Tampilkan postingan dengan label Judul Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judul Psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2018

Dimensi Dalam Agresivitas (konsultasi skripsi dan tesis)

Buss dan Perry (1992) mengatakan bahwa ada empat macam agresi, yaitu:
1)        Agresi fisik adalah agresi yang dilakukan untuk melukai orang lain secara fisik. Hal ini termasuk memukul, menendang, menusuk, membakar, dan sebagainya.
2)        Agresi verbal adalah agresi yang dilakukan untuk melukai orang lain secara verbal. Bila seorang mengumpat, membentak, berdebat, mengejek, dan sebagainya, orang itu dapat dikatakan sedang melakukan agresi verbal.
3)        Kemarahan hanya berupa perasaan dan tidak mempunyai tujuan apapun. Contoh seseorang dapat dikatakan marah apabila apabila dia sedang merasa frustrasi atau tersinggung
Kebencian adalah sikap yang negatif terhadap orang lain karena penilaian sendiri yang negatif. Contohnya adalah seseorang curiga kepada orang lain karena orang lain tersebut baik dan lain sebagainya
Buss (dalam Bukhori, 2008) mengklasifikasikan agresivitas yaitu agresivitas secara fisik dan verbal, secara aktif maupun pasif, secara langsung maupun tidak langsung. Tiga klasifikasi tersebut masing-masing saling berinteraksi, sehingga menghasilkan bentuk-bentuk agresivitas.Pendapat ini dikemukakan oleh Buss ada 8 agresivitas yaitu;
1)        Agresivitas fisik aktif yang dilakukan secara langsung misalnya menusuk, memukul, mencubit.
2)        Agresivitas fisik aktif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya menjebak untuk mencelakakan orang lain.
3)        Agresivitas fisik pasif yang dilakukan secara langsung misalnya memberikan jalan untuk orang lain.
4)        Agresivitas fisik pasif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya menolak melakukan sesuatu.
5)        Agresivitas verbal aktif secara langsung misalnya mencaci maki orang lain menusuk, memukul.
6)        Agresivitas verbal aktif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya menyebarkan gosip yang tidak benar kepada orang lain.
7)        Agresivitas verbal pasif yang dilakukan secara langsung misalnya tidak mau berbicara pada orang lain.
8)        Agresivitas verbal pasif fisik aktif yang dilakukan secar tidak langsung misalnya diam saja meskipun tidak setuju.
Perilaku agresi menurut Myers (2002). Agresi dibagi menjadi dua tipe yaitu:
a.         Agresi Instrumental (Instrumental aggression)
Yaitu agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat untuk mencapai tujuan.
b.    Agresi benci (Hostile Aggression)
 Adalah agresi yang di lakukan semata – mata sebagai pelampiasan keinginan untuk menimbulkan efek kerusakan, kesakitan atau kematian pada sasaran atau korban.
Buzz & Perry (dalam Abd-El-Fattah, 2007:237) membagi tipe agresivitas menjadi empat kelompok yaitu:
a.         Physical agression, yaitu tindakan menyakiti, mengganggu, atau membahayakan orang lain melalui respon motorik dalam bentuk fisik.
b.        Verbal agression, yaitu tindakan menyakiti, mengganggu, atau membahayakan orang lain melalui respon motorik dalam bentuk verbal.
c.         Anger, merupakan suatu bentuk reaksi afektif berupa dorongan fisiologis sebagai tahap persiapan agresi. Beberapa bentuk anger adalah perasaan marah, kesal, sebal, dan bagaimana mengontrol hal tersebut. Termasuk di dalamnya adalah irritability, yaitu mengenai temperamental, kecenderungan untuk cepat marah, dan kesulitan mengendalikan amarah
d.        Hostility, yaitu tergolong kedalam agresi covert (tidak kelihatan). Hostility mewakili komponen kognitif yang terdiri dari kebencian seperti cemburu dan iri terhadap orang lain, dan kecurigaan seperti adanya ketidakpercayaan, kekhawatiran.

Pengertian Agresivitas (konsultasi skripsi dan tesis)

Kartono (2005) menyatakan bahwa perilaku agresif merupakan reaksi primitif dalam bentuk kemarahan hebat dan ledakan emosi tanpa terkendali, serangan, kekerasan, tingkah laku kegila-gilaan dan sadistis. Lebih lanjut Mahmudah (2010) menyatakan bahwa perilaku agresif merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain. Myers (2002) menjelaskan bahwa agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai obyek yang menjadi sasaran agresi. Secara umum, agresi adalah tanggapan yang mampu memberikan stimulus merugikan atau merusak terhadap organisme lain.
Kaplan, Santrock, dan Grebb (2003) menjelaskan bahwa agresi adalah tipe bentuk perilaku yang diarahkan pada tujuan menyakiti atau melukai orang lain. Agresi sendiri menurut Berkowitz (2003) selalu mengacu pada beberapa jenis perilaku, baik secara fisik maupun simbolis, yang dilakukan dengan tujuan menyakiti. Murray (dalam Chaplin, 2004) mengatakan bahwa agresif adalah kebutuhan untuk menyerang, memperkosa atau melukai orang lain untuk meremehkan, merugikan, mengganggu, membahayakan, merusak, 16 menjahati, mengejek, mencemoohkan atau menuduh secara sehat, menghukum berat atau melakukan tindakan sadis lainnya. Dayakisni dan Hudaniah (2006) mengartikan agresi sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh suatu organism terhadap organism lain, objek lain dan bahkan dirinya sendiri. Chaplin (2004) mengatakan bahwa agresif adalah satu serangan atau serbuan tindakan permusuhan yang ditujukan pada seseorang atau benda.

