Tampilkan postingan dengan label Judul Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judul Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2019

Aspek Dalam Sikap Optimisme Masa Depan (skripsi dan tesis)


Tujuan dan harapan remaja berkaitan dengan tugas perkembangan remaja akhir dan dewasa awal. Remaja lebih dahulu tertarik pada tugas perkembangan remaja akhir (misalnya pendidikan  lanjutan) dari pada tugas perkembangan dewasa awal (misalnya pekerjaan, keluarga, dan kekayaan masa depan). Hasil ini juga memperlihatkan orientasi masa depan remaja mencerminkan cultural prototype dari perkembangan sepanjang rentang kehidupan yang diantisipasi: remaja pertama-tama mengharapkan untuk menyelesaikan pendidikannya, kemudian bekerja dan yang ketiga menikah dan membangun dasar material untuk kehidupan selanjutnya.
Proses mendapatkan orientasi masa depan bagi remaja sendiri dibagi menjadi beberapa aspek dimana apabila terpenuhi semua aspek maka proses mendapatkan orientasi masa depan dapat terpenuhi. Konsep Proses mendapatkan orientasi masa depan bagi remaja sendiri di ambil dari konsep milik J.E Marsia (1993) tentang identitas diri, mengingat bahwa Nurmi (1989) pun menggunakan konsep Marsia unuk menjelakan fenomena pembentukan tujuan dan komitmen pada dimensi pertama orientasi masa depan, motivasi. Selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut;
a.    Knowledgeability 
Di masa remaja akhir, individu seharusnya telah melakukan penelitian yang akurat atas sejumlah kebutuhan dan kemampuan pribadi, serta memiliki gambaran yang realistik tentang sejumlah kesempatan yang tersedia di masyarakat. Individu mencari lebih dari sekedar pemahaman yang dangkal dalam pendidikannya ataupun melakukan magang pada suatu pekerjaan guna mendalami aktivitas pekerjaan tersebut.
b.    Aktivitas mengarahkan pada pengumpulan informasi
Di sini kita mengukur inti penopang penting perolehan informasi tentang sejumlah kemungkinan. Seseorang yang ingin menjadi dokter karena kedua orangtuanya adalah dokter, tidaklah mengindikasikan aktivitas eksplorasi yang mencukupi. Bentuk aktivitas eksplorasi yang dimaksud misalkan bercakap-cakap dengan individu lain  pada pekerjaan yang berbeda, mendiskusikan alternatif jurusan pendidikan dengan orang-orang yang menekuni jurusan tersebut. Hal penting yang ditekankan adalah beberapa inisiatif diri untuk melakukan pencarian yang lebih dalam.
c.    Mempertimbangkan alternatif potensial elemen-elemen identitas
Sebagian besar individu seiring dengan pertumbuhan mereka melalui masa kanakkanak menjadi sadar akan perbedaan sejumlah aspek dalam dirinya, bilamana dikejar, akan membawa individu tersebut pada arah kehidupan yang berbeda. Remaja adalah periode dalam 15 siklus kehidupan ketika eksperimentasi merupakan hal yang ditoleransi  dan bahkan digiatkan. Remaja akhir, adalah waktu yang tersisa sebelum individu mengkonfrontasi sejumlah realitas yang lebih keras di masa dewasa, dan dunia menjadi kurang sabar dengan  eksperimentasi remaja dan pembandingan/pemikiran aktif akan sejumlah alternatif. Baik pada remaja yang memasuki fase awal pemikiran maupun fase lanjutan, isu utama yang di tekankan adalah ketepatan pemikiran atau pertimbangan yang dilakukan. Aspek relevan bagi penentuan status identitas adalah adanya pemberian atensi terhadap sejumlah alternatif dan menimbang sejumlah konsekuensi dari apa yang individu inginkan.
d.   Keinginan membuat keputusan awal
Pengarahan adalah gelombang penting eksplorasi pada remaja akhir. Tujuan eksplorasinya adalah untuk menentukan ketepatan terbaik bagi pekerjaan, ideologi, dan alternatif interpersonal yang akan di mulai pada masa dewasa awal. Kesimpulannya, eksplorasi bisa saja tidak terwujud, baik dimasa sebelumnya atau sekarang; dan mungkin ada sejumlah pertimbangan pilihan yang melebar dan kedalaman pemikiran. Isu tentang derajat eksplorasi orientasi masa depan terutama penting dalam membedakan antara foreclosure dan identity achievement

Sikap Optimisme Masa Depan (skripsi dan tesis)


Orientasi masa depan adalah gambaran individu tentang dirinya dalam konteks masa depan, yang akan membantu individu mengarahkan dirinya  untuk mencapai sejumlah perubahan yang sistematis, guna meraih apa yang diinginkannya. Menurut Jari-Erik Nurmi (1991), orientasi masa depan ini terkait dengan harapan, tujuan, standar, ketertiban, rencana dan strategi yang akan dihadapi di masa depan. Orientasi masa depan merupakan fenomena kognitif motivasional yang kompleks yaitu antisipasi dan evaluasi diri di masa depan saat berinteraksi dengan lingkungan  (Trommsdorf, 1983). Kualitas motivasional dan afektif berkaitan dengan pemuasan kebutuhan bersifat subyektif, pernyataan sikap optimis atau pesimis, penilaian negatif atau positif, juga berkaitan dengan sistem nilai dan tujuan individu, yang tergambar dalam schemata mengenai diri dan lingkungannya.
Dalam kualitas motivasional  dan afeksinya, orientasi masa depan berkaitan dengan pemuasan kebutuhan subyektif, termasuk kecenderungan untuk mendekatkan atau menjauhkan diri dan bisa digambarkan dalam sikap yang lebih optimis atau pesimis, atau juga lebih positif atau negatif (Nurmi, 1989). Dengan adanya orientasi masa depan berarti individu telah melakukan antisipasi terhadap masalah yang mungkin timbul di masa depan (Nurmi, 1991)
Aspek kognitif terlihat dalam struktur antisipasi individu. Termasuk di dalamnya adalah lebih atau kurang diperluas terdiferensiasi, tepat, koheren dan/atau realistik. Selain itu, aspek kognitif membuat masa depan terlihat lebih atau kurang terkontrol, dan membuat orientasi masa depan individu dapat terfokus pada hal-hal yang memiliki sebab-sebab yang lebih internal atau eksternal
Menurut Poole, Cooney, Nurmi dan Green (dalam Raffaelli dan. Koller, 2005) bahwa setiap keputusan yang diambil oleh remaja  mulai memperhatikan masa depan, seperti;   pekerjaan di masa depan, pendidikan di masa depan, dan membangun keluarga di masa depan. Sebagai ruang lingkup orientasi masa depan remaja memberikan perhatian dan harapan yang terbentuk tentang masa depan, serta perencanaan untuk mewujudkannya, inilah yang dikenal dengan orientasi masa depan (OMD). Menurut Nurmi (dalam Steinberg, 2009) Orientasi masa depan merupakan gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya dalam konteks masa depan. Gambaran ini memungkinkan individu untuk menentukan tujuan-tujuannya, dan mengevaluasi sejauh mana tujuan-tujuan tersebut dapat direalisasikan. 

