Tampilkan postingan dengan label Judul Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judul Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2020

Sejarah Interaksi simbolik (skripsi dan tesis)

Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik tidak bisa dilepaskan dari pemikiran George Harbert Mead (1863-1931). Mead dilahirkan di Hadley, satu kota kecil di Massachusetts. Karir Mead berawal saat ia menjadi seorang professor di kampus Oberlin, Ohio, kemudian Mead berpindah pindah mengajar dari satu kampus ke kampus lain, sampaiakhirnya saat ia diundang untuk pindah dari Universitas Michigan ke Universitas Chicago oleh John Dewey. Di Chicago inilah Mead sebagai seseorang yang 22 memiliki pemikiran yang original dan membuat catatan kontribusi kepada ilmu sosial dengan meluncurkan “the theoretical perspective” yang pada perkembangannya nanti menjadi cikal bakal “Teori Interaksi Simbolik”, dan sepanjang tahunnya, Mead dikenal sebagai ahli sosial psikologi untuk ilmu sosiologis. Mead menetap di Chicago selama 37 tahun, sampai ia meninggal dunia pada tahun 1931 (Rogers. 1994: 166). Semasa hidupnya Mead memainkan peranan penting dalam membangun perspektif dari Mahzab Chicago, dimana memfokuskan dalam memahami suatu interaksi perilaku sosial, maka aspek internal juga perlu untuk dikaji (Turner. 2008: 97). Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status) dan pesan verbal (seperti kata-kata, suara,) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant simbol). (Turner.2007:1221). Menurut Fitraza (2008), Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, dimana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan simbol yangbermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, 23 pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain. Selain Mead, telah banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan teori interaksi simbolik dimana teori ini memberikan pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan kelompok manusia dan tingkah laku manusia, dan banyak memberikan kontribusi intelektual, diantaranya John Dewey, Robert E. Park, William James, Charles Horton Cooley, Ernest Burgess, James Mark Baldwin (Rogers. 1994: 168). Generasi setelah Mead merupakan awal perkembangan interaksi simbolik, dimana pada saat itu dasar pemikiran Mead terpecah menjadi dua Mahzab (School), dimana kedua mahzab tersebut berbeda dalam hal metodologi, yaitu (1) Mahzab Chicago (Chicago School) yang dipelopori oleh Herbert Blumer, dan (2) Mahzab Iowa (Iowa School) yang dipelopori oleh Manfred Kuhn dan Kimball Young (Rogers. 1994: 171). Mahzab Chicago yang dipelopori oleh Herbert Blumer (pada tahun 1969 yang mencetuskan nama interaksi simbolik) dan mahasiswanya, Blumer melanjutkan penelitian yang telah dilakukan oleh Mead. Blumer melakukan pendekatan kualitatif, dimana meyakinibahwa studi tentang manusia tidak bisa disamakan dengan studi terhadap benda mati, dan para pemikir yang ada di dalam mahzab Chicago banyak melakukan pendekatan interpretif berdasarkan rintisan pikiran George Harbert Mead (Ardianto. 2007: 135). Blumer beranggapan peneliti perlu meletakkan 24 empatinya dengan pokok materi yang akan dikaji, berusaha memasuki pengalaman objek yang diteliti, dan berusaha untuk memahami nilai-nilai yang dimiliki dari tiap individu. Pendekatan ilmiah dari Mahzab Chicago menekankan pada riwayat hidup, studi kasus, buku harian (Diary), autobiografi, surat, interview tidak langsung, dan wawancara tidak terstruktur (Wibowo. 2007). Mahzab Iowa dipelopori oleh Manford kuhn dan mahasiswanya (1950-1960an), dengan melakukan pendekatan kuantitatif, dimana kalangan ini banyak menganut tradisi epistemologi dan metodologi postpositivis (Ardianto. 2007:135). Kuhn yakin bahwa konsep interaksi simbolik dapat dioprasionalisasi, dikuantifikasi, dan diuji. Mahzab ini mengembangkan beberapa cara pandang yang baru mengenai ”konsep diri” (Turner. 2008: 97-98). Kuhn berusaha mempertahankan prinsipprinsip dasar kaum interaksionis, dimana Kuhn mengambil dua langkah cara pandang baru yang tidak terdapat pada teori sebelumnya, yaitu: (1) memperjelas konsep diri menjadi bentuk yang lebih kongkrit; (2) untuk mewujudkan hal yang pertamamaka beliau menggunakan riset kuantitatif, yang pada akhirnya mengarah pada analisis mikroskopis (LittleJohn. 2005: 279). Kuhn merupakan orang yang bertanggung jawab atas teknik yang dikenal sebagai ”Tes sikap pribadi dengan dua puluh pertanyaan (the Twenty statement self-attitudes test (TST))”. Tes sikap pribadi dengan dua 25 puluh pertanyaan tersebut digunakan untuk mengukur berbagai aspek pribadi (LittleJohn. 2005: 281). Pada tahap ini terlihat jelas perbedaan antara Mahzab Chicago dengan Mahzab Iowa, karena hasil kerja Kuhn dan teman-temannya menjadi sangat berbeda jauh dari aliran interaksionisme simbolik. Kelemahan metode Kuhn ini dianggap tidak memadai untuk menyelidiki tingkah laku berdasarkan proses, yang merupakan elemen penting dalam interaksi. Akibatnya, sekelompok pengikut Kuhn beralih dan membuat Mahzab Iowa ”baru”. Mahzab Iowa baru dipelopori oleh Carl Couch, dimana pendekatan yang dilakukan mengenai suatu studi tentang interaksi struktur tingkah laku yang terkoordinir, dengan menggunakan sederetan peristiwa yang direkam dengan rekaman video (video tape).Inti dari Mahzab ini dalam melaksanakan penelitian, melihat bagaimana interaksi dimulai (openings) dan berakhir (closings), yang kemudian melihat bagaimana perbedaan diselesaikan, dan bagaimana konsekuensi-konsekuensi yang tidak terantisipasi yang telah menghambat pencapaian tujuan-tujuan interaksi dapat dijelaskan. Satucatatan kecil bahwa prinsip-prinsip yang terisolasi ini, dapat menjadi dasar bagi sebuah teori interaksi simbolik yang terkekang di masa depan (LittleJohn. 2005: 283). Sebagaimana lazimnya ilmu-ilmu sosial lainnya, teori interaksionisme simbolik juga diilhami oleh serangkaian teori-teori sebelumnya. Banyak pakar berpendapat bahwa pemikiran George Herbert   Mead, sebagai tokoh sentral teori ini, berlandaskan pada beberapa cabang filsafat, antara lain pragmatism dan behaviorisme. Namun pada masa perkembangannya, teori interaksionisme simbolik memiliki “keunikan” dan “karakteristik” tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan teoriteori yang menjadi “inspirasi” - nya. Beberapa orang ilmuwan yang memiliki andil besar dalam “kemunculan” teori interaksionisme simbolik, antara lain: James Mark Baldwin, William James, harles Horton Cooley, John Dewey, William Isaac Thomas, dan George Herbert Mead. Akan tetapi dari semua itu, Mead-lah yang paling populer sebagai peletak dasar teori tersebut. Mead mengembangkan teori interaksionisme simbolik tahun 1920-an dan 1930-an saat ia menjadi profesor filsafat di Universitas Chicago. Gagasan-gagasannya mengenai interaksionisme simbolik berkembang pesat setelah para mahasiswanya menerbitkan catatan-catatan dan kuliah-kuliahnya, terutama melalui buku yang menjadi rujukan utama teori interaksionisme simbolik, yakni “Mind, Self, and Society”, yang diterbitkan pertama kali pada tahun1934, tak lama setelah Mead meninggal dunia.Penyebaran dan pengembangan teori Mead juga ditunjang dengan interpretasi dan penjabaran lebih lanjut yang dilakukan oleh para mahasiswa dan pengikutnya, terutama oleh salah satu mahasiswanya, Herbert Blumer. Ironisnya, justru Blumer-lah yang menciptakan istilah “interaksionisme simbolik” pada tahun 1937 dan memopulerkannya di kalangan komunitas akademik

