Tampilkan postingan dengan label Judul Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judul Manajemen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Pengertian Positioning Produk (skripsi dan tesis)


Positioning pada dasarnya dibutuhkan karena positioning menghasilkan posisi produk yaitu citra produk yang jelas, berbeda dan unggul secara relatif dibanding pesaing didalam benak konsumen. Untuk itu positioning penting dalam kegiatan pemasaran.
Menurut  (Kasali, 2005) positioning merupakan upaya atau strategi pemasar menanamkan citra, persepsi, atau imajinasi atas produk yang ditawarkan kepada konsumen melalui strategi komunikasi. Pemasar bersaing agar mereknya diingat, diprioritaskan oleh konsumen, dicintai dan dibeli setiap kali dibutuhkan. Menurut Kotler dan Armstrong (2003), Positioning adalah cara produk didefinisikan oleh konsumen berdasarkan beberapa atribut penting tempat yang diduduki produk dalam benak konsumen dibandingkan dengan produk-produk pesaing. Sedangkan menurut Assauri (2009) Positioning adalah cara untuk meningkatkan dan menempatkan produk yang kita buat dengan pesaing kita dalam pikiran konsumen, dengan kata lain positioning dipakai untuk mengisi serta memenuhi keinginan konsumen dalam kategori tertentu

Pengukuran Kualitas Produk


Kualitas produk pada laptop memiliki pengukuran yang berbeda berkaitan dengan spesifikasi produk serta spesifikasi kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat pada produk laptop itu sendiri. Seiring dengan perkembangan teknologi, laptop makin memiliki banyak tuntutan kebutuhan sehingga berbagai perusahaan berlomba-lomba mengembangkan kualitas produk agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri.
Berdasarkan Mullins dan Walker (2008) kualitas produk memiliki aspek dimensi yang apabila dikelola dengan baik oleh perusahaan dapat memperkuat keunggulan kompetitif produk tersebut di pasar. Aspek dimensi kualitas produk itu terdiri dari:
1.    Kinerja (Performance).
kinerja produk merupakan dimensi paling dasar dari suatu produk. Konsumen atau pelanggan akan kecewa jika kinerja produk tidak sesuai dengan harapan mereka.
2.    Daya tahan (Durability).
daya tahan merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkan berapa lama suatu produk digunakan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap suatu produk, maka semakin besar pula daya tahan produk tersebut.
3.    Kesesuaian (Conformance).
Kesesuaian merupakan dimensi kualitas produk yang sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk tersebut.
4.    Fitur (Features).
Fitur merupakan karakteristik produk yang dirancang untukmenyempurnakan fungsi produk atau menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan–pilihan produk dan pengembangannya. Sehingga akan menambah ketertarikan konsumen atau pelanggan terhadap produk tersebut.
5.    Reliabilitas (Reliability).
Reliabilitas adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
6.    Estetika (Aesthetics).
Estetika merupakan karakteristik yang bersifat subjektif mengenai nilai–nilai estetika yang berkaitan dengan penilaian pribadi dan preferensi dari setiap individu atau konsumen. Dapat berupa penampilan produk bisa dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk, atau daya tarik produk terhadap panca indera. Misalnya, bentuk fisik sofa yang menarik, model, warna, tekstur dan sebagainya
7.    Kesan kualitas (Perceived quality)
Kesan kualitas merupakan hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi konsumen terhadap produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, dan negara asal.
Sedangkan dalam penelitian Lestari (2015) memberikan pengukuran kualitas produk dengan berbagai indikator yaitu:
a.    Kinerja produk
b.    Keandalan produk
c.    Fitur produk
d.   Daya tahan
e.    Kemampuan diperbaiki
f.     Keindahan tampilan produk
g.    Kualitas yang dirasakan

Pengertian Kualitas Produk (skripsi dan tesis)


Menurut Kotler dan Armstrong (2012), bahwa kualitas produk merupakan kemampuan suatu produk melakukan fungsinya, hal ini termasuk masa kegunaan produk, keandalan, ketepatan, kemudahan dalam mengoperasikan dan membetulkan, nilai atribut lainnya. Menurut Perreault dan Cannon (2011) kualitas produk merupakan kemampuan produk untuk memberikan kepuasan pada kebutuhan dan keperluan pelanggan. Definisi tersebut berfokus pada pelanggan serta berfokus pada bagaimana pelanggan berpikir bahwa produk tersebut sesuai dengan tujuan mereka. Sedangkan menurut Kanuk dan Schiffman (2008) kualitas produk dapat didefinisikan sebagai seberapa konsisten produk yang dihasilkan dapat memenuhi pengharapan dan kebutuhan internal dan eksternal pelanggan. 