Aspek Dalam Kontrol Diri (konsultasi skripsi dan tesis)

Berdasarkan konsep Averill (Devinthia, 2008) terdapat tiga jenis kontrol diri yang meliputi lima aspek, yaitu :
a.         Kemampuan mengontrol perilaku (Behavioral Control)
Kemampuan mengontrol perilaku didefinisikan sebagai kesiapan atau tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen :
1)             Kemampuan mengontrol pelaksanaan (regulated administration), yaitu kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu diluar dirinya.
2)             Kemampuan mengontrol stimulus (stimulus modifiability), merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi.
b.        Kontrol Kognitif (Cognitive Control)
Kontrol kognitif yaitu kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen:
1)             Kemampuan memperoleh informasi (information gain), dengan informasi yang dimiliki, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan secara relatif objektif.
2)             Kemampuan melakukan penilaian (appraisal), yaitu melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara objektif.
c.         Kemampuan Mengontrol Keputusan (Decisional Control).
Kemampuan mengontrol keputusan merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.
Menurut Block and Block (dalam Ghufron, 2011) ada tiga jenis kontrol yaitu:
a.    Over control, yaitu kontrol yang berlebihan dan menyebabkan seseorang banyak mengontrol dan menahan diri untuk bereaksi terhadap suatu stimulus
b.    Under control, yaitu kecenderungan untuk melepaskan implus yang bebas tanpa perhitungan yang masak.
c.    Approprite control, yaitu kontrol yang memungkinkan individu mengendalikan implusnya secara tepat.
Dalam penelitian ini akan menggunakan pengukuran berdasarkan teori Averill (Devinthia, 2008) yang membagi kontrol diri menjadi (1) Kemampuan mengontrol perilaku (Behavioral Control) (2) Kontrol Kognitif (Cognitive Control) (3) Kemampuan Mengontrol Keputusan (Decisional Control).


Pengertian Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Chaplin (2002) kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah lakunya sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-implus atau tingkah laku yang impulsif. Kontrol diri merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi. Kemampuan untuk mengendalikan perilaku, kecenderungan untuk menarik perhatian, keinginan untuk mengubah perilaku agar sesuai untuk orang lain, selalu nyaman dengan orang lain, menutup perasaannya (Gufron & Risnawati, 2011).
Marvin R. Goldfried dan Michael Merbaum (dalam Ghufron, 2011) berpendapat kontrol diri secara fungsional didefinisikan sebagai konsep dimana ada atau tidak adanya seseorang memiliki kemampuan untuk mengontrol tingkah lakunya yang tidak hanya ditentukan cara dan teknik yang digunakan melainkan berdasarkan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Menurut Goleman (2005), kontrol diri adalah ketrampilan untuk mengendalikan diri dari api-api emosi yang terlihat mencolok. Tanda-tandanya meliputi ketegangan saat menghadapi stress atau menghadapi seseorang yang bersikap bermusuhan tanpa membalas dengan sikap atau perilaku serupa. Skiner menyatakan bahwa kontrol diri merupakan tindakan diri dalam mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku. Dan tingkah laku dapat dikontrol melalui berbagai cara yaitu menghindar, penjenuhan, stimuli yang tidak disukai, dan memperkuat diri (Alwisol, 2009).
Berdasarkan dari beberapa uraian di atas maka dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud kontrol diri dalam bentuk penelitian ini adalah kemampuan seseorang untuk menahan keinginan dan mengendalikan tingkah lakunya sendiri, mampu mengendalikan emosi serta dorongandorongan dari dalam dirinya yang berhubungan dengan orang lain, lingkungan, pengalaman dalam bentuk fisik maupun psikologis untuk memperoleh tujuan di masa depan dan dinilai secara sosial

Kamis, 12 Oktober 2017

Dimensi dalam Coping (skripsi dan tesis)

Folkman (1986) memandang coping sebagai usaha yang bersifat kognitif dan behavioral yang dilakukan untuk mengatur tuntutan internal dan eksternal yang timbul dari hubungan individu dengan lingkungan yang dinilai mengganggu atau di luar batas-batas yang dimiliki individu tersebut. Ada dua dimensi strategi coping stres, yaitu:
A.    Manifestations of coping
    1. Secara kognitif
Teknik coping secara kognitif adalah untuk menggambarkan usaha intra fisik untuk menyesuaikan dengan kondisi yang stressfull dan akibatnya.
    1. Secara behavioral
Coping secara behavioral lebih kepada usaha tingkah laku yang digunakan untuk mengatasi stres.
B.     Focus of coping
a.       Problem focused coping
Biasanya digunakan untuk mengatasi dan mengatur strategi yang menjadi penyebab timbulnya stres, individu mengontrol hubungannya dengan lingkungan melalui pemecahan masalah, pembuatan keputusan, maupun tindakan langsung. Termasuk diantaranya adalah :
1.      Exercised caution (kehati-hatian), yaitu menahan diri, individu cenderung melakukan tindakan yang tidak memerlukan tantangan daripada tindakan yang mampu menyelesaikan masalah.
2.      Negotiation, diarahkan pada orang lain penyebab masalah, misalnya dengan berusaha mengubah pemikiran orang lain.
3.      Instrumental action, yang mengarah pada pemecahan masalah secara langsung.
b.      Emotional focused coping
Merupakan pemecahan sementara agar individu tidak terlalu menderita terhadap stres yang dialami untuk dicari pemecahan masalah. Meredakan dan mengelola ketegangan emosi yang muncul antara individu dengan lingkungan, misalnya :
·         Support mobilization, memperoleh informasi, saran, dan dukungan emosional dari orang lain.
·         Minimization, secara disadari berusaha untuk tidak memikirkan masalah.
·         Escapism, individu berusaha untuk menghindari stres yang dihadapi.
·         Self blame, memilih pasif daripada mencari usaha untuk keluar dari masalah.
Seeking meaning, menemukan jawaban dari perenungan