Pengertian Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Istilah phenomenonmengacu kepada kemunculan sebuah benda, kejadian, atau kondisi yang dilihat. Oleh karena itu fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Pemikiran fenomenologi bukan merupakan sebuah gerakan pemikiran yang koheren. Menurut Edmund Husserl (1859-1938) : “Fenomemologi adalah untuk memurnikan sikap alamiah kehidupan sehari-hari dengan tujuan menterjemahkannya sebagai sebuah objek untuk penelitian filsafat secara cermat dalam rangka menggambarkan serta memperhitungkan struktur esensialnya”. (Ardianto & Q-Aness, 2007:128) Pengertian fenomenologi menjelaskan akan apa yang terjadi dan tampak dalam kehidupan dengan menginterpretasikan sesuatu yang dilihatnya. Dengan demikian fenomenologi membuat pengalaman nyata sebagai data pokok sebuah realitas

Komunikasi sebagai Proses Sosial (skripsi dan tesis)

Dalam proses sosial, komunikasi menjadi alat dalam melakukan perubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani perbedaan dalam masyarakat karena mampu merekatkan sistem sosial masyarakat dalam usahanya melakuakan perubahan. Oleh karean itu untuk memahami komunikasi sebagai proses sosial maka komunikasi  harus dipandang dalam dua aspek yakni secara sosial dan komunikasi sebagai proses. Komunikasi diartikan secara sosial jika komunikasi selalu melibatkan dua atau lebih orang yang berinteraksi dengan berbagai niat dan kemampuan, sedangkan komunikasi sebagai proses jika komunikasi bersifat berkesinambungan. Menurut Nurudin (2008:47) bahwa komunikasi sebagai proses sosial di masyarakat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: 1. Komunikasi menghubungkan antar berbagai komponen masyarakat. Komponen disini tidak hanya individu dan masyarakat saja, melainkan juga berbagai bentuk lembaga sosial seperti pers, asosiasi, organisasi desa. 2. Komunikasi membuka peradaban. Menurut Koentjraningrat (1997), istilah peradaban dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan serta sopan santun dan sistem pergaulan yang kompleks dalam suatu struktur masyarakat yang kompleks pula. 3. Komunikasi adalah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat. Berbagai nilai (value), Norma (norm), peran (role), cara (usage), kebiasaan (folkways), tatakelakuan (mores) dan adat (customs) dalam masyarakat yang mengalami penyimpangan (deviasi) akan dikontrol dengan komunikasi baik melalui bahasa lisan, sikap apatis atau perilaku nonverbal individu. 4. Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan dalam sosialisasi nilai ke masyarakat. Bagaimana sebuah norma kesopanan disosialisasikan kepada kegenerasi muda dengan contoh perilaku orang tua (nonverbal) atau dengan pernyataan nasehat langsung (verbal). 5. Individu berkomunikasi dengan orang lain menunjukkan jati diri kemanusiaannya. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai manusia karena menggunakan komunikasi, itu juga berarti komunikasi menunjukkan identitas seseorang.   Dari pemahaman di atas dapat disimpulkan komunikasi adalah sebagai proses sosial yang berkesinambungan yang memiliki fungsi sebagai komponen masyarakat, pembuka peradaban, manifestasi control sosial dalam masyarakat, sosialisasi nilai dalam masyarakat, dan sebagai penunjuk jati diri dalam masyaraka

Proses Komunikasi (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan komunikasi, perlu adanya suatu proses yang memungkinkannya untuk melakukan komunikasi secara efektif. Proses komunikasi inilah yang membuat komunikasi berjalan dengan baik dengan berbagai tujuannya. Dengan adanya proses komunikasi, berarti ada suatu alat yang digunakan dalam prakteknya sebagai cara dalam pengungkapan komunikasi tersebut. Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap yakni proses komunikasi secara primer dan secara sekunder. Seperti yang di kutip dibawah ini: 
 1. Proses Komunikasi Primer 
“Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan.” (Effendy, 2003: 11). Onong Uchjana Effendy mengatakan bahwa,”Bahasa digambarkan paling banyak dipergunakan dalam proses komunikasi karena dengan jelas bahwa bahasa mampu menerjemahkan pikiran seseorang untuk dapat dimengerti dan dipahami oleh orang lain secara terbuka.” (Effendy, 2003: 11). Komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain, komunikasi adalah proses membuat pesan. Effendy mengatakan bahwa, “Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang pernah diperoleh oleh komunikan.” (Effendy, 2003:13). Kemudian Wilbur Schramm menambahkan, sebagaimana yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendy bahwa, “Bidang pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting 16 dalam komunikasi.” (Effendy, 2003:13). Pernyataan ini mengandung pengertian, jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, maka komunikasi akan berlangsung lancar. 
2. Proses Komunikasi Sekunder
 “Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.” (Effendy, 2003:16). Proses komunikasi sekunder merupakan sambungan dari komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat yang relatif jauh atau dengan jumlah yang banyak. Surat, telepon, surat komunikasi Antarbudaya, majalah, radio, televisi, film, internet, dan lain-lain adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Media kedua ini memudahkan proses komunikasi yang disampaikan dengan meminimalisir berbagai keterbatasan manusia mengenai jarak, ruang, dan waktu. Maka, dalam menata lambanglambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang akan digunakan.   Penentuan media yang akan dipergunakan perlu didasari pertimbangan mengenai siapa komunikan yang akan dituju. Menurut Effendy pada proses komunikasi secara sekunder, media yang dipergunakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 
1. Media Massa (Mass Media), yakni tertuju kepada sejumlah orang yang relative amat banyak. Seperti seperti surat komunikasi Antarbudayaar, radio, televisi, film.
 2. Media Non Massa, yakni tertuju kepada satu orang atau sejumlah orang yang relatif sedikit.Seperti telepon, surat, telegram, spanduk, papan pengumuman. (Effendy, 2003:23). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan proses komunikasi secara sekunder dibagi dua yaitu Media Massa dan Media Non Massa. Proses serta tujuan dari ke dua media ini dapat di sesuaikan dengan kebutuhan serta jumlah orang yang melakukan proses komunikasi lewat media

Tujuan Komunikasi (skripsi dan tesis)

Setiap individu dalam berkomunikasi pasti mengharapkan tujuan dari komunikasi itu sendiri, secara umum tujuan berkomunikasi adalah mengharapkan adanya umpan yang diberikan oleh lawan berbicara kita serta semua pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh lawan bicara kita dan adanya efek yang terjadi setelah melakukan komunikasi tersebut. Menurut Onong Uchjana Effendy, tujuan dari komunikasi adalah: 1. Perubahan sikap (attitude change) 2. Perubahan pendapat (opinion change) 3. Perubahan perilaku (behavior change) 4. Perubahan sosial (sosial change). (Effendy, 2003: 8) Jadi tujuan komunikasi itu adalah mengharapkan perubahan sikap,perubahan pendapat, perubahan perilaku, perubahan sosial. Serta tujuan utama adalah agar semua pesan yang kita sampaikan dapat dimengerti dan diterima oleh komunikan dan menghasilkan umpan balik.Sedangkan tujuan komunikasi pada umumnya menurut Cangara Hafied adalah mengandung hal-hal sebagai berikut: 1. Supaya yang disampaikan dapat dimengerti, seorang komunikator harus dapat menjelaskan kepada komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengikuti apa yang dimaksud oleh pembicara atau penyampai pesan (komunikator).  2. Memahami orang, sebagai komunikator harus mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya. Jangan hanya berkomunikasi dengan kemauan sendiri. 3. Supaya gagasan dapat diterima oleh orang lain, komunikator harus berusaha agar gagasan dapat diterima oleh orang lain dengan menggunakan pendekatan yang persuasif bukan dengan memaksakan kehendak. 4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakkan sesuatu itu dapat berupa kegiatan yang lebih banyak mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. (Hafied, 2002: 22). Dari pemahaman diatas dapat disimpulkan tujuan dari komunikasi adalah menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki berupa gagasan yang dapat dimengerti komunikan, serta kita sebagai komunikator harus berusaha agar gagasan dapat di terima dengan pendekatan persuasif tanpa memaksakan kehendak kita

