Tampilkan postingan dengan label Judul Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judul Psikologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2019

Indikator counterproductive work behaviour (skripsi dan tesis)

Indikator Counterproductive Work Behaviour yang dikembangkan oleh Bennet & Robinson (2002) adalah sebagai berikut:
1) Penyimpangan Produksi
a. Menghabiskan terlalu banyak waktu berfantasi atau melamun daripada bekerja
b. Istirahat lebih lama
c. Datang terlambat
d. Sengaja bekerja lebih lambat dari kemampuan
 e. Sedikit usaha saat bekerja
2) Penyimpangan terhadap harta benda perusahaan
a. Mengambil properti kantor tanpa izin
b. Mengotori lingkungan kerja
c. Memalsukan tanda terima untuk mendapatkan lebih banyak uang dari yang telah dikeluarkan semestinya
3) Penyimpangan politik
 a. Membahas rahasia perusahaan dengan orang yang tidak semestinya
 b. Bergosip
 4) Agresi pribadi
a. Menggunakan alkohol saat bekerj
 b. Mengejek rekan kerja c. Mengabaikan instruksi atasan.

Definisi counterproductive work behaviour (CWB) (skripsi dan tesis)

 Counterproductive Work Behaviour (CWB) atau perilaku kerja kontraproduktif didefinisikan sebagai perilaku yang melanggar norma-norma organisasi dan bisa mengancam kesejahteraan organisasi dan anggotanya (Bennet & Robinson, 2002). Contoh perilaku menyimpang tersebut dari mulai bekerja lambat hingga melakukan penipuan. Sama seperti Werner & DeSimone (2012) yang mendefinisikan perilaku kerja kontraproduktif sebagai perilaku sukarela yang melanggar norma-norma organisasi yang signifikan, dan dengan demikian mengancam dengan baik yang menjadi sebuah organisasi, anggotanya, atau keduanya. Sedangkan Dalal (2005) mendefinisikan sebagai perilaku atau tindakan yang disengaja yang bertentangan dengan norma-norma organisasi. Bennet & Robinson (2002) menyatakan bahwa terdapat empat tipe perilaku kerja sumber daya manusia yang bisa menurunkan kinerja perusahaan yaitu penyimpangan produksi (production deviance) seperti pulang kerja lebih awal dan sengaja bekerja lambat, penyimpangan terhadap harta benda perusahaan (property deviance) seperti menyabotase peralatan dan berbohong mengenai jam kerja, penyimpangan politik (political deviance) seperti pilih kasih dan bergosip 19 mengenai rekan kerja, dan agresi pribadi (personal aggresion) seperti pelecehan seksual dan pelecehan verbal.

Indikator keadilan organisasional (skripsi dan tesis)

1) Keadilan Distributif Keadilan distributif adalah keadilan jumlah imbalan yang dirasakan diantara individu-individu (Robbins & Judge, 2008:47). Imbalan yang dimaksud bukan hanya aspek finansial tetapi juga kesempatan promosi (Colquitt, 2001).
 Indikator – indikator keadilan distributif yang dikembangkan oleh Colquitt (2001) adalah sebagai berikut:
 a. Persamaan. Menunjukkan penilaian mengenai kesetaraan antara usaha yang diberikan dalam pekerjaan dengan imbalan yang diterima.
 b. Kelayakan. Menunjukkan penilaian mengenai kelayakan imbalan yang diberikan perusahaan berdasarkan penyelesaian pekerjaan.
c. Kontribusi. Menunjukkan penilaian mengenai kesesuaian antara imbalan dengan kontribusi yang diberikan kepada perusahaan d. Kinerja. Menunjukkan penilaian mengenai kesesuaian antara kinerja yang dihasilkan dengan imbalan yang diterima.
2) Keadilan Prosedural
Keadilan prosedural adalah keadilan yang dirasakan dari proses yang digunakan untuk menentukan distribusi imbalan (Robbins & Judge, 16 2008:48).
 Indikator-indikator untuk mengukur keadilan prosedural dikembangkan oleh Colquitt (2001), yaitu: a. Kendali proses. Menunjukkan penilaian mengenai kesempatan yang diberikan untuk mengungkapkan pandangan selama peraturan diterapkan.
b. Kendali keputusan. Menunjukkan penilaian mengenai kesempatan yang diberikan dan diwakili oleh Persatuan Pegawai untuk ikut mengawasi penerapan peraturan.
 c. Konsistensi. Menunjukkan penilaian mengenai konsistensi penerapan peraturan
 d. Bebas Prasangka. Menunjukkan penilaian mengenai tidak adanya diskriminasi perlakuan.
e. Akurasi Informasi. Menunjukkan penilaian mengenai keakuratan informasi yang digunakan untuk membuat keputusan
f. Mampu Koreksi. Menunjukkan penilaian mengenai proses banding atau mekanisme lain yang dapat digunakan untuk memperbaiki kesalahan.
 g. Etika dan Moral. Menunjukkan penilaian mengenai norma pedoman profesional dalam penerapan peraturan
3) Keadilan Interaksional  Keadilan interaksional adalah keadilan bagaiaman bawahan diperlakukan (Robbins & Judge, 2008:49).
 Indikator yang digunakan (Colquitt, 2001) adalah sebagai berikut:
a. Kesopanan. Menunjukkan penilaian mengenai kesopanan yang ditunjukkan atasan kepada bawahan.
b. Bermartabat. Menunjukkan penilaian mengenai perlakuan atasan yang penuh martabat
c. Hormat. Menunjukkan penilaian mengenai sikap hormat yang ditunjukkan atasan kepada bawahan 4) Keadilan Informasional
Keadilan informasional adalah keadilan berbagi informasi yang relevan dengan karyawan (Cropanzano et al., 2007). Indikator yang digunakan (Colquitt, 2001) adalah sebagai berikut:
 a. Kepantasan kata-kata. Menunjukkan penilaian mengenai kepantasan kata-kata yang digunakan atasan dalm berkomunikasi.
b. Kejujuran. Menunjukkan penilaian mengenai kejujuran atasan dalam berkomunikasi.
 c. Pembenaran. Menunjukkan penilaian mengenai bagaimana atasan menjelaskan peraturan / prosedur perusahaan.
d. Masuk akal. Menunjukkan penilaian mengenai masuk akal tidaknya penjelasan yang diberikan.
 e. Tepat waktu. Menunjukkan penilaian mengenai kesiapan atasan untuk berkomunikasi setiap waktu.
f. Spesifik. Menunjukkan bahwa atasan menyesuaikan komunikasi terhadap kebutuhan khusus individu.