Intensitas Penggunaan Media Facebook (skripsi dan tesis)


Facebook merupakan aplikasi jejaring sosial online yang membuat penggunanya dapat menampilkan diri mereka dalam profil online, menambah “teman” yang dapat mem posting komentar serta saling melihat profil satu sama lain (Ellison, Steinfeld, et al, 2007). Para anggotanya juga dapat bergabung dengan grup virtual berbasis kesamaan minat, seperti kelas, hobi, minat, selera musik dan status hubungan romantis melalui profil mereka. Di Facebook, tingkat visibilitas untuk melihat profil pengguna lainnya cukup tinggi. Para pengguna yang merupakan bagian dari jaringan yang sama dapat bebas melihat profil satu sama lain, kecuali jika si pemilik profil memutuskan untuk menutup profil mereka, membatasi hanya dapat dilihat oleh lingkaran teman terdekat saja.
 Seperti yang dikutip dalam Ellison, Steinfeld & Lampe (2007), sebagian besar riset awalmengenai komunitas online berasumsi bahwa individu menggunakan situs jejaring sosial untuk  berhubungan dengan orang lain di luar kelompok sosial dan lokasi tempat mereka berada. Media jejaring sosial membebaskan penggunanya untuk membentuk komunitas dalam berbagikesamaan minat, berbagi lokasi geografis (Wellman, Salaff, Dimitrova, Garton, Gulia, dan Haythornthwaite, 1996). Pengukuran mengenai penggunaan Internet yang diadaptasi dari LaRose, Lai, Lange, Love, danWu (2005) dalam Ellison, Steinfeld & Lampe (2007) yang diaplikasikan dalam penelitian inidiantaranya meliputi: (1) intensitas penggunaan, seperti durasi/frekuensi, jumlah waktu yangdihabiskan serta berapa jumlah teman yang dimiliki, (2) alasan/motivasi penggunaan (mis.apakah untuk bertemu orang baru, atau memperkuat hubungan), serta (3) preferensi dan fungsi dari situs jejaring sosial tersebut
Beberapa konsep awal dari pendekatan ini adalah apa yang dikemukakan oleh Blumler (1979)dalam mengidentifikasi makna konsep “aktivitas” dapat dilihat dari sejumlah faktor, yaitu: (1) utility (kegunaan), (2) intentionality (motivasi/tujuan penggunaan, (3)  selectivity (pemilihan dan minat), (4) imperviousness to influence (penolakan terhadap pengaruh). McQuail, Blumler dan Brown (1972) mengemukakan bahwa beberapa kategori “uses of themedia” adalah: (1) sexual arousal (membangkitkan seks), (2) emotional release (pelepasan emosi), (3)  filling time (pengisi waktu), (4)  getting intrinsic culture/aesthetic enjoyment (menikmati budaya), (5) relaxing  (relaksasi), (6) escaping from problems (pelepasan diri dari masalah) dan (7)having a substitute for real-life companinionship (pengganti/substitusi pertemanan di dunia nyata) (Baran, 2000).

Jumat, 08 Februari 2019

Hubungan Antara Religiusitas dan Kebahagiaan Hidup (skripsi dan tesis)



Religiusitas merupakan nilai yang mempunyai dimensi paling luas yang tidak hanya menyangkut masalah dengan Tuhan-Nya namun juga masalah hubungan dengan makluknya-Nya.. Religiusitas sendiri diartikan sebagai merupakan ketaatan seseorang terhadap agama yang dianutnya. Religiusitas juga diartikan sebagai ukuran seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa besar pelaksanaan akidah, dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya, sehingga religiusitas dapat diartikan sebagai kualitas keagamaan. Dimensi dalam religiusitas adalah dimensi keyakinan, dimensi peribadatan atau praktek agama, dimensi pengetahuan agama, dimensi penghayatan, dimensi pengamalan.
Religi atau agama merupakan salah satu aspek penting dan harus diperhatikan dalam melihat individu dan kelompoknya. Apalagi jika yang harus dianalisa adalah masyarakat timur yang tidak pernah lepas dari mitos, mistis, mitologi, dan segala sesuatu yang bagi masyarakat ilmiah disebut irasional. Oleh karena bersifat irasional, maka persepsi tentang agama dan interpretasinya pun akan sangat subjektif bagi tiap individu, meskipun tetap memiliki benang merah dengan lingkungannya (entah yang seagama maupun yang tidak). Religiusitas menurut Alport dan Ross (Wicaksono dan Meiyanto, 2003) memiliki dua aspek oroentasi yaitu orientasi religius instrinsik (instrinsic religious) dan orientasi religius ekstrinsik (extrinsic religious). Orientasi religious instrinsik menunjuk kepada bagaimana individu “menghidupkan” agamanya (lives his/her religion) sedangkan orientasi religius ekstrinsik menunjuk kepada bagaimana individu “menggunakan” agamanya (uses his/her religion). Singkatnya orientasi religius instrinsik melihat setiap kejadian melalui kacamata religius, sehingga tercipta makna Donahue (Wicaksono dan Meiyanto, 2003). Sebaliknya orientasi religius ekstrinsik lebih menekankan pada konsekuensi emosional dan sosial Swanson dan Byrd (Wicaksono dan Meiyanto, 2003). Sementara itu dapat diamati munculnya fenomena yang menarik, yakni kecenderungan semakin meningkatnya religiusitas. Keinginan masyarakat Indonesia baik dari segi kuantitas maupun kualitas terutama pada sekitar dua dekade terakhir ini. Kecenderungan ini didapat pada hampir setiap besar, terutama pada agama Islam. Nampaknya kini semakin banyak yang menyadari bahwa agama atau religiusitas merupakan jawaban paling tepat untuk menyelamatkan jiwa manusia dari kepenganggapan sosial-psikologis yang ditimbulkan oleh gelombang besar modernisasi, agama dipandang sebagai alternatif pemecahan terbaik bagi berbagai persoalan kehidupan modern yang mereka hadapi (Kisbiyah, 1992).
Tentu akan menjadi permasalahan yang sangat besar ketika harus mengukur suatu nilai/persepsi/norma yang memiliki aspek subjektivitas dan irasional, misalnya untuk mengukur religiusitas seseorang. Sejauh ini teori yang paling bisa menjawab menurut peneliti untuk bisa melakukan pengukuran terhadap aspek religiusitas seseorang adalah teori yang dikemukakan oleh Glock & Stark.
Religiusitas dan kebehagiaan hidup secara tidak langsung terkait karena hal itu bisa membuat manusia mengetahui sejauh mana mereka bisa menghargai hidup dan memanfaatkan hidupnya dengan berperilaku dan berbuat sesuai dengan ajaran agamanya. Secara tidak langsung agama dapat menjadikan seseorang sadar akan makna hidup dan bagaimana mereka untuk berbuat lebih baik untuk masa depan hidupnya dalam meraih prestasi. Seorang religius adalah individu yang mengerti akan hidup dan kehidupan secara lebih dalam arti lahiriah semata, yang bergerak dari dimensi vertikal kehidupan dan mentransenden hidup ini Tillich (Rini Lestari dan Purwati, 2002).
Selligman (2002) menyatakan bahwa nilai moral dalam agama menjadi hal yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah psikologi yaitu dengan cara membantu emosi positif sehingga individu akan lebih mudah dalam mencapai kebahagiaan. Menurut teori top-down, hubungan antara pengamalan ajaran agama dan kebahagiaan menjadi positif apabila agama sudah terwujud dalam kegiatan sehari-hari. Ajaran Islam mendahulukan penguasaan pengetahuan agama sebelum melakukan aktivitas keagamaan. Individu muslim yang menuntut ilmu bergembira karena akan memperoleh pahala baik di dunia maupun di akherat. Siswa menjadi tidak buta terutama masalah moral agama dan mempunyai benteng untuk menghadapi gejolak jiwa yang tidak mengenakkan. Secara umum penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang dirasakan bermanfaat untuk siswa akan berpengaruh positif terhadap kepuasaan hidup dan afek remaja Islam. Dengan demikian maka pemahaman nilai agama yang tinggi pada remaja akan membantu remaja dalam mencapai kebahagiaan dalam hidup.

