Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2019

Cakupan dukungan sosial (skripsi dan tesis)


 Menurut Saranson (2009) yang dikutip oleh Kuntjoro (2012), dukungan sosial itu selalu mencakup 2 hal yaitu ;
 1. Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia Merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas).
2. Tingkat kepuasan akan dukungan sosial yang diterima Tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas).

Klasifikasi dukungan sosial (skripsi dan tesis)


Menurut Sheridan dan Radmacher (2009), Sarafino (2011) serta Taylor (2012); membagi dukungan sosial kedalam 3 bentuk, yaitu
 1. Dukungan instrumental (tangible or instrumental support)
Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pinjaman uang, pemberian barang, makanan serta pelayanan. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi kecemasan karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. Dukungan instrumental sangat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dianggap dapat dikontrol.
2. Dukungan informasional (informational support)
Bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi, pengetahuan, petunjuk, saran atau umpan balik tentang situasi dan kondisi individu. Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah.
3. Dukungan emosional (emotional support)
Bentuk dukungan ini melibatkan rasa empati, ada yang selalu mendampingi, adanya suasana kehangatan, dan rasa diperhatikan akan membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperdulikan dan dicintai oleh sumber dukungan sosial sehingga individu dapat menghadapi masalah dengan lebih  baik. Dukungan ini sangat penting dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak dapat dikontrol

Faktor- faktor yang mempengaruhi dukungan sosial (skripsi dan tesis)


Menurut stanley (2012), faktor- faktor yang mempengaruhi dukungan sosial adalah sebagai berikut :
 1. Kebutuhan fisik Kebutuhan fisik dapat mempengaruhi dukungan sosial. Adapun kebutuhan fisik meliputi sandang, dan pangan. Apabila seseorang tidak tercukupi kebutuhan fisiknya maka seseorang tersebut kurang mendapat dukungan sosial.
 2. Kebutuhan sosial Dengan aktualisasi diri yang baik maka seseorang lebih kenal oleh masyarakat daripada orang yang tidak pernah bersosialisasi di masyarakat. Orang yang mempunyai aktualisasi diri yang baik cenderung selalu ingin mendapatkan pengakuan di dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu pengakuan sangat diperlukan untuk memberikan penghargaan.
3. Kebutuhan psikis Dalam kebutuhan psikis pasien pre operasi di dalamnya termasuk rasa ingin tahu, rasa aman, perasaan religius, tidak mungkin terpenuhi tanpa bantuan orang lain. Apalagi jika orang tersebut sedang menghadapi masalah baik ringan maupun berat, maka orang tersebut akan cenderung mencari dukungan sosial Universitas Sumatera Utara dari orang- orang sekitar sehingga dirinya merasa dihargai, diperhatikan dan dicintai. 

Pengertian Dukungan Sosial (skripsi dan tesis)


Pierce (dalam Kail and Cavanaug, 2010) mendefinisikan dukungan sosial sebagai sumber emosional, informasional atau pendampingan yang diberikan oleh orang- orang disekitar individu untuk menghadapi setiap permasalahan dan krisis yang terjadi sehari- hari dalam kehidupan. Diamtteo (2011) mendefinisikan dukungan sosial sebagai dukungan atau bantuan yang berasal dari orang lain seperti teman, tetangga, teman kerja dan orang- orang lainnya. Gottlieb (dalam Smet, 2012) menyatakan dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal maupun non verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang didapatkan karena kehadiran orang lain dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima. Sarafino (2011) menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya. Pendapat senada juga diungkapkan oleh Saroson (dalam Smet, 2012) yang menyatakan bahwa dukungan sosial adalah adanya transaksi interpersonal yang ditunjukkan dengan memberikan bantuan pada individu lain, dimana bantuan itu umunya diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan. Dukungan sosial dapat berupa pemberian infomasi, bantuan tingkah laku, ataupun materi yang didapat dari hubungan sosial akrab yang dapat membuat individu merasa diperhatikan, bernilai, dan dicintai

Faktor – faktor yang Menghambat Dukungan Sosial (skripsi dan tesis)


Faktor – faktor yang menjadi penghambat dalam pemberian dukungan sosial menurut Apollo & Cahyadi, 2012:
a. Penarikan diri dari orang lain, disebabkan karena harga diri yang rendah, ketakutan untuk dikritik, pengharapan bahwa orang lain tidak menolong, seperti menghindar, mengutuk diri, diam, menjauh, tidak mau meminta bantuan.
b. Melawan orang lain, seperti sikap curiga, tidak sensitif, tidak timbal balik, dan agresif.
c. Tindakan sosial yang tidak pantas, seperti membicarakan dirinya secara terus – menerus, menganggu orang lain, berpakaian tidak pantas, dan tidak pernah merasa puas. 