Definisi keadilan organisasional (skripsi dan tesis)

Cropanzano et al., (2007) mendefinisikan keadilan organisasional sebagai penilaian personal mengenai standar etika dan moral dari perilaku manajerial. Gibson et al., (2012) mendefinisikan keadilan organisasional sebagai suatu tingkat di mana seorang individu merasa diperlakukan sama di organisasi tempat dia bekerja. Definisi lain mengatakan bahwa keadilan organisasional adalah persepsi adil dari seseorang terhadap keputusan yang diambil oleh atasannya (Colquitt et al., 2001). Colquitt et al., (2001) mengemukakan bahwa keadilan organisasional mempunyai empat tipe, yaitu keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional. Tipe keadilan organisasional menurut Moorman dan Colquitt masing-masing mempunyai keunggulannya masing-masing dan sekarang lebih sering digunakan ketimbang teori keadilan organisasional yang lain (Cropanzano, 2009). Keadilan distributif ditandai sebagai keadilan terkait dengan distribusi sumber daya dan hasil keputusan (Usmani, 2013). Robbins dan Judge (2008:47) mendefinisikan keadilan distributif sebagai keadilan jumlah dan penghargaan yang dirasakan diantara individu-individu.
Noe et al., (2011) menyebutnya sebagai keadilan imbalan yang didefinisikan sebagai penilaian yang dibuat orang terkait imbalan yang diterimanya dibanding imbalan yang diterima orang lain yang menjadi acuannya. Keadilan prosedural menurut Robbins dan Judge (2008:48), didefinisikan sebagai keadilan yang dirasakan dari proses yang digunakan untuk menentukan 13 distribusi imbalan. Noe et al., (2011) mendefinisikannya sebagai konsep keadilan yang berfokus pada metode yang digunakan untuk menentukan imbalan yang diterima. Terdapat enam prinsip yang menentukan apakah orang merasa prosedur yang dijalankan sudah cukup adil, yaitu konsistensi, peniadaan bias, keakuratan informasi, kemungkinan koreksi, keterwakilan, dan kesantunan. Keadilan distributif dan keadilan prosedural secara konsep berbeda. Colquitt et al., (2001) melakukan meta-analisis dan menunjukkan bahwa keadilan distributif dan prosedural dapat dibedakan pengukurannya. Ambrose & Arnaud (2005) menyatakan bahwa pengukuran terhadap keadilan distributif secara relatif konsisten pada seluruh penelitian, sedangkan meski pengukuran keadilan prosedural berbeda-beda dalam operasionalisasinya, riset menunjukkan bahwa konstruk tersebut dapat diukur secara memadai. Dia juga menyatakan bahwa dalil yang diterima secara luas adalah bahwa keadilan prosedural berpengaruh kuat terhadap perilaku global sedangkan keadilan distributif terhadap perilaku yang spesifik. Meta analisis yang dilakukan Colquitt et al., (2001) memperkuat dalil ini dan menyatakan bahwa keadilan distributif berpengaruh kuat terhadap perilaku spesifik, misalnya kepuasan imbalan dan kepuasan kerja, sedangkan keadilan prosedural berpengaruh kuat terhadap perilaku global, misalnya komitmen organisasional, komitmen kelompok, dan intensi keluar. Supaya kedua dimensi keadilan tersebut dapat dianggap sebagai konstruk yang berbeda, keduanya perlu memiliki sekumpulan anteseden yang unik. Ambrose & Arnaud (2005) menyatakan bahwa outcomes organisasional yang memengaruhi persepsi keadilan distributif, misalnya penghasilan, benefits, keamanan, kompleksitas pekerjaan, supervisi, imbalan intrinsik, senioritas, dan status pekerjaan.
Sedangkan, kesempatan untuk memperoleh informasi selama proses pembuatan keputusan meningkatkan persepsi keadilan prosedural. Keadilan interaksional menurut Robbins & Judge (2008:49), didefinisikan sebagai persepsi individu tentang tingkat sampai dimana seorang karyawan diperlakukan dengan penuh martabat, perhatian, dan rasa hormat. Beberapa penulis menganggap keadilan interaksional sebagai sub-komponen keadilan prosedural (Greenberg, 1993). Namun, dua keadilan ini merupakan konsep yang berbeda. Bies (2005) dalam Kristanto (2013) menyatakan bahwa keadilan interaksional dihubungkan dengan evaluasi supervisor langsung sedangkan keadilan prosedural dihubungkan dengan evaluasi sistem organisasional, sehingga keduanya merupakan konstruk yang independen. Menurut Greenberg (1987) keadilan informasional adalah bagian dari keadilan interaksional. Keadilan informasional didefinisikan sebagai persepsi individu tentang keadilan informasi yang digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan (Robbins dan Judge, 2008:50). Keadilan informasional mengacu pada penjelasan dan status sosial, yang difokuskan atas pemberian informasi kepada orang-orang tentang mengapa suatu prosedur digunakan dengan cara yang jelas atau mengapa outcome didistribusikan dengan suatu cara tertentu (Colquitt et al., 2001). Colquitt et al., (2001) menyatakan bahwa keadilan informasional berbeda dengan keadilan interaksional. Pernyataan tersebut diperkuat dengan dalil bahwa keadilan informasional menekankan kepada akurasi dan kualitas penjelasan yang individu terima (Lewis, 2013). Oleh karena itu keadilan informasional berkaitan dengan ketersediaan informasi dari organisasi sedangkan keadilan interaksional menyangkut bagaimana perlakuan atasan kepada bawahan