Dimensi Religiusitas (skripsi dan tesis)


Religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia, aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah) saja, tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan lahir. Oleh karenanya menurut Shihab (1992) bahwa agama meliputi tiga persoalan pokok yaitu tata keyakinan, tata peribadatan dan kaidah.
Adapun untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat religiusitas seseorang, dapat dilihat dari ekspresi keagamaannya yaitu terhadap kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragamanya. Jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati  serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang menganut suatu agama karena menurut keyakinannya agama tersebut yang baik, karena itu ia berusaha menjadi penganut yang baik. Keyakinan itu ditampilkannya dalam setiap tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya” (Mangun Wijaya, 1982).
Beberapa dimensi yang dapat dijadikan sebagai indikator nilai pemahaman mengenai pengetahuan dalam agama menurut rumusan (Ancok dan Suroso, 2008), yaitu :
a.    Ideological Dimension (Dimensi Keyakinan), yaitu tingkatan sejauhmana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam agamanya. Misalnya apakah seseorang yang beragama percaya tentang adanya malaikat, surga, neraka dan lain-lain yang bersifat dogmatik.
b.    Ritual Dimension (Dimensi Peribadatan atau Praktek Agama), yaitu tingkatan sejauhmana orang mengerjakan kewajiban ritual agamanya. Misalnya shalat, puasa, zakat dan lain-lain.
c.    Intellectual Involvement (Dimensi Pengetahuan Agama), yaitu sejauhmana seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Misalnya mengetahui makna dari Idul Fitri.
d.   Experiental Dimension (Dimensi Penghayatan), yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misal apakah seseorang pernah dekat dengan Tuhan, merasa takut berbuat dosa, merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan atau pernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
e.    Consequential Dimension (Dimensi Pengamalan), yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasikan oleh ajaran agamanya.
Menurut Ancok dan Suroso (2008) rumusan Glock dan Stark diatas mempunyai kesesuaian dengan Islam, sehingga ia membaginya juga dalam lima dimensi yaitu :
a.    Dimensi Akidah atau iman, yaitu mencakup keyakinan dan hubungan manusia dengan Tuhan, malaikat, kitab suci, nabi, hari akhir serta qadha dan qadar. Iman adalah segi teoritis yang pertama-tama dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh keragu-raguan dan prasangka.
b.    Dimensi Ibadah, yaitu sejauh mana tingkat frekuensi, intensitas pelaksanaan ibadah seseorang. Dimensi ini mencakup pelaksanaan shalat, puasa, zakat dan haji. Secara umum ibadah berarti bakti manusia  kepada Allah SWT karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid. Beribadah dengan menyembah Allah berarti memusatkan penyembahan kepada Allah semata, tidak ada yang disembah dan mengabdikan diri kecuali kepada-Nya. Pengabdian berarti penyerahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin bagi manusia kepada kehendak ilahi, itu semua dilakukan dengan kesadaran baik dalam hubungan secara vertical maupun secara horizontal.
c.    Dimensi Ihsan, yaitu mencakup pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Tuhan dalam kehidupan, ketenangan hidup, takut melanggar perintah Tuhan, keyakinan menerima balasan, perasaan dekat dengan Tuhan dan dorongan melaksanakan perintah agama.
d.   Dimensi Ilmu, yaitu tingkatan seberapa jauh pengetahuan seseorang tentang ajaran agamanya. Yang dimaksud dengan ilmu adalah segala macam ilmu yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya, baik kebutuhan duniawi maupun ukhrowi. Ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya mata dari kezaliman dan kekuatan tubuh dari kelemahan. Dengan ilmu seorang hamba akan sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan yang paling tinggi. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Ilmu diilhamkan kepada orang-orang yang berbahagia dan diharamkan bagi orang-orang yang celaka.
e.    Dimensi Amal, yaitu meliputi bagaimana pengamalan keempat diatas ditunjukkan dalam tingkah laku seseorang. Dimensi ini menyangkut hubungan manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para pedagang.
Tingkat religiusitas seseorang tidak dapat lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi di sekitarnya, karena manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam interaksi tersebut terjadi saling mempengaruhi antara hubungan manusia dengan lingkungannya. 

Pengertian Religiusitas (skripsi dan tesis)


Religiusitas berasal dari bahasa latin religio yang berarti agama; kesalehan; jiwa keagamaan. Henkten Nopel mengartikan religiusitas sebagai keberagaman, tingkah laku keagamaan, karena religiusitas berkaitan dengan erat dengan segala hal tentang agama (Henkten, 1994). Dalam pengertian lain Religi berakar dari kata religare berarti mengikat yaitu merujukkan pada hal yang dirasakan sangat dalam, yang bersentuhan dengan keinginan seseorang yang menumbuhkan ketaatan dan memberikan imbalan atau mengikat seseorang dalam suatu masyarakat (Nashori, 2002).
Religiusitas secara umum dapat dikaitkan dengan agama oleh karenanya pengertian dari religiusitas dapat dirujukkan pada pengertian agama. Agama sendiri dapat diartikan sebagai sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai dan sistem perilaku yang terlembagakan yang semuanya berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai sesuatu yang paling maknawi (ultimate meaning) (Ancok dan Suroso, 2009). Sedangkan Shihab (1992) menyatakan bahwa agama adalah ketetapan illahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya utnuk menjadi pedoman manusia sementara Shihab (1992) menyimpulkan bahwa agama adalah hubungan antara makhluk dengan khaliknya yang terwujud dalam sikap batinnya serta tampak dalam ibadah yang dilakukan dan tercermin pula dalam sikap kesehariannya. 