Sumber Dukungan Sosial (skripsi dan tesis)


 Dukungan sosial suami adalah keterlibatan suami selama masa kehamilan dan persalinan istirnya, meliputi dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan infromasi, sehingga sang istri merasa bahwa dirinya dicintai, diperhatikan, dihargai, dibantu dan berada dalam keadaan yang aman dan tentang (Wilda, 2012 dalam Indri Subekti 2016). Sumber dukungan antara lain didapatkan dari; pasangan, keluarga, dan masyarakat. Dukungan sosial yang paling dekat dengan ibu hamil adalah dari pasangannya (suami). Dukungan (motivasi) atau dukungan suami berperan sangat besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Jika suami mengharapkan adanya kehamilan, maka memperlihatkan dukungannya dalam berbagai hal mempengaruhi ibu menjadi lebih percaya diri, lebih bahagia, menunjukkan kesiapan dan lebih kuat secara mental untuk menghadapi segala hal kehamilan, persalinan dan masa nifas.
 Dukungan sosial didapat oleh ibu hamil dari tiga pihak yaitu suami, keluarga, dan tenaga kesehatan. Dukungan dari keluarga merupakan dukungan terbesar kedua yang dibutuhkan ibu setelah dukungan suami. Dengan mendapatkan dukungan dari keluarga, ibu akan merasa diperhatikan dan dihargai selama masa kehamilannya. Ibu hamil yang memiliki dukungan yang tinggi akan merasa puas karena kebutuhan secara fisik dan psikologis terpenuhi. Akan tetapi, hal itu akan menjadi penghambat jika keluarga tidak memberikan dukungan terhadap ibu hamil. Dari sisi kesehatan, hormonal wanita saat hamil, dapat merubah mood untuk melakukan sesuatu selama kehamilannya berlangsung. Hal ini normal, tetapi seharusnya tidak terlalu konsentrasi terhadap hal – hal tersebut karena dapat membuat keadaan ibu hamil menjadi lebih sulit mengurangi rasa jenuh maupun tertekan. Walaupun dukungan datang dari orang – orang terdekat tetapi jika sudah tidak ada keinginan dari diri sendiri untuk melakukan sesuatu maka semuanya akan percuma (Andryana. R, 2015).
Sebagaimana penelitian yang dilakukan Johanna Gladieux terhadap  pasangan suami-istri yang tengah menghadapi kehamilan di California, dukungan emosional suami terhadap istri dapat menyebabkan adanya ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri. Istri akhirnya menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dalam situasi kehamilan (dalam Dagun, 2002; Rima & Raudatussalamah, 2012). Sarason juga berpendapat bahwa orang yang memperoleh dukungan sosial akan mengalami hal-hal positif dalam hidupnya, memiliki harga diri, dan mempunyai pandangan yang lebih optimis (dalam Mujiadi, 2004; Rima & Raudatussalamah, 2012). Dukungan selama kehamilan lebih banyak manfaatnya dalam mengurangi tekanan ibu selama proses kehamilan dan persalinan, penelitian telah menunjukkan bahwa ketika wanita dalam masa kehamilan dan persalinan memiliki rasa stress, rasa aman yang menurun dan kecemasan, tidak hanya itu banyak penelitian selama 30 19 tahun terakhir menyatakan bahwa suami dapat memberikan dukungan psikologis, emosional dan moral. Demikian juga dilaporkan bahwa suami memiliki fungsi penting dalam mendukung ibu hamil selama kehamilan dan persalinan (Magrabi & Mohamed, 2012). Menurut Gottlieb sumber dukungan sosial dapat dibagi menjadi dua macam:
a. Hubungan seseorang dengan professional. Maksudnya adalah seseorang yang ahli dibidangnya, misalnya seorang tenaga kesehatan dengan ibu hamil sehingga membentuk interaksi sosial.
 b. Hubungan seseorang dengan nonprofessional, misalnya suami, anggota keluarga lainnya seperti anak, teman dan kerabat dekat. Sehingga terbentuk interaksi antara ibu hamil dengan orang – orang terdekat.
Dalam penelitian Mullany et al. (2007) dan Fatimah (2009) juga memiliki pendapat serupa bahwa dukungan dari keluarga terutama suami dalam mengikuti kelas ibu hamil sangat berpengaruh besar pada ibu hamil. Masyarakat yang kurang pengetahuan tentang kelas ibu hamil cenderung tidak mendukung kegiatan kelas ibu hamil dan masyarakat masih menganggap kelas ibu hamil itu merupakan pekerjaan orang kesehatan saja, sehingga hal tersebut mempengaruhi partisipasi ibu dalam kegiatan kelas ibu hamil. Hasil dari beberapa penelitian tersebut juga sesuai dengan konsep yang dinyatakan oleh Mullany et al., (2007) bahwa keluarga atau orang terdekat merupakan perantara yang efektif dan mampu memberikan kemudahan seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena keluarga, terutama suami juga memiliki peran dalam menentukan keputusan untuk memelihara kesehatan para anggota keluarganya.
 Jadi dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah segala bentuk tindakan dan ucapan yang bersifat membantu dengan melibatkan emosi, informasi, instrumentasi dan appresiasi (penilaian positip) pada individu dalam mengahadapi masalahnya. Salah satu peran serta suami atas kehadiran ibu hamil ketika melakukan kelas senam hamil yaitu dengan memberikan motivasi kepada ibu berupa dukungan secara psikologis dan dukungan nyata terhadap ibu agar dapat berpartisipasi dalam program senam hamil (Mullany et al., 2007; Redshaw & Henderson 2013).