Indikator kepemimpinan etis (skripsi dan tesis)


Berdasarkan temuan-temuan kualitatif, Brown et al. (2005) mengembangkan sepuluh indikator untuk mengukur persepsi kepemimpinan etis yaitu ethical leadership scale (ELS). Kepemimpinan etis didefiniskan sebagai demonstrasi secara normatif melakukan perilaku melalui tindakan pribadi dan hubungan interpersonal. Selain definisi ini, kepemimpinan etis juga didefinisikan sebagai promosi perilaku tersebut ke pengikut melalui komunikasi dua arah, penguatan, dan pengambilan keputusan. Sepuluh indikator kepemimpinan etis (Brown, 2005) adalah sebagai berikut:
 1) Melakukan kehidupan pribadi dengan cara yang etis
 2) Mendefinisikan kesuksesan tidak hanya dengan hasil tetapi juga proses
3) Mendengarkan apa yang karyawan katakan
4) Mendisiplinkan karyawan yang melanggar standar etika
5) Membuat keputusan yang adil dan seimbang
 6) Menetapkan contoh bagaimana melakukan hal-hal dengan cara yang benar dalam hal etika

Definisi kepemimpinan etis (skripsi dan tesis)


Kepemimpinan etis adalah prinsip-prinsip, keyakinan dan nilai-nilai dari yang benar dan salah menggambarkan dasar dari perilaku organisasi sehingga merumuskan dasar atas pemimpin memengaruhi karyawan dalam mencapai tujuan organisasi (Al-Sharafi & Rajiani, 2013). Bubble (2012) lebih lanjut mendefinisikan kepemimpinan etis sebagai proses memengaruhi karyawan melalui nilai-nilai, prinsip-prinsip dan keyakinan yang secara luas berbatasan dengan norma-norma yang diterima dalam perilaku organisasi. Definisi ini menjabarkan bagian penting dari kepemimpinan etis. Penelitian dalam studi etika kepemimpinan mengarah kepada definisi yang konklusif menurut Kalshoven et al., (2011) bahwa pemimpin etis mempromosikan kejujuran dan terlibat dalam tindakan yang mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan. Perspektif ini mewujudkan sebuah konstruk yang ambigu sehingga sulit untuk mendefiniskan kepemimpinan etis. Pemahaman para eksekutif di organisasi berbatasan dengan sudut dari hanya memiliki “karakter yang baik dan nilai-nilai yang benar” (Litschka et al., 2011). Berdasarkan definisi kepemimpinan etis dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan etis berkisar pada tanggung jawab utama dalam berhadapan dengan konflik di antara karyawan dan mempertunjukkan suatu landasan membimbing untuk mengajari mereka hal yang benar untuk dilakukan. Para pemimpin etis dengan demikian mewujudkan kedalam kebajikan yang mengarahkan dia kepada pembuatan keputusan yang etis untuk kepentingan organsisasi yang lebih luas.

Faktor Minat Beli (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang membentuk minat beli konsumen (Kotler,2005) yaitu :
1. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatifyang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
2. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak.