Pengertian Coping (skripsi dan tesis)

Proses yang digunakan oleh seseorang untuk mengatasi stressor dinamakan coping. Coping merupakan suatu strategi yang dikembangkan dalam mengatasi masalah yang merupakan kecenderungan tingkah laku individu untuk melindungi diri dari tekanan-tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh problematika pengalaman sosial (Lazarus, 1976). Coping adalah respon yang ditujukan terhadap stressor, baik yang berupa sikap, perasaan, atau pikiran individu dalam usaha untuk mengatasi, menahan, atau menurunkan efek negatif dari situasi yang mengancam.
Lazarus (dikutip Stone dan Neale, 1984) mengemukakan pendapat bahwa tingkah laku coping adalah tingkah laku yang mengarah pada pemecahan masalah yang paling sederhana dan realistis untuk membebaskan diri dari bahaya yang nyata dan tidak nyata (imajiner). Tingkah laku tersebut juga melibatkan pikiran-pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi dan mengontrol efek dari perasaan dan pengalaman seseorang dalam situasi yang menekan. Coping merupakan respon yang ditujukan terhadap stressor, baik itu berupa sikap, perasaan atau pikiran individu dalam usaha mengatasi, menahan atau menurunkan efek negatif dari situasi yang mengancam (Baron dan Byrne, 1991).
Perilaku coping merupakan suatu proses yang dibutuhkan setiap waktu, karena konflik akan selalu timbul. F. Cohen dan Lazarus (1972) menyatakan bahwa usaha coping bertumpu pada lima tugas utama yaitu:
  1. Mengurangi kondisi lingkungan yang mengancam dan meningkatkan kemungkinan untuk kembali ke kondisi semula.
  2. Bertahan dan menyesuaikan diri dengan kejadian negatif dan kenyataan.
  3. Memelihara self image yang positif.
  4. Menjaga keseimbangan emosional.
  5. Menjaga kelanjutan hubungan emosional yang memuaskan dengan orang lain.

Aspek dalam Harga Diri (skripsi dan tesis)

Ada empat aspek menurut Coopersmith (1967) yang menjadi  sumber pembentukan harga diri seseorang. Empat hal tersebut adalah :
  1. Keberartian (significant)
Keberartian individu nampak dari adanya penerimaan, penghargaan, perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian biasanya ditujukan dengan adanya penerimaan dari lingkungannya, ketenaran dan dukungan keluarga. Semakin banyak ekspresi kasih sayang yang diterima individu, individu akan semakin berarti. Tetapi apabila individu tidak atau jarang memperoleh stimulus positif dari orang lain, maka kemungkinan besar individu akan merasa ditolak dan mengisolasikan diri dari pergaulan.
  1. Kekuatan (power)
Kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol diri sendiri serta orang lain. Pada situasi tertentu kebutuhan ini ditunjukkan dengan adanya penghargaan, penghormatan dari orang lain. Pengaruh dan wibawa juga merupakan hal-hal yang menunjukkan adanya aspek ini pada seorang individu. Dari pihak individu, seseorang yang mempunyai kemampuan seperti ini biasanya akan menunjukkan sifat-sifat asertif dan explanatory actions yang tinggi.
  1. Kompetensi (competence)
Merupakan performance atau penampilan yang prima dalam upaya meraih kesuksesan dan keberhasilan. Dalam hal ini penampilan yang prima ditunjukkan dengan adanya skill atau kemampuan yang merata untuk semua usia. Dengan adanya kemampuan yang cukup, individu akan merasa yakin untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Individu dengan kompetensi yang bagus akan merasa setiap orang memberi dukungan padanya. Individu akan merasa mampu mengatasi setiap masalah yang dihadapinya serta mampu menghadapi lingkungannya.
  1. Kebajikan (virtue)
Adanya kesesuaian diri dengan moral dan standar etik yang berlaku di lingkungan. Kesesuaian diri dengan moral dan standar etik diadaptasi individu dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh para orang tua. Permasalahan nilai ini pada dasarnya berkisar pada persoalan benar dan salah. Bahasan tentang kebajikan juga tidak akan lepas dari segala macam pembicaraan mengenai peraturan dan norma di dalam masyarakat, juga hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta ketaatan dalam beragama

Pengertian Harga Diri (skripsi dan tesis)