Bentuk Dukungan Sosial (skripsi dan tesis)


Dukungan sosial juga merupakan cara yang paling efektif yang dapat digunakan seseorang untuk menyesuaikan diri dari peristiwa yang sulit dan penuh tekanan (Kim, Sherman & Taylor, 2008). Menurut Sarason (dalam Kuntjoro, 2002; Rima & Raudatussalamah ,2012) dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian, dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Menurut Brownel & Shumaker (dalam Sulistyawati, 2010; Rima & Raudatussalamah, 2012) terdapat efek tidak langsung dari dukungan sosial berarti dukungan sosial mempengaruhi kesejahteraan individu dengan mengurangi tingkat keparahan stress dari suatu peristiwa. Dukungan sosial memiliki dua komponen mendasar yaitu jumlah individu yang tersedia dimana salah satu individu dapat mengandalkan pada saat dibutuhkan dan tingkat kepuasaan individu pada saat memberi dukungan. Kepuasaan dengan dukungan sosial dipengaruhi oleh faktor kepribadian seperti harga diri dan perasaan control atas lingkungan sekitar (Abadi.L, 2012). Dukungan sosial dapat diperoleh dari sejumlah orang yang dianggap penting (Significant others) seperti suami, anak, orangtua, saudara atau kerabat dan teman akrab (dalam Kumolohadi, 2001; Rima & Raudatussalamah, 2012).
Menurut House dan Kahn (dalam Kumolohadi, 2001; Rima & Raudatussalamah, 2012) mengungkap bentuk-bentuk dukungan sosial yaitu, dukungan emosional, dukungan ini ditunjukkan melalui ekspresi empati, perhatian dan kepedulian terhadap seseorang. Dukungan Penghargaan, ditunjukkan melalui ekspresi orang lain tentang pandangan yang positif terhadap seseorang, dorongan atau persetujuan terhadap gagasan dan perasaan seseorang. Dukungan Instrumental, melibatkan bantuan langsung seperti memberikan atau meminjamkan uang atau membantu mengerjakan tugas. Dukungan Informasi, yaitu pemberian nasehat, pengarahan, saran atau umpan balik mengenai apa yang dapat dilakukan. Dukungan sosial melibatkan hubungan sosial yang berarti, sehingga dapat menimbulkan pengaruh positif bagi penerimanya. Ganster dan Victor (dalam Rustiana, 2006; Rima Rima & Raudatussalamah, 2012) mencatat bahwa dukungan 15 sosial dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa dukungan sosial turut mempengaruhi kesehatan fisik. Menurut House dan Khan (dalam Mujiadi, 2004 ; Rima & Raudatussalamah, 2012), dukungan sosial mampu menolong individu mengurangi pengaruh yang merugikan dan dapat mempertahankan diri dari pengaruh negatif. Pada masa kehamilan dukungan sosial dari suami sangat diperlukan oleh ibu hamil, agar ibu hamil menjadi bahagia dan menghayati masa kehamilannya dengan tenang sehingga ibu dapat termotivasi menjaga kesehatan selama kehamilan.
Bentuk dukungan sosial menurut Cohen & Hoberman (dalam Isnawati & Suhariadi, 2013) yaitu:
A. Appraisal Support Yaitu adanya bantuan yang berupa nasehat yang berkaitan dengan pemecahan suatu masalah untuk membantu mengurangi stressor.
 B. Tangiable Support Yaitu bantuan yang nyata yang berupa tindakan atau bantuan fisik dalam menyelesaikan tugas
 C. Self Esteem Support Dukungan yang diberikan oleh orang lain terhadap perasaan kompeten atau harga diri individu atau perasaan seseorang sebagai bagian dari sebuah kelompok dimana para anggotanya memiliki dukungan yang berkaitan dengan self-esteem seseorang.
D. Belonging Support Menunjukkan perasaan diterima menjadi bagian dari suatu kelompok dan rasa kebersamaan.  Sedangkan menurut Cutrona & Gardner (2004) dan Uchino (2004) (dalam Sarafino, 2011) dijelaskan secara rinci terdapat empat bentuk dukungan sosial, yaitu:
a. Emotional Support
Mencakup ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan sehingga individu merasa nyaman, aman, juga merasa dicintai saat individu sedang mengalami tekanan atau dalam keadaan stress.
b. Esteem Support
Dukungan ini ada ketika seseorang memberikan penghargaan positif kepada orang yang sedang mengalami stress, dorongan atau persetujuan terhadap ide ataupun perasaan individu, ataupun melakukan perbandingan positif antara individu dengan orang lain. Dukungan ini dapat menyebabkan individu yang menerima dukungan membangun rasa menghargai dirinya, percaya diri, dan merasa bernilai. Dukungan jenis ini sangat berguna ketika individu mengalami stress karena tuntutan tugas yang lebih besar daripada kemampuan yang dimilikinya.
c. Tangiable or Instrumental Support
Dukungan yang berupa bantuan secara langsung dan nyata seperti berupa materi atau jasa.Misalnya memberi atau meminjamkan uang atau membantu meringankan tugas orang yang sedang mengalami stress. Dengan adanya bantuan yang mengacu pada ketersediaan peralatan, materi atau jasa dapat membantu mengatasi permasalahan – permasalahan yang bersifat prakits.
 d. Informational Support
Mencakup memberi nasehat. Petunjuk, saran ataupun umpan balik, sehingga dapat mengarahkan bagaimana individu memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam konsep teori Sarafino, terdapat Companionship Support yaitu dukungan yang mencakup pada ketersedian kelompok untuk menghabiskan waktu secara bersama. Dengan demikian dapat memberikan rasa kebersamaan dalam suatu kelompok untuk melakukan aktivitas sosial bersama. Dukungan ini menyebabkan individu merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dimana anggota – anggotanya dapat saling berbagi