Minat Beli (skripsi dan tesis)

 Seorang konsumen yang ingin mencari kepuasan tentang suatu produk, akan mencari informasi sebanyak- banyaknya tentang produk tersebut. Jika dorongan kebutuhan konsumen kuat dan objek yang dicari dapat memenuhkan kebutuhan maka konsumen akan membeli produk tersebut. Aritani, (2003) menyatakan ada beberapa tahapan secara psikologis terjadinya perilaku pembelian. Tahapan tersebut antara lain : perhatian, minat, keinginan, keputusan, dan perilaku untuk membeli. Minat beli (willingness to buy) merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Doods, Monroe dan Grewal, (1991) dalam Bernard (2004) menyatakan bahwa minat beli (willingness to buy) didefinisikan sebagai kemungkinan bila pembeli bermaksud untuk membeli produk. Minat beli merupakan perilaku konsumen yang menunjukkan sejauh mana komitmennya untuk melakukan pembelian. Pengertian minat beli mencakup tiga hal, yaitu adanya perasaan tertarik, adanya perhatian, dan kecenderungan untuk melaukan pembelian.
Menurut As’ad (1995) minat diartikan sebagai suatu sikap yang membuat orang senang akan obyek, situasi, dan ide tertentu. Hal ini akan diikuti oleh perasaan senang dan kecenderungan untuk mencari dan mendapatkan obyek yang diinginkan. Dalam memenuhi kebutuhannya seseorang tidak dapat menghasilkan obyek pemenuhannya sendiri. Sebagian obyek itu dihasilkan atau dibuat oleh pihak lain. Proses pemenuhan kebutuhan yang melibatkan pihak lain akan memulai kegiatan jual beli.Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa minat beli adalah suatu keinginan untuk memenuhi kebutuhan dengan membeli obyek tersebut, dimana ada suatu perasaan tertarik terhadap obyek tersebut, dan untuk mendapatkannya kita mengganti dengan sejumlah uang, sebagai alat tukarnya.
Lucas dan Britt dalam Setyawati (2003) mengatakan bahwa aspek-aspek yang terdapat dalam minat beli antara lain :
 1. Perhatian, adanya perhatian dari konsumen terhadap suatu produk.
 2. Ketertarikan, setelah adanya perhatian maka akan timbul rasa tertarik dalam diri konsumen.
3. Keinginan, berlanjut pada perasaan untuk mengingini atau memiliki produk tersebut.
 4. Keyakinan, kemudian timbul keyakinan pada diri individu terhadap produk tersebut sehingga menimbulkan keputusan (proses akhir) untuk memperolehnya dengan tindakan membeli.
5. Keputusan membeli.
Disimpulkan bahwa aspek-aspek dalam minat beli adalah sebagai berikut :
1. Ketertarikan (interest) yang menunjukan adanya pemusatan perhatian dan perasaan senang.
2. Keinginan (desire) ditunjukkan dengan adanya dorongan untuk ingin memiliki.
 3. Keyakinan (conviction) ditunjukkan dengan adanya perasaan percaya diri individu terhadap kualitas, daya guna, dan keuntungan dari produk yang akan dibeli.
 Aspek perhatian tidak digunakan karena masih berupa perhatian belum bisa dikatakan sebagai minat, karena tidak adanya dorongan untuk memiliki. Tidak digunakannya aspek keputusan karena bukan lagi merupakan minat tetapi sudah menimbulkan perbuatan membeli.

Kepribadian Merek (skrispi dan tesis)


 Menurut Fandy Tjiptono, Yanto Chandra, Anastasia Diana (2004:233) mengemukakan bahwa ;”Kepribadian Merk (Brand Personality) merupakan sekumpulan karakteristik manusiawi yang di asosiasikan terhadap suatu merk.” Sedangkan menurut Kotler & Amstrong (2006:140) menyatakan :”Kepribadian Merk (Brand Personality) adalah suatu gabungan dari sifat manusia yang dapat diterapkan pada suatu merk.” Darmadi Durianto dkk. (2004:10) menyebutkan bahwa “Kepribadian sebuah Merk (Brand Personality) dapat digambarkan dengan demografi (usia, jenis kelamin, kelas sosial ekonomi ras), gaya hidup (aktivitas, kegemaran, pendapat), atau cirri pembawaan(tertutup, dependen).” Kemudian selanjutnya Darmadi Durianto dkk. (2004:9)juga mengemukakan bahwa Kepribadian sebuah Merk (Brand Personality) menghubungkan ikatan emosi dengan merk itu sendiri sebagai dasar untuk diferensiasi merk dan costumer relationship. Kepribadian merk (Brand Personality) akan melibatkan dimensi yang unik untuk sebuah merk.
Kotler & Amstrong (2006:140) menyebutkan ada 5 (lima) Dimensi yang dapat dijadikan skala pengukuran Kepribadian merk (Brand Personality)yang merupakan kerangka untuk menjelaskan dan mengukur 'kepribadian’ dari merek inti dalam lima dimensi, yang terdiri dari :
1. Sincerity (Ketulusan) yaitu berarti karakter yang jujur, rendah hati, membumi, berorientasi keluarga, kota kecil, bersahabat, tulus, nyata, orisinil dan sederhana
 2. Excitement (Semangat) yaitu berarti karakter unik yang penuh semangat, Trendi, keberanian dan imajinasi yang tinggi serta up-to-date (terbaru) dalam melakukan perbedaan dan inovasi.
 3. Competence (Kemampuan) yaitu keamanan, kecerdasan, keuletan, keterampilan, kemudahan, kemampuan untuk dapat diandalkan dan dipercaya oleh konsumen.
4. Sophistication (Keduniawian) yaitu karakteristik yang berkaitan dengan ekslusifitas yang dibentuk oleh keunggulan prestise, citra merk maupun daya tarik yang ditawarkan kepada pelanggan.
5. Ruggedness (Ketangguhan) yaitu karakteristik merk yang di kaitkan dengan kemampuan suatu merk dalam menunjang kegiatan luar rumah dan kekuatan atau daya tahan produk
 Tujuan Kepribadian sebuah merk (Brand Personality) adalahuntuk menggambarkan perbedaan antara brand yang satu dengan lainnya. Pada brand yang telah terencana dengan baik, karakter ini dapat dilihat dan dirasakan dalam setiap media komunikasi dan atributnya (kemasan, iklan, humas, komunikasi, dsb)