Brandshaw (1981) mengatakan bahwa harga diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Yang dimaksud penilaian adalah perbandingan antara dirinya sendiri dengan suatu kelompok acuan, baik dalam kelompok dimana individu tersebut menjadi anggota maupun suatu kelompok dimana individu ingin menjadi anggota. Penilaian ini dapat berupa perasaan positif tentang dirinya, yang berarti individu tersebut memiliki harga diri yang tinggi, maupun perasaan negatif tentang dirinya, yang berarti individu tersebut memiliki harga diri yang rendah. Harga diri mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tingkah laku.
Individu dengan harga diri  yang tinggi mempunyai pemikiran yang tepat tentang kemampuan atau kualitas dirinya, berpikir positif mengenai dirinya, mempunyai tujuan yang tepat, dan mampu menggunakan feedback untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, seseorang yang mempunyai harga diri yang rendah akan berpikir negatif tentang dirinya sendiri, mempunyai gambaran diri yang kurang tepat, sering menetapkan tujuan yang tidak realistik, cenderung pesimis menghadapi masa depan, bereaksi secara emosional dan perilaku yang lebih merugikan terhadap kritik atau feedback negatif, serta lebih merisaukan tentang pengaruh sosial pada orang lain (dalam Taylor, Peplau, dan Spears, 2000).
Harga diri menurut Coopersmith (1967) adalah suatu pendapat pribadi yang pantas, yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu yang berpatokan pada dirinya sendiri. Coopersmith (dalam Elkins, 1979) juga mengemukakan bahwa kemungkinan besar syarat paling penting untuk perilaku efektif, pokok dari seluruh permasalahan adalah  harga diri. Dengan harga diri, kita menunjuk pada evaluasi yang dibuat oleh individu dan umumnya dipertahankan melalui penghargaan untuk dirinya; harga diri mengekspresikan sikap persetujuan atau ketidaksetujuan, dan menunjukkan tingkat dimana individu tersebut mempercayai bahwa dirinya mampu, signifikan, sukses, dan berharga. Secara singkat, harga diri adalah sebuah penilaian personal dari ‘keberhargaan’, yang terekspresi dalam sikap yang individu lakukan terhadap dirinya sendiri. Harga diri merupakan pengalaman subyektif yang disampaikan individu kepada orang lain secara verbal dan perilaku ekspresif overt lainnya

Senin, 18 September 2017

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RELIABILITAS (skripsi dan tesis)



Ada beberapa faktor yang mempengaruhi realibilitas. Faktor tersebut dapat dikategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi secara langsung dan secara tidak langsung. Faktor-faktor tersebut yaitu:
1.       Panjang tes dan kualitas butir-butir instrumen. Instrumen yang terdiri dari banyak butir tentu lebih reliabel dibandingkan denganisntrumenyang hanya terdiri dari beberapa butir. Jika panjang instrumen ditambah denganbutir-butir yang baik maka semakin panjang suatu instrumen maka responden akanterlalu lelah mengerjakannya. Faktor kelelahan responden ini akan menurunkan realibilitas.
2.       Kondisi penyelenggaraan pengumpulan data atau adminstrasi
a.       Sebagai contoh padapelaksanaan res, petunjuk yang diberikan sebelum tes mulai dan petunjuk ni disajikan dengan jelas, penyelenggaraan tes akan berjalan dengan lancar dan tidak akan banyak terdapat pertanyaan arau komentar dari responden. Hal ini akan menjamin pelaksnaan tes yang berjalan tertib dan teang sehingga skor yang diperoleh lebih reliabel
b.      Pengawas yan tertib akan mempengaruhi skor hasil pemerolehan responden. Pengawasan yang terlalu ketat ketika pengumpulan data menyebabkan respoden merasa kurang nyaman atau merasa taut dan tidak dapat dengan leluasa dalam merespon instrumen. Namun jika pengawasan kurang maka peserta akan bekerjasama sehingga hasil pengumpulan data kurang dapat dipercaya.
c.       Suasana lingkungan dan tempat pengumpulan data (tempat duduk yang tidak teratur, suasana disekelililngnya yang gaduh, atau tidak tenang, dan sebagainya) akan mempengaruhi realibilitas. Sebagai contoh pada pelaksanaan tes, suasana yang panas dan dekat dengan sumber kegaduhan akan mempengaruhi hasil tes.


Heri Retnawati. 2016

KESALAHAN PENGUKURAN STANDAR (Standard error of measurenment, SEM) (skripsi dan tesis)



Kesalahan baku pengukuran (Standard error of measurenment) dapat digunakna untukmemahami kesalahan yang bersifat acak/random yang mempengaruhi skor responden dalam merespon instrumen. Kesalahan pengukuran yang disimbolkan dengan σE. Penafsiran SEM dilakuakn karena tidak adanya prosedur penilaian yang sangat konsisten, interprestasi skor dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan ukuran kemungkinan kesalahan pengukuran. Interprestasi SEM digunakan untuk memprediksikan rentang skor sebenarnya yang diperoleh dari responden.

Heri Retnawati. 2016.