Angket Kepuasan Hidup (Life Satifaction’s Scale) (skripsi dan tesis)


Pengukuran kepuasaan hidup didasarkan pada Student’s Life Satifactions Scale oleh Diener. Secara singkat maka diungkapkan bahwa Life Satifaction scale merupakan penilaian individu remaja terhadap segala peristiwa yang dialami dengan harapan dan keinginannya  yang terdiri atas :
Angket kepuasan hidup berjumlah 37 item. Pembagiannya adalah kepuasan terhadap diri 8 item, kepuasan terhadap keluarga 8 item, kepuasan terhadap sekolah 6 item, kepuasan terhadap kawan 9 item dan kepuasan terhadap lingkungan 6 item adapun interval angket ini berkisar antara sangat puas dan sangat tidak puas dengan skala penilaian berkisar antara 1 sampai 5
a.    Kepuasan terhadap diri sendiri
Kepuasan terhadap diri sendiri merupakan upaya untuk mengkaji bagaimana seseorang memandang diri sendiri. Hal ini diungkapkan dengan kata-kata yang paling sering digunakan untuk menggambarkan diri sendiri baik dalam afek positif maupun negatif
b.    Kepuasan terhadap keluarga
Keluarga sebagai lingkungan terdekat seorang individu memiliki peran penting dalam diri seorangindividu memandang kepuasan hidup. Oleh karenanya dalam penguukuran kebahagiaan hidup maka digunakan sebagai upaya seseorang untuk menggambarkan kepuasaan hidup dipandang dari dirinya melihat peranan keluarga. Hal ini digambarkan melalui kata-kata yang merujuk pada pandangan seeorang mengenai keluarga.
c.    Kepuasan terhadap kawan,  sekolah dan lingkungan masyarakat
Lingkungan remaja termasuk diantaranya adalah teman dan sekolah merupakan kondisi di sekitar si remaja yang ikut mempengaruhi bagaimana dalam emandang kepuasan hdiup. Lingkungan dimasukkan sebagai tempat dimana si remaja melakukan hubungan sosial serta mendapatkan berbagai pemuhan kebutuhan hidupnya misalkan sumber keuangan, kesempatan untuk mendapatkan informasi baru dan keterampilan tertentu, peran serta dan kesempatan untuk rekreasi atau aktivitas santai, lingkungan rumah, kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan dan sosial, serta transportasi. Oleh karenanya mengkaji mengenai lingkungan sangat penting untuk mengungkap bagaimana seorang remaja menggambarkan kebahagiaan hidup. 

Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) (skripsi dan tesis)


PANAS terdiri dari dua sub skala yaitu skala yang mengukur perasaan positif dan skala yang mengukur perasaan negatif. Skala perasaan positif terdiri dari 22 item dan skala perasaan negatif terdiri dari 15 item. Item di nilai berdasarkan 5 kategori nilai yang mrupakan tingkatan respon dari tidak sama sekali sampai sangat merasakan. Skala perasaan negatif meliputi item jengkel, bermusuhan, mudah marah, takut, malu, dan bersalah. Sedangkan skala perasaan negatif terdiri dari item bersemangat, bangga, waspada, ditentukan, perhatian, dan aktif (Watson, D., L. Clark and A. Tellegen: 1988

Komponen Kebahagiaan (skripsi dan tesis)


Diener (2000) dan Myer (2000), menyebut happiness adalah evaluasi manusia secara kognitif dan afektif terhadap kehidupan mereka. Dua bentuk evaluasi ini menjadi komponen kebahagiaan. Komponen kognitif sering disebut dengan kepuasan hidup dan komponen afektif sering disebut dengan afek. Untuk penjabaran yang lebih terperinci mengenai komponen kebahagian maka akan diuraiakan sebagai berikut:
a.      Afek
Perasaan (feeling) dan emosi (emotion) merupakan bagian integral dari pengalaman manusia. Istilah perasaan mengarah pada macam-macam emosi dalam aktivitas keseharian (Tellegen et al., 1988). Selanjutnya Tellegen et al., menyatakan bahwa setiap pengalaman emosional akan berkaitan dengan aspek afektif atau feeling-tone, yang dapat bervariasi antara sangat menyenangkan sampai dengan sangat tidak menyenangkan. Afek dengan demikian berkaitan erat dengan emosi. Pengaruh emosi akan dapat dilihat melalui parameter fisiologis, gerak mental atau observasi perilaku (Cacioppo et al., 1999).
Uraian di atas menunjukkan bahwa afek adalah gambaran perasaan, suasana hati dan emosi secara keseluruhan yang menyertai kesadaran dan dapat bervariasi antara sangat menyenangkan sampai sangat tidak menyenangkan. Afek yang menyenangkan sering disebut dengan afek positif dan afek yang tidak menyenangkan disebut afek negatif. Dalam penelitian ini dapat digunakan untuk mengkaji komponen afek  sehingga mengetahui kondisi remaja baik yang sedang mengalami afek positif maupun afek negative.
Penelitian Costa dan McCrae (1980) menyimpulkan bahwa dua kecenderungan perilaku manusia, yaitu kecepatan dan kekuatan berhubungan dengan afek positif dan tidak berhubungan dengan afek negatif. Tellegen et al. (1988) menyebut 10 kata sifat yang memiliki daya ungkap terhadap afek positif. Sepuluh kata sifat adalah attentive (penuh perhatian), interested (berminat), alert (siaga atau waspada), excited (bergairah), enthusiastic (antusias), inspired (terinspirasi), proud (bangga), strong (kuat), active (aktif), dan determined (teguh pendirian).
Afek negatif menunjuk pada pengertian adanya ketegangan dan ketidaknyamanan sebagai akibat dari macam-macam mood yang tidak mengenakkan seperti marah, direndahkan, tidak disukai, rasa bersalah, takut, dan gelisah (Tellegen et al., 1988). Pendapat serupa dikemukakan oleh Costa dan McCrae (1980) bahwa emosionalitas, kemarahan dan lemahnya kontrol berhubungan dengan afek negatif yang tinggi. Kata-kata sifat untuk mengetahui afek negatif seseorang adalah distressed (tegang), upset (kecewa), guilty (rasa bersalah), scared (ngeri), hostile (bermusuhan), irritable (mudah tersinggung), ashamed (malu), jittery (gugup), nervous (gelisah), dan affraid (takut) (Tellegen et al., 1988). Menurut Costa dan McCrae (1980), afek positif dan afek negatif saling berdiri sendiri dalam mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Sepuluh kata sifat yang menunjukkan afek positif dan sepuluh kata sifat yang menunjukkan afek negatif tersebut dimodifikasi seperlunya dalam penelitian ini. Tujuannya adalah agar lebih dipahami subjek dan agar lebih mengungkapkan afeksinya.
b.   Kepuasan Hidup
Terdapat berbagai pendapat mengenai pengertian kepuasan hidup. Hurlock (1997) menyatakan bahwa kepuasan hidup adalah keadaan bahagia dan adanya kepuasan hati yang merupakan kondisi yang menyenangkan yang timbul bila kebutuhan dan harapan tertentu individu terpenuhi. Diener (1984) mengemukakan bahwa kepuasan hidup mencerminkan kondisi kehidupan yang diwarnai oleh perasaan senang tentang pengalaman masa lampau, sekarang dan gambaran yang akan datang. Diener (2000) juga menekankan bahwa kepuasan hidup akan tercapai jika terdapat kesesuaian antara apa yang dicita-citakan seseorang dengan kenyataan yang dihadapi sekarang, baik itu menyangkut prestasi atau dimensi kehidupan yang lain seperti kepuasan terhadap keluarga, kepuasan terhadap perkawinan, kepuasan terhadap sekolah dan kepuasan terhadap kawan. Kepuasan hidup ini dicerminkan dengan optimisme diri yang dimiliki oleh individu (Seligman, 2002).
Dalam penelitian ini kepuasan hidup diartikan sebagai evaluasi kognitif individu dalam menikmati pengalaman-pengalamannya di masa lalu dan sekarang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebahagiaan (skripsi dan tesis)