Prinsip dalam Pelaku Bisnis Online (skripsi dan tesis)

Berdasarkan penelitian Bob (2014) diketahui bahwa dalam pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis online dalam media sosial facebook ketahui bahwa terdapat perbedaan dibandingkan dengan pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis online dalam media lainnya. Untuk selanjutnya, penulis akan menguraikan pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis online dalam media sosial facebook sebagai berikut.
a.    Kejujuran
Kejujuran merupakan suatu prinsip etika bisnis. Kini para praktisi bisnis dan manajemen mengakui bahwa kejujuran merupakan suatu jaminan dan dasar bagi kegiatan bisnis (Moerdiyanto, 2009).
1)   Reseller fashion memberikan informasi tentang produk sesuai dengan kondisi produk, yang ditunjukkan dengan foto disertai informasi bahan, ukuran
2)   .Pemberian harga sesuai dengan yang dicantumkan saat promosi, syarat  berlaku, menjelaskan harga produk dan ongkos kirim.
3)   Jujur dalam kualitas produk, apalagi untuk produk branded yang sudah terkenal dan banyak dijual di toko lain
b.    Tanggung Jawab
Tanggung jawab yang diberikan oleh reseller ditunjukkan dengan menepati janji, dan memberitahu ketika terjadi perubahan. Mengirimkan produk sesuai transaksi yang dilakukan sampai ke tangan konsumen, dan sebisa mungkin menyelesaikan complain yang ada.
c.    Bersaing secara Sehat
reseller fashion harus menunjukkan upaya bersaing secara sehat dengan cara   berusaha menciptakan persaingan yang sehat dengan cara menghargai pesaing, menjaga hubungan baik dengan para kompetiter selama masih dalam batas- batas etika dalam bisnis.
d.   Sikap ramah
Sifat ramah dalam reseller media sosial Facebook  tercermin dalam :
1)      .Melakukan interaksi dengan konsumen
2)      Ramah dalam menanggapi setiap  pertanyaan konsumen terkait dengan  produk yang dijua
e.    Peduli dengan pelanggan
Prinsip peduli dengan pelanggan dapat diwujudkan dalam hal, yaitu
1)      Tidak adanya pemaksaan terhadap  pembelian suatu produk, namun reseller fashion memberikan informasi yang jelas mengenai  produk tersebut, misalnya kualitas  produk.
2)      .Penangan pesanan maupun complain diterima secara welcome oleh reseller fashion
f.     Responsif
Nilai responsif terwujud dalam penyediaan waktu untuk konsumen, menjawab setiap keingintahuan konsumen atas suatu produk yang dipromosikan dengan keramahan.
g.    Dedikasi yang Tinggi
Dedikasi yang tinggi dapat diwujudkan dengan cara   juga menerapkan nilai etika bisnis dedikasi. Dedikasi tercermin dalam penjualan produk yang berkualitas dan  pelayanan yang baik. Dedikasi yang tinggi akan dapat memberikan tercapainya perusahaan dalam membangun profit dan meningkatkan tarf kehidupan yang lebih baik

Aspek Hukum Dalam Bisnis Online Media Sosial Facebook


Dalam perundang-undangan Indonesia telah mengatur bagaimana perlindungan konsumen melalui Undang-Undang Republik Indonesia no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, dan Undang-Undang no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Melalui Undang-Undang Republik Indonesia no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik diatur mengenai transaksi elektronik dimana salah satunya adalah kegiatan mengenai online shop ini. Dalam pasal 1 ayat 2 UU ITE ini yang dimaksud dengan transaksi elektronik adalah “perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya” Sesuai dengan pengertian tersebut, maka kegiatan jual beli yang dilakukan melalui komputer ataupun handphone dapat dikategorikan sebagai suatu transaksi elektronik. UU ITE juga mewajibkan pelaku usaha untuk memberikan informasi yang lengkap dan benar.
Kewajiban tersebut terdapat dalam Pasal 9 UU ITE yang berbunyi : “Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui sistem elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan”. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “informasi yang lengkap dan benar” adalah meliputi : Informasi yang memuat identitas serta status subjek hukum dan kompetensinya, baik sebagai produsen, pemasok, penyelenggara maupun perantara; Informasi lain yang menjelaskan hal tertentu yang menjadi syarat sahnya perjanjian serta menjelaskan barang dan/atau jasa yang ditawarkan seperti nama, alamat, dan deskripsi barang/jasa.[1]
Demikian pula dalam Undang-Undang no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dimana konsumen berhak mendapatkan Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa, Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi suatu barang, Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan dan Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. [2]