Pengertian Merek (Brand) (skripsi dan tesis)

 Merek tidak hanya sebuah nama bagi produk, tetapi lebih dari itu merupakan identitas untuk membedakan dari produk-produk pesaing yang dihasilkan perusahaan lain, dengan identitas khusus produk tertentu akan lebih mudah dikenali oleh konsumen dan pada gilirannya tentu akan memudahkan pada pembelian ulang produk tersebut. Merek merupakan suatu atribut yang dianggap penting terutama dalam menumbuhkan persepsi yang positif dan konsumen akan percaya setelah menilai atribut yang dimiliki oleh suatu merek. Keahlian yang sangat unik dari pemasar profesional adalah kemampuannya untuk menciptakan, memelihara, melindungi,  dan meningkatkan merek. Para pemasar mengatakan bahwa pemberian merek adalah seni dan bagian penting dalam pemasaran. Ada definisi merek dari beberapa pendapat ahli pemasaran, yaitu : Menurut America Marketing Association (Kotler, 2007) merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa penjual atau kelompok penjual dan untuk mendiferensiasikannya dari barang atau jasa pesaing.
Menurut American Marketing Association yang dikutip oleh Freddy Rangkuti ( 2002) mendefinisikan merek sebagai berikut : “Merek adalah suatu nama, istilah tanda symbol, rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang bertujuan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa yang dihasilkannya sehingga berbeda dari produk atau jasa yang dihasilkan oleh pesaing ” Menurut Rangkuti (2004) dalam American markerting association, merek adalah nama, isitlah, nama, symbol, rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang ditujukan untuk mengidentifikasi dan membedakan barang atau layanan seorang penjual dengan barang atau layanan penjual lainya. Sebuah nama, logo, singkatan, desain, atau apa saja yang dikatakan sebagai merek, harus memenuhi tiga hal:
1. Dapat mengidentifikasi arti mengklarifikasi karakteristik dan sifat dari produk atau layanan.
 2. Memilki entitas, artinya merek itu mewakili sesuatu yang ada.
3. Janji akan nilai, artinya merek menjanjikan apa yang akan diberikan kepada pembeli atau pemakai (Nicolino, 2001:4). Merek pada dasarnya merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan keistimewaan manfaat, dan jasa tertentu pada pembeli. Merek-merek terbaik memberikan jaminan mutu akan tetapi merek lebih dari sekedar symbol.
Menurut Kotler yang dialihbahasakan oleh Hendra Teguhdan Rony A.Rusli ( 2002,400) merek memilki enam tingkatan, meliputi :
 1. Atribut,merupakan hal yang pertama kali yang menandai ciri-ciri merek.
2. Manfaat, suatu merek lebih dari sekumpulan atribut, pelanggan tidak membeli atribut tapi membeli manfaat yang ditawarkan produk tersebut. Dengan demikian atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional.
3. Nilai, merupakan nilai-nilai yang dianut produsen yang tercermin dalam merek.
 4. Budaya, merek juga memiliki budaya tertentu.
 5. Kepribadian, merek juga mencerminkan kepribadian tertentu
. 6. Pemakai, merek merupakan jenis konsumen yang membeli atau yang menggunakan produk tersebut Penentuan merek akan menentukan citra bagi produk itu sendiri atau bahkan sekaligus bagi perusahaan.
Salah satu strategi agar suatu organisasi mampu bersaing adalah dengan membangun citra yang baik di mata konsumen maupun publik, karena citra dapat mempengaruhi proses pembelian suatu produk atau jasa. Oleh karena itu, citra menjadi faktor penting bagi keberhasilan pemasaran suatu organisasi. Suatu citra merek yang kuat memberikan beberapa keuntungan utama bagi perusahaan. Jika Perusahaan memperlakukan merek sebagai suatu nama saja maka perusahaan telah kehilangan makna pemberian merek. Tantangan dalam pemberian merek adalah untuk mengembangkan sekumpulan pengertianpengertian yang mendalam tentang merek. Dengan kata lain, jika konsumen dapat memvisualisasikan semua dimensi merek, maka merek tersebut dapat memiliki makna yang dalam dan jika sebaliknya maka merek tersebut tidak memiliki makna yang dalam. Memperhatikan keempat dimensi di atas, maka pemasar harus memutuskan pada dimensi manakah identitas merek diletakan. Kesalahan yang sering dilakukan oleh pemasar adalah hanya mempromosikan atribut-atribut merek saja. Hal ini dapat mengakibatkan pembeli tidak tertarik kepada atribut merek karena sesungguhnya mereka lebih tertarik pada manfaat merek, pesaing dapat dengan mudah meniru atribut-atribut tersebut, atribut yang ada sekarang ini akan berkurang nilainya