KONSISTENSI REALIBILITAS INTERNAL (skripsi dan tesis)



Dengan teknik konsistensi internal ini, hanya dengan melakukan satu kali pengumpulan data, realibilitas skor perangkat pengukuran dapat diestimasi. Pada pembuktian instrumen dengan cara ini ada beberapa caar, yang masing-masing dapat memerlukan  persyaratan-persyaratan atau asumsi tertentu yangharus dipenuhi oleh peneliti. Beberapa caara yang dapat digunakan untuk mengestimasi realibilitas dengan konsistensi internal diantaranya adlah sebgai berikut:
1.       Metode belah dua (split half method)
Dalam teknik belah dua, dalam satu instrumen dikerjakan satu kali oleh sejumlah subjek (sampel) suatu penelitian. Butir-butir pada perangkat dibagi menjadi dua. Pembagian dapat menggunakan nomor ganjil-genap pada instrumen atau separuh pertama maupun separuh ke dua, maupun membelah dengan menggunakan nomor acak atau tanpa pola tertentu. Skor responden merespon setengah perangkat bagian yang pertama dikrelasikan dengan skor setengah perangkat ke dua, teknik ini berpegang pada asumsi, belahan pertama dan belahan ke dua mengukur konstruk yang sama, banyaknya butir dalam instrumen belahan pertama dan kedua harus dapat dibandingkan dari sisi banyaknya butir atau paling tidak jumlahnya hampir sama
Ada  beberapa formula untuk mengestimasi realibilitas dengan metode belah dua, antara lain rumus Spearman-Brown, rumus Flanagan dan rumus Rulon.
2.       Realibilitas Komposit
Pada suatu instrumen, sering peneliti menggunakan instrumen yang terdiri dari banyak butir. Jika butir-butir ini menggunakan butir yang berbeda-beda namun membangun sutau kosntruk yang sama, maka analisis untukmengestimasi realibilitas dapat digunakan rumus realibilitas komposit. Komposit yang dimaksudkan yakni skor akhir merupakan gabungan dari skor butir-butir penyusun instrumen. Ada 3 formula yang dapat digunakan untuk mengestimasi realibilitas dengancara ini yaitu dengan menghitung koefisien dari cronbach, koefisien KR-20 dan koefisien KR-21.
3.       Realibilitas konstruk
Realibilitas konstruk ini dapat diestimasi setelah peneliti membuktikan validitas konstruk dengan analisis faktor konfirmatori sampai memperoleh model yang cocok (model yang fit). Dengana nalisis faktor ini, peneliti dapat memperoleh muatan faktor (factor loading) tiap indikator yang menyusun instrumen dan indeks kesalahan unik dari tiap indikator.
Estimasi realibilitas dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu estimasi realibilitas dengan realibilitas konstruk (construct realibilitity, CR) realibilitas ω dan realibilitas maksimal Ω.
4.       Realibilitas Inter-Rater
Jika dalam suatu isntrumen penskoran butir dilakukan dengan memanfaatkan dua orang rater, peneliti dapat megestimasi realibilitas dengan inter-rater agreement. Hasil estimasi realibilitas dengan cara ini disebut dengan realibilitas inter-rater. Adapaun cara mengestimasinya dengan menghitung terlebih dahulu banyaknya butir atau kasus yang cocok atau butir  atau kasus yang iskor sama dengan kedua rater. Banyaknyabutir yang cocok ini kemudian dibandingkan dengan butir total kemudian disajikan dalam persentase
5.       Realibilitas dengan teori generalizabilities
Teori generalisabilitas terkait dengan 2 hal yaitu generalizability (G) study dan decision (D) study. Peneliti yang melakukan G studi mengutaamakan generalisasi dari suatu sampel pengukuran ke keseluruhan pengukuran. Studi tentang stabilitas respons atara waktu, equivalensi skor dari 2 atau lebih instrumen yang berbeda, hubungan antara skor kemampuan dengan skor butir terkait dengan G study. Pada D study. Data dikumpulkan untuk tujuan khusus terkait dengan mebuat keputusan. Studi ini menyediakan data mendeskripsikan peserta tes baik seleksi atau penempatan, maupun menyelidiki hubungan 2 variabel atau lebih (Crocker & Algina, 2008). Sebagai contoh, pada suatu tes seleksi panitia akan menggunakan dua penilai atau lebih perlu diperisa terlebih dahulu efisiensinya. Untuk hal tersebut, perlu dilakukan D study.
Koefisien realibilitas dalam teori ini disebut dengan kofisien generalizability. Dalam mengestimasi koefisien generalizability, ada bebrapa desain termasuk banyaknya bentuk tes, kesempatan melakukan tes atau administrasi tes, banyaknya rater yang disebut dengan facet. Banyaknya variabel yang digunakan  menentukan banyaknya facet. Desain yang dapat dipilih misalnya desain facet tunggal (single facet design) dan facet ganda.


Heri Retnawati. 2016.