Berdasarkan uraian di bawah ini maka diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor eksternal dan internal. Penghasilan, kesehatan, bentuk tubuh, dan faktor demografis (usia, jenis kelamin dan pendidikan) merupakan faktor eksternal sementara temperamen, nilai-nilai hidup yang ada pada diri manusia dan kepribadian merupakan faktor internal.
a.      Penghasilan
Daerah bottom-up yang sering dieksplorasi dan dipercaya berpengaruh besar adalah kekayaan. Pada awalnya banyak pemerintah mengira bahwa kebahagiaan akan meningkat dengan meningkatnya pendapatan (materi). Perkiraan ini membuat banyak negara, berusaha keras meningkatkan kepemilikan materi. Kenyataan yang diperoleh dari hasil penelitian ternyata tidak demikian (Boven Iet al., 2003). Orang Amerika sekarang memperoleh Dollar dua kali lipat dibandingkan tahun 1957, individu yang menyatakan sangat bahagia ternyata turun dari 35 % ke 29 %. Depresi meningkat menjadi 10 lipat, bunuh diri di kalangan remaja menjaadi tiga kali lipat (Myers, 2000). Hal ini merupakan salah satu contoh dari banyak penelitian yang pernah dilakukan. Penelitian terhadap remaja, yang miskin, kelas menengah atas dan kelas atas menunjukkan bahwa mereka yang miskin menunjukkan kebahagiaan yang tinggi. Pengukuran dilakukan beberpa kali dalam sehari selama tiga tahun (Csikszentmhalyi, 1999).
b.      Usia
Usia merupakan faktor yang diperkirakan turut mempengaruhi keadaan kebahagiaan individu. Penelitian Converse dan Robinson (dalam Diener et al., 1999) yang membandingkan antara siswa-siswa usia sekolah (6-17 tahun) menunjukkan bahwa siswa-siswa sekolah mempunyai ketidakpuasan yang lebih besar dibanding orang dewasa.
c.      Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan atau pengetahuan materi pelajaran tertentu merupakan salah satu faktor penentu status sosial yang akan mempengaruhi kebahagiaan individu. Bahkan skor dalam pelajaran diasumsikan merupakan kriteria status sosial bagi siswa-siswa sekolah.
d.     Budaya
Individu yang tinggal dalam budaya koletivistik mempunyai pandangan yang berbeda dengan budaya individualistik tentang apa yang membuat orang bahagia (Suh et al., 1998). Secara lebih rinci, Suh et al. (1998) dan Diener et al. (2001) menjelaskan bahwa dalam budaya kolektivistik, orang cenderung menilai kebahagiaan sesuai dengan norma. Ia cenderung mengorbankan kebahagiaan pribadi demi kebahagiaan orang banyak (Diener, 2000). Individu yang tinggal dalam budaya individualistik, afek dan self-esteem lebih berpengaruh terhadap kepuasan hidup.
e.   Agama
Sebenarnya penelitian agama dalam psikologi cukup penting (McCrae, 1999). APA mempunyai devisi khusus yang berkaitan dengan agama. Penelitian agama dan kebahagiaan untuk agama-agama tertentu pernah dilakukan (Diener et al., 1999). Agama-agama yang bersifat komunal seperti Nasrani, Yahudi dan Islam berpotensi untuk meningkatkan kebahagiaan individu. Ketiga agama ini mempunyai kegiatan keagamaan yang mempunyai kesamaan. Mereka mempunyai tempat ibadah tertentu dan pada saat-saat tertentu melakukan acara-acara yang dihadiri oleh pemeluknya. Beberapa ajaran lain yang berasal dari agama-agama tersebut yang berpotensi untuk meningkatkan kebahagiaan adalah kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati, adanya surga dan takdir (segala sesuatu yang telah ditentukan terhadap seseorang mempunyai arti yang positif bagi individu tersebut) (Diener et al., 1999).

Teori-teori Kebahagiaan (skripsi dan tesis)


a.   Teori bottom-up
Diener (1984) membedakan antara proses top-down dan bottom-up yang mempengaruhi kebahagiaan adalah peristiwa-peristiwa luar, situasi, dan pengaruh demografis. Dengan demikian maka dalam teori ini akan melihat bahwa kebahagian dipengaruhi oleh semua peristiwa yang dialami oleh individu itu sendiri.
b.   Teori top-down
Teori top-down menerangkan variabilitas kebahagiaan dengan melihat struktur dalam diri seseorang yang menentukan bagaimana peristiwa dan lingkungan dipandang. Teori top-down menyatakan bahwa manusia agar dapat hidup puas dan bahagia harus ada tuntunan yang positif dalam diri manusia yang terwujud dalam kepuasan hidup dan perilaku yang positif seperti cara memandang atau membandingkan diri. Dalam teori ini maka kebahagiaan hidup dipandang sebagai upaya individu memandang apa yang telah dilakukan sebagai bagian dari kebahagian hidup.
a.    Teori Kegiatan (flow)
Teori ini menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan hasil samping (by product) kegiatan menusia (Diener, 1984). Misalnya individu yang memberikan pertolongan terhadap orang yang sangat susah atau terjepit dalam peristiwa kebakaran, dapat meningkatkan kebahagiaan pada pelakunya (Haidt, 2003).
Tema yang sering muncul dalam teori kegiatan atau aktivitas adalah kesadaran diri (self awareness) akan mengurangi kebahagiaan. (Csikszentmhalyi dan Figurski dalam Diener, 1984). Menurut pendekatan ini seseorang harus berkonsentrasi pada aktivitas atau kegiatan dan kebahagiaan akan meningkat dengan sendirinya sebagai hasil samping.
Csikszentmhalyi (1999) memberi nama teori kegiatan dengan teori flow. Kegiatan akan nampak menggembirakan bila kegiatan tersebut memberikan tantangan yang sesuai atau sebanding dengan tingkat kemampuan individu. Kegiatan jika terlalu mudah maka akan muncul kebosanan, bila terlalu sulit, kecemasan akan muncul. Individu yang akan ditingkatkan kebahagiaannya perlu memperoleh kegiatan yang sesuai dengan kemampuan optimalnya.
b.    Teori Senang dan Susah
Suatu hal yang telah diketahui umum adalah bahwa orang yang ingin bahagia harus mengalami kesusahan terlebih dahulu. Peribahasa mengatakan bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Diener (1984) memberikan alasan mengapa keadaan bahagia dan tidak bahagia harus dikaitkan. Ia merujuk hasil penelitian yang dilakukan oleh Diener, Larsen, Levine, dan Emmons, bahwa orang yang mengalami kebahagiaan secara mendalam adalah mereka yang mengalami emosi negatif yang mendalam.
c.    Teori Perbandingan
Teori ini menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan hasil dari suatu perbandingan antara beberapa standar dan kondisi aktual. Jika kondisi aktual melebihi standar maka akan muncul rasa senang. Bila dihubungkan dengan kepuasan hidup, perbandingan mungkin dilakukan secara sadar, sedang bila dihubungkan afek, perbandingan dengan suatu standar mungkin terjadi secara tidak sadar. Apabila ia merasa lebih baik dari orang lain ia akan bahagia. Dalam teori adaptasi, orang menggunakan masa lalu sebagai standar. Jika saat ini kondisi seseorang lebih baik dari masa lalu, orang akan bahagia (Brickman et al., 1978).