Definisi Komunikasi (skripsi dan tesis)

 Berbagai defenisi telah dikemukakan oleh para ahli dalam Suranto (2010:2), di antaranya: Komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima (Schramm,1955) Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam (Kincaid, 1981) Komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh sang komunikator (Ross, 1983) Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti,dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan.(Edward Depari, 1990) Dari beberapa Pemahaman di atasa dapat disimpulkan, komunikasi merupakan proses penyampaian gagasan lewat pesan berupa simbolsimbol yang dapat membangkitkan respon dari komunikan. Komunikasi merupakan suatu hal yang paling penting dan merupakan aspek yang paling kompleks dalam kehidupan manusia. Disadari atau tidak kita sadari bahwa di dalam kehidupan kita sehari hari komunikasi merupakan pengaruh yang sangat kuat untuk mempengaruhi komunikasi kita dengan orang lain maupun pesan pesan yang kita terima dari orang lain yang bahkan tidak kita kenal baik yang sudah hidup maupun sudah mati, dan juga komunikator yang dekat maupun jauh jaraknya. Karena itulah komunikasi sangat vital didalam kehidupan kita. Sejak lahir manusia telah melakukan komunikasi, dimulai dengan tangis bayi pertama merupakan ungkapan perasaannya untuk ratilai membina, komunikasi dengan ibunya.Semakin dewasa manusia, maka semakin rumit komunikasi yang dilakukannya. Dimana komunikasi yang dilakukan tersebut dapat berjalan lancar apabila terdapat persamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Hal ini sesuai dengan pengertian dari komunikasi itu sendiri yaitu : Istilah komunikasi berasal dari perkataan bahasa, Inggris "Communication" yang menurut Wilbur Schramm bersumber pada istilah latin "Communis" yang dalam bahasa Indonesia berarti "sama" dan menurut Sir Gerald Barry yaitu "Communicare" yang berarti berercakap-cakap". Jika kita berkomunikasi, berarti kita mengadakan "kesamaan, dalam hal ini kesamaan pengertian atau makna. (Effendy:2003). Komunikasi mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia, hampir 90% dari kegiatan keseharian manusia dilakukan dengan berkomunikasi.Dimanapun, kapanpun, dan dalam kesadaran atau situasi macam apapun manusia selalu terjebak dengan komunikasi.Dengan berkomunikasi manusia dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuantujuan hidupnya, karena berkomunikasi merupakan suatu kebutuhan manusia yang amat mendasar.Oleh karena itu sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusialainnya.Ia ingin   mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Dengan rasa ingin tahu inilah yang memaksa manusia perlu berkomunikasi. Dari definisi diatas menjelaskan bahwa, komunikasi merupakan proses penyampaian simbol-simbol baik verbal maupun nonverbal. Rangsangan atau stimulus yang disampaikan komunikator akan mendapat respon dari komunikan selama keduannya memiliki makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan. Jika disimpulkan maka komunikasi adalah suatu proses, pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang atau di antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu. Semetara itu Carl Hovland, jenis & Kelly mendefenisiskan komunikasi adalah : “Suatu proses memulai pesan dimana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lainnya”. (Riswandi 2009:1). Dari kedua definisi di atas menjelaskan bahwa, komunikasi merupakan proses penyampaian simbol-simbol baik verbal maupun nonverbal. Rangsangan atau stimulus yang disampaikan komunikator akan mendapat respon dari komunikan selama keduannya memiliki makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan. Maka komunikasi adalah suatu proses, pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam  seseorang dan atau di antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu sebagaimana diharapkan oleh komunikator.

Kamis, 24 September 2020

Karakteristik Jurnalistik Online (skripsi dan tesis)

 Kreativitas dan inovasi yang ditopang dengan dispilin team work akan menghasilkan karya yang luar biasa. Sejak bedirinya NET TV 4 tahun lalu sudah dapat di kases di media platform digital melalui TV Free-to-air sekaligus lembaga platform digital seperti live streaming, video on demand kolaborasi dengan youtube dan media sosial. Konten yang berkualitas harus dapat diakses kapanpun dan dimanapun sehingga platform digital adalah sebuah keharusan yang menciptakan engagement konten dengan penontonnya dengan hal ini dapat dilihat berapa besar amino dari real-people penonton yang sebenarnya NET saat ini telah memiliki sedikitnya empat aplikasi Platform Digital, yaitu NET. Citizen Journalist, NET. Z,Zulu dan NET. Connect . Jurnalistik online yang bekerja mempertimbangkan format multimedia untuk menyusun isi liputan yang memungkinkan terjadinya interaksi antara jurnalist dan audiens dengan menghubungkan beberapa elemen berita dalam pemilihan konten berita. Kebenaran factual terletak pada praktik jurnalistik karena hanya wartawan yang tahu dan memutuskan informasi macam mana yang dibutuhkan oleh khalayak . 
Rey G. Rosales dalam The Elements of Online Journalism (iUniverse, 2006) dengan elemen yang mencangkup. 1. Headline: Judul berita yang ketika diklik akan membuka tulisan secara lengkap dengan halaman tersendiri. 2. Text: tubuh tulisan dalam satu halaman utuh atau terpisah kedalam beberapa tautan (link) 3. Ghraphic: Garis-biasanya berupa logo, gambar, atau ilustrasi yang terkait dalam berita. 4. Related Link: Tulisan yang terkait yang menambah informasi dan pembahasan wawasan bagi pembaca, biasanya di akhiri dengan tulisan di sampingnya. 5. Audio: Suara, music atau rekaman yang di gabung sendiri dalam slide show atau video. 6. Slide shows: koleksi foto yang mirip galeri yang disertasi keterangan foto atau sound,voice. 7. Animation: animasi atau gambar bergerak yang diproduksi untuk menambah dampak cerita. 8. Interaktive Features: grafis yang didesain untuk interkasi dengan pengguna (user), misalnya termasuk peta lokasi (map, google map). 9. Interaktive Games: biasanya didesain seperti mini-video games yang bisa dimainkan oleh user (play the news). Habermas menerangkan pada prinsip universal tentang penggunan bahasa tentang tidak komunikatif yang didasarkan pada speech acts theory yang pertama pembicara yang diasumsikan memiliki kompetensi untuk mengunakan kalimat dalam suatu tindakan. Kedua kompetensi yang didasarkan pada invitide rule consciousness aturan yang diketahui tanpa memandang bahasa atau budaya. Ketiga tujuan universal pragmatics adalah menemukan system universal

Tinjauan New Media (skripsi dan tesis)