ESTIMASI KONSISTENSI RELIABILITAS EKSTERNAL


Estimasi realibilitas eksternal diperolah dengan menggunakan skor hasi pengukuranyang berbeda baik dari instrumen yang berbeda maupun sama. Ada dua cara untuk mengestimasi reliabilitas eksternal suatu intrumen yaitu dengan teknik pengukuranulang (tes-retest method) dan teknik paralel
1.       Metode tes ulang (tes-retest method)
Untukmengetahui keterahandalan atau realibilitas skor hasil pengukuran, pengukuran perlu dilakukan dua kali. Pengukuran pertama dan pengukuran kedua atau ulangannya. Kedua pengukuran ini dapat dilakukan oleh orang yang sama tau berbeda, namun ada proses oengukuran yang kedua, keadaan yang diukur itu harus benar-benar berada pada kondisi yang sama dengan pengukuran pertama. Selanjutnya hasil pengukuran yang pertama dan yang ke dua dikorelasikan dan hasilnya menunjukkan realibilitas skor perangkat pengukuran.
Teknik tes-retest method ini dapat disesuaikan dengan tujuannya jika keadaan subjek yang dukur tetap dan tidak mengalami perubahan pada saat pengukuran yang pertama maupun pada pengukuran yang kedua. Pada dasarnya keadaan respondentu selalu berkembang, tidak statis ataupun berubah-ubah., maka sebenarnya teknik ini kurang teat digunakan. Di samping itu pada pengukuran yang kedua akan terjadi adanya carry-over effect atau testing efect, reponden pengukuran atau penelitian telah mendapat tambaan pengetahuan karena sudah mengalami tes yang pertama ataupun belajar setelah pengukuranyan pertama
2.       Metode Bentuk Paralel
Teknik kedua untuk mengestimasi realibilitas secara eksternal dengan metode bentuk paralel. Pada teknik ini , diperlukan dua instrumen yang dikatakan paralel untuk mengestimasi koefisien realibilitas. Dua buahtes dikatakan paralel atau equivalent adalah dua buah isntrumen yang mempunyai kesamaan tujuan dalam pengukuran, tingkat kesukaran dan susunan yang sama, namun butir soalnya berbeda atau dikenal dengan istilah alternate forms method atau paralele forms.
Dengan metode bentuk paralel ini , dua buah isntrumen yang paralel, misalnya instrumen paket A akandiestimasi realibilitasnya dan instrumen paket B merupakan isntrumen yang paralel denganpaket A, keduanya diberikan kepada kelompok responden yang sama, kemudian ke dua skor tersebut dikorelasikan. Koefisien korelasi dari kedua skor respoden terhadap instrumen inilah yang menunjukkan koefisien realibilitas skor instrumen paket A. Jika koefisien realibilitasnya skor instrumen tinggi maka perangkar tersebut dikatakan reliabel dapat digunakan sebagai instrumen pengukur suatu konstruk yang terandalkan.  

Heri Retnawati. 2016. 

PENGERTIAN RELIABILITAS (skripsi dan tesis)




Pada suatu instrumen yang digunakan untuk mengumbulkan data, realibilitas skor hasiltes merupakan informasi yang diperlukan dalam pengembangan tes. Realibilitas merupakan derajat keajegan (consistency) di anata dua skor hasil pengukuran pada objek yang sama, meskipun menggunakan alat pengukur yang berbeda dan skala yang berbeda (Mehrens,&Lehmann, 1973; Reynold, Livingstone &Wilson, 2010).
Allen dan Yen (1979) menyatakan bahwa tes dikatakan reliabel jika skor amatan mempunyai korelasi yang tinggi dengan skor yang sebenarny. Selanjutnya dinyatakan bahwa realibilitas merupakan koefesioen korelasi antara dua skor amatan yang diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan tes yang paralel. Dengan demikian, pengertian yang dapat diperoleh dari pernyataan tersebut adalah suatu tes itu reliabel jka hasil pengukuran mendekati keadaan peserta tes yang sebenarnya.
Koefisien realibilitas dapadiartikan sebagai koefisien keajegan atau kestabilan hasil pengukuran. Alat ukur yang reliabel akan memberikan hasil pengukuran yang stabil (Lawrence, 1994) dan konsisten (Mehrens,&Lehmann, 1973). Artinya suatu alat ukur dikatakan memiliki koefisien realibilitas tinggi manakala digunakan untuk mengukur hal yang sama pada waktu yang berbeda hasilnya sama atau mendekati sama. Dalam hal ini, realibilitas merupakan sifat dari sekumpulan skor (Frisbie, 2005).

Heri Retnawati. 2016

LANGKAH DALAM MEMBUKTIKAN VALIDITAS ISI (skripsi dan tesis)


1.       Memberikan kisi-kisi dari butir instrumen, berikut rubrik penskorannya jika ada kepada beberapa ahli yang seseuai dengan bidang yang diteliti untuk memohon masukan. Banyaknya ahli yang dimohon untuk memberi masukan paling tidak 3 orang ahli dngan kepakaran yang relevan dengan bidang yang diteliti
2.       Masukan yang diharapkan dari ahli berupa kesesuaian komponen instrumen dengan indikator, indikator dengan butir, substansi butir, kejelasan kalimat dalam butir, jika merupakan tes maka pertanyaannya harus ada jawabannya/luncinya, kalimat tidak membingungkan, format tulisan, simbol dan gambar yang cukup jelas. Proses ini sering disebut dengan telaah kualitatif yang meliputi aspek substansi, bahasa dan budaya.
3.       Berdasarkan masukan ahli tersebut, kisi-kisi atau instrumen kemudian diperbaiki
4.       Meminta ahli untuk menilai validitas butir, berupa kesesuaian antara butir dengan indikator. Penilaian ni dapat dilakukan misalnya dengan skala likert (skor 1: tidak valid, skor 2: kurang valid, skor 3: cukup valid, skor 4: valid, skor 5: sangat valid).

Heri Retnawati. 2016. 