Tujuan Dukungan Sosial Selama Kehamilan (skripsi dan tesis)


Dukungan selama masa kehamilan sangat dibutuhkan bagi seorang wanita yang sedang hamil, terutama dari orang terdekat apalagi bagi ibu yang baru pertama kali hamil. Seorang wanita merasa tenang dan nyaman dengan adanya dukungan dan perhatian dari orang – orang terdekat. Aspek dukungan sosial menurut House (Handono, 2013 dalam Meilianawati 2015) yaitu:
 a. Dukungan emosional, yaitu mencakup ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan.
b. Dukungan penghargaan, yaitu terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan) positif bagi orang itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu, dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain.
c. Dukungan instrumental, yaitu mencakup bantuan langsung untuk mempermudah perilaku yang secara langsung untuk mempermudah perilaku secara langsung menolong individu. Misalnya bantuan benda, pekerjaan, dan waktu.
d. Dukungan informatif, yaitu mencakup pemberian nasehat, saran-saran, atau umpan balik. Menurut Taylor (dalam King, 2010; Rima & Raudatussalamah, 2012) dukungan sosial adalah informasi, dan umpan balik dari orang lain yang menunjukkan bahwa seseorang dicintai, diperhatikan, dihargai, dihormati dan dilibatkan dalam jaringan komunikasi.
Dukungan sosial juga merupakan cara yang paling efektif yang dapat digunakan seseorang untuk menyesuaikan diri dari peristiwa yang sulit dan penuh tekanan. Saat hamil merupakan saat yang sensitive bagi seorang wanita, jadi sebisa mungkin seorang suami memberikan suasana yang mendukung perasaan istri, mislanya dengan mengajak istri jalan – jalan ringan, menemani istri 13 kedokter untuk memeriksakan kehamilannya serta tidak membuat masalah dalam komunikasi (Astuti, H dalam Subketi I, 2016).
Menurut (Romana, T dalam Subekti I, 2016) yang dapat dilakukan para suami dan memperhatikan kebutuhan aman dan nyaman pada istri selama masa kehamilan yaitu salah satunya dengan bersama – sama hadir dalam kursus kelas ibu hamil atau mengantar istri ke tempat senam hamil. Dukungan selama masa kehamilan sangat dibutuhkan bagi seorang wanita yang sedang hamil, terutama dari orang terdekat apalagi bagi ibu yang baru pertama kali hamil. Seorang wanita akan merasa tenang dan nyaman dengan adanya dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat. Suami sebagai seorang yang paling dekat, dianggap paling tahu kebutuhan istri. Saat hamil wanita mengalami perubahan baik fisik maupun mental. Tugas penting suami yaitu memberikan perhatian dan membina hubungan baik dengan istri, sehingga istri mengkonsultasikan setiap saat dan setiap masalah yang dialaminya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama masa kehamilan (Astuti, H dalam Subekti I, 2016). Keterlibatan suami dalam kesehatan reproduksi telah dipromosikan sebagai strategi baru yang menjanjikan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Dalam penyediaan layanan perawatan antenatal terfokus, salah satu elemen penting yaitu promosi keterlibatan suami dalam proses perawatan antenatal (Gebrehiwot, dkk 2012

Pengertian Dukungan Sosial (skripsi dan tesis)


