pada saat pelaporan dinyatakan mencapai kemajuan melampaui jadwal yang direncanakan, tetapi belum tentu kegiatan tersebut sesuai anggaran yang dialokasikan untuk pekerjaan tersebut.
Konsep nilai hasil (earned value concept) adalah konsep menghitung besarnya biaya yang menurut anggaran sesuai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan atau dilaksanakan (budgeted cost of work performed). Bila ditinjau dari jumlah pekerjaan yang diselesaikan, maka konsep ini mengukur besarnya unit pekerjaan yang telah diselesaikan pada suatu waktu dan dinilai berdasarkan jumlah anggaran yang disediakan untuk pekerjaan tersebut.
Dengan memakai dasar asumsi tertentu, metode tersebut dapat dikembangkan untuk membuat perkiraan atau proyeksi keadaan masa depan proyek, metode konsep nilai hasil ini dapat memperkirakan berbagai kemungkinan diantaranya :
a.         dapatkah proyek diselesaikan dengan dana sisa yang ada,
b.        berapa besar perkiraan biaya untuk menyelesaikan proyek, dan
c.         berapa besar proyeksi keterlambatan pada akhir proyek bila kondisi masih sama seperti saat pelaporan.
Indikator-indikator yang dipakai dalam metode konsep nilai hasil antara lain sebagai berikut.
a.         BCWP (Budgeted Cost of Work Performed)
Indikator BCWP (Budgeted Cost of Work Performed) ini menunjukkan nilai hasil dari sudut pandang nilai pekerjaan yang telah diselesikan terhadap anggaran yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
b.        BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule)
BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule) adalah anggaran suatu paket pekerjaan yang disusun berkaitan dengan jadwal pelaksanaan. Jadi dalam hal ini terjadi perpaduan antara biaya, jadwal dan lingkup kerja, dimana pada setiap elemen pekerjaan telah dialokasikan biaya dan jadwal yang nantinya dapat menjadi tolok ukur dalam pelaksanaan. Faktor yang menunjukkan kemajuan dan pelaksanan proyek seperti :
1)        varians biaya/Cost Varians (CV), varians jadwal/Schedule Varians (SV),
2)        memantau perubahan varians terhadap angka standar,
3)        indeks produktivitas dan kinerja, dan
4)        prakiraan biaya penyelesaian proyek.
c.         ACWP (Actual Cost of Work Performed)
ACWP (Actual Cost of Work Performed) adalah jumlah biaya aktual dari pekerjaan yang telah dilaksanakan, yaitu segala biaya pengeluaran dari paket kerja termasuk perhitungan overhead.  Jadi ACWP merupakan jumlah aktual dari pengeluaran atau dana yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan pada kurun waktu tertentu.

Analisis Kemajuan Pelaksanaan Proyek
Pada saat pelaporan data yang terkumpul mengenai kemajuan pekerjaan, ikatan pembelian dan pengeluaran dianalisis untuk setiap paket kerja (kode biaya) yang meliputi :
a.         kemajuan fisik aktual dihitung berdasarkan anggaran yang diaplikasikan (BCWP),
b.        pengeluaran tercatat pada sistem akuntansi (ACWP), dan
c.         perencanan dasar dan anggaran yang mengaitkan jadwal dengan biaya (BCWS).
Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa menganalisis kemajuan proyek dengan memakai metode varians sederhana dianggap kurang mencukupi, karena analisis varians tidak mengintegrasikan aspek biaya dengan jadwal. Untuk mengatasinya digunakan metode konsep nilai hasil dengan indikator BCWP, BCWS dan ACWP. Varians yang dihasilkan disebut varians biaya terpadu (CV) dan varians jadwal terpadu (SV). Berbagai kombinasi antara varians jadwal dan varians biaya disajikan dalam Gambar 
Rumus yang dipergunakan pada varians biaya dan varians jadwal adalah sebagai berikut :
Varians biaya (CV)BCWP  -  ACWP.............................................( 2.5 )
Varians jadwal (SV) =  BCWP  -  BCWS ...........................................( 2.6 )
 Cost varians (CV) adalah perbedaan antara biaya yang telah dikeluarkan
dengan biaya yang seharusnya dikeluarkan sesuai dengan prestasi pekerjaan.
Schedule varians (SV) adalah besarnya perbedaan jadwal yang terjadi sebanding dengan perbedaan biaya yang terjadi.
 

Gambar    Analisis varians terpadu disajikan dengan Grafik “S

Angka negatif varians biaya terpadu yang menunjukkan bahwa biaya lebih tinggi dari anggaran disebut cost overrun. Angka nol menunjukkan pekerjaan terlaksana sesuai anggaran, sementara angka positif berarti pekerjaan terlaksana dengan biaya kurang dari anggaran, ini disebut cost underrun.
Demikian juga halnya dengan jadwal, angka negatif berarti terlambat, angka nol berarti tepat waktu dan angka positif berarti lebih capat dari pada rencana, untuk lebih jelasnya keterangan ini dapat dilihat pada Tabel  berikut
No
Varians Jadwal (SV)
Varians Biaya
(CV)
Keterangan
a
Positif
Positif
Pekerjaan terlaksana lebih cepat dari pada jadwal dengan biaya lebih kecil dari pada anggaran
b
Nol
Positif
Pekerjaan terlaksana tepat sesuai  jadwal dengan biaya lebih rendah dari pada anggaran
c
Positif
Nol
Pekerjaan terlaksana sesuai anggaran dan selesai lebih cepat dari pada jadwal
d
Nol
Nol
Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal dan anggaran
e
Negatif
Negatif
Pekerjaan selesai terlambat dan  biaya lebih tinggi dari anggaran
f
Nol
Negatif
Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal dengan menelan biaya diatas  anggaran
g
Negatif
Nol
Pekerjaan selesai terlambat dengan biaya sesuai anggaran
h
Positif
Negatif
Pekerjaan selesai lebih cepat dari pada rencana dengan  biaya lebih tinggi dari anggaran
i
Negatif
Positif
Pekerjaan selesai terlambat dari pada rencana dengan biaya lebih rendah dari pada anggaran
.