TIPE-TIPE DALAM VALIDITAS (skripsi dan tesis)


Validitas itu dikelompokkan dalam tiga tipe yaitu
1.       Validitas kriteria
Validitas kriteria dibagi menjadi dua yaitu validitas prediktif dan validitas konkuren. Fernandes (1984) mengatakan validitas berdasarkan kriteria dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana tes memprediksi kemampuan peserta di masa mendatang (predictive validity) atau mengestimasi kemampuan dengan alat ukur lain dengan tenggang waktu yang hampir bersamaan (conncurent validity).
2.       Validitas isi
Validitas isi adalah suatu instrumen sejauh mana butr-butir dalam instrumen itu mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur dan sejauh mana butir-butir itu mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Sementara itu Lawrance (1994) menjleaskan bahwa validitas isi adalah keterwakilan pertanyaan terhadap kemampuan khusu yang harus diukur. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa validitas isi terkait dengan analisis rasional terhadap domain yang hendak diukur untuk mengetahui keterwakilan dengan kemampuan yang hendak diukur
3.       Validitas kontruks
Validitas konstruk adalah sejauh mana instrumen mengungkapkan suatu kemampuan atau konstruk teoritis yan hendak diukurnya (Nunnaly, 1978;Fernandes, 1984). Prosedur validitas konstruk diawali dari sutau identikasi dan batasan mengenai variabel yang hendak diukur dan dinyatakan dalam bentuk konstruk logis berdasarkan teori variabel tersebut. Dari teori ini ditarik suatu konsekuensi praktis mengenai hasil pengukuran pada kondisi tertentu dan konsekuensi inilah yang akan diuji. Apabila hasilnya sesuai dengan harapan maka instrumen itu dianggap memiliki validitas konstruk yang sesuai.

Heri Retnawati. 2016.

PENGERTIAN VALIDITAS INSTRUMEN (skripsi dan tesis)


Validitas suatu alat ukur merupakan sejauh mana alat ukur ini mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Nunnaly, 1978; Allen dan Yen, 1979; Kerlinger, 1986; Azwar, 2000). Sementara itu, Linn dan Gronlund (1995) menjelaskan validitas mengacu pada kecukupan dan kelayakan interprestasi yang dibuat dari penilaian, berkenaan dengan penggunaan khusus. Pendapat ini diperkuat oleh Messick (1998) bahwa validitas merupakan kebiajakn evaluatif yang terintegrasi tentang sejauh mana fakta empiris dan dan alasan teoritis mendukung kecukupan dan kesesuaian inferensi dan tindakan berdasarkan skor tes atau skor suatu instrumen

Heri Retnawati. 2016

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN (skripsi dan tesis)


Untuk mengembangkan instrumen yang baik, ada langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah mengembangkan instrumen baik tes maupun non tes sebagai berikut:
1.       Menentukan tujuan penyusunan instrumen
Pada awal menyusun instrumen, perlu ditetapkan tujuan penyusunan instrumen. Tujuan penyusunan ini memandu teori untuk mengkonstruk instrumen, bentuk instrumen, penyekoran sekaligus pemaknaan hasil penyekoran pada instrumen yang akan dikembangkan. Tujuan penyusunan instrumen ini perlu disesuaikan dengan tujuan penelitian
2.       Menyusun butir instrumen
Setelah tujuan isntrumen ditetapkan selanjutnya perlu dicari teori atau cakupan materi yang relevan. Teori yang relevan diigunakan untuk membuat kosntruk, apa saja indikator suatu variabel yang akan diukur. Kaitannya dengan tes, perlu dibatasi juga cakupan materi apa saja yang menyusun tes. Sebagai contoh pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang akan diukur harus memiliki indikator pemecahan masalah )problem solving), kebaharuan, kreativitas dan lain-lain. Jika yang akan diukur anak SMP, cakupan materi apa saja yang akan diukur perlu menjadi bahan pertimbangan
3.       Menyusun indikator butir instrumen/soal
Indikator soal ditentukan berdasarkan kajian teori yang relevan oada instrumen non tes. Adapaun pada instrumen tes, selain mempertimbangkan kajian teori, perlu dipertimbangkan cakupan dan kedalaman materi. Inidikator dapat disusun menjadi butir instrumen. Biasanya aspek yangakan diukur dengan idnikatornya disusun menjadi suatu tabel. Tabe; tersebut kemudian disebut dengan kisi-kisi (blue print). Penyusunan kisi-kisi ini mempermudah peneliti menyusun butir soal
4.       Menyusun butir instrumen
Langkah selanjutnya adalah menyusn butir-butir instrumen. Penyusunan butir ini dilakukan dengan melihat indikator yang sudah disusun pada kisi-kisi. Pada penyusunan butir ini , peneliti perlu mempertimbangkan bentuknya. Misal untuk non tes akan menggunakan angket, angke jenis yang mana, menggunakan berapa skala, penskorannya dan analisa. Jika peneliti menggunakan instrumen berupa tes, perlu dipikirkan apakan akan menggunakan bentuk objektif atau menggunakan bentuk uraian (constructed response). Pada penyusunan butir ini, peneliti telah mempertimbangkan penskoran untuk tiap butir sehingga memudahkan analisis. Jika perlu, pedoman penskoran disusun setelah peneliti menyelesaikan penyusunan butir instrumen
5.       Validiasi isi
Setelah butir-butir soal tersusun, langkah selanjutnya adalah validasi. Validasi ini dilakukan dengan menyampaikan kisi-kisi, butir instrumen dan lembar diberikan kepada ahli untuk ditelaah secara kuantitatif maupun kualitatif. Tugas ahli adalah melihat kesesuaian indikator dengan tujuan pengembangan instrumen, kesesuaian instrumen dengan indikator butir, melihat kebenaran konsep butir, melihat ebernaran isi, kebenaran kuni (pada tes), bahasa dan budaya. Proses ini disebut dengan validai isi dengen mempertimbangkan penilaian ahli (expert judgment).
Jik validasi isi akan dikuantifikasi, peneliti dapat meminta ahlu mengisi lembar penilaian validasi. Paling tidak, ada 3 ahli yang dilibatkan untuk proses validasi instrumen penelitian. Berdasarkan isian 3 ahli, selanjutnya penelitian menghitung indeks kesepakatan ahli atau kesepakatan validator dengan menggunakan indeks Aiken atau indeks Gregory.
6.       Revisi berdasarkan masukan validator
Biasanya validator memberikan masukan. Masukan-masukan ini kemudian digunakan peneliti untuk merevisinya. Jika perlu, peneliti perlu mengkonsultasikan lagi hasil perbaikan tersebut, sehingga diperoleh instrumen yang benar-benar valid
7.       Melakukan uji coba kpada responden yang bersesuaian untuk memroleh data responden peserta
Setelah revisi, butir-butir instrumen kemudin disusun lengkap (dirakit) dan siap diujicobakan. Uji coba ini dilakukan dalam rangka memperoleh bukti secara empiris. Uji coba ini dilakukan kepada responden yang bersesuaian dengan subjek penelitian. Peneliti dapat pula menggunakan anggota populasi yang tidak menjadi anggota sampel.
8.       Melakukan analisis (realibilitas, tingkat kesulitan dan daya pembeda)
Setelah melakukan uji coba, peneliti memperoleh data respon peserta uji coba. Dengan menggunakan respons peserta, peneliti kemudian melakukan penskoran tiap butir. Selanjutnya hasil penskoran ini digunakan untuk melakukan analisis realibitas skor perangkat tes dan juga analisis kekteristik butir. Analisis karakteristik butir dapat dilakukan dengan pendekatan teori tes klasik maupun teori respon butir. Analisis pada kedua pendekatan ini akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.
9.       Merakit instrumen
Setelah karakteristik butir diketahui, peneiti dapat merakit ulang instrumen. Pemilihan butir-butir dalam merakit perangkat ini mempertimbangkan karakteritik tertnetu yang dikehendaki oleh peneliti, misalnya tingkat kesulitas butir. Setelah diberi instruksi pengerjaan, peneliti kemudian dapat mempergunakan inatrumen tersebut untuk mengumpulkan data penelitian.