Strategi Manajemen Perubahan (skripsi dan tesis)


A.           Model Perubahan Lewin
Kurt Lewin (1951) mengembangan model perubahan terencana yang disebut force-field model yang menekankan kekuatan penekanan. Model ini dibagi dalam tiga tahap, yang menjelaskan cara-cara mengambil inisiatif, mengelola dan menstabilkan proses perubahan, yaitu: unfreezing, changing atau moving dan refreezing.
a.         Pencairan (Unfreezing)
Pencairan merupakan tahap pertama yang fokus pada penciptaan motivasi untuk berubah. Pencairan merupakan usaha perubahan untuk mengatasi resistensi individual dan kesesuaian kelompok. Proses pencairan merupakan adu kekuatan antara faktor pendorong dan faktor penghalang bagi perubahan status quo. Pencairan dimaksudkan agar seseorang tidak terbelenggu oleh keinginan untuk mempertahankan status quo dan bersedia membuka diri.
b.         Changing atau Moving
Changing atau moving merupakan tahap pembelajaran di mana karyawan diberi informasi baru, model perilaku baru, atau cara baru dalam melihat sesuatu. Tujuannya adalah membantu karyawan dalam mempelajari konsep atau titik pandang baru.
c.         Pembekuan kembali (Refreezing)
Refreezing merupakan tahap dimana perubahan yang terjadi distabilisasi dengan membantu karyawan mengintegrasikan perilaku dan sikap yang telah berubah ke dalam cara yang normal untuk melakukan sesuatu. Hal ini dilakukan dengan memberi karyawan kesempatan untuk menunjukkan perilaku dan sikap baru.
B.            Model Perubahan Tyagi
Tyagi (2001) beranggapan bahwa model Lewin tersebut belum lengkap, karena tidak menyangkut beberapa masalah penting. Pendekatan sistem dalam perubahan akan memberikan gambaran menyeluruh dalam perubahan organisasi. Beberapa komponen sistem dalam proses perubahan dimulai dengan:
·           Adanya kekuasaan untuk melakukan perubahan.
·           Mengenal dan mendefinisikan masalah.
·           Proses penyelesaian masalah.
·           Mengimplimentasikan perubahan.
·           Mengukur, mengevaluasi, dan mengontrol hasilnya.
C.           Model Perubahan Kreitner dan Kinicki
Pendekatan sistem Kreitner dan Kinicki (2001) merupakan kerangka kerja perubahan organisasional yang terdiri dari tiga komponen, yaitu:
a) Inputs
Merupakan masukan dan sebagai pendorong bagi terjadinya proses perubahan. Semua perubahan organisasional harus konsisten dengan visi, misi, dan rencana strategis. Di dalamnya terkandung unsur masukan internal dan masukan eksternal yang keduanya memiliki kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Kondisi masukan ini sangat mempengaruhi jalannya proses perubahan.
b) Target element of change
Mencerminkan elemen di dalam organisasi yang dalam proses perubahan. Sasaran perubahan diarahkan pada pengaturan organisasi, penetapan tujuan, faktor sosial, metode, desain kerja dan teknologi, dan aspek manusia.
c) Outputs
Merupakan hasil akhir yang diinginkan dari suatu perubahan. Hasil akhir ini harus konsisten dengan rencana strategik. Hasil perubahan dapat diukur pada beberapa tujuan baik pada tingkat organisasional, tingkat kelompok maupun tingkat individual.
D.           Model Perubahan Burnes
Burnes (2001) mengemukakan tiga macam model perubahan organisasional yang dikelompokkan berdasarkan frekuensi dan besaran perubahan, yaitu:
a.  The increamental model of change
Model ini berpandangan bahwa perubahan merupakan suatu proses yang berlangsung secara bertahap. Perubahan dapat terjadi secara bergantian pada masing-masing bagian dalam organisasi secara terpisah. Pada saat merespons suatu kondisi lingkungan internal dan eksternal, maka pada saat itu pula terjadi perubahan.