 Definisi New Media menurut Chun yakni, New Media adalah penyederhanaan istilah (simplifikasi) terhadap bentuk media di luar media massa konvensional televisi, radio, majalah, Koran dan film. Sifat New Media adalah cair (Fluid), konektivitas individual, dan menjadi sarana untuk membagi peran kontrol dan kebebasan1 . Dalam perspektif studi media komunikasi massa media online menjadi objek kajian teori “media baru” yang mengacu pada permintaan akses ke konten (isi/Informasi) kapan saja, dimana saja, pada setiap perangkat digital serta umpan balik pengguna interaktif, partisipasi kreatif, dan pembentukan komunitas sekitar konten media sebagai aspek generasi “Real-Time”. New Media merujuk pada perkembangan teknologi digital namun new media tidak serta merta media digital. Video, teks, gambar, grafik yang dibutuhkan menjadi data digital berbentuk byte dalam New Media. Dalam hal ini media online sebagai produk jurnalistik online atau cyber journalisme dengan didefinisikan sebagai pelaporan fakta atau peristiwa yang di produksi dan ditrisbusikan melalui internet  . Richard Hunter (2002) dengan world without secrets bahwa kehadiran media baru (new media/ cybermedia) menjadikan informasi sesuatu yang mudah dicari dan terbuka. Dalam media penyiaran broadcast dimana media merupakan pusat dari produksi pesan, dalam stasiun televisi, dan pesan itu disebarkan serta bisa dinikmati oleh siapa saja asal memiliki pesawat televisi atau sampai pada bagaimana khalayak mengakses media lama atau baru . 
Dalam proses distribusi pesan media juga mampu menciptakan makna dan budaya dimana media tidak akan membawa konten semata, tetapi juga membawa konteks didalamnya. Menurut Van Dijk (2013) media sosial adalah Platform media memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antarpengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial. Media sosial menjadikan sebuah medium di internet yang memungkinkan pengguna mempresentasikan dirinya maupun berintegrasi, bekerja sama, berkomuikasi dengan penguna lain dengan virtual.

Kamis, 28 Mei 2020

Youtube (skripsi dan tesis)

 Youtube adalah salah satu situs dengan pengunjung terbanyak hingga saat ini di dunia. Menurut Regina Luttrell (2015:147) Youtube adalah mesin pencari tempat atau media untuk promosi, sebuah jaringan sosial, dan situs komunitas dengan penonton yang setia. Secara lebih rinci Stefanone dan Lackfaff (2008:971) mendefinsikan Youtube sebagai situs berbagi video untuk mengunggah, menonton dan berbagi video. Youtube adalah situs berbagi video, dimana pengguna dapat mengunggah, menonton, dan berbagi video denga orang lain. Youtube membebaskan penggunanya untuk saling berbagi dan berdiskusi atas konten video yang diunggah dari webcam, telefon genggam, computer, dan sumber lainnya (Stefanone & Lacklaff, 2009:971). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Finamore dan Mellia (2011:1), Youtube merupakan situs terpopuler di internet saat ini. Pada tahun 2012 lebih dari 700 milyar pemutaran video dilakukan pada tahun 2010. Youtube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video.1 Diciptakan pada tahun 2005 dan digandeng oleh Google pada November 2006, Youtube adalah layanan terpopuler di internet dengan 35 jam video diunggah setiap menitnya dan lebih dari 700 milyar pemutaran video dilakukan pada tahun 2010 silam (Finamore & Mellia, 2011:1)

Media Sosial (skripsi dan tesis)

 Media sosial memiliki berbagai definisi menurut beberapa ahli. Media sosial dan perangkat lunak sosial merupakan alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna untuk berbagi, bekerjasama di antara pengguna dan melakukan tindakan secara kolektif yang semuanya berada di luar kerangka institusional maupun organisasi (Shirky, 2008:21). Media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang menfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu media sosial dapat dilihat sebagai fasilitator online yang menguatkan hubungan antar pengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial (Van Dijck, 2013:11). Media Sosial mengalami perkembangan dari situs yang pertama kali diluncurkan hingga saat ini. Sejarah media sosial dijelaskan secara ringkas oleh Lutrell (2015:26-27) sebagai berikut: Situs jaringan sosial atau yang lebih dikenal dengan situs media sosial pertama kali dikenalkan pada tahun 1997 dengan munculnya ditus SixDegrees. SixDegrees adalah situs yang menawarkan pengguna dapat membuat profil personal, mengatur data teman, dan melihat daftar teman pengguna lain. Pada awal tahun 2000 situs media sosial semakin banyak bermunculan mulai dari Friendster, Myspace dan LinkedIn. Hingga pada tahun 2005 Youtube diluncurkan dan menjadi situs berbagi video terbesar pertama di dunia. Kemudian pada tahun 2006 Facebook dan Twitter mulai diluncurkan yang membuat dunia media sosial semakin berkembang pesat (Lutrell, 2015:26-27)

Personal Branding (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, personal branding merupakan kegiatan public relations dengan pembedanya adalah dalam public relations, yang dipresentasikannya adalah citra daripada sebuah organisasi atau perusahaan. Pada sebuah personal branding, yang dipresentasikan adalah citra diri seseorang tersebut. Sama seperti personal branding, public relations menurut Frank Jeffkins (2003:7) adalah sesuatu yang terdiri dari semua bentuk komunikasi berencana, baik ke dalam maupun ke luar dengan tujuan mendapatkan citra positif dan dukungan dari publiknya. Hubungan merek dengan suatu bisnis hampir selalu di mulai dari kompetensi produk atau jasa yang dirasakan oleh sang pelanggan- yakni kemampuannya untuk memenuhi suatu kebutuhan atau memuaskan suatu keinginan. Seiring berjalannya waktu, merek tersebut akan membedakan dirinya dari yang lain dengan cara melakukan hal-hal yang melampaui kompetensinya melalui apa yang dipandang oleh para pelanggan sebagai kombinasi antara standar dan gaya. Sebagaimana proses ini berevolusi, hubungan tersebut akan mengembangkan ekuitas merek-yakni tingkat kumulatif dari kredibilitas, kepercayaan dan nilai nilai di dalam benak para pelanggan. (Mcnally & Speak, 2004:43) Yulia Baltschun menggunakan dirinya atau pekerjaannya sebagai merek (brand). Yulia sebagai diet vlogger mempromosikan dan menkomunikasikan apa yang ada pada dirinya kepada orang lain secara terstruktur. Terdapat banyak sekali konsep yang dapat disajikan dasar landasan berpikir mengenai tinjauan personal branding. Untuk pembangunan merek pribadi, dengan cara serupa model tersebut diatas telah menggabungkan ketiga dimensi yang khas tetapi saling terkait tersebut. 
Mcnally dan Speak (2004) mengerucutkan ide-ide mengenai personal branding dalam tiga dimensi yaitu: 
1. Kompetensi
 Dimensi brand yang pertama merujuk kepada sifat-sifat hubungan dan hal-hal yang harus dilakukan secara profesional hanya untuk memenuhi harapan-harapan mendasar dari seseorang. Bersikap kompeten berarti harus (dalam tingkat tertentu) memenuhi persyaratan untuk melakukan sesuatu bagi seseorang. (Mcnally & Speak, 2004:44) Sebuah kompetensi akan menjadi inti dari hubungan yang biasanya relatif tidak berubah dalam waktu yang lama. Jikapun ada, perubahan itu akan bersifat progresif dan alami. Untuk mendukung sebuah personal branding, kompetensi memiliki 5 (lima) karateristik dasar yaitu pemahaman, keterampilan, konsep diri, bawaan (karakteristik) dan tujuan. (Djojonegoro:11). 
2. Standar 
Standar akan berpengaruh terhadap bagaimana orang lain melihat diri anda. Jauh melampaui kompetensi, standar mempertegas kekuatan personal branding seseorang. Oleh karena itu, meskipun kompetensi anda sama dengan orang lainnya, namun standar akan membantu anda menonjol dibandingkan dengan yang lain. Dimensi ini mulai menjadikan citra merek yang dibuat jauh lebih khusus dengan memusatkan perhatian kepada cara anda menyampaikan kompetensi yang dimiliki. Standar yang dimiliki adalah tingkat prestasi yang hendak dipatuhi secara konsisten. Standar akan cenderung lebih ditegaskan karena pengalaman akan memberikan penjelasan mengenai harapan.
Perubahan yang terjadi akan melibatkan ketepatan dan keakuratan yang lebih tinggi sebagaimana telah dipahami secara lebih terperinci apa yang diperlukan audiens terhadap diri kita. 
3. Gaya
 Dimensi ketiga ini merupakan cara bagaimana kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Beginilah cara mengkhususkan kompetensi yang dimiliki sesuai konteks standar kinerja. Anggaplah gaya brand anda sebagai suatu gambaran emosional anda yang sudah terbentuk. Bukan hanya melalui kesan yang pertama, tetapi juga melalui hubungan yang berulang-ulang pada saat kita berinteraksi dengan orang lain. Perubahan gaya kemudian akan mencerminkan suatu tingkat keterbiasaan bahkan kedekatan yang sedang tumbuh. Sebagaimana setiap orang di dalam hubungan tersebut akan memperoleh pemahaman yang selalu menjadi semakin baik mengenai perilaku seperti apa yang paling baik ditujukan untuk mempertahankan, memupuk dan memperdalam pertalian diantara mereka, maka penyesuaian diri yang dilakukan terus-menerus akan memperkuat pertalian tersebut. (Mcnally dan Speak, 2004:44- 45). Secara sederhana, cara seseorang berkomunikasi dan bertindak ketika orang tersebut melakukan apa yang dikerjakannya (gaya) dan norma-norma yang diterapkan (standar) akan memperkenankan seseorang tersebut untuk memenuhi sebagian dari kebutuhan dasar dari orang lain (kompetensi). Secara sederhana bila kompetensi merupakan kata benda dari sebuah branding, maka standar dan gaya memiliki peran sebagai kata benda dan kata sifat untuk memodifikasinya. Untuk membangun personal branding yang khas, relevan dan konsisten, Yulia Baltschun harus memiliki kompetensi, standar dan gaya yang dapatmenunjang pembentukan personal branding.