Menurut Sarafino (Rokhimah, dalam Meilianawati 2015) dukungan sosial adalah derajat dukungan yang diberikan kepada individu khususnya sewaktu dibutuhkan oleh orang – orang yang memiliki hubungan emosional yang dekat dengan orang tersebut, dukungan sosial dapat merujuk pada kenyamanan, kepedulian, harga diri atau segala bentuk bantuan yang diterima individu dari orang lain atau kelompok. Menurut Gonollen dan Bloney (dalam As’ar, 2008), dukungan sosial adalah derajat dukungan yang diberikan kepada individu khususnya sewaktu dibutuhkan oleh orang – orang yang memiliki hubungan emosional yang dekat dengan orang tersebut. Dukungan sosial merupakan transaksi interpersonal yang mencakup afeksi positif, penegasan, dan bantuan berdasarkan pendapat lain. Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan mengenai peranan atau pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain yang berarti seperti keluarga, teman, saudara, dan rekan kerja. Menurut Brownel dan Shumaker (dalam Sulistyawati, 2010; Rima & Raudatussalamah, 2012) terdapat efek tidak langsung dari dukungan sosial berarti dukungan sosial memperngaruhi kesejahteraan individu dengan mengurangi tingkat keparahan stress dari suatu peristiwa. Dukungan sosial melibatkan hubungan sosial yang berarti, sehingga dapat menimbulkan pengaruh positif bagi si penerimanya. Menurut Ganster dan Victor (dalam Rustiana, 2006; Rima & Raudatussalamah, 2012) mencatat bahwa dukungan sosial dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa dukungan sosial turut mempengaruhi kesehatan fisik (Rustiana, dalam Rima & Raudatussalamah, 2012).

Dampak Kecemasan (skripsi dan tesis0


Dampak kecemasan terhadap sistem saraf sebagai neuro transmitter
terjadi peningkatan sekresi kelenjar norepinefrin, sero tonin, dan gama
aminobuyric acid sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan
(Murdiningsih & Ghofur, 2013: 189):
a. Fisik (fisiologis),
Dampak fisiologis yang dialami antara lain perubahan denyut jantung,
suhu tubuh, pernafasan, mual, muntah, diare, sakit kepala, kehilangan
nafsu makan, berat badan menurun ekstrim, kelelahan yang luar biasa;
b. Gejala gangguan tingkah laku,
gejala gangguan tingkah laku yang dialamai antara lain aktivitas
psikomotorik bertambah atau berkurang, sikap menolak, berbicara
kasar, sukar tidur, gerakan yang aneh-aneh;
c. Gejala gangguan mental, antara lain kurang konsentrasi, pikiran
meloncat-loncat, kehilangan kemampuan persepsi, kehilangan ingatan,
phobia, ilusi dan halusinasi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan (skripsi dan tesis)


Terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya kecemasan, yaitu
pengalaman yang negatif pada masa lalu dan fikiran yang tidak rasional
(Ghufron & Risnawita, 2011: 145).
1. Pengalaman negatif pada masa lalu
Pengalaman ini merupakan hal yang tidak menyenangkan pada
masa lalu mengenai peristiwa yang dapat terulang lagi pada masa
mendatang, apabila individu tersebut mengahadapi situasi atau kejadian
yang sama dan juga tidak menyenangkan, misalnya pernah gagal dalam
tes. Hal tersebut merupakan pengalaman umum yang menimbulkan
kecemasan siswa dalam mengahadapi tes.
2. Pikiran yang tidak Rasional
Para psikolog memperdebatkan bahwa kecemasan terjadi bukan
karena suatu kejadian, melainkan kepercayaan atau keyakinan tentang
kejadian itulah yang menjadi penyebab kecemasan.
Elis (dalam Ghufron & Risnawita, 2011: 146) memberi daftar
kepercayaan atau keyakinan kecemasan sebagai contoh dari pikiran tidak
rasional yang disebut buah pikiran yang keliru, yaitu kegagalan katastropik,
kesempurnaan, persetujuan, dan generalisasi yang tidak tepat.
1. Kegagalan Katastropik
Kegagalan katastropik adalah adanya asumsi dari diri individu bahwa
akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya. Individu mengalami
kecemasan dan perasaan-perasaan ketidakmampuan serta tidak
sanggup mengatasi permasalahannya.
2. Kesempurnaan
Setiap individu menginginkan kesempurnaan. Individu ini
mengharapkan dirinya berperilaku sempurna dan tidak ada ada cacat.
Ukuran kesempurnaan dijadikan target dan sumber inspirasi bagi
individu tersebut.
3. Persetujuan
Persetujuan adalah adanya keyakinan yang salah didasarkan pada ide
bahwa terdapat hal virtual yang tidak hanya diinginkan, tetapi juga
untuk mencapai persetujuan dari sesama teman atau siswa.
4. Generalisasi yang tidak tepat
Keadaan ini juga memberi istilah generalisasi yang berlebihan. Hal ini
terjadi pada orang yang mempunyai sedikit pengalaman.
Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan
adalah faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal meliputi tingkat
religiusitas yang rendah, rasa pesimis, takut gagal, pengalaman negatif masa
lalu, dan pikiran yang tidak rasional. Sementara faktor eksternal seperti
kurangnya dukungan sosial.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain, adalah
sebagai berikut (Murdiningsih & Ghofur, 2013: 185-187):
a. Faktor-faktor instrinsik, antara lain:
1. Usia
Gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih sering
pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sebagian besar
kecemasan terjadi umur 21-45 tahun.
2. Pengalaman menjadi pengobatan
Pengalaman awal dalam pengobatan merupakan pengalamanpengalaman
yang sangat berharga yang terjadi pada individu
terutama untuk masa-masa yang akan datang. Pengalaman awal
ini sebagai bagian penting dan bahkan sangat menentukan bagi
kondisi mental individu di kemudian hari. Apabila pengalaman
individu tentang kemotrapi kurang, maka cnederung
mempengaruhi peningkatan kecemasan saat mengahadapi
tindakan kemotrapi.
3. Konsep diri dan peran
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
yang diketahui individu terhadap dirinya dan mempangaruhi
individu berhubungan dengan orang lain. Peran adalah pola sikap
perilaku dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan
peran seperti kejelasan perilaku dan pengatahuan yang sesuai
dengan peran, konsisitensi respon yang orang yang sesuai dengan
yang berarti terhadap peran, kesesuaian dan keseimbangan antara
yang dijalaninya. Juga keselarasan budaya dan harapan individu
trhadap perilaku peran. Seseorang yang mempunyai peran ganda
baik dalam keluarga atau masyarakat memiliki kecenderungan
mengalami kecemasan yang berlebih disebabkan konsentrasi
terganggu.
b. Faktor-faktor ekstrinsik, antara lain:
1) Kondisi medis (diagnosis penyakit)
Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan kondisi
medis sering ditemukan walaupun indensi gangguan bervariai
untuk masing-masing kondisi medis.
2) Tingkat pendidikan
Pendidikan bagi setiap orang memiliki arti masing-masing.
Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir,
pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan. Tingkat
pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi
stresor dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat
pendidikan juga mempengaruhi kesadaran dan pemahaman
terhadap stimulus.
3) Akses informasi
Adalah pemberitahuan tentang sesuatu agar orang membentuk
pendapatnya berdasarkan sesuatu yang dikatahuinya. Informasi
adalah segala penjelasan yang didapatkan pasien sebelum
pelaksanaan tindakan kemoterapi, terdiri dari tujuan kemoterapi,
proses kemoterapi, resiko dan komplikasi serta alternaif tindakan
yang tersedia, serta proses administrasi.
4) Proses adaptasi
Tingkat adaptasi manusia dipengaruhi oleh stimulus internal dan
eksternal yang dihadapi individu dan membutuhkan respon
perilaku yang terus menerus. Proses adaptasi sering menstimulasi
individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber-sumber di
lingkungan.