Tujuan Pemasaran (skripsi dan tesis)


Tujuan pemasaran adalah mengenal dan memahami pelanggan sedemikian rupa, sehingga produk cocok dengannya dan dapat dijual dengan sendirinya. Idealnya pemasaran menyebabkan pelanggan siap membeli, sehingga produsen harus berusaha agar produknya tetap tersedia. Sedangkan menurut Philip Kotler (2007), tujuan pemasaran adalah menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi dan agar konsumen memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Selanjutnya, Peter Drucker (dalam Philip Kotler, 2007) mengemukakan bahwa tujuan dari pemasaran adalah mengetahui dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya mampu menjual dirinya sendiri

Konsep Pemasaran (skripsi dan tesis)

Pemasaran sering dipandang sebagai suatu tugas untuk menciptakan, mempromosikan, dan menyalurkan barang dan jasa kepada konsumen dan unitunit bisnis. Pemasaran diharapkan memiliki keahlian dan merangsang permintaan akan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Definisi pemasaran menurut Kotler (2007) dapat dibedakan menjadi definisi sosial, yaitu suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain, sedangkan menurut definisi manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai seni menjual produk

Hubungan Daerah Asal Terhadap Kepribadian Merek (skripsi dan tesis)


 Untuk mengevaluasi produk, konsumen menggunakan informasi tentang daerah asal suatu produk dimana produk tersebut di produksi. Manajer pemasaran berasumsi bahwa evaluasi produk dipengaruhi oleh pengetahuan konsumen bahwa konsumen memiliki pengetahuan tentang dari daerah mana produk tersebut diproduksi (Hong dan Wyer, 1989 dalam Isa Cardosa, 2013: 3). Negara asal atau tempat asal hanyalah salah satu aspek diantara banyak aspek lainnya, di mana konsumen mendasarkan persepsi mereka tentang kualitas (Becker, 2000 dalam Isa Cardosa, 2013: 3). Banyak peneliti menunjukkan bahwa negara asal tidak hanya berfungsi sebagai tanda kualitas, tetapi juga memiliki makna simbolis dan emosional bagi konsumen (Verlegh dan Steenkamp, 1999 dalam Isa Cardosa, 2013: 3). Peterson dan Jolibert, 1995 dalam Isa Cardosa, (2013: 3) menyatakan bahwa pengaruh daerah asal lebih besar dalam evaluasi produk dari pada minat beli. Citra daerah asal dalam penyebaran produknya biasanya melalui iklan, gambar yang disampaikan adalah bahwa jenis produk memiliki kualitas tertentu yang terutama didasarkan pada pengetahuan manusia dan alam lingkungan daerah. Faktor-faktor yang mempengaruhi citra daerah dan kualitas tertentu dari Produk menciptakan identitas produk yang unik dan dengan demikian dapat menambah nilai produk (Ittersum et al., 2003 dalam Isa Cardosa, 2013: 3).

Hubungan Pengalaman Merek Terhadap Kepribadian merek (skripsi dan tesis)


 Pengalaman merek adalah sebuah konsep yang telah menarik perhatian dan minat dari penelitian pemasaran, yang mengakui bahwa konsumen mencari merek yang mampu memberikan pengalaman yang unik dan mudah diingat (Zarantonello dan Schmitt, 2010 dalam Isa cardosa, 2013:2). Menurut beberapa peneliti, pengalaman merek terjadi karena respons yang dirasakan konsumen terhadap rangsangan merek terkait selama kontak (Chang dan Chieng, 2006 dalam Isa Cardisa, 2013: 2). Konsumen tidak lagi mencari merek karena manfaat fungsionalnya, melainkan saat ini pilihan konsumen didasarkan pada jenis pengalaman merek yang dirasakan oleh konsumen (Brakus et al, 2009;. Schmitt, 1999; Zarantonello dan Schmitt, 2010 dalam Isa Cardosa, 2013: 2). Yang terpenting bagi konsumen adalah apakah merek dapat menawarkan pengalaman yang menarik, fitur-fitur khusus dan kepribadian yang unik. Konsumen mengharapkan sesuatu yang dapat merangsang indra mereka, konsumen akan mencari sesuatu yang baru, asli dan otentik (Schmitt, 2009 dalam Isac Cardosa, 2013:2). Pengalaman adalah sesuatu yang intrinsik dan individu, oleh karena itu, walaupun banyak orang memiliki pengalaman yang sama, akan tetapi tidak ada yang akan menjalaninya dengan cara yang sama. Produk yang sepadan, layanan berwujud dan pengalaman tak terlupakan (Pine dan Gilmore, 1998 dalam Isa Cardosa, 2013: 2)

Hubungan Kepercayaan Merek Terhadap Kepribadian (skripsi dan tesis)