Pengertian Kebahagiaan Hidup (skripsi dan tesis)


Kebahagiaan saat ini merupakan salah satu topik yang cukup hangat dibicarakan para ahli psikologi dengan label kesehjateraan subjektif (Happiness). Penelitian tentang kebahagiaan dalam jurnal-jurnal yang terbit kemudian tidak selalu konsisten dengan istilah keehjteraan subjektif. Istilah bahagia (happy) dan kebahagiaan (happiness) masih sering dipakai dalam banyak penelitian. Dalam psikologi positif kebahagiaan menjadi salah satu pusat perhatian karena kebahagiaan banyak berkaitan dengan perilaku positif yang selalu didambakan oleh masyarakat.
Menurut Diener (2000) kebahagiaan dapat didefinisikan sebagai evaluasi kognitif dan efketif terhadap kehidupannya. Evaluasi kognitif orang yang bahagia berupa kepuasan hidup yang tinggi, evaluasi afektifnya adalah banyaknya afek positif dan sedikitnya afek negatif yang dirasakan. Istilah kebahagiaan menurut Diener (2000) dan Myer (2000), dan sejumlah psikolog sosial menyebut happiness sebagai “ilmu pengetahuan tentang kebahagiaan (science of happiness)”. Mereka menyatakan bahwa kebahagiaan adalah evaluasi manusia secara kognitif dan afektif terhadap kehidupan mereka. Dua bentuk evaluasi ini menjadi komponen kebahagiaan. Komponen kognitif sering disebut dengan kepuasan hidup dan komponen afektif sering disebut dengan afek.
Menurut Kartono (2003) kebahagiaan atau happiness adalah suatu keadaan puas secara umum dari organisme terutama jika bisa mendukung secara konsisten-cocok pernyataan-pernyataan lisannya atau pada kasus manusia dengan tingkah laku yang dapat diekspresikan keluar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) kebahagiaan berasal dari kata bahagia yang berarti keadaan atau perasaan senang dan tentram atau bebas dari segala yang menyusahkan. Kebahagiaan sendiri memiliki arti kesenangan dan ketentraman hidup atau lahir batin, keberuntungan, kemujuran yang bersifat lahir batin 

Senin, 04 Februari 2019

Konsep Efektifitas dan Efisiensi (skripsi dan tesis)


Emitai Etzioni (1982) mengemukakan bahwa “efektivitas organisasi dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasara. Liang Gie (2000:24) juga mengemukakan “efektivitas adalah keadaan atau kemempuan suatu kerja yang dilaksanakan oleh manusia untuk memberikan guna yang diharapkan.”
Sedangkan pengertian efisien adalah sebagai kemampuan suatu unit usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan, efisiensi selalu dikaitkan dengan tujuan organisasi yang harus dicapai oleh perusahaan”. (Agus Maulana, 1997). Dalam kamus besar pengertian efisiensi adalah “ Kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat (dengan tidak membuang-buang waktu,tenaga dan biaya)”. (1995)
Gibson (2000) mengungkapkan tiga pendekatan mengenai efektivitas yaitu:
1.      Pendekatan Tujuan.
Pendekatan tujuan untuk mendefinisikan dan mengevaluasi efektivitas merupakan pendekatan tertua dan paling luas digunakan. Menurut pendekatan ini, keberadaan organisasi dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pendekatan tujuan menekankan peranan sentral dari pencapaian tujuan sebagai kriteria untuk menilai efektivitas serta mempunyai pengaruh yang kuat atas pengembangan teori dan praktek manajemen dan perilaku organisasi, tetapi sulit memahami bagaimana melakukannya. Alternatif terhadap pendekatan tujuan ini adalah pendekatan teori sistem.
2.      Pendekatan Teori Sistem.
Teori sistem menekankan pada pertahanan elemen dasar masukan-proses-pengeluaran dan mengadaptasi terhadap lingkungan yang lebih luas yang menopang organisasi. Teori ini menggambarkan hubungan organisasi terhadap sistem yang lebih besar, diman organisasi menjadi bagiannya. Konsep organisasi sebagian suatu sistem yang berkaitan dengan sistem yang lebih besar memperkenalkan pentingnya umpan balik yang ditujukan sebagai informasi mencerminkan hasil dari suatu tindakan atau serangkaian tindakan oleh seseorang, kelompok atau organisasi. Teori sistem juga menekankan pentingnya umpan balik informasi. Teori sistem dapat disimpulkan: (1) Kriteria efektivitas harus mencerminkan siklus masukan-proses-keluaran, bukan keluaran yang sederhana, dan (2) Kriteria efektivitas harus mencerminkan hubungan antar organisasi dan lingkungn yang lebih besar dimana organisasai itu berada. Jadi: (1) Efektivitas organisasi adalah konsep dengan cakupan luas termasuk sejumlah  konsep komponen. (3) Tugas manajerial adalah menjaga keseimbangan optimal antara komponen dan bagiannya
3.      Pendekatan Multiple Constituency.
Pendekatan ini adalah perspepktif yang menekankan pentingnya hubungan relatif di antara kepentingan kelompok dan individual dalam hubungan relatif diantara kepentingan kelompok dan individual dalam suatu organisasi. Dengan pendekatan ini memungkinkan pentingnya hubungan relatif diantara kepentingan kelompok dan individual dalam suatu organisasi. Dengan pendekatan ini memungkinkan mengkombinasikan tujuan dan pendekatan sistem guna memperoleh pendekatan yang lebih tepat bagi efektivitas organisasi.

Konsep Perilaku Organisasi (skripsi dan tesis)


Perilaku oragnisasi adalah studi tentang individu-inidividu dan kelompokkelompok dalam organisasi (Schemerhorn, 2002). Secara lebih rinci Robbins & Judge (2007) menjelaskan perilaku keorganisasian adalah suatu bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan, kelompok dan struktur terhadap perilaku organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk meperbaiki keefektifan organisasi. Dengan demikian perilaku organisasi bukan hanya menyangkut bagaimana cara setiap orang dan kelompok bertindak di dalam organisasi serta pengaruh melainkan juga sebaliknya bagaimana pegaruh organisasi terhadap perilaku itu sendiri (Cushway & Lodge, 1995).