Tingkat Kecemasan (skripsi dan tesis)


Tingkat kecemasan yang dikemukakan oleh Townsend (dalam
Ihdaniyati & Nur A 2008: 164-165) ada empat tingkat, yaitu:
1. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan
sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. Manifestasi
yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, kesadaran
meningkat, mampu untuk belajar, motivasi meningkat, dan tingkah
laku sesuai situasi.
2. Kecemasan sedang
Kecemasan pada tahap ini adalah kelelahan meningkat, denyut
jantung dan pernafasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara
cepat dengan volume tinggi, mampu untuk belajar tetapi tidak terfokus
pada rangsang yang tidak menambah kecemasan, mudah tersinggung,
tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis.
3. Kecemasan berat
Kecemasan pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala,
mual, tidak dapat tidur, sering kencing, diare, palpitasi, tidak mau
belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri, perasaan tidak
berdaya, bingung dan disorientasi.
4. Panik
Panik hubungan dengan terpengaruh, ketakutan, teror karena
mengalami kehilangan kendali. Orang-orang yang sedang panik tidak
mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan
gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernafas, dilatasi
pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembiacaraan inkoheren, tidak
dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak-teriak,
menjerit, mengalami halusinasi dan delusi. Panik dapat
mengakibatkan peningkatan motorik, penurunan kemampuan
berhubungan dengan orang lain, dan tidak mampu berpikir rasional.

Reaksi Yang Ditimbulkan Oleh Kecemasan (skripsi dan tesis)


Calhoun & Acocella (dalam Safaria & Saputra 2012: 55)
mengemukakan aspek-aspek kecemasan yang dikemukakan dalam tiga
reaksi, yaitu sebagai berikut:
1. Reaksi emosional, yaitu komponen kecemasan yang berkaitan dengan
persepsi individu terhadap pengaruh psikologis dari kecemasan,
seperti perasaan keprihatinan, ketegangan, sedih, mencela diri sendiri
atau orang lain.
2. Reaksi kognitif, yaitu ketakutan dan kekhawatiran yang berpengaruh
terhadap kemampuan berpikir jernih sehingga mengaganggu dalam
memecahkan masalah dan mengatasi tuntutan lingkungan sekitarnya.
3. Reaksi fisiologis, yaitu reaksi yang ditampilkan oleh tubuh terhadap
sumber ketakutan dan kekhawatiran. Reaksi ini berkaitan dengan
sistem syaraf yang mengendalikan berbagai otot dan kelenjar tubuh
sehingga timbul reaksi dalam bentuk jantung berdetak lebih keras,
nafas bergerak lebih cepat, tekanan darah meningkat.
Blackburn & Davidson (dalam Safaria & Saputra 2012: 56)
mengemukakan, reaksi kecemasan dapat mempengaruhi suasana hati, pikiran,
motivasi, perilaku, dan gerakan biologis. Hal ini dapat dilihat dalam analisis
gangguan fungsional yang dibuat Blackburn dan Davidson