b.  The punchtuated equilibrium model
Model keseimbangan terpotong terjadi bila aktivitas organisasi menunjukkan stabilitas dalam jangka panjang sehingga disebut periode equilibrium. Situasi tersebut kemudian terpotong oleh gonjangan perubahan fundamental relatif jangka pendek, disebut sebagai periode revolusioner.
c.  The continuous transformation model
Model transformasi berkelanjutan merupakan model perubahan yang bertujuan untuk menjaga organisasi agar tetap survive dengan mengembangkan kemampuan untuk mengubah dirinya secara berkelanjutan. Rasionalisasi model ini adalah di mana lingkungan telah berubah dan akan terus berubah dengan cepat, radikal dan tidak dapat diprediksi.
E.            Model Perubahan Conner
a.              Daya tahan (resilience)
b.             Sifat perubahan (the nature of change)
c.              Proses perubahan (process of change)
F.            Model Perubahan Victor Tan
Victor Tan (2002) mengemukakan bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam proses perubahan organisasi, pemimpin harus dapat menenangkan pikiran dan hati orang. Victor Tan mengintroduksi empat tahapan yang harus dilalui dalam proses perubahan, yaitu sebagai berikut.
a. Membuka pikiran
b. Menenangkan hati
c.  Memungkinkan tindakan
d. Menghargai prestasi
G. Model Perubahan Bridges dan Mitchell
Bridges dan Mitchell (dalam Wibowo, 2006) berpendapat, bahwa perubahan memerlukan tahapan transisi reorientasi psikologis yang berlangsung lambat, yaitu melalui tiga proses, sebagai berikut:
a.   Saying goodbye
Mengucapkan selamat tinggal pada cara lama. Di atas kertas adalah logis bergeser ke arah self-managed team, tetapi hal ini mengakibatkan orang tidak percaya lagi pada supervisor untuk membuat keputusan.
b.   Shifting into neutral
Merupakan tahap yang sulit, penuh ketidakpastian dan kabingungan. Tahap sulit selama ini merupakan tahap yang sulit, terutama pada saat merger dan akuisisi, dimana keputusan karier kebijakan dan aturan main ditinggalkan, sedangkan dua kepemimpinan mengerjakan masalah kekuasaan dan pengambilan keputusan.
c.   Moving forward
Merupakan tindakan bergeser ke depan dan berprilaku dengan cara baru. Fase ini memerlukan orang yang memulai berprilaku baru, meletakkan kompetensi dan nilai risiko.
H.  Model Perubahan Kotter
Untuk mengatasi kesalahan, proses perubahan dilakukan melalui delapan tahap, yaitu sebagai berikut.
a.  Menumbuhkan rasa urgensi,
b.  Menciptakan koalisi pengarahan,
c.   Membangin visi dan strategi,
d.   Mengkomunikasikan visi baru,
e.   Melibatkan dan memberdayakan karyawan secara luas,
f.    Membangkitkan kemenangan jangka pendek,
g.   Konsolidasi dan menghasilkan perubahan, dan
h.   Menancapkan pendekatan baru ke dalam budaya.
I.     Model Perubahan Pasmore
Perubahan menurut Pasmore (1994) berlangsung dalam delapan tahap, yaitu sebagai berikut.
a. Persiapan
b.  Analisis kekuatan dan kelemahan
c.  Mendesain sub-unit baru
d.  Mendesain proyek
e.  Mendesain sistem kerja
f.  Mendesain sistem pendukung
g. Mendesain mekanisme integratif
h. Implimentasi perubahan
J.    Model Accounting-Turnaround
Model ini diperkenalkan oleh Harlan D. Platt (1998) yang sangat kental dengan akuntansi dan hukum. Platt membedakan strategi perubahan ke dalam tiga kelompok, yaitu: transformasi korporat, turn around, dan manajemen krisis. Ketiga strategi tersebut dijalankan menurut kondisi yang berbeda-beda pada keadaan perusahaan yang sedang menurun