Konsep Utama Personal Branding (skripsi dan tesis)

Delapan hal berikut adalah konsep utama yang dapat dijadikan acuan dalam personal branding seseorang (Peter Montoya, 2002). 
1. Spesialisasi (The Law of Specialization) Montoya menyebut bahwa personal brand yang baik layaknya sinar laser, yakni terfokus dan bersinar intens pada satu area kecil. Sebuah personal brand harus terkonsentrasi pada kekuatan, keahlian atau pencapaian tertentu. Mencoba beragam bidang tanpa spesialisasi justru melemahkan perhatian audiens dan menimbulkan keraguan. Mereka mungkin berpikir bahwa seseorang yang melakukan banyak hal yang berbeda, tidak akan ahli dalam salah satunya.
 2. Kepemimpinan (The Law of Leadership) Menurut Montoya, pada dasarnya orang ingin dipengaruhi. Mereka menginginkan sosok pemimpin, yakni seseorang yang dapat menghilangkan rasa ketidakpastian dan menawarkan mereka kejelasan. Membentuk unsur kepemimpinan tidak berarti individu harus menjadi yang terbaik dalam semua bidang. Kepemimpinan dapat dibentuk melalui keunggulan (dipandang sebagai seorang ahli dalam bidang tertentu), posisi (memiliki posisi penting), atau pengakuan (misalnya, melalui penghargaan atas pencapaian tertentu).
 3. Kepribadian (The Law of Personality) Personal branding yang baik menggambarkan kepribadian individu dalam segala aspek, artinya bukan hanya kelebihan atau kesempurnaan, tetapi juga ketidaksempurnaan individu tersebut karena orang lain justru menyukai sosok yang apa adanya, yaitu yang memiliki kelemahan seperti selayaknya seorang manusia. Konsep ini berseberangan dengan Konsep Kepemimpinan yang menekankan individu untuk berkepribadian sangat baik. 
4. Perbedaan (The Law of Distinctiveness) Sebuah personal brand yang efektif perlu memiliki kesan yang kuat dengan menjadi berbeda dari orang lain di dalam bidang atau bisnis yang sama. 
5. Kenampakan (The Law of Visibility) Untuk menjadi sukses, personal brand harus terlihat secara konsisten atau terus-menerus hingga personal brand orang tersebut dikenal. Hal ini karena kenampakan lebih penting dibandingkan keahlian. Ada banyak orang dengan keahlian yang sama, karenanya individu harus membuat dirinya lebih nampak atau terlihat dibanding yang lain. 
6. Kesatuan (The Law of Unity) Realita kehidupan pribadi seseorang harus sejalan dengan nilai dan perilaku yang telah ditentukan dari personal brand yang dibangun.
 7. Keteguhan (The Law of Persistence) Karena membentuk personal brand memerlukan waktu yang lama, individu harus memiliki keteguhan terhadap personal brand awal yang telah dibentuk, tanpa ragu atau ingin mengubahnya. 
8. Maksud baik (The Law of Goodwill) Pengaruh sebuah personal brand akan lebih besar apabila individu tersebut dipersepsikan secara positif. 
Ada beberapa karakteristik yang harus diperhatikan dalam merancang personal brand yang kuat, yakni sebagai berikut (McNally & Speak, 2012).
 a. Khas, yakni personal brand yang tidak hanya berbeda, tetapi merupakan cerminan dari ide-ide dan nilai-nilai dalam diri Anda yang membentuk kekhasan Anda.
 b. Relevan, yakni apa yang diwakili oleh personal brand tersebut relevan dengan apa yang dianggap penting atau dibutuhkan oleh orang lain. 
c. Konsisten, yakni menjalankan personal brand yang dirancang secara terus-menerus sehingga audiens dapat mengidentifikasi personal brand Anda dengan mudah dan jelas. Menurut McNally, ketika personal brand yang dirancang memiliki kekhasan atau perbedaan, relevan, dan konsisten, maka audiens akan mulai melihat dan memahami personal brand tersebut. 

Personal Brand dan Internet (skripsi dan tesis)