Merek Tujuan utama dari pemasaran adalah untuk menciptakan ikatan yang kuat antara konsumen dan merek, adapun komponen yang harus di perkuat yaitu jaringan dalam kepercayaan (Delgado-Ballester et al., 2003 dalam Isa Cardosa, 2013: 2). Untuk kepercayaan mengartikan bahwa merek adalah elemen aktif, hubungan ini didasarkan pada harapan bahwa konsumen memiliki kinerja dalam merek (Delgado- Ballester et al., 2003 dalam Isa Cardosa, 2013: 2). Penjelas lain menurut (Holbrook dan Chaudhuri, 2001 dalam Isa Cardosa, 2013: 2) menjelaskan kepribadian merek sebagai kesediaan konsumen untuk mengandalkan kemampuan merek untuk menjalankan fungsi yang ditetapkan. Kepercayaan mengurangi ketidakpastian dalam lingkungan yang rentan karena konsumen tahu bahwa mereka dapat mempercayai merek. Ketika konsumen sudah percaya terhadap suatu merek maka tidak ada lagi keraguan yang ada di dalam benak konsumen untuk membeli produk tersebut. Delgado-Ballester et al. (2003) dan Li et al. (2007) dalam Isa Cardosa (2013: 2) menjelaskan dimensi kepribadian merek, dimana kepribadian merek terdiri dari keamanan (kepercayaan konsumen pada merek) dan niat.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Engel, Blackwell dan Miniard dalam Suryani (2008:8) pemahaman terhadap perilaku konsumen mencakup pemahaman terhadap tindakan yang langsung yang dilakukan konsumen dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan tersebut. Hal yang hampir sama diungkapkan oleh Sciffman dan kanuk dalam Suryani (2008:9) bahwa perilaku konsumen merupakan studi yang mengkaji bagaimana individu membuat keputusan membelanjakan sumberdaya yang tersedia dan dimiliki (waktu, uang, dan usaha) untuk mendapatkan barang atau jasa yang nantinya akan dikonsumsi. Sedangkan menurut Swastha (1990) perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan tersebut, perilaku konsumen dalam mengambil keputusan, mempertimbangkan barang dan jasa apa yang akan di beli, dimana, kapan, bagaimana, berapa jumlah dan mengapa membeli produk tersebut.
 Loudon dan Bitta dalam Suryani (2008:21) menjelaskan juga bahwa perilaku konsumen mencakup proses pengambilan keputusan dan kegiatan yang dilakukan konsumen secara fisik dalam pengevaluasian, perolehan penggunaan atau mendapatnkan barang dan jasa. Jadi dalam menganalisis perilaku konsumen tidak hanya menyangkut factor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan saat pembelian, akan tetapi juga meliputi proses pengambilan keputusan yang menyertai pembelian. Merujuk pada beberapa pengertian tentang perilaku konsumen, maka terlihat bahwa memahami perilaku konsumen bukanlah suatu pekerjaan yang mudah karena banyaknya variabel yang mempengaruhi dan variabel-variabel tersebut saling berinteraksi. Perilaku konsumen merupakan proses yang kompleks dan multi dimensional. Pemasar dituntut untuk bisa mengkaitkan perilaku konsumen dengan strategi pemasaran yang akan disusunnya. Strategi yang baik pada hakekatnya didasarkan pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumennya. Perusahaan yang mampu memahami perilaku konsumen akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar karena dapat menyusun strategi pemasaran yang tepat dan dapt memberikan kepuasan yang lebih baik dibandingkan pesaing. Konsumen saat ini lebih bersifat menuntut. Mereka tidak lagi seperti dulu yang cenderung hanya menerima semua perlakuan penjual. Bahkan konsumen menginginkan sentuhan personal emosional yang tinggi. artinya konsumen ingin agar mereka dapat mengerti mereka dan bukan sebaliknya. Pemasaran perlu mengembalikan cara-cara yang cerdas untuk menciptakan hubungan personal yang lebih mendalam antara merek dengan konsumen (ferinadewi, 2008:141)

Daerah Asal (Region of origin) (skripsi dan tesis)


Daerah asal didefinisikan sebagai negara asal memproduksi suatu produk (Thakor dan Katsanis, 1997:5). Daerah asal sangat mempengaruhi persepsi kepribadian merek karena konsumen tidak meragukan lagi asal muasal dari produk tersebut. Konsumen menggunakan informasi tentang asal suatu produk di produksi untuk mengevaluasi produk. Manajer pemasaran berasumsi bahwa evaluasi produk 21 dipengaruhi oleh pengetahuan konsumen memiliki pengetahuan tentang daerah asal yang memproduksi produk tersebut Hong dan Wyer (isa Cardosa, 2013: 3). Negara asal atau tempat asal hanyalah salah satu aspek antara banyak lainnya, di mana konsumen mendasarkan persepsi mereka tentang kualitas (Becker dalam Isa Cardosa, 2013:3). 