Penggunaan “wawancara” sebagai alat seleksi (skripsi dan tesis)


Wawancara merupakan sebuah metode yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian dan seleksi dengan membuat serangkaian pertanyaan yang dijawab oleh responden. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa pilihan wawancara yang bisa digunakan saat melakukan seleksi  (Iles, 1999). Kelebihan penggunaan wawancara sebagai alat seleksi adalah wawancara memiliki tingkat fleksibilitas tinggi sehingga dapat diterapkan baik terhadap para calon karyawan manajerial atau operasional, berketerampilan tinggi atau rendah, maupun staf.  Dalam hal lain, wawancara sebagai alat seleksi memungkinkan pertukaran informasi dua arah : pewawancara mempelajari pelamar, dan sebaliknya pelamar mempelajari perusahaan. Sebaliknya, wawancara sebagai alat seleksi mempunyai dua kelemahan utama  yaitu mengenai reliabilitas dan validitas. Penilaian si pewawancara menjadi satu-satunya alat untuk menilai respon si subjek sehingga seringkali memiliki bias subjektif dari pewawancara itu sendiri.
Namun demikian para pengusaha masih memandang wawancara sebagai alat seleksi yang penting  karena informasi yang dapat di gali dari calon karyawan lebih mendetail dibandingkan dengan alat tes dalam seleksi karyawan. Untuk memberikan efisiensi penggunaan wawancara dalam seleksi pekerjaan maka harus diperhatikan pelaksanaan yang tepat (dimana si pewawancara harus memiliki kemampuan yang dapat menunjang penilaian respon subjek dengan tepat, menghindarkan bias selama wawancara dan meminimalkan penilaian yang subjektif). Hal lain yang patut diperhatikan adalah kemampuan si pewawancara dalam melakukan wawancara dalam kondisi yang fleksibilitas sehingga data dapat tergali dengan baik dari si calon karyawan.

Sabtu, 02 Februari 2019

Pencegahan Narsisme Pada Remaja (skripsi dan tesis)


Pada kondisi seharusnya, individu yang memiliki harga diri normal tidak perlu meminta pengaguman dan pemujaan diri dari orang lain mengenai sikap, perilaku, prestasi, dan kehebatannya. Orang yang merasakan adanya hal-hal positif dalam dirinya sendiri tentu saja akan menyukai diri sendiri dan mengembangkan perasaan bahwa dirinya berharga. Hal ini memberikan ketenangan batin dan merupakan sumber bagi kesehatan mental. Jadi, mengagumi diri sendiri dalam batas tertentu justru merupakan indikasi kesehatan mental.
Pada kondisi sebaliknya, individu dengan kecenderungan narsisme sebenarnya memiliki harga diri yang rendah (Robins, 2001).  Oleh karenanya fenomena yang terjadi pada remaja yang menggunakan media social untuk bernarsis secara berlebihan sebenarnya berangkat dari kecenderungan meminta pengaguman dan pemujaan diri dari orang lain mengenai suka memamerkan kelebihan, kehebatan yang dimilikinya, memiliki hubungan interpersonal yang dangkal dengan teman-temannya serta kurang perhatiannya dengan temannya
Dengan menggaris bawahi berbagai faktor di atas maka pihak orangtua dan lingkungan dapa membantu remaja dalam masa perkembangannya untuk mengenali jati diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, berpikir positif dan realistis, bersosialisasi dengan tetangga atau lingkungan terdekat, dan menghargai hasil yang telah dihasilkannya meskipun hanya sederhana. Pengembangan kemampuan diri sendri dalam menghargai diri sendiri dan menjalin interaksi social yang sehat bisa menjadi salah satu upaya yang dianggap ikut menurunkan kecenderungan narsisme pada remaja.

Dampak Narsisme Pada Remaja (skripsi dan tesis)


Seseorang yang memiliki kecenderungan narsisme merasa sulit memahami orang lain. Individu dengan kecenderungan narsisme hanya mau mendengarkan hal-hal positif yang meningkatkan harga dirinya, dan sebaliknya selalu menolak masukan yang menunjukkan kekurangannya. Tidak jarang individu dengan kecenderungan narsisme memamerkan bagaimana komentar orang lain yang mengakui keunikan atau idealisme yang dijunjung tinggi olehnya. Hal itu dilakukannya ketika individu dengan kecenderungan narsisme merasa harga dirinya terancam saat menerima masukan yang mengoreksi kebiasaan atau pola pikirnya. Tampak bahwa individu dengan kecenderungan narsisme sangat bangga dan mengagumi dirinya sendiri. Individu dengan kecenderungan narsisme cenderung suka menyalahkan orang lain, bila ada hal yang tidak memuaskan narsisme-nya.
Dalam pernyataan lain juga disebutkan bahwa orang yang mengalami gangguan narsisme ini dari luar tampak memiliki perasaan luar biasa akan pentingnya dirinya, sepenuhnya terserap ke dalam dirinya sendiri, dan fantasi tentang keberhasilan tanpa batas, namun demikian telah diteorikan  bahwa karakteristik tersebut merupakan topeng bagi harga dirinya yang sangat rapuh (Davisond dkk., 2006;67).
Pernyataan lain menambahkan bahwa orang dengan narsistik akan cenderung untuk memberitahu orang lain tentang keberhasilan, kecerdasan dan kecantikan yang ia yakini melebihi orang lain. Menurut Vazire, dkk (2008;27), narsistik dapat bermanifestasi pada penampilan fisik seseorang, seperti kepentingan tentang penampilan mereka, keinginan untuk menjadi pusat perhatian dan perubahan penampilan fisik dalam usaha pencarian status sosial. Tidak hanya dalam hal kecantikan fisik, Campbell, dkk (Campbell & Miller, 2011; 36) juga menemukan bahwa orang dengan kepribadian narsistik merasa diri mereka lebih tinggi dibanding orang lain, menilai diri mereka lebih pintar dan berpengalaman, namun tidak lebih mudah dipahami, disbanding orang kebanyakan. Dikutip dari Robin & Beer (Campbell & Miller, 2011; 48), narsistik juga lebih sering menanamkan ekspektasi yang tinggi terhadap tugas-tugas kinerja dan mereka sangat percaya bahwa kesuksesan mereka berdasarkan kualitas dari kemampuan intelektual mereka sendiri. Sehubungan dengan aspek ini, beberapa contoh jenis foto yang ditampilkan pengguna media social adalah foto tentang penampilan, pakaian atau aksesoris yang mereka kenakan, foto tentang hasil/nilai tes terbaik yang mereka dapatkan, foto buku-buku ensiklopedia yang sedang dibaca, maupun foto mengenai penghargaan atas keberhasilan yang ditujukan untuk mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain.