Bentuk-Bentuk Kecemasan (skripsi dan tesis)


Kecemasan terdapat dua bentuk, yaitu sebagai trait anxiety dan state
anxiety. Kecemasan sebagai trait anxiety yaitu kecenderungan pada diri
seseorang untuk merasa terancam oleh sejumlah kondisi yang sebenarnya
tidak bahaya. Kondisi tersebut memang pada dasarnya individu mempunyai
cemas dibanding dengan individu yang lain. Kecemasan sebagai state
anxiety, yaitu keadaan dan kondisi emosional sementara pada diri seseorang
yang ditandai dengan perasaan tegang dan khawatir yang dirasakan dengan
sadar serta bersifat subjektif dan meningginya aktivitas sistem syaraf
otonom, sebagai suatu keadaan yang berhubungan dengan situasi-situasi
lingkungan khusus (Safaria & Saputra, 2012: 53).

Dinamika Kecemasan (skripsi dan tesis)


Individu yang mengalami kecemasan dapat dipengaruhi oleh beberapa
hal, yaitu diantaranya adalah karena adanya pengalaman negatif perilaku
yang telah dilakukan, seperti kekhawatiran akan adanya kegagalan, merasa
frustasi dalam situasi tertentu dan ketidakpastian melakukan sesuatu.
Dinamika kecemasan, apabila ditinjau dari teori psikoanalisis dapat
disebabkan oleh adanya tekanan buruk perilaku masa lalu serta adanya
gangguan mental. Sedangkan apabila ditinjau dari teori kognitif, kecemasan
terjadi karena adanya evaluasi diri yang negatif. Perasaan negatif tentang
kemampuan yang dimilikinya dan orientasi diri yang negatif. Berdasarkan
pandangan teori humanistik, kecemasan merupakan kekhawatiran tentang
masa depan, yaitu khawatir pada apa yang akan dilakukan (Ghufron &
Risnawita, 2011: 144).
Jadi, dapat disimpukan bahwa kecemasan dipengaruhi oleh beberapa
hal diantaranya kekhawatiran akan kegagalan, frustasi pada hasil tindakan
masa lalu, evaluasi diri yang negatif, perasaan diri yang negatif tentang
kemampuan yang dimilikinya, dan orientasi diri yang negatif.

Aspek-aspek Kecemasan (skripsi dan tesis)


Deffenbacher & Hazaleus (dalam Ghufron & Risnawita 2011: 143)
mengemukakan bahwa sumber penyebab kecemasan, meliputi hal-hal
dibawah ini sebagai berikut:
1. Kekhawatiran (worry) merupakan pikiran negatif tentang dirinya
sendiri, seperti perasaan negatif bahwa ia lebih jelek dibandingkan
dengan teman-temannya.
2. Emosionalitas (imosionality) sebagai reaksi diri terhadap rangsangan
saraf otonomi, seperti jantung berdebar-debar, keringan dingin, dan
tegang.
3. Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generated
interference) merupakan kecenderungan yang dialami seseorang yang
selalu tertekan karena pemikiran yang rasional terhadap tugas.
Shah (dalam Ghufron & Risnawita 2011: 144), membagi kecemasan
menjadi tiga komponen, yaitu diantaranya:
1. Komponen fisik meliputi pusing, sakit perut, tangan berkeringat, perut
mual, mulut kering, grogi, dan lain-lain.
2. Emosional yaitu perasaan panik dan takut.
3. Mental atau kognitif yaitu berupa gangguan perhatian dan memori,
kekahwatiran, ketidakteraturan dalam berpikir, dan bingung.
Menurut Trismiati (2004) Manifestasi kecemasan terwujud dari empat
hal, yaitu sebagai berikut:
1. Manifestasi kognitif
Yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan
tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi.
2. Perilaku motorik
Kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti
gemetar.
3. Perubahan somatik
Muncul dalam keadaan mulut kering, tangan dan kaki dingin, diare,
sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah, dan lainlain.
Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan detak jantung,
4. Afektif
Diwujudkan dalam perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang
berlebihan.

Dimensi Kecemasan (skripsi dan tesis)


Menurut Sarason (dalam Cassady & Johnson, 2002: 271) terdapat
dua dimensi kecemasan yaitu emosionalitas dan kekhawatiran. Emosionalitas
diketahui dengan respon fisiologis yang meliputi peningkatan galvanic repon
kulit & denyut jantung, pusing, mual, perasaan panik. Sedangkan
kekhawatiran meliputi membandingkan kinerja diri dengan teman-teman,
mempertimbangkan konsekuensi dari kegagalan, khawatir berlebihan atas
evaluasi, percaya diri rendah, merasa tidak siap untuk tes, kehilangan harga
diri dan kesedihan kepada orang tua

Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)