 Personal brand adalah identitas pribadi individu yang mampu menciptakan respon emosional orang lain terhadap kualitas dan nilai yang dimiliki individu tersebut (O'Brien T. , 2007). Pendapat lain menyatakan bahwa personal brand merupakan persepsi, pendapat, atau kesan seseorang terhadap kita (Hood, 2006; Peter Montoya, 2008; Subur, 2011). Hood bahkan menambahkan bahwa personal brand yang sukses akan secara tepat menggambarkan keseluruhan potensi, kualitas, dan nilai-nilai yang berada dalam diri seorang individu (Hood, 2006). Dengan personal brand, individu akan menjadi seseorang yang pertama terpikirkan ketika orang lain mencari atau membutuhkan potensi, kualitas, atau nilai-nilai tertentu yang ada dalam diri individu tersebut (Hood, 2006; William Arruda, 2010). Hal ini secara lebih sederhana dikatakan oleh Moentoya, yaitu bahwa personal brand yang baik dapat dengan mudah mengkomunikasikan perasaan atau gagasan yang jelas dan sederhana tentang individu (Peter Montoya, 2002). Saat ini, personal brand memang menjadi lebih penting dan signifikan pengaruhnya dibandingkan merek perusahaan (corporate brand). Hal ini karena pada dasarnya kita lebih mudah mempercayai individu dibandingkan perusahaan dan kita akan memilih untuk berhubungan atau berbisnis dengan seseorang yang membuat kita nyaman (Peter Montoya, 2008). Kegiatan atau aktivitas untuk membangun personal brand disebut personal branding. Lebih rinci, personal branding ialah mengkomunikasikan dan memastikan bahwa orang lain menerima dan percaya nilai-nilai dan kualitas yang dimiliki individu tersebut (O'Brien T. , 2007). Tidak hanya itu, personal branding tidak bisa sebatas mengkomunikasikan, tetapi juga terlebih dahulu harus mengidentifikasi hal unik, relevan, dan menarik dari individu sehingga dapat meningkatkan karir atau bisnis individu tersebut (Rampersad, 2009; Schawbel, 2015). Melalui personal branding, individu dapat mengambil kendali terhadap bagaimana orang lain mempersepsikan individu tersebut (Peter Montoya, 2008; Brown, 2014). Sayangnya, tidak semua orang melihat peluang dari pemanfaatan personal branding. Bahkan, sebagian orang juga tidak menyadari bahwa mau tidak mau, disadari atau tidak, dirinya telah memiliki sebuah personal brand paling tidak di kalangan orang-orang sekitarnya, rekan kerja atau tetangga (Peter Montoya, 2008). 
 Hal ini lebih jelas dipahami melalui argumen McNally bahwa brand dari diri tiap orang merupakan refleksi dari apa yang orang tersebut lakukan dan apa yang menjadi kepercayaan orang tersebut yang direalisasikan melalui apa yang dilakukan dan bagaimana orang itu melakukannya. Dengan adanya kontak yang berulang dengan orang lain, brand tersebut akan menjadi lebih kuat dan terbentuk dalam persepsi orang lain (McNally & Speak, 2012). Dalam melakukan personal branding, Anda memerlukan sarana untuk menampilkan gagasan, ide, aktivitas, atau keahlian Anda dan dengan internet hal tersebut dapat dengan mudah dilakukan (Erik Deckers, 2012). Hal ini sejalan dengan pendapat Schawbel bahwa melalui sebuah situs internet setiap orang dapat dengan sangat mudah mengembangkan dan memasarkan personal brand mereka (Schawbel, 2015). Internet memungkinkan setiap orang untuk berbagi informasi, baik melalui tulisan, gambar, atau video kepada seluruh pengguna internet lainnya dan melahirkan berbagai forum diskusi online dan ruang menulis bebas, seperti blog (Erik Deckers, 2012). Blog adalah halaman web atau jurnal online yang memungkinkan pengguna untuk memposting apa yang mereka inginkan dan menyajikan posting ini dalam urutan kronologis (dari yang terbaru sampai yang terlama) (Stephen Quinn, 2012; John Dvorak, 2004; Spector, 2015; Yan, 2012). Dengan menjadi seorang blogger (sebutan untuk penulis blog), dalam sekejap seseorang dapat menerbitkan gagasannya secara maya ke seluruh dunia, diakses dan dibaca oleh miliaran orang tanpa perlu mendatangi penerbit (Solove, 2007). Tidak hanya itu, blog juga memungkinkan terbangunnya kedekatan personal karena penulis dapat berinteraksi dan berdiskusi dengan pembaca melalui kolom komentar (Solove, 2007; Peter Montoya, 2008). Karenanya, tidak heran bahwa blog dapat dijadikan pusat kegiatan personal branding melalui internet: kita perlu membuat diri kita diketahui oleh banyak orang dan blog merupakan cara termudah untuk melakukannya (Erik Deckers, 2012). Meskipun demikian, menurut Montoya, personal branding melalui blog juga memiliki kelemahan. Menulis blog memerlukan banyak waktu dalam arti seseorang tidak bisa hanya menulis satu atau dua kali. Anda harus menulis beberapa kali dalam suatu kurun waktu yang tentu akan sulit untuk dilakukan seorang profesional yang sibuk (Peter Montoya, 2008). Menggunakan internet, baik melalui blog maupun situs lainnya, untuk personal branding juga berarti Anda harus mempertimbangkan beragam konten yang akan Anda unggah karena segala informasi

Pemerekan (Branding) (skripsi dan tesis)

Menurut Ghodeswar, branding berarti membedakan nama dan atau simbol, seperti logo, merek dagang, atau desain dengan maksud mengidentifikasi dan membedakan produk satu penjual dengan kompetitornya (Ghodeswar, 2008). Branding juga dapat diartikan sebagai tindakan terusmenerus yang melibatkan pemasaran, penelitian, dan percakapan untuk mengelola pikiran dan perasaan konsumen Anda untuk memastikan produk andalah yang mereka inginkan (Sutedja, 2012). Branding juga dapat diartikan sebagai usaha untuk membedakan produk kita dengan produk pesaing kita sehingga akan memberikan keuntungan kompetitif di pasaran (Sutrisna, 2010). Berdasarkan ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa branding adalah proses yang melibatkan pemasaran, penelitian, dan percakapan secara terus-menerus untuk membuat suatu produk memiliki ciri khas sendiri di benak konsumen dan membedakan produk tersebut dengan produk pesaing agar dapat memberikan keuntungan kompetitif di pasaran. Branding sangat penting dilakukan karena seseorang akan memilih suatu produk tidak hanya karena pertimbangan rasional, tetapi lebih kepada pertimbangan emosional. Orang akan melihat dan membandingkan spesifikasi, harga, dan kegunaan, tetapi pada akhirnya mereka mengambil keputusan secara emosional. Branding menjadi penting karena dapat membangun ikatan emosional dengan klien atau pembeli (Peter Montoya, 2008).

Instagram (skripsi dan tesis)

 Instagram adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk membagi-bagikan foto dan video. Instagram sendiri masih merupakan bagian dari facebook yang memungkinkan teman facebook kita mem-follow akun Instagram kita. Makin populernya Instagram sebagai aplikasi yang digunakan untuk membagi foto membuat banyak pengguna yang terjun ke bisnis online turut mempromosikan produk- produknya lewat Instagram (Nisrina, 2015). Instagram merupakan salah satu media jejaring sosial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pemasaran langsung. Melalui Instagram- lah produk barang/jasa ditawarkan dengan meng-upload foto atau video singkat, sehingga para calon konsumen dapat melihat jenis-jenis barang/jasa yang ditawarkan. Instagram memiliki fitur-fitur yang berbeda dengan jejaring sosial lainnya, diantara sekian banyak fitur yang ada di Instagram, ada beberapa fitur yang digunakan oleh akun instagram bandung makuta dalam menjalanan komunikasi pemasarannya, fitur tersebut adalah: 
1. Followers (Pengikut)
 Sistem sosial di dalam Instagram adalah dengan menjadi pengikut akun pengguna lainnya, atau memiliki pengikut Instagram. Dengan demikian komunikasi antara sesama pengguna Instagram sendiri dapat terjalin dengan memberikan tanda suka dan juga mengomentari foto-foto yang telah diunggah oleh pengguna lainnya. Pengikut juga menjadi salah satu unsur yang penting, dimana jumlah tanda suka dari para pengikut sangat mempengaruhi apakah foto tersebut dapat menjadi sebuah foto yang populer atau tidak. Untuk menemukan teman-teman yang ada di dalam Instagram. 2. Upload Foto (Mengunggah Foto) 
Kegunaan utama dari Instagram adalah sebagai tempat untuk mengunggah dan berbagi foto-foto kepada pengguna lainnya. Foto yang hendak ingin diunggah dapat diperoleh melalui kamera iDevice ataupun foto-foto yang ada di album foto di iDevice tersebut. 
3. Kamera
 Foto yang telah diambil melalui aplikasi Instagram dapat disimpan di dalam iDevice tersebut. Penggunaan kamera melalui Instagram juga dapat langsung menggunakan efek-efek yang ada, untuk mengatur pewarnaan dari foto yang dikehendaki oleh pengguna. Ada juga efek kamera tilt-shift yang fungsinya adalah untuk memfokuskan sebuah foto pada satu titik tertentu. Foto-foto yang akan diunggah melalui Instagram tidak terbatas atas jumlah tertentu, melainkan Instagram memiliki keterbatasan ukuran untuk foto. Ukuran yang digunakan di dalam Instagram adalah dengan rasio 3 : 2 atau hanya sebatas berbentuk kotak saja. 
4. Efek Foto 
Pada versi awalnya, Instagram memiliki 15 efek-efek yang dapat digunakan oleh para pengguna pada saat mereka hendak menyunting sebuah foto. Efek tersebut terdiri dari: X-Pro II, Lomo-fi, Earlybird, Sutro, Toaster, Brannan, Inkwell, Walden, Hefe, Apollo, Poprockeet, Nashville, Gotham, 1977, dan Lord Kelvin. Namun tepat pada tanggal 20 September yang lalu Instagram telah menambahkan 4 buah efek terbaru yaitu; Valencia, Amaro, Rise, Hudson dan telah menghapus 3 efek, Apollo, Poprockeet, dan Gotham dari dalam fitur tersebut.
 5. Judul Foto 
Setelah foto tersebut disunting, maka foto akan dibawa ke halaman selanjutnya, dimana foto tersebut akan diunggah ke dalam Instagram sendiri ataupun ke jejaring sosial lainnya. Dimana di dalamnya tidak hanya ada pilihan untuk mengunggah pada jejaring sosial atau tidak, tetapi juga untuk memasukkan judul foto, dan menambahkan lokasi foto tersebut.
 6. Arroba
 Seperti Twitter dan juga Facebook, Instagram juga memiliki fitur yang dimana para penggunanya dapat menyinggung pengguna lain yang juga, dengan manambahkan tanda arroba (@) dan memasukkan akun Instagram dari pengguna tersebut. Para pengguna tidak hanya dapat menyinggung pengguna lainnya di dalam judul foto, melainkan juga pada bagian komentar foto. Para pengguna dapat menyinggung pengguna lainnya dengan memasukkan akun Instagram dari pengguna tersebut. Pada dasarnya dalam menyinggung pengguna yang lainnya, yang dimaksudkan adalah untuk berkomunikasi dengan pengguna yang telah disinggung tersebut. 
7. Geotagging 
Setelah memasukkan judul foto tersebut, bagian selanjutnya adalah bagian Geotag. Bagian ini akan muncul ketika para pengguna iDevice mengaktifkan GPS mereka di dalam iDevice mereka. Dengan demikian iDevice tersebut dapat mendeteksi lokasi para pengguna Instagram tersebut berada.
 8. Jejaring Sosial 
Dalam berbagi foto, para pengguna juga tidak hanya dapat membaginya di dalam Instagram saja, melainkan foto tersebut dapat dibagi juga melalui jejaring sosial lainnya seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Tumblr, dan Flickr yang tersedia di halaman Instagram untuk membagi foto tersebut. 
9. Tanda suka (like)
 Instagram juga memiliki sebuah fitur tanda suka yang fungsinya memiliki kesamaan dengan yang disediakan Facebook, yaitu sebagai penanda bahwa pengguna yang lain menyukai foto yang telah diunggah. Berdasarkan dengan durasi waktu dan jumlah suka pada sebuah foto di dalam Instagram, hal itulah yang menjadi faktor khusus yang mempengaruhi foto tersebut terkenal atau tidak. 
10. Popular (Explore) 
Bila sebuah foto masuk ke dalam halaman popular, yang merupakan tempat kumpulan dari foto-foto popular dari seluruh dunia pada saat itu. Secara tidak langsung foto tersebut akan menjadi suatu hal yang dikenal oleh masyarakat mancanegara, sehingga jumlah pengikut juga dapat bertambah lebih banyak.