Heri Retnawati. 2016

Jumat, 04 Agustus 2017

JENIS DALAM PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)


Pada dasarnya ada dua tipe penelitian intervensi ini, yakni intervensi di bidang preventif dan penelitian intervensi di bidang kuratif.
a.       Penelitian intervensi preventif
Penelitian ini mencoba mempelajari hubungan faktor resko dengan kejadian suatu penyakit dengan memberikan perlakuan atau manipulasi terhadap faktor tersebut pada subjek. Walau efek perlakuan yang diberikan secara kolektif pada individu dalam masyarakat tersebut dapat diamati dengan pendekatan individual tetapi pengamatan tersebut lebih sering dilakukan dengan pendekatan kelompok.
b.      Penelitian intervensi kuratif
Penelitian eksperimental kuratif/intervensi mencoba memberikan perlakuan terhadap perkembangan suatu penyakit. Dengan kata lain, penelitian ini akan mengungkapkan apakah riwayat alamiah suatu penyakit dapat dimanipulasi atau di intervensi secara spesifik. Perlakuan dalam tipe penelitian ini adalah berupa pemberian penatalaksnaan tindakan kuratif kepada masyarakat untuk menanggulangi penyakit endemi masyarakat. Perlakuan bisa berupa penyuluhan kepada masyarakat dalam bentuk pengobaan massal

(Soekidjo, 2010)


PENGERTIAN PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)



Penelitian intervensi adalah penelitian eksperimental yang dikenakan pada masyarakat sebagai kesauan himpunan subjek. Peneliti melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan bukan dengan pendekatan subjek secara individual seperti pada penelitian klinik, melainkan dengan pendekatan kelompok. Perlakuan diberikan dalam wujud paket yang dikenakan pada subjek secara kolektif dalam komunitas. Efek perlakuan diamati dengan menggunakan satuan analisis inividual maupun kelompok
Nama lain dari penelitian intervensi ini adalah penelitian operasional. Disebut penelitian operasional karena peneliian ini dilakukan sekaligus untuk meperbaiki suatu sistem atau program yang sedang berjalan. Beberapa peneliti menamakan penelitian ini sebagai action research atau penelitian tindakan karena penelitian dilakukan dengan melakukan tindakan yakni intrevensi atau manipulasi salah satu variabel

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN SEPARATE SAMPLE PRETEST POSTTEST (skripsi dan tesis)



Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan dan keluarga berencana. Pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap sampel yag dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengukuran kedua (post test) pada kelompok sampel lain yang juga dipilih secara acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari “pretest: meskipn tidak dapat mengkontrol sejarah, maturitas dan instrumen. Rancangan ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut:

Pretest
Perlakuan
Posttest
Kel. Eksperimen
01
x

Kel. Kontrol

x
02

Di samping itu, ke empat rancangan eksperimen semu ini rancangan eksperimen sungguhan (true experiment) juga dapat digunakan dalam penelitian eksperimen, hanya simbol R (randomisasi) dilakukan atau diabaikan.
(Soekidjo, 2010)