Bentuk Narsisme Antara Laki-Laki dan Perempuan (skripsi dan tesis)


Freud (Holmes, 2001;53) membedakan narsisme menjadi dua jenis yaitu narsisme primer dan narsisme sekunder. Narsisme primer merupakan sebuah tahap perkembangan moral pada masa bayi awal menuju keadaan keterikatan obyek, sedangkan narsisme sekunder merupakan individu-individu yang bermasalah secara regresif menggunakan dirinya sendiri bukan orang lain secara obyek cinta.
Di sisi lain salah satu faktor penting dalam mengekspresikan narsistik adalah jenis kelamin, seperti yang diutarakan oleh Philipson (Ryan, dkk, 2008; 802-813.). Jenis kelamin menjadi faktor dalam menentukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan ketika memanifestasikan narsistik ke dalam perilaku mereka. Goodman & Leff (2012;54) menjelaskan lebih lanjut apabila seseorang dengan narsistik, laki-laki maupun perempuan, sebenarnya memiliki kebutuhan yang sama, seperti lapar akan pemujaan dan merasa hebat. Tapi, kebutuhan tersebut cenderung didapatkan dan diekspresikan dengan cara yang berbeda, meski tujuannya adalah sama. Perempuan yang narsistik cenderung lebih mengarah kepada masalah body image agar merasa unggul dan mendapat kekaguman dari orang lain. Mereka memamerkan keindahan fisik dan seksualitas untuk mendapatkan kekaguman dari rekan laki-laki mereka. Sedangkan, laki-laki yang narsistik biasanya lebih berfokus pada inteligensi, kekuatan (power), agresi, uang dan status sosial untuk memenuhi rasa keunggulan dari citra diri mereka yang salah (Goodman & Leff, 2012;29)
.Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang menyatakan baik pengguna media social baik laki-laki maupun perempuan lebih dari setengah responden mengaku langsung menggugah foto mereka yang diambil dengan smartphone ke profil media sosialnya. Dalam hal ini ternyata perempuan cenderung lebih gesit dan lihai, terbukti 57 persen perempuan bisa berbagi foto secepat kilat dari smartphone mereka (Savitri, 2013). Sebaliknya, untuk urusan mengambil gambar diri sendiri atau selfie, laki-laki justru lebih sering melakukannya daripada wanita. Hasil ini diperoleh dari sebuah survei yang dilakukan oleh Samsung yang menunjukkan bahwa dari 2.000 orang, 17 persen pria mengaku lebih sering mengambil foto diri sendiri (selfie), sedangkan persentase perempuan jauh di bawah itu, yakni hanya 10 persen (Savitri, 2013; 4-5)
Richman & Flaherty (Ryan, dkk, 2008;73) menemukan bahwa laki-laki memperoleh skor yang lebih tinggi daripada perempuan pada beberapa aitem di Narcissistic Traits Scale, termasuk aitem yang menggambarkan pemanfaatan, pengakuan dari orang lain, dan kurang dalam empati. Sebagai tambahan, pada penelitian yang dilakukan Tschanz, dkk, ditemukan bahwa pada perempuan, pemanfaatan/pengakuan dari orang lain menunjukkan korelasi yang lebih rendah dengan faktor narsistik lainnya dibandingkan laki-laki. Hal ini memberi kesan bahwa faktor pemanfaatan dan pengakuan dari orang lain tersebut mungkin kurang umum pada perempuan dan kurang berpusat pada kecenderungan narsistik mereka (Ryan, dkk, 2008;20).

Dimensi Dalam Kecenderungan Narsisme (skripsi dan tesis)


Pada dasarnya, kecenderungan seseorang untuk menggugah suatu gambar atau foto dengan tujuan untuk mencari perhatian orang lain (need for admiration), merupakan salah satu ciri seseorang dengan kecenderungan narsistik. Biasanya orang dengan kecenderungan narsistik ini juga akan diikuti dengan ciri-ciri lain, seperti arrogance, self-centeredness, greed, dan lack of empathy. Emmons (1995; 1-17) memberikan 4 karakteristik yang khas pada kecenderungan narsisme berdasarkan DSM-III (Diagnostic and Statistical Manual III), yaitu :
1.    Leadership (autority) yaitu anggapan sebagai pemimpin atau sebagai orang yang berkuasa.
2.    Superiority (arogance) yaitu rasa superior atau keangkuhan. Suatu rasa diri yang besar, penting dan khusus. individu yang narsistik mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang sangal baik pada penampilan lahiriah alau fisiknya.
3.    Self absorption (self admiration) yaitu penyerahan diri atau kekaguman pada diri sendiri.
4.    Exploitiveness (entitle ment) yaitu memanfaatkan orang lain untuk menunjukkan diri dengan mengeksploitir orang Iain.
Dalam hal lain, kepribadian narsistik memiliki perasaan yang tidak masuk akal bahwa dirinya orang penting, berharap pujian dari orang lain, kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, merasa paling unik dan merasa khusus disbanding orang lain, sehingga mereka tidak memiliki sensitivitas dan tidak memiliki perasaan iba terhadap orang lain. Dengan demikian, kepribadian narsistik akan meliputi beberapa aspek yaitu: (a) Pola pervasif (menembus; mengisi) dari grandositas (dengan segala kebesaran) dan kebutuhan untuk dipuji, (b) Perasaan grandiose (dengan segala kebesaran) bahwa dirinya orang penting, (c) Terpreokupasi dengan fantasi-fantasi kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta ideal yang tanpa batas, (d) Keyakinan bahwa dirinya “istimewa” dan hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berstatus tinggi, (e) Sering iri terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain iri kepadanya, (f) Mengeksploitasi orang lain untuk mencapai tujuannya, (g) Kurang memiliki empati, (h) Minta dipuji secara eksesif, (i) Bersikap arogan (Barlow dan Durand, 2006; 211).

Pengertian Kecenderungan Narsisme (skripsi dan tesis)


Menurut Chaplin (dalam Kristanto, 2012; 79) kata Narsistik atau Narsis, sering disebutkan berhubungan dengan self-views (pandangan diri) yang melambung tinggi dan positif pada sifat-sifat seperti inteligensi, kekuatan, dan keindahan fisik. Selain itu, Durand dan Barlow (2007) menyatakan bahwa individu dengan kecenderungan narsis memanfaatkan individu lain untuk kepentingan diri sendiri dan hanya menunjukkan sedikit empati kepada individu lain.
Narsisme juga berhubungan dengan jumlah aktivitas di website yang dilihat dari jumlah teman dan jumlah wallposts atau pesan dinding yang ia miliki. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa narsisme secara positif berhubungan dengan unsur kecantikan fotografi, self-promotion dan sexiness. Pemilik web page tersebut juga cenderung mempromosikan diri (self-promoting) dan kecantikan mereka melalui foto profil (Buffardi & Campbell, 2008;38).
American Psychiatric Association (2000) menjelaskan bahwa gangguan kepribadian narsistik (NPD) sebagai pola yang membesar-besarkan sesuatu (baik dalam fantasi atau perilaku), kebutuhan untuk dikagumi, dan lemah dalam empati, yang dimulai dari dewasa awal dan hadir dari berbagai konteks (Campbell & Miller, 2011; 104). Nevid, dkk (2005; 52) menambahkan orang dengan gangguan kepribadian narsistik umumnya berharap orang lain melihat kualitas khusus mereka, bahkan saat prestasi mereka biasa saja, dan mereka menikmati bersantai di bawah sinar pemujaan