Personal Branding (skripsi dan tesis)

 Menurut David A Aaker dalam Rangkuti (2009) “Brand adalah nama dan simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mendefinisikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu”. American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, lambang, simbol, desain, atau kombinasi dari halhal tersebut. Tujuan pemberian merek adalah untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual yang dihasilkan sehingga berbeda dari para pesaing (Kotler & Keller dalam Haroen, 2014). Agar brand suatu produk itu meresap kuat dalam hati khalayak sesuai dengan harapan yang punya produk maka dibutuhkan upaya dengan proses yang terus menerus untuk menancapkan brand itu ke hati publik dengan berbagai cara. Upaya dan proses inilah yang biasa disebut branding. Sedangkan menurut Peter Montonya dalam Rampersad (2008) “branding adalah sebuah proses menciptakan identitas yang dikaitkan dengan persepsi, emosi dan perasaan tertentu terhadap identitas tersebut. Branding terjadi sebelum pemasaran dan penjualan. Tanpa sebuah merek yang kuat, pemasaran tidaklah efektif. Menurut Haroen (2014) branding adalah aktivitas yang kita lakukan untuk membangun persepsi orang lain terhadap kita mengenai siapa kita. Dengan kata lain branding adalah kebutuhan dari semua orang yang punya kepentingan untuk mendapatkan sesuatu dari seseorang lain melalui proses-proses komunikasi. Branding sebagai upaya memperkenalkan produk hingga produk itu dikenal, diakui, dan digunakan oleh khalayak. Branding dilakukan dengan maksud untuk menciptakan pencitraan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemilik produk. Personal branding merupakan sebuah kegiatan yang dapat mengontrol cara pandang/ persepsi orang lain terhadap diri seseorang, sehingga dengan melakukan Personal brandingmaka seseorang dapat mempengaruhi pandangan orang lain terhadap dirinya sesuai dengan kehendaknya. Menurut Kartajaya dkk (2005), bahwa brand bukanlah hanya produk saja, tetapi orangpun juga membuat dirinya menjadi sebuah brand, sehingga peneliti akan menjelaskan personal brand. Personal Brand menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dibahas, karena makin banyaknya seseorang yang sadar akan pentingnya merek diri yang dimiliki agar mendapatkan posisi yang diinginkan. Personal Branding menurut Montoya dalam Haroen (2014) adalah sebuah produk, baik barang atau jasa, agar brand itu terus menancap di hati masyarakat dengan segala atribut dan diferensiasinya maka dibutuhkan upaya yang disebut branding. Personal branding adalah segala sesuatu yang ada pada diri anda yang menjual dan membedakan, seperti pesan anda, pembawaan diri dan taktik pemasaran. Personal brandingadalah sebuah seni dalam menarik dan memelihara banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif. Personal branding dengan kata lain adalah proses membentuk persepsi masyarakat terhadap aspek-aspek yang dimiliki seseorang, diantaranya adalah kepribadian, kemampuan, atau nilai-nilai, dan sebagaimana semua itu menimbulkan persepsi positif dari masyarakat yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai alat pemasaran. Menurut Montoya dalam Haroen (2014) terdapat delapan konsep pembentukan personal branding. Adapun delapan konsep pembentukan personal branding sebagai pondasi dari personal brand yang kuat, yaitu: 
1. Spesialisasi (The Law of Specialization)
Ciri khas dari sebuah Personal brand yang hebat adalah ketepatan pada sebuah spesialisasi, terkonsentrasi hanya pada sebuah kekuatan, keahlian, atau pencapaian tertentu.
2. Kepemimpinan (The Law of Leadership)
Personal Brand dilengkap dengan sosok pemimpin yang dapat memutuskan sesuatu dalam suasana penuh ketidakpastian dan memberikan suatu arahan yang jelas. 
3. Kepribadian (The Law of Personality)
 Sebuah Personal brand yang hebat didasari pada sosok kepribadian yang apa adanya dan hadir dengan ketidaksempurnaan. Konsep ini menghapuskan beberapa tekanan
pada konsep kepemimpinan (The Law of Leadership). Seorang harus memiliki kepribadian yang baik, namun tidak harus sempurna.
4. Perbedaan (The Law of Distinctiveness)
Personal brand yang efektif harus ditampilkan dengan cara yang berbeda dari yang lainnya. Diferensiasi diperlukan supaya membedakan antara satu dengan lainnya. Selain itu, dengan perbedaan seorang akan lebih dikenal oleh khalayak.
5. Terlihat (The Law of Visibility)
Personal brand berarti harus dilihat secara konsisten dan terus menerus sampai personal brand seseorang dikenal. Maka visibility lebih penting dari ability. Supaya visible seseorang, seseorang perlu mempromosikan dirinya dan menggunakan setiap kesempatan untuk membuat dirinya terlihat. 6. Kesatuan (The Law of Unity)
Kehidupan pribadi yang berada di balik personal brand harus sejalan dengan etika moral dan sikap yang telah ditentukan dari brand tersebut. kehidupan pribadi selayaknya menjadi cerminan dan citra yang diinginkan dalam personal brand.
7. Keteguhan (The Law of Persistence)
Personal brand tidak bisa terjadi secara instan, ia membutuhkan waktu untuk tumbuh. Selama proses tersebut berjalan, penting untuk selalu memperhatikan tiap tahapan dan trand yang terjadi.
8. Nama Baik (The Law of Goodwill)
Sebuah personal brand akan memberikan hasil yang baik dan bertahan lebih lama, jika seseorang dibelakangnya dipersepsikan dengan citra yang positif. Seorang tersebut harus di aosiasikan dengan sebuah nilai atau ide yang diakui secara umum positif dan bermanfaat.