Mereka yang sedang menunggu suatu berita yang penting, atau
mereka yang hidup dalam situasi yang sulit diperkirakan, seringkali akan
merasakan suatu kecemasan, suatu kondisi umum saat kita sedang berusaha
mengantisipasi sesuatu, atau ketegangan psikologis.
Nietzal (dalam Ghufron & Risnawita 2011: 141) berpendapat bahwa
kecemasan berasal dari bahasa latin (anxius) dan dari bahasa jerman (anst),
yaitu suatu kata yang digunakan untuk menggambarkan efek negatif dan
rangsangan fisiologis. Sedangkan menurut Muchlas (dalam Ghufron &
Risnawita 2011: 142) mendefinisikan istilah kecemasan sebagai sesuatu
pengalaman subjektif mengenai ketegangan mental kesukaran dan tekanan
yang menyertai konflik atau ancaman.
Menurut Prawirohusodo (dalam Ihdaniyati & Nur A, 2008: 164)
kecemasan adalah pengalaman emosi yang tidak menyenangkan, datang dari
dalam dan bersifat meningkat, menggelisahkan dan menakutkan yang
dihubungkan dengan sesuatu ancaman bahaya yang tidak diketahui oleh
individu. Perasaan ini dosertai dengan komponen-komponen somatik,
fisiologik, otonomik, biokimiawi, hormonal, dan perilaku.
Sarason (dalam Cassady & Johnson, 2002: 271) mengemukakan
bahwa :
“Kecemasan adalah ketika dalam situasi evaluatif atau dalam
kinerja yang terdiri dari gabungan dari peningkatan aktivitas
fisiologis dan perenungan mencela diri sendiri”

Dukungan Sosial Perspektif Islam (skipsi dan tesis)


Dukungan sosial adalah bentuk bantuan yang diberikan oleh individu
satu kepada individu yang lain. Bentuk bantuan yang dimaksud adalah bentuk
bantuan yang terlihat dan pemberian rasa cinta, kasih sayang dan kenyamanan
kepada seseorang. Dalam islam dukungan sosial disebut dengan tolong
menolong (Ta’awun). Tolong menolong sangat dianjurkan dalam agama
islam, hal itu mengingatkan bahwa manusia adalah makluk sosial yang
diciptaan Allah SWT yang kiranya tidak bisa hidup sendirian dan pasti akan
memerlukan bantuan orang lain. Oleh karena itu di dalam Al-Qur’an
hubungan sosial dibedakan menjadi tiga hubungan yaitu hubungan manusia
dengan tuhan (hablumminallah), hubungan manusia dengan diri sendiri, dan
hubungan manusia dengan sesama manusia (hablumminannas).
Hubungan manusia dengan tuhan (hablumminallah) adalah
perwujudan ibadah yang dilakukan oleh manusia yaitu berupa menjalan semua
perintah Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah SWT.
Hubungan manusia dengan diri sendiri adalah bagaimana manusia tersebut
memperlalukan dirinya sendiri dengan baik dan bagaimana manusia tersebut
mengembangkan segala kemampuan yang dimiliki. Sedangkan hubungan
manusia dengan manusia yang lain (hablumminannas) adalah bentuk perilaku
seseorang kepada seseorang yang lain yaitu berupa menolong yang lain
apabila kesusahan. Berikut adalah ayat yang berhubungan dengan dukungan
sosial, yaitu QS. Al-Maidah ayat 2 dan ayat 80, sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar
syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram,
jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang
qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi
Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya
dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah
berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum
karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam,
mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu
kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”. (Al-Qur’an
dan Terjemahnya. QS. Al-Maidah 2: 106)
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan
orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya Amat buruklah apa yang
mereka sediakan untuk diri mereka, Yaitu kemurkaan Allah kepada
mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan” (Al-Qur’an Terjemahnya.
QS.Al-Maidah 80: 121)
Kandungan dari ayat diatas adalah manusia dianjurkan untuk
melakukan tolong menolong kepada sesama manusia dalam hal kebaikan,
yang yang berguna bagi individu berhubungan dengan ketakwaan manusia,
dan tidak diperkenankan untuk melakukan tolong menolong dalam hal
kejelekan yang tidak bermanfaat bagi individu

Dukungan sosial sebagai kognisi atau fakta sosial (skripsi dan tesis)


Penelitian menegaskan bahwa adanya jaringan sosial yang kuat
(bersifat mendukung) itu berhubungan secara positif dengan kesehatan. Hal
ini akan menguatkan hipotesis bahwa dukungan sosial itu merupakan
variabel lingkungan. Definisi operasional tentang dukungan sosial dalam
konteks ini berasal dari Gottieb (dalam Smet 1994: 135):
“ .... Dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal
adan/atau non-verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang
diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karfena kehadiran
mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku
bagi pihak penerima....”
Orientasi subyektif yang memperlihatkan bahwa dukungan sosial itu
terdiri atas informasi yang menuntut orang meyakini bahwa ia diurus dan
disayangi setiap infromasi apapun dari lingkungan sosial yang
mempersiapkan persepsi subyek bahwa ia penerima efek positif, penegasan,
atau bantuan, menandakan ungkapan dukungan sosial.