Pengalaman Merek (Brand Experience) (skripsi dan tesis)

 Merek yang kuat akan timbul dari pengalaman yang konsisten (yang merupakan gabungan bentuk yang jelas dan unik secara keseluruhan pengalaman merek). Pengalaman merek juga merupakan keseluruhan interaksi yang dimiliki masyarakat dengan produk, jasa atau organisasi. Untuk dapat mendefenisikan lebih jauh mengenai pengalaman merek Brakus, dkk (Cardosa, 2013: 2) memulai penelitian dengan melihat sudut pandang konsumen dengan menguji pengalamanpengalaman konsumen itu sendiri dan bagaimana pengalaman itu menghasilkan pendapat sikap, dan aspek lainnya dari perilaku konsumen. Brand experience dimulai pada saat konsumen mencari produk, membeli, menerima pelayanan dan mengkonsumsi produk. Pengalaman merek dapat dirasakan langsung saat konsumen mengkonsumsi, dan membeli produk. Pengalaman merek dapat dirasakan secara tidak langsung saat konsumen melihat iklan atau juga saat pemasar mengkomunikasikan produk melalui website

Kepercayaan Merek (brand trust) (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2003:53) kepercayaan merek adalah kemauan konsumen mempercayai merek dengan segala risikonya, karena ada harapan bahwa merek tersebut dapat memberikan hasil yang positif baginya. Menurut Morgan dan hunt (Augusty, 2006: 104) kepercayaan adalah suatu rasa percaya kepada mitra dimana sesorang berhubungan. Lalu Indarjo (Kotler, 2006: 104) mendefinisikan kepercayaan sebagai suatu kerelaan untuk bergantung kepada partner dalam satu hubungan transaksi dimana diri parner itulah diletakan keyakinan. Dalam dunia bisnis, kepercayaan antara perusahaan (trust-company) membantu dalam menemukan indikator-indikator yang berkaitan dengan kinerja seperti jangkauan pertukaran informasi, penyelesaian masalah bersama, kepuasan atas hasil-hasil aktivitas yang telah dilakukan dan semakin besarnya motovasi dalam implementasi hasil-hasil keputusan. Adanya kepercayaan akan menciptakan rasa aman dan mengurangi persepsi konsumen akan risiko dalam pertukaran.
 Luarn dan Lin (dalam Ferinadewi, 2008:147) Kepercayaan adalah sejumlah spesifik terhadap integritas (kejujuran pihak yang dipercaya dan kemampuan menepati janji), benevolance (perhatian dan mitivasi yang dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan yang mempercayai mereka), competency (kemampuan pihak yang dipercaya untuk melaksanakan kebutuhan yang mempercayai) dan konsistensi perilaku pihak yang dipercaya. 19 Dalam riset Costabile (Ferinadewi, 2008:147) kepercayaan atau thrust didefinisikan sebagai persepsi akan kehandalan dari sudut pandang konsumen didasarkan pada pengalaman atau terpenuhinya harapan akan kinerja produk. Kepercayaan merek merupakan variabel psikologis yang mencerminkan sejumlah akumulasi awal yang melibatkan kredibilitas, integritas, dan benevolence yang dilekatkan pada merek tertentu. Kepercayaan konsumen adalah semua pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat konsumen tentang objek, atribut dan manfaatnya. Objek dapat berupa produk, orang, perusahaan dan segala sesuatu dimana seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Atribut adalah karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek. Atribut intrinsik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat actual produk, sedangkan atribut ekstrinsik adalah segala sesuatu yang diperoleh dari aspek eksternal produk, seperti nama, merek, kemasan produk.
Manfaat adalah hasil positif yang diberikan atribut kepada konsumen, (Mowen dan Minor, 2002:312). Delgado Balesster dkk. Dalam jurnal Isa Cardosa Cardosa (2013:2) mendefinisikan kepercayaan merek adalah kemampuan merek untuk dipercaya yang bersumber pada keyakinan konsumen bahwa produk tersebut mampu memenuhi nilai yang dijanjikan dan intensi baik merek yang didasarkan pada keyakinan konsumen bahwa merek tersebut mampu mengutamakan kepentingan konsumen. Menurut Lau dan Lee (1999:44 ) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Ketiga faktor ini berhubungan dengan tiga entitas yang tercakup dalam hubungan antara merek dan konsumen. Adapun ketiga faktor tersebut adalah merek itu sendiri, perusahaan pembuat merek, dan konsumen.

Theory Brand Of Personality (skripsi dan tesis)

Kepribadian merek menurut David Aker dalam jurnal academic research Isa Cardosa (2013: 2) adalah seperangkat karakteristik manusia yang dikaitkan dengan merek. Kepribadian merek menurut Kotler (2008:171), adalah bauran khusus karakteristik perilaku manusia yang dikaitkan dengan merek tertentu. Pemberian karakteristik personal pada merek, bisa membuat merek bersangkutan lebih berdaya tarik bagi konsumen yang ingin berafiliasi dengan merek-merek yang memiliki kepribadian yang diidam-idamkan (Tjiptono, Fandy 2011:59). Kepribadian dapat dikatakan sebagai keseluruhan pemikiran dan perasaannya terhadap diri sendiri Sirgi (Ferinadewi, 2008:154). Kepribadian merek sesungguhnya merupakan respon emosional konsumen terhadap merek yang membedakannya dengan merek pesaingnya. Oleh karena itu kepribadian merek penting untuk diciptakan agar mendapat respon emosional yang berbeda dengan merek lain. Bagi manajer pemasaran, hal yang perlu diingat dalam merancang strategi mereknya adalah kecendrungan konsumen untuk secara 16 konsisten mengkonsumsi merek yang sama dalam jangka waktu yang lama agar dapat menggambarkan kepribadiannya Ferrinadewi (2008:158).