Komunikasi Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dalam Sanyoto (2012) Marketing is asocial and managerial process by which individuals and groups obtain what they need and what through, offering and exchanging products of value of with other (Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai). Promosi merupakan suatu bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan (Tjiptono, 1997). Komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam uapaya untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen-langsung atau tidak langsung-tentang produk dan merek yang mereka jual. Dalam pengertian tertentu, komunikasi pemasaran menggambarkan “suara” merek dan merupakan sarana yang dapat digunakannya untuk membangun dialog dan membangun hubungan dengan konsumen. Selain itu komunikasi pemasaran juga memungkinkan perusahaan menghubungkan merek-merek mereka dengan orang lain, tempat, acara khusus, pengalaman merek, perasaan, dan barang. Komunikasi pemasaran dapat berkontribusi dapa ekuitas merek dengan membangun merek dalam ingatan dan menciptakan citra merek (Kotler & Keller, 2008). Menurut Morisan (2010) “Komunikasi pemasaran merupakan upaya untuk menjadikan seluruh kegiatan pemasaran dan promosi perusahaan dapat menghasilkan citra atau image yang bersifat satu dan konsisten bagi konsumen”. Komunikasi pemasaran yaitu semua elemenelemen promosi dari marketing mix yang melibatkan komunikasi antara organisasi dan target audience pada segala bentuknya yang ditujukan untuk performance pemasaran (Prisgunanto, 2006). Kegiatan komunikasi pemasaran merupakan rangkaian kegiatan untuk mewujudkan suatu produk, jasa, ide, dengan menggunakan bauran pemasaran (promotion mix) yaitu: iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat dan publisitas (public relation and publicity) serta pemasaran langsung (direct marketing) (Purba, dkk, 2006).

Metode AIDA (skripsi dan tesis)

Efektivitas influencer dalam penelitian ini dapat diukur dengan menggunakan metode AIDA yang terdiri dari (Bosomworth, 2010):  Attention (Perhatian) Perhatian ada langkah pertama untuk model teori AIDA, dikarenakan perhatian para calon konsumen itu sangat penting dan upaya untuk mereka sadar akan produk/jasa yang dijual pertama harus mendapat perhatian mereka. Dapat diukur melalui seringnya nama merek atau produk dilontarkan di media sosial tersebut (Poetra & Christantyawati, 2017). Interest (Ketertarikan) Ketertarikan adalah langkah yang kedua dimana para calon konsumen sudah sadar akan keberadaan produk tersebut dan penjual harus identifikasi minat dan kebutuhan para calon konsumen dengan produk/jasa yang ditawarkan untuk menimbulkan ketertarikan. Di kasus ini dapat diukur ketertarikan melalui interaksi seperti like, comment & share. Desire (Keinginan) Keinginan adalah tahap berikutnya dan juga menjadi poin yang penting dalam proses ini seperti klik ke halaman produk yang lebih rinci dan berbagai fitur, harga, dan opsi. Desain media sosial akan menjadi lebih relevan pada tahap ini dan integrasi ke ulasan dan testimoni pendek sangat membantu untuk calon pelanggan pindah ke tahap berikutnya action. (Bosomworth, 2010). Action (Tindakan) Tahap ini adalah tahap terakhir, tindakan seorang calon customer. dalam arti hasil atau transaksi. Jadi secara khusus berpikir tentang pembelian, pendaftaran, panggilan balik, lead form, dll, dimana akan ada perpindahan dari pemasaran dan menjadi sales

Influencer di Instagram (skripsi dan tesis)

Menurut Pahlevi (2018), influencer adalah sosok individu yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keputusan pembelian seseorang dikarenakan dia memiliki otoritas, kemahiran, dan hubungan yang kuat terhadap followers-nya. Tidak hanya itu, influencer juga meningkatkan kesadaran terhadap sebuah merek dengan memberikan dampak personal terhadap audiens yang dimiliki melalui pemasaran yang otentik. Populernya penggunaan influencer juga semakin marak di kalangan bisnis di Indonesia. Adapun hal ini tergambarkan dalam survei yang dilakukan oleh sociabuzz (2018) dimana dari 83 responden yang melakukan influencer marketing, ditemukan bahwa 98.8% di antaranya menggunakan Instagram.  
terdapat dua jenis influencer yaituL 
1. Macro influencer 
Dengan karakteristik Follower: 100,000- 1jt>,  Berdasarkan dari lingkupan selebriti atau figur publik , . Engagement 5- 25% ,. Jangkauan yang luas ,. Jumlah followers yang banyak ,. Baik untuk visibilitas & awareness ,. Tidak terlalu ditargetkan , Seringkali tidak mendapatkan kesan otentik ,. Harga yang relatif lebih mahal 
2. Micro influencer
Dengan karakteristik Follower: 500- 100,000, Berdasarkan dari kawasan pada umumnya, Engagement 25-50% , Followers yang nyata , Post yang personal/pengalaman pribadi untuk produk , Harga yang lebih terjangkau, Tidak efektif untuk meningkatkan visibilitas & awareness , Posting-an yang kurang terlihat profesional

Pentingnya Social Media Marketing Strategy dalam Bisnis Hotel (skripsi dan tesis)

Penggunaan Social Media Marketing untuk menjaring masyarakat dan sasaran pasarnya di dalam dunia maya mulai banyak digunakan oleh perusahaan berbagai skala di Indonesia termasuk hotel, terdapat 7 kelebihan yang menguntungkan hotel jikalau memakai Social Media Marketing (Puga, 2017). 
a. Pamerkan & Perkuat Merek 
Media sosial adalah cara yang luar biasa untuk memberitahu semua orang apa yang ingin dipamerkan karena perusahaan yang mengontrol konten untuk menunjukan bahwa brand mewah, terjangkau, berkelas tinggi atau santai. Merek dapat ditampilkan melalui foto, video, dan konten lainnya. 
b Buat Harapan Realistis
 Dengan adanya media sosial, hotel pun bisa memberi gambar yang realistis seperti bentuk kamar dari segala sisi, resepsionis, restoran, dan lainnya tanpa disunting. 
c Membentuk & Memperkuat Hubungan Kemudahan untuk berkomunikasi dengan pelanggan akan jauh lebih mudah dari pertanyaan, kritik dan saran.  
d. Jangkau Pelanggan Baru Dengan adanya pemasangan iklan di media sosial hotel bisa bikin iklan sesuai dengan targetnya seperti hobi, umur, pekerjaan, jenis kelamin, lokasi, dan lain-lainnya. 
e. Beri Nilai Lebih 
Nilai lebih yang dapat diberikan hotel adalah selalu bisa memberi informasi yang terbaru seputar hotelnya atau sekitarnya contohnya kalau ada acara dekat dengan lokasi hotel. 
f. Bersaing dengan Teknologi Modern 
Penggunaan media sosial menunjukkan bahwa hotel tersebut mengikuti perkembangan zaman dan selalu up to date dengan perkembangan teknologi. 
g. Berikan Suara 
Media sosial memudahkan hotel untuk mengucapkan kata kata yang ingin disampaikan hotel secara umum seperti merayakan Natal, Paskah, dan tahun baru bahkan untuk berbela sungkawa yang membuktikan bahwa hotel peduli dengan lingkungan dan sekitar.